Jurnal Fides Et Ratio Vol. No. 2 Desember 22 KRISTUS AKTOR FLEXING YANG MEMPERJUANGKAN NILAI TANGGAPAN ATAS FENOMENA FLEXING Dwi Hananto Magister Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dwihananto@gmail. Abstrak Flexing adalah fenomena pamer pencapaian di media sosial. Dewasa ini, figur publik yang melakukan flexing di masa pandemi mendapatkan kritik dengan berbagai alasannya. Dalam tulisan ini, flexing tidak melulu dilihat dalam sudut pandang negatif. Flexing dikaji berdasarkan kajian filsafat, biblis, maupun teologis. Pemikiran Guy Debord tentang Society of Spectakce digunakan untuk mengkaji filsafat fenomena flexing. Dasar biblis yang digunakan yaitu kisah penyembuhan Yesus, untuk melihat tindakan flexing Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di masa lampau. Sedangkan Dokumen Etika dalam Berinternet digunakan sebagai pisau bedah teologis fenomena ini. Kata kunci: flexing. Society of spectacle, pewartaan Abstract Flexing is a phenomenon of showing off achievements in social media. Nowadays, the public figures who do flexing during the pandemic are criticized for various reasons. In this paper, flexing is not always seen from the negative perspective. Flexing is studied based on the philosophical, biblical, and theological studies. Guy Debord's opinions on the Society of Spectacle were used to study the philosophy of the flexing phenomenon. The biblical basis used was the Jesus' healing story, in order to see Jesus' flexing actions to proclaim the Kingdom of God in the past. Meanwhile, the Etika dalam Berinternet Document was used as the theological basis for this phenomenon. Keywords: flexing. Society of spectacle, proclaiming PENDAHULUAN Dunia saat ini sedang berada dalam masa media digital dengan berbagai tawaran akan Berbagai fasilitas seperti video conference, belanja online, transportasi online, e-banking, dan sosial media yang memudahkan seseorang dalam beraktifitas, bekerja, maupun mencukupi Apa yang zaman dahulu tidak bisa terlaksana, dengan adanya berbagai plarform media digital dapat terlaksana. Media sosial, merupakan salah satu platform yang banyak digunakan sebagai sarana komunikasi di era digital ini. Media sosial berisi konten yang lebih bebas, siapa pun asalkan memiliki akun dapat memposting apa pun dari hidup harian sampai peristiwa penting. Hal ini didukung berbagai kemudahan, jaringan internet yang semakin merata serta kamera smart phone yang semakin canggih. Media sosial juga merupakan salah satu sarana untuk memperkenalkan dri. Mereka dapat memperkenalkan diri dengan mempostisng foto entah itu yang memuat pencapaian akademis, ekonomi, dan pencapaian lainnya. Namun, tidak sedikit yang memperkenalkan diri secara berlebihan dan terkesan tidak tahu malu. Misalnya, mengunggah foto liburan atau koleksi mobil mewah di saat pandemi kala banyak orang menderita dan terkenan krisis ekonomi. Mereka dianggap melakukan tindakan pamer secara tidak bijak. Konten-konten tertentu justru dianggap tidak solider dengan realita yang ada di masa ini, khususnya dalam suasana pandemi ini. Konten yang memamerkan suasana liburan yang mewah, rumah mewah, koleksi mobil sport membuat rakyat yang sedang mengalami kesulitan merasa Istilah pamer dalam konten media sosial tersebut tranding dengan sebutan flexing. Karena berkaitan dengan tindakan pamer yang tidak bijak tersebut, fenomena flexing dalam masyarakat luas mendapat cap negatif atau identik dengan tindakan tidak terpuji. Dalam tulisan ini, akan diulas tentang fenomena flexing dari sudut pandang orang ketiga bukan dari penikmat maupun pembuat konten. Fenomena flexing justru tidak dilihat sebagai fenomena yang intrinsik buruk. Flexing merupakan fenomena yang netral dan tidak berintrinsik baik atau buruk. Flexing dilihat dalam motifasi pembuat konten. Dalam tulisan ini, flexing direfleksikan berdasarkan tindakan Yesus yang memperjuangkan nlai, yaitu mewarkatakan Kerajaan Allah dan kabar Penulis berusaha untuk menggali nilai . dalam beberapa tindakan Yesus yang dapat dikatakan flexing namun berdasarkan keutamaan tertentu . ilai diartikan sebagai keutamaa. Maka dari itu, fenomena flexing akan dilihat berdasarkan berbagai pandangan filsafat, biblis, dan Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah studi pustaka. Tujuan dari karya tulis ini adalah memaknai flexing dalam kristologi. Pertanyaan dasar yang hendak dijawab yaitu. Aubagaimana melihat flexing sebagai tindakan dan karya keselamatan Kristus?Ay PEMBAHASAN Flexing Dilihat dalam Kajian Filsafat The Society of Spectacle Fenomea flexing merupakan fenomena pamer yang banyak menggunakan media sosial. Flexing selain sebagai salah satu cara untuk mencari pengakuan, tetapi juga dapat sebagai sarana untuk mempengaruhi penikmat konten. Fenomena ini, juga pernah terjadi di masa kemunculan awal televisi yang melahirkan masyarakat tontonan . ociety of spectakl. Teori society of spectacle pertama kali dimunculkan oleh Guy Debord. Televisi memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan radio karena televisi dapat menggabungkan antara audio dan visual. Dengan penggabungan tersebut, penonton akan benar-benar fokus berada di depan layar karena penasaran dengan tayangan visual yang ada. Masyarakat yang terfokus pada tanyangan tersebut, lebih mudah terpengaruh akan konten yang ditampilkan. Society of spectacle dilihat dari akar katanya berarti masyarakat tontonan. Menurut Reza Arianty, " Spectacle berarti Aotontonan yang mengagumkanAo lalu mengalami perubahan menjadi spektakuler yang berarti Aomenawan yang mengundang orang untuk menontonAo. Sedangkan society dapat diartikan sebagai masyarakat atau kumpulan orang-orang. Ay1 Masyarakat yang terpengaruh oleh tontonan yang mengagumkan tersebut menjadi enggan untuk beranjak sehingga semakin lama terbawa oleh gagasan atau narasi-narasi dalam media tersebut. Masyarakat tontonan merupakan bentuk dinamika sosial sesuai yang ditampilkan di layar. Tampilan di layar televisi dibuat sedemikan rupa sehingga semakin tampak nyata. Semakin nampak nyata dari tontonan tersebut, semakin membuat masyarakat tertarik untuk mengikuti trend yang ditawarkan di televisi. Menurut Guy Debord. AuTampaknya dalam masyarakat tontonan kehidupan mewah dan kebahagiaan terbuka untuk semua orang dan siapa pun dapat membeli benda-benda berkilau yang dipajang. Ay2 Masyarakat sebagai penonton dibawa dalam mimpi dan imajinasi bahwa mereka pun dapat menikmati segala kemewahan dan kehidupan yang ditampilkan di televisi. Reza Aprianti. AuBUDAYA MEDIA DAN LAHIRNYA SPECTACLE SOCIETY (Televisi sebagai Voyeurism Zaman Moder. ,Ay Wardah 28 . : 204. Guy Debord. The Society of the Spectacle (Paris, 2. , 140. Supaya tontonan yang ada dapat semakin menarik minat dari penonton, peran selebriti penting. Menurut Guy Debord. AuFungsi selebritis untuk memerankan berbagai gaya hidup secara bebas. Mereka mewujudkan hasil kerja sosial dengan mendramatisasi produk dari kerja yang diproyeksikan dengan tujuan akhir yaitu kekuasaan dan liburan. 3 Ketika selebritis benar-benar dapat melaksanakan perannya dengan baik, maka pesan yang ia sampaikan dapat semakin mempengaruhi masyarakat. Hal ini pun sesuai dengan fenomena flexing dengan konten yang dapat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup masyarakat sebagai penikmat konten. Menurut Fajar Bayu. AuMelalui pesanpesan konsumtif yang seringkali disampaikan para produsen, para pencipta konten menyampaikan pesan-pesan bermuatan kenikmatan hidup melalui kehidupan yang sangat konsumtif, [. ] yang perlu dimiliki untuk menjalani kehidupan yang bahagia, layaknya para pencipta konten tersebut. Ay4 Tindakan mempengaruhi penonton tersebut juga sebagai sarana promosi produk. Ketika dikaji lebih jauh lagi, sebenarnya fenomena ini bersifat netral. Pembuat konten entah itu produser televisi atau para content creator di media masa berusaha untuk menawarkan tontonan kepada Hal itu tidak salah, karena memang tindakan tersebut sebagai salah satu cara baginya untuk mendapatkan keuntungan. Di sisi lain, penikmat konten . pun tidak lantas melakukan kekeliruan dengan menonton tayangan tersebut karena ia juga sedang mencari hiburan. Namun, yang bisa menjadi persoalan adalah reaksi yang ditimbulkan atas relasi menonton dan ditonton ini dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Ketika penonton merasa terhibur dan hidupnya menjadi lebih termotivasi untuk bisa sukses dengan usaha yang sesuai dengan kemampuannya, hal tersebut justru menimbulkan dampak yang positif. Namun, ketika seseorang justru berusaha sekuat tenaga mengikuti trend tanpa melihat kemampuan, reaksi ini menimbulkan kerugian baginya. Ketika penonton justru merasa iri dengan berbagai kemewahan dalam tampilan, yang perlu dipertanyakan adalah tontonan tersebut yang bermasalah atau pola pikir penonton yang perlu diperbaiki? Fenomena flexing dengan tujuan untuk mencari pengakuan sebenarnya juga bukan merupakan Saat ini, pengakuan justru dicari. Salah satu kebutuhan dari manusia adalah mendapatkan pengakuan dan kedudukan dalam masyarakat. Misalnya saja, seorang seniman akan merasa dirinya berharga jika melalui karya-karyanya ia mendapatkan pengakuan sebagai seniman yang handal. Seorang akademisi, dengan diakui sebagai guru besar, ia dianggap berjasa dalam suatu keilmuannya dan tentu saja mendapatkan tambahan pemasukan. Maka pengakuan itu berharga. Namun, fenomena mencari pengakuan menjadi masalah jika membuat seseorang justru terdegradasi dari realitas kehidupannya. Misalnya saja, seseorang demi mendapat pengakuan sebagai wanita yang berkelas, ia rela berakting AukayaAy di media dengan menampilkan barang bermerk di setiap fotonya padahal ia rela hutang demi membeli barang tersebut. Tindakan ini justru merugikan dirinya Maka dari itu, flexing menjadi bermasalah jika membuat seseorang terpisah dari realitas Refleksi Biblis Yesus dapat dikatakan sebagai superstar pada zamannya. Dengan berbagai kharisma dan kemampuan yang ajaib, ia dikagumi sekaligus dibenci oleh banyak orang. Dalam bagian ini, akan diulas kisah mujizat penyembuhan dalam Lukas 5:12-16. Kisah ini akan digunakan untuk menanggapi fenomena flexing. Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau. Tuan dapat mentahirkan aku. " Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya. Debord. The Society of the Spectacle, 140. Fajar Bayu Aji dan Naupal Asnawi Tohir. AuRefleksi Kritis atas Degradasi Autentisitas Masyarakat Media,Ay Jurnal Komunikasi 14, no. : 176. menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir. " Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. " Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. Dalam perikop tersebut, hal yang disorot adalah sikap Yesus yang tidak menghendaki orang yang disembuhkan tersebut berbicara kepada orang lain, namun malah kabar mujizat penyembuhannya tersebar luas. Dampak dari tersebarnya berita penyembuhan tersebut, banyak orang berbondongbondong untuk mendengar dan meminta disembuhkan. Rupanya kabar tersebut membawa dampak bagi orang banyak. Sikap Yesus melarang orang kusta yang telah sembuh untuk tidak mengatakan kepada siapaun tentu memiliki tujuan tertentu. Berdasarkan Alkitab Edisi Studi. AuTujuan Yesus melarang memberi mujizat yaitu supaya Aumujizat itu sendiri memberi kesaksian tentang Yesus [. ] tidak ingin banyak orang mencari-Nya hanya karena tertarik pada mujizat, bukan pada pemberitaan-Nya tentang Kerajaan Allah. Ay5 Ternyata sikap Yesus melarang supaya mujizat kesembuhan tersebut tidak diwartakan supaya orang banyak tidak memiliki fokus lain selain karya keselamatan dan warta Kerajaan Allah. Apakah mungkin jika dengan pemberitaan karya keselamatan tersebut orang akan menjadi semakin fokus akan warta kerajaan Allah lalu Yesus justru menyuruh supaya karya-Nya yang menyembuhkan itu Yesus memiliki nilai lebih yang diperjuangkan, melebihi sekedar ketenaran diri-Nya saja. menghendaki supaya tindakan penyembuhan tersebut membuat orang-orang semakin memuji dan memuliakan Tuhan. Hal ini dijelaskan dalam Matthew Henry Commentary Vol 1: Kita harus sangat rendah hati . : Dia menyuruhnya untuk tidak memberi tahu siapa pun. Ini, tampaknya, tidak melarang dia mengatakannya untuk kehormatan Kristus, tetapi dia tidak boleh mengatakannya untuk kehormatannya sendiri. Kristus tidak meminta dia untuk memberinya penghargaan, tetapi untuk mempersembahkan korban pujian kepada Tuhan. sejauh ini dia dari menggunakan kekuasaannya untuk prasangka hukum Musa. Tindakan Yesus mengutamakan lebih besarnya kemuliaan Tuhan Ia tunjukkan dengan menyuruh orang yang baru saja disembuhkan dari kusta untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Yesus mengajak orang tersebut untuk mensyukuri anugerah kesembuhan melalui kurban pujian Meskipun Yesus melarang mewartakan mujizat tersebut, namun berita tersebut tetap tersebar dan mengakibatkan orang-orang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Dalam The New interpreterAos Bible Volum IX disebutkan bahwa AuLukas membeberkan berita tentang karya Yesus yang menyebar lebih luas lagi. Ay7 Hal ini dimaknai dalam Mattew Henry Commentary. AuSemakin dia berusaha menyembunyikan dirinya di bawah selubung kerendahan hati, semakin banyak orang karena kehormatan itu seperti bayangan, yang lari dari mereka yang Ay8 Yesus tidak mempublikasikan karya-Nya, namun orang yang tergerak akan warta kabar gembira yang ada di balik karya-Nya lah yang mewartakannya. Alkitab Edisi Studi (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. , 1672. Lih. Matthew Henry Commentary Vol 1 dlm the bible work ed. 10, dengan pencarian Luke 5, 12-16 The New InterpreterAos Bible Volume IX (Nashville: Abingdom Press, 1. , 120. Lih. Matthew Henry Commentary Vol 1 dlm the bible work ed. 10, dengan pencarian Luke 5, 12-16 Sebenarnya ketika kita melihat karya Yesus yang lain entah itu mujizat maupun pengajaranNya. Yesus melaksanakannya di hadapan atau di tengah-tengah khalayak umum. Maka kisah penyembuhan di atas tergolong kisah yang unik. Entah itu karya yang dilakukan di tengah khalayak maupun dalam suasana sepi, tujuan utamanya tetap satu yaitu mewartakan kabar sukacita kerajaan Allah. Bagaimana wujud konkrit dari warta sukacita tersebut? Dalam Luk 4:17-19 disebutkan: Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orangorang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Yesus secara khusus membawa warta sukacita dengan menyembuhkan mereka yang sedang sakit, dan memberikan pengharapan kepada yang menderita. Tujuannya supaya sesama merasakan secara nyata kerajaan Allah di dunia dan warta sukacita. Berdasarkan dijelaskan dalam Matthew Henry Commentary Vol 1 AuDia berkhotbah: kepada orang miskin. yang miskin di dunia, yang diremehkan oleh dokter Yahudi. kepada mereka yang miskin dalam roh, dan kepada mereka yang benar-benar berdukacita karena dosa: bagi mereka Injil dan kasih karunia akan diterima. Ay 9 Kabar sukacita yang diwartakan oleh Yesus membawa pembebasan kepada mereka yang hidup dalam kesesakan. Bagaimana kita melihat tindakan penyembuhan dalam fenomena flexing? Dalam kisah penyembuhan di atas, bukan Yesus yang mewartakan karya-Nya melainkan orang lain. Namun, bagaimana ketika Yesus melaksanakannya di tengah umum? Hal itu tidak dapat secara langsung dimaknai sebagai upaya Yesus untuk flexing. Tujuan utama dari berbagai tindakan Yesus yaitu untuk mewartakan kerajaan Allah. Entah itu Yesus menjadi terkenal atau tidak merupakan konsekuensi dari tindakan pewartaan tersebut. Maka, ketika kita melihat suatu konten, belum tentu tujuan utama dari pembuat untuk pamer. Ada kemungkinan bahwa mereka berusaha memperjuangkan suatu nilai yang bermanfaat bagi penikmat Jika ada yang menganggap sebagai konten flexing, itu merupakan efek dari pelaksanaan atau pengekspresian nilai tersebut. Perlu kita melihat karya Yesus yang membuat heboh dalam menilai dan memaknai fenomena flexing ini. Tidak bijak jika kita langsung mengkritik atau menilai jelek konten flexing tanpa mencoba memaknainya terlebih dahulu dari berbagai sudut pandang. Flexing dan Kebebasan Berekspresi. Refleksi Atas Fenomena Flexing Berdasar Dokumen Etika Dalam Internet Menilai suatu konten flexing dalam media sosial, tidak terlepas dari pandangan mengenai kebebasan dalam berekspresi dan bertukar pendapat. Gereja, mengutarakan pandangannya tersebut dalam dokumen Etika dalam internet artikel 12 Kami sangat mendukung kebebasan berekspresi dan pertukaran gagasan. Kebebasan untuk mencari dan menyelidiki kebenaran merupakan hak asasi manusia,dan kebebasan berekspresi adalah batu penjuru demokrasi. AuManusia, seraya mengindahkan tata nilai moral serta kepentingan masyarakat, dapat dengan leluasa menyelidiki kebenaran dan menyatakan serta menyiarkan pendapatnya [A] manusia harus mendapat informasi tentang peristiwa-peristiwa umum dengan kebenaranAy Dan pendapat umum. Auungkapan esensial kodrat manusia yang diorganisasi dalam masyarakatAy, mutlak menuntut Aukebebasan untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya sendiri. Ay (Etika dalam internet artikel . Lih. Matthew Henry Commentary Vol 1 dlm the bible work ed. 10, dengan pencarian Luke 4, 17-19 Berdasarkan dokumen etika dalam internet tersebut. Gereja mendukung kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Gereja mendukung kebebasan dalam berpendapat dan berkepresi karena hal tersebut merupakan ungkapan eksistensi manusia. Maka, dengan mendukung kebebasan berekspresi dan berpendapat tersebut. Gereja mendukung ungkapan eksistensi diri. Namun, bukan berarti kebebasan tersebut lantas tanpa batas. Dalam dokumen etika dalam internet, lebih lanjut dibahas mengenai kesalahan pemaknaan dalam kebebasan. Kesalahannya terletak dalam mengagung-agungkan kebebasan Ausedemikian rupa sehingga kebebasan itu menjadi sesuatu yang mutlak, yang akan menjadi sumber nilai-nilaiA Tetapi dengan cara demikian ini, klaim akan kebenaran yang tak terelakkan menghilang demi kriteria ketulusan, keaslian. Aoberdamai dengan diri sendiriAo"86 Dalam cara berpikir seperti ini tidak ada tempat bagi komunitas yang autentik, kesejahteraan umum, dan solidaritas. Etika dalam internet 14 Kebebasan bukan menjadi sesuatu yang mutlak tetapi mesti memperhatikan kesejahteraan umum dan solidaritas. Selain itu, kebebasan juga tetap dilihat dalam relasi dengan yang Ilahi. Berdasarkan Veritatis Splendor artikel 32 disebutkan bahwa. Aukebebasan yang tidak terbatas tersebut justru menghilangkan kepekaan terhadap hal-hal yang transenden. Ay Ketika kebebasan justru tidak memberi tempat terhadap kesadaran akan yang ilahi, atau justru malah menafikan demi kemauan sendiri, maka kebebasan tersebut perlu ditinjau kembali. Harapannya, kebebasan yang ada dalam berekspresi tersebut tidak menimbulkan kesesatan dan kebingunan bagi khalayak yang menontonnya. Bagaimana menilai kebebasan dalam fenomena flexing? Fenomena flexing dapat muncul sebagai salah satu bentuk kebebasan dalam berekspresi. Para content creator membuat konten sebagai salah satu cara untuk berekspresi. Kita tidak bisa menghakimi bahwa konten flexing tersebut memiliki instrinsik buruk atau langsung mendukungnya. Untuk melihat konten-konten yang bermuatan flexing, kita dapat menggunakan beberapa pertimbangan dari dokumen-dokumen diatas. Terdapat tiga pertimbangan dalam melihat suatu konten flexing. Pertama, apakah konten benarbenar sesuai dengan nilai moral dan kepentingan masyarakat atau tidak. Suatu konten flexing perlu dilihat kesesuaian antara konten dengan kepentingan dan keadaan masyarakat umum. Konten pamer bagi orang yang kaya bukan menjadi soal. Namun, jika konten pamer kekayaan atau liburan mewah ditampilkan dalam suasana penderitaan, konten tersebut dianggap tidak solider dengan keadaan Justru konten pamer bersedekah lebih pas dalam situasi ini karena dapat dimaknai sebagai ajakan untuk meringankan beban sesama. Kedua, apakah konten tersebut bena-benar sesuai fakta atau konten manipulasi. Suatu konten yang kredibel adalah konten yang menampilkan keadaan real. Konten pamer kekayaan justru membantu aparat negara dalam menarik pajak warga negaranya yang memiliki rumah dan mobil mewah. Semakin banyak aset mewah yang dimiliki, pajak yang ditarik pun semakin Pertimbangan yang ketiga yaitu apakah konten tersebut dapat menjadikan pemilik akun semakin memuliakan Tuhan atau justru menjadikan ia jumawa. Maka, ketika kita melihat suatu konten yang disinyalir merupakan konten flexing, kita tidak hanya melihat sesuatu yang ditampilkan di dalam layarnya saja, namun perlu melihat hal-hal dibalik layar tersebut serta relevansi bagi masyarakat dan kepentingan umum. Tidak menutup kemungkinan bahwa konten flexing tersebut menjadi sarana pewartaan bahwa karya Allah kepada manusia yang sungguh luar biasa sehingga dapat membuat pembuat dan penikmat konten semakin memuliakan namaNya. Tuhan dapat hadir dalam segala cara dan segala peristiwa. Apakah tidak mungkin Tuhan hadir dalam konten flexing? Refleksi Flexing Berdasar Cybertheologi Antonio Spadaro Penemuan internet . edia digita. membuat manusia semakin terkoneksi dengan lingkup yang lebih luas. Konektivitas tersebut membuat manusia dapat menggali berbagai informasi yang berasal dari berbagai belahan dunia. Konektivitas juga membuat pola relasi dan komunikasi menjadi semakin luas. Sebelum adanya media digital, relasi dapat terjalin dan berkembang semakin dalam jika seseorang sudah benar-benar kenal dan berjumpa secara fisik. Saat ini, dengan adanya media sosial, seseorang dapat berkenalan dan menjalin relasi mendalam meskipun terpisah jarak dan tidak berjumpa secara Perkembangan dunia digital yang semakin cepat tersebut, membuat manusia semakin tidak dapat lepas darinya. Dunia digital menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Bahkan, web yang menjadi bagian dalam media digital semakin masuk dalam kehidupan manusia. Hal ini sesuai pendapat Robert Verril dalam review buku cyberthology bahwa. Au. Web tidak bisa begitu saja diisolasi sebagai kasus yang spesifik dan pasti dari kehidupan kita sehari-hari. melainkan harus dilihat sebagai bagian integral dari keberadaan kita yang biasa. Ay 10 Semakin masuknya media digital dalam kehidupan manusia, dapat merubah pola pikir termasuk dalam hal teologi. Menurut C. Rumbay yang mengutip tulisan Antonio Spadaro. Au. dunia digital telah terlibat dalam lingkungan manusia, menentukan struktur berpikir, berkontribusi pada sistem pendidikan, merangsang kecerdasan dan membuka pemikiran teologi baru. Ay11 Dengan perubahan pola pikir tersebut, maka tantangan yang muncul adalah bagaimana memaknai media digital dalam Kristus. Tantangan selanjutnya yaitu bagaimana manusia dapat menghidupi karya Kristus dalam bermedia khususnya media sosial dan fenomena flexing dikaitkan dengan perintah Kristus untuk mewartakan kabar sukacita ke seluruh dunia. Media sosial merupakan sarana bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi dan berelasi secara luas dan mendalam. Melalui postingan aktifitas entah itu tuulisan dan atau gambar, seseorang dapat membuat orang lain menanggapi bahkan sebaga awal untuk berelasi secara mendalam. Media sosial seakan dapat menggantikan kedekatan fisik. Supaya orang lain dapat semakin mengenalnya semakin dekat, bahkan ada yang sampai mengorbankan privasinya. Hal ini diungkapkan Tom Uytterhoeven dalam pembahasan buku Cybertheology karya Spadaro. Ia menuliskan bahwa. AuSpadaro mengamati bahwa orang tampaknya mengorbankan privasi mereka di media sosial, untuk menjawab 'kebutuhan akan kedekatan', kebutuhan mereka akan hubungan kehidupan nyata. Ay 12 Jaringan komunikasi yang luas dalam media sosial juga dapat sebagai sarana untuk mempengaruhi orang lain dalam bertindak bahkan dapat mengubah persepsi orang lain. Hal ini diungkapkan oleh Antonio Spadaro bahwa media dapat "mempengaruhi kesadaran individu, mereka membentuk mentalitas dan menentukan visi mereka tentang berbagai hal". 13 Melalui media sosial, dengan berbagai cara seseorang dapat membantu memotivasi untuk bangkit dari keterpurukan, memaknai setiap karya sebagai perjuangan, serta mengajak untuk bertindak baik. Flexing dalam media sosial juga dapat dilihat sebagai sarana untuk mempengaruhi orang lain entah itu untuk mengikuti pendapatnya, membeli produk yang ditawarkan, atau bahkan mengikuti pola Kita tidak hanya memandang flexing dalam perspektif negatif saja. Bahkan dengan flexing seseoang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan kebaikan. Misalnya ketika seseorang menampilkan perbuatan sedekahnya ia dapat mengajak sesama untuk juga berbagi. Maka, sebenarnya tergantung pola pikir kita saja dalam melihat konten flexing di media sosial, hendak menanggapi secara positif atau negatif. Robert Verril. AuReviewed Work . : CYBERTHEOLOGY : THINKING CHRISTIANITY IN THE ERA OF THE INTERNET by Antonio Spadaro,Ay New Blackfriars 97, no. : 520. Christar Arstilo Rumbay. AuChristology in Digital Era: A Socio-systematic Theology Contribution to the Sustainable Smart Society,Ay PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. : 18. Tom Uytterhoeven. AuCybertheology: thinking Christianity in the Era of the Internet, by Antonio Spadaro,Ay International Journal of Philosophy and Theology 75, no. : 385. Antonio Spadaro. Cybertheology: Thinking Christianity In The Era Of The Internet (New York: Fordham University Press, 2. , x. Supaya dapat memaknai kasus flexing secara lebih positif, kita perlu mendaari diri dengan pemaknaan kesatuan hidup Kristus. Spadaro mengungkapkan bahwa. Audi dalam Kristus, kita harus memiliki dasar spiritual dalam melihat Web, dihubungkan dengan Kristus yang memanggil kemanusiaan supaya semakin satu dan terkoneksi. 14 Ketika kita menemukan konten seseorang yang membanggakan pencapaiannya, kita perlu juga melihat perjuangan di baliknya sehingga ia dapat mencapai keadaan sekarang ini. Hal ini dapat dijadikan sebatgai motivasi untuk berjuang dengan sungguh-sungguh. Kita tidak hanya melihat kekinian saja, tetapi juga realitas dan perjuangan di masa Bahkan jika perlu kita juga dapat berflexing untuk menyiarkan kabar sukacita. KESIMPULAN Kristus merupakan teladan dalam berflexing. Kristus yang hidup di zaman pra internet saja dikenal entah itu melalui pewartaan-Nya maupun kesaksian orang lain karena berbagai tindakan dan karya-Nya bagaimana jika Kristus hidup di era digital? Meskipun di awal saya tidak mengatakan perbuatan Kristus sebagai flexing, namun ada kemungkinan bahwa orang zaman itu menyebut tindakan pengungkapan kebijaksanaan di atas gunung, membuat mujizat di tengah khalayak, atau pamer kesembuhan yang ajaib kepada orang banyak sebagai tindakan flexing. Ketika tindakan Kristus disebut flexing, namun tindakan tersebut bukanlah flexing yang kosong tanpa makna. Namun, flexing versi Yesus adalah flexing demi pewartaan kabar suka cita kerajaan Allah. Maka, tidak ada salahnya kita melihat dan memaknai konten flexing sebagai warta gembira dan kabar Namun, kita bisa memilih untuk melihat suatu konten dalam pola pikir Farisi yang mengkritik karena ada tendensi atau sebagai murid Kristus yang bisa memaknai setiap peristiwa dalam karya Perbedaan nyata tindakan Yesus dalam flexing dibandingkan pengguna media massa saat ini adalah terdapat integritas dalam tindakan Yesus. Kata-kata dan perbuatan Yesus selaras sehingga tidak menimbulkan soal, justru dapat memperkuat misi-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Flexing menjadi bermasalah dan mendapatkan konotasi negatif karena konten yang ditampilkan tidak selaras dengan tindakan dan kondisi hidupnya sehari-hari. Maka integritas diperlukan supaya seseorang mendapatkan apresiasi atas konten-kontennya di media sosial entah itu flexing atau bukan. DAFTAR PUSTAKA