Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Diterima Pada 16 Februari 2022 Disetujui Pada 25 Maret 2022 Vol. No. 1, 2022 Halaman E-ISSN : PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR KENDANG KRUMPUNGAN GAYA PELIATAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI SANGGAR GAMELAN SULING GITA SEMARA Made Windu Agung Purwanto1. I Gede Mawan2. I Wayan Diana Putra3 Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Fakultas Seni Pertunjukan. Institut Seni Indonesia Denpasar madewinduagung@gmail. 1,2,3 Abstrak Penelitian ini membahas Pembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Kendang krumpungan gaya Peliatan merupakan salah satu kesenian klasik yang memiliki ciri khas atau karakteristik. Rumusan masalah dalam penelitian mengenai karakteristik permainan kendang krumpungan gaya Peliatan, proses dan hasil pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan serta faktor-faktor pendukung dan penghambat selama proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan karakteristik kendang krumpungan gaya Peliatan, untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan, serta untuk mengatahui dan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahapan penelitian yang dilakukan yaitu menentukan rancangan penelitian, lokasi penelitian, instrumen penelitian, serta jenis dan sumber data. Selanjutnya pada teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan dan Teknik analisis data disajikan dengan teknik analisis data kualitatif dan hasil analisis data disajikan dalam bentuk naratif berupa skripsi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kendang krumpungan gaya Peliatan memiliki karakteristik yang dapat dikaji melalui bentuk permainan, cara kerja pola permainan, dan sifat Proses pembelajaran pada teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Adapun 4 tahapan pembelajarannya yaitu: tahap persiapan . , tahap penyampaian . , tahap latihan . , dan tahap penampilan hasil . Faktor pendukung dan penghambat berasal dari dari faktor internal dan faktor eksternal peserta didik dan lingkungan. Kata Kunci: Pembelajaran. Kendang Krumpungan Gaya Peliatan. Model Kooperatif Tipe Jigsaw PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa (Triwiyanto, 2014:. Pendidikan berperan penting dalam menjaga warisan kebudayaan karena dalam aspek pendidikan memuat nilai-nilai kebudayaan. Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjaga nilai-nilai kebudayaan salah satu usaha yang dapat dilakukan yaitu melalui pendidikan seni. Soehardjo . memaparkan bahwa pendidikan seni adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan agar Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra menguasai kemampuan berkesenian sesuai dengan peranan yang harus dimainkan. Pendidikan pengalaman seni atau fungsi pendidikan seni kepada peserta didik yaitu: . Seni sebagai wahana ekspresi, . Seni sebagai sarana pengembangan atau pembinaan kreatifitas, . Seni sebagai sarana pengembangan bakat anak, . Seni sebagai sarana pembinaan keterampilan, . Seni sebagai sarana pembentukan kepribadian, dan . Seni sebagai sarana pembinaan impuls estetika (Iriaji, 2015:23-. Pendidikan seni memiliki cakupan yang sangat luas salah satunya adalah seni karawitan pada bidang seni Dewasa ini dalam dunia karawitan terdapat banyak sekali gamelan atau jenis barungan gamelan yang ada di Bali. Masing-masing dari perangkat itu memiliki fungsi, tungguhan, orchestrasi, dan teknik permainan yang berbeda-beda. Salah satu tungguhan yang memiliki peranan penting dalam gamelan Bali yaitu tungguhan kendang. Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah pembelajaran kendang krumpungan gaya Peliatan. Kendang krumpungan adalah salah satu tungguhan kendang Bali yang memiliki ukuran menengah atau sedang. Kata krumpungan berasal dari kata AupungAy yang menirukan suara kendang atau disebut dengan istilah onomatopea (Kusuma, 2020:. Kendang krumpungan biasanya dimainkan secara berpasangan oleh dua orang yaitu satu kendang berjenis lanang yang memiliki suara lebih tinggi dan satunya berjenis wadon yang memiliki suara lebih rendah. Dalam tabuhan jenis kendang krumpungan dimainkan dengan pola yang berbeda-beda, namun memiliki unsur keterkaitan sehingga akan menimbulkan semacam jalinan yang dikenal dengan candetan (Sukerta, 1998:. Kendang ini biasanya digunakan untuk mengiringi gamelan Palegongan. Gambuh, dan Pengarjaan. Jenis kendang ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan kanan dan kiri. Kendang krumpungan juga memiliki fungsi sebagai pamurba irama. Pamurba irama yang dimaksud yaitu sebagai tungguhan pengatur dinamika lagu, keras lirihnya dan juga cepat lambatnya tempo dalam lagu-lagu. Berdasarkan hasil observasi ke Sanggar Gamelan Suling Gita Semara diketahui bahwa sanggar ini aktif dalam pelestarian Palegongan. Pengarjaan. Gong Suling sehingga sangat berkaitan dengan penggunaan tungguhan kendang krumpungan. I Wayan Sudiarsa selaku ketua Sanggar Gamelan Suling Gita Semara menyatakan: AuMemainkan kendang krumpungan khususnya mengacu pada gaya Peliatan sangatlah tidak mudah dan memiliki nilai kompleksitas yang Pola permainan kendang krumpungan Gaya Peliatan memiliki unsur spontanitas, fleksibel, dan improvisasi yang banyak karena permainannya tidak bisa dibakukan meskipun terdapat pola-pola dasar yang diberikan. Dari pola-pola pola-pola sehingga timbul ketiga unsur yang disebutkan tadi yaitu spontanitas, fleksibel, dan improvisasi. Mempelajari kendang krumpungan gaya Peliatan membutuhkan proses pembelajaran yang intens dan konsen terutama pada penguasaan teknikteknik dasar atau cara dasar untuk memainkan kendangnyaAy (Wawancara dengan Bapak I Wayan Sudiarsa pada tanggal 24 September 2021 53 WITA di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Banjar Tengah Kangin. Peliatan Ubu. Seseorang harus menguasai teknik-teknik dasar atau pola-pola dasar pada tungguhan Antara pemain kendang lanang dan kendang wadon harus memiliki rasa yang sama untuk menjalin pukulan kendang yang Terlebih lagi dalam memainkan kendang krumpungan gaya Peliatan yang memiliki ciri khas dan keunikannya Tidak banyak orang dapat memainkan kendang krumpungan gaya Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Peliatan dengan teknik atau pola-pola yang sesuai dengan ciri khasnya. Ciri khas yang dimaksud yaitu mulai dari teknik memukul, pola permainan, dan hayatan-hayatan di setiap jalinan pukulan kendang. Hal ini berdampak pada minimnya jumlah juru kendang yang mampu memainkan kendang krumpungan gaya Peliatan. Apabila kondisi ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan kekhawatiran dan kendang krumpungan gaya Peliatan. Dari permasalahan di atas maka sangat dirasa perlu untuk melakukan pembelajaran teknik dasar bermain kendang krumpungan gaya Peliatan. Selain itu dari segi permainannya, kendang krumpungan Peliatan memang sangat menarik untuk dipelajari dan diajarkan utamanya kepada para generasi muda yang masih berusia remaja Pembelajaran kendang krumpungan yang dilakukan memerlukan sebuah model pembelajaran yang berperan penting dalam mencapai tujuan tertentu. Hasil wawancara Bapak Wayan Sudirana memaparkan mengenai pentingnya model pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran yaitu sebagai berikut. AuDalam melaksanakan proses pembelajaran Model pembelajaran akan mempermudah proses pembelajaran serta membantu mencapai tujuan pembelajaran yang Hendaknya model pembelajaran tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan suasana proses pembelajaran yang dilakukan baik yang bersifat formal maupun informal. Pembelajaran formal dapat dilakukan dengan model-model pembelajaran yang berpedoman dengan kurikulum yang berlaku di sekolah, institusi, dan lembagalembaga pembelajaran informal dapat dilaksanakan dengan model pembelajaran yang mempunyai nilai kearifan lokalAy. (Wawancara dilakukan pada tanggal 6 November di kediaman Beliau di Jalan Sandat No. 44 Ubud Gianya. Hal yang menarik dari pemaparan tersebut memerlukan sebuah model pembelajaran yang harus disesuaikan dengan kebutuhan Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran informal ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw karena memiliki banyak kelebihan meningkatkan hasil akhir dari sebuah Menurut Slavin dalam (Isjoni, 2012:. cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan struktur kelompok Slavin dalam (Suaidinmath 2. juga menyebutkan bahwa pembelajaran pembelajaran karena dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial. Model kooperatif tipe Jigsaw memiliki beberapa keunggulan yaitu: . Peserta didik memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok, . Peserta didik dapat saling membelajarkan sesama peserta didik atau pembelajaran rekan sebaya . eer teachin. , . Model pembelajaran ini dapat mengurangi sifat individualistis siswa (Rusman dalam Asni, 2016:. Model pembelajaran ini sangat sesuai dengan kebutuhan penelitian untuk Dari uraian permasalahan di atas, maka penelitian ini berjudul AuPembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Di Sanggar Gamelan Suling Gita SemaraAy. Permasalahan yang diulas dalam penelitian ini yaitu mengenai karakteristik permainan Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra kendang krumpungan gaya Peliatan, proses dan hasil pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, serta faktor pendukung dan penghambat selama proses pembelajaran. Teori yang digunakan untuk mengulas pembelajaran yang berkaitan dengan proses pembelajaran, teori estetika yang digunakan untuk mengkaji karakteristik kendang krumpungan gaya Peliatan, dan teori belajar yang berkaitan dengan faktor internal dan faktor eksternal dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan keterampilan atau kemampuan berupa teknik-teknik dasar dalam bermain kendang Peliatan. Melalui penelitian ini secara tidak langsung ikut serta dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian kendang krumpungan gaya Peliatan. METODE Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah disampaikan melalui deskripsi berupa katakata atau kalimat. Penelitian kualitatif menggunakan analisis. Instumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti yang secara aktif turun langsung ke lapangan untuk mencari data-data. Beberapa alat bantu yang digunakan diantaranya. Handphone, laptop, alat tulis dan buku-buku untuk mencatat hal-hal penting. Jenis data dalam tulisan ini yaitu data kualitatif yang berupa ungkapan, kalimat, kata-kata tertulis atau lisan. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer yang didapatkan dari narasumber dan data sekunder yang diperoleh melalui buku-buku atau jurnal. Teknik pengumpulan data dalam tulisan ini menggunakan teknik observasi, wawancara, studi kerpustakaan, dan dokumentasi. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi partisipasi aktif. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data memahami, dan menafsirkan fakta-fakta atau hipotesa menggunakan pemikiran logika yang kemudian diolah menjadi karya HASIL DAN PEMBAHASAN Karateristik Permainan Kendang Krumpungan Gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Edisi Ke Empat, 2008:. dijelaskan bahwa karakteristik merupakan ciri-ciri khusus . iri khulk. yang artinya memberi arti mengkhusus pada objek. Jika dikaitkan dengan bidang seni maka karakteristik dapat menjadi suatu identitas, ciri-ciri atau sifat yang melekat pada kesenian tersebut. Karakteristik bidang seni yang dibahas dalam hal ini adalah karakteristik permainan kendang krumpungan gaya Peliatan. Sebelum membahas karakteristik permainan kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, terlebih dahulu peneliti memaparkan mengenai penyebutan gaya Peliatan. Hasil wawancara dengan Bapak I Wayan Sudiarsa mengungkap penyebutan gaya Peliatan pada permainan tungguhan kendang krumpungan sebagai berikut. AuGaya dalam konteks seni karawitan adalah sesuatu hal yang terus dipelajari melalui sebuah proses, melalui hayatan-hayatan sehingga menimbulkan pemahaman yang mampu dipresentasikan kepada khalayak masyarakat. Melalui proses dan hayatan-hayatan tersebut gaya akan menjadi ciri khas atau karakteristik yang dimiliki tersendiri oleh suatu kesenian. Gaya secara tidak langsung akan membuat kesenian menjadi beragam karena sebuah kesenian tidak dapat digeneralisasi atau Mengenai penyebutan gaya Peliatan Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra krumpungan merupakan suatu warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Permainan kendang krumpungan gaya Peliatan lahir dari sedemikian proses yang telah dilalui oleh para seniman kendang terdahulu hingga sekarang. Penyebutan gaya Peliatan dalam permainan kendang krumpungan menandakan bahwa mendapatkan pengakuan masyarakat, baik dari masyarakat pemilik budaya dan masyarakat luasAy (Wawancara dilaksanakan tanggal 6 November 2021 di kediaman Beliau di Banjar Tengah Kangin. Peliatan. Ubu. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa gaya merupakan ciri khas atau karakteristik yang muncul akibat adanya proses pembelajaran secara terusmenerus melalui hayatan-hayatan yang telah dipresentasikan kepada masyarakat. Kata terus-menerus proses pengulangan dalam pembelajaran sehingga mendapatkan pemahaman dan pola permainan yang diinginkan. Gaya atau style akan menghadirkan sebuah karakteristik yang menjadi ciri tersendiri dalam permainan kendang. Mengenai permainan kendang krumpungan gaya Peliatan adalah ciri khas yang telah melekat di daerah Peliatan. Permainan kendang krumpungan gaya Peliatan juga lahir sebagai sebuah permainan dalam tungguhan kendang krumpungan yang memiliki karakteristik dan telah mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Pemaparan mengenai karakteristik kendang krumpungan gaya Peliatan dijabarkan menjadi tiga pokok bahasan yaitu: . Bentuk permainan kendang krumpungan gaya Peliatan, . Cara kerja dari permainan kendang krumpungan gaya Peliatan, dan . Sifat dari permainan kendang krumpungan gaya Peliatan. Bentuk Permainan Krumpungan Gaya Peliatan Warna-warna Suara Pada Kendang Krumpungan Pada jenis tungguhan kendang krumpungan memiliki karakter suara yang berbeda. Kendang lanang memiliki suara yang lebih tinggi, sedangkan kendang wadon memiliki suara yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena adanya tali jangat . ali dari kulit sap. dan sompe . incin janga. yang berfungsi untuk mengatur tinggi rendahnya suara Selain itu ada bagian lain yang mempengaruhi tinggi rendahnya suara kendang yang dihasilkan yaitu rongga yang terdapat di bagian dalam kendang yang disebut dengan pakelit (Sukerta, 1998:. Semakin besar lubang pakelit maka suara kendang yang dihasilkan semakin tinggi. Adapun warna-warna suara yang terdapat dalam jenis kendang krumpungan akan dibedakan berdasarkan tebokan kendang yang lebih besar dan kecil pada kendang berjenis lanang dan wadon sebagai berikut. Kendang Lanang . Suara tut : Suara tut ditimbulkan dengan cara memukul mua kendang lanang bagian tengah menggunakan ibu jari tangan kanan atau memukul bagian pinggir mua kendang lanang menggunakan tangan kanan sambil menutup atau menekan tebokan kendang cang . ebelah kir. Suara tek : Suara tek ditimbulkan dengan cara menekan bagian dalam mua kendang lanang menggunakan beberapa jari tangan. Suara teng : Suara teng ditimbulkan dengan cara memukul tebokan kiri . pada bagian atas menggunakan satu atau dua jari tangan kiri, sedangkan tangan kanan sedikit menekan tebokan kendang sebelah kanan . Suara pung : ditimbulkan dengan cara memukul kendang lanang bagian cang menggunakan telapak tangan kiri, sementara tangan kanan menekan mua kendang. Bagian cang yang dipukul untuk menghasilkan suara Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra pung yaitu bagian pinggir atas . Suara pak : ditimbulkan dengan cara memukulkan tangan kiri ke bagian kendang kiri . , sedangkan tangan kanan menekan permukaan kendang bagian kanan . Kendang Wadon . Suara dag : Suara dag ditimbulkan dengan cara memukul bagian tengah mua menggunakan ibu jari tangan Teknik memukul ini disebut dengan teknik mentil. Suara det : suara det ditimbulkan dengan cara memukulkan telapak tangan kanan pada bagian pinggir permukaan mua kendang wadon, sedangkan tangan kiri agak menekan bagian pinggir permukaan cang. Pada tangan kiri ini disebut dengan teknik nyangka agar menghasilkan suara det yang bagus dan jelas. Suara tek : suara tek pada muara kendang wadon dihasilkan dengan cara yang sama pada suara tek kendang lanang yaitu menekan bagian dalam mua kendang wadon menggunakan beberapa jari tangan. Suara tong : Suara tong ditimbulkan dengan cara memukul tebokan kiri . pada bagian atas menggunakan satu atau dua jari tangan kiri, sedangkan tangan kanan sedikit menekan tebokan kendang sebelah kanan . Suara ka : Suara ka ditimbulkan dengan cara tangan kanan menekan permukaan mua dan telapak tangan kiri memukul kendang bagian cang. Notasi Pola Dasar Permainan Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Sebagai petunjuk untuk mempermudah pemahaman terhadap notasi pola dasar permainan kendang krumpungan gaya Peliatan, berikut dijelaskan peniruan bunyi dari simbol-simbol yang terdapat dalam notasi pola dasar permainan tungguhan kendang krumpungan lanang dan wadon. Tabel 1 Simbol dan Peniruan Bunyi Kendang Dalam Notasi Simbol Peniruan Bunyi Suara Teng Kendang Lanang Suara Pak Kendang Lanang Suara Pung Kendang Lanang Suara Tut Kendang Lanang Suara Tek Kendang Lanang Suara Tong Kendang Wadon Keterangan Suara Teng pada kendang lanang Suara Pak pada kendang lanang Suara Pung pada kendang lanang Suara Tut pada kendang lanang Suara Tek pada kendang lanang Suara Tong pada kendang wadon Suara Kendang Wadon Suara Dag Kendang Wadon Suara Det Kendang Wadon Suara Tek Kendang Wadon Suara kendang wadon Suara Dag pada kendang wadon Suara Det pada kendang wadon Suara Tek pada kendang wadon Satu Ketukan Guntang atau Kajar Bernilai satu Gong Pulu Tawa-Tawa Tungguhan Gong dipukul satu kali Tungguhan TawaTawa dipukul satu Permainan Pola Lanang Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Pola 1 Kendang Lanang Pola 3 Kendang Wadon Bagian A (>) . (T) (<) Pola 2 Kendang Lanang (T) (T) Pola 3 Kendang Lanang Bagian A . Bagian B (>) Permainan Pola Wadon Pola 1 Kendang Wadon (<) (<) Pola 2 Kendang Wadon (<) (<) Bagian B (<) (<) Berdasarkan notasi pola dasar kendang krumpungan gaya Peliatan tersebut, dapat dipahami bahwa pola permainan kendang lanang dan kendang wadon membentuk jalinan yang saling bergantian atau saling mengisi satu sama lainnya secara simultan yang disebut dengan candetan (Sukerta, 1998:. Pada permainan kendang krumpungan gaya Peliatan terdapat perbedaan yang mendasar pada pola pukulan kendang lanang dan Pukulan kendang lanang pada bagian krempengan dan tut lebih banyak dilakukan dengan nyandetin guntang, tawa-tawa dan gong, sedangkan permainan kendang wadon pada bagian krempengan dilakukan sejalan dengan pukulan guntang, tawa-tawa, dan gong. Pukulan kendang wadon bisa juga dimainkan dengan cara nyandetin tempo tetapi hanya berlaku pada pukulan bagian mua kendang yang bertujuan sebagai hiasan atau pengembangan dari pola pukulan agar tidak krempengan tetap dimainkan sesuai dengan prinsip pukulan kendang wadon. Pukulan nyandetin memiliki arti pola atau pukulan yang jatuhnya tidak bersamaan dengan tempo tabuhan. Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Permainan kendang krumpungan gaya Peliatan juga memiliki bagian-bagian pola pukulan yang sangat unik. Pola pukulan kendang krumpungan dapat dimainkan dengan memberikan ruang pukulan yang lebih pada bagian mua kendang atau bahkan dapat memberikan ruang pukulan yang lebih pada bagian cang kendang. Teknik permainan ini disebut dengan istilah Aungelamisin gebugAy. Dari teknik permainan tersebut pola kendang krumpungan Peliatan terkadang terfokus pada bagian mua kendang atau cang kendang yang bertujuan untuk memperlihatkan kelebihan-kelebihan dari pola permainan kendang yang Dalam istilah karawitan teknik ini disebut sebagai pukulan AungilisAy yang memiliki arti menunjukan tabuhan atau pukulan agar menjadi jelas (Sukerta, 1998:. Teknik ngilis dan ngelamisin gebug berlaku pada kendang krumpungan berjenis lanang dan wadon serta dapat dilakukan pada bagian mua kendang atau bagian cang kendang sehingga permainan kendang menjadi Pada pola dasar permainan kendang krumpungan Peliatan menggunakan struktur Tabuh Dua Pearjaan sebagai acuan kolotomiknya. Dalam satu siklus pola permainan kendang akan menemukan dua kali pukulan tawatawa dan dua kali pukulan gong pulu yang dimainkan secara bergantian. Pukulan tawatawa akan jatuh pada ketukan ke-8 dan ke-24, sedangkan pukulan gong pulu jatuh pada ketukan ke-16 dan ke-32. Hal ini disebabkan karena notasi pola dasar menggunakan ketukan penuh yang bernilai 1AE32 untuk mempermudah pemahaman terhadap notasi dasar pola kendang krumpungan yang Cara Kerja Permainan Kendang Krumpungan Gaya peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara Sebagai jenis kendang yang dimainkan secara berpasangan, tungguhan kendang krumpungan tentunya memiliki cara kerja agar pola pukulan kendang lanang dan wadon dapat terjalin harmonis. Cara kerja pada permainan kendang krumpungan gaya Peliatan mengacu pada penempatan dan penggunaan pola kendang lanang dan wadon ketika dimainkan secara bersama-sama. Cara kerja dalam permainan kendang krumpungan gaya Peliatan juga bisa disebut sebagai prinsip atau aturan-aturan dalam memainkan kendang. Adanya prinsip dalam permainan kendang krumpungan yaitu prinsip tungguhan lanang dan prinsip tungguhan wadon akan memperjelas bagianbagian permainan kendang krumpungan. Hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak I Wayan Sudiarsa, mengungkap cara kerja pada pola-pola permainan kendang krumpungan gaya Peliatan sebagai berikut. AuPada dasarnya antara kendang lanang dan kendang wadon pada permainan kendang krumpungan gaya Peliatan sudah memiliki prinsipnya masing-masing. Hal yang menarik dari prinsip tersebut yaitu jalinan atau keterikatan dari kendang krumpungan tidak sama dengan prinsip kendang gupekan, kendang pasangan cedugan. Misalkan pada permainan kendang gupekan dan kendang pasangan cedugan terdapat pola pukulan 1, 2 dan 3 antara kendang wadon dan kendang lanang, secara otomatis pola permainan tersebut harus dimainkan dengan pasangan polanya, sedangkan pada kendang krumpungan pola-pola kendang lanang dan kendang wadon dapat dimainkan dengan pasangannya atau tidak dengan pasangan Hal ini berkaitan dengan esensial estetika atau nilai keindahan yang diinginkan krumpunganAy. (Wawancara dilaksanakan pada tanggal 6 November 2021 di kediaman Beliau di Banjar Tengah Kangin. Peliatan. Ubu. Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra Berikut gambaran cara kerja permainan kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Pola Pola Pola Pola Pola Pola Gambar 1 Ilustrasi Cara Kerja Pola Permainan Kendang Krumpungan Gaya Peliatan (Dok. Made Windu Agung Purwanto 2. Keterangan Pola Kendang Lanang Pola Kendang Wadon Garis penghubung antara pola lanang dan wadon Dari hasil wawancara yang dilakukan dan melihat gambaran cara kerja kendang krumpungan Gaya Peliatan dapat dipahami pola-pola krumpungan gaya Peliatan dapat dimainkan sesuai dengan pasangannya atau bahkan tidak dengan pasangan polanya. Seperti yang ditampilkan dalam gambaran cara kerja kendang krumpungan gaya Peliatan pola 1 kendang lanang dapat dimainkan dengan pola 1 dan pola 2 kendang wadon. Begitu sebaliknya pola 1 kendang wadon dapat dimainkan dengan pola 1 dan pola 2 kendang Kemudian pola permainan yang dimainkan sesuai dengan pasangannya yaitu pola 3 kendang lanang dengan pola 3 kendang wadon. Hal ini berkaitan dengan teknik ngilis dan ngelamisin gebug yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Pola ke-3 pada kendang lanang dan kendang wadon bisa saja dimainkan dengan pola 1 atau pola 2 yang menyebabkan kurangnya hayatan-hayatan atau rasa yang ditimbulkan dari pola Maka dipandang penting untuk memahami esensial estetika atau nilai keindahan yang diinginkan dalam jalinan permainan kendang krumpungan agar sesuai dengan gaya Peliatan. Selanjutnya pada cara kerja permainan kendang krumpungan gaya Peliatan yang tungguhan kendang lanang, sedangkan kendang wadon memberikan aksen-aksen pada pukulan kolotomik yang bisa jatuh pada matra atau pukulan non matra. Pukulan kendang lanang akan memberi stimulan atau rangsangan kepada kendang wadon sebagai petunjuk menuju pola jalinan permainan kendang. Begitu sebaliknya kendang wadon juga dapat memberikan stimulan atau rangsangan pada kendang lanang karena ini merupakan bentuk respon atau reaksi antara kendang lanang dan kendang wadon pada permainan kendang krumpungan yang tidak disadari. Sifat Permainan Kendang Krumpungan Gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara Sifat permainan kendang krumpungan akan menunjukan sistem dari cara kerja candetan pola pukulan kendang lanang dan pola pukulan kendang wadon. Sifat permainan kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dapat dibagi menjadi tiga yaitu sifat spontanitas, sifat improvisasi, dan sifat fleksibel. Sifat spontanitas dalam permainan kendang krumpungan merupakan sebuah pola permainan pada tungguhan kendang krumpungan yang tidak direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya. Dalam hal ini yang dimaksudkan yaitu alur dari pola Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra permainan kendang krumpungan tidak dapat dibakukan. Sifat spontanitas dari kendang krumpungan Peliatan berkaitan dengan pemberian stimulan atau rangsangan dan respon yang diberikan di antara permainan kendang lanang dan kendang wadon. Misalkan kendang lanang memberikan stimulan atau rangsangan pada bagian cang dengan pukulan teng maka kendang wadon dapat merespon pukulan tersebut dengan menggunakan pukulan dag pada bagian mua kendang. Pukulan dag yang digunakan untuk merespon dapat dilakukan lebih rapat . gelamisin gebu. sehingga pukulan antara kendang lanang dan kendang wadon menjadi lebih kompleks dan padat. Biasanya rangsangan ini digunakan untuk meningkatkan dinamika permainan dari kendang krumpungan. Selain itu sifat spontanitas juga dapat dilakukan pada pukulan kendang wadon. Sebagai bentuk stimulan atau rangsangan kendang wadon akan memberikan umpan pada bagian cang dengan pukulan tong maka kendang lanang dapat merespon dan memberikan reaksi dengan pukulan teng. Pola permainan ini akan memberikan ruang yang lebih pada pukulan bagian cang kendang sehingga permainan kendang krumpungan akan terfokus pada kedua bagian cang kendang. Permainan ini dapat dilihat pada pukulan notasi kendang pola ke-3 lanang dan wadon. Pada kendang krumpungan gaya Peliatan juga terdapat teknik improvisasi dalam pola Hal ini dapat dilihat pada pola-pola pengembangan dari pukulan dasar kendang krumpungan baik yang berjenis lanang dan kendang berjenis wadon. Dari pola-pola dasar kendang krumpungan kemudian dikembangkan dengan pemberian hiasan-hiasan pukulan pada kolotomik yang dalam istilah karawitan Bali disebut dengan Misalkan pada pukulan kendang wadon dapat memberikan aksen-asken yang bisa jatuh tepat pada matra atau jatuh pada non matra dari struktur kolotomik tabuhan. Sifat improvisasi pada permainan kendang Peliatan memberikan kesan bahwa pola permainan tidak disajikan secara monoton. Sifat fleksibel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Edisi Ke Tiga, 2001:. dimaksudkan sebagai ungkapan yang cocok untuk menggambarkan sifat kelenturan. Sifat krumpungan gaya Peliatan dapat dilihat pada penempatan dan penggunaan polapola antara kendang lanang dan kendang Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya sifat fleksibel dari berdasarkan pola permainan antara kendang lanang dan kendang wadon yang dapat dimainkan secara acak atau tidak dengan pasangan polanya. Walaupun pola permainan kendang krumpungan gaya Peliatan tidak dimainkan dengan pasangannya pola pukulan tetap menjalin keterikatan yang harmonis karena setiap pukulan sudah mempunyai bagian yang harus diisikan. Hal terpenting yang perlu diperhatikan yaitu permainan kendang krumpungan telah memiliki prinsip atau aturan-aturan permainan antara kendang lanang dan kendang wadon. Proses dan Hasil Pembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara Kegiatan belajar mengajar dengan materi teknik dasar bermain kendang krumpungan gaya Peliatan dipandang penting untuk dilaksanakan karena permainan kendang krumpungan gaya Peliatan memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Pembelajaran krumpungan gaya Peliatan dituangkan ke dalam pukulan pola-pola dasar kendang Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra lanang dan kendang wadon. Sebagai upaya untuk mendukung dan meningkatkan hasil proses pembelajaran kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Sunal dan Hans dalam Isjoni . kooperatif tipe Jigsaw merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses pembelajaran. Kooperatif Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajaran orang lain (Kurniasih dan Sani, 2015:. Adapun pembelajaran kendang krumpungan gaya Peliatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai Persiapan Guru menyiapkan peserta didik, media pembelajaran, metode pembelajaran, jadwal latihan, alat-alat teknologi untuk mendokumentasikan proses latihan, serta dibantu oleh peserta didik untuk menyiapkan tempat latihan. Penjelasan Materi Guru menjelaskan materi kendang krumpungan gaya Peliatan berdasarkan kendang lanang dan kendang wadon. Materi pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu materi teknik dasar permainan kendang lanang dan materi teknik dasar permainan kendang wadon. Guru juga menjelaskan tujuan pembelajaran dan manfaat mempelajari teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan sembari memotivasi peserta didik untuk meningkatkan minat belajarnya. Guru Membagi Peserta Didik Ke Dalam Kelompok Asal dan Kelompok Ahli Setiap kelompok pada pembelajaran kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara beranggotakan 4 orang dengan sistem pembagian heterogen sehingga proses pembelajaran dapat berjalan efektif. Kegiatan Inti Pembelajaran Setiap kelompok mendiskusikan kendang lanang dan kendang wadon secara umum dan menetapkan anggota asal yang akan tergabung ke kelompok ahli. Anggota ahli dari masing-masing mempelajari dan mengintegrasikan sub topik yang telah dibagikan. Pada krumpungan gaya Peliatan terdapat dua kelompok ahli yaitu kelompok ahli kendang lanang dan kelompok ahli kendang wadon. Anggota ahli kembali ke kelompok masing-masing . elompok asa. untuk menjelaskan topik yang telah dipelajari dan didiskusikan di kelompok ahli. Peserta didik mempelajari materi dengan cara melakukan latihan di masing-masing kelompok asal. Peserta didik menampilkan atau mempresentasikan hasil latihan semua topik. Penampilan juga antara pola kendang lanang dan pola kendang wadon. Evaluasi Dalam kegiatan evaluasi ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu: Memberikan melakukan latihan mandiri. Memberikan arahan untuk latihan bersama dengan metode tutor sebaya . elajar dengan teman Berikut ilustrasi proses pembelajaran kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra KELOMPOK ASAL 1 KELOMPOK ASAL 2 KELOMPOK AHLI 1 KELOMPOK AHLI 2 KENDANG LANANG KENDANG WADON KELOMPOK ASAL 1 KELOMPOK ASAL 2 Gambar 2 Ilustrasi Pembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw (Dok. Made Windu Agung Purwanto 2. Dari gambaran ilustrasi tersebut dapat dilihat bahwa inti dari kegiatan pembelajaran adalah peserta didik belajar di dalam Hal ini yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran kooperatif Jigsaw karena melatih peserta didik untuk dapat bekerja sama dalam kelompok, memikul tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain, serta membiasakan diri untuk saling Kelebihan kooperatif Jigsaw merupakan cerminan dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan, pembagian tugas dan tanggung jawab bersama (Shoimin, 2014:. Khususnya pembelajaran peserta didik dapat menguasai dan memahami pola permainan kendang lanang dan kendang wadon dalam kurun waktu pembelajaran yang sama. Dalam proses pembelajaran materi teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, untuk membantu kelancaran model pembelajaran tersebut juga menggunakan beberapa metode pembelajaran yaitu metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab, metode demonstrasi, metode meguru kuping . elajar melalui pendengara. , metode drill, dan metode tutor sebaya. Proses pembelajaran pada umumnya terdapat beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran. Meier dalam (Andayanti 2020:. tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran dapat dibagi menjadi empat yaitu tahap persiapan . , tahap penyampaian . , tahap latihan . , dan tahap penampilan hasil . Ke-empat tahapan tersebut mencakup keseluruhan dari kegiatan pembelajaran dari membuka pelajaran sampai kegiatan penutup. Tahap Persiapan (Preparatio. Tahap persiapan adalah awal dari sebuah proses pembelajaran untuk merencanakan hal-hal yang akan dilakukan pada saat proses belajar mengajar. Adapun beberapa hal yang pembelajaran yaitu. mempersiapkan diri dengan menyiapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw. Selain itu ada pula persiapan daftar nama peserta didik yang berjumlah 8 orang. Secara umum peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran ini memiliki minat bakat dan kecerdasan yang baik dalam memainkan gamelan Bali, . pembelajaran, . menyiapkan media pembelajaran berupa berdasarkan kendang lanang dan wadon, . metode pembelajaran, dan . menyiapkan kondisi tempat latihan atau belajar. Tahap Penyampaian (Presentatio. Tahap penyampaian . adalah tahapan awal yang digunakan untuk memperkenalkan materi pembelajaran. Pada tahap penyampaian guru menyampaikan Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra pembelajaran, indikator pembelajaran, dan materi pokok. Pada tahap penyampaian . guru juga menjelaskan alur dari proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Tahap Latihan Pelaksanaan pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dilakukan secara bertahap. Hal ini disebabkan karena materi teknik dasar kendang krumpungan Peliatan memiliki sifat yang kompleks. Proses krumpungan gaya peliatan dilaksanakan sebanyak 10x pertemuan dengan rincian sebagai berikut. Pertemuan gambaran awal mengenai penjelasan kendang krumpungan berdasarkan jenis tungguhan kendang lanang dan kendang prinsip-prinsip kendang krumpungan gaya Peliatan, serta fungsi tungguhan kendang krumpungan gaya Peliatan di setiap jenis sajiannya. Pada pertemuan ini guru memberikan pengenalan warna suara krumpungan berjenis lanang dan wadon, menjelaskan teknik bermain, dan sikap duduk yang baik. Pertemuan II dan i, guru menjelaskan krumpungan gaya Peliatan. Pada pertemuan ini guru juga memaparan materi berupa mengajarkan teknik pukulan pada bagian cang, teknik pukulan bagian muara, dan teknik nekes atau tetekes. Selanjutnya peserta didik melaksanakan latihan dan pengulangan atas apa yang telah guru sampaikan Pertemuan IV dan V, melaksanakan kegiatan praktik yaitu pemberian krumpungan gaya Peliatan berdasarkan tungguhan kendang lanang dan kendang Sebelum memberikan pukulan pola dasar guru meminta peserta didik untuk menunjukan materi pukulan dasar yang dijadikan sebagai pukulan Selanjutnya memberikan tambahan materi berupa pukulan pola dasar 1 dan 2 berdasarkan kendang jenis kendang lanang dan wadon. Peserta didik melakukan latihan bersama temantemannya. Pertemuan VI, melakukan kegiatan praktik yaitu guru meminta peserta didik untuk menunjukan materi pukulan dasar yang telah diberikan Selanjutnya memberikan tambahan materi berupa pukulan pola dasar 3 berdasarkan kendang jenis kendang lanang dan wadon. Guru juga memberikan arahan dan evaluasi pembelajaran kepada peserta didik karena pertemuan ke 6 merupakan pertemuan terakhir di kelompok ahli. Pertemuan VII dan Vi, peserta didik kembali ke kelompok asalnya masingmasing. Guru memberikan penjelasan mengenai kegiatan pembelajaran yang dilakukan di masing-masing kelompok Peserta didik diminta untuk berdiskusi dan saling bertukar materi pelajaran yang telah didapatkan pada proses pembelajaran kelompok ahli. Peserta didik juga diminta untuk mencoba memainkan pola kendang lanang dan kendang wadon di masingmasing Pola yang dimainkan pada kendang lanang yaitu pola 1-2-3-1-2-3 dan 1-2-2-3-1-2-2-3 dimainkan secara berulang-ulang sedangkan kendang wadon yaitu pola 1-2-3-1-2-3 dan 1-1-2-31-1-2-3 secara berulang-ulang. Pertemuan IX, guru memberikan rangsangan kembali kepada peserta Kegiatan pembelajaran yang Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra dilakukan pada pertemuan ini sama dengan pertemuan ke 7 dan 8. Pertemuan pemahaman dan penguasaan materi dari masing-masing peserta didik serta meminta peserta didik mempersiapkan tes praktik untuk menyajikan teknik dasar bermain kendang krumpungan gaya Peliatan. Tahap Penampilan Tahap penampilan adalah proses akhir dari tahapan-tahapan pembelajaran. Pada tahap penampilan, guru mengarahkan peserta didik untuk menampilkan materi teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan yang telah dipelajari berdasarkan kendang lanang dan kendang wadon. Tahap penampilan dilakukan secara berpasangan antara kendang lanang dan kendang wadon. Melalui tahap penampilan guru dapat mengetahui, menilai, dan mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan. Selain itu tahapan penampilan bertujuan untuk mengetahui kecakapan peserta didik dalam memainkan teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan. Dari proses pembelajaran dan tahap penampilan yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik rata-rata baik. Hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat dikatakan berhasil dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Hanya saja terdapat beberapa evaluasi dan arahan seperti posisi duduk peserta didik yang kurang baik sehingga mempengaruhi suara kendang yang dihasilkan. Selain itu evaluasi yang diberikan berkaitan dengan teknik mentil dan teknik nyangka yang merupakan teknik utama dalam memainkan kendang Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberi dampak yang besar bagi pembelajaran dan hasil belajar yang dicapai peserta didik. Dalam pembelajaran ini, keterampilan kendang sekaligus yaitu kendang berjenis lanang dan kendang wadon. Selama proses pembelajaran peserta didik sangat sungguh-sungguh dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga pada saat tahapan penampilan masing-masing peserta didik mampu memahami dan memainkan materi yang telah diberikan. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran Teknik Dasar Kendang Krumpungan Gaya Peliatan Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam proses pembelajaran merupakan kegiatan belajar mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor internal yang berasal dari dalam individu sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri peserta didik (Aunurrahman, 2016:. Faktor pendukung internal yaitu bakat dan minat peserta didik. Seluruh peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran memiliki bakat yang baik dalam memainkan gamelan Bali dan juga memiliki minat untuk mempelajari kendang krumpungan gaya Selain itu ada pula faktor motivasi belajar yang tinggi dari peserta didik, faktor kesiapan dan perhatian peserta didik, serta rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal yang mendukung proses pembelajaran yaitu faktor guru. Seorang guru memiliki Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra pengaruh yang besar terhadap kelancaran terlaksananya proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Hal ini disebabkan karena guru memiliki peranan yang penting dalam mengelola penyampaian bahan ajar, serta memilih model, metode dan strategi pembelajaran yang digunakan. Selain itu terdapat faktor lingkungan sosial . ermasuk teman sebay. Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran peserta didik memiliki interaksi yang positif dan saling membantu sesama teman, serta dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan Sanggar Gamelan Suling Gita Semara yang mendukung proses pembelajaran selama penelitian. Selanjutnya yaitu faktor penghambat dari proses pembelajaran. Setiap kegiatan yang dilaksanakan pasti mengalami suatu gejala atau permasalahan yang menghambat kelancaran kegiatan tersebut termasuk kegiatan pembelajaran. Faktor penghambat internal yang berasal dari internal peserta didik yaitu perbedaan karakteristik dari masing-masing peserta didik sehingga perlu adanya perlakuan khusus dan penyetaraan di dalam proses pembelajaran. Selain itu faktor penghambat internal adalah peserta didik yang sulit mencerna materi karena sifat materi yang sangat kompleks dan sulit dalam mengatur waktu. Sedangkan faktor eksternal yang terkadang menghambat pembelajaran adalah faktor cuaca karena penelitian ini dilaksankan pada bulan-bulan yang memiliki intensitas hujan cukup tinggi. PENUTUP Dapat disimpulkan bahwa permainan kendang krumpungan Peliatan merupakan sebuah kesenian di bidang seni karawitan yang memiliki ciri khas atau Karakteristik kendang krumpungan gaya Peliatan dapat dikaji menjadi tiga bagian yaitu berdasarkan bentuk permainan, cara kerja permainan, dan sifat permainan kendang krumpungan gaya Peliatan yaitu sifat spontanitas, improvisasi, dan fleksibel. Proses pembelajaran teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan di Sanggar Gamelan Suling Gita Semara menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pada kegiatan belajar mengajar terdapat beberapa tahapan-tahapan pembelajaran yaitu tahapan persiapan . , tahap penyampaian . , tahapan latihan . , dan tahapan penampilan hasil . Metode pembelajaran yang digunakan selama proses kegiatan belajar mengajar yaitu metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, metode meguru kuping, metode drill, dan metode tutor Hasil pembelajaran menunjukan memahami dan memainkan teknik dasar kendang krumpungan gaya Peliatan dengan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik terdiri dari faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yang berasal dari internal peserta didik yaitu faktor bakat peserta didik, minat peserta didik untuk belajar, motivasi belajar, kesiapan dan perhatian peserta didik, serta rasa percaya diri dari masing-masing peserta didik, sedangkan faktor pendukung yang berasal dari eksternal yaitu faktor guru, lingkungan sosial . ermasuk teman sebay. , dan lingkungan Sanggar Gamelan Suling Gita Semara. Kemudian faktor penghambat pembelajaran yang berasal dari internal peserta didik yaitu karakteristik dari masingmasing peserta didik, sulit mencerna materi pembelajaran, dan sulit mengatur waktu, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor cuaca yang memiliki intensitas hujan cukup tinggi. Made Windu Agung Purwanto. I Gede Mawan. I Wayan Diana Putra DAFTAR RUJUKAN Daftar Rujukan (Artikel dan Buk. Andayanti. Gusti Ayu Tri. Skripsi Pembelajaran Tari Saraswati Karya Ida Ayu Wimba Ruspawati Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Ekstrakurikuler Di SMP PGRI 9 Denpasar. Denpasar Asni. Ni Putu. Skripsi Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Jigsaw Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Tari Pendet Pada Ekstrakurikuler Di SMP Negeri 2 Selat Karangasem. Denpasar Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: ALFABETA Bandung Bandem. I Made. Gamelan Bali Di Atas Panggung Sejarah. Denpasar: BP Stikom Bali Iriaji. Konsep dan Strategi Pembelajaran Seni Budaya. Sisir-Batu: Cakrawala Indonesia Isjoni. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompo. Bandung: ALFABETA KBBI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka