Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 Hubungan Asupan Energi dan Zat Gizi Makro dan Tingkat Kebugaran (VO2 MAX) Atlet Pencak Silat. Sepak Takraw, dan Judo Sintha Fransiske SimanungkalitA. Nur Intania Sofianita1,Muhammad Nur Hasan Syah1. Margareta Dias Listiyawati1. Nurul Amrina Sairah1 1Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta. Jakarta. Indonesia Author's mailing address Korespondensi E-mail: sinthafransiske@upnvj. Submitted: 03 Oktober 2024. Revised: 11 November 2024. Accepted: 25 Desember 2024 Abstract Athletes with good physical fitness will have optimal performance quality. Fitness is a crucial factor in building an athlete's performance in achieving the expected competencies. One strategy for maintaining physical fitness levels is to consume foods with balanced nutrients, especially energy and macronutrients (Carbohydrates. Protein and Fa. In this study, the relationship between energy and macronutrient intake and the fitness of Pencak Silat. Sepak Takraw and Judo athletes at DKI Jakarta Province will be examined. This research uses a quantitative observational analytical method with a cross-sectional design and is analyzed descriptively analytically to determine the desired relationship. The data normality test used the Kolmogorov-Smirnov test, resulting in normally distributed data . >0. The total population in this study was 75 people, 45 men and 30 women. The results of the analysis of Recall and VO2Max data which describe each variable show that there is a significant relationship between energy and macronutrient intake and athlete fitness. Marked with a P value = 0. value < 0. By understanding this relationship, it is hoped that it can help design a diet program that is more effective and suits the athlete's needs based on the type of sport they are involved in, so that the athlete can achieve optimal physical fitness. Keyword: physical fitness, macronutrient, athletes Abstrak Atlet dengan kebugaran jasmani baik akan memiliki kualitas performa yang optimal. Kebugaran merupakan faktor krusial dalam membangun kinerja atlet dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Salah satu strategi menjaga tingkat kebugaran jasmani adalah dengan mengonsumsi makanan dengan zat gizi seimbang, terutama energi dan zat gizi makro (Karbohidrat. Protein, dan Lema. Dalam studi ini akan diteliti hubungan asupan energi dan zat gizi makro dengan kebugaran atlet Pencak Silat. Sepak Takraw, dan Judo di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain cross sectional dan dianalisis secara deskriptif analitik untuk mengetahui hubungan yang diinginkan. Uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, didapatkan hasil data yang berdistribusi normal . >0. Total populasi pada penelitian ini berjumlah 75 orang, laki-laki berjumlah 45 orang dan perempuan berjumlah 30 orang. Hasil dari analisis data Recall dan VO2Max yang menggambarkan masing-masing variabel menunjukan jika terdapat hubungan yang signifikan antara kedua asupan energi dan zat gizi makro dengan kebugaran atlet. Ditandai dengan nilai P = 0. value < 0. Dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapat membantu merancang program diet yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan atlet berdasarkan jenis olahraga yang ditekuni, sehingga atlet tersebut dapat mencapai kebugaran jasmani yang optimal. Kata Kunci: kebugaran jasmani, zat gizi makro, atlet Pendahuluan Kebugaran jasmani merupakan faktor krusial dalam membangun kinerja atlet di seluruh jenis Tingkat kebugaran seorang atlet menentukan kemampuan fisik yang baik, sehingga dapat mengurangi risiko cedera dan waktu pemulihan akan lebih cepat. VO2Max digunakan sebagai indikator kebugaran jasmani pada atlet karena menunjukan kapasitas aerobik serta kualitas sistem kardiovaskular Selain itu. VO2Max juga dapat menentukan daya tahan tubuh seorang atlet (Strasser et al. Dalam menjaga kebugaran jasmani seorang atlet, salah satu aspek yang wajib dilakukan adalah menjaga asupan energi dan zat gizi makro yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak. Dibandingkan individu lainnya, atlet memiliki kebutuhan energi yang lebih tinggi daripada individu nonatlet. Maka dari itu, zat gizi mikro adalah komponen kunci dalam diet atlet yang dalam mendukung Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 aktivitas fisik tetapi juga membantu dalam pembangunan dan rehabilitasi jaringan tubuh setelah latihan atau pertandingan (Kerksick, et al, 2. Beberapa peneliti telah menyebutkan bahwa karbohidrat berperan menjadi sumber energi utama yang digunakan selama latihan intensitas tinggi dan periode yang lama, sedangkan protein penting untuk mempertahankan kekuatan massa otot dan pemulihan jaringan sehingga atlet akan senantiasa terlihat bugar (Burke et al. , 2. Lemak juga memiliki peran penting sebagai sumber energi cadangan dan dalam berbagai fungsi biologis lainnya (Phillips & Van Loon, 2. Kombinasi ketiga zat gizi makro ini dibutuhkan untuk mendukung kualitas performa atlet yang lebih optimal. Setiap atlet di cabang olahraga tertentu seperti pencak silat, sepak takraw, dan judo memiliki kebutuhan fisiologis dan tuntutan energi yang spesifik sesuai dengan karakteristik masing-masing olahraga karena kompetensi yang ingin dicapai berbeda (Franchini et al. , 2. Pencak silat menuntut kombinasi kekuatan, kelincahan, dan daya tahan, sepak takraw memerlukan ketangkasan, koordinasi, dan kekuatan otot kaki, sedangkan judo membutuhkan kekuatan, daya tahan, serta strategi dalam teknik grappling dan throwing (Aziz et al. , 2. Perbedaan ini menunjukkan jika strategi asupan pada setiap jenis olahraga mungkin akan berbeda untuk mencapai tingkat kebugaran yang optimal. Penelitian di Indonesia yang membahas mengenai hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan tingkat kebugaran pada atlet masih terbatas. Namun, pada studi oleh Khairunnisa et al. membuktikan bahwa asupan gizi yang tepat dapat meningkatkan performa atlet pencak silat. Selain itu, penelitian oleh Desiplia et al. mengindikasikan jika asupan karbohidrat seorang atlet tercukupi, tingkat energi yang berasal dari glikogen selama latihan dan pertandingan akan terjaga dengan baik dan atlet tidak akan merasa lelah dengan cepat. Sementara dalam konteks judo, penelitian oleh Purwaningtyas et al, . menegaskan pentingnya asupan protein yang memadai bagi para atlet guna mendukung pemulihan dan kekuatan otot. Meneruskan studi penelitian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan tingkat kebugaran pada atlet pencak silat, sepak takraw, dan judo di Indonesia. Dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapat memberikan rekomendasi gizi yang lebih spesifik dan efektif dalam mendukung performa optimal para atlet dalam berbagai cabang olahraga di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini akan menyumbangkan informasi pengetahuan yang aplikatif dalam bidang nutrisi olahraga, khususnya dalam konteks asupan energi dan zat gizi makro, serta implikasinya terhadap kebugaran dan performa atlet dari berbagai jenis olahraga di Indonesia. Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan di Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) Provinsi DKI Jakarta. Gor Ragunan. Pasar Minggu. Jakarta Selatan untuk atlet pencak silat dan sepak takraw, sedangkan untuk atlet judo dilaksanakan di RAY Judo Club. Gor Nanggala Cijantung. Jakarta Timur. Peneliti melakukan pengukuran antropometri, asupan energi dan zat gizi makro dengan menggunakan formulir Food Recall 1x24 jam, dan pengukuran tingkat kebugaran atlet dengan menggunakan Balke test yaitu tes dilakukan dengan lari atau jalan selama 15 menit dan hasil dari tes berupa jarak tempuh dimasukkan dalam rumus. Rumus yang digunakan adalah 6,5 12,5 x kilometer lalu dimodifikasi oleh Frank Horwill VO2max = (((Total jarak tempuh / . Ae . x 0,. (Artanti, tahun ?). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain cross Penelitian ini dianalisis secara deskriptif analitik dan bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan energi dan zat gizi makro terhadap tingkat kebugaran atlet. Untuk menganalisa data penelitian menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solution. Peneliti melakukan uji normalitas untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan. Uji normalitas menggunakan uji KolmogorovSmirnov, didapatkan hasil data yang digunakan berdistribusi normal . >0. Uji statistik yang digunakan adalah Korelasi Spearman untuk menguji hubungan asupan energi dan zat gizi makro dengan tingkat kebugaran atlet. Total populasi pada penelitian ini berjumlah 75 orang, laki-laki sebanyak 45 orang dan perempuan sebanyak 30 orang. Adapun rincian dari populasi yang digunakan sebagai berikut, atlet pencak silat sebanyak 24 orang, atlet sepak takraw sebanyak 20 orang, dan atlet judo sebanyak 31 orang. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 Hasil dan Pembahasan Hasil analisis univariat tersusun dari karakteristik atlet meliputi jenis kelamin, umur, berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh, dan VO2 Max yang menggambarkan tingkat kebugaran. Selain itu juga ditampilkan hasil asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Tabel 1. Distribusi Karakteristik dan Asupan Atlet Sepak Takraw Variabel Umur Berat Badan Tinggi Badan Indeks Masa Tubuh VO2 Max Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat (Mean SD) MIN - MAX 13 - 18 45 Ae 61 152 Ae 173. 2 Ae 22. 2 Ae 47. 8 Ae 4919. 63 Ae 199. 8 Ae 203. 8 Ae 799. Berdasarkan tabel 1 menunjukan para atlet sepak takraw di PPOP ragunan memiliki rata-rata usia 14 tahun, dengan rentang usia 13 - 18 tahun. Berat badan para atlet memiliki rata-rata 54 kg, dengan rentang 43 kg - 61 kg. Tinggi badan para atlet memiliki rata-rata 164. 6 cm . 6 SD), dengan rentang 152 Ae 173. 2 cm. Indeks Massa Tubuh (IMT) para atlet memiliki rata-rata 20. 2 Kg/m2 1. 5, dengan rentang 2 Ae 22. 3 Kg/m2. Tingkat kebugaran (VO2 Ma. para atlet memiliki rata - rata sebesar 41. 7, dengan 2 - 47. Asupan energi rata-rata para atlet sebesar 2658 1181. 3 kkal, dengan rentang 1408. Ae 4919. 1 kkal. Asupan protein rata-rata para atlet sebesar 113. 7 gr , dengan rentang 63 Ae 199. 3 gr. Asupan lemak rata-rata para atlet sebesar 106. 8 44 gr, dengan rentang 43. 8 Ae 203. 4 gr. Asupan karbohidrat rata-rata para atlet sebesar 365. 1 gr, dengan rentang 148. 8 Ae 799. 4 gr. Tabel 2. Distribusi Karakteristik dan Asupan Atlet Pencak Silat Variabel Umur Berat Badan Tinggi Badan Indeks Masa Tubuh VO2 Max Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat (Mean SD) MIN - MAX 14 - 18 42 Ae 72 151 Ae 175 7 Ae 23. 1 Ae 53. 388 Ae 4942. 6 Ae 270. 4 Ae 232. 4 Ae 733. Berdasarkan tabel 2 menunjukan para atlet pencak silat di PPOP ragunan memiliki rata-rata usia 16 tahun, dengan rentang usia 14 - 18 tahun. Berat badan para atlet memiliki rata-rata 53. dengan rentang 42 - 72 Kg. Tinggi badan para atlet memiliki rata-rata 162. 8 cm, dengan rentang 151 Ae 1735 cm. Indeks Massa Tubuh (IMT) para atlet memiliki rata-rata 20. 6 Kg/m2, dengan rentang 7 Ae 23. 8 Kg/m2. Tingkat kebugaran (VO2 Ma. para atlet memiliki rata - rata sebesar 45. 4 5, dengan 1 - 53. Asupan energi rata-rata para atlet sebesar 1947. 6 kkal, dengan rentang 388 Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 Ae 4942. 7 kkal. Asupan protein rata-rata para atlet sebesar 95. 8 gr, dengan rentang 16. 6 Ae 270. 9 gr. Asupan lemak rata-rata para atlet sebesar 80 58. 6 gr, dengan rentang 4 Ae 232. 7 gr. Asupan karbohidrat rata-rata para atlet sebesar 276 143 gr, dengan rentang 109. 4 Ae 733. 3 gr. Tabel 3. Distribusi Karakteristik dan Asupan Atlet Judo Variabel Umur Berat Badan Tinggi Badan Indeks Masa Tubuh VO2 Max Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat (Mean SD) MIN - MAX 1 - 93. 4 Ae 164. 4 Ae 35. 31 Ae 47. 3 Ae 4156. 3 Ae 144. 2 Ae 198. 1 Ae 456. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel . , atlet Judo RAY Judo Club rata-rata berusia 8 tahun dengan rentang usia 8 -14 tahun. Berat badan mereka rata-rata 48 13,7 kg, dengan kisaran 27,1 Ae 93,4 Kg. Tinggi badan atlet rata-rata 148 11,1cm, dengan rentang 129,4 Ae 164,7 cm. Indeks Massa Tubuh (IMT) atlet rata-rata sebesar 21,8 5,4 Kg/m2, dengan kisaran 14,4 Ae 35,8 Kg/m2. Tingkat kebugaran (VO2 Ma. atlet rata-rata sebesar 41,3 5,2 , dengan rentang 31 Ae 47,1. Rata-rata asupan energi atlet adalah 2300 669 kkal, dengan kisaran 1510,3 Ae 4156,9 kkal. Rata-rata asupan protein atlet adalah 66,4 28,7 gr, dengan kisaran 28,3 Ae 144,2 gr. Rata-rata asupan lemak atlet adalah 86,5 38,4 gr, dengan kisaran 51,2 Ae 198,5 gr. Rata-rata asupan karbohidrat atlet adalah 314 65gr, dengan kisaran 192,1 Ae 456,2 Tabel 4. Kategori Asupan Energi dan Zat Gizi Makro Variabel Asupan Energi Rendah Cukup Asupan Protein Rendah Cukup Asupan Lemak Rendah Cukup Asupan Karbohidrat Rendah Cukup Frekuensi Persen (%) Berdasarkan tabel 4, terdapat 57 atlet . %) yang memiliki asupan energi rendah dan 18 atlet . %) yang memiliki asupan energi cukup. Kemudian, terdapat 44 atlet . 7%) yang memiliki asupan protein rendah dan 31 atlet . 3%) yang memiliki asupan protein cukup. Untuk variabel berikutnya, terdapat 47 atlet . 7%) yang memiliki asupan lemak rendah dan 28 atlet . 3%) yang memiliki asupan Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 lemak cukup. Terakhir, terdapat 44 atlet . 7%) yang memiliki asupan karbohidrat rendah dan 31 atlet . 3%) yang memiliki asupan karbohidrat cukup. Tabel 5. Hubungan VO2 Max dan dengan Asupan Energi dan Zat Gizi Makro Variabel Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat (Mean SD) *nilai p signifikan . <0,. Hasil analisis hubungan antar variabel pada (Tabel . , menunjukkan bahwa asupan energi memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat VO2Max. Hal ini ditandai dengan hasil uji korelasi Spearman yang menunjukkan nilai p value sebesar 0. <0,. Hasil ini bertolak belakang dengan studi percontohan yang dilakukan oleh Lee et al, 2020 tentang Association of Low Energy Availability and Suppressed Metabolic Status in Korean Male Collegiate Soccer Players: A Pilot Study. Dari observasi yang dilakukan kepada 12 atlet pria menunjukan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat VO2 Max antara atlet dengan ketersediaan energi tinggi dan rendah. Dalam penelitian Ghina et al, 2023 juga didapatkan hasil tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dan tingkat kebugaran jasmani. Asupan energi pada atlet didasarkan pada tingkat aktivitas, berat badan, tinggi badan, jenis kelamin, jenis olahraga dan tujuan pemberian. Dengan tercukupinya asupan energi pada atlet dapat menunjang kinerja atlet baik pada masa latihan maupun pada masa pertandingan. Hasil analisis hubungan antar variabel pada (Tabel . , menunjukkan bahwa asupan protein memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat VO2Max. Hal ini ditandai dengan hasil uji korelasi Spearman yang menunjukkan nilai p value sebesar 0. <0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kettunen et al, 2023 tentang Nutritional intake and anthropometric characteristics are associated with endurance performance and markers of low energy availability in young female cross-country skiers. Dari hasil observasi terhadap 23 atlet didapatkan adanya hubungan antara tingkat asupan protein dengan kadar VO2 Max di dalam tubuh. Namun, hal ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Hasniyati et al, 2023 tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan tingkat kebugaran jasmani (VO2 Ma. Atlet membutuhkan protein untuk tumbuh dan membangun otot yang sangat penting untuk berolahraga, dan untuk mencapai tinggi badan yang ideal. Ketika cadangan karbohidrat dan lemak tubuh berkurang, sistem energi protein berfungsi sebagai alternatif. Kekuatan, kecepatan, daya tahan, dan kinerja atletik secara keseluruhan dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi protein yang cukup. Protein diperlukan untuk memperbaiki dan membangun kembali otot-otot ini setelah latihan. Hal ini dapat meningkatkan massa otot atlet dan kemampuan mereka untuk menghasilkan tenaga. Jumlah otot yang lebih besar dan kuat akan membutuhkan lebih banyak oksigen untuk mendukung aktivitas mereka, yang berdampak pada VO2 maksimal (Ghina et al, 2. Hasil analisis hubungan antar variabel pada (Tabel . , menunjukkan bahwa asupan lemak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kadar VO2Max. Hal ini ditandai dengan hasil uji korelasi Spearman yang menunjukkan nilai p value sebesar 0. <0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh hubungan yang signifikan antara lemak dan VO2MAX. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan atlet yang beradaptasi dengan diet Low Carbohydrate High Fat (LCHF) diet ketogenik oleh Noakes et al. , 2023 menunjukan bahwa adaptasi diet tersebut menggeser titik persen Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 VO2Max pada persilangan antara VO2Max dan kontribusi lemak dan karbohidrat (CHO) menjadi lebih tinggi (>80%). FATMAX . ingkat oksidasi lemak maksimu. atlet pun juga jauh lebih tinggi . ,5 gr/meni. Artinya, diet LCHF berpotensi meningkatkan utilitas lemak dalam tubuh sebagai sumber energi, terutama selama latihan intensitas tinggi. Diet tersebut sangat cocok diterapkan untuk atlet di cabang olahraga ketahanan . araton, sepeda, dayung, dan lainny. Namun, hal ini bertolak belakang dengan studi tinjauan sistematis dan analisis meta yang dilakukan oleh Cao et al, 2021 tentang Ketogenik LCHF dan kapasitas aerobik dan daya tahan. Dari 10 referensi yang ditinjau, hanya ada satu referensi yang menyebutkan bahwa adanya peningkatan VO2Max yang signifikan pada kelompok yang diberikan intervensi berupa K-LCHF . <0,. Sehingga, kesimpulan dari studi tersebut adalah tidak adanya pengaruh yang signifikan oleh K-LCHF pada VO2Max selama Grade Exercise Test (GXT). Hasil analisis hubungan antar variabel (Tabel . , menyatakan bahwa asupan karbohidrat memiliki hubungan yang signifikan terhadap kadar VO2Max hal tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi Spearman yang menunjukan nilai p value sebesar 0. <0,. Asupan karbohidrat dapat memberikan pengaruh pada kadar VO2Max, pada penelitian yang dilakukan oleh Durkalec et al, 2019 ditemukan adanya penurunan kadar VO2Max hingga O65% pada atlet laki-laki serta peningkatan oksidasi lemak hingga >65% dari VO2Max pada atlet wanita karena para atlet diberikan rancangan diet ketogenik . endah karbohidra. selama 4 minggu. Hal ini terjadi karena kekurangan karbohidrat dari asupan normal akan membawa kepada peningkatan oksidasi lemak selama berolahraga dan akan menyebabkan beberapa latihan menjadi tidak optimal, sehingga tidak ada efek yang optimal bagi tubuh. Selain itu, diet ketogenik akan memicu peningkatan kontribusi asam lemak bebas (FFA) terhadap total pengeluaran energi (EE) selama periode latihan intensitas rendah sampai sedang. Sementara pada latihan intensitas tinggi, diet ketogenik akan membuat metabolisme FFA dihambat, karena terjadi peningkatan glikolisis. Maka dari itu, disimpulkan bahwa diet ketogenik bisa jadi menjadi salah satu diet yang seharusnya tidak dilakukan pada jenis olahraga anaerobik, berintensitas tinggi, dan berdurasi singkat. Kesimpulan Kebugaran jasmani merupakan faktor krusial dalam membangun kinerja atlet di seluruh jenis Tingkat kebugaran seorang atlet menentukan kemampuan fisik yang baik, sehingga dapat mengurangi risiko cedera dan waktu pemulihan akan lebih cepat. VO2Max juga dapat menentukan daya tahan tubuh seorang atlet (Strasser et al, 2. Dalam menjaga kebugaran jasmani seorang atlet, salah satu aspek yang wajib dilakukan adalah menjaga asupan energi dan zat gizi makro yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak. Hasil evaluasi yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan tingkat kebugaran pada atlet pencak silat, sepak takraw, dan judo di Indonesia. Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian yang sejalan maupun dengan beberapa hasil penelitian yang bertolak belakang. Penelitian ini diharapkan mampu memperkaya penelitian gizi olahraga di Indonesia. Dalam penelitian ini peneliti hanya berfokus dengan seberapa besar asupan energi serta zat gizi makro, tanpa memperhatikan keragaman asupan pangan para Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih kepada Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP dan klub olahraga yang bersedia menjadi lokasi penelitian, serta Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta yang mendukung penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dana yang diberikan oleh LPPM UPN Veteran Jakarta dalam mendukung skema penelitian RISTA ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Sintha F Simanungkalit sebagai ketua dan Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. Nutrire Diaita Vol. No. Oktober 2024 ,p. ISSN (Prin. : 1979--8539 corresponden author dalam menganalisis dan membahas hasil serta pembahasan. Nur Intania Sofianita dan M. Nur Hasan Syah sebagai anggota yang membantu dalam pembahasan. Serta mahasiswa yang membantu dalam pengambilan data, wawancara responden dan mengedit Daftar Pustaka