Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 STUDI DESKRIPTIF: PRURITUS UREMIK PADA PASIEN PENYAKIT DEGENERATIF DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE Tahratul Yovalwan1*. Wahyudi Rahmadani2 1,2 Program Studi D3 Keperawatan. Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia *Koresponden: Tahratul Yovalwan. Alamat: Kota Bengkulu. Bengkulu. Email: tyovalwan@unib. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 28 agust Abstrak Latar Belakang: Pruritus uremik adalah salah satu gejala yang paling sering muncul dan sangat mengganggu pada pasien penyakit ginjal kronik (CKD) yang menjalani terapi hemodialisis. Gejala ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup penderita, seperti terganggunya pola tidur, kestabilan emosional, serta hubungan sosial. Selain itu, pruritus uremik kerap sulit diatasi dan memiliki prevalensi yang tinggi, terutama pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal yang disertai akumulasi zat-zat toksik seperti ureum. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kejadian pruritus uremik pada pasien degeneratif dengan penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel terdiri dari 48 pasien CKD yang menjalani hemodialisis di salah satu rumah sakit daerah di Kota Bengkulu, yang dipilih menggunakan teknik purposive Data dikumpulkan menggunakan kuesioner 12-item pruritus severity scale dan dianalisis secara univariat menggunakan bantuan SPSS versi 25. Hasil: Sebagian besar responden adalah laki-laki . ,3%) dan tidak bekerja . ,9%). Tingkat pendidikan mayoritas adalah SMA/MA . ,8%). Berdasarkan tingkat keparahan pruritus, sebanyak 45,8% responden mengalami pruritus berat, 41,7% sedang, dan 12,5% ringan. Kesimpulan: : Pruritus uremik merupakan salah satu gejala yang umum terjadi pada pasien penyakit ginjal kronik (CKD) yang menjalani hemodialisis, dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Sebagian besar pasien mengalami pruritus dengan kategori sedang hingga berat, yang dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup. Temuan ini diharapkan menjadi dasar dalam perencanaan intervensi keperawatan yang holistik dan menyeluruh Kata Kunci: Chronic Kidney Disease. Hemodialisis. Degeneratif. Pruritus Uremik dari 60 ml/menit/1,73mA selama periode lebih dari tiga Latar Belakang Penyakit ginjal kronis, yang juga dikenal sebagai Chronic Kidney Disease (CKD), bulan, disertai dengan akumulasi zat toksik uremia dalam tubuh (Fauziah & Soelistyowati, 2. penurunan fungsi ginjal secara bertahap sehingga tidak Penyakit ginjal kronis adalah penyakit progresif yang mampu lagi menjaga keseimbangan metabolisme, cairan, terjadi pada lebih dari 10% populasi dunia yang berjumlah dan elektrolit tubuh. Gangguan ini ditandai dengan lebih dari 800 juta. Laporan Riskesdas . menunjukkan penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) menjadi kurang bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia sebesar Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 0,38% atau 713. 783 kasus. Data dari Perhimpunan Nefrologi Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti tertarik Indonesia (PERNEFRI) menyatakan bahwa prevalensi untuk mengeksplorasi gambaran pruritus uremik pada penyakit ginjal cukup tinggi yaitu mencapai 30,7 Juta. Data pasien penyakit degeneratif dengan gagal ginjal kronik dari Dialisis Outcomes and Practice Patterns Study (DOPPS), (CKD) yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini bertujuan yaitu study observational mengungkapkan bahwa 67% dari menyediakan informasi sebagai dasar pelaksanaan upaya 264 pasien yang menjalani hemodialisis mengalami promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif pada pasien masalah yaitu pruritus kronis (Kovesdy, 2022. Locatelli & Informasi yang dikumpulkan diharapkan dapat Legat, 2021. Nurmansyah & Arofiati, 2. menjadi pijakan bagi perawat dalam memberikan asuhan Kadar ureum yang meningkat pada pasien penyakit keperawatan yang menyeluruh dan holistik. Oleh karena itu, ginjal kronik dapat memicu terjadinya sindrom uremik, yang peneliti memilih untuk melakukan studi deskriptif mengenai ditandai dengan gangguan biokimia sistemik dan berujung AuPruritus Uremik pada Pasien Degeneratif dengan Chronic pada munculnya pruritus. Kondisi gatal ini berkaitan dengan Kidney DiseaseAy. tingginya kadar histamin dalam tubuh penderita gagal ginjal Peningkatan Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran merangsang reseptor H1 pada serabut saraf C tertentu, kejadian pruritus uremik pada pasien penyakit degeneratif sehingga memicu timbulnya gejala pruritus uremik (Harlim dengan chronic kidney disease & Yogyartono, 2012. Roswati, 2. Gangguan integritas kulit merupakan masalah yang mengganggu pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani Gatal-gatal atau pruritus merupakan salah satu gejala yang paling sering muncul pada penderita penyakit ginjal kronis. Diperkirakan sekitar 15Ae49% pasien dengan kondisi ini mengalami pruritus, dan sebagian besar dari mereka, yaitu sekitar 50Ae90%, menjalani terapi cuci darah Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Analisa statistik deskriptif adalah statistika yang bertugas mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data yang kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi (Hermawati & Mulyaningsih, 2. (Saodah et al. , 2. Pruritus uremik menjadi salah satu permasalahan signifikan yang sering dialami oleh pasien yang menjalani Kondisi ini memberikan dampak buruk terhadap ketidakstabilan emosi, dan menurunnya interaksi sosial. Selain itu, pruritus uremik juga berkaitan dengan kerusakan pada kulit serta risiko infeksi. Hampir 90% pasien dialisis Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh pasien dengan penyakit ginjal kronik (CKD) yang menjalani hemodialisis di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah di Kota Bengkulu. Sampel yang digunakan dalam studi ini berjumlah 48 responden, yang dipilih menggunakan metode purposive diketahui mengalami kondisi ini, yang turut berkontribusi terhadap meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Berdasarkan data dari International Dialysis Outcomes and Practice Patterns Study (DOPPS) yang melibatkan 18. pasien hemodialisis, ditemukan bahwa risiko kematian akibat pruritus uremik melebihi 17%. Umumnya, kondisi ini sulit ditangani karena sering kali tidak memberikan respons Instrumen Pengumpulan Data Pengumpulan Instrumen penilaian pruritus yang digunakan dalam bentuk kuisioner dengan jumlah 12 pernyataan yaitu dikenal dengan kuisioner 12 item pruritus severity scale yang dilakukan uji reabilitas oleh Baharvand et al . dengan yang baik terhadap pengobatan (Ozen et al. , 2. Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 menggunakan bahasa inggris nilai Cronbach Alpha 0,88 dan domain: intensitas pruritus . pertanyaan: P9. , luas Tabel 4. 3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Variabel Frekuensi Persentase Bekerja Tidak Bekerja pruritus . pertanyaan: P. , frekuensi dan durasi pruritus . Berdasarkan data di atas menunjukkan dari 48 responden pertanyaan: P. , dampak pruritus pada aktivitas sehari-hari dan suasana hati . pertanyaan: P2AeP. , serta penilaian pekerjaan dan 35 orang atau 72. 9% responden dengan tidak mengenai menggaruk sebagai respons terhadap pruritus . memiliki pekerjaan. dinyatakan reabilitas. Item-item tersebut dikelompokkan ke dalam lima orang atau 1% responden memiliki pertanyaan: Q6AeQ8 dan . Skor total dapat berkisar dari 3 . ruritus ringa. hingga 22 . ruritus bera. Tabel 4. 4 Distribusi Deskriptif Pruritus Analisa Data Penelitian menyampaikan satu karakteristik variabel yang diteliti yang kemudian akan diperoleh statistiknya dibantu dengan program SPSS versi 25 (Sitorus & Rahmawati, 2. Variabel Pruritus Ringan Sedang Berat Frekuensi Persentase Berdasarkan data di atas menunjukkan dari 48 responden orang atau 5% responden mengalami pruritus ringan, 20 orang atau 41. 7% responden mengalami Hasil Penelitian pruritus sedang dan 22 orang atau 45. 8% responden Tabel 4. 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin mengalami pruritus berat. Variabel Frekuensi Persentase Laki-laki Perempuan Berdasarkan data di atas menunjukkan dari 48 responden Pembahasan terdapat 28 orang atau 58. 3% responden dengan jenis penelitian ini laki-laki 28 . 3%) dan perempuan 20 kelamin laki-laki, dan 20 orang atau 41. 7% responden . 7%) responden. Hal ini terkait faktor lainnya yang dengan jenis kelamin perempuan. mampu meningkatkan eksaserbasi pruritus uremik pada Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin pada laki-laki yaitu laki-laki memiliki tingkat aktivitas fisik yang Tabel 4. 2 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Variabel Frekuensi Persentase SD/MI SMP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi Berdasarkan data di atas menunjukkan dari 48 responden orang atau tinggi, yang menyebabkan produksi keringat lebih banyak dibandingkan wanita, serta kebiasaan merawat kulit rendah juga merupakan alasan efek tinggi pruritus uremik pada pria karena pruritus uremik lebih mudah terjadi pada pria dengan kulit kering (Fauziah & Soelistyowati, 2. Mayoritas pendidikan responden yaitu tamat 7% responden dengan SMA/MA sebesar 21 . 8%) responden. Tingkat pendidikan berpendidikan SD/MI, 3 orang atau 6. 3% responden dengan seseorang dapat memengaruhi sikap dan perilakunya. pendidikan SMP/MTS, 21 orang atau 43. 8% responden Individu dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung berpendidikan SMA/MA dan 16 orang atau 33. lebih mudah menerima dan memahami informasi, sehingga berpendidikan perguruan tinggi. lebih mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendidikan juga mendorong seseorang untuk lebih proaktif dalam mencari solusi terkait perawatan dan pengobatan penyakit yang dialaminya (Hermawati & Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Mulyaningsih, 2. menjalani terapi hemodialisa. Sehingga dapat disimpulkan Responden pada penelitian ini mayoritas tidak bekerja sebanyak 35 . 9%). Pasien dengan gagal ginjal Kadar ureum yang melebihi batas normal yaitu 7- dipersepsikan sebagai individu yang kurang mampu untuk 30 mg/dL atau 2,5-10,7 mmol/L menjadi faktor pencetus melakukan aktivitas lebih atau menyampaikan pendapat. Hal terjadinya pruritus uremik. Urea merupakan substansia yang ini dapat menimbulkan perasaan tidak berharga pada diri tidak bemuatan . , tidak terikat dalam plasma, larut pasien, yang kemudian berdampak pada kesulitan dalam dalam air, mudah berdifusi di antara kompartemen air, mempertahankan pekerjaan. Akibatnya, pasien rentan mudah didialisis, dan tersebar dalam cairan tubuh. Selain toksisitas yang rendah, urea merupakan petanda yang baik uremik adalah ureum. bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pruritus (Hermawati Mulyaningsih, 2. pada keadaan uremik karena merupakan degradasi produk Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 48 Uremia merupakan penyebab metabolik pruritus responden 22 responden atau 45. 8% mengalami pruritus yang paling sering terjadi pada pruritus uremik. Keluhan Pruritus uremik merupakan salah satu gejala klinis pruritus diperkirakan berhubungan dengan pelepasan yang umum terjadi pada pasien dengan gagal ginjal kronis. histamin dari sel mast di kulit. Histamin dilepaskan oleh sel Berdasarkan hasil studi observasional dari Dialysis Outcomes mast dan langsung merangsang reseptor H1 pada serat C and Practice Patterns Study (DOPPS), tercatat bahwa Jumlah sel mast maupun basofil meningkat yang sebanyak 67% dari 23. 264 pasien hemodialisis mengalami akhirnya mengakibatkan pruritus (Harlim & Yogyartono, pruritus kronis. Gatal-gatal ini merupakan keluhan yang Pardede, 2010. Roswati, 2. paling sering muncul pada penderita penyakit ginjal kronis. Lama waktu seseorang menjalani hemodialisis Diperkirakan sekitar 15Ae49% pasien dengan kondisi ini memiliki kaitan erat dengan munculnya pruritus uremik. mengalami pruritus, dan mayoritas di antaranya, yaitu Kondisi ini memburuk seiring dengan menurunnya fungsi sekitar 50Ae90%, menjalani terapi dialisis secara rutin Secara teoritis, pruritus uremik lebih sering dialami (Kovesdy, 2022. Locatelli & Legat, 2021. Saodah et al. , 2. oleh pasien yang telah menjalani dialisis dalam jangka Pruritus uremik merupakan masalah yang terjadi pada kulit Penelitian menunjukkan bahwa semakin lama berupa sensasi yang dapat mengiritasi kulit sehingga dapat terapi dialisis berlangsung, maka gejala pruritus uremik mempengaruhi kualitas hidup (Daraghmeh et al. , 2. akan menjadi semakin berat, apalagi jika disertai dengan Pada pasien yang mengalami pruritus dampak yang penderita penyakit ginjal kronis dianjurkan untuk disiplin menjalani pola makan sesuai anjuran medis guna menjaga kegelisahan, rasa gatal pada sebagian atau seluruh tubuh fungsi ginjal dan mencegah perburukan pruritus uremik . iasanya pada bagian punggung, wajah dan lenga. , (Yovalwan & Arofiati, 2. kerusakan ginjal yang terus memburuk. Oleh sebab itu, menimbulkan ekoriasi, krusta, impetigo dan prurigo nodularis (Cheng & Wong, 2. Kesimpulan Penelitian Zhao et al . menyebutkan bahwa Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dengan pruritus uremik yaitu diperoleh nilai pruritus uremik merupakan gejala umum yang dialami oleh . <0. yang artinya ada hubungan kadar uream yang pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, tinggi dengan pruritus uremik. Hasil analisis multivariat dengan mayoritas pasien mengalami tingkat keparahan menunjukkan bahwa nilai signifikan paling berpengaruh sedang hingga berat. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai terhadap pruritus urmik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor seperti kadar ureum yang tinggi, durasi hemodialisis, ureum dapat mempengaruhi pruritus pada pasien yang Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 serta faktor individu seperti jenis kelamin, pendidikan, dan status pekerjaan. Pruritus uremik berdampak signifikan terhadap kenyamanan dan kualitas hidup pasien, sehingga diperlukan perhatian serius dalam aspek promotif dan Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan edukasi tentang perawatan kulit dan pengelolaan pruritus, serta melakukan pemantauan kadar ureum secara berkala. Pasien dan keluarga juga disarankan untuk patuh terhadap diet yang dianjurkan serta menjaga kebersihan kulit guna mengurangi risiko keparahan gejala. Penelitian lanjutan dengan pendekatan analitik sangat diperlukan untuk memperdalam pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pruritus uremik serta Referensi