Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024. Pages: 8-28 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Implementasi Metode Bercerita Dalam Menanamkan Nilai Moral Dan Agama Siswa Di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat Nur Septianita Yasin1. Siti Istiqomah2 Info Artikel Abstract Keywords: Implementation. Storytelling Method. Cultivating Moral and Religious Values. In modern times today many children still commit deviant acts, acts of violence, behave impolitely and commit actions prohibited in religion. This can happen due to lack of religious and moral cultivation from an early age. Therefore, the author wants to examine the implementation of the storytelling method in instilling students moral and religious values in Arridho Cengkareng Kindergarten. West Jakarta. The purpose of this study is to find out how the implementation of storytelling methods in instilling students' moral and religious values, especially in children aged 4-5 years at Arridho Cengkareng Kindergarten. West Jakarta. This study used a descriptive type qualitative research approach. Primary data sources and secondary data The results of research conducted at Arridho Kindergarten Cengkareng West Jakarta that the implementation of the storytelling method in Arridho Kindergarten has fulfilled three stages, namely . planning, . implementation, . Supporting this method is habituation, awareness of participants Kata kunci: Implementasi. Metode Bercerita. Menanamkan Nilai Moral dan Agama Abstrak Pada zaman modern saat ini banyak anak yang masih melakukan tindakan yang menyimpang, tindak kekerasan, bersikap tidak sopan santun dan melakukan tindakan yang dilarang dalam agama. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya penanaman agama dan moral sejak usia dini. Oleh karena itu penulis ingin meneliti implementasi metode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama siswa di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana implementasi metode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama siswa khususnya pada anak usia 4-5 tahun di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif jenis deskriptif. Sumber data primer dan data sekunder Hasil penelitian yang dilakukan di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat bahwa implementasi metode bercerita di TK Arridho sudah memenuhi tiga tahapan, yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . Pendukung dari metode ini adalah pembiasaan, kesadaran peserta didik, kebersamaan dalam diri sendiri, dukungan dari keluarga. Dan penghambat dari metode ini adalah latar belakang peserta didik, lingkungan masyarakat, kurangnya sarana dan prasarana, dan pengaruh gagdet. PENDAHULUAN Setiap manusia memiliki kecerdasaan yang telah dititipakan oleh Allah SWT sebagai salah satu kelebihan yang harus dimanfaatkan dengan baik. Di zaman modern setiap manusia perlu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki dirinya sendiri. Karena pada dasarnya manusia terlahir sudah memiliki kelebihan kecerdasaan dalam mengahadapi perkembangan zaman. Kelebihan tersebut akan semakin meningkat jika sudah terbiasa pembiasaan sejak usia dini (Rahman. Kencana, & Faizah, 1 Institut Ilmu Al-QurAoan Jakarta. Indonesia Email: nurseptianitayasin@gmail. 2 Institut Ilmu Al-QurAoan Jakarta. Indonesia Email: siti. istiqomah@iiq. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun, usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan serta perkembangan kehidupan manusia dan salah satu periode yang menjadi ciri masa anak usia dini adalah golden age atau periode keemasan. Pada periode golden age yaitu masa semua potensi anak mengalami dan berkembang paling cepat, dan pada masa ini anak mudah dibentuk oleh karena itu perlu dibimbing dengan cara yang baik dan sesuai dengan usianya supaya menjadi anak yang unggul dalam agama dan intelektual (Sutrisno, 2. Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam mengikuti pendidikan lebih lanjut (Sujiono, 2. Di era modern, pendidikan cenderung mempengaruhi pemahaman setiap orang bahwa tujuan pendidikan adalah kecerdasan intelektual. Hal ini berdampak pada pemahaman kita tentang praktik pendidikan yang selalu percaya bahwa keberhasilan anak didik hanya dapat diukur dengan mendapatkan nikai awal. Semua bagian pendidikan, seperti orang tua dan anak, diajarkan untuk berpikir pragmatis dan nyata. Akibatnya, orang tua melupakan hal yang paling penting dalam hidup mereka, yaitu sebagai manusia yang memiliki dua tugas penting: mengabdi dan menjadi khalifah di dunia, dengan agama dan moral. Pendidikan moral dan agama perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini sebagai upaya pembentukan generasi yang kokoh secara agama dan santun dalam hal moral (Rahman. Kencana, & Faizah, 2. Nilai moral dan agama adalah fondasi awal bagi anak dalam menajalani kehidupan dari berbagai hal yang mungkin terjadi baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral agama pada anak usia dapat diartikan sebagai perubahan psikis yang dialami anak terkait kemampuan memahami dan menerapkan perilau yag sesuai dengan ajara agama yang dianutnya. Tingkah laku, tutur kata, pola pikir sering dikaitkan dengan moral seseorang, sedangkan moral agama berkaitkan dengan hal-hal yang dianut dan bersumber dari Al-QurAoan dan Hadis (Basuni & Royhatudin, 2. Adapun pendidikan agama dan moral yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan Permendikbud No. 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, pada tingkat pencapaian perkembangan anak dalam aspek moral dan agama pada anak usia 5-6 tahun diantaranya: mengenal agama yang dianut, mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat dan sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengetahui hari besar agama, dan menghormati agama orang lain (Nasional, 2. Di lembaga pendidikan anak usia dini para guru dituntut harus mengembangkan potensi anak sehingga nantinya anak mampu menghadapi persoalan-persoalan kreatif. Islam merupakan syariat Allah yang diturunkan kepada umatnya manusia di muka bumi agar mereka beribadah kepada-Nya. Pendidikan usia dini merupakan pijakan pertama bagi manusia untuk dapat menentukan langkah awal hidupnya. Anak yang lahir ke dunia akan terbentuk dari pendidikan pertama yang didapatkan (Aidil, 2. Allah Swt telah menurunkan Al-QurAoan sebagai pedoman bagi umat manusia yang di dalamnya berisi tentang ajaran-ajaran yang harus dilakukan oleh manusia sabagai hamba Allah Swt. Diantara isi ajaran-ajaran Al-QurAoan yang paling penting yaitu akhlakul karimah pada surah Luqman ayat 13: a AE aE EaaEA AOIA a aOua e CA caa aAE EaeC aI aI aaEeIa aN aO aN aO OaNa aaO A e AaI aaE a e a eE aa acacEE n ua acIA U AeI aA AuDan . ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pembelajaran kepadanya: AuHai anakku, jangan lah kamu mempersekutkan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Alla. adalah benar benar kedzaliman yang besarAy. (Q. S Luqman . : . Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa pendidikan yang pertama dan utama diberikan kepada anak adalah menanamkan keyakinan yakni iman kepada Allah bagi anak-anak dalam rangka membentuk sikap, tingkah laku dan kepribadian anak (Aidil, 2. Pada zaman modern saat ini banyak anak yang masih melakukan tindakan yang menyimpang, tindak kekerasan, bersikap tidak sopan santun dan melakukan tindakan yang dilarang dalam agama. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya penanaman agama dan moral sejak usia dini. Dengan perilaku yang buruk bisa merusak generasi masa depan, terlebih anak sekarang banyak yang mencontoh dari lingkungan teman-temannya di sekitarnya, maka dari itu perlu dilakukan pengawasan dari orang tua, masyarakat dan lingkungan berperan penting dalam perkembangan anak terutama dalam pembentukan karakter anak tersebut (Nafisah Et Al, 2. Berbagai fenomena perilaku negatif sering diamati dalam kehidupan sehari-hari anak. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai masalah telah muncul dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Dan beberapa masalah yang sering muncul dari beberapa tahun terakhir seperti kemajuan teknologi telah membawa masalah baru terkait dengan akses anak usia dini ke konten yang tidak mendukung nilai moral dan agama, dan juga kurangnya perhatiaan dan dukungan orang tua. Bentuk negatif dari pembangunan adalah kerusakan moral generasi Perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama begitu dekat dengan anak-anak. Anak mulai meniru perilaku negatif, seperti ucapan kasar, tindakan kekerasan, perilaku orang dewasa yang tidak boleh dilakukan anak, dan juga perilaku merusak diri yang kekanak-kanakan. Keadaan ini sangat memprihatinkan mengingat dunia belajar anak adalah permainan yang penuh dengan kegembiraan pengembangan diri. Alasan mengapa banyak anak melakukan hal buruk adalah karena kurangnya pendidikan orang tua dan orang dewasa. Kasus-kasus di atas disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya penanaman nilai-nilai agama sejak dini (Murni & Ariyani. Dalam pelakasanaan menanamkan nilai moral dan agama pada anak usia dini, banyak metode yang dapat digunakan oleh guru. Namun, sebelum memilih dan menerapkan suatu metode, guru perlu memahami metode yang akan digunakan, karena akan mempengaruhi keberhasilan penanaman nilai-nilai tersebut secara optimal. Perkembangan nilai-nilai moral dan agama adalah kemampuan anak untuk bersikap dan bertingah laku. Islam telah mengajarkan nilai-nilai positif yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Metode penanaman nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini sangat bervariasi, antara lain metode bercerita, menyanyi, bermain, puisi, dan karya wisata. Metode yang digunakan oleh masing-masing sekolah tidak sama, artinya penggunaan metode tertentu oleh sekolah ditekankan atau diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan guru dalam penerapan metode Selain itu, penggunaan metode pengajaran nilai moral dan agama juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing anak di sekolah masing-masing (Rika & Widya, 2. Adapun perkembangan moral dan agama anak merupakan salah satu aspek perkembangan yang perlu diperhatikan sejak usia dini. Untuk mengembangkan moral dan agama anak usia dini seorang guru dapat menerapkan metode bercerita. Pemilihan tema cerita yang dipilih harus sesuai dengan perkembangan anak, sehingga dapat menstimulasi imajinasi dan pemikiran anak. Tema cerita yang digunakan harus mengandung aspek religius, pendidikan, dan psikologis. Metode bercerita adalah teknik yang digunakan untuk bercerita kepada anak bentuk sastra dengan keindahan dan kegembiraannya sendiri menyampaikan pesan cerita yang mencakup etika, moralitas dan nilai-nilai agama. Selain bermanfaat untuk mengembangkan kepribadian, akhlak dan moral anak, bercerita juga dapat bermanfaat untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak. Sejak usia dini, anak memperoleh berbagai wawasan dari cerita yang memperkaya dan meningkatkan kemampuan kognitif, daya ingat, kecerdasan, imajinasi, dan kreativitas linguistik (Khairiyah, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Metode bercerita merupakan salah satu cara yang bisa digunakan dalam menanamkan nilai Isi cerita bisa dikaitkan dengan kehidupan anak atau kisah-kisah nabi, maka anak dapat memahami isi cerita tersebut. selain itu metode bercerita mampu menghindari rasa jenuh yang ada pada diri anak sehingga dengan hilangnya kejenuhan diharapkan anak semakin antusias dan semangat dalam pembelajaran (Kubra, 2. Seorang pendidik harus memahami kondisi perkembangan anak, lingkungan, dan kesukaannya untuk memudahkan dalam penanaman nilai-nilai pendidikan agama islam dalam diri anak, sebagaimana diketahui dalam perkembangan manusia ketika masih anak-anak sangat suka dengan cerita, kisah, dongeng, dan sejenisnya. Pada pendidikan anak untuk usia dini seorang pendidik harus menciptakan suasana bermain melalui permainan kreatif sesuai dengan cara-cara belajar yang biasa anak-anak alami dalam hidup mereka sehari-hari yang juga harus didukung lingkungan belajar yang aman dan tidak membuat mereka takut dan perlu strategi dalam mengelola permainan yang kreatif agar anak dapat tercipta lingkungan belajar yang aktif, kreatif, aman, menggembirakan dan efektif. Penerapan metode bercerita ini bisa dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran yang digunakan dalam penanaman pendidikan agama islam, khususnya dalam pembahasan ini mengenai nilai-nilai pendidikan agama islam itu sendiri, penerapan metode tersebut selain bisa cepat menyentuh di hati para siswa, metode bercerita juga membuat siswa tidak akan cepat merasa bosan di dalam kelas, karena di dalam metode bercerita para siswa akan mengetahui gambaran tentang kisah para Nabi, sifat-sifat para Nabi atau orang-orang terdahulu, yang dapat diambil pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan yang akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis mereka (Suryati, 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti. Taman Kanak-Kanak Arridho merupakan lembaga pendidikan anak usia dini, yang beralamat Jln Kapuk Pasar Alam Rt 01/011 No. Taman Kanak-Kanak Arridho khususnya pada kelompok usia 4-5 tahun menerapkan metode bercerita dalam menanamkan nilai agama dan moral, dan metode bercerita merupakan cara yang paling menarik untuk anak mudah memahami nilai agama dan moral. Aspek perkembangan anak mulai berkembang dalam penelitian ini, terutama aspek perkembangan agama dan moral. Dalam kelompok usia empat hingga lima tahun, banyak anak yang belum memiliki sikap mandiri, seperti yang terlihat ketika anak tidak mau ditinggal oleh orang tuanya saat diantar ke sekolah. Guru menghadapi tantangan dalam menerapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan perkembangan moral agama siswa, karena tidak ada banyak media pembelajaran yang tersedia untuk membantu proses pembelajaran. METODE Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Desain penelitian kualitatif umum dan dapat berubah sesuai dengan kondisi lapangan, jadi desain harus fleksibel dan terbuka. Namun, data deskriptif terdiri dari gejala yang dikategorikan atau dalam bentuk lain, seperti foto, dokumen, atau catatan lapangan selama penelitian (Rukin, 2. Pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menhasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Selanjutnya setelah data terkumpul maka tahap selanjutnya adalah analisis data. Penelitian ini melakukan penelitian kualitatif dengan prinsip untuk memahami subjek secara mendalam dari pada menggunakan kuantifikasi, perhitungan statistik, atau metode lain yang menggunakan angka. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menekankan proses pengumpulan data yang intensif dan membutuhkan waktu yang lama untuk berinteraksi di lapangan. Akibatnya, peneliti ini harus mengikuti prosedur, metode, dan teknik yang tepat untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data (Rukajat. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Oleh karena itu, penulis harus memperhatikan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 apa yang dilakukan dan dikatakan oleh para pelaku, proses yang berlangsung, dan berbagai aktivitas lain dalam lingkungan alami. Oleh karena itu, peneliti harus memberikan deskripsi atau gambaran yang lengkap, rinci, dan mendalam tentang apa yang mereka temui. Untuk alasan ini, peneliti harus membuat catatan lapangan dan wawancara yang akurat, mendalam, dan lengkap. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengertian Implementasi Istilah implementasi bukanlah hal yang baru dalam dunisa pendidikan, maupun dunia Setiap guru setelah melakukan perancangan terhadap program ataupun rencana pastilah akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan rencana tersebut agar sukses dan mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Implementasi dalam Kamus Besar Bahasa indonesia adalah pelakasnaan. Adapun implementasi menurut Usman implementasi merupakan bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dai sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci. Dapat disimpulkan bahwa implementasi ialah suatu kegiatan yang terencana, bukan hanya suatu aktivitas dan dilakukan secara bersungguhsungguh berdasarkan acuan norma-norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, implementasi tidak berdiri sendri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya yaitu kurikulum, kurikulum merupakan proses pelaksanaan ide, program baru dengan harapan orang lain dapat menerima dan melakukan perubahan terhadap suatu pembelajaran dan memperoleh hasil yang diharapkan (Suhatyat, 2. Pengertian Bercerita ca aA CA, bentuk Masdar dari qaa a Dalam bahasa Arab, cerita adalah Qiah a aca A Ae aCAYaquua aOaCAA, yang artinya menceritakan atau menceritakan, mengikuti. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cerita adalah kisah yang menggambarkan bagaimana suatu peristiwa atau kejadian terjadi. Bercerita adalah sumber pendidikan yang sangat dekat dengan dunia anak-anak. Bagi banyak anak, pendidikan anak usia dini informal dicapai melalui kesenangan. Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan dengan menggunakan sarana tentang sesuatu yang disampaikan dalam bentuk cerita yang dapat didengar dengan perasaan yang menyenangkan dan mengandung berita, informasi atau dongeng (Robingatin & Ulfah, 2. Menurut S. Bahtiar Bachri, metode bercerita adalah menceritakan sesuatu yang di riwayatkan dari suatu kegiatan atau peristiwa dan disampaikan secara lisan dengan maksud untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain. Dengan kata lain, bercerita adalah narasi lisan tentang tindakan atau peristiwa untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa (Amin, 2. Bercerita adalah metode belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Anak-anak memperoleh pemahaman baru tentang diri dan lingkungannya dengan bercerita yang diilhami oleh tokoh-tokoh fiksi dan kemampuan anak untuk berimajinasi dan berpikir kritis juga dapat ditingkatkan melalui metode ini. Unsur afektif Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 seperti empati, motivasi, menghargai dan menghormati orang lain dapat diasah ketika anak mengenal cerita yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bercerita bisa menjadi salah satu cara menanamkan nilai moral sejak dini. Menurut teori belajar sosial, anak usia dini berada pada fase imitasi, yaitu cenderung meniru apa yang dilihat atau didengar. Guru dan orang tua dapat menggambarkan atau melatih perilaku tertentu sedemikian rupa sehingga menjadi perilaku alami bagi anak. Secara khusus, ketika orang dewasa memperkuat perilaku yang diharapkan anak dalam bentuk penghargaan atau pujian, ketika anak berperilaku seperti yang diharapkan, perilaku tersebut akan diulangi di masa depan. Cerita yang mengandung nilai moral positif dapat menjadi panutan bagi anak. Anak-anak berpikir bahwa mereka juga dapat menciptakan hal-hal yang baik, seperti karakter cerita dan pesan (Puspitasari & Khilmi Hidayatulloh, 2. Bercerita adalah cara penyampaian atau penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dari guru kepada anak. Bercerita merupakan aktivitas menutukan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan, pengalaman atau kejadian yang sesungguhnya terjadi maupun hasil rekaan (Agusniatih & Monape, 2. Bercerita adalah kegiatan yang membuhkan kemampuan mental, kemauan mental, keberanian dan bahasa yang jelas yang dapat dipahami orang lain. Dan kegiatan berikut untuk mengembangkan keterampilan bercerita anak usia dini melalui bercerita berdasarkan gambar, wawancara, percakapan, pidato dan diskusi. Bercerita merupakan salah satu kegiatan yang paling menarik bagi anak, anak selalu menyukai cerita dan anak suka mendengarkan cerita yang dituturkan guru dan cerita yang dituturkan memiliki pesan moral. Bercerita membutuhkan pengetahuan, keterampilan berpikir dan pengalaman yang cukup. Penguasaan grammar harus lebih terkontrol agar setiap kata menjadi kalimat yang baik dan tepat (Katoningsih, 2. Dapat dikatakan bahwa metode bercerita menanamkan nilai-nilai pada anak dengan cara mengungkapkan kepribadian tokoh melalui cerita rakyat, dongeng dan sejarah. Digunakan untuk menghormati nilai-nilai moral dan pembentukan sikap. Menggunakan metode cerita tidaklah mudah. Dalam bercerita, guru harus menerapkan beberapa hal agar hal-hal yang tersusun dalam cerita tersampaikan kepada siswa. Beberapa faktor ikut berperan ketika memilih cerita dengan fokus moral, yaitu memilih cerita dengan nilai baik dan buruk yang jelas. Rasulullah memberikan pelajaran kepada para sahabatnya dan sering bercerita tentang kehidupan dan masa lalu. Cara bercerita seperti ini diyakini lebih membekas di jiwa pendengarnya dan lebih menyita perhatian . Sungguh. Allah menghadirkan pola pengajaran seperti ini dalam firman-Nya pada surah Hud ayat 120: a a a A aNa Aa aa aE o O aE a aN a Na e Cac O I O a aU O a eE A ca aOEa UcE Ia CA ca aAE aI eI aIe aA a eAA a EaOA a aAEa aE Ia Ia a A aAO E EeIa e I IaOA eaa a a aa a a AuDan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang berimanAy. (QS. Hud . Menurut Tafsir Jalalain : (Dan setia. lafal kullan ini dinashabkan dengan alamat naqsh sedangkan tanwinnya merupakan pergantian dari mudhaf ilaih, artinya semua kisah rasul-rasul yang diperlukan (Kami ceritakan kepadamu, yaitu kisah-kisah para rasu. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 maa di sini menjadi badal daripada lafal kullan . ang dengannya Kami teguhka. Kami tenangkan . an dalam surah ini telah datang kepadamu kebenara. yang dimaksud adalah kisah-kisah para rasul ini atau ayat-ayat ini . erta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang berima. orang-orang yang beriman disebutkan di sini secara khusus, mengingat hanya merekalah yang dapat memanfaatkan adanya kisah-kisah atau ayat-ayat ini untuk mempertebal keimanan mereka, berbeda dengan orang-orang kafir (Imam Jalaluddin Al-Mahalli & Imam Jalaluddin as-S, 1. Pentingnya metode bercerita diterapkan ke dunia pendidikan karena adanya metode bercerita akan memberikan kekuatan psilogi kepada siswa, maksudnya yaitu dengan mengemukakan kisah-kisah nabi kepada siswa mereka secara psikologi terdorong utnuk menjadikan nabi-nabi tersebut sebagai teladan (Amirudin, 2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Becerita Setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan begitu juga dengan metode bercerita, diantara kelebihan dan kekurangan metode bercerita yaitu: Kelebihan metode bercerita. Dapat menjangkau jumlah anak yang relatif lebih banyak. Waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien. Pengaturan kelas menjadi lebih sederhana. Guru dapat menguasai kelas dengan mudah. Secara relatif tidak banyak memerlukan biaya. Kekurangannya antara lain. Anak didik pasif karena lebih banyak mendengarkan dan menerima penjelasan dari guru. Kurang merangsang perkembangan kreativitas dan kemampuan siswa untuk mengutarakan pendapatnya. Daya serap dan daya tangkap anak didik berbeda dan masih lemah sehingga suka memahami tujuan pokok isi Cepat menumbuhkan rasa bosan terutama apabila penyajiannya tidak menarik (Amirudin, 2. Cara Penanaman Nilai Moral Pada Anak Ada beberapa cara yang dapat dikembangkan oleh guru dalam berkomunikasi dan interaksi langsung dengan anak-anak dalam rangka menanamkan nilai moral pada anak. Cara-cara antara lain (Suryana, 2. : Pertama. Membiarkan. Untuk menanamkan nilai-nilai moral, tindakan anak harus diterima sebagai tidak berbahaya dan tidak merusak. Membiarkan perilaku tersebut tidak berarti bahwa seseorang setuju dengannya atau akan berlangsung lama. Hal ini juga tidak boleh diberikan kepada anak-anak sebagai kesempatan atau lisensi untuk melakukan apa yang mereka sukai tanpa memperhatikan hak-hak orang lain (Purnama, 2. Kedua. Memberikan Contoh. Perilaku guru, orang tua, dan lingkungan anak merupakan contoh yang paling efektif untuk membentuk perilaku moral anak. Jika guru sering marah, maka perilaku tersebut sangat mudah ditiru oleh anak. Dalam hal ini. Guru harus menjadi model terbaik untuk anak dalam mengimplemantasikan nilai-nilai moral yang Ketiga. Mengalihkan Arah. Mengalihkan arah atau mengalihkan perhatian adalah salah satu teknik terpenting untuk membimbingan anak dan mengajari moral anak. Beberapa cara digunakan dalam teknik pengalihan arah ini, yaitu mengarahkan aktivitas dan perilaku anak ke aktivitas lain sebagai pengganti aktivitas aslinya, misalnya anak aktif menulis di dinding kelas dengan kapur tulis, guru bisa memberikan pulpen dan potongan. Kemudian minta anak menggambar atau menggambar di atas kertas kosong (Elfan, 2. Keempat. Memuji. Sifat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 manusia suka dipuji. Begitupun anak-anak. meskipun pujian mungkin tampak sederhana dan orang tua terbiasa melakukannya setiap hari. Namun, jika dilakukan dengan benar, memuji anak bisa membantu dalam pembentukan karakter. Seperti bumbu, pujian harus diberikan secukupnya (Vanila Arundina, 2. Memuji anak berarti guru menunjukkan nilai perilaku moral mereka. Secara psikologis, mengungkapkan penghargaan melalui pujian berarti memperkuat perilaku yang diharapkan anak. Pujian adalah sinyal bagi anak dan umpan balik positif yang objektif yang memperkuat dan mengembangkan nilai atau nilai tindakan anak (Dadan Suryana, 2. Kelima. Mengajak. Ajakan adalah suatu cara membuat anak melakukan sesuatu dengan melibatkan perasaan, emosi, keinginan, kecerdasan atau pemikiran mereka. Beberapa strategi untuk mengajak kepada anak bisa dilakukan dengan cara menghimbau atau menguraikan dengan mengesankan . Keenam. Menantang. Tantangan adalah teknik yang sangat penting untuk menguji kemampuan, ketenangan, ketepatan dan tanggung jawab anak. Teknik ini mendorong anak untuk melakukan tugas yang diinginkan guru atau orang tua atau anak melakukan yang terbaik. Tantangan bagi anak-anak merupakan peristiwa psikologis yang sangat penting. Dengan memberikan latihan yang menantang, kemampuan anak untuk mengevaluasi, membandingkan, membedakan dan memilih aktivitas mana yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan oleh aturan keluarga dan lingkungan (Elfan Fanhas, dkk, 2. Menantang berarti bahwa pembelajaran adalah proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya untuk memaksimalkan kerja otak. Dengan mencoba berbagai aktivitas bermain dengan bahan bermain dari dedaunan, tanah liat dan lumpur, keterampilan anak dapat ditingkatkan melalui tugas sehingga secara tidak langsung anak sudah berpikir atau bereksplorasi secara intuitif (Uswatun Khasanah, dkk, 2. Cara Penanaman Nilai Agama Pada Anak Mengenalkan Tuhan Tuhan adalah sesuatu yang asing dan abstrak bagi anak-anak, proses mengenal Tuhan khususnya pada anak-anak harus dilakukan secara efektif karena Tuhan tidak dapat dilihat atau disentuh dengan mata telanjang. Guru tidak bisa memaksa anak untuk mengenal Dia secara abstrak. Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak, di antara sebagai berikut (Dadan Suryana, 2. Bermain, bernyanyi, deklamasi, membaca puisi, dan permainan lain yang isinya tentang pesan adanya Tuhan sebagai pencipta dengan sifat-sifatNya yang terpuji. Karyawisata anak dapat mengenalkan keindahan alam ciptaan Tuhan. Guru menjelaskan dan bertanya jawab mengenai semua ciptaan Tuhan dalam kegiatan karyawisata. Bercerita tentang sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang dan dapat bervariasi ragam tujuan Akhlak, tujuan aqidah, tujuan individual (Siti Hikmah, 2. Teladan segala perbuatan dan perkataan baik dari seseorang yang dapat dijadikan sebagai panutan atau contoh yang akan ditiru dan diterapkan ole anak dalam kehidupan seharihari. Pembiasaan cara tempuh dalam pedidikan dengan cara membiasakan anak berfiri, bersikap, bertindak secara berulang-ulang (Apriani, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Memberikan nasehat kepada anak-anak untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Ketika diberi kenikmatan dan bersabar pada saat tertimpa bencana. Role play memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memerankan sebagai tokoh orang yang sholeh dan lain sebagainya (Dadan Suryana, 2. Mengenalkan Ibadah Kepada Allah SWT Ibadah memiliki makna yang sangat luaas dan mencakup segala sesuatu, baik berupa ibadah rutin dan wajib kepada Allah SWT, seperti sholat, puasa, zakat dan haji, maupun dalam bentuk hubungan antar manusia yang juga diamalkan. Tugas pentingnya orang tua adalah membawa atau membimbing anak pada ibadah. Ada beberapa langkah untuk mengenalkan anak pada ibadah (Ummi Aghla, 2. Pertama. Dimulai saat anak berada dalam kandungan. Proses penanaman ibadah pada anak bisa mulai dikenalkan sejak anak masih berbentuk janin dan masih berada dalam kandungan ibunya. Cara-cara yang dapat dilakukan, seperti: Perbanyak mendengarkan bacaan Al-QurAoan. Senantiasa berdoa. Mencari rezeki yang halal. Menjaga kesehatan. Kedua. Setelah anak dilahirkan hingga balita: Perdengarkan adzan dan iqamah. Melakukan tahnik. Menyebarkan kabar gembira ini dan memberi ucapan selamat atas kelahiran bayi. Memberi nama yang baik dan indah. Mengadakan akikah. Mengkhitankan anak. Menyusui hingga anak berusia dua tahun. Mendekatkan anak pada puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya lewat nasyid dan cerita. Ketiga. Setelah balita. Periode pertama dalam kehidupan anak pada usia enam tahun pertama, merupakan periode yang sangat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang besar dan tidak bisa diremehkan dalam pembentukan pribadi seorang anak Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan orang tua pada tahap ini, yaitu: Memberikan kasih sayang dan rasa aman. Memberikan teladan yang baik. Bila anak diasuh dengan orang lain. Menanamkan disiplin. Tentang pemberian hukuman dan hadiah. Membangkitkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri anak. Mengenalkan buku kepada anak,Mengajarkan anak berdoa, dan Mengenalkan akhlak dan etika Keempat. Saat anak berusia sekolah. Pada tahap ini anak telah lebih siap untuk belajar secara baik dan menerima pelajaran baru serta keterampilan yang diajarkan Kelima. Saat mencari pendamping hidup. Tanggung jawab orang tua terhadap anak, bukan dimulai ketika anak telah lahir ke dunia, tetapi jauh sebelum itu, yaitu sebelum menikah, seorang mulim harus memiliki akhlak yang baik dan berusaha memilih calon istri yang baik pula akhlaknya. Pedamping hidup yang kita pilih sangat menentukan kualitas anak kita kelak, karena ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya(Ummi Aghla. Menanamkan Akhlak Yang Baik Pengembangan nilai keagamaan yang berhubungan dengan penanaman nilai akhlak akan berhasil baik jika guru memiliki kepribadian atau aklak yang baik, memiliki sifat-sifat terpuji, mengerti psikologi anak, mengusai ilmu mendidik, mengusai materi, mencitai anakanak dan disenangi oleh mereka. Cara menanaman akhlak yang baik diajarkan kepada anakanak, termasuk: Biasakan anak berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas. Biasakan anak menyapa setiap kali bertemu dengan guru, teman, dan teman sebayanya, terutama orang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Ajari anak untuk menghormati, menghargai dan mematuhi instruksi guru dan orang Biasakan berbicara perlahan, lembut, ramah, sopan dan jujur. Anak Usia Dini Anak usia dini didefinisikan sebagai anak yang baru lahir pada usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat krusial bagi perkembangan karakter dan kepribadian seorang Ini diatur dalam Undang-Undang Skema Ketenagakerjaan Nasional, yang mencakup pendidikan anak usia dini untuk anak usia 0-6 tahun. Anak usia dini adalah usia dimana anak tumbuh dan berkembang dengan pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas. Pola makan yang seimbang, bergizi, dan dukungan intensif diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak (Eliyyil Akbar, 2. Anak-anak adalah pribadi yang unik dan ajaib Mempelajari dan mengenal dunia anak merupakan hal istimewa bagi orang Masa anak usia dini merupakan masa yang sangat istimewa, sangat penting. Ini karena mereka sedang berada pada fase cepat berkembang untuk memahami dunia. Para psikologi menyebut anak usia dini sebagai usia kelompok, usia penjelajah, usia bertanya, dan usia meniru (Heru Kurniawa. Definisi Anak Usia Dini Menurut National Association for the Education of Young Children (NAEYC), bahwa anak usia dini atau "early childhood" mengacu pada anak berusia 0 hingga 8 tahun. Pada masa ini, terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan di berbagai bidang kehidupan manusia. Dalam pembelajaran anak, perhatian harus diberikan pada kekhasan tahap perkembangan anak. Menurut Bacharuddin Mustafa, anak usia dini adalah anak yang berusia satu sampai dengan lima tahun. Definisi ini didasarkan pada batasan psikologi perkembangan yang meliputi anak usia 0-1 tahun . ayi atau bay. , anak usia dini usia 1-5 tahun, dan anak akhir usia 6-12 tahun. Berbeda dengan Subdirektorat Pendidikan Anak Usia Dini (PADU) yang membatasi pengertian istilah pendidikan anak usia dini pada anak usia 0-6 tahun yaitu sampai anak tamat taman kanak-kanak. Dalam hal ini berarti anak-anak di Taman Kanak-Kanak (TPA). Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (TK) termasuk dalam definisi ini. Setiap anak memiliki karakteristik yang unik dan dilahirkan dengan potensi yang berbeda-beda karena mereka memiliki minat, bakat dan minat masing-masing. Misalnya ada anak yang berbakat menyanyi, ada juga yang berbakat menari, musik, bahasa, dan olahraga. Anak usia dini mengalami tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling cepat, baik secara fisik maupun mental. Pertumbuhan dan perkembangan dimulai sebelum kelahiran, di dalam Pembentukan saraf otak modal pembentukan kecerdasan udah terjadi sejak dalam Setelah lahir, pembentukan saraf otak berlanjut, tetapi hubungan antara saraf otak terus berkembang. Sel-sel dalam tubuh anak tumbuh dengan sangat cepat. Tahap perkembangan janin sangat penting untuk perkembangan sel otak karena sel otak berhenti tumbuh saat lahir. Masa awal kehidupan merupakan masa penting untuk pertumbuhan otak, kecerdasan, kepribadian, ingatan dan aspek perkembangan lainnya. Ini berarti bahwa pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat pada titik ini dapat menyebabkan keterlambatan pada periode selanjutnya (Ahmad Susanto, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Implementasi Metode Bercerita dalam Menanamkan Nilai Moral dan Agama Siswa di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat Tk Arridho Cengkareng Jakarta Barat merupakan salah satu lembaga pendidikan TK Sederajat yang memberikan wadah masyarakat untuk belajar serta mengembangan potensi anak usia dini. Di Tk Arridho khususnya pada anak usia 4-5 tahun, mereka setiap harinya dibiasakan untuk mengulang pelajaran yang sudah diajarkan sebelumnya. Salah satu kegiatan pembelajaran di Tk Arridho adalah metode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama. Dalam mengimplementasikan suatu metode diperlukan indikator agar mendapatkan hasil yang terarah. Metode bercerita yang diimplementasikan dalam pembelajaran menanamkan nilai moral dan moral memperhatian beberapa indikator sebagai Perencanaan Dalam proses pembelajaran biasanya konsentrasi anak mudah teralihkan, maka seorang guru harus mencari metode yang disukai oleh anak. Oleh karena itu metode bercerita diterapkan supaya proses pembelajaran tidak monoton. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari ibu Titin Sartini, selaku guru di TK Arridho. AuAnak yang sudah memasuki 4-6 tahun mereka sudah mengerti hal-hal baru jadi ketika kita menyajikan media yang monoton maka anak akan mudah bosan, kadang saya juga berinisiatif sendiri untuk mengarang cerita dengan cara menentukan ide gagasan terlebih dahulu, bahasanya singkat namun mudah dimengerti dan terdapat konflik di dalam cerita tersebut tentunya juga memiliki nilai-nilai moral dan agama pada anak, jadi anak tidak tahu bahwa yang saya sampaikan adalah cerita yang singkat namun isi nya bermakna (Titin Sartini, 2. Ay Sebelum melanjutkan proses pembelajaran, biasanya guru menyusun rencana kegiatan atau rencana organisasi sesuai kurikulum. Dari seluruh perangkat pembelajaran yang disiapkan, ada enam aspek yang perlu dikembangkan, salah satunya adalah Nilai Agama dan Moral yang pertama kali dikembangkan. Menjelang akhir pekan. RPPH telah disusun untuk satu pekan kedepan. Berdasarkan hasil observasi yang didapatkan adalah sebelum dimulai tahun ajaran baru. TK Arridho melakukan perencanaan pembelajaran metode bercerita, guru akan membuat perencanaan pembelajaran seperti: PROTA. PROSEM. RPPM dan RPPH. Perencanaan penerapan nilai moral dan agama dengan metode bercerita anak pada usia 4-5 tahun di TK Arridho meliputi beberapa hal, diantaranya yaitu sebelum guru memulai pembelajaran terlebih dahulu guru menyiapkan tema judul dan media apa yang akan digunakan, hal ini akan dijelaska oleh Ibu Titin Sartini: AuSaya menentukan tema/judul cerita dengan cara melihat buku cerita yang sudah ada di sekolah, lalu saya membuat perencanaan kegiatan pembelajaran cerita saya sudah menentukan 12 tema untuk satu tahun. Ay Berdasarkan hasil observasi bahwa selama peneliti melakukan penelitian di TK Arridho, semua perangkat sudah disusun dan guru sudah menetapkan tema-tema yang akan dilakukan dalam dua semester pada setiap tema mengajarkan satu judul cerita yang Dalam satu tahun ajaran terdapat 12 tema, yaitu sebagai berikut. binatang, keluarga, kebutuhan, keinginan hati, persahabatan, keberanian, kebudayaan. Api air dan udara, transportasi, tanamandan yang terakhir pekerjaan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Dalam metode bercerita, guru juga harus menyiapkan media apa yang tepat untuk Dan bagaimana susunan yang benar dalam menyusun cerita, kemudian juga bagaimana teknik bercerita yang baik dan menarik untuk anak usia 4-5 tahun. Berikut penjelasan dari Ibu Titin. AuMedia yang sering saya gunakan untuk pembelajaran metode bercerita adalah buku cerita, kenapa, karena dengan dia melihat gambar saja dia sudah sangat tertarik apalagi dengan cara guru mengekspresikan cerita tersebut dengan mimik wajah yang unik pasti anak akan merasa senang dan spontan akan merespon cerita selain menggunakan buku cerita saya juga menggunakan boneka tangan agar anak lebih tertarik sama cerita tersebut. Jadi di TK kami banyak sekali menyediaan buku-buku cerita gambar yang mengandung nilai moral dan agama (Titin Sartini, 2. Ay Selain menggunakan media buku bercerita, guru juga menggunakan media boneka tangan sebagai alat peraga dalam bercerita. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh ibu Titin Sartini. AuKetika saya bercerita tidak mudah karena anak terkadang ada yang tidak fokus, jadi untuk mengantisipasinya saya mengajak guru untuk mengkondisikan peserta didik dalam pembelajaran bercerita dengan begitu anak akan tertib dan menyimak hingga selesai. Untuk menambah daya tarik anak dalam menyimak cerita, saya terkadang menggunakan boneka tangan, dapat meningkatkan daya tarik dan membuat proses belajar lebih menarik bagi anak-anak. Dengan cara ini, sangat membantu menjaga perhatian mereka selama cerita berlangsung (Titin Sartini, 2. Ay Dari hasil observasi dan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa metode bercerita harus ada guru pendamping lagi dan media yang digunakan selain buku cerita engan menggunakan boneka tangan. Dan yang saya teliti di TK adanya guru berkontribusi dalam pembelajaran tersebut, dan akan dijelaskan oleh Ibu Titin Sartini yaitu: AuKehadiran guru lain sangat membantu untuk mengkondisikan dikelas saat pembelajaran metode cerita, jika anak yang kurang fokus maka akan dibimbing dengan bantuan guru lainnya. Ay Untuk menunjang keberhasilan dalam menanamkan nilai moral dan agama yang dilaksanakan setiap pergantian tema, biasanya metode bercerita dilakukan dengan menggunakan buku cerita, gambar dan boneka tangan. Pelaksanaan Setelah perencanaan dan persiapan selesai, langkah selanjutnya adalah memulai kegiatan pembelajaran bercerita. Pada tahap pelaksanaan terdapat kegiatan awal atau pembukaan, kegiatan dasar, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pembukaan, seluruh siswa usia empat hingga lima tahun akan dikenalkan dengan makna nilai-nilai agama, ibadah dan aqidah serta nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab dan menghargai orang lain. Guru kemudian memberikan contoh masing-masing dari ketiga nilai agama dan moral tersebut, yang dapat dipahami oleh anak usia empat hingga lima tahun. Setelah anak mengerti, guru menggunakan buku bergambar atau boneka tangan untuk menirukan Pelaksanaan pembelajaran metode bercerita yaitu sebagai berikut: Kegiatan awal: guru memperkenalkan judul cerita beserta materi terkait nilai moral dan agama dalam cerita tersebut. Kegiatan inti: guru mengajak anak mendramatis cerita. Kegiatan penutup: guru memberikan kesempatan anak mengulas cerita yang sudah disampaikan dan memberikan tanya jawab seputar isi cerita. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Berdasarkan observasi, kegiatan awal dilakukan dengan terlebih dahulu memberitahu siswa tentang judul cerita yang diambil, kemudian menceritakan sebuah peristiwa dengan mimik wajah yang unik, jika anak sudah mulai fokus maka guru memberikan kesempatan untuk maju dan mengulang apa yang telah disampaikan oleh guru Titin Sartini. Pada gambar di atas guru melakukan pembelajaran dengan metode bercerita menggunakan boneka Berdasarkan uraian di atas, kegiatan inti terdiri dari dua guru yang bercerita dan mengkondisikan siswa. Melalui kegiatan bercerita, anak-anak tidak hanya sekadar mendengarkan cerita tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Memberikan pertanyaan dan kesempatan untuk mengulas cerita memungkinkan anak-anak untuk berpikir kritis, berkomunikasi, dan berbagi pandangan mereka tentang cerita dan nilainilai yang dipahami dari cerita tersebut. Hal tersebut dilakukan agar anak tetap fokus dan memperhatikan cerita yang disampaikan oleh guru. Seperti yang dikatakan Bu Titin Sartini. AuSebagai seorang guru, memahami dan mengatasi tantangan dalam mengajarkan anak-anak adalah langkah penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Dengan pendekatan yang kreatif dan interaktif, saya dapat membantu anak-anak mengembangkan minat mereka dalam belajar dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran mereka. Teruslah mencari metode dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan situasi pembelajaran (Titin Sartini, 2. Ay Dalam pendekatan ini, penting bagi guru untuk selalu memantau perhatian dan keterlibatan peserta didik, serta beradaptasi dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman Ada kesulitan dalam kegiatan metode bercerita berlangsung yang dijelasakan oleh Ibu Putri Lestari: Auada, seperti anak yang hiperaktif kami harus memberikan perhatian yang penuh, karena dia akan berkeliling, mengganggu teman, mengajak temannya untuk bercanda, jadi kami meminta bantuan kepada guru pendamping untuk membantu kami dikelas (Titin Sartini, 2. Ay Melibatkan anak-anak secara aktif dapat meningkatkan motivasi mereka untuk belajar dan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan. Setelah kegiatan inti selesai, dilanjutkan dengan kegiatan penutup dalam proses Sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibu Titin Sartini: AuSetelah kegiatan inti, memberi anak-anak waktu istirahat selama lima belas menit adalah cara yang bagus untuk memberi mereka waktu untuk meregangkan kaki dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya. Kegiatan bercerita mengingat kembali yang saya lakukan setelah anak-anak kembali ke kelas adalah cara yang bagus untuk membantu mereka memahami nilai moral dan agama dalam cerita yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dengan mengulang kembali cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, anak-anak dapat mengingat dan memahami pesan yang ingin disampaikan dengan lebih baik. Menanyakan perasaan anak-anak selama belajar dan mendengarkan cerita adalah kegiatan yang tidak pernah berhenti. Selain itu, dengan meminta siswa untuk mengingat isi cerita, guru dapat menilai sejauh mana pesan dan nilai cerita diserap dengan baik (Titin Sartini. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Kegiatan penutup juga bisa dilakukan dengan menyimpulkan hasil cerita dan mengambil pelajaran dari cerita yang sudah disampaikan. AuSelain itu, saya menyimpulkan pokok pembahasan yang terkandung dalam cerita, seperti nilai-nilai agama dan moral, adalah suatu hal yang penting. Hal ini membantu anak-anak memahami pesan yang ingin disampaikan melalui cerita tersebut, dan juga membantu mereka menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Ay Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan metode bercerita melalui tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan Setelah guru menyimpukan materi cerita yang disampaikan ada sesi mengulas untuk anak maju kedepan dan menyampaikan kembali apa yang sudah materinya hari ini, dan akan dijelaskan oleh ibu Putri Lestari: Ausetelah saya menyimpulkan materi bercerita dan yang saya lihat anak dapat memahami isi cerita, karena ada sesi maju kedepan di akhir kegiatan bercerita untuk anak mengulas apa saja yang sudah disampaikan oleh guru, agar pesan moral dan agama perlahan mulai melekat di dalam jiwa anak. Ay Kegiatan awal dilakukan dengan menjelaskan judul cerita yang akan disampaikan. Kegiatan inti, yaitu proses bercerita yang diselingi dengan tanya jawab kepada siswa. Penutup, yaitu menyimpulkan hasil cerita dan mengambil pelajaran dari setiap cerita yang Evaluasi Pelaksanan evaluasi merupakan proses penilaian seorang guru terhadap proses Tujuan penilaian tersebut yaitu untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai, serta untuk mengetahui hambatan-hambatan yang tejadi proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi yang dilakukan peneliti di lapangan, bahwa evaluasi pembelajaran di TK Arridho dilaksanakan setiap minggu. Pertama, guru menentukan fokus yang akan dievaluasi kemudian menyusun desain evaluasi seperti penilaian berupa capaian perkembangan indikator. Kemudian pengumpilan informasi seperti setiap guru kelas mencacat perkembangan setiap siswa di Kemudian menganalisis perkembangan setiap peserta didik, selanjutnya membuat laporan evaluasi siswa dan mengelola evaluasi untuk pembelajaran selanjutnya. Penilaian pembelajaran ini dilakukan pada akhir semester karena untuk mengetahui perkembangan moral dan agama anak dapat dilihat dalam satu termin akademik. Awalnya, guru menentukan orientasi yang akan dinilai seperti kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung Berikut ini hasil evaluasi implementasi metode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama siswa di Tk Arridho Cengkareng Jakarta Barat Tabel 1. Implementasi Metode Bercerita Dalam Menanamkan Nilai Moral Dan Agama Nama Siswa Aulia Balqis Alfersie Alfahrabi Anha Arkhan Azlan Aspek penilaian BSH BSB *** *** **** **** Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Dara Dimas Ellea Felia Kiran Nizam Nadhifa Kevin Zio E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 **** *** **** *** *** *** Keterangan: BB : Belum Berkembang MB : Mulai Berkembang BSH : Berkembang Sesuai Harapan BSB : Berkembang Sangat Baik Dari pemaparan lembar observasi di atas, dapat peneliti simpulkan bahwa ananda arkhan, azlan, dara, dan kiran dapat berkembang sangat baik (BSB), dan ananda alfarabi, anha, ellea, nizam, nadhifa, zio yang berarti dapat berkembang sesuai harapan (BSH). Dan ananda alfersie, felia, kevin dapat mulai berkembang (MB), dan ananda aulia balqis, dimas belum berkembang (BB). Dari penjelasan diatas bahwa metode bercerita ini cukup berhasil diterapkan di TK Ariidho untuk menanamkan nilai moral dan agama, dari 15 anak yang berkembangan sangat baik terdapat 4 anak, yang berkembang sesuai harapan terdapat 6 anak, yang mulai berkembang terdapat 3 anak, dan yang belum berkembang 2 anak. Anak yang belum berkembang karena belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, belum bisa berperilaku jujur. Berdasarkan pengamatan yang peneliti temukan di lapangan mengenai penanaman nilai moral dan agama kepada anak, guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai moral dan agama pada anak agar anak dapat menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, bertaqwa, sopan dalam berbicara dan bertingkah laku, serta Di TK Arridho menanamkan nilai moral dan agama kepada anak melalui metode bercerita dan didukung dengan pembiasaan dalam keseharian berperilaku di sekolah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak usia Dini, membahas terkait standar isi tentang tingkat pencapaian sperkembangan anak. Ruang lingkup perkembangan nilai moral dan agama kelompok usia 4-6 tahun diantaranya sebagai berikut: mengetahui agama yang dianutnya, meniru kegiatan beribadah dengan urutan yang benar, mengucapkan doa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, mengenalkan perilaku sopan/baik dan buruk, membiasakan diri berperilaku baik, mengucapkan salam dan membalas salam. Dengan metode bercerita, anak mampu mengetahui agama yang dianutnya. Hal ini bisa dilakukan dengan memilih tema cerita terkait pemahaman agama. Berdasarkan observasi penulis, guru di TK Arridho sudah melakukan hal tersebut. Guru menyisipkan pengetahuan tentang keagamaan kepada siswa dalam cerita yang disampaikan. Selain metode bercerita, di TK Arridho juga melakukan praktek sholat berjamaah di sekolah. Hal ini Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dilakukan untuk mendukung penanaman nilai agama bagi anak. Pada gambar di atas anak sedang praktek sholat wajib dengan bimbingan guru kelompok usia 4-5 tahun. Perkembangan nilai moral dan agama anak setelah melakukan metode bercerita pada anak di TK Arridho, anak ada peningkatan dari moral yang akan dijelaskan pada Ibu Ika Rahmawati bahwa: AuPerkembangan nilai agama dan moral anak kita melakukan kegiatan ibadah di sekolah seperti praktek sholat wajib di hari jumat, membaca doa-doa harian, membaca surat-surat pendek setiap hari, selain praktek ibadah anak juga dinilai dalam hal perilaku atau akhlak seperti berkata jujur, menghormati guru dan orang yang lebih tua, selalu mengatakan minta tolong dan terima kasih kepada teman dan sekitarnya, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Hal ini akan dinilai dalam satu minggu sekali melalui penilaian pencapaian siswa (Ika Rahmawati, 2. Ay Sebagai contoh pembiasaan di TK Arridho adalah anak membaca doa bersama sebelum belajar, membaca surah-surah pendek, dan kegiatan lain pada jam snack time anak melakukan mencuci tangan dan mengantri, lalu membaca doa sebelum makan dan sesudah makan, merapihkan alat makannya sendiri. Berdasarkan observasi yang sudah dilakukan, penanaman nilai moral dan agama pada anak sangat penting karena nilai moral dan agama harus ditanamkan sejak dini. Hal ini dijelaskan oleh Ibu Ika Rahmawati selaku guru kelas kelompok 4-5 tahun: AuMenanamkan nilai moral dan agama pada anak sangat penting karena hal tersebut membentuk dasar etika dan moral mereka, membantu mereka menjadi individu yang baik, berempati, dan bertanggung jawab. Namun, penting juga untuk diingat bahwa pendekatan dalam menanamkan nilai moral dan agama haruslah disesuaikan dengan kepribadian, usia, dan tingkat kematangan anak. Selain itu, nilai moral tidak selalu harus terkait dengan agama. Beberapa nilai moral universal dapat diajarkan tanpa keterkaitan dengan agama tertentu. Misalnya, mengajarkan anak untuk berempati, menghormati sesama, menjadi jujur, dan bertanggung jawab adalah nilai-nilai yang berlaku di banyak budaya dan keyakinan agama. Secara keseluruhan, menanamkan nilai moral dan agama pada anak adalah bagian penting dari pendidikan mereka dan dapat membantu membentuk mereka menjadi individu yang baik, berbudi pekerti, dan peduli terhadap sesama (Ika Rahmawati, 2. Ay Dalam gambar tersebut peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas kelompok A untuk membahas penanaman nilai moral dan agama dengan metode bercerita. Strategi dalam penanaman nilai moral dan agama melalui spontan dan teguran dilakukan ketika pendidik mengetahui ada anak yang berbuat salah sehingga guru adalah menasehati dan memberi tahu anak tentang kesalahannya. Strategi dalam penanaman untuk menerapkan nilai morla dan agama melalui metode bercerita dan alat-alat yang digunakan untuk Penanaman nilai moral dan agama sangat penting untuk anak karena bisa membentuk dasar etika dan moral, dan berbagai macam pembelajaran bisa menanamkan nilai moral salah satu pembelajaran di Tk Arridho yaitu dengan metode bercerita, hal ini akan dijelaskan oleh Ibu Ika Rahmawati: AuMetode bercerita adalah merupakan kegiatan pembelajaran yang mudah untuk menanamkan nilai moral dan agama anak. Metode bercerita salah satu kegiatan yang membuat anak tertarik karena judul cerita, buku cerita, alat peraga, selain itu anak bisa belajar memfokuskan diri saat mendengarkan guru bercerita yang akan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 disampaikan (Ika Rahmawati, 2. Ay Selama observasi di TK Arridho, penulis juga mengamati kegiatan belajar mengajar di TK Arridho. Dari pengamatan yang diperoleh penulis, nampaknya para guru menanamkan nilai-nilai moral dan agama ke dalam diri siswa dari metode bercerita, berperilaku dengan guru, orang tua serta dengan makhluk hidup. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan guru TK Arridho yaitu dengan Ibu Ika Rahmawati bahwa: AuPeningkatan nilai moral dan agama pada anak akan terus meningkat setiap minggu dan setiap harinya. Karena selain dari pembelajaran metode bercerita anak juga melakukan kegiatan lain dan itu bisa meningkat nilai moral dan agama anak, seperti membaca iqro, praktek sholat wajib setiap hari jumAoat, jadi guru juga mempunyai nilai akhir sejauh mana anak berkembangan nilai moral dan agamanya (Ika Rahmawati, 2. Ay Peningkatan nilai moral dan agama anak guru mempunyai hasil data dan kegiatan bermain belajar anak disekolah membawa anak menjadi lebih mandiri dan mengerti apa yang sudah didapatkan disekolah ketika dirumah. Dan selama pembelajaran metode bercerita dari observasi selama penelitian sudah berjalan semestinya, hal ini dijelaskan oleh ibu Ika Rahmawati: AuMetode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama sudah berjalan dengan lancar sebagaimana semestinya, walaupun ada beberapa kendala pada Ay Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Metode Bercerita dalam Menanamkan Nilai Moral dan Agama Siswa di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat Dalam proses pembelajaran pasti memiliki faktor pendukung dan penghambat. Berdasarkan hasil dari penelitian penanaman nilai moral dan agama dengan menggunakan metode bercerita pada anak usia 4-5 tahun di Tk Arridho. Ada beberapa faktor pendukung dan penghambat sebagai berikut: faktor pendukung Faktor pendukung dalam penanaman nilai moral dan agama pada anak 4-5 tahun dengan menggunakan metode bercerita yaitu: Pertama. Pembiasaan. Pembiasaan dalam keseharian berperilaku dalam sekolah juga dapat mempengaruhi akhlak anak. Sehingga tanpa ada paksaan siswa sudah terbiasa mengerjakannya. Sebagai contoh adalah mengucapkan salam ketika memulai pembelajaran. Dari mengucapkan salam anak akan terbiasa untuk membiasakan mengucapkan salam baik di sekolah maupun di rumah sehingga siswa sendiri akan sadar tanpa dipaksa untuk mengucapkan salam. Kedua. Kesadaran para peserta didik. Kesadaran anak yang tumbuh dari dalam diri anak untuk selalu melaksanakan perbuatan terpuji dalam hidupnya. Ketiga. Kebersamaan dalam diri masing-masing. Guru dalam membina akhlakul karimah anak serta menanamkan nilai moral dan agama Kebersamaan di sekolah sangat diperlukan sehingga antara guru ada kerja sama dalam menerapkan upaya pembinaan akhlak, moral dan agama. dan wujud dari kerjasama karena adanya program kegiatan pembinaan akhlakul karimah anak yang dibuat oleh para guru. Keempat. Dukungan dari keluarga. Motif gaya hidup etis tidak hanya diberikan oleh hanya dari pihak sekolah tetapi juga dari orang tua. Karena pengawasan orang tua dan seluruh keluarga akan sangat berpengaruh pada penanaman moral dan keagamaan. Faktor Penghambat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Merupakan sesuau yang tidak terlepas dari suatu kegiatan, namun dalam hal ini faktor penghambat metode bercerita dalam penanaman nilai moral dan agama. Diantara lain yaitu: Pertama. Latar belakang peserta didik yang kurang mendukung. Karena anak berasal dari latar belakang yang berbeda-berbeda, tingkat agama bahkan iman anak berbeda. Latar belakang keluarga adalah satu hal pengaruh besar pada proses pendidikan moral diterima siswa selama ini. Dengan kata lain, jika anak berasal dari keluarga yang religius anak itu akan baik, tetapi berbeda jika anak itu berasal dari latar belakang yang buruk. Kedua. Lingkungan masyarakat. Pergaulan anak diluar sekolah juga sangat berpengaruh terhadap moral dan agamanya karena pengaruh dari Pergaulan sangat cepat sehingga jika ada pengaruh buruk itu akan berdampak buruk pada anak-anak. Tingkat pengaruh masyarakat dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan dari adanya kebiasaan yang ada dilingkungan. Jika dilingkungan positif maka akan berpengaruh positif juga dan kebiasaan negatif dalam lingkungan makan juga akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan moral dan agama Ketiga. Kurangnya sarana dan prasana. Untuk mendukung keberhasilan strategi guru menanamkan moral dan agama, termasuk kegiatan yang secara khusus diprogramkan untuk pengembangan moral. Kegiatan tersebut dapat berjalan efektif jika ada kekurangan sarana dan prasarana tidak akan berjalan maksimal. Dukungan dan motivasi dari berbagai pihak terutama kepala sekolah sangat penting, itu karena direktur memiliki otoritas dalam semua keputusan yang ada. Keempat. Pengaruh gadget. Pengaruh gadget akan membawa pengaruh kurang baik bagi perkembangan nilai moral dan agama anak. banyak game yang mengajarkan kekerasan akan berakibat buruk bagi anak. dalam hal ini orang tua mempunyai peran sangat penting untuk membatasi penggunaan handphone dan mendampingi anak ketika menggunakan handphone. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat yang berjudul implementasi metode bercerita dalam menanamkan nilai moral dan agama siswa di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi metode bercerita di TK Arridho sudah memenuhi tiga tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru menyiapkan tema cerita dan media yang digunakan dalam bercerita. Pada tahap pelaksanaan terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu. kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup. Setelah itu guru juga melakukan evaluasi. Dilihat dari rangkaian pembelajaran dengan metode bercerita, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi metode bercerita ini sudah cukup baik. Upaya dalam menanamkan nilai moral dan agama pada anak dilakukan dengan metode bercerita, didukung juga dengan kegiatan praktek sholat berjamaah, pembiasaan doAoa sehari-hari, dan juga pembiasaan bersikap baik kepada guru dan sesama teman. Faktor pendukung dan penghambat metode cerita dalam menanamkan nilai moral dan agama di TK Arridho yaitu adanya kebiasaan atau tradisi yang ada di TK Arridho Cengkareng Jakarta Barat, lingkungan sekolah yang mendukung, adanya kebersamaan dari masing-masing guru dalam membina akhlakul karimah siswa, motivasi serta dukungan dari orang tua. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu latar belakang siswa yang kurang mendukung, lingkungan masyarakat . yang kurang mendukung, kurangnya sarana dan prasarana, dan pengaruh gadget bagi anak. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 DAFTAR KEPUSTAKAAN Abdurrahman. AuUpaya Meningkatkan Perkembangan Nilai Agama Dan Moral,Ay Jurnal Penelitian Keislaman 14. No. Affa Azmi Rahman Nada. AuPraktik Gerakan Sekolah MenyenangkanAy. Yogyakarta: Uad Press, 2021 Aghia. Ummi . AuMengakrabkan Anak Pada IbadahAu. Jakarta: Almahira,2004 Ahmad Manshur. AuStrategi Pengembangan Kedisiplinan Siswa,Ay Al Ulya : Jurnal Pendidikan Islam 4. No. Ahmad Susanto. AuPendidikan Anak Usia Dini (Konsep Dan Teor. Ay. Jakarta: Pt Bumi Aksara, 2021 Aisyah Durrotun Nafisah. Et Al. Eds. AuPentingnya Penanaman Nilai Pancasila Dan Moral Pada Anak Usia Dini,Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6. No. Ajat Rukajat. AuPendekatan Penelitian KualitatifAy. Yogyakarta: Deepublish Publisher, 2018 Akhmad Basuni. Aat Royhatudin. Et Al. Eds. AuPsikopedagogik Islam Dimensi Baru Teori PendidikanAy. Yogyakarta: Deeppublish, 2021 Amin. Sutrisno. AuPentingnya Pendidikan Anak Di Usia Dini,Ay Jurnal Umj . Amin. Saifuddin. AuPendidikan Akhlak Berbasis Hadist ArbaAoin An NawawiyahAy. Indramayu: Adanu Abimata, 2021 Amirudin. AuMetode-Metode Mengajar Perpektif Al-QurAoan Hadist Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran PaiAy. Yogyakarta: Deepublish: 2023 Andi Agusniatih. Jane M Monape. AuKeterampilan Sosial Anak Usia DiniAy. Tasikmalaya: Edu Publisher. Andri Kurniawan. AuPendidikan Anak Usia DiniAy. Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2022 Anwar Zain. AuStrategi Pengembangan Nilai Agama Dan Moral Anak Usia DiniAy. Cirebon: Insania: 2021 Apriani. AuPenerapan Metode Keteladanan Dan Pembiasaan Dalam Membentuk Karakter Islami Anak Di Dusun Rumbia Desa Lunjen Kec. Buntu Batu Kab. Enrekang,Ay Uin Alauddin Makassar . Ari Kartiko And Edy Kurniwan. AuMetode Bercerita Dengan Teknik Role Playing Untuk Menumbuhkan Akhlak Mulia,Ay Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam 1. No. Arundina. Vanila ,AuPerenting PentingAy. Lampung: Guepedia, 2021 Asmidar Parapat. AuStrategi Pembelajaran Anak Usia Dini Panduan Bagi Orang Tua. Guru. Mahasiswa. Dan Praktiksi PaudAy. Tasikmalaya: Edu Publisher, 2020 Budi Susilo. AuDeteksi Kejujuran Dan Kebohongan Dari Ekspresi WajahAy. Jakarta: Laksana 2020 Dadan Suryana. AuStimulasi Dan Aspek Perkembangan AnakAy. Jakarta: Kencana, 2016 Delva Sari. AuPenanaman Nilai-Nilai Aqidah Anak Melalui Metode Bercerita Islami Di Tk Warrahmah Bakau Hulu Labuhanhaji Aceh SelatanAy, (Skripsi Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, 2. Dina Khairiyah. AuPenerapan Metode Bercerita Dalam Mengembangkan Moral Dan Agama Anak Usia Dini,Ay Darul Ilmi: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman 7. No. Dini Damayanti. AuJago Mendesain Pembelajaran (Untuk Guru Sekolah Dasa. Ay. Tangerang: Guepedia. Dwi Marsela Ramadona And Supriatna Mamat. AuKontrol Diri: Definisi Dan Faktor,Ay Journal Of Innovative Counseling : Theory. Practice & Research 3. No. : H. Http://Journal. Umtas. Ac. Id/Index. Php/Innovative_Counseling. Eka Suryati. AuImplementasi Metode Bercerita Dalam Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Di Sdn 01 Tunas Jaya Tulang Bawang BaratAy (Skripsi. Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Metro, 2. Eko Murdiyanto. AuMetode Penelitian KualitatifAy. Yogyakarta: Lp2m, 2020 Elfan Fanhas. AuIndonesian PerentingAy. Tasikmalaya: Edu Publisher, 2020 Eliyyil Akbar. AuMetode Belajar Anak Usia DiniAy. Jakarta: Februari, 2020 Erma Wati And Muhammad Solihin. AuMeningkatkan Kemampuan Berbicara Santun Anak Melalui Metode Bercerita Dengan Boneka Tangan Di Raudhatul Athfal Nurul Islam Desa Sungai Mengkuang Kabupaten Bungo,Ay Alayya : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2. No. Ernawati Harahap. AuPendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif IslamAy. Pekalongan: Nem, 2022 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Etya Murni And Dewi Ariyani. AuPenanaman Nilai Agama Dan Moral Pada Anak Usia Dini Perspektif Peran Orang Tua,Ay Zuriah : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3. No. Habibu Rahman. Rita Kencana. Et Al. Eds. AuPengembangan Nilai Moral Dan Agama Anak Usia DiniAy. Tasikmalaya: Edu Publisher, 2020 Hardani. AuMetode Penelitian Kualitatif & KuantitatifAy. Yogyakarta: Cv. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta: Helaluddin Dan Hengku Wijaya. AuAnalisis Data Kualitatif Sebuah Tinjauan Teori Dan PraktikAy. Banten: Sekolah Tinggu Theologia Jaffray, 2019 Heru Kurniawan. Kasmiati. Et Al. Eds. AuPenalaran Moral Cerita Anak Usia DiniAy. Bandung. Pt. Remaja Rosda, 2021 Hikmah. Siti. AuMengenalkan Dakwah Pada Anak Usia Dini,Ay 2014 34. No. Ikhlasiah Dalimoenthe. AuSosiologi GenderAy. Jakarta: Pt Bumi Aksara, 2020 Intan Puspitasari Dan Miftah Khilmi Hidayatulloh. AuPenanaman Nilai Moral- Spiritual Pada Anak Usia Dini Melalui Cerita Fabel Dalam Surat Al-Fiil,Ay Wacana 12. No. Imam Jalaluddin Al-Mahalli Dan Mam Jalaluddin As-Suyuthi. AuTafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Fatihah S. Al-IsraAy, (T. Tp: Sinar Baru Algensindo. Kaharuddin. AuMencetak Generasi Anak Shaleh Dalam HaditsAy. Yogyakarta: Deepublish, 2018 Kalalu. Ryke. Rieneke. AuBuku Ajar Pengantar Pendidikan KewarganegaraanAy. Pekalongan: Nem, 2022 Katoningsih. Sri ,AuKeterampilan BerceritaAy. Surakarta: Maret 2021 Kementerian Pendidikan Nasional. AuPermendikbud No 146 Tahun 2014,Ay a8. No. : 37, Http://Paud. Kemdikbud. Go. Id/Wp-Content/Uploads/2016/04/Permendikbud-146-Tahun2014. Pdf. Kubra. Masna. AuPengaruh Penerapan Metode Bercerita Terhadap Penanaman Nilai-Nilai Moral Anak Usia Dini Di Taman Kanak-Kanak Negeri Pertiwi Letta Kabupaten BantaengAy, (Articel. Pendidikan Anak Usia Dini. Unversitas Negeri Makassar. Hal. Http://Eprints. Unm. Ac. Id/13288/1/Artikel masna kubra. Pdf Kubra. Zahra. Hilda. AuPermainan Tradisional Mengembangkan Nilai-Nilai Agama Dan Moral Anak Usia DiniAy. Jakarta: Edu Publisher: 2023 Latifah Nurul Safitri Dan Hafidh AoAziz. AuPengembangan Nilai Agama Dan Moral Melalui Metode Bercerita Pada Anak,Ay Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini 4. No. Mahrusillah. Muhammad. AuFiqh Neurostorytelling Tradisi Lisan Pengajaran Fath Al-MuAoin Di BantenAy. Tangerang: A-Empat, 2022 Marzuki. AuPendidikan Karekter IslamAy. Jakarta: Amzah, 2022 Muharto Dan Arisandy. AuSistem Informasi Mengatasi Kesulitan Mahasiswa Dalam Menyusun Proposal Dan PenelitianAy. Yogyakarta: Deepublish, 2016 Muhammad Guntur. Dan Rizki Nugerahani Lise. Pengembangan Bahasa Pada Anaka Usia Dini. Yogyakarta. Selat Media Patners, 2022 Nurbaeti. Annisa Mayasari. Et Al. Eds. AuPenerapan Metode Bercerita Dalam Meningkatkan Literasi Anak Terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia,Ay Jurnal Tahsinia 3. No. Pahleviannur. Rizal. Muhammad. AuMetodologi Penelitian KualitatifAy. P: Pradina Pustaka, 2022 Pratiwi. Widiya ,AuMetode Bercerita Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Dan Agama Anak Usia Dini Di Paud Sakura Way Halim Bandar LampungAy, (Skripsi Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung: 2. Rahmawati. Riyas . AuPendidikan Nilai Agama Dan Moral Anak Melalui Kegiatan Bermain Sains Anak Usia Dini Menurut Naeyc ( National Association For The Education Of Young Children )Ay 01. No. Rika Dan Munisa Widya. AuMetode Penanaman Nilai Moral Dan Agama Pada Anak Usia Dini Di Paud Ummul Habibah Desa Kelambir V Kebun,Ay Jurnal Abdi Ilmu 12. No. : H. Http://Jurnal. Pancabudi. Ac. Id/Index. Php/Abdiilmu/Article/View/715. Robby Adam Sudrajad. Agus Purnomo. Et Al. Eds. AuMeningkatkan Kepedulian Sosial Anak Melalui Pendampingan Komunitas Kepemudaan Ao Dulur Never End Ao. Increasing Children Ao S Social Care Through The Community Assistance Of Ao Dulur Never End Ao Youth . ,Ay Socia: Jurnal IlmuIlmu Sosial 1. No. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Robingatin Dan Zakiyah. AuPengembangan Bahasa Anak Usia Dini (Analisi Kemampuan Bercerita Ana. Ay. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2020 Rukin. AuMetodologi Penelitian Kualitatif Au. Surabaya. Jakad Media Publishing. Rukiyah. AuDongeng. Bercerita. Dan Manfaatnya,Ay Anuva 2. No. Salim Dan Haidir. AuPenelitian Pendidikan Metode. Pendekatan. Dam JenisAy. Jakarta: Kencana, 2019 Saputra Aidil. AuAidil Saputra: Pendidikan Anak Pada Usia Dini |,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam 10. No. : H. Https://Core. Ac. Uk/Download/Pdf/228822655. Pdf. Saryanti. AuUpaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidilan Agama Jurnal Pendidikan Empirisme, (Edisi 32. Vol. Juni 2. Sigit Purnama. Rina Roudhotul Jannah. Et Al. Eds. AuDesain Interior Dan Eksterior Pendidikan Anak Usia DiniAy. Yogyakarta: Pustaka Egaliter, 2020 Suhatyat. Yayat ,AuModel Pengembangan Karya Ilmiah Bidang Pendidikan IslamAy. Jawa Temgah: Lakeisha, 2019 Sujiono Nurani Yuliani. AuKonsep Dasar Pendidikan Anak Usia DiniAy. Jakarta: Indeks, 2013 Sukma. Nur. AuPenerapan Metode Bercerita Dalam Penanaman Akhlak Mulia Peserta Didik Di Sekolah Dasar Negeri Mannuruki Kecamatan Tamalate Kota MakasarAy, (Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Makasar. Https://Digilibadmin. Unismuh. Ac. Id/Upload/11734-Full_Text. Pdf Syarif Hidayatullah. Stella Alvianna. Et Al. Eds. AuMetodologi Penelitian PariwisataAy. Jawa Timur. Uwais Inspirasi Indonesia , 2019 Tabelessy. Novita. AuMetode Bercerita Untuk Siswa Sd,Ay Gaba-Gaba : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Dalam Bidang Pendidikan Bahasa Dan Seni 1. No. : H. Uswatun Khasanah. Moh. Atwi Suparman. Et Al. Eds. AuModel Pembelajaran Berbicara Anak Usia Dini Menggunakan Big Book Konsep Dan AplikasinyaAy. Jakarta: Kencana, 2022 Yuli Kuniawati. Falakhul Auliya. Et Al. Eds. AuKecerdasan Moral Anak Usia DiniAy. Pekalongan: Nem. Zulkifli. Zulkarnaini. Et Al. Eds. AuPengembangan Moral Dan AgamaAy. Sumatera Barat: Pt Global Eksekutif Teknologi, 2022