Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 224-233 Formulation of antibacterial hand cream based on chitosan and leaves of putri malu extract (Mimosa pudica L. Formulasi hand cream antibakteri berbasis kitosan dan ekstrak daun putri malu (Mimosa pudica L. Fendy a*. Chinesia Prastialin Suryawan a. Rina Fitriana Fadila a. Nabilatul RafiAoah M. Saad a. Hamidatul Mubayyinah a. Noviyan Darmawan a a Departemen Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Kampus Dramaga. Bogor, . Indonesia. b Departemen Biokimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Kampus Dramaga. Bogor. Indonesia. *Corresponding Authors: phoenixfendy@apps. Abstract CoronaVirus Disease 2019 is a respiratory disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus 2 (SARS-CoV-. which is transmitted through the air and droplets of fluid. One of the health protocols recommended by the World Health Organization (WHO) is washing hands. Hand-washing activities have limitations because not all places provide them, so the alternative that has been circulating in the community is hand sanitiser. However, the alcohol content and synthetic antibacterials cause dry and irritated skin. The purpose of this study was to create an antibacterial hand cream from putri malu leaf as a utilization of wild Putri malu leaf extract and chitosan were made in the form of nanoparticles, and then an evaluation of the physical characteristics of the hand cream preparation was carried out in the form of pH, organoleptic, homogeneity, and stability observed for 14 days. The antibacterial activity of putri malu leaf extract and hand cream was tested against S. aureus and E. The particle size obtained was 1529. 5 A 42. 5 nm. The results of the physical characteristics obtained were pH 6. dark orange, odourless, stable at room temperature, and high homogeneity. Antibacterial testing of putri malu leaf extract against S. aureus produced an inhibition zone of 10. 27 mm at a concentration of 25% and antibacterial hand cream produced inhibition zones of 23. mm and 12. 22 mm with an extract concentration of 10% so both are classified as strong antibacterials that are effective against S. aureus and E. coli bacteria. Keywords: Antibacterial. Chitosan. Hand Cream. Nanoparticle. Putri Malu Leaf Abstrak CoronaVirus Disease 2019 merupakan penyakit sistem pernapasan yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus 2 (SARS-CoV-. yang ditransmisikan melalui udara dan droplet cairan. Salah satu protokol kesehatan yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) adalah mencuci tangan. Kegiatan mencuci tangan memiliki keterbatasan karena tidak semua tempat menyediakannya sehingga alternatif yang telah beredar di masyarakat yakni hand sanitizer. Tetapi, kandungan alkohol dan antibakteri sintetik menyebabkan kulit kering dan iritasi. Tujuan penelitian ini untuk menciptakan hand cream antibakteri dari daun putri malu sebagai pemanfaatan tanaman liar. Ekstrak daun putri malu dan kitosan dibuat dalam bentuk nanopartikel, kemudian dilakukan evaluasi karakteristik fisik sediaan hand cream berupa pH, organoleptik, homogenitas, dan stabilitas diamati selama 14 hari. Aktivitas antibakteri ekstrak daun putri malu dan hand cream diuji terhadap S. aureus dan E. Ukuran partikel yang didapat sebesar 1529,5A42,5 Hasil karakteristik fisik yang didapat berupa pH 6,15. berwarna jingga tua, tidak berbau, stabil di suhu ruang, dan tingkat homogenitas tinggi. Pengujian antibakteri ekstrak daun putri malu terhadap S. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. menghasilkan zona hambat 10,27 mm pada konsentrasi 25% dan antibakteri hand cream menghasilkan zona hambat 23,18 mm dan 12,22 mm dengan konsentrasi ekstrak 10% sehingga keduanya tergolong antibakteri kuat yang efektif terhadap bakteri S. aureus dan E. Kata Kunci: Antibakteri. Daun Putri Malu. Hand Cream. Kitosan. Nanopartikel Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 22/07/2024. Revised: 09/11/2024. Accepted: 15/11/2024. Available Online: 13/02/2025. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Coronavirus Disease 2019 atau disebut juga Covid-19 merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome CoronaVirus 2 (SARS-CoV-. Covid-19 menyerang sistem imun tubuh dan menyebabkan penderita mengalami gangguan sistem pernapasan bahkan dapat menyebabkan kematian. Covid-19 saat ini sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kasus positif Covid-19 di Indonesia menurut Satgas Penanganan Covid-19 telah mencapai 1. 308 penduduk per tanggal 1 Februari 2021. Angka ini sangat fantastis untuk jumlah pasien. Kondisi tersebut menyebabkan pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh. Salah satu protokol kesehatan yang harus dilakukan oleh masyarakat adalah rajin mencuci tangan. Namun, kegiatan mencuci tangan memiliki keterbatasan karena tidak semua tempat menyediakan area untuk mencuci Selain itu, frekuensi mencuci tangan yang terlalu sering menyebabkan kulit menjadi kering dan kasar. Salah satu cara untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan tangan adalah dengan menggunakan hand sanitizer karena lebih praktis dan mudah dibawa . Hand sanitizer umumnya mengandung alkohol yang efektif dalam membunuh bakteri, virus, jamur, namun dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit . Untuk mengatasi efek tersebut, penggunaan produk yang melembabkan dan melembutkan kulit tangan seperti hand cream sangat dianjurkan. Hand cream merupakan produk perawatan kulit yang dirancang untuk melembutkan dan melembabkan Penggunaan hand cream dapat dilakukan setelah mencuci tangan dan setelah menggunakan hand sanitizer supaya tetap menjaga kelembaban kulit. Hand cream yang beredar di pasaran biasanya tidak disertai dengan perlindungan terhadap kuman, sedangkan di kondisi seperti ini produk dengan kemampuan menghambat pertumbuhan kuman sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hand cream antibakteri dapat dibuat dengan memanfaatkan sumber daya hayati di Indonesia, salah satunya adalah tanaman putri malu (Mimosa pudica L. Tanaman ini termasuk dalam kategori tanaman liar dan gulma, namun mengandung senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan, khususnya dalam menghambat atau membunuh bakteri. Senyawa antibakteri yang dimiliki oleh putri malu antara lain flavonoid, mimosin, tanin, polifenol, dan saponin . Dengan kandungan tersebut, tanaman putri malu memiliki potensi untuk dijadikan sebagai hand cream dengan sifat Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode Penelitian Alat dan Bahan Peralatan yang dipakai yaitu botol gelap, toples kaca, neraca analitik . 0001 mg. OHAUS AX224/E), rotary evaporator (Buchi R-. , oven blower (J. P Select. , oven (Memmert UM . , pH meter (Eutech pH . , sentrifugasi (Kokusan H-11NA). Particle Size Analyzer (PSA) (Horiba SZ-. Fourier-Transform Infrared (FTIR) (ABR, 4000-400 cm-. , homogenizer (HG-15A), hot plate (Nuova HP 18. , dan magnetic stirrer (MG78-. Serbuk daun putri malu digunakan sebagai bahan utama pada penelitian ini. Bahan lainnya, yaitu etanol 70% dan 96% (CAS 64-17-. , amoksisilin (CAS 26787-78-. , amonia encer (CAS 1336-21-. , asam sulfat (CAS 7664-93-. , larutan besi. klorida 1% (CAS 7705-08-. , serbuk Mg (CAS 7439-95-. , reagen LiebermeanBurchard, reagen Mayer, reagen Dragendorf, reagen Wagner, sorbitol (CAS 50-70-. , allantoin (CAS 97-59-. , tween 80 (CAS 9005-65-. , serbuk kitosan (CAS 9012-76-. , asam asetat glasial 1% (CAS 64-19-. , propilen glikol (CAS 57-55-. , natrium tripolifosfat (NaTPP) 0,4% (CAS 7758-29-. , isopropil miristat (CAS 110-27-. , asam stearat (CAS 57-11-. , parafin cair (CAS 8042-47-. , lanolin (CAS 8006-54-. , gliserin (CAS 56-81-. , trietanolamin (CAS 102-71-. , fenoksietanol (CAS 122-99-. , kertas saring Whatman no. Tryptic Soy Agar (TSA). McFarland, bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi Daun Putri Malu Ekstrak daun putri malu dibuat menggunakan metode maserasi. Sebanyak 300 gram serbuk simplisia daun putri malu diekstraksi dengan perbandingan 1:10 menggunakan 3 liter pelarut etanol 96% dalam wadah kaca yang dilapisi aluminium foil selama 3 y 24 jam. Setiap 24 jam, rendaman ekstrak diaduk selama 10 menit. Ekstrak tersebut kemudian disaring menggunakan kertas saring biasa dengan 3 kali pengulangan dan kertas saring Whatman nomor 42 untuk memisahkan residu dan filtratnya . Filtrat yang diperoleh dipekatkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40A2 oC dengan kecepatan 70 rpm hingga menjadi ekstrak kental Selanjutnya dikeringkan dengan oven blower dalam 35 AC selama 2 hari untuk mendapatkan ekstrak yang cukup kental . Pembuatan Campuran Kitosan dan Daun Putri Malu Metode yang digunakan dalam pembuatan nanopartikel ekstrak daun putri malu adalah bottom up dengan teknik gelasi ionik. Sebanyak 5 mL larutan kitosan 1% dan ekstrak daun putri malu ditambahkan ke dalam campuran pelarut . mL propilen glikol: 20 mL etanol 70%) serta 100 mL air. Kemudian, sebanyak 40 mL larutan kitosan 1% . ditambahkan, sehingga konsentrasi kitosan menjadi 0. Campuran tersebut diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 30 menit. Selanjutnya, sebanyak 20 mL larutan NaTPP 0. ditambahkan dengan kecepatan 1 tetes setiap 3 detik menggunakan buret, sambil diaduk pada kecepatan 3000 rpm dengan magnetic stirrer hingga tercapai homogenitas yang ditandai dengan munculnya kekeruhan. Pengadukan dilanjutkan selama 30 menit untuk memperoleh suspensi ekstrak daun putri malu yang stabil. Suspensi tersebut kemudian diuji kestabilannya selama 5 hari dengan parameteri uji yang meliputi warna, kekeruhan, dan endapan . Morfologi kitosan ekstrak daun putri malu dianalisis menggunakan PSA dan analisis gugus fungsi dengan karakterisasi FTIR . Karakterisasi Kitosan dan Ekstrak Daun Putri Malu Distribusi Ukuran Partikel Suspensi nanopartikel kitosan sebanyak 5 mL diteteskan pada lensa identifikasi instrumen PSA hingga terdapat data informasi ukuran dan sebaran distribusi ukuran pada layar monitor instrumen PSA . Analisis Gugus Fungsi Identifikasi gugus fungsi dilakukan menggunakan instrumen FTIR pada kitosan-ekstrak daun putri malu dan NaTPP dalam pembuatan nanopartikel kitosan-ekstrak daun putri malu. Sampel diukur dalam rentang bilangan gelombang 4000Ae400 cm-1. Interaksi antar komponen dapat dilihat melalui pergeseran bilangan gelombang dan perubahan intensitas masing-masing gugus fungsinya. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Formulasi Hand Cream Antibakteri Formulasi hand cream berdasarkan metode yang telah dimodifikasi. Isopropil miristat 2%, pengemulsi . sam steara. 5%, lanolin 4%, parafin cair 25%, setil alkohol 4%, dan gliserol 3% dipanaskan pada suhu 70AC dalam fase minyak . agian A). Trietanolamin 0. 1%, akuades 50%, propilen glikol 2%, sorbitol 5%, 1%, alantoin 0. 5%, dan tween 80 5% dilarutkan dalam fase air . agian B) dan dipanaskan pada suhu 70 AC . Emulsi dibuat dengan menuangkan fase minyak sedikit demi sedikit ke dalam fase air sambil diaduk dengan bantuan magnetic stirrer. Kemudian ditambahkan nanopartikel ekstrak daun putri malu dan kitosan perlahan-lahan dan diaduk kembali dengan magnetic stirrer selama 10 menit pada kecepatan Setelah terbentuk emulsi yang sempurna, pengadukan tetap dilakukan dengan kecepatan rendah hingga suhu sediaan turun. Jenis hand cream yang dibuat merupakan O/W emulsi minyak dalam air yang menyerupai lotion dengan fase minyak 15-40%, fase humektan 5-15% dan sisanya adalah fase air. Krim berbentuk O/W memiliki karakteristik yang mudah diserap kulit, tidak lengket di kulit, mudah mengalir, dan mudah dipompa. Tabel 1. Formulasi sediaan hand cream ekstrak daun putri malu Bahan Ekstrak Daun Putri Malu Isopropil Miristat Asam Stearat Lanolin Parafin Cair Setil Alkohol Gliserol Trietanolamina Tween 80 Sorbitol Fenoksietanol Alantoin Akuades Jumlah . 21,25 3,78 0,113 0,11 Uji Karakteristik Fisik Uji pH Uji pH dilakukan menggunakan pH meter pada suhu ruang. Pengujian sampel dilakukan dalam konsentrasi 1% dengan melarutkan 1 g sediaan hand cream dengan 100 mL akuades . Uji Organoleptik Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati perubahan bentuk, warna, bau dari sediaan hand cream pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap 5 hari selama 2 minggu penyimpanan . Uji Stabilitas Uji stabilitas emulsi merupakan parameter penting dalam suatu produk. Tingkat kestabilan emulsi menunjukkan daya tahan suatu produk emulsi terhadap kondisi dan dalam rentang waktu tertentu. Hand cream yang tidak stabil ditandai dengan kemudahan terpisahnya antar partikel yang menyebabkan pengumpulan globula, penggabungan, kriming dan pemisahan fase. Pengamatan dilakukan dengan pengujian suhu penyimpanan A23 AeC selama 14 hari . Uji Homogenitas Sediaan hand cream sebanyak 0,1 g diletakkan pada dua plat kaca objek. Sediaan hand cream dilakukan pengamatan apakah adanya partikel kasar dibawah cahaya, yaitu tidak terasa adanya bahan padat pada kaca. Pengujian ini dilakukan selama 2 minggu . Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Putri Malu dengan Metode Cakram Uji daya hambat aktivitas antibakteri pada ekstrak daun putri malu yang telah dibuat dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Pengujian dilakukan dengan menyiapkan Trytic Soy Agar (TSA) dan diusapkan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. bakteri secara merata dengan swab steril pada media TSA. Sebelum dioleskan ke permukaan media standar, suspensi bakteri yang tumbuh pada media TSA distandarkan dengan standar Mc Farland 0,05. Kemudian disk dengan amoksilin . ontrol positi. serta disk ekstrak daun putri malu konsentrasi 100 ppm ditempelkan pada media TSA. Pengujian dilakukan pada konsentrasi ekstrak 6,25%. 12,5%. dan 25% dan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam . Sediaan Hand Cream dengan Metode Sumuran Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan meneteskan suspensi bakteri sebanyak 0,1 mL ke dalam tabung reaksi yang berisi 10 mL media TSA, kemudian dituangkan keatas cawan petri yang berisi 10 mL media TSA padat dan diratakan. Cawan petri digoyangkan beberapa kali secara horizontal agar suspensi bakteri merata pada seluruh permukaan media. Selanjutnya, suspensi bakteri didiamkan hingga memadat selama 15 menit. Setelah memadat, lubang sumuran dapat dibuat dengan menggunakan pipet tetes yang diberi tanda pada masing-masing lubang sumuran, yaitu kontrol positif . , kontrol negatif . ediaan krim komersia. , dan sediaan hand cream sebanyak 50 AAL. Pengujian antibakteri dilakukan sebanyak dua kali atau duplo. Semua cawan petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 oC. Kemudian diukur diameter zona bening menggunakan jangka sorong atau penggaris milimeter . Hasil dan Pembahasan Ekstrak Kitosan dan Daun Putri Malu serta Karakterisasi FTIR Serbuk daun putri malu diekstraksi menggunakan metode maserasi. Maserasi daun putri malu dilakukan menggunakan pelarut etanol 96% karena pelarut ini bersifat universal dan selektif, dimana dapat melarutkan senyawa polar, semi polar, dan non-polar, sehingga sebagian besar zat aktif dapat terekstrak . Ekstrak yang diperoleh dari 300 g daun putri malu mendapatkan ekstrak kental sebesar 101,11 g dengan rendemen sebesar 33,70% b/b. Nilai rendemen berbanding lurus dengan hasil. Semakin tinggi nilai rendemen, maka hasilnya akan semakin bagus. Hasil identifikasi senyawa kimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun putri malu mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan alkaloid. Ekstrak kental daun putri malu yang telah diperoleh dicampurkan dengan kitosan dengan metode bottom up dengan teknik gelasi ionik. Teknik ini menggunakan ikatan sambung silang antara kitosan dengan NaTPP untuk meningkatkan kestabilan dari nanopartikel yang terbentuk. Tujuan penggunaan NaTPP adalah untuk menstabilkan partikel kitosan dengan mencegah pembentukan agregat, sehingga didapatkan kisaran ukuran partikel kitosan yang lebih terkontrol . Reaksi crosslink antara kitosan dan NaTPP ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Reaksi crosslink kitosan-TPP . Berdasarkan hasil analisis PSA, rata-rata ukuran nanopartikel kitosan-ekstrak daun putri malu dengan penambahan NaTPP adalah sebesar 1529,5A42,5 nm. Ukuran rata-rata nanopartikel kitosan dalam larutan asam asetat berada pada kisaran 780Ae940 nm . Pada penelitian ini, ukuran partikel berada di atas kisaran ukuran rata-rata kitosan dari penelitian Putri et al. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses aglomerasi dan cold welding yang terjadi selama proses pencampuran. Semakin lama proses milling maka ukuran partikel cenderung semakin kasar dan teraglomerasi akibat interaksi gaya elektrostatis yang cukup kuat pada partikel . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 2. Hasil Analisa PSA Replikasi Rata-rata Diameter . 1529,5A42,5 PDI 0,427 0,532 0,575 0,511A0,076 Selain ukuran partikel. PSA juga memberikan informasi mengenai polidispersitas indeks (PDI). PDI menunjukkan tingkat homogenitas partikel. Nilai PDI antara 0,01Ae0,70 mengindikasikan bahwa nanopartikel yang dihasilkan mempunyai tingkat homogenitas yang baik atau disebut monodispers, sementara nilai PDI>0,70 menandakan distribusi ukuran partikel yang luas atau kurang homogen. Semakin homogen ukuran partikel maka semakin stabil partikel tersebut . PDI yang didapatkan pada partikel kitosan-ekstrak daun putri malu sebesar 0,427Ae0,575, yang berarti nanopartikel memiliki tingkat homogenitas yang baik. Nanopartikel digunakan pada sistem penghantaran obat diberbagai bentuk sediaan kosmetik yang memiliki keunggulan seperti mencegah hidrasi kulit, meningkatkan absorpsi, dan meningkatkan penetrasi zat aktif . Hasil analisis PSA dapat dilihat pada Tabel 2. Analisis gugus fungsi pada kitosan dan kitosan-ekstrak daun putri malu bertujuan untuk melihat pergeseran bilangan gelombang yang terbentuk dari reaksi crosslink. Berdasarkan hasil spektrum FTIR kitosan murni diperoleh gugus fungsi N-H pada bilangan gelombang 3461 cm-1, gugus N-H pada bilangan gelombang 2919 cm-1, dan gugus C=O pada bilangan gelombang 1638 cm-1 yang ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Spektrum FTIR Kitosan Murni . Spektrum FTIR dari kitosan-ekstrak daun putri malu yang ditunjukkan pada Gambar 3 mengindikasikan adanya interaksi antara kitosan dan ekstrak daun putri malu, yang ditandai dengan bergesernya bilangan gelombang pada gugus O-H dari 3425 cm-1 menjadi 3444 cm-1. Selain itu, serapan pada gugus N-H juga mengalami pergeseran dari 1597,06 cm-1 menjadi 1559 cm-1. Pergeseran bilangan gelombang ini menunjukkan kemungkinan adanya interaksi antara kitosan dan ekstrak daun putri malu. Spektrum FTIR kitosan-ekstrak daun putri malu yang distabilkan dengan NaTPP menunjukkan puncak serapan baru pada bilangan gelombang 1065 cm-1 yang menandakan adanya gugus fosfat (P=O). Gugus fosfat ini muncul akibat reaksi crosslink antara kitosan dan NaTPP, seperti yang terlihat pada Gambar 1. Evaluasi Karakteristik Fisik Sediaan Hand Cream Hasil formulasi sediaan hand cream pada Gambar 4 menunjukkan tampilan fisik yang berwarna putih. Penambahan nanopartikel kitosan-ekstrak daun putri malu mengubah warna krim menjadi jingga muda. Pengukuran nilai pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman sediaan hand cream yang dibuat. Nilai pH yang didapat pada sediaan hand cream yaitu 6,15. Hasil tersebut memenuhi syarat pH kosmetik yang aman bagi kulit. Kulit dapat beradaptasi dengan baik ketika berinteraksi dengan bahan yang memiliki nilai pH sekitar 4,5Ae8,0 karena nilai pH alami kulit berkisar 5,0Ae6,5 . Sediaan hand cream tidak mengalami perubahan warna, tekstur, maupun bau selama penyimpanan 14 hari yang disimpan pada suhu ruangan . Ae30 oC). Organoleptik juga diamati dalam evaluasi karakteristik fisik berupa perubahan warna, bau, dan bentuk. Warna sediaan hand cream tetap berwarna jingga muda, bau sediaan tetap stabil, dan tidak meleleh dalam Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. suhu ruang selama penyimpanan 14 hari. Hal tersebut menunjukkan sediaan hand cream kitosan-ekstrak daun putri malu memiliki stabilitas yang baik secara fisik. Pengujian homogenitas diperoleh bahwa sediaan hand cream memiliki susunan yang homogen dengan ditandai oleh tidak terdapatnya butiran-butiran kasar ketika dioleskan di atas kaca objek transparan. Sediaan hand cream yang homogen ditunjukkan dengan tidak terdapatnya butiran-butiran kasar saat dioleskan . Gambar 3. Spektrum FTIR Kitosan-Ekstrak Daun Putri Malu Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Putri Malu Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak daun putri malu terhadap Staphylococcus aureus dilakukan dengan metode difusi cakram. Metode ini dipilih karena mudah, cepat, tidak memerlukan peralatan khusus, dan relatif murah. Pengujian dilakukan pada suhu inkubasi 37 oC selama 24 jam. Hasil uji ditandai dengan terbentuknya zona hambat yang berupa zona bening di sekitar kertas cakram. Rerata zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 25% ekstrak daun putri malu terhadap Staphylococcus aureus sebesar 10,27 mm, sedangkan pada konsentrasi 12,5% dan 6,25% tidak ditemukan zona hambat. Kontrol positif menunjukkan zona hambat sebesar 22,58 mm, sedangkan kontrol negatif menunjukkan 0 mm yang menandakan tidak ada aktivitas penghambatan bakteri. Hasil zona hambat dapat dilihat pada Gambar 4. Penghambatan antibakteri yang berdasarkan pada diameter zona hambat memiliki beberapa kategori, yaitu zona hambat yang berdiameter <5 mm memiliki daya hambat pertumbuhan yang lemah, diameter 5Ae10 mm memiliki daya hambat pertumbuhan yang sedang, dan diameter 10Ae20 mm memiliki daya hambat pertumbuhan yang kuat . Oleh karena itu, daun putri malu berhasil digunakan sebagai antibakteri pada formulasi hand cream dengan respon daya hambat kuat. Tanaman putri malu mengandung senyawa fitokimia, termasuk saponin, yang dapat merusak struktur membran sitoplasma bakteri, menghambat masuknya nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri, sehingga mengganggu proses pertumbuhannya dan bahkan menyebabkan kematian sel bakteri . Senyawa flavonoid yang terdapat dalam tanaman ini dapat menghambat sintesis protein dan merusak dinding sel, yang berujung pada terganggunya pertumbuhan mikroba dan kematian sel. Selain itu, senyawa tanin memiliki kemampuan untuk merusak pembentukan konidia jamur. Alkaloid yang terkandung dalam daun putri malu juga dapat mendenaturasi protein, mengganggu aktivitas enzim, dan menyebabkan kematian sel bakteri . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Gambar 4. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Putri Malu Terhadap S. Aktivitas Antibakteri Sediaan Hand Cream Pengujian aktivitas antibakteri pada sediaan hand cream terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dilakukan menggunakan metode sumuran. Kelebihan dari metode ini adalah kemudahannya dalam mengukur luas zona hambat yang terbentuk karena bakteri dapat beraktivitas dari permukaan media nutrien ke bawah . Rerata zona hambat yang dihasilkan oleh sediaan hand cream terhadap Staphylococcus aureus adalah 23,18 mm, sedangkan rerata zona hambat terhadap Escherichia coli adalah 12,22 mm. Kontrol positif untuk bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan rerata zona hambat masing-masing sebesar 9,18 mm dan 9,24 mm, sementara kontrol negatif menunjukan zona hambat sebesar 0 mm, yang berarti tidak ada aktivitas penghambatan bakteri. Hasil zona hambat aktivitas antibakteri sediaan hand cream dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Aktivitas Antibakteri Sediaan Hand Cream Terhadap (A) S. aureus dan (B) E. Berdasarkan hasil penelitian, sediaan hand cream menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi ketika ditambahkan kitosan-ekstrak daun putri malu dibandingkan dengan hanya ekstrak daun putri malu. Hal ini dikarenakan oleh kitosan memiliki sifat-sifat, seperti kandungan enzim lisozim, gugus amino polisakarida, dan poli kation bermuatan positif. Ketiga senyawa tersebut mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Enzim lisozim berperan dalam mencerna dinding sel bakteri, menyebabkan bakteri kehilangan kemampuannya untuk menimbulkan penyakit dalam tubuh, atau bahkan mati karena hilangnya dinding sel . Penambahan kitosan dalam sediaan hand cream memberikan potensi yang lebih baik dalam menghambat Kesimpulan Ekstrak daun putri malu dengan penambahan kitosan dapat diformulasikan sebagai sediaan hand cream. Rata-rata ukuran nanopartikel kitosan-ekstrak daun putri malu dengan penambahan NaTPP, yaitu sebesar 1529,5A42,5 nm. Sediaan hand cream berbasis kitosan-ekstrak daun putri malu memiliki nilai pH 6,15 dan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. memenuhi syarat pH kosmetik yang aman bagi kulit. Berdasarkan hasil evaluasi karakteristik fisik yang dilakukan selama 14 hari, sediaan hand cream memiliki warna jingga muda, tidak berbau, stabil pada suhu ruang, dan tingkat homogenitas yang tinggi. Aktivitas antibakteri yang dilakukan pada sediaan hand cream dapat menghambat bakteri S. aureus dan E. coli dengan respon yang kuat. Conflict of Interest The authors have no conflict of interest in this publication. Acknowledgements The author. would like to thank the Inorganic Chemistry Division. Organic Chemistry Division. Analytical Chemistry Division of the Department of Chemistry. IPB University and National Research and Innovation Agency. Serpong. Supplementary Materials Referensi