Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus Physiotherapy Management in ACL Reconstruction : A Case Report Yery Mustari. Melda Putri, *Harmila Eka Putri. Nanda Lithania Radha. Chaerunnisa1 Universitas Hasanuddin Email korespondensi : harmilaekaputri@gmail. Diterima : 26 Agustus 2024 | Ditinjau: 6 September 2024 | Disetujui: 15 April 2025 | Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK Cedera olahraga yang paling sering terjadi pada pemain sepak bola adalah cedera lutut terutama pada anterior atau posterior cruciate ligament (ACL/PCL). Cedera ACL tidak hanya menggangu kemampuan pemain untuk berpartisipasi dalam pertandingan, tetapi juga dapat berdampak serius pada karir mereka. Penatalaksanaan fisioterapi dalam penanganan pasca ACLR bertujuan untuk mengurangi nyeri dan bengkak, mencegah atrofi otot, meningkatkan kekuatan otot dan stabilitas lutut, serta memulihkan keyakinan pasien. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tentang manajemen fisioterapi dalam menangani gangguan gerak dan fungsi gerak pada kasus post-op ACLR Data primer diperoleh melalui anamnesis dan pemberian intervensi berdasarkan pada protocol rehabilitasi ACLR. Pasien laki-laki berusia 17 tahun telah melakukan operasi ACLR dan telah menyelesaikan beberapa sesi terapi, namun rentang gerak tidak mengalami peningkatan yang signifikan dan didapatkan bahwa terdapat athrofibrosis di sekitar patella sehingga diputuskan pasien melakukan debridement. Pasien kembali menjalani fisioterapi dua hari setelah Intervensi fisioterapi yang diberikan berfokus untuk mengontrol inflamasi, menguatkan otot, serta meningkatkan ROM. Setelah pemberian intervensi selama 27 sesi, terdapat peningkatan ROM dan massa otot yang signifikan dan pasien sudah mulai melakukan persiapan untuk fase return to sport. Kata Kunci : Anterior Cruciate Ligament. Reconstruction. Fisioterapi. Penatalaksanaan ABSTRACT The most common sports injuries in football players are knee injuries especially in the anterior or posterior cruciate ligament (ACL/PCL). ACL injuries not only interfere with players' ability to participate in matches, but can also seriously affect their careers. Implementation of physiotherapy in post-ACLR treatment aims to reduce pain and swelling, prevent muscle atrophy, improve muscle strength and knee stability, as well as restore patient confidence. This case report aims to discuss the management of physiotherapy in dealing with movement disorders and motion functions in post-op cases ACLR Primary data obtained through anamnesies and intervention based on the rehabilitation protocol of ACLLR. The 17-year-old male patient has undergone ACR surgery and has completed several therapeutic sessions, but the range of movements has not improved significantly and it has been found that there is athrofibrosis around the patella so that the patient has decided to do debridement. The patient returned to physiotherapy two days after debridement. The physiotherapeutic interventions focused on controlling inflammation, strengthening muscles, and improving ROM. After the intervention for 27 sessions, there was a significant increase in ROM and muscle mass and the patient has begun preparing for the return to sport phase. Keyword : Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Physiotheraphy. Management PENDAHULUAN Sepak bola merupakan cabang olahraga yang paling banyak diminati masyarakat dunia dan meduduki peringkat pertama sebagai olahraga yang paling popular dengan sekitar 4 miliar penggemar, jumlah tersebut bahkan melebihi setengah dari populasi dunia1. Dalam permainan sepak bola diperlukan kombinasi keterampilan fisik dan teknis yang tinggi, dimana pemain sepak bola harus mampu melakukan gerakan kompleks serta berlari dengan cepat, melompat, menggiring bola, dengan presisi, dan melakukan perubahan arah yang tiba-tiba, yang sering kali melibatkan kontak fisik antar pemain yang dapat menyebabkan insiden cedera olahraga yang Cedera olahraga yang paling sering terjadi pada pemain sepak bola yaitu cedera lutut terutama pada anterior atau posterior cruciate ligament (ACL/PCL) 2 Anterior cruciate ligament (ACL) adalah salah satu ligamen utama pada lutut dan bersifat penting untuk memberikan stabilitas pada sendi lutut. Cedera ACL bisa terjadi karena trauma Additional Author . n order of contributio. : Waratil Nurtartilah. Nur Lailah Bahar. Nurmalasari. Nurul Ainun Hamka. Zahrasuraya Suwandi. Rahmadani. Andi Hajriana Mulda. Iis Rizki Sholehat. La Ode Muhammad Baitul Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 langsung, gerakan yang berlebihan atau putaran yang tiba-tiba saat berlari, melompat, atau Cedera ACL tidak hanya menggangu kemampuan pemain untuk berpartisipasi dalam pertandingan, tetapi juga dapat berdampak serius pada karir mereka. Pemulihan yang tidak optimal atau terjadinya re-injury dapat mengurangi kinerja atlet, bahkan menyebabkan ketidakmampuan untuk bermain dalam jangka panjang. Penanganan untuk cedera ACL dapat dilakukan dengan rekonstruksi ACL yang sebagian besar dapat mengembalikan stabilitas mekanis lutut yang cedera, namun kemungkinan terdapat potensi re-injury saat kembali berolahraga dan waktu untuk Return to Sport (RTS) bervariasi diantara atlet 3. Operasi rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACLR) adalah operasi yang sering dilakukan oleh ahli bedah ortopedi di seluruh dunia. Rekonstruksi menjadi pilihan utama karena tindakan penyambungan ligamen ACL sering mengalami kegagalan. Hal itu disebabkan karena ligamen ACL tidak memiliki fibrin sehingga setiap robekan yang terjadi tidak dapat mengalami penyembuhan sendiri 4. Di Indonesia sendiri, penggunaan implan ACLR meningkat sebesar 42% pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018 . 5 implan pada tahun 2018 vs 2236 pada tahun 2. , dan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya partisipasi remaja dan dewasa muda dalam kegiatan olahraga. Meskipun data pasti mengenai kejadian tahunan robeknya ACL di Indonesia belum tersedia, namun diperkirakan jumlahnya mencapai hampir satu juta orang per tahun dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa 3. Selain itu, data jumah pasien post op ACLR yang melakukan fisioterapi di klinik Physiocenter Makassar pada tahun 2023 sebanyak 21 orang, meningkat dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2022 sebanyak 18 orang (Data Primer, 2. Permasalahan yang timbul pasca rekonstruksi ACL antara lain adanya nyeri, bengkak, keterbatasan lingkup gerak sendi, atrofi dan kelemahan otot, gangguan pola jalan, serta adanya hambatan fungsional lutut 4. Penatalaksanaan fisioterapi dalam penanganan cedera lutut pada pasien pasca rekonstruksi ACL sangat penting karena bertujuan untuk mengurangi nyeri dan bengkak, mencegah atrofi otot, mengembalikan dan meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan stabilitas lutut, dan memulihkan keyakinan pasien yang mengalami cedera ACL 5. Rehabilitasi pasca rekonsrtuksi ACL merupakan hal yang penting dalam proses pemulihan pemain sepak bola setelah menjalani operasi rekonstruksi ACL. Program rehabilitasi ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan kekuatan dan stabilitas sendi lutut, tetapi juga untuk memastikan kembali kebugaran fisik yag optimal dan pemain dapat kembali ke performa atletik yang tinggi . eturn to spor. PEMERIKSAAN Informasi Pasien Pasien pria usia 17 tahun yang merupakan atlet mengalami cedera terjatuh pada saat bermain sepak bola pada bulan Juli 2023. Pasien kemudian memeriksakan diri ke dokter pada bulan Agustus 2023 dan hasil MRI terdapat total tear ACL. LCL partial tear dan meniscus medial tear. Setelah melakukan arthroscopy ditemukan bahwa hanya ACL yang mengalami total tear sehingga yang ditindaki hanya ACL saja, yang kemudian dilakukan rekonstruksi dengan graft semitendinosus pada bulan Oktober 2023. Setelah itu, pasien menjalani sesi fisioterapi di tempat Namun, setelah 20 kali pertemuan, tidak ada peningkatan ROM sehingga pasien memutuskan ke klinik lain. Di klinik Physiocenter, pasien kemudian menjalani sesi fisioterapi beberapa kali. Setelah 3 kali pertemuan, terdapat peningkatan ROM. Namun, pertengahan sesi fisioterapi pasien merasakan ada ganjalan di area lutut posterior dan anteior dan juga peningkatan ROM di area knee mengalami penghambatan sehingga disarankan untuk kembali konsultasi ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, didapatkan bahwa terdapat arthofibrosis di sekitar patella sehingga diputuskan melakukan pembedahan untuk membersihkan arthrofibrosis tersebut pada tanggal 22 Februari 2 hari setelah pembedahan pasien kembali datang untuk menjalani sesi fisioterapi. Saat ini pasien mengkonsumsi obat anti nyeri dan antibiotik serta disarankan oleh dokter untuk melepas Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 Keluhan pasien saat ini ada rasa tidak nyaman saat menekuk di bekas insisi, bengkak pada ankle, dan pegal di otot pada saat ditekuk dan juga sedikit ngilu pada luka di awal gerakan dikarenakan bekas jahitan yang belum kering. Selain itu pola berjalan terlihat terkunci dan condong ke kiri. Semua aktivitas pasien terganggu mulai dari berjalan, ibadah, penggunaan toilet, pekerjaan, hobi, dan lainnya. Temuan Klinis Tabel 1. Tabel Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Hasil Inspeksi statis lutut/kaki kanan Terdapat perban pada knee dextra Tampak hipotrofi pada otot tungkai dextra Tungkai dextra tidak tampak semifleksi Inspeksi dinamis Pasien datang dengan menggunakan 2 kruk Pola jalan terkunci, terlihat pelvic lebih condong ke kiri Palpasi Edema : ( ) pada ankle dextra Suhu : Tidak dilakukan, karena ada perban pada knee dextra Kontur kulit : Tidak dilakukan, karena ada perban pada knee dextra Tenderness : Tidak dilakukan, karena ada perban pada knee dextra Tes Orientasi Pasien diminta untuk melakukan gerakan dudukberidiri, berdiri-duduk, dan berjalan : Pasien mampu tapi bertumpu pada tungkai sinistra Pemeriksaan fungsi gerak dasar Limitasi pada gerakan fleksi knee dextra. (PFGD) Sumber : Data primer, 2024 Adapun beberapa tes spesifik yang dilakukan, yaitu : Tabel 2. Tabel Pemeriksaan Spesifik No. Pemeriksaan Spesifik Hasil VAS (Visual Analog Scal. Nyeri diam : 0 Nyeri tekan : 0 Nyeri gerak : 5 . asa tertarik pada luka diawal geraka. MMT (Manual Muscle Tes. Fleksi : 3 Ekstensi : 3 ROM knee joint Dextra : S. -6A. Sinistra : S. -7A. Sirkumferensia otot quadriceps Selisih middle otot paha dextra lebih kecil 6 cm . enggunakan pita penguku. dibanding paha sinistra, sedangkan pada lower paha dextra lebih kecil 1,5 cm dibanding paha sinsitra. Sumber : Data Primer, 2024 Manajemen Intervensi Fisioterapi Diagnosis fisioterapi berdasarkan ICF (International Classification of Functioning. Disability, and Healt. Body Structure and Function - Weakness pada m. gastrocnemius, m. hamstring, m. quadriceps, dan m. gluteus dextra. - Hipotrofi m. gastrocnemius, m. hamstring, m. quadriceps dextra. Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 Limitasi ROM knee dextra. Oedem pada ankle dextra. Rekonstruksi anterior cruciate ligament. Activity Limitation Terdapat gangguan ADL walking, praying, dan toileting Participation Restriction - Terbatas dalam bersosialisasi dengan teman dan keluarga - Terbatas dalam menjalankan hobi bermain sepak bola - Terbatas pada aktivitas sekolah Adapun permasalahan fisioterapi yang dapat muncul yaitu problem primer berupa limitasi ROM pada knee dextra. problem sekunder yaitu oedem pada ankle dextra dan weakness pada m. quadricep dan m. hamstring, m. gastrocnemius, dan m. gluteus dextra. dan problem kompleks yaitu limitasi ADL . erjalan, ibadah, dan penggunaan toile. serta return to sport. Tujuan fisioterapi terdiri dari tujuan jangka pendek yaitu meningkatkan ROM, menurunkan bengkak pada ankle dextra, dan meningkatkan kekuatan otot. Sedangkan tujuan jangka panjang yaitu mengembalikan fungsi ADL, pekerjaan, rekreasi, serta return to sport. Adapun program fisioterapi yang diberikan, sebagai berikut : Tabel 3. Program Fisioterapi No. Problem FT Modalitas FT Dosis FT Oedem Elevasi F : Setiap fisioterapi I : 2 set T : Elevasi T : 4 menit NMES F : Setiap fisioterapi I : 45 Hz T : co planar T : 15 menit Muscle Weakness Exercise Therapy F : Setiap fisioterapi I : 4 rep T : SLR excercise T : 5 menit Limitasi ROM Exercise Therapy F : Setiap fisioterapi I : 2 set T : pasif knee flexion T : 5 menit Sumber : Data Primer, 2024 Pada pertemuan ke 27 berdasarkan kriteria klinis pasien telah memasuki fase ke 3 sehingga dalam memberikan penanganan berfokus pada peningkatan kekuatan otot dan mulai melakukan latihan agility. Tabel 4. Program Fisioterapi Pertemuan 27 Problem FT Modalitas FT Dosis FT F : Setiap fisioterapi I : Level 1,2,3,4,5 Stationary Bike T : Static bicycle T : 4 menit Meningkatkan F : Setiap fisioterapi Kekuatan Otot I : 10 HIT, 4 Rep, 8 kg Exercise Therapy T : squat isometrik T : 5 menit F : Setiap fisioterapi Exercise Therapy I : 10 hit, 2 rep, 10kg Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 Agility T : squat excercise T : 5 menit F : Setiap fisioterapi I : 10 hit 3 set Exercise Therapy T : leg press . T : 5 menit F : Setiap fisioterapi I : 8 kg,8 hit, 2 rep Exercise Therapy T : calf raise T : 5 menit F : Setiap fisioterapi I : 6 kg, 6 hit, 2 set Exercise Therapy T : single half raise T : 5 menit F : Setiap fisioterapi I : 8 hit,2 rep, 8 kg Exercise Therapy T : step up exercise T : 5 menit F : Setiap fisioterapi I : 2 rep Exercise Therapy T : skipping/agility exercise T : 5 menit Sumber : Data Primer, 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Rehabilitasi pasca rekonstruksi ACL dimulai sehari setelah dilakukan rekonstruksi. Berdasarkan Advance Continuing Education Institute, rehabilitasi rekonstruksi ACL terbagi menjadi 5 fase yang setiap fase memiliki goals yang berbeda. Fase 1 dimulai 0-2 minggu setelah operasi, dengan tujuan melindungi rekonstruksi ACL, mengurangi oedem, memulihkan dan mempertahankan fill ektensi, mengaktifkan otot paha depan, ambulasi mandiri dan edukasi pasien dan melindungi tempat pengambilan graft. Fase 2 dimulai pada minggu ke 2-8 dengan tujuan mengontrol penuh terhadap kekuatan ekternal dan melindungi graft, memlihara tulang rawanartikular, mengurangi pembengkakan, dan mencegah atrofi otot quadriceps. Fase 3 dimulai pada minggu ke 10 - minggu 16 yang bertujuan untuk penguatan maksimal pada paha depan/ekstremitas bawah dan melindungi sendi patellofemoral. Fase 4 dimula di pada bulan 45yang bertujuan untuk pengembangan strength, power, endurance, serta mulai kembali secara bertahap ke aktivitas fungsional. Fase 5 yaitu dari bulan 6 Ae 7 dengan tujuan mencapai kekuatan otot dan daya tahan maksimal, aktivitas return to sport dan melanjutkan program strenghthening untuk satu tahun setelah operasi. Kondisi pasien telah memasuki 4 bulan setelah rekonstruksi dimana seharusnya telah masuk ke fase 4 namun karena adanya komplikasi dari arthofibrosis sehingga pasien terhenti di fase ke 2 yang menyebabkan ROM tidak mengalami peningkatan sehingga dilakukan debridement. Pada pasien rekonstruksi ACL akan timbul nyeri, oedema, hipotrofi otot, keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS) dan penurunan kekuatan otot, sehingga berdampak pada kesulitan dalam melakukan aktivitas fungsional 6. Selain itu, gangguan ADL serta kebugaran fisik pasien seperti fleksibility, power, balance dan stability serta agility dan endurance juga dapat terganggu 7. Penanganan fisioterapi pada kasus post op Acl sangat penting untuk mencegah terjadinya berbagai masalah gangguan gerak dan fungsi gerak yang akan muncul setelah melakukan rekonstruksi dengan tetap memperhatikan protokol rehabilitasi yang ada. Pelaksanaan fisioterapi dalam penanganan cedera lutut pada pasien pasca rekonstruksi ACL bertujuan untuk mengurangi nyeri Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 dan bengkak, mencegah atrophy otot, mengembalikan dan meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan stabilitas lutut, dan memulihkan keyakinan pasien yang mengalami cedera ACL. Lutut kemungkinan besar akan terasa sangat sakit dan bengkak setelah operasi, ini adalah bagian dari proses penyembuhan normal. Hal ini mungkin berlanjut selama beberapa minggu dan dapat memengaruhi tidur, pergerakan dan berjalan. Rasa sakit dapat menyebabkan kelemahan, penghambatan otot, dan kompensasi gerakan yang tidak membantu. Sedangkan bengkak dapat memengaruhi kemampuan untuk mendapatkan kembali pergerakan penuh dari lutut dan memengaruhi aktivasi otot yang dapat memperlambat pemulihan 8. Kekakuan pada lutut juga dapat terjadi. Lutut mungkin mengalami kesulitan untuk melakukan ekstensi atau fleksi penuh. Posisi elevasi kaki merupakan pengaturn posisi dimana anggota gerak bagian bawah diatur pada posisi lebih tinggi dari jantung sehingga darah balik ke jantung akan meningkat dan penumpukan darah pada anggota gerak bawah tidak terjadi. Penatalaksanaan edema berupa elevasi 30A menggunakan gravitasi untuk meningkatkan aliran vena dan limfatik dari kaki. Vena perifer dan tekanan arteri dipengaruhi oleh gravitasi. Pembuluh darah yang lebih tinggi dari jantung, gravitasi akan meningkatkan dan menurunkan tekanan perifer sehingga mengurangi edema 10. Range Of Motion exercise adalah latihan yang menggunakan prinsip dasar dengan menggerakan sendi yang kaku berfungsi untuk memperbaiki tingkat kemampuan mobilitas sendi dan jaringan lunak sehingga mampu meningkatkan tonus otot dan masa otot untuk meminimalkan Latihan ROM dapat dilakukan dengan gerakan aktif maupun pasif. Kontraindikasi ROM exercise dilakukan dengan memperhatikan ketepatan sehingga dapat mencegah timbulnya Latihan aktif dan pasif sebagai pencegahan terjadinya disfungsi pada sendi, melindungi lingkup gerak sendi dan melancarkan aliran darah secara maksimal yang berdampak pada berkurangnya nyeri pada pasien 12. Salah satu latihan ROM yaitu dilakukan yaitu heel slide Gerakan ini dilakukan dengan posisi pasien tidur terlentang dan tungkai lurus kemudian gerakan fleksi secara perlahan-lahan sampai batas toleransi pasien . asa nyer. Pasca rekonstruksi ACL akan menyebabkan penurunan kekuatan otot, pemberian stimulasi pada otot yang lemah dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan otot paha depan dibandingkan dengan prosedur rehabiitasi konvenional saja. NMES dapat bekerja secara langsung merekrut neuron motoric untuk menghasilkan kekuatan otot quadriceps lebih awal dalam masa rehabilitasi akan memberikan manfaat bagi pasien yaitu salah satunya menghindari atrofi otot dan penghambatan fungsi otot paha depan serta memberikan rehabilitasi yang efektif 13. Selain itum pemberian terapi latihan berupa stengthening exercise dengan prinsip mengaktivasi dan mengkontraksikan otot menyebabkan peningkatkan kekuatan otot anggota gerak bawah di sekitar area cedera yang sebelumnya tidak aktif atau melemah pasca rekonstruksi khususnya pada kelompok otot quadriceps yang menyebabkan ketidakstabilan fungsional dan perubahan fisiologis seperti hilangnya umpan balik dari mekanoreseptor ACL, atrofi serat otot dan defisit aktivasi Latihan strengthening sedini mungkin dilakukan pasca rekonstruksi ACL. Latihan strengthening mengaktifkan kerja otot dan memperlancar metabolisme sehingga dapat memperlancar aliran darah dengan membawa nutrisi ke seluruh tubuh. Tentunya hal ini termasuk ke otot sehingga beregenerasi dengan sempurna. Terpenuhi kebutuhan energi pada otot mampu meningkatkan kekuatan otot di sekitar sendi lutut. Hal ini dapat melatih kelompok otot quadriceps dan otot di sekitar sendi lutut yang mengalami kelemahan paska rekonstruksi ACL Pada pertemuan ke 27 berdasarkan kriteria klinis pasien telah memasuki fase ke 3 sehingga dalam memberikan penanganan berfokus pada peningkatan kekuatan otot dan mulai melakukan latihan agility. Latihan penguatan otot sangatlah penting untuk aktivasi otot yang lemah pasca rekonstruksi ACL. Latihan strenghtrhening dapat menyebabkan peningkatan jumlah serabut otot . yosin dan filament aktin yang penting dalam proses kontraksi oto. dan sarkomer sehingga dapat terjadi pembentukan serabut otot baru yang dapat meningkat 14. Latihan strenghthening yang dapat diberikan yaitu static bicycle, squat isometrik, squat exercise, leg press, calf raise, single calf raise, step up exercise. Latihan agility penting untuk rehabilitasi ACL karena dapat meningkatan kontrol neuromuscular, keseimbangan, dan kinerja fungsional dan pada akhirnya Manajemen Fisioterapi pada Rekonstruksi ACL : Laporan Kasus | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 199 - 206 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/411 dapat meningkatkan performa atlet 15. Agilty merupakan komponen penting dalam sepakbola karena dengan agilty seorang atllet mampu melakukan perubahan arah dan kecepatan yang benar dan tepat pada saat menggiring bola 16. No. Problem FT Nyeri (VAS) Limitasi ROM (Goniomete. Tabel 5. Evaluasi Fisioterapi Pengukuran Awal Pengukuran Akhir Tanggal Hasil Tanggal Hasil Nyeri diam : Nyeri diam : Nyeri tekan : Nyeri tekan : 24/2/24 24/5/24 Nyeri gerak : Nyeri gerak : 24/2/24 -6 . 24/5/24 -7 . Hipotrofi . 24/2/24 Middle : 6 cm Lower : 1,5 24/5/24 Middle : 3 cm Lower : 2 cm Oedem 12/3 /24 Selisih 2 cm 24/5/24 Selisih 0,2 cm Ket Adanya Adanya ROM Adanya massa otot Adanya Sumber : Data Primer, 2024 Berdasarkan evaluasi pasien, jenis dan intensitas program latihan yang diberikan mulai bertambah seiring dengan kondisi pasien berdasarkan protocol. Setelah pemberian intervensi fisioterapi terdapat perubahan positif pada nyeri, limitasi ROM. Oedem dan massa otot. SIMPULAN DAN SARAN Penatalaksanaan fisioterapi pasca ACLR merupakan hal yang penting bagi pasien untuk dapat kembali ke aktivitas sebelumnya dan bagi atlet dapat membantu agar kembali ke aktivitas Berdasarkan hasil diatas, setelah 27 sesi fisioterapi terdapat perubahan positif pada nyeri, limitasi ROM, oedem dan massa otot. Penanganan fisioterapi pada kondisi pasca ACLR harus memperhatikan fase rehabilitasi pasien berdasarkan protokol yang telah ditetapkan. DAFTAR PUSTAKA