KURVATEK Vol. No. April 2025, pp. e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 PERENCANAAN PUSAT KESENIAN TRADISONAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR DI KABUPATEN BANYUMAS PLANNING OF TRADITIONAL ARTS CENTER WITH NEO VERNACULAR ARCHITECTURE APPROACH IN BANYUMAS REGENCY 1,2,3, Elin Dea Putri1. Dwi Jati Lestariningsih2,*. Dwi Istiningsih3 Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto Kampus UNWIKU Karangsalam PO BOX 185 Purwokerto 53152. Indonesia *Email corresponding: dwijatiunwiku@gmail. Email: elindeap@gmail. Email: coronadwi1969@gmail. Cara sitasi: E. Putri. Lestariningsih, dan D. Istiningsih, "Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas". Kurvatek, vol. 1, pp. April 2025. doi: 10. 33579/krvtk. 5533 [Onlin. Abstrak Ai Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki keberagaman sumber daya manusia dan budaya. Keragaman bahasa, budaya, dan etnis tersebut telah melahirkan berbagai warisan budaya baik benda maupun non benda yang menjadikan ciri khas serta identitas bangsa Indonesia. Kabupaten Banyumas memiliki beragam kesenian tradisional yang Terjadinya perubahan secara terus menerus di bidang sosial budaya, yang dipengaruhi oleh pembaharuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan terbukanya informasi serta kemudahan dalam mengakses berbagai sumber, bisa menjadi ancaman dan tantangan tersendiri dalam mempertahankan budaya Banyumas tersebut. Untuk itu perlu adanya wadah, sebagai sarana untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tardisional dalam bentuk pusat kesenian tradisional Banyumas. Penerapan konsep Arsitektur neo vernacular menjadi pilihan dalam perancangan, bertujuan untuk memadukan unsur-unsur tradisional lokal dengan langgam modern. Hal ini mencerminkan bahwa budaya local/tradisional setempat mampu menyelesaikan masalah sosial budaya melalui pendekatan arsitektural. Kata kunci: Pusat Kesenian Tradisional. Arsitektur Neo vernacular Abstract Ai Indonesia is the country with the largest population in Southeast Asia, which has a diversity of human resources and culture. This diversity of languages, cultures and ethnicities has given birth to various cultural heritages, both tangible and intangible, which are the characteristics and identity of the Indonesian nation. Banyumas Regency has a variety of potential traditional arts. The continuous changes in the socio-cultural field, which are influenced by innovations in the field of science, technology and the openness of information and ease of access to various sources, can be a threat and challenge in itself in maintaining the Banyumas culture. For this reason, there needs to be a forum, as a means to preserve and develop traditional arts in the form of a Banyumas traditional arts center. The application of the neo-vernacular architecture concept is an option in the design, aiming to combine local traditional elements with modern styles. This reflects that local/traditional culture is able to solve socio-cultural problems through an architectural approach. Keywords: Traditional Arts Center. Neo Vernacular Architecture (PENDAHULUAN ) Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah penduduk 280 juta jiwa, tentunya membuat Indonesia diberkahi dengan kekayaan sumber daya manusia yang beragam . Keberagaman inilah yang menjadikan cikal kebudayaan dan identitas nasional. Kebudayaan Received November 16, 2024. Revised -. Accepted April 15, 2025 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. nasional lahir dan terbentuk dari uggulan-unggulan yang ada pada budaya-budaya lokal nusantara. Untuk selanjutnya budaya-budaya lokal menjadi warisan budaya . ultural heritag. Di bidang sosial budaya. Indonesia mengalami perubahan secara terus menerus, karena didorong dan dipengaruhi oleh pembaharuan di bidang ilmu pengetahuan, kemudahan akses informasi dan teknologi. Terbukanya informasi perlu dicermati, karena kenyataan dewasa ini, ada indikasi masyarakat Indonesia lebih AumelekAy terhadap kebudayaan asing. Kondisi tersebut menyebabkan akulturasi antara pola lama dengan pola baru dalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola dengan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Oleh sebab itu perlu dibangun strategi kebudayaan secara serius, sebagai upaya dinamis mempertahankan keberadaan budaya bangsa dari ancaman, tantangan, gangguan, dalam segala bentuk dan manifestasinya. Diperlukan suatu cara untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, menjaga dan melestarikan kesenian tradisional, salah satunya dengan membuat wadah. Wadah tersebut harus mampu menjadi pusat kegiatan seni. Hal ini dapat diwujudkan antara lain dengan mendirikan pusat kesenian tradisional yang mampu memfasilitasi berbagai kegiatan kesenian dan budaya tradisional secara efektif. Kabupan Banyumas sebagai salah satu sentra budaya di Provinsi Jawa Tengah, dipilih sebagai lokasi Perencanaan Pusat Kesenian Tradisional. Banyumas berada di antara perbatasan dua kebudayaan besar, yaitu Kebudayaan Sunda dan Kebudayaan Jawa. Hal ini menjadikan Kabupaten Banyumas diberkahi keberagaman kesenian tradisional. Oleh karena itu terjadilah akulturasi kebudayaan dari Jawa dan Sunda yang dikenal dengan budaya Banyumas. Ragam kesenian tradisional Banyumas antara lain seni teater, berupa seni munthiet, jemblung, begalan, ketoprak Banyumas dan wayang kulit Banyumas. Seni tari tradisional khas Banyumas terdapat lengger, daring, buncis, ebeg, sintren dan aksi muda. Kesenian musik tradisional . antara kesenian kaster, bongkel, krumpyung, calung, terbang jawa, rodad, cak genjring dan karawitan. Kesenian di Kabupaten Banyumas dilestarikan secara berkelompok. Table 1 merupakan tabel kelompok kesenian di Kabupaten Banyumas. Gambar 1. Jumlah Kelompok Kesenian di Kabupaten Banyumas Tahun 2019-2023 Data di atas menunjukkan bahwa dari tahun 2020 hingga tahun 2024 terjadi penurunan jumlah kelompok kesenian di Kabupaten Banyumas. Dari 11 jenis kelompok kesenian hanya kelompok seni pertunjukan rakyat yang mengalami peningkatan. Sedangkan yang lain tetap bahkan mengalami Berdasarkan data Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata menunjukan bahwa 27 kecamatan atau sekitar lebih dari 50% dari total kecamatan di Kabupaten Banyumas memiliki sanggar seni. Banyaknya kelompok kesenian dan sejumlah sanggar seni yang masih aktif tersebar di Kabupaten Banyumas, muncul harapan dan peluang dalam upaya mempertahankan keberlangsungan kesenian tradisional Banyumas agar tetap eksis di tengah masyarakat. Perancangan Pusat Kesenian Tradisional di Banyumas diharapkan menjadi cikal bakal pelestarian, sebagai wadah pengembangan seni dan budaya yang mampu menghimpun pelaku seni dalam satu tempat yang memadai. Mengingat, kesenian tradisonal Banyumas nyatanya dapat memberikan rasa identitas, sejarah dan makna yang melekat. Hal ini sangat penting, untuk menunjukan identitas dan jati diri kelompok serta etnis masyarakat Banyumas yang kaya akan tradisi seni dan budaya, tempat di mana nilai-nilai dan praktik tradisional telah terpelihara selama berabad-abad. Arsitektur neo vernakular, dipilih sebagai konsep pada perancangan bangunan Pusat Kesenian Tradisional di Kabupaten Banyumas. Arsitektur vernacular muncul pada era post modern. Menurut Budi KURVATEK Vol. No. April 2025: 39 Ae 48 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Sukada, arsitektur post modern ini memiliki 6 aliran, yang salah satunya adalah arsitekur vernacular. Arsitektur vernacular merupakan salah satu faham atau aliran yang muncul dan berkembang pada era post modern di pertengahan tahun 1960. Aliran ini sebagai bentuk protes dari para arsitek terhadap polapola arssitektur modern yang cenderung monoton . entuk kotak-kota. Gaya arsitektur neo vernacular menggabungkan antara unsur-unsur modern dan tradisional. Penggabungan antara unsur modern dan tradisioanal menggambarkan perkembangan kesenian tradisional Banyumas yang tetap eksis dan bisa berkembang di era modern saat ini. Selain itu penerapan Arsitektur neo vernakular sebagai upaya melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk oleh tradisi, dan mengembangkannya menjadi suatu langgam yang modern, diaplikasikan pada bentuk fasade dan penataan tata ruang dalam, dengan mengimplementasikan budaya lokal setempat pada desain. Penggabungan antara unsur modern dan tradisioanal menggambarkan perkembangan kesenian tradisional Banyumas yang tetap eksis dan bisa berkembang di era modern saat ini. Selain itu penerapan Arsitektur neo vernakular sebagai upaya melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk oleh tradisi, dan mengembangkannya menjadi suatu langgam yang modern, diaplikasikan pada bentuk fasade dan penataan tata ruang dalam, dengan mengimplementasikan budaya lokal setempat pada desain. Dapat dikatakan bahwa dalam arsitektur neo vernacular terjadi akulturasi budaya dan kecenderungan perubahan Terdapat 4 . pendekatan yang harus diperhatikan terkait dengan bentuk dan makna dalam merancang bangunan yang mengambil elemen-elemen fisik maupun non-fisik dari bangunan tradisional dalam konteks modern atau kekinian. Elemen tersebut adalah: . Bentuk dan maknanya tetap. Bentuk tetap dengan makna baru. Bentuk baru dengan makna tetap dan . Bentuk dan maknanya baru. Penggunaan arsitektur neo vernakular diharapkan dapat memberikan kesan AutradisionalAy baik pada fungsi, tampilan fisik bangunan serta tujuan bangunan itu sendiri. II. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan. Metode penelitian perlu dibedakan dari teknik pengumpulan data yang merupakan teknik yang lebih spesifik untuk memperoleh data. Tujuan dari metode penelitian ini untuk mendapatkan informasi dan data yang dibutuhkan, sehingga akan memberikan gambaran rancangan penelitian yang meliputi: prosedur dan langkah-langkah yang ditempuh, waktu penelitian, sumber data, teknik pengumuplan dan analisis data. Lokasi Secara geografis, lokasi perencanaan pusat kesenian tradisional berada di Kabupaten Banyumas. yaitu dilokasi yang cukup stategis. Sehingga diharapkan dapat menambah kenyamanan serta mampu memenuhi kebutuhan pengguna khususnya bagi pelaku seni yang ingin melakukan kegiatan, latihan maupun pertunjukan kesenian dan pengunjung. Gambar 2. Peta Kabupaten Banyumas Jenis dan Cara Pengumpulan Data Menurut Sugiyono . Sumber data dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui kegiatan wawancara atau mengisi kuesioner yang artinya sumber data ini langsung memberikan data kepada peneliti. Data Sekunder yaitu peneliti tidak langsung menerima dari sumber data . Untuk mendapatkan data primer dilakukakn dengan cara observasi. Metode observasi ialah metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap aktivitas dan kejadian tertentu yang terjadi secara langsung di lapangan. Obeservasi dilakukan dengan pengamatan, peninjauan, pengambilan gambar. pada tempat-tempat lain yang memiliki potensi lokasi yang sejenis dengan objek yang dibahas dengan tujuan memperoleh data dan sampel. Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas (Elin Dea Putri. Dwi Jati Lestariningsih dan Dwi Istiningsi. 42 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Data sekunder dapat berupa data catatan, atau dokumen yang telah tersusun dalam arsip. Sumber yang didapatkan dari data sekunder ditujukan untuk memperkuat temuan dan menghasilkan penelitian dengan validitas yang tinggi, untuk mempermudah peneliti dalam pengumpulan data dan menganalisis Untuk memperoleh data sekunder dilakukan dengan cara: kajian literature, yang merupakan rujukan dan biasanya diambil dari sumber berupa buku, jurnal, artikel dan karya tulis lainnya yang terkait dengan judul. Literatur tersebut antara lain: peraturan daerah di Banyumas, tinjauan tentang arsitektur neo vernakulerr, serta literatur-literatur lainnya. Selain itu juga dilakukan studi dokumentasi yang mencankup catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif, suatu metode analisis dengan cara menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang terkumpul. Untuk mendapatkan konsep desain dilakukan dengan membuat analisis tapak, analisis ruang, analisis arsitektural dan analisis struktur & utilitas. Analisis berpedoman pada standar yang ada baik dalam bentuk grafis maupun narasi. Untuk mendapatkan konsep perancangan Pusat Kesenian Tradisonal Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas berpedoman pada standard dan studi i. HASIL DAN DISKUSI Konsep Pemilihan Site Dasar pemilihan site adalah: Pencapaian menuju site tergolong mudah, berada jalan utama Jl Bhayangkara dan Jl Nasional 9. Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyumas, tepat di sebelah Barat site terpilih juga akan direncanakan menjadi terminal sehingga wisatawan dapat terakomodasi dengan adanya kendaraan umum yang melewati site. Lokasi site berada di kawasan budaya Kabupaten Banyumas, serta berada di pusat kota, menjadikan site sangat strategis untuk dijangkau pengunjung Bentuk site, dan ketersediaan lahan yang memadai, serta orientasi view yang mendukung. Gambar 3: Eksisting Site Analisis Pencapaian Untuk mencapai ke dalam kawasan atau komplek suatu bangunan dengan memperhatikan kriteria pencapaian, antara lain: . mudah dicapai baik dengan moda kendaraan umum maupun pribadi. tidak menimbulkan kemacetan. nyaman dan . Fasilitas dan aksesibilitas hubungan ke, dari, dan di dalam kawasan dan banungan harus mempertimbangkan: hubungan horizontal antarruang/antarbangunan. hubungan vertikal antarlantai dalam Bangunan dan sarana evakuasi. Gambar 4. Analisis Pencapaian dan Sirkulasi KURVATEK Vol. No. April 2025: 39 Ae 48 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Analisis Kebisingan Kebisingan dengan tingkat tinggi ditimbulkan dari jalan raya yang berada di selatan dan timur site, kebisingan tingkat sedang ditimbulkan dari sebelah barat dan selatan karena merupakan daerah permukiman warga. Sedangkan kebisingan tingkat rendah berasal dari utara dan barat site. Pada dasarnya kebisingan dari lingkungan tidak mengganggu aktivitas di dalam site, bahkan dimungkinkan kegiatan di dalam site akan menimbulkan kebisingan pada lingkungan sekitar. Respon untuk mengurangi kebisingan di luar site antara lain. Menggunakan bahan bangunan dan konstruksi yang dirancang untuk mereduksi trasmisi bunyi melalui udara dan melalui finishing bangunan. Menentukan zoning area sesuai dengan fungsi dan kebutuhan ruang, sehingga akan menghadirkan kenyamanan bagi penggunannya. Menyediakan barrier berupa pohon dan tembok pembatas pada sekitar site. Beberapa titik site diberikan tanaman berupa perdu yang bersifat lebih menyerap bunyi. Meletakan massa bangunan yang sekiranya akan menghasilkan kebisingan dengan tingkat tinggi, pada kawasan yang jauh dari permukiman. Serta tidak membuatnya berada di satu titik. Ilistrasi Mengurangi Kebisingan pada ruang luar Ilustrasi sumber kebisingan Ilustrasi Mengurangi Kebisingan pada Dinding Gambar 5. Analisis Kebisingan Analisis Klimatologi Iklim pada wilayah Kabupaten Banyumas sama seperti pada daerah- daerah lain di Indonesia, yaitu iklim tropis basah. Rata-rata suhu udara bulanan di Kabupaten Banyumas berkisar 26,3AC, dengan suhu terendah tercatat 24,4 AC dan suhu tertinggi 30,9 AC. Curah hujan di Kabupaten Banyumas cukup tinggi, dengan curah hujan tertinggi pada bulan November . dan curah hujan terendah pada bulan Agustus . Sedangkan lama penyinaran matahari . isesuaikan dengan Kabupaten Banjarnegara sebagai area terdeka. adalah 47,7% . Respon terhadap kondisi klimatologi tersebut antara lain: Bangunan menggunakan atap bubungan, sebagai upaya dalam memaksimalkan ventilasi dan mengurangi suhu udara panas. Menggunakan teritisan dengan lebar yang cukup dan memasang secondary skin pada beberapa tempat untuk mengurangi panas matahari langsung masuk ke dalam ruang serta menahan tampias ketika hujan. Menanam vegetasi dengan ketinggian yang cukup sebagai penahan hembusan angin, sekaligus penyaring kotoran/debu, menanam pepohonan sebagai pembayang/peneduh. Perkerasan menggunakan grass blok untuk mengurangi silau. Menempatkan vegetasi dengan tepat, untuk menghalau perputaran angin, agar angin mampu termanfaatkan dengan sempurna. Menempatkan sejumlah ruang-ruang yang tidak boleh terkena sinar matahari langsung seperti galeri seni, ruang penyimpanan, ruang pembuatan kerajinan, ruang rias, pada area terlindungi Mengoptimalkan bukaan di sebelah selatan karena angin berhembus dari selatan menuju utara. Jarak bukaan dibuat tidak terlalu dekat, agar perputaran angin tidak terlalu cepat dengan menerapkan ventilasi silang dan menerapkan ruang semi terbuka. Membuat drainase di setiap sudut untuk mempercepat mengalirnya air ke saluran pembuangan. Menempatkan sejumlah ruang-ruang yang tidak boleh terkena sinar matahari langsung seperti galeri seni, ruang penyimpanan, ruang pembuatan kerajinan, ruang rias, pada area terlindungi Penataan massa bangunan sedemikian rupa, seperti penempatan bangunan-bangunan besar di sebelah barat. Hal ini dikarenakan sinar matahari sore memiliki intensitas cahaya yang kurang Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas (Elin Dea Putri. Dwi Jati Lestariningsih dan Dwi Istiningsi. 44 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Menentukan Ketinggian Vegetasi Ilustrasi Ventilasi Silang Gambar 6. Analisis Klimatologi Analisis Orientasi View Terdapat 2 pertimbangan mengenai analisa view yaitu, analisa view dari site ke luar . iew from sit. dan view dari luar ke site . iew to sit. View dari luar ke dalam site. View dari pertigaan antara Jl. Bhayangkara dan Jalan Nasional 9 memiliki potensi view yang strategis, karena merupakan view dari jalan utama, sehingga memudahkan masyarakat umum untuk mengetahui pusat kesenian tradisional. View dari dalam ke luar site. View dari dalam yang menghadap kearah Barat dan Utara memiliki potensi yang paling baik, karena pengunjung dapat menikmati landscape hamparan sawah. Respon terhadap view ke dalam dank e luar site antara lain: Menetukan focal point kawasan, seperti pembuatan gapura pintu masuk dan keluar. Meletakan open space pada bagian depan, agar tidak menganggu pandangan, dari luar ke dalam site. Meletakan bangunan utama, pada kawasan yang memiliki jarak pandang leluasa dari luar Memberi space terhadap bangunan utama, dengan jarak yang cukup, dan melakukan penataan disekelilingnya, agar tidak menghalangi jarak pandang pengunjung dan pengendara yang melintasi kawasan. Gambar 7. View ke dalam dank e luar site Konsep Tata Ruang Luar Tata ruang luar sangat penting untuk diperhatikan, karena digunakan sebagai sarana interaksi antar pengguna Pusat Kesenian Tradisional. Dalam menyusun tata ruang luar harus ada keterpaduan antar elemen lanskap agar tercipta suatu yang harmonis. Elemen lanskap adalah segala sesuatu yang berwujud benda, suara, warna dan suasana yang merupakan pembentuk lanskap, baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. Elemen lanskap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman, dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah, pasir, batu, dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair penyusunan ruangan. Elemen Lanskap terdiri dari 3 macam, yaitu elemen keras, elemen lunak, dan elemen Elemen keras, semua perkerasan atau bangunan yang ada dalam taman meliputi pedestrian atau jalan bangku taman, sirkulasi taman, dan tangga. Elemen lunak berupa vegetasi, seperti pepohonan, perdu, rerumputan dan unsur air. Elemen pendukung berupa lampu taman, tempat duduk, bak sampah serta sinage. Konsep Zoning Zoning dikelompokkan berdasarkan kelompok kegiatan maka diperoleh sebuah pengelompokan zona sebagai berikut: Zona public, berada di area pertama yang dilalui oleh pengunjung. Zona ini dekat dengan zona yang memiliki kebisingan tinggi, seperti jalan raya, area parker dan permukiman. Pada zona ini akan terdapat pos satpam, lahan terbuka hijau, area parkir, plaza dan area lobby KURVATEK Vol. No. April 2025: 39 Ae 48 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Zona utama, pada zona ini biasanya memiliki kebisingan dan kegiatan aktivitas yang sedang. Bagunan pada zona ini berfungsi sebagai auditorium, edukasi dan pengelola. Zona penunjang, merupakan zona yang menyediakan sarana dan fasilitas penunjang. Zona ini berupa ruang terbuka hijau, lahan parkir. UMKM, ibadah, istirahat, area pertunjukan outdoor. Zona service. Pemisahan zona servis dengan bangunan utama, agar dapat memudahkan dalam beraktivitas dan tidak menganggu aktivitas utama tetapi bias menjangkau semua lokasi. Penerapan Konsep Neo Vernakular pada Bangunan Pusat Kesenian Tradisional di Banyumas Penataan kawasan didasarkan pada konsep-konsep yang telah dianalisis dan mendapatkan respon yang tepat dalam penyelesaiannya. Gambar 8. Penataan Kawasan Konsep arsitektur neo-vernakular diterapkan pada fasad dan bentuk bangunan, di mana atapnya menggunakan desain joglo yang telah ditransformasikan. Bangunan mengadopsi atap mangkurat yang dimodifikasi dengan menambahkan celah di tengahnya, dan diganti dengan material kaca, agar memiliki kesan visual AuterbelahAy yang menandakan gerbang masuk. Hal ini seperti gapura jawa yang terbelah disisi kanan dan kirinya. Bentuk tersebut sebagai simbol gerbang menuju masa depan yang cerah, makmur, gemah ripah loh jinawi, dan sukses bagi mayarakat yang tinggal di dalamnya. Gambar 9. Transformasi Bentuk Atap Joglo Mangkurat Gambar 10. Penerapan Bentuk Gapura Pada Atap Bangunan Penerapan konsep arsitektur neo vernakular yang ditampilkan dalam bentuk fasad, juga diterapkan pada motif atap. Motif atap ini ditarapkan pada keseluruhan bangunan. Motif atap menggunakan motif batik manggaran khas Banyumas yang memiliki makna agar kawasan pusat kesenian tradisional bermanfaat bagi semua orang. Selain itu juga, dilengkapi dengan motif tambahan sebagai pelengkap berupa motif daun semanggi, yang rearti semangat tinggi dalam mmenjaga persatuan dan melambangkan Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas (Elin Dea Putri. Dwi Jati Lestariningsih dan Dwi Istiningsi. 46 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Gambar 11. Penerapan Motif Batik pada Desain Atap Gambar 12. Detail Motif Atap Penggunaan ornamen Jawa diterapkan pada fasad bangunan, seperti penggunaan motif batik lumbon khas Banyumas pada kaca. Motif lumbon berasal dari godhong lumbu atau daun talas, memiliki makna mudah beradaptasi . Selain itu motif gunungan dan ornamen ukiran Jawa diterapkan pada kolom dan lisplang untuk memperkuat kesan neo vernakular. Gambar 13. Fasade Bangunan Bangunan UMKM memiliki fasad yang sedikit berbeda, dibandingkan bangunan lainnya. Penerapan arsitektur neo vernakular dapat dilihat pada penggunaan motif batik kawung sebagai secondary skin, partisi dan ventilasi serta penggunaan material kayu yang lebih dominan. Motif Batik Kawung merupakan motif batik yang bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung . ejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kalin. yang ditata rapi secara geometris. Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian. Motif batik Kawung diyakini diciptakan oleh salah satu Sultan kerajaan Mataram. Gambar 14. Penggunaan Motif Kawung Pada Bangunan UMKM Penggunaan material lokal. juga diterapkan pada bangunan cottage dan gazebo, dengan menggunakan material bambu, sebagai material yang sangat mudah dijumpai khususnya di Kabupaten Banyumas. KURVATEK Vol. No. April 2025: 39 Ae 48 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Gambar 15. Cottage Fasilitas penunjang lainnya pada kawasan, berupa area duduk yang disediakan untuk tempat Area duduk ini dilengkapi dengan meja dan kursi serta peneduh sebagai pelindung dari sinar Peneduh bagian atas di desain memiliki area tanam, sehingga dapat menciptakan lahan terbuka hijau sebagai penyeimbangan lingkungan. Gambar 16. Area Duduk Penerapan Arsitektur Vernakular pada Interior Penerapan arsitektur neo-vernakular pada interior dapat terlihat dalam penggunaan material berornamen kayu, yang menciptakan nuansa tradisional yang kuat, serta pemilihan warna yang melengkapi kesan tersebut. Selain itu, elemen kebudayaan lokal, seperti motif batik lumbon khas Banyumas, juga diterapkan dalam desain interior. Gambar 17. Interior Mini Auditorium Gambar 18. Studio Tari Tradisional Gambar 19. Studio Musik Tradisional Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas (Elin Dea Putri. Dwi Jati Lestariningsih dan Dwi Istiningsi. 48 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Gambar 20. Interior Lobby Utama IV. KESIMPULAN Penerapan konsep arsitektur neo-vernakular pada desain mencerminkan upaya dalam menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi modern, memberikan identitas yang kuat pada kawasan melalui fasad dan bentuk bangunan, seperti penggunaan atap joglo mangkurat yang ditransformasikan dari bentuk gapura jawa, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal. Selain itu penggunaan motif batik manggaran, lumbon dan kawung yang digunakan pada atap dan fasad bukan hanya menambah estetika, tetapi juga memiliki makna mendalam yang ingin disampaikan melalui desain. Penggunaan ornamen dan material lokal, seperti bambu dan kayu, semakin memperkuat karakteristik arsitektur neo-vernakular yang mengutamakan keberlanjutan dan keterhubungan dengan lingkungan. Dengan semua elemen ini, bangunan tidak hanya berfungsi sebagai tempat kesenian tradisonal, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang kaya dan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada Panitia ReTII XIX tahun 2024 yang telah berkenan menerima makalah kami untuk menulis di Jurnal Kurvatek. Terima kasih juga untuk semua yang terlibat dalam proses penelitian dan penulisan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA