Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 DOI: https://doi. org/10. 37366/jpgsd. RESEARCH ARTICLE E-ISSN: 2809-2910 Hanipah & Respati Persepsi Ritme dalam Pendidikan Dasar: Analisis Komparatif Gender dan Implikasinya bagi Pembelajaran Musik Siti Amalia Hanipah, dan Resa Respati Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia O Corresponding author: hanipah02@upi. To cite this article: Hanipah. & Respati R. Persepsi Ritme dalam Pendidikan Dasar: Analisis Komparatif Gender dan Implikasinya bagi Pembelajaran Musik. Journal Pendidikan Sekolah Dasar, 7. https://doi. org/10. 37366/jpgsd. Articles Information Received : 18-04-2026 Revised : 20-04-2026 Accepted : 24-04-2026 Published : 30-04-2026 Abstrak Pendidikan dasar merupakan fase krusial untuk mengoptimalkan kecerdasan musikal, khususnya persepsi ritme sebagai salah satu tujuan utama dalam pembelajaran seni musik. Namun, kajian yang memetakan kemampuan dasar persepsi ritme serta relevansi faktor gender dalam pembelajaran musik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif komparatif terhadap 44 siswa kelas i sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui tes persepsi ritme dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji Independent Sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata siswa perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, namun tidak signifikan secara statistik . > 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa gender bukan faktor determinan dalam persepsi ritme. Penelitian ini berkontribusi menyediakan dasar empiris bagi pengembangan pembelajaran musik yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada karakteristik individual siswa. Kata Kunci: Persepsi Ritme. Gender. Pendidikan Dasar. Pembelajaran Musik. Kemampuan Musikal. Abstract Primary education is a crucial phase for optimizing studentsAo musical intelligence, particularly rhythm perception as one of the main objectives in music education. However, studies that map studentsAo basic rhythm perception abilities and examine the relevance of gender factors in music learning remain limited. This study aims to analyze differences in rhythm perception between male and female students. This research employed a quantitative approach with a descriptive comparative design involving 44 third-grade primary school students. Data were collected through a rhythm perception test and analyzed using descriptive statistics and an independent sample t-test. The results show that the average score of female students is higher than that of male students. the difference is not statistically significant . > 0. These findings indicate that gender is not a determining factor in rhythm perception. This study contributes by providing an empirical basis for the development of adaptive and inclusive music learning that is oriented toward studentsAo individual characteristics. Keywords: Rhythm Perception. Gender. Primary Education,. Music Learning. Musical Ability Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 21 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fase yang penting dalam perkembangan anak, baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Optimalisasi perkembangan tersebut salah satunya melalui pendididkan seni Aktivitas bermusik siswa dapat melatih koordinasi motorik halus dan kasar siswa melalui aktivitas merespon musik dengan gerak tubuh, seperti dalam belajar ritme (Irmade et al. , 2. Tujuan pembelajaran seni music tersebut adalah untuk mengembangkan kecerdasan musikal siswa (Monica et al. , 2. Salah satu bagian dari kecerdasan musikal adalah persepsi ritme. Kemampuan tersebut sangat berperan penting dalam membantu siswa bernyanyi, memalinkan alat musik, melatih konsentrasi dan ketelitian, serta memperkuat hubungan antara pendengaran dan respon motorik (Assaneo & Lizcano-corte, 2. Secara teoretis, persepsi ritme merupakan proses kognitif kompleks yang melibatkan sinkronisasi antara persepsi auditori dan respons motorik. Persepsi ritme berarti kemampuan anak dalam merasakan, mengenali, mempertahankan, juga merespon pola-pola temporal dalam musik (Campbell & Scott-kassner. Persepsi ritme ini berakar pada teori multiple intelligence Howard Gardner. Dimana kecerdasan tersebut terdiri dari kecerdasan verbal-linguistik, logika-matematika, visual-spasial, badani-kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, natural, dan eksistensial (Fadhilaturrahmi & Tjahyadi, 2. Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa pada usia sekolah dasar berada pada fase opersional Dalam fase ini, siswa perlu diberikan aktivitas yang bersifat pengalaman langsung dengan apa yang dipelajarinya sebagai stimulasi pengalaman yang akan meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa (Marinda, 2. Dalam konteks ini, pembelajaran seni musik, tahap ini menjadi periode yang potensial dalam mengembangkan sensitivtas ritme siswa melalui stimulus aktivitas musikal. Oleh karena itu, pemetaan persepsi ritme pada siswa menjadi penting sebagai dasar pengembangan pembelajaran atau aktivitas musikal yang sesuai dengan perkembangan siswa. Persepsi ritme dapat diukur melalui bagaimana siswa merasakan beat atau ketukan, membedakan tempo, mengidentifiaksi dan meniru pola ritme, serta sinkronisasi anatar gerak dengan ritme (Campbell & Scott-kassner, 2. Persepsi ritme bukan hanya keterampilan mekanis, tetapi melibatkan proses kognitif kompleks yang mengintegrasikan informasi auditori dengan respons motorik secara cepat dan tepat. Dalam pembelajaran, kemampuan ini dapat diamati melalui aktivitas seperti tepukan tangan atau gerakan tubuh yang mengikuti irama. Kemampuan siswa menyelaraskan gerak dengan bunyi menunjukkan integrasi sensorimotor yang baik, yang menjadi dasar penting dalam pengembangan musikalitas, baik secara individu maupun kelompok. Penelitian Andriana & Pingon . menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan musikalitas antara siswa laki-laki dan perempuan. Sedangkan Bonastre & Nuevo . menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam aspek preferensi, ekspresi dan ranah professional musik. Kajian Nata et al. melakuakan studi eksperimen kemampuan mengkomposisi ritme melalui model pembelajaran RADEC. Anjelita et al. juga menggunakan qasidah rebana untuk meningkatkan kemampuan dasar ritme. Intifada & Karsono . Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 22 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 mengemukakan bahwa rata-rata kemampuan dasar ritme siswa kelas IV termasuk dalam kategori sangat Dari penelitian tersebut disimpulkan, meskipun kajian gender dalam musik sudah ada, namun penelitian yang secara spesifik mengkaji pada komparasi persepsi ritme antar gender belum dilakukan. Disisi lain, sejumlah penelitian sebelumnya terkait ritme sebagian besar berfokus pada upaya peningkatan kemampuan melalui intervensi pembelajaran atau pelatihan tertentu. Kajian-kajian tersebut menunjukan peningkatan kemampuan dalam ritme, namun tanpa mendeskripsikan bagaimana persepsi ritme sebelumnya, khususnya kaitannya dengan gender. Adapun analisis kemampuan ritme yang sudah ada, belum mengkaji secara analisis dalam konteks gender. Sehingga, berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini berfokus pada persepsi ritme dan analisis perbandingannya secara gender serta implikasinya dalam pembelajaran ritme di sekolah dasar, khususnya di kelas i. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan pada tingkat sekolah dasar. Penelitian ini menempatkan persepsi ritme sebagai kemampuan dasar yang perlu dipetakan untuk mendukung pengembangan strategi pembelajaran yang lebih tepat. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian mengenai kecerdasan musikal serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan pembelajaran seni music khususnya pembelajaran ritme yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis karakteristik individu siswa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif komparatif untuk menganalisis perbedaan persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan. Desain ini dipilih untuk memberikan gambaran empiris mengenai karakteristik kemampuan musikal siswa berdasarkan perbedaan Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas i di SDN Sukarindik Kota Tasikmalaya yang berjumlah 44 orang, terdiri dari 27 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, di mana seluruh populasi dijadikan sampel penelitian (Suriani et al. , 2. Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi ritme, yang secara operasional didefinisikan sebagai kemampuan siswa dalam mengenali, meniru, dan menyinkronkan pola ritmis melalui respons auditori dan Instrumen penelitian berupa tes persepsi ritme yang disusun berdasarkan indikator: . kemampuan meraskaan beat, . kemampuan membedakan tempo, . kemampuan mengidentivikasi dan meniru pola ritme, dan . kemampuan menyelaraskan gerak dengan irama. Skor diberikan berdasarkan ketepatan respon siswa terhadap stimulus ritmis yang diberikan. Instrumen telah melalui uji validitas isi melalui expert judgment oleh dosen ahli pendidikan seni musik. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan tingkat persepsi ritme peserta didik, serta statistik inferensial berupa uji beda untuk mengetahui perbedaan persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan. Uji yang digunakan disesuaikan dengan hasil uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan homogenitas. Apabila data berdistribusi normal dan homogen, maka digunakan uji Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 23 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 Independent Sample t-test. Namun, jika data tidak memenuhi asumsi tersebut, maka digunakan uji nonparametrik Mann-Whitney U. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskripsi Data Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, diperoleh gambaran persepsi ritme siswa berdasarkan jenis kelamin yang ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Grup Statistik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Mean Std. Deviation Minimum Maximum 21,85 23,06 3,88 4,07 Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa rata-rata persepsi ritme siswa perempuan . lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki . Namun, selisih tersebut relatif kecil. Nilai standar deviasi pada kedua kelompok menunjukkan bahwa sebaran data cukup bervariasi, dengan kelompok perempuan memiliki variasi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok laki-laki. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat kepekaan ritme yang cukup, yang melibatkan proses kognitif kompleks mengintegrasikan informasi auditori dengan respons motorik secara tepat (Campbell & ScottKassner, 2. Pola sebaran data yang seimbang menunjukkan adanya potensi persepsi ritme yang baik untuk dikembangkan melalui pengalaman langsung sesuai fase operasional konkret siswa sekolah dasar (Marinda, 2. Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai distribusi kemampuan persepsi ritme siswa, analisis tidak hanya dilakukan secara deskriptif berdasarkan nilai rata-rata, tetapi juga melalui kategorisasi tingkat kemampuan menggunakan norma Azwar. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi sebaran kemampuan siswa secara lebih rinci ke dalam lima kategori, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Selain itu, kategorisasi ini juga dianalisis berdasarkan jenis kelamin guna melihat pola distribusi kemampuan pada masing-masing kelompok secara lebih spesifik. Dengan demikian, perbedaan karakteristik persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan dapat diamati tidak hanya dari nilai rata-rata, tetapi juga dari persebaran tingkat kemampuan pada setiap kategori. Hasil kategorisasi persepsi ritme siswa berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Kategori Persepsi Ritme Berdasarkan Jenis Kelamin Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Laki-laki . Laki-laki (%) 7,4% 25,9% 33,3% Perempuan . Perempuan (%) 5,9% 23,5% 35,3% Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 24 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. Tinggi Sangat Tinggi Total E-ISSN: 2809-2910 33,3% 0,0% 23,5% 11,8% Berdasarkan data tabel distribusi frekuensi yang disajikan, terlihat bahwa total responden berjumlah 44 orang yang terdiri dari 27 laki-laki dan 17 perempuan. Secara umum, kelompok laki-laki menunjukkan pemusatan data pada kategori "Sedang" dan "Tinggi", di mana masing-masing kategori tersebut mencatatkan persentase sebesar 33,3%. Meskipun dominan di level menengah ke atas, tidak ada satu pun responden laki-laki . %) yang mencapai kategori "Sangat Tinggi", dan masih terdapat sekitar 33,3% dari total laki-laki yang berada pada rentang kategori "Rendah" hingga "Sangat Rendah". Di sisi lain, distribusi pada kelompok perempuan menunjukkan sebaran yang lebih merata di seluruh Kategori "Sedang" menjadi puncak frekuensi bagi perempuan dengan persentase 35,3%. Hal yang cukup signifikan adalah keberadaan 11,8% responden perempuan pada kategori "Sangat Tinggi", sebuah pencapaian yang tidak ditemukan pada kelompok laki-laki. Walaupun demikian, persentase perempuan pada kategori "Rendah" dan "Tinggi" memiliki angka yang identik, yakni masing-masing sebesar 23,5%, dengan sisa 5,9% berada di kategori "Sangat Rendah". Namun demikian, perbedaan distribusi tersebut tidak menunjukkan pola yang kontras, karena kedua kelompok tetap didominasi oleh kategori sedang dan tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan persepsi ritme siswa lebih bersifat bervariasi secara individual daripada dipengaruhi secara langsung oleh faktor jenis kelamin. Uji Normalitas Tabel 3. Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Jenis Kelamin Statistic Sig. Laki-laki 0,955 0,307 Perempuan 0,948 0,432 Berdasarkan hasil uji normalitas menggunakan ShapiroAeWilk, diperoleh nilai signifikansi pada kelompok laki-laki sebesar 0,307 dan pada kelompok perempuan sebesar 0,432 . > 0,. Hal ini menunjukkan bahwa data pada kedua kelompok berdistribusi normal. Sehingga, analisis dapat dilajutkan dengan uji homogenitas. Uji Homogenitas Tabel 4. Uji Homogenitas Test LeveneAos Test Statistic 0,284 Sig. 0,597 Uji homogenitas varians dilakukan menggunakan LeveneAos Test untuk mengetahui kesamaan varians antar kelompok. Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,597 . > 0,. , yang Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 25 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 menunjukkan bahwa varians data antara kelompok siswa laki-laki dan perempuan bersifat homogen. Dengan demikian, asumsi homogenitas terpenuhi sehingga analisis parametrik dapat digunakan dalam pengujian perbedaan antar kelompok. Independent Sample t-test Tabel 5. Independent Sample t-test Test Equal variances assumed -1,03 Sig. -taile. 0,309 Mean Difference -1,21 Std. Error Difference 1,17 Berdasarkan hasil uji Independent Sample t-test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,309 . > 0,. , yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi ritme siswa laki-laki dan Secara deskriptif, rata-rata kemampuan musikalitas siswa perempuan . lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki . , dengan selisih rata-rata sebesar 1,21. Namun, perbedaan tersebut tidak cukup signifikan secara statistik. Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat kecenderungan nilai yang lebih tinggi pada siswa perempuan, jenis kelamin bukan merupakan faktor yang secara signifikan memengaruhi persepsi ritme siswa. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam persepsi ritme antara siswa kali-laki dan perempuan, yang menegaskan bahwa jenis kelamin bukan merupakan variabel determinan yang memengaruhi persepsi ritme siswa secara signifikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dalam kemampuan musikal berdasarkan gender (Pollatou et al. , 2. Namun, temuan ini berbeda dengan penelitian lain yang melaporkan bahwa siswa perempuan memiliki kemampuan ritmis yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Agdiniotis et al. , 2. Perbedaan hasil tersebut mengindikasikan bahwa pengaruh gender terhadap persepsi ritme tidak bersifat konsisten, dan kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalaman belajar, lingkungan, dan keterlibatan dalam aktivitas musikal. Persepsi ritme lebih merepresentasikan kapasitas kognitif anak dalam merasakan serta merespons pola-pola temporal yang menuntut integrasi sensorimotor yang mumpuni (Assaneo & Lizcano-corte, 2. Secara fungsional, kemampuan ini memainkan peran krusial dalam mempertajam konsentrasi serta mempererat sinergi antara persepsi auditori dan respons motorik (PranjiN et al. , 2. Dengan demikian, variasi karakteristik musikalitas yang ditemukan di lapangan lebih bersifat personal dan individual daripada berbasis dikotomi gender (Tomlinson, 2. Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi ritme sebagai bagian dari kecerdasan musikal tidak secara langsung dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, melainkan lebih berkaitan dengan pengalaman belajar dan perkembangan individu (Hallam, 2. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional dan kurangnya variasi strategi pembelajaran musik, sehingga berdampak pada rendahnya keterlibatan siswa (Haerani et al. , 2. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 26 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 Tidak ditemukannya perbedaan signifikan dalam persepsi ritme antara siswa laki-laki dan perempuan dapat dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, secara teoretis kemampuan ritmis merupakan bagian dari mekanisme dasar kognitif manusia yang melibatkan integrasi antara sistem auditori dan motorik, yang berkembang secara universal tanpa dipengaruhi oleh faktor gender. Kajian neurosains yang menunjukkan bahwa kemampuan ritmis berkaitan erat dengan mekanisme auditory-motor synchronization, yaitu kemampuan otak untuk menyelaraskan persepsi bunyi dengan gerakan tubuh. Proses ini merupakan kemampuan universal manusia dan tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin (Repp & Su. Kedua, dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, siswa memperoleh pengalaman belajar yang relatif seragam, baik dari segi kurikulum, metode pembelajaran, maupun aktivitas musikal yang diberikan oleh guru. Semua siswa mendapatkan pengalaman musikal yang sama di dalam kelas. Pengalaman musikal tersebut dapat berupa aktivitas menyimak bunyi musikal, membaca repertoar musik, bernyanyi dan praktik bermain musik instrumental yang pernah dialami siswa dalam aktivitas pembelajaran di kelas (Atqa et al. Kondisi ini memungkinkan terbentuknya kemampuan persepsi ritme yang relatif setara antar siswa. Ketiga, perkembangan kemampuan ritme lebih dipengaruhi oleh faktor pengalaman belajar, lingkungan, serta tingkat keterlibatan siswa dalam aktivitas musikal dibandingkan oleh faktor biologis seperti jenis kelamin. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan keluarga, paparan terhadap musik, serta frekuensi latihan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan kemampuan musikal (Gordon, 1. Dengan demikian, tidak adanya perbedaan signifikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan persepsi ritme lebih bersifat individual dan kontekstual daripada berbasis gender. Dari perspektif pendidikan, temuan ini memiliki implikasi penting terhadap desain pembelajaran seni musik di sekolah dasar. Sebagai implikasi praktis, strategi instruksional dalam pembelajaran musik di sekolah dasar sebaiknya diimplementasikan secara inklusif dan setara, memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang jenis kelamin untuk mengoptimalkan potensi musikal Pembelajaran tidak perlu dibedakan berdasarkan jenis kelamin, melainkan harus berfokus pada pengembangan kemampuan individu siswa melalui pendekatan diferensiasi (Tomlinson, 2. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing siswa serta strategi untuk mengembangkan persepsi ritme siswa tersebut. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan persepsi ritme siswa sekolah dasar secara umum berada pada kategori sedang hingga tinggi, serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa lakilaki dan perempuan. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi ritme sebagai bagian dari kecerdasan musikal tidak ditentukan oleh faktor gender, melainkan lebih dipengaruhi oleh karakteristik individual dan pengalaman belajar siswa. Penelitian ini berkontribusi dalam menantang asumsi mengenai adanya perbedaan Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 21-29 | 27 Persepsi Ritme dalam Pendidikan DasarA. E-ISSN: 2809-2910 kemampuan musikal berbasis gender, serta memberikan dasar empiris bagi pengembangan pembelajaran seni musik yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan individual siswa. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel yang relatif kecil dan cakupan lokasi yang terbatas pada satu sekolah, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Selain itu, penelitian ini hanya menggunakan pendekatan kuantitatif sederhana tanpa mengeksplorasi faktor lain yang dapat memengaruhi persepsi ritme, seperti pengalaman musikal, lingkungan belajar, dan intensitas latihan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sampel yang lebih luas, menggunakan pendekatan campuran . ixed method. , serta mengkaji faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi perkembangan persepsi ritme siswa secara lebih mendalam. REFERENCES