Jurnal Pendidikan Sultan Agung JP-SA Volume 5 Nomor 3. O k t o b e r Tahun 2025 Hal. 450 Ae 461 Nomor E-ISSN: 2775-6335 SK No. 27756335/K. 4/SK. ISSN/2021. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Jl. Kaligawe Raya KM. 4 Kota Semarang 50112 Jawa Tengah Indonesia Alamat website: http://jurnal. id/index. jpsa/index ========================================================================= PENGARUH PENERAPAN BUDAYA KERJA 5S DAN PERSEPSI K3 TERHADAP KESADARAN PERILAKU K3 SISWA TEKNIK PEMESINAN DI PROVINSI GORONTALO Muhammad Fikri Hatibie1*. Sunardi2. Hendra Uloli3 1,2,3 Universitas Negeri Gorontalo Email: alfatihhatibie@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh penerapan budaya kerja 5S (Seiri. Seiton. Seiso. Seiketsu. Shitsuk. dan persepsi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. terhadap kesadaran perilaku K3 siswa teknik pemesinan di Provinsi Gorontalo. Kesadaran perilaku K3 menjadi krusial mengingat potensi bahaya di lingkungan bengkel pemesinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian menggunakan penelitian kausal asosiatif. Data dikumpulkan melalui survei kepada 77 orang siswa teknik pemesinan di Provinsi Gorontalo. Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa budaya kerja 5S dan persepsi K3 secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 siswa teknik pemesinan 0,505. Hal ini berarti terdapat pengaruh budaya kerja 5S dan persepsi K3 terhadap kesadaran perilaku K3 sebesar 50,5%. Kata Kunci: Budaya Kerja 5S. Persepsi K3. Kesadaran Perilaku K3. Siswa Teknik Pemesinan Abstract This study aims to investigate the effect of the implementation of the 5S work culture (Seiri. Seiton. Seiso. Seiketsu. Shitsuk. and Occupational Safety and Health (OHS) perceptions on the OHS awareness of machining engineering students in Gorontalo Province. OHS awareness is crucial given the potential hazards in the machining workshop environment. This study used a quantitative The research type used causal associative research. Data were collected through a survey of 77 machining engineering students in Gorontalo Province. Data analysis was conducted using multiple regression analysis to test the research hypotheses. The results showed that the 5S work culture and OHS perceptions partially had a significant effect on OHS awareness of machining engineering students . This means that there is an influence of the 5S work culture and OHS perceptions on OHS awareness of OHS by 50. Keywords: 5S Work Culture. OHS Perception. OHS Awareness. OHS Students PENDAHULUAN Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membekali peserta didiknya menjadi tenaga kerja yang siap bekerja sesuai standar industri. Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa. AuPendidikan kejuruan merupakan pedidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentuAy. Pembelajaran di SMK tidak hannya diberikan teori saja, namun terdapat banyak pengaplikasian praktik dari Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 450 - 461 Keseluruhan komponen tersebut bisa saja memiliki resiko yang membahayakan. (Wahyurianto & Fioriantika, 2. mengatakan bahwa lingkungan sekolah memiliki resiko dan gangguan pada kesehatan sekolah yang di pengaruhi sekolah, karakter warga sekolah yang berbeda-beda tata letak ruangan, memiliki sifat yang kurang kondusif, dan budaya K3. K3 menurut UU Keselamatan Kerja terutama dalam (Pemerintah Indonesia, 2. menyatakan bahwa AuKeselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakan kerja dan penyakit akibat kerja. Kercerlakaan dan pernyakit mer urpakan surmber kerugian ataur keradaan yang berrkaitan derngan perker ja, perker jaan, dan lingkurngan perker jaan yang ber perlurang merngakibatkan kerrurgian. Berber apa jernis bahaya yang biasanya ter jadi ditermpat ker ja yaitu (Erliana & Azis, 2. bahaya fisik, . bahaya kimia, . bahaya biologi, . bahaya psikologi, . bahaya psiko-sosial, . bahaya dari proses produksi. Kerserhatan dan Kerserlamatan Ker ja (K. mer urpakan urpaya mernserjahter akan dan mermproterksiksikan diri dari sergala rersiko ker urgian yang diakibatkan olerh kercerlakaan ker ja. Oleh sebab itu untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) wajib mengedukasih dan mengimplementasikan budaya kerja 5S dan K3. Menurut Sari . Kesadaran berperilaku K3 merupakan sudut pandang manusia untuk mengimplementasikan prosedur K3. Perner apan K3 serharursnya surdah mernjadi kersadaran diri serserorang tanpa adanya perringatan ataur paksaan dari siapapurn. Hal ini dikarernakan kercerlakaan ker ja sercara langsurng ataurpurn tidak langsurng dapat ber dampak pada diri serndiri dan lingkurngan serkitar. Apabila kersadaran ber per ilakur K3 diterrapkan ternturnya akan berrdampak positif dan jika tidak ternturnya akan ber dampak nergatifr ter hadap diri serndiri. Menurut (Supriadi, 2. Solursi urnturk mernghindari per ilakur tidak aman adalah . Mernghindari sergala per ilakur yang ber poternsi mermbahayakan diri serndiri dan lingkurngan saat berker ja, . Mernergur terman yang merlakurkan per ilakur tidak aman. Karerna merngurbur nya di permakaman lerbih surlit daripada mernergur nya, . Mermaturhi instrurksi dari gur ur dan proserdur K3 yang ada di berngkerl. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di SMKN 3 Gorontalo pada tanggal 25 April 2024 bahwa, terdapat beberapa siswa program Kehalian Teknik Pemesinan yang belum menerapkan Praktikum tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan pemahaman siswa akan perilaku K3 di bengkel masih sangat rendah. Menurut Setyawan dan Surahmanto, . penyebab kecelakaan kerja disebabkan oleh kurangnya pemahaman seseorang tentang K3 yang tidak dilaksanakan. Untuk menghindari kecelakaan kerja yang kapan saja dapat terjadi maka penting untuk siswa menerapkan K3. K3 wajib diter apkan karerna ter dapat bahaya yang dapat ber poternsi merngakibatkan kercerlakaan dan pernyakit yang ber hurburngan derngan ker ja. (Ikhsan, 2. Persepsi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. merupakan pandangan atau pemahaman dari masing-masing individu terhadap penerapan K3 yang mencakup cara individu melihat, memahami, dan merasakan berbagai aspek K3, mulai dari kebijakan, prosedur, hingga tindakan yang diambil oleh sekolah. Menurut (Pertiwi et al. , 2. Persepsi K3 merupakan gambaran langsung dari pemahaman seseorang terhadap K3 melalui panca Selain persepsi tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K. , penerapan budaya kerja 5S juga menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya Muhammad Fikri Hatibie, dkk. Pengaruh penerapan budaya kerja 5S . kecelakaan kerja akibat kurangnya kesadaran perilaku K3. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rahman et al. , 2. bahwa 5S (Seiri. Seiton. Seiso. Seiketsu, dan Shitsuk. berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku K3 seseorang. Budaya Kerja 5S adalah budaya kerja yang berasal dari Jepang, bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Prinsip Kerja 5S (Seiri. Seiton. Seiso. Seiketsu. Shitsuk. yang jika diterjemahkan akan menjadi 5R (Ringkas. Rapi. Resik. Rawat. Raji. menjadi acuan untuk mengatur tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerja secara benar. Apabila tempat kerja rapi, bersih, dan tertib, maka kemudahan bekerja perorangan dapat dociptakan, dan dengan demikian, keselamatan kerja dapat lebih mudah dicapai. (Mahasin & Suyitno, 2. mernderfinisikan 5S serbagai suratur konserp perngatur an yang ber asal dari Jerpang yang ter bernturk dari lima tahapan diantaranya Seriri (Ringka. Seriton (Rap. Seriso (Rersi. Serikertsur (Rawa. , dan Shitsurker (Raji. Merlaluri perner apkan konserp 5S maka diharapkan lingkurngan ker ja di SMK dapat mernjadi lerbih rapi, ter strurktur dan ber sih, serhingga akan mernghasilkan ritmer ker ja yang erfisiern, cerpat dan terpat, ser ta ber dampak pada produrktivitas tinggi dan kuralitas yang stabil. Mernur urt (Parmasari & Nugroho, 2. bahwa derngan merner apkan burdaya kerrja 5R di berngkerl dapat merndurkurng kerlancaran kerrja praktik merlaluri ker ja yang cerpat, akurrat ser ta aman dan nyaman. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan penelitian kausal asosiatif dengan regresi. (Sugiyono 2. menyatakan bahwa Penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh atau hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat dan apabila ada seberapa eratnya pengaruh atau hubungan seta berarti atau tidak pengaruh atau hubungan itu. (X 1 ) Budaya Kerja (Y) Kesadaran Perilaku K3 (X 2 ) Persepsi K3 Gambar 1. Pengaruh antar variabel Populasi dalam penelitian ini merupakan siswa kelas XII SMK program Keahlian Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo yang menyelenggarakan program Keahlian Teknik Pemesinan dengan rincian. SMK Negeri 3 Gorontalo sebanyak 43 orang. SMK Negeri 1 Paguyaman sebanyak 14 orang dan SMK Negeri 1 Marisa sebanyak 38 orang. Penelitian ini menggunakan Teknik penarikan sampel proportionater Stratifierd random sampling. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 450 - 461 (Sugiono . menjelaskan bahwa proportionater Stratifierd random sampling adalah Teknik yang digunakan apabila populasi memiliki anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 77 orang siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data dari variabel independen yaitu Budya Kerja 5S (X. Persepsi K3 (X. , dan variabel Perilaku K3 (Y) yang diperoleh dari angket. Pada bagian ini akan disajikan deskripsi data dari variabel yang telah diolah dilihat dari Mean (M). Median (M. Modus (M. , dan Standar Deviasi (SD). Selain itu juga disajikan tabel kecendurungan dari masing-masing variabel. Tabel 1. Data Analisis Deskriptif Variabel Budaya Kerja 5S Valid Missing Mean 47,5065 Std. Error of Mean ,80892 Median 47,0000 Mode 47,00 Std. Deviation 7,09823 Minimum 31,00 Maximum 64,00 Berdasarkan perhitungan statistic deskriptif, di peroleh kategori kecenderungan variabel budaya kerja 5S sebagai berikut: Penerapan Budaya Kerja 5S Sangat Rendah Sangat Tinggi Rendah Tinggi Sedang Gambar 2. Diagram Kecenderungan Budaya Kerja 5S Pada data dari variabel persepsi K3 diperoleh, hasil skorsing dijumlahkan menjadi satu bagian hasil dari variabel presepsi K3 masing-masing responden. Berdasarkan data persepsi K3 diperoleh hasil analisis pada Tabel 2. Muhammad Fikri Hatibie, dkk. Pengaruh penerapan budaya kerja 5S . Tabel 2. Data Analisis Deskriptif Variabel Persepsi K3 Valid Missing Mean 50,4675 Median 50,0000 Mode 48,00a Std. Deviation 5,26804 Minimum 35,00 Maximum 64,00 Data budaya kerja 5S yang diolah menggunakan SPSS 26. Berdasarkan perhitungan statistic deskriptif, diperoleh kategori kecenderungan variabel persepsi sebagai berikut: Persepsi K3 Sangat Rendah Rendah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Gambar 3. Diagram Kecendeerungan Persepsi K3 Pada data dari variabel perilaku K3 diperoleh melalui angket yang diisi oleh 77 siswa dengan menjawab 21 pernyataan, hasil skorsing dijumlahkan menjadi satu sebagai hasil dari variabel kesadaran perilaku K3 masing-masing responden. Berdasarkan data kesadaran perilaku K3 diperoleh hasil analisis menunjukkan nilai: Tabel 3. Data Analisis Deskriptif Variabel Kesadaran Perilaku K3 Valid Missing Mean Std. Error of Mean 64,9740 ,74614 Median Mode 66,0000 72,00 Std. Deviation Minimum 6,54735 45,00 Maximum 79,00 Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 450 - 461 Berdasarkan perhitungan statistic deskriptif, diperoleh kategori kecenderungan variabel kesadaran perilaku K3 sebagai berikut: Kesadaran Perilaku K3 Sangat Rendah Rendah Sangat Tinggi Sedang Tinggi Gambar 4. Diagram Kecenderungan Kesadaran Perilaku K3 Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogrov-Smirnov pada program SPSS 26,0. Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukan nilai Asymp. Sig variabel Budaya Kerja 5S adalah 0,200 atau > 0,05 sehingga variabel berdisibusi normal variabel persepsi K3 adalah 0,200 atau > 0,05 sehingga variabel berdistribusi normal dan variabel Kesadaran Perilaku K3 adalah0,182 atau > 0,05 sehingga variabel berdistribusi normal. Pada uji linearitas digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat besrsifat linear atau tidak. Berdasarkan uji linearitas X1 diperoleh nilai siginifikan 0,067 > 0,05 sehingga keduanya memiliki hubungan yang linier. Uji linieritas variabel X2 terhadap Y diperoleh nilai signifikan 0,132 > 0,05 maka variabel tersebut memiliki hubungan yang linier. Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Budaya Kerja 5S (X. terhadap Kesadaran Perilaku K3 siswa (Y). Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan analisis regresi sederhana. Uji Regresi X1-Y y = 0. RA = 0. Gambar 5. Grafik Uji Regresi X1 Ae Y Berdasaarkan hasil analisis data pada gambar 5. Diperoleh nilai koefesien determinasi (R. sebesar 0,2557, yang berarti bahwa pengaruh budaya kerja 5S (X. terhadap kesadaran perilaku K3 (Y) siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo sebesar Muhammad Fikri Hatibie, dkk. Pengaruh penerapan budaya kerja 5S . 25,57%, sedangkan 74,43% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai thitung sebesar 5,076 sedangkan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 1,995. Apabila nilai thitung sama atau lebih besar dari ttabel dengan taraf signifikansi 5% maka nilai variabel tersebut berpengaruh signifikan. Hasil pengujian menunjukan bahwa thitung 5,076 > ttabel 1,995, hal ini menunjukan bahwa Budaya Kerja 5S (X. berpengaruh signifikan terhadap Kesadaran Perilaku K3 Siswa (Y). Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Persepsi K3 (X . berpengaruh terhadap Kesadara Perilaku K3 (Y) siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan analisis regresi sederhana. Berdasarkan data penelitian yang diolah menggunakan bantuan program SPSS 26. ringkasan hasil analisis regresi sederhana adalah sebagai berikut. Uji Regresi X2-Y y = 0. RA = 0. Gambar 6. Grafik Uji Regresi X2 Ae Y Berdasarkan hasil analisis data pada gambar 6. Diperoleh nilai koefisien determinasi (R. sebesar 0,3278, yang berarti bahwa pengaruh persepsi K3 terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo sebesar 32,78%, sedangkan 67,22% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai thitung sebesar 6,048 Sedangkan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 1,995. Apabila nilai thitung sama atau lebih besar dari ttabel dengan taraf signifikansi 5% maka nilai variabel tersebut berpengaruh signifikan. Hasil pengujian menunjukan bahwa t hitung 6,048 > ttabel 1,995, hal ini menunjukan bahwa variabel persepsi K3 (X. berpengaruh signifikan variabel kesadaran perilaku K3 (Y). Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah Ter dapat perngarurh positif dan signifikan antara Burdaya Ker ja 5S (X. dan Persepsi K3 (X. ter hadap Kesadaran Perilaku K3 (Y) siswa sercara simurltan. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan analisis regresi ganda. Berdasarkan data penelitian yang diolah menggunakan bantuan program SPSS 26,0, ringkasan hasil analisis regresi ganda adalah sebagai berikut. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 450 - 461 Tabel 4. Coefficients Ganda Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model (Constan. Coefficients Std. Error Beta 14,602 5,875 ,393 ,076 ,628 ,103 Sig. 2,486 ,015 ,426 5,143 ,000 ,505 6,102 ,000 Dependent Variable: Y Tabel 5. Model Summary Ganda Model Summary Change Statistics Model ,711a Adjusted Std. Error of R Square Square R Square the Estimate Change Change Sig. F Change ,505 ,491 4,66910 ,505 37,722 ,000 Predictors: (Constan. X2. X1 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya kerja 5S dan persepsi K3 terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data penelitian yang telah dianalisis secara statistik dapat dilihat dengan jelas bahwa semua variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Pengaruh yang diberikan kedua variabel bebas bersifat positif artinya semakin tinggi budaya kerja 5S dan persepsi K3 maka semakin tinggi pula kesadaran perilaku K3 siswa yang di Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Penjelasan dari masing masing pengaruh variabel adalah sebagai berikut. Pengaruh Penerapan Budaya Kerja 5S Terhadap Kesadaran Perilaku K3 Siswa Persamaan garis regresi yang diperoleh dari perhitungan data dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut. Y = 42,816 0,466 X1. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,466. Hal ini berarti jika nilai budaya kerja 5S (X. meningkat satu satuan maka nilai kesadaran perilaku K3 (Y) akan meningkat 0,466 satuan. Nilai koefisien determinasi variabel budaya kerja 5S (X. terhadap kesadaran perilaku K3 (Y) menunjukkan nilai 0,2557. Muhammad Fikri Hatibie, dkk. Pengaruh penerapan budaya kerja 5S . Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi budaya kerja 5S, maka semakin tinggi pula kesadaran perilaku K3 siswa teknik pemesinan di provinsi Sebaliknya, semakin rendah budaya kerja 5S, maka semakin rendah pula kesadaran perilaku K3. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Akram et al. , 2. menemukan bahwa penerapan budaya kerja 5S/5R di tempat kerja dapat meningkatkan kesadaran dan persepsipekerja mengenai K3. Berdasarkan analisis dengan bantuan program SPSS 26,0 diperoleh nilai t hitung sebesar 5,076. Sedangkan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 1,995. Apabila nilai thitung sama atau lebih besar dari ttabel dengan taraf signifikansi 5% maka nilai variabel tersebut berpengaruh signifikan. Hasil pengujian menunjukan bahwa thitung 5,076 > ttabel 1,995, hal ini menunjukan bahwa budaya kerja 5S (X. berpengaruh signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 (Y). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa budaya kerja 5S berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ulina, 2. bahwa budaya kerja 5S berkontribusi positif terhadap kesadaran perilaku K3. (Rahman et al. , 2. juga mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan penerapan budaya kerja 5S terhadap perilaku K3. Pengaruh Persepsi K3 Terhadap Kesadaran Perilaku K3 Siswa Persamaan garis regresi yang diperoleh dari perhitungan data dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut. Y = 29,060 0,712 X2. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,712 hal ini berarti jika nilai persepsi K3 (X. meningkat satu satuan maka nilai kesadaran perilaku K3 (Y) akan meningkat 0,712 satuan. Nilai koefisien determinasi variabel persepsi K3 (X. terhadap kesadaran perilaku K3 (Y) menunjukkan nilai 0,3278. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi K3, maka semakin tinggi pula kesadaran perilaku K3 siswa teknik pemesinan di provinsi gorontalo. Sebaliknya, semakin rendah persepsi K3, maka semakin rendah pula kesadaran perilaku K3. Hal tersebut didukung oleh pernyataan (Damayanti, 2. bahwa siswa yang mempunyai persepsi K3 akan mempengaruhi perilakunya dalam K3. Pernyayataan tersebut menunjukkan bahwa variabel persepsi K3 mempunyai pengaruh positif terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo. Berdasarkan analisis dengan bantuan program SPSS 26,0 diperoleh nilai thitung sebesar 6,048 Sedangkan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 1,995. Apabila nilai thitung sama atau lebih besar dari ttabel dengan taraf signifikansi 5% maka nilai variabel tersebut berpengaruh signifikan. Hasil pengujian menunjukan bahwa t hitung 6,048 > ttabel 1,995, hal ini menunjukan bahwa persepsi K3 (X. berpengaruh signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 (Y). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persepsi K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 450 - 461 Pengaruh Budya Kerja 5S dan Persepsi K3 Secara Simultan Terhadap Perilaku K3 Siswa Persamaan garis regresi yang diperoleh dari perhitungan data (Tabel . dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut. Y = 14,602 0,393 X1 0,628 X2. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi X1 sebesar 0,393 hal ini berarti jika nilai budaya kerja 5S (X. meningkat satu satuan maka nilai kesadaran perilaku K3 (Y) akan meningkat 0,393 satuan dengan asumsi X2 tetap, yang berarti jika nilai persepsi K3 (X. meningkat satu satuan maka nilai kesadaran perilaku K3 (Y) akan meningkat 0,628 satuan dengan asumsi X1 tetap. Nilai koefisien determinasi variabel budaya kerja 5S (X. dan persepsi K3 (X. terhadap kesadaran perilaku K3 (Y) menunjukkan nilai 0,505. Hal ini berarti pengaruh budaya kerja 5S dan persepsi K3 terhadap kesadaran perilaku K3 sebesar 50,5% sedangkan 49,5% dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi budaya kerja 5S dan persepsi K3 maka semakin tinggi kesadaran perilaku K3 siswa SMK teknik pemesinan di provinsi gorontalo. Sebaliknya, semakin rendah budaya kerja 5S dan persepsi K3 maka semakin rendah pula kesadaran perilaku K3 siswa. Variabel budaya kerja 5S dan persepsi K3 memberikan pengaruh sebesar 50,5% terhadap terhadap kesadaran perilaku K3. Hal tersebut menunjukkan variabel budaya kerja 5S dan persepsi K3 mempunyai pengaruh positif terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo. Berdasarkan analisis dengan bantuan program SPSS 26,0 diperoleh nilai Fhitung sebesar 37,722 Sedangkan nilai ftabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 3,12. Apabila nilai Fhitung sama ata lebih besar dari ftabel dengan taraf signifikansi 5% maka nilai variabel tersebut berpengaruh signifikan. Hasil pengujian menunjukan bahwa F hitung 37,722 > ftabel 3,12, hal ini menunjukan bahwa budaya kerja 5S (X. dan persepsi K3 (X. berpengaruh signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 (Y). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa budaya kerja 5S dan Persepsi K3 secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Damayanti S, 2. menyatakan hasil dari analisis data diketahui bahwa terdapat pengaruh persepsi K3 terhadap perilaku keselamatan dibuktikan dengan variabel deskriptif sebesar 89,4. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Budaya kerja 5S berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo sebesar 25,57%. Persepsi K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo sebesar 32,78%. Budaya kerja 5S dan persepsi K3 secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran perilaku K3 siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo sebesar 50,5%. Muhammad Fikri Hatibie, dkk. Pengaruh penerapan budaya kerja 5S . SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti laksanakan dapat dikemukakan saransaran sebagai berikut. Untuk lembaga pengelola pendidikan, dalam hal ini semua pihak SMK yang memiliki jurusan teknik pemesinan di provinsi gorontalo terutama kepada para guru agar selalu mensosialisasikan terkait pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. serta memastikan bahwa budaya kerja 5S selalu di terapkan disekolah, agar dapat membangun kebiasaan baik dalam diri siswa saat bekerja. Menjadwalkan pelatihan-pelatihan tentang K3 sehingga persepsi siswa tentang K3 dapat terus di tingkatkan dan membuat kesadaran berperilaku K3 siswa lebih baik sehingga dapat meminimalisir kecelakaan yang tidak diinginkan baik saat melakukan praktik di bengkel, maupun saat melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Untuk siswa SMK Teknik Pemesinan di Provinsi Gorontalo disarankan untuk selalu membiasakan diri dan belajar agar dapat meningkatkan kebiasaan budaya kerja 5S meningkatkan persepsi tentang K3. Untuk peneliti selanjutnya disarankan memasukan variabel-variabel independent lain selain Budaya Kerja 5S dan Persepsi K3. Hal ini mengacu pada hasil penelitian ini yang menunjukan bahwa terdapat sumbangan pengaruh peningkatan budaya kerja 5S dan persepsi K3 sebesar 50,5%. Berarti masih ada 49,5% perilaku variabel lain yang belum bisa dijelaskan oleh variabel budaya kerja 5S dan persepsi K3. DAFTAR PUSTAKA