Copyright : ISSNMardi : 2807-9280 @ 2024 Hartono https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK STUDI KASUS : IMPLEMENTASI MANAJEMEN HIPERTERMIA PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM KOMPLEK Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 1,2,3, Program Studi Keperawatan Pekalongan Poltekkes Kemenkes Semarang. Indonesia *e-mail korespondensi : mardihartono@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Febrile convulsion ataupun kejang demam adalah penyakit yang disebabkan oleh proses ekstrakranium yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh > 38AC. Kejang demam disebabkan oleh hipertermi yang muncul secara cepat yang berkaitan dengan infeksi virus dan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tindakan keperawatan hipertermi pada pasien anak dengan kejang demam kompleks. Tujuan : untuk menggambarkan implementasi beberapa tindakan manajemen penatalaksanaan hipertermi pada anak dengan kejang demam komplek. Responden terdiri dari 2 pasien anak di bawah 5 tahun dan mengalami masalah hipertermi. Manajemen penatalaksanaan hipertermi dilakukan selama 3 hari. yang dilakukan pada tanggal 17-20 Januari 2024 dengan pendekatan studi kasus. Metode : Rancangan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis studi kasus. Hasil: Jenis tindakan manajemen pengelolaan hipertermi pada kedua pasien anak dengan kejang demam sudah sesuai dengan kriteria hasil yang sudah direncanakan. Tindakan yang diberikan pada kedua pasien tersebut yaitu tindakan manajement hipertermi. Termasuk tindakan kompres hangat yang berpengaruh terhadap penurunan suhu tubuh pada anak yang mengalami hipertermi. Simpulan : Berdasarkan data yang didapatkan manajemen hipertermi dapat mengatasi masalah hipertermi setelah pemberian tindakan manajement hipertermi, pasien tampak mengalami perubahan suhu tubuh, sehingga masalah hipertermi pada kedua pasien dapat teratasi dan intervensi dihentikan. Kata Kunci : Manajemen Hipertermi. Kejang Demam MardiJLK Hartono Team. Afiyah Sri Harnany . Moh. Projo Angkasa . Fina Agianti Agustin Copyright : ISSN : 2807-9280 @ 2024 Mardi Hartono https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK CASE STUDY: IMPLEMENTATION OF HYPERTHERMIA MAMAGEMENT IN CHILDREN WITH FEBRILE CONVULSION COMPLEX Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 1,2,3, Pekalongan Nursing Study Program Polytechnic Health Ministry of Semarang. Indonesia *Corresponding author: mardihartono@gmail. ABSTRACT Background: Febrile convulsion or febrile seizure is a disease caused by an extracranial process which results in an increase in body temperature > 38AC. Febrile seizures are caused by rapidly appearing hyperthermia associated with viral and bacterial infections. This study aims to carry out hyperthermia nursing actions in pediatric patients with complex febrile seizures. Describe : the implementation of several management measures for hyperthermia in children with complex febrile seizures. Respondents consisted of 2 pediatric patients under 5 years old who experienced hyperthermia problems. Management of hyperthermia is carried out for 3 days. was carried out on January 17-20 2024 with a case study approach. Method: This research design is a descriptive method with a case study type. Results: The type of management action for hyperthermia in the two pediatric patients with febrile seizures was in accordance with the planned outcome criteria. The action given to these two patients was hyperthermia management. Including warm compresses which have an effect on reducing body temperature in children who experience hyperthermia. Conclusion: Based on the data obtained, hyperthermia management can overcome the problem of After administering hyperthermia management measures, the patients appeared to experience changes in body temperature, so that the problem of hyperthermia in both patients was resolved and the intervention was stopped. Keywords: Hyperthermia Management. Febrile Seizures MardiJLK Hartono Team1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing PENDAHULUAN Anak termasuk unit paling penting dalam Selainitu, anak-anak mewakili masa depan bangsa. Maka tidak ada orang tua yang meinginginkan anaknya mengalami sakit, apalagi jika terjadi kejang demam. Febrile convulsion ataupun kejang demam adalah penyakit yang terjadi karena adanya proses ekstrakranium yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh > 38AC (Ngastiyah, 2. Menurut Worrld Health Organization (WHO), kejang demam mempengaruhi lebih dari 21,65 juta anak di seluruh dunia, yang mengakibatkan 000 anak (WHO,2. DiAsia, kejadian kejang demam 80Ae90% lebih tinggi dibandingkan negara lain (Ari Solihin,2. Menurut laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada tahun 2019, kejadian kejang demam di Indonesia tercatat 254 kasus. Sementaraitu, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5tahun diwilayah Jawa Tengah mengalami penurunan sebesar2% -3% menurut data Kementerian Kesehatan. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus Flaviviridae. (Kemenkes RI, 2. Penyakit DHF sebagian besar sering menyerang pada anak berusia <15 tahun, melalui gigitan nyamuk dengue kemudian mengakibatkan terjadinya infeksi DBD. Prinsip penatalaksanaannya rehidrasi sehingga dapat mengembalikan cairan yang kurang. Pada umumnya pasien anak belum kooperatif sehingga efisien yang dapat dilakukan dalam memenuhi kebutuhan cairan yang kurang yaitu pasien anak perlu di rawat inap di rumah Kejang demam berulang disebabkan oleh riwayat ambang kejang yang rendah tidak segera Oleh karena itu, selama pengobatan penting untuk memantau tingkat keparahan kejang Prioritas dalam asuhan keperawatan pada kondisi ini adalah penyelesaian masalah hipertermia yang disertai kejang demam. Hipertermi yaitu meningkatnya suhu tubuh seseorang dalam rentang tidak normal. Hasil penanganan yang lebih baik bisa dicapai dengan pemberian diazepam segera saat terjadi kejang demam. Meskipun antipiretik bermanfaat, tetapi tidak mampu mencegah kejadian kejang Akibat tertutupnya lidah pada faring saat kejang demam, berpotensi terjadi penyumbatan jalan napas pada anak. Penurunan pengiriman oksigen ke paru-paru akibat penyumbatan saluran napas bisa menyebabkan gangguan perfusi Munculnya hipertermi secara cepat yang berkaitan dengan infeksi virus dan bakteri dapat menyebabkan terjadinya kejang demam (Nur Indah, 2. Manajemen Hipertermi berdasarkan SDKI untuk menangani hipertermi pada pasien anak dengan Adapaun tindakan farmakologis untuk menangani hipertermia pada pasien kejang demam meliputi pemberian obat penurun demam . isalnya parasetamo. Sedangkan tindakan non farmakologis antara lain memastikan hidrasi yang cukup, memindahkan anak ke ruangan dengan temperatur normal, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian tipis, dan memberikan kompres hangat (Rahmasari & Lestari, 2. Dari hasil penelitian Nova at al. , . Penerapan kompres hangat menyebabkan suhu tubuh mengalami penurunan pada pasien kejang Responden-responden menunjukkan penurunan suhu tubuh dari 38,3AC menjadi 36,2AC setelah penerapan kompres hangat selama 15-20 Sementara itu, hasil penelitian fadli dan akmal pada tahun 2018 ditemukan adanya efek kompres hangat terhadap penurunan suhu pada pasien anak dengan kejang demam dibuktikan dengan setelah pemberian kompres hangat selama 15-20 menit, anak mengalami penurunan suhu tubuh dari 38,65AC menjadi 37,27AC (Rehana at , 2. Berdasarkan hipertermi oleh perawat sudah dilakukan sesuai standar intervensi keperawatan yaitu manajemen hipertermi, namun pengetahuan orang tua pasien terkait tindakan mengompres hangat untuk menurunkan demam masih kurang. Misalnya, penulis sering lihat cara orang tua pasien dalam melakukan tindakan kompres hangat hanya diberikan sebatas dahi. Tindakan kompres hangat yang tepat dilakukan pada daerah tubuh tertentu seperti,bagiandahi,axilla, dan lipatan paha sesuai dengan SOP. Penulis saat melakukan praktik klinik keperawatan dirumah sakit pada pasien yang mengalami kejang demam, 3 dari setiap 4 pasien kejang demam mengalami hipertermi dengan kenaikan suhu tubuh di atas 38AC disebabkan oleh adanya proses ekstrakranium. Pemberian Penatalaksanaan Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Page 3 Of 9 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing Salah satu pendekatan untuk mengatasi terjadinya kejang demam pada pasien anak adalah dengan mengatasi masalah hipertermia. Kegagalan untuk segera menangani pasien dengan riwayat kejang demam bisa mengakibatkan terulang Oleh karena itu, penelitian berbasis studi kasus ini dilakukan untuk menganalisis dan menggambarkan menejemen hipertermi yang diberikan kepada pasien anak yang mengalami masalah hipertermi dengan kejang demam kompleks saat dirawat di rumah sakit. METODE Rancangan penelitian deskriptif pendekatan studi kasus dipilih menjadi metode Tujuan studi ini untuk memaparkan gambaran penerapan intervensi manajemen hipertermi pada anak kejang demam komplek dengan pendekatan asuhan Penelitian dilaksanakan pada Waktu pencarian kasus hipertermi pada anak dengan kejang demam kompleks yaitu pada bulan Januari Ae Februari 2024, sedangkan waktu untuk pengelolaan kasus selama tiga hari. Subjek penelitian yaitu 2 orang pasien anak dengan diagnosis keperawatan hipertermi di ruang Sekarjagad RSUD Bendan Kota Pekalongan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara convinience Sampling yakni subjek dipilih karena kemudahan dan keinginan peneliti melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien anak yang menderita kejang demam komplek dengan permasalahan keperawatan Hipertermi yang berusia dibawah lima tahun yang tidak ada penyakit penyerta yang memperburuk kondisi. Tujuan dilakukan teknik sampling yaitu untuk mendapatkan sampel yang sesuai dan dapat menggambarkan populasi untuk dijadikan subjek. Instrumen pengumpulan data yang dipakai yaitu, format asuhan keperawatan anak meliputi implementasi, serta evaluasi keperawatan, alat kesehatan sebagai pemeriksaan fisik seperti termometer, stetoskop, oximetry, jam tangan, meteran, timbangan berat badan, formulir skrining tumbuh kembang anak atau KPSP. SOP Penatalaksanaan Hipertermi Hasil Pasien. Hasil dari hasil pengkajian yang dilakukan pada Hari Rabu,17Januari2024 di Ruang Sekar Jagat Rumah Sakit Umum Daerah Bendan Kota Pekalongan pukul 10. 00 WIB diperoleh data pasien yang bernama An. K, tanggal lahir 10 Juni2022, usia 1 tahun7 bulan, jenis kelamin perempuan,agama islam,alamat Kramatsari. Pekalongan Barat, tanggal masuk rumah sakit 16 Januari 2024, nomor RM 000279x dengan masalah keperawatan hipertermi dan diagnosa medis kejang demam kompleks. Berdasarkan pengkajian yang didapatkan Ibu pasien mengatakan anaknya dibawa ke rumah sakit karena mengalami kejang selama A 15 menit dan terjadi berulang sebanyak 3 kali. Sebelumnya An. K mengalami demam naik turun selama 3 hari. An. K juga sering muntah. An. K sebelumnya tidak memiliki riwayat kejang atau riwayat penyakit apapun serta tidak memiliki riwayat alergi. Penulis memperoleh data subjektif yaitu ibu pasien mengatakan anaknya mengalami kejang selama A 15 menit dan terjadi berulang sebanyak 3 kali. Sebelumnya anak mengalami demam naik turun selama3hari serta sering muntah dan diperoleh data objektif yaitu kulit pasien teraba hangat dan kemerahan, pasien tampak menangis, mukosa bibir kering, suhu 38,1AC, nadi 121x/menit . RR 47x/menit Pasien2 Hasil pengkajian pada hari dilakukan pada Hari Kamis, 18 Januari 2024 di Ruang Sekar Jagat Rumah Sakit Umum Daerah Bendan Kota Pekalongan pukul 09. 00WIB didapatkan data pasien bernama An. S,usia1 tahun 4 bulan, alamat Jl. Teuku Umar. Pasar Sari. Pekalongan, jenis kelamin perempuan, tanggal masuk rumah sakit 17 Januari 2024, nomor RM 000303x, dengan masalah keperawatan hipertermi dan diagnosa medis kejang demam kompleks. Berdasarkan pengkajian ibu pasien mengatakan anaknya dibawa kerumah sakit karena mengalami demam naik turun selama 2 hari disertai dengan kejangselamaA15 menit terjadi berulang sebanyak An. juga mengalami batuk. Ibu pasien mengatakan anaknya pernah dibawake rumah sakit karena mengalami kejang demam saat berusia 9 bulan dan muntaber saat usia 10 bulan. An. S tidak memiliki riwayat alergi apapun, baik obat maupun Perulis memperoleh data subjektif yaitu Ibu pasien mengatakan anaknya mengalami demam naik turun selama 2 hari disertai dengan kejang selama A 15 menit terjadi berulang sebanyak 4 kali serta mengalami batuk dan diperoleh data objektif yaitu suhu38,3AC, pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, kulit pasien teraba hangat dan kemerahan, pasien tampak Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan diagnosa medis pada kedua pasien yaitu kejang demam kompleks, hal ini dilihat berdasarkan lama berlangsungnya kejang pada kedua pasien yaitu rata-rata berlangsung 15menit. Seperti yang dituliskan oleh Satuan Kerja Koordinasi Neurologi Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Page 4 Of 9 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing IDAI Tahun 2016 yaitu kejang demam komplekst terjadi secara bertahap,berlangsung rata-rata 15 menit dan lebih lama dari 24 jam. Walaupun kejang demam tidak berbahaya, tetapi kejang demam pada anak-anak dapat mengakibatkan keadaan darurat jika tidak segera ditangani. Keadaan darurat yang mungkin terjadi meliputi dyspnea, suhu tubuh yang meningkat atau Berdasarkan pengamatan awal pada kedua pasien didapatkan kesamaan keluhan yaitu hiprtermi dan Setelah dilakukan intervensi keperawatan dengan manajemen hipertermi dengaan cara yang pertama berupa Observasi : Mengidentifikasi penyebab hipertermi . dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan incubato. Memonitor suhu tubuh. Memonitor kadar elektrolit. Memonitor haluaran urine dan Memonitor komplikasi akibat Kemudia cara yang kedua yaitu Terapeutik : dengan menyediakan lingkungan yang dingin. Melonggarkan ataupun melepas pakaian. Memberikan cairan oral. Memberikan kompres hangat, dan Memberikan oksigen, perlu. Cara ketiga yaitu Edukasi : dengan menganjurkan tirah baring dan yang ke empat : kolaburasi : berupa pemberian cairan elektrolit intravena dan pemberian parasetamol jika diperlukan. Dan Setelah manajemen hipertermi selama 3x24 jam, menunjukan adanya peningkatan perbaikan Evaluasi Keperawatan Pasien1 Hasil evaluasi pada implementasi hari ketiga tanggal 19 Januari 2024 didapatkan data subjektif: ibu pasien mengatakan anaknya sudah tidak demam lagi,objektif:pasien tampak tenang, suhu tubuh36,6AC,nadi:112x/menit,RR:25x/menit,anal ysis:masalah teratasi, :intervensi dihentikan. Pasien 2 Hasil evaluasi pada implementasi hari ketiga tanggal 20 Januari 2024 didapatkan data subjektif: Ibu pasien mengatakan anaknya sudah tidak tubuh36,8AC,nadi:113x/menit,RR:27x/menit,anal ysis: masalah teratasi, dan planning : intervensi Penulis menyimpulkan bahwa kedua pasien dengan masalah hipertermi dapat teratasi dengan hasil evaluasi sesuai dengan kriteria hasil yang sudah direncanakan. Sesuai teori menurut Nurarif dan Kusuma . yaitu pasien tidak ada peningkatan suhu : suhu tubuh dalam batas normal dengan kriteria hasil suhu tubuh dalam rentang normal, nadi dan pernafasan dalam rentang Tindakan kompres hangat merupakan manajemen hipertermi yang dapat berpengaruh terhadap penurunan suhu tubuh pada anak yang mengalami Hal ini sejalan dengan Karya Tulis Ilmiah dari Friska Puji Astuti dengan judul asuhan keperawatan Hipertermi pada anak dengan kejang demam di RSUD Bendan Kota Pekalongan membuktikan bahwa dengan dilakukannya tindakan kompres hangat masalah hipertermi Tindakan kompres hangat berpengaruh terhadap penurunan suhu tubuh pada anak yang mengalami hipertermi. Gambaran Data Pada Pasien Anak Dengan Hipertermi Sebelum dan Sesudah dilakukan Manajemen Hipertermi (Selama 3x24 ja. PASIEN (USIA) KELUHAN UTAMA . DATA FOKUS INTERVENS (TINDAKAN) EVAL UASI Pasien. 1 (An. Usia :1 tahun 7 Manajemen Hipertermi Ds : A Obervasi Ibu pasien - Identifikas i penyebab Sebelumnya anak . demam naik turun selama 3 hari, flu dan sering n panas. Kemudian mengalami kejang berulang sebanyak - Monitor 3 kali. Setelah suhu tubuh kejang selesai - Monitor Do : - Monitor - Kulit pasien teraba hangat dan kemerahan - Monitor - Turgor kulit . embali A Terapeutik - Mukosa bibir - Sediakan - Suhu: 38,1AC n yang - Nadi:121x/me nit . ormal 70- - Longgarka 120x/meni. Masalah data An. S: Ibu Pasien Suhu Celcius. Nadi RR25x/ Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Page 5 Of 9 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing - RR 47x/menit . ormal <40x/meni. Pasien. 2 An. Usia : 1 Th. Ds : Ibu pasien demam naik turun selama 2 hari disertai dengan kejang berulang sebanyak 4 kali, setelah kejang anaknya tidak sadarkan diri. Selain itu pasien mengalami batuk. Do : - Mukosa bibir - Turgor . embali - Kulit pasien teraba hangat - Suhu: 38,3AC - Nadi:123x/m enit. ormal 70120x/meni. - RR 51x/menit . ormal <40x/meni. - Berikan cairan oral - Berikan - Beri Oksigen J/Perlu A Edukasi - Anjurkan A Kolaburasi - Pemberia n cairan j/perlu - Pemberia Manajemen Hipertermi A Obervasi - Identifikas i penyebab . - Monitor suhu tubuh - Monitor - Monitor - Monitor A Terapeutik Masalah data An. S: Ibu Pasien Suhu Celcius. Nadi RR27x/ Sediakanli - Longgarka n atau pun - Berikan - Berikan - Beri Oksigen J/Perlu A Edukasi - Anjurkan A Kolaburasi - Pemberia n cairan j/perlu - Pemberia Pembahasan Pada bagian ini penulis akan membahas mengenai manajemen "Hipertermi Pada kedua Pasien (An. dan An. S) dengan Kejang Demam Kompleks di RSUD Bendan Kota Pekalongan" . Adapun manajemen hipertermi yang terdiri dari Observasi. Terapeutik, edukasi dan kolaburasi berupa tindakan keperawatan yang dilakukan pada kedua pasien An. K dan An. S meliputi tindakan yang pertama yaitu. identifikasi penyebab hipertermi, rasionalnya untuk mengetahui penyebab pasien mengalami hipertermi. Kedua memonitor tandatanda vital pasien, rasionalnya yaitu untuk mengetahui perubahan tanda-tanda vital pada Ketiga monitor kadar haluaran urin, rasionalnya untuk memantau pengeluaran status cairan pasien. Keempat monitor komplikasi akibat hipertermi, rasionalnya untuk mengetahui komplikasi akibat hipertermi. Kelima sediakan lingkungan dingin, rasionalnya memberikan rasa Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Page 6 Of 9 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing nyaman pada pasien. Keenam anjurkan menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat, rasionalnya yaitu untuk mempermudah proses penguapan panas. Ketujuh berikan kompres hangat sejalan teori dari. Rahmasari & Lestari, 2018 yang menyatakan tindakan non farmakologis untuk pasien hipertermi antara lain memastikan hidrasi yang cukup, memindahkan anak ke ruangan dengan temperatur normal, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian tipis, dan memberikan kompres hangat. Rasionalnya yaitu didasarkan pada kompres air dingin tidak bekerja dengan baik untuk menurunkan suhu tubuh karena pembuluh darah yang bersentuhan dengan air dingin akan menyempit, sehingga lebih sulit bagi tubuh untuk memperhambat perununan suhu tubuh. Dan pemberiaan kompres hangat yang berpengaruh terhadap penurunan suhu tubuh, juga sejalan dengan beberapa penelitian dari Dari hasil penelitian Nova at al. , . Penerapan kompres hangat menyebabkan suhu tubuh mengalami penurunan pada pasien kejang demam. Responden-responden menunjukkan penurunan suhu tubuh dari 38,3AC menjadi 36,2AC setelah penerapan kompres hangat selama 15-20 menit. Sementara itu, hasil penelitian fadli dan akmal pada tahun 2018 ditemukan adanya efek kompres hangat terhadap penurunan suhu pada pasien anak dengan kejang demam dibuktikan dengan setelah pemberian kompres hangat selama 15-20 menit, anak mengalami penurunan suhu tubuh dari 38,65AC menjadi 37,27AC (Rehana at al. , 2. Kedelapan anjurkan untuk minum lebih banyak rasionalnya yaitu peningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan tubuh yang meningkat, oleh karena itu sangat penting kita untuk mengimbangi dengan mengkonsumsi jumlah asupan cairan yang banyak untuk mencegah Sesuai dengan pendapat dari Rahmasari dan lestari, 2018 yang menyatakan bahwa tindakan non farmakologis untuk mengatasi hipertermi antara lain memastikan hidrasi yang cukup, memindahkan anak ke ruangan dengan temperatur normal, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian tipis. Kesembilan anjurkan tirah baring rasionalnya beristirahat di tempat tidur akan mengurangi proses metabolisme dan aktivitas sel-sel yang diharapkan dapat menurunkan demam. Tindakan yang terakhir adalah pemberian pendidikan kesehatan mengenai penanganan hipertemi pada anak kejang demam rasionalnya adalah masih banyaknya orangtua yang melakukan penanganan hipertemi pada anak kejang demam rasionalnya adalah masih banyaknya orangtua yang melakukan penanganan yang kurang tepat pada anak ketika demam sehingga menimbulkan kejang. Pemberian pendidikan kesehatan kejang demam kepada orangtua diharapkan dapat menambah informasi tentang penatalaksanaan dan tindakan awal dalam penanganan kondisi darurat anak yang mengalami kejang demam (Rahayu, 2. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan asuhan keperawatan hipertermi pada An. K dan An. S di ruang Sekar Jagad RSUD Bendan Kota Pekalongan yang dilakuan pada tanggal 17-19 Januari 2024 pada pasien An. K dan tanggal 18-20 Januari 2024 pada pasien An. S maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Berdasarkan hasil pengkajian yang telah diperoleh oleh penulis didapatkan data dengan hasil kedua pasien mengalami hipertermi dengan suhu di atas 38AC. Pada An. K didapatkan data pasien tampak rewel saat didekati oleh penulis, kulit pasien teraba hangat dan kemerahan, mukosa bibir kering, suhu tubuh 38,1AC, nadi 121x/menit . RR 47x/menit. Sedangkan pada An. S di dapatkan data suhu tubuh 38,3AC, pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, kulit pasien teraba hangat dan kemerahan, pasien tampak menangis saat didekati oleh penulis. Diagnosis Keperawatan menurut Tim Pokja DPP PPNI . yang dirumuskan oleh penulis didapatkan pada kedua pasien yaitu hipertermi berhubungan dengan proses penyakit . ditandai dengan adanya tanda dan gejala baik tanda gejala mayor dan tanda minor yang mendukung munculnya diagnosis tersebut meliputi suhu tubuh diatas nilai normal . iatas 38AC), kulit memerah, kejang, takikardi, takipneu dan kulit teraba Penulis dalam mengatasi masalah hipertermi berhubungan dengan proses penyakit . , perancanaan keperawatan dengan intervensi manajemen hipertermi meliputi identifikasi penyebab hipertermi, monitor suhu tubuh pasien, monitor tanda-tanda vital pasien, monitor kadar elektrolit, monitor kadar haluaran urin, monitor kom plikasi akibat hipertermi, sediakan lingkungan yang dingin, berikan kompres hangat, longgarkan ataupun lepas pakaian yang dipakai oleh pasien atau mengganti pakaian yang lebih tipis, anjurkan perbanyak minum dan tirah baring. Implementasi keperawatan yang dilakukan oleh penulis terhadap pasien 1 (An. K) dan pasien 2 (An. S) selama 3 hari sudah Mardi Hartono1. Afiyah Sri Harnany2. Moh. Projo Angkasa3. Fina Agianti Agustin4 Page 7 Of 9 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing dilakukan sesuai dengan rencana yang telah penulis susun sebelumnya, yaitu tindakan identifikasi penyebab hipertermi, monitor suhu tubuh pasien, monitor tanda-tanda vital pasien, monitor kadar elektrolit, monitor kadar haluaran urin, monitor komplikasi akibat hipertermi, sediakan lingkungan yang dingin, berikan kompres hangat, longgarkan ataupun lepas pakaian yang dipakai oleh pasien atau mengganti pakaian yang lebih tipis, anjurkan perbanyak minum dan tirah Implementasi pendidikan kesehatan tentang penanganan hipertemi pada ,tidak sampai hari ketiga. Evaluasi keperawatan yang dihasilkan pada kedua pasien setelah dilakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam pada pasien An. K dan An. S dengan masalah keperawatan hipertermi terjadi penurunan suhu tubuh. Hal ini disebabkan karena tindakan kompres hangat berpengaruh untuk menurunkan suhu tubuh pasien An. K dan An. S yang mengalami hipertermi di Rumah Sakit Bendan Kota Pekalongan. Analisa dari pengkajian hingga evaluasi, penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kenyataan di lapangan. Adapun perbedaan dari kedua pasien tersebut yaitu pasien1 (An. K) tidak mengalami Riwayat kejang, sedangkan pada pasien 2 (An. memiliki riwayat kejang demam saat berusia9 bulan dan muntaber saat usia 10 bulan. An. di bawa ke rumah sakit karena mengalami kejang selama A 15 menit dan terjadi berulang sebanyak 3 kali, sebelumnya anak mengalami demam naik turun selama 3 hari dengan didapat data suhu tubuh An. K 38,1ACserta sering muntah, sedangkan An. S di bawake rumah sakit karena mengalami demam naik turun selama2 hari disertai dengan kejang selama A 15 menit terjadi berulang sebanyak 4 kali serta mengalami batuk, didapat data suhu tubuh An. S 38,3AC Saran Berdasarkan analisa kesimpulan maka penulis ingin menyampaikan saran meliputi: Bagi Rumah Sakit Di harapkaninstitusi rumah sakit dapat melakukan tindakan kompres hangat pada pasien hipertermi untuk mencegah terjadinya peningkatan suhu tubuh dan terjadinya kejang Bagi Profesi Perawat Diharapkan dalam melaksanakan asuhan keperawatan hipertermi yang diawali oleh pengkajian hendaknya menjaga hubungan kerja sama yang baik antara pasien dan keluarga pasien dengan perawat. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan Diharapkan institusi pendidikan dapat membuat standar operasional prosedur baku tentang hipertermi agar dapat dijadikan referensi untuk melakukan tindakan kompres hangat pada pasien hipertermi Bagi Mahasiswa Diharapkan mahasiswa maupun mahasiswi keperawatan dapat dapat menjadikan sumber bacaan serta perbandingan untuk melakukan tindakan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami kejang demam dengan masalah keperawatan hipertermi untuk penelitian selanjutnya DAFTAR PUSTAKA