PENETASAN TELUR AYAM DALAM INKUBATOR DIANALISIS BERDASARKAN PERPINDAHAN PANAS YANG TERJADI KETIKA BOLA LAMPU DIGUNAKAN SEBAGAI SUMBER PANAS THE HATCHING PROCESS OF CHICKEN EGGS IN AN INCUBATOR IS ANALYZED IN TERMS OF HEAT TRANSFER OCCURRING WHEN A LIGHT BULB IS EMPLOYED AS THE HEAT SOURCE Ditya Riswandha1*. Rahma Eka Kartika2. Ahmad Syuhada3, & Razali3 Program Studi Teknik Mesin. Sekolah Tinggi Teknik Iskandar Thani. Banda Aceh Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Negeri Surakarta. Jawa Tengah Program Studi Teknik Mesin. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh dityariswandha@gmail. ABSTRAK Salah satu usaha kegiatan yang disukai oleh mayarakat desa adalah usaha peternakan unggas. Hal ini terjadi karena masa panennya cepat dan pasarnya pun mudah, terutama untuk konsumsi masyarakat pada Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Selama ini bibit unggas di daerah Provinsi Aceh diperoleh sebagian kecil dari masyarat Aceh sendiri dan selebihnya dipasok dari Sumatera Utara. Melihat permasalahan tersebut penelitian ini ingin mendapatkan suatu sistem pemanas inkubator bertingkat yang memperoleh temperatur seragam untuk meningkatkan efisiensi pengetasan yang lebih baik. Pengujian dilakukan dengan melihat pengukuran distribusi temperatur . oC - 38oC) pada titik-titik tertentu yang melalui saluran uji adalah hal yang utama Variasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah jumlah bola lampu pijar . ,6,8,10, dan . yang berbeda juga adanya atau tidak plat seng dibawah lampu dengan daya yang sama . Wat. Inkubator akan menyala pada temperatur 37oC dan akan mati secara otomatis pada temperatur 38oC dikarenakan adanya pengaruh dari thermostat. Setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil temperatur pengetasan sebesar 0,9oC pada 4 . bola lampu dengan tidak menggunakan plat seng dibawah lampu dan sebesar 0,8oC pada 4 . bola lampu dengan menggunakan plat seng dibawah lampu. Tetapi, ada perbandingan yang kecil senilai 0,4oC pada 12 . ua bela. bola lampu dengan tidak menggunakan plat seng dibawah lampu dan sebesar 0,3oC pada 12 . ua bela. bola lampu dengan menggunakan plat seng dibawah Juga hasil pengetasan senilai 96 % dengan pengaruh adanya atau tidak plat seng dibawah lampu pijar. Perihal ini ialah proses perpindahan panas serta efisiensi dari pengetasan yang baik. Kata kunci: Inkubator telur. Temperatur. Lampu pijar. ABSTRACT One of the livelihood activities favored by rural communities is poultry farming. This preference arises from its short production cycle and easily accessible market, particularly for consumption in Nanggroe Aceh Darussalam Province. date, poultry stock in Aceh Province has been partly supplied by local farmers, while the majority has been imported from North Sumatra. In response to this issue, the present study aims to develop a multi-level incubator heating system capable of achieving uniform temperature distribution to improve hatching Testing was carried out by measuring temperature distribution . ACAe38AC) at specific points along the test channel, which served as the primary focus. The variations examined in this study included the number of incandescent bulbs . , 6, 8, 10, and . and the presence or absence of a zinc plate beneath the bulbs, all operating at the same power rating . Watt. The incubator was designed to switch on at 37AC and automatically switch off at 38AC under thermostat control. Experimental results indicated a hatching temperature variation of 0. 9AC with four bulbs without a zinc plate, and 0. 8AC with four bulbs with a zinc plate. smaller variation was observed with twelve bulbs, amounting to 0. 4AC without a zinc plate and 0. 3AC with a zinc plate. Furthermore, the hatching success rate reached 96%, regardless of the presence of a zinc plate beneath the incandescent These findings emphasize the role of heat transfer processes and the efficiency of the improved hatching system Keywords: Egg Incubator. Temperature. Lamp Incandescent PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu usaha kegiatan yang disukai oleh mayarakat desa adalah usaha peternakan unggas. Hal ini terjadi karena masa panennya cepat dan pasarnya pun mudah, terutama untuk konsumsi masyarakat pada Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hal lain sebagai bertambahnya jumlah penduduk Aceh setiap tahunnya maka bertambah tinggi permintaan akan kebutuhan protein. protein dapat diperoleh dari berbagai sumber salah satunya dari daging unggas dan telur unggas. Oleh karena itu, melihat masalah yang ada pada kehidupan seharihari untuk mempermudah peternak dalam mengembangbiakkan unggas peliharaannya maka peneliti tertarik AuAnalisis Perpindahan PanasAy penetasan telur tersebut dengan menggunakan komponen utama yakni lampu pijar dan sensor temperatur . ,2,3,4,. Adanya dihadapi dalam menetaskan bibit melalui indukan secara alami, juga bibit yang bergantung dari pengadaan bibit Unggas Sumatera Utara (Sumu. , dan penelitian sebelumnya menunjukkan terjadinya persentase keberhasilan sekitar 80%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan suatu sistem pemanas inkubator temperature seragam meningkatkan efisiensi pengetasan yang lebih baik. Manfaat dari penelitian ini yaitu dengan adanya alat penetas telur ini maka tingkat pengetasan yang lebih baik dari sebelumnya, dikarenakan analisa temperatur yang seragam sehingga terjadinya pengetasan yang baik serta ekonomis dalam inkubator pada penelitian sebelumnya serta dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam hal usaha peternakan jenis unggas. Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah dengan adanya menggunakan mesin penetas telur yang beredar dipasaran masih kurang optimal juga mesin penetas yang menggunakan heater sebagai pemanas masih kurang merata pada ruangan inkubator. Begitupun dengan mesin penetas konvensional yang mana temperatur ruang hanya bergantung pada panas yang dihasilkan oleh lampu pijar tersebut . ,7,8,9,. Sehingga tidak ada pengaturan temperatur agar tetap stabil pada kondisi yang seharusnya. Dengan Alat inkubator penetas telur yang sama namun hanya perlu dikaji distribusi temperatur untuk menetukan tingkat efisiensi pengetasan yang lebih pada alat METODE PENELITIAN Bahan dan Metode Sebagai Langkah awal untuk pengujian ini dilakukan persiapan peralatan dan instrumentasi yang Termometer Termometer mengukur temperatur pada ruang penetasan yang diletakkan pada rak telur dengan spesifikasi Original HTC2 Digital Temperature Humidity Meter Clock Calender - HTC-1. Alat ukur waktu Alat ukur waktu atau stopwatch berfungsi untuk mengukur waktu pada saat pengujian dengan spesifikasi digital Stopwatch Genggam LCD Strap Ae Silver. Thermostat Digital Thermostat digital berfungsi untuk mengontrol jalannya arus listrik pada inkubator agar selalu dalam kisaran temperatur tertentu. Dalam proses kerjanya nilai temperatur akan bergerak naik turun pada rentang waktu tertentu dengan spesifikasi STC- 1000 Temperature Digital Controller Thermostat Heating and Cooling - 12VDC. Setelah semuanya peralatan dan instrumentasi sudah siap maka unit alat kerja ini dicoba untuk kerjanya tanpa menggunakan beban. Merancang Inkubator Dalam merancang sebuah inkubator diperlukan dimensi atau ukuran dan penempatan sumber pemanas dengan tujuan agar hasil didapatkan hasil persentase yang efektif untuk penetasan telur, inkubator yang dirancang dengan model rak telur bertingkat dengan kapasitas 400 butir telur unggas, dengan kapasitas 4 wadah telur dan pada 1 wadah telur dapat menampung 100 butir Hasil rancangan daripada inkubator tersebut terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 1. Tampak Atas Peralatan Penelitian Gambar 2. Tampak Depan Peralatan Penelitian Keterangan Gambar : Ventilasi Udara Rak Telur Wadah Air Lampu Pijar / Pemanas Ventilasi Udara Isolasi Thermal Gambar 3. Tampak Samping Peralatan Penelitian Pada penelitian ini digunakan satu unit inkubator telur dengan lampu pijar, yang telah dilengkapi dengan satu unit thermostat digital yang berfungsi untuk mengukur temperatur ruang inkubator. Pembuatan Inkubator Berdasarkan inkubator maka ruang penetasan di buat dari lembaran tripleks dengan tebal 3 mm dan di isolasi menjadi 5 cm dengan serbuk kayu halus dengan tujuan agar panas dalam ruang inkubator tetap terjaga, dengan ukuran Panjang inkubator 120 cm dan tinggi 80 cm. Pada inkubator ini terdapat dua lubang ventilasi yaitu pada bagian atas inkubator, dengan adanya dua lubang ventilasi tersebut bertujuan supaya bertukarnya udara di dalam inkubator salaam proses inkubasi berlangsung. Maka untuk meletakkan telur diuatlah rak menggunakan jaring kawat agar perpindahan paans dari bawah maupun atas bisa sempurna, kemudian sumber pemanas yang digunakan lampu pijar yang variasi jumlahnya 4, 6, 8, 10 dan 12 dengan masing-masing berdaya 5-15 Watt dan total daya adalah 160 Watt, mencukupi kelembaban dalam ruang inkubator digunakan wadah penampungan air. Maka untuk pengontrol temperatur yang diinginkan digunakan thermostat Tata Cara Pengujian Dan Pengambilan Data Pada pengujian ini dilakukan penyetelan temperatur maksimal 38AeC dan temperatur minimal 37AeC pada inkubator pada inkubator dengan menggunakan thermostat, kemudian pada temperatur maksimal 38AeC pemanas akan mati dan hidup kembali pada temperatur minimal 37AeC selama waktu penetasan kelembaban diatur didalam inkubator 55% sampai 60%. Inkubator yang akan diambil data masih dalam keadaan kosong . anpa telu. Tahapan pertama di uji dengan pengukuran yaitu pada titik T1 (Termometer digital dibawah lampu pija. T2 (Termometer digital ditengah lampu pijar. T 3 (Termometer digital ditengah lampu pija. , dan T4 (Thermostat digital dibawah lampu pija. untuk setiap perlakuan . ariasi bola lampu pijar dan adanya pengaruh atau tidak plat seng dibawah lampu pija. Metode Pengujian Hari ke-1 Pada hari ke satu pengujian inkubator tanpa beban/telur. Bola lampu yang diperlukan diletakkan plat seng dibawah bola lampu dengan jarak 10 cm ataupun tidak dari bola lampu dalam inkubator guna untuk mengatur kestabilannya mempersiapkan telur yang akan Telur akan di tetas telur yang di buahi proses perkawinan induknya sendiri. Hari ke-2 sampai ke-4 Pada hari ke-2 sampai ke-4 hanya dilakukan pengamatan kestabilan diruang inkubator. Hari ke-5 Pada hari ke-5 melihat apakah telur tersebut telah dibuahi atau Hari ke-6 sampai ke-16 Pada hari ke-6 sampai ke-16 hanya dilakukan pengamatan terhadap kestabilan temperatur Hari ke-17 dan hari ke-18 Pada hari ke-17 dapat dilihat proses telur sudah mulai retak dan biasanya telur akan menetas sempurna setelah 12 HASIL DAN PEMBAHASAN Dari tabel 1 dan 2 diperoleh hal yang menunjukkan sudah pantas untuk dipakai sebagai bagian dari usaha ternak unggas atau lainnya. Sedangkan dari Gambar 4 diperoleh Perbandingan yang cukup besar terjadi di pengukuran ke-1 pada 4 bola lampu tanpa menggunakan plat seng dibawah lampu, sebesar 0,9AeC. Perihal ini sebab sensor yang dipakai oleh thermometer terletak di dalam perlengkapan. Tetapi, ada perbandingan yang kecil pada pengukuran ke-5 pada 12 bola lampu tanpa menggunakan plat seng dibawah lampu, senilai 0,4AeC. Perihal ini ialah efisiensi dari perpindahan panas yang baik. Disamping itu. Perbandingan yang cukup besar terjadi di pengukuran ke-1 pada 4 bola lampu dengan menggunakan plat seng dibawah lampu, sebesar 0,8AeC. Perihal ini sebab sensor yang dipakai oleh thermometer terletak di dalam perlengkapan. Tetapi, ada perbandingan yang kecil pada pengukuran ke-5 pada 12 bola lampu dengan menggunakan plat seng dibawah lampu, senilai 0,3AeC. Perihal ini ialah efisiensi dari perpindahan panas yang baik. Hasil dari Gambar 5 diperoleh menunjukkan Tidak terjadinya perbandingan dikarenakan beda temperatur yang tidak terlalu besar pengujian menghasilkan persentase penetasan senilai 96% dengan sejumlah 50 butir telur yang diinkubasi dan berhasil menetas sempurna sejumlah 48 butir telur. Tabel 1. Hasil Pengujian Antara Jumlah Bola Lampu Dan Beda Temperatur (AeC) Dengan Tanpa Atau Ada Menggunakan Plat Seng Dibawah Lampu Jumlah bola lampu Beda temperatur (AeC) tanpa menggunakan plat seng dibawah lampu Beda temperatur (AeC) dengan menggunakan plat seng Dibawah lampu pijar Tabel 2. Persentase Penetasan Telur Unggas Pada Bola Lampu Dengan Tanpa Atau Ada Menggunakan Plat Seng Dibawah Lampu Pengujian Tetas Jumlah Telur Jumlah Persentase Penetasan (%) Tanpa Plat seng dibawah Dengan Plat seng dibawah Pengujian antara jumlah bola lampu dan beda temperatur (AeC) dengan tanpa atau ada menggunakan plat seng dibawah lampu pijar Beda Temperatur (AeC) Jumlah Bola Lampu Gambar 4. Grafik Pengujian Antara Jumlah Bola Lampu Dan Beda Temperatur (AeC) Dengan Tanpa Atau Ada Menggunakan Plat Seng Dibawah Lampu Pijar Persentase Penetasan (%) Persentase penetasan (%) telur unggas dengan tanpa atau ada menggunakan plat seng dibawah lampu Metode Pengujian Gambar 5. Grafik Persentase Penetasan (%) Telur Unggas Dengan A t a u Tanpa Ada Menggunakan Plat Seng Dibawah Lampu Gambar 6. Melihat perkembangan embrio didalam telur Gambar 7. Penetasan dari pengaruh plat seng dibawah lampu pijar Gambar 8. Penetasan dari pengaruh tanpa plat seng dibawah lampu pijar menggunakan plat seng dibawah Perihal ini ialah efisiensi dari perpindahan panas yang baik. Hasil lainnya pada penelitian ini sebesar 96% pada bola lampu dengan tidak menggunakan plat seng dibawah lampu dengan jumlah telur 50 dan yang berhasil menetas sempurna sejumlah 48 butir telur dan sebesar 96% pada bola lampu dengan tanpa menggunakan plat seng dibawah lampu yang dilakukan proses inkubasi sejumlah telur 50 serta menetas sempurna sejumlah 48 butir Perihal ini ialah pengetasan dari perpindahan panas yang baik. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dengan judul Penetasan Telur Dalam Inkubator Dianalisis Berdasarkan Perpindahan Panas Yang Terjadi Ketika Bola Lampu Digunakan Sebagai Sumber Panas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Hasil memperoleh beda pengetasan sebesar 0,9oC pada 4 . bola lampu dengan tanpa menggunakan plat seng dibawah lampu dan sebesar 0,8oC pada 4 . bola lampu dengan menggunakan plat seng dibawah Tetapi, ada perbandingan yang kecil senilai 0,4oC pada 12 . ua bela. bola lampu dengan tidak menggunakan plat seng dibawah lampu serta senilai 0,3oC pada 12 . ua bela. bola lampu dengan Untuk melakukan proses inkubasi pada inkubator, terlebih dahulu diperhatikan embrio yang terkandung pada telur. UCAPAN TERIMAKASIH Puji syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan sehingga saya dapat melakukan penelitian dan menulis jurnal ini. Dan ucapan terima kasih kami kepada semua pihak yang telah mensupport kami yaitu Kedua orang tua. Kepala Laboratorium Rekayasa Thermal Universitas Syiah Kuala yaitu bapak Prof. Dr. Ir. Ahmad Syuhada. Sc. dan telah memberikan arahan, dan membimbing kami dalam menyelesaikan jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA