Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Model Hibrid Tri Pramana dan Bloom's Digital Taxonomy Untuk LMS Pendidikan Agama Hindu Berorientasi HOTS I Wayan Wira Darma*. Eka M. Julianingsih P. Gede Agus Jaya Negara Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Bali. Indonesia *viir3ndra@gmail. Abstract The development of Learning Management Systems (LMS) oriented toward Higher-Order Thinking Skills (HOTS) that integrate local Hindu wisdom remains highly limited, and the digitalization of Hindu religious education in higher education has yet to be supported by a pedagogical framework that synthesizes Hindu epistemology with contemporary learning taxonomies. This study aims to develop, validate, examine the practicality of, and measure the effectiveness of a hybrid pedagogical model that synthesizes Tri Pramana epistemology with Bloom's Digital Taxonomy as the framework of an LMS for Hindu religious education. A Design and Development method employing the ADDIE framework was applied, involving two content experts, two media experts, eight lecturers, and 86 students from the Hindu Religious Education Study Program at IAHN Mpu Kuturan. Data were collected through validation questionnaires, response questionnaires, and HOTS achievement tests, then analyzed using mean scores, percentages, and N-gain. Expert validation indicated that the model was highly valid, with a mean score of 4. 50, while the practicality test yielded positive responses from lecturers . 20%) and students . 75%), categorized as highly practical. The effectiveness test revealed an increase in mean scores from 52. , and classical learning mastery rose from 34. 88% to 91. The overall Ngain reached 0. , with a graduated pattern of C6 Creating . C5 Evaluating . , and C4 Analyzing . , demonstrating that the greatest improvement aligned with the Anumana Pramana phase. The five-stage reasoning structure of Anumana Pramana, supported by e-portfolio, digital debate forums, and collaborative evaluation rubrics, most effectively cultivated HOTS. Keywords: Tri Pramana. BloomAos Digital Taxonomy. Learning Management System. Higher-Order Thinking Skills. Hindu Religious Education Abstrak Pengembangan Learning Management System (LMS) berorientasi Higher-Order Thinking Skills (HOTS) yang mengintegrasikan kearifan lokal Hindu masih sangat terbatas, sementara digitalisasi pendidikan agama Hindu di perguruan tinggi belum didukung kerangka pedagogis yang menyintesiskan epistemologi Hindu dengan taksonomi pembelajaran kontemporer. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, memvalidasi, menguji kepraktisan, dan mengukur efektivitas model pedagogis hibrid yang menyintesiskan epistemologi Tri Pramana dengan Bloom's Digital Taxonomy sebagai kerangka LMS pendidikan agama Hindu. Metode Design and Development berkerangka ADDIE diterapkan melibatkan dua ahli materi, dua ahli media, 8 dosen, dan 86 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu di IAHN Mpu Kuturan. dikumpulkan melalui angket validasi, angket respons, dan tes HOTS, lalu dianalisis menggunakan rerata skor, persentase, dan N-gain. Validasi ahli menunjukkan model sangat valid . erata 4,. uji kepraktisan memperoleh respons positif dosen 91,20% dan mahasiswa 88,75% . angat prakti. Uji efektivitas memperlihatkan peningkatan rerata https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH skor dari 52,35 . menjadi 86,67 . serta ketuntasan klasikal meningkat dari 34,88% menjadi 91,86%. N-gain keseluruhan 0,72 . ategori tingg. dengan pola bertingkat C6 Creating . C5 Evaluating . , dan C4 Analyzing . , sehingga peningkatan tertinggi selaras dengan fase Anumana Pramana. Penelitian menyimpulkan bahwa model hibrid terbukti valid, praktis, dan efektif meningkatkan HOTS mahasiswa. struktur penalaran lima tahapan Anumana Pramana (Pratijna. Hetu. Udaharana. Upanaya. Nigaman. yang didukung fitur e-portfolio, forum debat digital, dan rubrik evaluasi kolaboratif paling efektif mendorong HOTS, sehingga kerangka epistemologis Hindu terbukti dapat dioperasionalkan menjadi arsitektur pembelajaran digital yang responsif budaya, tervalidasi empiris, dan dapat diadaptasi perguruan tinggi keagamaan Hindu lainnya di Indonesia. Kata Kunci: Tri Pramana. Taksonomi Digital Bloom. Sistem Manajemen Pembelajaran. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Pendidikan Agama Hindu Pendahuluan Transformasi digital dalam dunia pendidikan telah mengubah paradigma pembelajaran dari pendekatan konvensional menuju ekosistem berbasis teknologi. Learning Management System (LMS) telah menjadi infrastruktur utama dalam mendukung pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan (Adi et al. , 2. Khadka et , . menemukan bahwa HOTS dalam konteks e-learning di pendidikan tinggi membutuhkan desain instruksional yang secara eksplisit memfasilitasi analisis, evaluasi, dan kreasi, bukan sekadar digitalisasi materi konvensional. Hunaidah et al. , . memperkuat argumen ini dengan membuktikan bahwa LMS berbasis Moodle yang mengintegrasikan model inkuiri secara signifikan meningkatkan digital learning engagement dan keterampilan berpikir kritis. Namun, pengembangan LMS yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal dengan kerangka pedagogis kontemporer masih sangat terbatas, khususnya dalam pendidikan agama Hindu. Suciartini et al. , . mengidentifikasi bahwa literasi digital dalam pendidikan agama Hindu masih dalam tahap awal pengembangan, sehingga diperlukan kerangka kerja yang mampu menjembatani tradisi keagamaan dengan tuntutan kompetensi HOTS. Perkembangan terkini dalam bidang teknologi pendidikan, seperti AI-supported LMS dan adaptive learning, semakin menegaskan urgensi pengembangan platform digital yang tidak hanya canggih secara teknologis tetapi juga responsif secara budaya (ZawackiRichter et al. , 2019. Murtaza et al. , 2. Pendidikan agama Hindu sesungguhnya memiliki fondasi epistemologis yang inheren mendukung pengembangan HOTS melalui ajaran Tri Pramana, yakni tiga jalan untuk memperoleh pengetahuan yang meliputi Sabda Pramana . engetahuan melalui kesaksian dan teks suc. Pratyaksa Pramana . engetahuan melalui pengamatan langsun. , dan Anumana Pramana . engetahuan melalui penalaran logi. Ketiga fase ini secara inherent mengandung hierarki kognitif: Sabda Pramana menuntut kemampuan mengingat dan memahami teks otoritatif. Pratyaksa Pramana menuntut kemampuan mengaplikasikan dan menganalisis melalui observasi langsung, sementara Anumana Pramana menuntut kemampuan mengevaluasi dan mencipta melalui penalaran inferensial. Paramartha et al. , . telah menunjukkan bahwa posisi konsep pembelajaran Tri Pramana memiliki kemiripan dengan taksonomi Bloom versi baru. Temuan ini diperkuat oleh Sindu et al. , . yang mengadopsi model siklus belajar Tri Pramana dalam lingkungan virtual reality berbasis teknologi, membuktikan bahwa ketiga fase epistemologis tersebut dapat diklasifikasikan dan dioperasionalkan secara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH digital. Dengan demikian. Tri Pramana bukan sekadar konsep filosofis abstrak, melainkan kerangka epistemologis yang operasional untuk membangun HOTS. Di sisi lain. BloomAos Digital Taxonomy yang dikembangkan oleh Churches merupakan adaptasi taksonomi Bloom untuk era digital, di mana setiap level kognitif dipetakan dengan aktivitas digital spesifik seperti bookmarking (C. , annotating (C. , simulating (C. , deconstructing (C. , critiquing (C. , dan publishing (C. Widiana et al. , . mendemonstrasikan bahwa aktivitas pembelajaran berorientasi revisi taksonomi Bloom secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif peserta didik. Kerangka ini menjadi jembatan ideal antara epistemologi Tri Pramana dan lingkungan LMS karena menyediakan operasionalisasi digital pada setiap level kognitif yang dapat dipetakan secara langsung terhadap tiga fase Tri Pramana. Perpaduan keduanya berpotensi menghasilkan model pedagogis yang secara simultan mengakar pada kearifan lokal Hindu dan memenuhi standar HOTS kontemporer, sejalan dengan prinsip culturally responsive pedagogy yang menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai budaya peserta didik ke dalam desain pembelajaran (Gay, 2. Secara teoritis, sintesis Tri Pramana dengan taksonomi Bloom oleh Paramartha et , . belum dioperasionalkan dalam dimensi digital. Secara teknologis, kebutuhan literasi digital dalam pendidikan agama Hindu yang diidentifikasi Suciartini et al. , . belum diwujudkan dalam arsitektur LMS yang memadai. Pada ranah asesmen, instrumen HOTS untuk pendidikan agama Hindu oleh Julianingsih et al. , . belum dikembangkan ke dalam platform digital untuk pendidikan tinggi. Pada tataran implementasi, desain evaluasi e-learning berbasis Tri Pramana oleh Ariawan et al. dan klasifikasi aktivitas Tri Pramana dalam virtual reality oleh Sindu et al. , . belum menghasilkan LMS yang utuh untuk pendidikan agama Hindu di perguruan tinggi. Keempat kesenjangan tersebut mengerucut pada satu ruang kosong: belum tersedianya kerangka pedagogis yang menyintesiskan epistemologi Hindu dengan taksonomi digital dalam arsitektur LMS operasional untuk memfasilitasi HOTS. Secara konseptual, penelitian ini menghasilkan model hibrid yang menyintesiskan tiga fase Tri Pramana dengan enam level BloomAos Digital Taxonomy (C1-C. dalam satu kerangka pedagogis terintegrasi, sehingga setiap fase epistemologis Hindu terhubung langsung dengan aktivitas digital pemicu HOTS, sebuah sintesis yang belum pernah dilakukan dalam literatur sebelumnya. Secara teknologis, kerangka tersebut diterjemahkan menjadi arsitektur LMS dengan fitur spesifik pada setiap fase. Secara empiris, model ini diuji pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu di IAHN Mpu Kuturan, sehingga data yang dihasilkan merepresentasikan konteks pendidikan tinggi keagamaan Hindu yang aktual. Penelitian ini bertujuan untuk: . mengembangkan model hibrid Tri Pramana dan BloomAos Digital Taxonomy sebagai kerangka pedagogis LMS pendidikan agama Hindu. menguji validitas model menurut penilaian ahli materi dan ahli media. menguji kepraktisan model berdasarkan respons dosen dan mahasiswa. mengukur efektivitas model dalam meningkatkan ketuntasan belajar mahasiswa pada materi pendidikan agama Hindu. Metode Penelitian ini menggunakan metode Design and Development (D&D) berkerangka ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. dengan pendekatan kuantitatif. Uji efektivitas memakai one group pretest-posttest design yang dipilih atas pertimbangan homogenitas populasi dan keterbatasan jumlah kelas paralel di Program Studi Pendidikan Agama Hindu IAHN Mpu Kuturan. desain ini terbatas mengontrol efek maturasi, testing effect, dan history, sehingga peningkatan hasil https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH belajar dimaknai sebagai indikator efektivitas produk, bukan bukti kausal murni. Penelitian dilaksanakan pada semester genap 2025/2026 dengan sumber data ditentukan secara purposive sampling, meliputi dua ahli materi, dua ahli media, 8 dosen pengampu di Fakultas Dharma Acarya . engalaman mengajar minimal lima tahun dan familiar dengan LMS), serta 86 mahasiswa semester VI. Instrumen terdiri atas lima jenis: validasi ahli materi, validasi ahli media, respons dosen, respons mahasiswa, dan tes HOTS pada level C4 Analyzing. C5 Evaluating, dan C6 Creating. Validitas isi seluruh instrumen ditetapkan melalui penilaian ahli materi dan ahli media menggunakan skala lima poin terhadap aspek-aspek kelayakan, sedangkan validitas konstruk tes HOTS disusun secara sistematis berdasarkan keselarasan setiap butir terhadap indikator Bloom's Digital Taxonomy dan fase Tri Pramana yang bersesuaian, dengan kriteria valid apabila rerata skor ahli Ou 4,00 . atau Ou 4,20 . angat vali. Data dikumpulkan melalui angket tertutup skala Likert lima poin untuk validasi dan respons, serta tes objektif HOTS pretestposttest selama delapan pertemuan, lalu dianalisis menggunakan rerata skor untuk validitas, persentase respons positif untuk kepraktisan dengan kategori sangat praktis (Ou 85%), praktis . -84%), dan kurang praktis (< 70%), serta Normalized Gain (N-gai. untuk efektivitas dengan kategori tinggi (Ou 0,. , sedang . ,30-0,. , dan rendah (< 0,. Hasil dan Pembahasan Konstruksi Model Hibrid Tri Pramana dan BloomAos Digital Taxonomy Konstruksi model hibrid diawali dengan analisis kesepadanan antara tiga fase Tri Pramana dan enam level BloomAos Digital Taxonomy. Sebagaimana tertuang dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26: Pratyaksanumanasca krtan tad wacanagamah pramananitriwidamproktam tat samyajnanam uttamam, adapun orang yang memiliki tiga cara untuk memperoleh ilmu, yang disebut Pratyaksa. Anumana dan Agama (Sabd. , disebut Samyajnana atau maha tahu (Paramartha et al. , 2. Sloka ini menegaskan bahwa integrasi ketiga cara memperoleh pengetahuan merupakan jalan menuju pemahaman yang utuh, yang dalam konteks pengembangan LMS diterjemahkan sebagai kebutuhan akan desain instruksional yang mengakomodasi seluruh tahapan epistemologis secara terintegrasi. Secara teoritik, kesepadanan Tri Pramana dengan BloomAos Digital Taxonomy bukan sekadar penjajaran konseptual, melainkan sintesis epistemologis yang menghasilkan kerangka kerja baru. Sabda Pramana yang menekankan otoritas teks dan kesaksian guru secara epistemologis setara dengan proses kognitif Remembering dan Understanding, karena keduanya berfokus pada penerimaan dan pengolahan informasi dari sumber otoritatif. Pratyaksa Pramana yang menuntut pengamatan langsung berkorespondensi dengan Applying dan Analyzing, di mana pengetahuan diuji melalui pengalaman empiris. Anumana Pramana yang menuntut penalaran logis melalui lima tahapan (Pratijna. Hetu. Udaharana. Upanaya. Nigaman. secara struktural paralel dengan Evaluating dan Creating, di mana sintesis pengetahuan menghasilkan pemahaman baru. Landasan filosofis model ini diperkuat oleh Wrhaspati Tattwa sloka 16 yang menegaskan bahwa pikiran (Citt. menjadi penentu utama capaian seseorang Paramartha et al. , . sejalan dengan prinsip HOTS yang menempatkan proses kognitif tingkat tinggi sebagai instrumen untuk menghasilkan pengetahuan yang bermakna. Tabel 1. Pemetaan Model Hibrid Tri Pramana dan BloomAos Digital Taxonomy Fase Tri Level Bloom Aktivitas Digital Fitur LMS Pramana Digital Sabda Pramana C1: Bookmarking. Repositori kitab suci Remembering searching, digital, modul teks https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sabda Pramana Pratyaksa Pramana Pratyaksa Pramana Anumana Pramana Anumana Pramana C2: Annotating. Understanding categorizing. C3: Applying Simulating. C4: Analyzing Comparing. C5: Critiquing, testing. Evaluating C6: Creating Designing. Forum mindmapping tool Modul Dashboard analitik, peer review module Rubrik Project space, eportfolio. Sumber: Hasil Analisis, 2026 Pengadopsian Fase Tri Pramana Dalam Arsitektur LMS Pengadopsian Tri Pramana dalam LMS tidak sekadar memindahkan konsep filosofis ke dalam platform digital, melainkan menerjemahkan setiap fase epistemologis menjadi skenario pembelajaran yang terukur dan terstruktur. Suranata et al. , . menegaskan bahwa filosofi Tri Pramana dapat diadopsi ke dalam pembelajaran sains di sekolah dasar melalui pendekatan budaya. Penelitian ini memperluas integrasi tersebut ke ranah pendidikan tinggi keagamaan Hindu dengan memanfaatkan teknologi LMS sebagai Berikut adalah uraian mendalam pengadopsian masing-masing fase. Fase Sabda Pramana (Agama Praman. : Tahap Referensial-Konfirmatif Sabda Pramana atau Agama Pramana adalah cara memperoleh pengetahuan melalui kesaksian dari sumber yang terpercaya, baik berupa teks suci (Vaidika Sabd. maupun perkataan guru atau orang bijak (Laukika Sabd. Dalam konteks pendidikan agama Hindu di IAHN Mpu Kuturan, fase ini menjadi fondasi awal seluruh proses pembelajaran di mana mahasiswa membangun basis pengetahuan melalui kajian teks Tattwa. Weda, dan sumber otoritatif lainnya. Paramartha et al. , . mengidentifikasi bahwa indikator pembelajaran pada fase ini adalah referensi dan penegasan, yakni mahasiswa memperoleh acuan pengetahuan dari teks pembelajaran dan memperkuat pemahaman tersebut melalui konfirmasi dosen. Dalam model hibrid, fase Sabda Pramana dipetakan pada level C1 (Rememberin. melalui repositori kitab suci digital yang memungkinkan bookmarking, highlighting, dan searching, serta level C2 (Understandin. melalui forum diskusi bertingkat dan mind-mapping tool. Secara pedagogis, fitur-fitur ini dirancang bukan sekadar sebagai digitalisasi teks, melainkan sebagai lingkungan interaktif yang memfasilitasi mahasiswa membangun basis pengetahuan melalui kajian teks Tattwa. Weda, dan sumber otoritatif lainnya. Forum diskusi bertingkat memungkinkan dialog antara Vaidika Sabda . eks suc. dan Laukika Sabda . nterpretasi dose. , sehingga pemahaman tidak bersifat pasif-reseptif tetapi aktif-konfirmatif. Efektivitas pedagogis fitur ini didukung oleh temuan Cui & Wang . yang membuktikan bahwa anotasi sosial secara signifikan meningkatkan keterlibatan pra-kelas dan hasil belajar mahasiswa, termasuk mahasiswa dengan kemampuan bahasa yang beragam. Khadka et al. , . juga mengonfirmasi bahwa forum diskusi dan aktivitas kolaboratif dalam LMS merupakan komponen penting untuk membangun HOTS dalam konteks e-learning pendidikan tinggi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Fase Pratyaksa Pramana: Tahap Observasional-Eksperiensial Pratyaksa Pramana adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pengamatan langsung dengan panca indra. Fase ini terdiri dari dua tingkatan: Nirwikalpa Pratyaksa . engamatan tanpa penilaia. dan Savikalpa Pratyaksa . engamatan disertai pengenalan karakteristik obje. Paramartha et al. , . menyimpulkan bahwa indikator pembelajaran pada fase ini meliputi observasi, bertanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan berkomunikasi, yang posisinya setara dengan pendekatan Dalam model hibrid, fase Pratyaksa Pramana dipetakan pada level C3 (Applyin. melalui modul observasi virtual dan galeri multimedia interaktif, serta level C4 (Analyzin. melalui dashboard analitik dan modul peer review. Secara epistemologis, fase ini menuntut mahasiswa mengalami langsung objek pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26. Modul observasi virtual menerjemahkan prinsip melihat dan memegang ke dalam pengalaman digital yang terukur. Namun, literatur menunjukkan bahwa fitur observasional saja belum cukup untuk mendorong kemampuan analisis. Hunaidah et al. , . menemukan bahwa model inkuiri berbasis LMS Moodle meningkatkan digital learning engagement dan berpikir kritis secara signifikan, yang mengisyaratkan bahwa integrasi aktivitas inkuiri terstruktur ke dalam modul observasi menjadi kunci efektivitas pedagogisnya. Widiana et al. , . menambahkan bahwa aktivitas pembelajaran yang secara eksplisit berorientasi pada taksonomi Bloom revisi secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif, menegaskan pentingnya desain aktivitas digital yang terstruktur pada setiap level kognitif. Fase Anumana Pramana: Tahap Inferensial-Kreatif Anumana Pramana adalah cara memperoleh pengetahuan melalui penalaran Dalam tradisi Hindu, proses Anumana melalui lima tahapan: Pratijna . emperkenalkan objek masala. Hetu . lasan kesimpula. Udaharana . enghubungkan aturan umum dengan masala. Upanaya . enggunaan aturan umum dalam realita. , dan Nigamana . esimpulan yang benar dan past. Paramartha et al. mengidentifikasi indikator: merangkum, menanggapi, menghubungkan, merumuskan, dan mengolaborasi. Dalam model hibrid, fase Anumana Pramana dipetakan pada level C5 (Evaluatin. melalui rubrik evaluasi kolaboratif dan forum debat digital, serta level C6 (Creatin. melalui project space, e-portfolio, dan blog mahasiswa. Fase ini merupakan puncak model hibrid di mana mahasiswa tidak hanya memecahkan masalah tetapi juga menciptakan solusi orisinal yang dipublikasikan dalam LMS. Efektivitas pedagogis fitur e-portfolio dalam mendorong kemampuan kreatif telah didukung oleh sejumlah temuan empiris. Yang & Wong . dalam tinjauan sistematis terhadap implementasi eportfolio di pendidikan tinggi mengidentifikasi bahwa e-portfolio mendorong refleksi diri, dokumentasi proses belajar, dan pengembangan kompetensi secara holistik. Slamet . membuktikan bahwa gamifikasi dalam LMS secara signifikan meningkatkan keterlibatan dan prestasi akademik mahasiswa, khususnya slow learners, yang mengindikasikan bahwa elemen interaktif dan kompetitif dalam fitur evaluasi kolaboratif dapat memperkuat motivasi dan partisipasi aktif mahasiswa. Secara teoritik, struktur lima tahapan penalaran Anumana Pratijna . dentifikasi masala. Hetu . erumusan alasa. Udaharana . enghubungan aturan umu. Upanaya . enerapan pada realita. , dan Nigamana . enarikan kesimpula. menyediakan scaffolding kognitif yang membimbing mahasiswa menuju pemikiran kreatif, sejalan dengan prinsip konstruktivisme sosial yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi dan produksi aktif. Kedalaman pengadopsian Tri Pramana ini memberikan kekhasan yang membedakan model hibrid dari pendekatan konvensional. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sindu et al. , . membuktikan bahwa aktivitas pembelajaran berbasis Tri Pramana dapat diklasifikasikan secara otomatis dalam LMS menggunakan deep learning, yang mengindikasikan kesiapan konsep Tri Pramana untuk diadopsi dalam platform digital. Ariawan et al. , . juga menunjukkan bahwa konsep Tri Pramana dapat diintegrasikan dalam model evaluasi e-learning. Penelitian ini memperluas temuan tersebut dengan membuktikan bahwa Tri Pramana dapat diadopsi secara bermakna dalam lingkungan LMS untuk meningkatkan ketuntasan belajar mahasiswa pendidikan agama Hindu di IAHN Mpu Kuturan. Pengembangan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian dikembangkan dalam lima jenis yang masing-masing disusun berdasarkan indikator yang relevan dengan model hibrid. Ringkasan blueprint instrumen disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Ringkasan Blueprint Instrumen Penelitian Jumlah No Jenis Instrumen Jumlah Aspek Butir Validasi Materi Ahli Validasi Media Ahli 6 aspek . esesuaian materi, keselarasan BDT, kedalaman HOTS, kebenaran sloka, kesesuaian kurikulum, kelengkapan rujuka. 6 aspek . esain antarmuka, navigasi, kualitas Respons Dosen 7 aspek . emudahan, kesesuaian kurikulum. HOTS. Respons Mahasiswa 7 aspek . kses, kejelasan materi, motivasi, pengalaman per fase, kepuasa. Tes Hasil Belajar 3 level (C4 Analyzing. C5 Evaluating. C6 Creatin. (HOTS) Sumber: Pengembangan Peneliti, 2026 Validasi dilakukan oleh dua ahli materi dan dua ahli media. Hasil penilaian disajikan pada tabel 3 dan tabel 4. Tabel 3. Hasil Validasi Ahli Materi Aspek Penilaian Ahli 1 Ahli 2 Rerata Kategori Kesesuaian Pramana Tri 4,67 4,50 4,58 Sangat Valid Keselarasan dengan BloomAos Digital Taxonomy 4,33 4,50 4,42 Sangat Valid Kedalaman konten HOTS 4,67 4,67 4,67 Sangat Valid Kebenaran 5,00 4,50 4,75 Sangat Valid Kesesuaian dengan kurikulum 4,33 4,33 4,33 Sangat Valid Kelengkapan sumber rujukan 4,50 4,00 4,25 Sangat Valid Rerata Keseluruhan Sumber: Pengembangan Peneliti, 2026 4,50 Sangat Valid https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 4. Hasil Validasi Ahli Media Aspek Penilaian Ahli 1 Ahli 2 Rerata Kategori Desain antarmuka LMS 4,33 4,67 4,50 Sangat Valid Navigasi dan aksesibilitas 4,67 4,33 4,50 Sangat Valid Kualitas multimedia 4,50 4,50 4,50 Sangat Valid Interaktivitas fitur LMS 4,67 4,67 4,67 Sangat Valid Kompatibilitas perangkat 4,50 4,00 4,25 Sangat Valid Keamanan dan keandalan 4,50 4,50 4,50 Sangat Valid Rerata Keseluruhan 4,49 Sangat Valid Sumber: Pengembangan Peneliti, 2026 Rerata gabungan validasi ahli materi . dan ahli media . mengonfirmasi bahwa model memenuhi kriteria sangat valid dan layak untuk diujicobakan. Secara teoritik, tingginya skor kebenaran sloka dan terjemahan . mengindikasikan bahwa integrasi konten keagamaan Hindu ke dalam platform digital tidak mengurangi akurasi dan kesakralan sumber epistemologis. Skor tertinggi pada aspek interaktivitas fitur LMS . menunjukkan bahwa arsitektur model berhasil menerjemahkan konsep epistemologis menjadi fitur digital yang interaktif, menjawab tantangan yang diidentifikasi oleh Suciartini et al. , . mengenai kebutuhan literasi digital dalam pendidikan agama Hindu. Hasil Uji Kepraktisan Uji kepraktisan dilakukan melalui angket respons dosen dan mahasiswa setelah menggunakan LMS selama delapan pertemuan. Hasil uji kepraktisan melibatkan 8 dosen dan 86 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu IAHN Mpu Kuturan. Hasil respons dosen dan mahasiswa disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Tabel 5. Hasil Respons Dosen Terhadap LMS Aspek Penilaian Rerata (%) Kategori Kemudahan penggunaan LMS 90,00 Sangat Praktis Kesesuaian model dengan kurikulum 93,33 Sangat Praktis Efektivitas fitur Sabda Pramana 90,00 Sangat Praktis Efektivitas fitur Pratyaksa Pramana 90,00 Sangat Praktis Efektivitas fitur Anumana Pramana 90,00 Sangat Praktis Dukungan terhadap HOTS 93,33 Sangat Praktis Kebermanfaatan secara umum 90,00 Sangat Praktis Rerata Keseluruhan 91,20 Sangat Praktis Sumber: Data Primer, 2026 Tabel 6. Hasil Respons Mahasiswa terhadap LMS Aspek Penilaian Rerata Skor (%) Kategori Kemudahan akses dan navigasi 88,37 Sangat Praktis Kejelasan penyajian materi 87,21 Sangat Praktis Ketertarikan dan motivasi belajar 89,53 Sangat Praktis Pengalaman belajar Sabda Pramana 87,79 Sangat Praktis https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pengalaman belajar Pratyaksa Pramana 90,12 Sangat Praktis Pengalaman belajar Anumana Pramana 88,95 Sangat Praktis Kepuasan keseluruhan 89,30 Sangat Praktis Rerata Keseluruhan 88,75 Sangat Praktis Sumber: Data Primer, 2026 Rerata respons dosen . ,20%) dan mahasiswa . ,75%) menunjukkan bahwa LMS sangat praktis untuk digunakan. Tingginya skor kesesuaian model dengan kurikulum dan dukungan terhadap HOTS . ,33%) dari dosen menunjukkan bahwa model hibrid berhasil menjembatani konten keagamaan dengan kompetensi berpikir tingkat tinggi, sebuah integrasi yang dalam perspektif TPACK Hanafi et al. , . mencerminkan keselarasan antara Technological Knowledge. Pedagogical Knowledge, dan Content Knowledge. Skor pengalaman belajar Pratyaksa Pramana yang tertinggi dari mahasiswa . ,12%) mengindikasikan bahwa modul observasi virtual memberikan pengalaman belajar yang paling menarik, konsisten dengan temuan Slamet . bahwa fitur interaktif dalam LMS secara signifikan meningkatkan keterlibatan peserta didik. Hasil Uji Efektivitas Efektivitas model hibrid diukur menggunakan tes hasil belajar yang diadministrasikan sebelum . dan sesudah . implementasi LMS selama delapan pertemuan. Peningkatan ketuntasan belajar dihitung menggunakan formula Normalized Gain (N-gai. dari Hake . sebagai berikut: ycIposttest Oe ycIpretest yci = ycImaks Oe ycIpretest Di mana Sposttest adalah skor rata-rata sesudah perlakuan. Spretest adalah skor rata-rata sebelum perlakuan, dan Smaks adalah skor maksimum ideal. Kriteria interpretasi N-gain menurut Hake . tinggi jika N-gain Ou 0,70. sedang jika 0,30 O N-gain < 0,70. rendah jika N-gain < 0,30. Tabel 7. Hasil Uji Efektivitas Berdasarkan N-gain Per Level Kognitif Rerata Rerata Skor Level Kognitif N-gain Kategori Pretest Posttest Maks C4: Analyzing 55,81 84,30 0,64 Sedang C5: Evaluating 48,26 85,47 0,72 Tinggi C6: Creating 52,91 90,70 0,80 Tinggi 52,35 86,67 0,72 Tinggi Keseluruhan Sumber: Data Primer, 2026 Gambar 1. Pola Peningkatan N-gain Per Level Kognitif HOTS https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Secara keseluruhan terjadi peningkatan rerata skor dari 52,35 . menjadi 86,67 . dengan N-gain sebesar 0,72 . ategori tingg. Persentase ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 34,88% . dari 86 mahasiswa tunta. menjadi 91,86% . dari 86 mahasiswa tunta. dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Temuan ini konsisten dengan Hunaidah et al. , . yang membuktikan bahwa integrasi model pembelajaran berbasis inkuiri dalam platform LMS efektif meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar peserta didik. Temuan paling signifikan dari penelitian ini adalah pola peningkatan bertingkat: N-gain C6 . > C5 . > C4 . Pola ini mengindikasikan bahwa fase Anumana Pramana paling efektif dalam mendorong peningkatan HOTS. Dominansi peningkatan pada fase Anumana Pramana dapat dijelaskan melalui dua argumen teoritik. Secara epistemologis, lima tahapan penalaran Anumana menyediakan scaffolding kognitif yang lebih terstruktur dibandingkan fase lainnya: mahasiswa tidak langsung diminta mencipta, melainkan dibimbing melalui proses identifikasi masalah, perumusan alasan, penghubungan aturan umum, penerapan pada realitas, dan penarikan kesimpulan. Struktur ini paralel dengan pendekatan konstruktivistik yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif melalui tahapan yang bermakna. Secara teknologis, fitur e-portfolio, forum debat digital, dan rubrik evaluasi kolaboratif pada fase ini memberikan mekanisme umpan balik dan publikasi yang memotivasi mahasiswa menghasilkan karya orisinal, sejalan dengan teori self-determination yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dalam motivasi intrinsik. Sementara itu. N-gain terendah pada level C4 (Analyzin. menuntut perhatian khusus. Meskipun mahasiswa menilai pengalaman belajar Pratyaksa Pramana sebagai yang paling menarik . ,12%), efektivitasnya dalam mendorong kemampuan analisis masih berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa kepraktisan . aya tarik dan kemudahan penggunaa. tidak selalu linier dengan efektivitas pedagogis. Fitur dashboard analitik dan modul peer review perlu diperkuat dengan variasi modul observasi virtual dan studi kasus interaktif yang lebih menuntut analisis mendalam. Dari perspektif integrasi teknologi, model hibrid ini konsisten dengan kerangka TPACK sebagaimana diteliti oleh Hanafi et al. , . dalam konteks pendidikan agama. Pengembangan konten keagamaan berbasis teknologi memerlukan eksplorasi domain spesifik yang memadukan pengetahuan konten, pengetahuan pedagogis, dan pengetahuan teknologi. Widarto et al. , . juga membuktikan bahwa implementasi elearning yang efektif memerlukan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan pedagogik secara kontekstual. Model hibrid ini menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan kerangka kerja yang mengoperasionalkan ketiga dimensi TPACK secara terintegrasi: Tri Pramana sebagai Content Knowledge. BloomAos Digital Taxonomy sebagai Pedagogical Knowledge, dan arsitektur LMS sebagai Technological Knowledge. Sebagaimana dijelaskan dalam Wrhaspati Tattwa sloka 21 bahwa keseimbangan antara sattwam . dan rajah . akan menghasilkan keberhasilan menjalankan dharma Paramartha et al. , . model hibrid ini menyeimbangkan olah pikir (HOTS) dan aksi bermakna . ktivitas digita. dalam satu kerangka yang utuh. Kesimpulan Model hibrid Tri Pramana dan Bloom's Digital Taxonomy terbukti valid . erata 4,. , praktis . espons dosen 91,20%. mahasiswa 88,75%), dan efektif (N-gain = 0,72, kategori tingg. sebagai kerangka pedagogis LMS pendidikan agama Hindu berorientasi HOTS, dengan peningkatan tertinggi pada level C6 Creating (N-gain = 0,. yang selaras dengan fase Anumana Pramana sehingga mengindikasikan bahwa struktur lima tahapan penalaran inferensial (Pratijna. Hetu. Udaharana. Upanaya. Nigaman. yang didukung https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH fitur e-portfolio, forum debat digital, dan rubrik evaluasi kolaboratif paling efektif mendorong HOTS mahasiswa. pola bertingkat C6 . > C5 . > C4 . mengonfirmasi bahwa semakin tinggi level epistemologis Tri Pramana yang dioperasionalkan, semakin besar dampaknya terhadap peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga epistemologi Hindu, khususnya konsep Tri Pramana dari Wrhaspati Tattwa, bukan sekadar kerangka filosofis abstrak melainkan dapat diterjemahkan menjadi arsitektur LMS yang valid, praktis, dan efektif sekaligus menjadi blueprint yang dapat diadaptasi oleh perguruan tinggi keagamaan Hindu lainnya di Indonesia maupun model pengembangan LMS berbasis kearifan lokal dalam konteks pendidikan keagamaan yang lebih luas. Daftar Pustaka