Vol. No. November 2021 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kesiapan A. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KESIAPAN DOSEN POLTEKKES KEMENKES TANJUNGPINANG DALAM MENGHADAPI INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE) Relationship Between Knowledge and Readiness of Lecturers at Poltekkes of The Ministry of Health in Tanjungpinang about Interprofessional Education (IPE) Rian Yuliyana1. Indra Martias1. Dewi Puspa Rianda1 Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang E-mail: rianyuliyana@gmail. ABSTRACT Interprofessional Education was first initiated by the World Health Organization (WHO) as a strategy to increase collaboration between different health workers in order to see a problem and be able to solve it holistically so as to achieve quality health service outcomes. Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang has conducted a workshop on IPE in 2018, besides that several lecturers have also been trained to become IPE facilitators by the PPSDM Health Ministry of the Republic of Indonesia. This study was aims to determine the relationship between the level of knowledge and the readiness of lecturers at the Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang in facing Interprofessional Education (IPE). This research was a quantitative research, the type of research used is descriptive analytic which is analyzed by the chi square test and exact fisher. The subjects of this research were 42 lecturers of Tanjungpinang Health Poltekkes. The results was showed that the risk factors for lecturers who had sufficient knowledge tended to be 2,567 times more unprepared for IPE than those who had good However, there was no significant relationship between the level of knowledge and the readiness of lecturers to face IPE. It is suggested that this research can be taken into consideration by policy makers at the Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang in preparing Interprofessional Education (IPE) for both lecturers and students of the three study programs. Keywords: Interprofessional Education, knowledge,readiness ABSTRAK Interprofessional Education pertama kali dicetuskan oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kolaborasi antara tenaga kesehatan yang berbeda agar dapat memandang suatu masalah dan mampu menyelesaikannya secara holistik sehingga dapat mencapai hasil pelayanan kesehatan yang berkualitas. Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang telah melaksanakan workshop tentang IPE ini pada tahun 2018, disamping itu beberapa dosen juga pernah dilatih menjadi fasilitator IPE oleh Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam menghadapi Interprofesional Education (IPE). Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik yang dianalisis dengan uji chi square dan exact Subjek penelitian ini adalah seluruh dosen Poltekkes Tanjungpinang sebanyak 42 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup cendrung 2,567 kali lebih tidak siap menghadapi IPE dibandingkan dengan yang memiliki pengetahuan yang Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan dosen menghadapi IPE. Disarankan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan pengambil kebijakan di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam mempersiapkan Interprofessional Education (IPE) baik bagi dosen maupun mahasiswa ketiga prodi. Kata kunci: Interprofessional Education. Pengetahuan. Kesiapan Rian Yuliyana Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) PENDAHULUAN Interprofessional Education pertama kali dicetuskan oleh WHO. sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kolaborasi antara tenaga kesehatan yang berbeda agar dapat memandang suatu masalah dan mampu menyelesaikannya secara holistik sehingga dapat mencapai hasil pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tenaga kesehatan adalah professional dengan berbagai keterampilan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berfokus pada kesehatan pasien. Interprofessional Education sudah ada lebih dari 30 tahun yang lalu dan sudah diterapkan di beberapa universitas di beberapa negara maju. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa praktek kolaborasi yang efektif antar profesi kesehatan dapat meningkatkan outcome kesehatan. Pentingnya implementasi kolaborasi di antara petugas kesehatan untuk meningkatan kualitas layanan kesehatan mudah terjadi. Namun butuh proses untuk memembuat petugas kesehatan mampu bekerja dalam tim dan berkomunikasi secara efektif . Indonesia merupakan negara yang terbilang baru mengenal dan melaksanakan IPE. Sistem ini telah dikenalkan dan dilaksanakan oleh beberapa Poltekkes Kemenkes di Indonesia, hal ini dikarenakan beberapa masukan dari stakeholder pengguna lulusan Beberapa stakeholder melihat sebagian lulusan poltekkes kurang mampu untuk berkolaborasi sesama profesi kesehatan dalam menyelesaikan suatu masalah kesehatan. Tantangan yang semakin kompleks dari kebutuahan dan masalah kesehtan, konferensi institute of Medicine . merekomendasikan agar semua penyedia Pendidikan kesehatan diwajibkan untuk mendorong kerjasama antar profesi kesehatan dalam tim pelayanan kesehatan. Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang telah melaksanakan workshop tentang IPE ini pada tahun 2018 , disamping itu beberapa dosen juga pernah dilatih menjadi fasilitator IPE oleh Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI tetapi implementasinya belum dilaksanakan sampai saat ini. Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang termasuk poltekkes yang baru berdiri dan hanya memiliki 3 program studi yaitu: . Keperawatan, . Kebidanan, . Sanitasi. Berdasarkan uraian diatas, dibutuhkan riset untuk meneliti pengetahuan dan kesiapan dosen yang akan menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran Interprofesional Education di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang. Tenaga pendidik memiliki peran yang penting dalam kesuksesan pelaksaan IPE. Menurut Hall et al. pendidikan interprofesi adalah cara yang efektif untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi antara tenaga kesehatan uang nantinya siap bekerja sama untuk memberikan perawatan komprehensif dalam berbagai pelayanan kesehatan. Tenaga pendidik atau dosen setidaknya memahami kolaborasi, komunikasi yang saling menghormati, refleksi, penerapan pengetahuan dan keterampilan, dan pengalaman dalam tim interprofesional yang merupakan elemen-elemen yang diperlukan sehingga dosen mampu terlibat dalam pelaksanaan IPE . Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam menghadapi Interprofesional Education (IPE). METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik yaitu metode penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena atau faktor resiko dengan faktor efek . Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan yang terdiri atas 23 pertanyaan dan kuesioner kesiapan yang terdiri atas 19 pertanyaan. Kuesioner pengetahuan dengan mengambil teori HPEQ Project yang mengadopsi 4 domain IPE. Kuesioner kesiapan diadopsi dari kuesioner baku Readiness Vol. No. November 2021 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kesiapan A. Interprofessional Learning Scale. Penelitian dilaksanakan di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang , dari bulan Maret Ae Oktober 2019. Subjek penelitian adalah seluruh dosen dari ketiga prodi berjumlah 42 orang. Analisis data dilakukan melalui . Analisis univariat . Analisis bivariat. HASIL Hasil penelitian (Tabel . menunjukkan bahwa sebagian besar responden didominasi oleh dosen yang berusia 31 - 40 tahun yaitu sebanyak 20 responden . %). Sebagian besar responden didominasi oleh perempuan yaitu sebanyak 32 responden . %). Tabel 1. Karakteristik dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang . Karakteristik Umur 20 Ae 30 31 Ae 40 41 Ae 50 51 Ae 60 61 Ae 65 Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Prodi Keperawatan Kebidanan Sanitasi Total Sebagian besar dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang IPE yaitu sebanyak 26 responden . %) dan sebagian responden memiliki pengetahuan baik tentang IPE yaitu sebanyak 16 responden . %). Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan dosen mengenai Interprofesional Education (IPE) . Pengetahuan Baik Cukup Total Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dosen Poltekkes Tanjungpinang memiliki kesiapan menghadapi IPE pada kategori siap yaitu sebanyak 23 responden . %) dan tidak siap sebanyak 19 responden . %). Distribusi frekuensi kesiapan dosen Poltekkes Tanjungpinang menghadapi Interprofesional Education (IPE) . Kesiapan Siap Tidak Siap Total Tabel 3. Rian Yuliyana Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu (JITKT) Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 11 responden . ,2%) adalah dosen yang siap menghadapi IPE. Sedangkan dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 14 responden . ,3%) adalah dosen yang tidak siap menghadapi IPE. Hasil statisk menggunakan uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0. 153 dengan taraf signifikan sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik tingkat pengetahuan dan kesiapan dosen menghadapi IPE tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Tetapi faktor risiko dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup cendrung 2,567 kali lebih tidak siap menghadapi IPE dibandingkan dengan dosen yang memiliki pengetahuan yang baik. Tabel 4. Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan dosen Poltekkes Tanjungpinang Menghadapi Interprofesional Education (IPE) . Pengetahuan Cukup Baik Total Kesiapan Tidak siap Siap N % Total Pvalue 2,567 . ,6949,. OR (CI 95%) 0,153 PEMBAHASAN Responden penelitian ini sebagian besar berusia dewasa dengan jenis kelamin mayoritas adalah perempuan. Menurut Notoatmodjo bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan pengetahuan. Semakin cukup usia seseorang, tingkat pengetahuannya akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. Sebagian besar dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang IPE sebesar 62% dan sebagian dosen memiliki tingkat pengetahuan baik tentang IPE sebesar 38%. Menurut Rogers . pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang . vert Sebagian besar dosen Poltekkes Tanjungpinang memiliki kesiapan menghadapi IPE pada kategori siap yaitu sebanyak 23 responden . %) dan tidak siap sebanyak 19 responden . %). Dampak positif pelaksanan IPE dalam pendidikan kesehatan tidak hanya dari sisi Pendidikan saja, tetapi juga dalam hal pelayanan kesehatan. IPE membantu mahasiswa dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik seperti pemecahan masalah dalam tim, konseling kesehatan dan keterampilan klinik . Kesiapan mahasiswa dalam menghadapi IPE tidak lepas dari peran dosen. Peran dosen dalam IPE diharapkan mampu membentuk peserta didik yang dapat memahami tugas dan kewenangan masing-masing profesi sehingga akan muncul tanggung jawab yang sesuai dalam penyelesaian suatu masalah. Sebagian dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang yang memiliki pengetahuan baik adalah dosen yang siap menghadapi IPE sebanyak 26,2%. Sebagian dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup adalah dosen yang tidak siap menghadapi IPE sebanyak 33,33%. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan tingkat pengetahuan dan kesiapan dosen menghadapi IPE di Poltekkes kemenkes Tanjungpinang. Hal ini didukung dengan faktor risiko dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup cendrung 2,567 kali lebih tidak siap menghadapi IPE dibandingkan dengan yang memiliki pengetahuan yang baik. Hasil penelitian ini tidak sejalan dari hasil penelitian Suryana . ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap guru. Sikap adalah cara pandang seseorang yang Vol. No. November 2021 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kesiapan A. bersifat positif, negative, atau ambigu terhadap suatu kondisi atau keadaan yang dapat mempengaruhi respon individu tersbut. Faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah Pendidikan, media massa, social budaya dan ekonomi, lingkungan pengelaman, dan usia. Padahal ada tiga fokus implementasi IPE dalam kurikulum Pendidikan kesehatan yaitu Pertama peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa dalam praktik kolaborasi antara profesi kesehatan. Kedua, berfokus pada pembelajaran tentang bagaimana menciptakan olaborasi yang efektif dalam sebuah tim. Ketiga, menciptakan kerjasama yang efektif untuk meningkatakn kualitas pelayanan pada pasien . Interprofessional education dalam dunia pendidikan tinggi di bidang kesehatan bertujuan mengarahkan dosen untuk membantu mempersiapkan mahasiswa profesi kesehatan untuk nantinya mampu terlibat dan berkontribusi aktif positif dalam collaborative practice. IPE memegang peranan penting yaitu sebagai jembatan agar di suatu negara collaborative practice dapat dilaksanakan. IPE berdampak pada peningkatan apresiasi siswa dan pemahaman tentang peran, tanggung jawab, dan untuk mengarahkan siswa supaya berpikir kritis dan menumbuhkan sikap professional. Penelitian yang dilakukan oleh Murphy et al . menunjukkan keberhasilan proses pendidikan interprofesional di perguruan tinggi tidak dapat terlepas dari peran dosen. Inisiatif mahasiswa untuk belajar bersama dapat terjadi jika terfasilitasi oleh lingkungannya seperti sistem dan juga tenaga dosen. KESIMPULAN Sebagian besar dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang IPE dan sebagian besar dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang memiliki kesiapan menghadapi IPE, secara statisitik tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam menghadapi IPE, tetapi faktor risiko dosen yang memiliki pengetahuan yang cukup cendrung lebih tidak siap menghadapi IPE dibandingkan dengan yang memiliki pengetahuan yang baik. SARAN Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan pengambil kebijakan di Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dalam mempersiapkan Interprofessional Education (IPE) baik bagi dosen maupun mahasiswa ketiga prodi. Tingkat pengetahuan dan kesiapan dosen/mahasiswa Poltekkes Tanjungpinang dalam menghadapi IPE merupakan acuan untuk melaksanakan Interprofesional Colaboration (IPC) yang nantikan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Praktek Kerja Nyata Terpadu bagi 3 prodi yang ada di Poltekkes Tanjungpinang. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan pada semua pihak yang telah membantu terutama BPPSDM Kemenkes RI. UGM. Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang dan seluruh civitas Poltekkes kemenkes tanjungpinang DAFTAR PUSTAKA