Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF: PEMANFAATAN METODE DRILL, TEAMWORK, DAN ROLE PLAY DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Susanna Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kab. Nagan Raya sannaukhti@gmail.com Habiburrahim Pascasarjana UIN Ar-Raniry habiburrahim@ar-raniry.ac.id Silahuddin Pascasarjana UIN Ar-Raniry silahuddin@ar-raniry.ac.id Abstract Islamic Religious Education (PAI) learning has an important role in shaping the character and morality of Muslim individuals. To achieve this goal, an effective learning approach is needed. Effective learning is supported by appropriate learning methods and their impact on student learning outcomes. Some learning methods that can be used are drill, teamwork and role play methods. The drill method is an approach used to strengthen students' understanding of Islamic religious concepts through repeated practice. The teamwork method in PAI learning involves collaboration between students in groups to understand and apply Islamic religious concepts. The role play method in PAI learning involves role simulations where students play certain roles in situations related to the teachings of the Islamic religion. The research results show that the integration of these three methods improves the implementation of learning by creating a more interactive and interesting learning experience, which in turn deepens understanding and strengthens retention of lesson material. This research provides a new contribution to the PAI education literature by showing the potential of interactive learning methods in improving the quality of PAI learning. Carrying out the learning process by determining appropriate methods aims to help students internalize and remember religious information better. Keywords: Drill method, teamwork, role play, PAI learning Abstrak Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moralitas individu Muslim. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif di dukung dengan metode pembelajaran yang tepat dan dampaknya 21 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar peserta didik. Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah metode drill, teamwork, dan role play. Metode drill merupakan pendekatan yang digunakan untuk menguatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep agama Islam melalui latihan berulangulang. Metode teamwork dalam pembelajaran PAI melibatkan kerja sama antara peserta didik dalam kelompok untuk memahami dan menerapkan konsep-konsep agama Islam. Metode role play dalam pembelajaran PAI melibatkan simulasi peran di mana peserta didik memainkan peran tertentu dalam situasi-situasi yang berhubungan dengan ajaran agama Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi ketiga metode tersebut meningkatkan keterlaksanaan pembelajaran dengan menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik, yang pada gilirannya memperdalam pemahaman dan memperkuat retensi materi pelajaran. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam literatur pendidikan PAI dengan menunjukkan potensi metode pembelajaran interaktif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI. Melaksanakan proses pembelajaran dengan menentukan metode yang tepat bertujuan untuk membantu peserta didik menginternalisasi dan mengingat informasi keagamaan dengan lebih baik. Kata Kunci: Metode drill, teamwork, role play, pembelajaran PAI PENDAHULUAN Keterampilan dan kepiawaian pendidik secara metodologis dalam menerapkan berbagai model pembelajaran, pendekatan, teknik, strategi, evaluasi, dan metode pembelajaran memengaruhi keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Metode pengajaran sangat penting untuk mendukung belajar. Selain tujuan yang ingin dicapai, penggunaan metode harus mempertimbangkan bahan pelajaran yang akan diberikan, kondisi siswa, lingkungan, dan kemampuan guru. Metode tertentu mungkin hanya cocok untuk mencapai sasaran tertentu dan lingkungan tertentu, tetapi tidak cocok untuk sasaran dan lingkungan yang berbeda. Dalam pengajaran yang baik, siswa dapat terlibat dalam berbagai aktivitas. Agar pembelajaran PAI menjadi menarik bagi peserta didik, prosesnya harus dirancang dan dilaksanakan menggunakan pendekatan dan metode yang tepat.1 Meskipun metode apa pun yang akan dipilih, satu prinsip yang harus diperhatikan adalah bahwa metode tersebut harus terfokus pada tindakan guru dan juga tindakan siswa. Menurut paradigma pendidikan yang memberdayakan, metode pengajaran terbaik adalah yang dapat mendorong siswa untuk menjadi kreatif, inovatif, berinspirasi, berimajinasi, dan berterima kasih. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi mereka juga dapat menguasai 1 Abuddin Nata. 2011. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, cet-2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group; hal. 176-180 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 22 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam proses mendapatkan informasi dan mengaplikasikannya ke dalam hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Oleh karena itu, siswa tidak hanya mempelajari aspek akademis teoritis, tetapi juga mempelajari aspek praktis dan praktis dari pendidikan. Untuk alasan ini, seorang guru harus menetapkan metode yang lebih beragam. Ia tidak hanya menggunakan satu pendekatan yang cenderung membuat siswa pasif, tetapi juga menggunakan berbagai pendekatan, seperti tanya jawab, diskusi, penugasan, pemecahan masalah, eksperimen, penemuan, latihan (drill), bermain peran (role play), kolaborasi (teamwork), dan sebagainya.2 Dengan demikian, siswa mempelajari komponen pendidikan teoretis dan praktis selain komponen akademis. Oleh karena itu seorang guru perlu menerapkan strategi pengajaran yang lebih bervariasi. Selain menggunakan metode tunggal yang seringkali membuat siswa menjadi pembelajar pasif, ia juga menggunakan berbagai metode, antara lain bermain peran, tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan, pemecahan masalah, eksperimen, dan penemuan. Al-Qur’an banyak mengemukakan prinsip-prinsip metode Pendidikan Islam yang secara umum terdapat dalam firman Allah swt Q.S An-Nahl ‫ا ا‬ ‫يلي ربا َ ا ا ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫س نَةايي َو َج ادا هْلُ همي اِب لَّ اتي‬ َ ‫ادهعُي إ َلىي َس ب ا‬ َ َ‫كي ِب هْل هك َم ةي َوا له َم هوع ظَةي ا هْل‬ ‫ا‬ ‫كي ُه َوي أَعه لَمُي اِبَ هني ضَ لَّي عَ هني َس بايلاهايي َو ُه َوي أَعه لَمُي‬ َ َّ‫س ُنيي إا َّني َرب‬ ‫ه َي ه‬ َ ‫أَح‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫يني‬ َ ‫ِب له ُم هه تَد‬ Artinya:“serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (cara bijaksana) dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka secara baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalannya dan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl:125). Ada tiga prinsip umum metode pendidikan Islam yangterdapat pada ayat di atas, yaitu: (1) al-Hikmah, (2) al- Mau’izah al-Hasanah, dan (3) al-Mujadalah.3 Al-Qur'an menuntut pendidikan dilakukan dengan bijak, menjunjung tinggi harkat kemanusiaan, dan dengan lemah lembut dan kasih sayang memperhatikan kemungkinan perbedaan siswa. Hadis Nabi Muhammad saw juga banyak mengandung pendekatan pembelajaran yang luar biasa. Hadis ini mengatakan, "Mudahkanlah dan jangan persulit." Jangan membuat mereka lari, tetapi gembirakan mereka (H.R. Bukhari, Kitab al-‘Ilm. No. 67). Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa pendidik harus membuat pendidikan PAI menarik dan menyenangkan. Ini tidak berarti metode harus membuat belajar lebih sulit bagi siswa, tetapi sebaliknya, metode harus membuat belajar lebih mudah bagi siswa. Metode-metode tersebut juga meminta pendidik PAI untuk 2 Ibid, hal.181 2 Drs. Syaiful Bahri Djamarah, Drs. Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta; PT. Rineka Cipta, 2002), h. 19 3 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 23 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam menggunakan berbagai pendekatan mengajar untuk membuat pembelajaran PAI menarik dan menyenangkan. Paradigma mengajar guru PAI harus segera berubah ke arah yang lebih progresif, humanis, dan Islami yang berfokus pada aktualisasi dan pengembangan potensi siswa melalui kegiatan belajar di kelas. Selain itu, pendidik PAI harus menguasai metodologi pembelajaran PAI yang tepat agar mereka dapat memfasilitasi pembelajaran dengan baik. Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk membuat orang-orang yang berakhlak mulia dan beriman kepada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan ini, pendekatan pembelajaran yang tepat diperlukan. Dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman dalam menggunakan metode pembelajaran, fokus penulisan makalah ini adalah penggunaan drill, kerja tim, dan role play dalam pembelajaran PAI untuk memaksimalkan pembelajaran agama Islam. Pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada hafalan tetapi juga pemahaman dan aplikasi tersedia dengan menggabungkan metode drill dengan teamwork dan role play. Ini sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan pemahaman dan introspeksi. Dengan menggabungkan ketiga pendekatan ini, guru PAI dapat menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif di mana siswa tidak hanya menghafal pelajaran, tetapi juga memahami dan menerapkan pelajaran dalam kehidupan mereka. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru dan saran praktis bagi pendidik PAI tentang cara menggunakan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yang merupakan jenis penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan, juga dikenal sebagai "penelitian kepustakaan", adalah jenis penelitian yang memanfaatkan berbagai literatur dalam prosesnya. Penelitian kepustakaan menekankan topik penelitian melalui buku, artikel jurnal, hasil penelitian terdahulu, dan literatur lainnya yang relevan. Buku Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran dan Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam merupakan sumber data primer penelitian ini. Sumber data sekundernya terdiri dari artikel jurnal, peraturan pemerintah, dan website. mengumpulkan datanya dengan menggabungkan berbagai koleksi kepustakaan, seperti artikel jurnal, buku, dan website. Dengan menggunakan Google Scholar, artikel jurnal dicari, dikumpulkan, dibaca, dan diambil informasi yang relevan dengan subjek penelitian.sementara koleksi buku dicari, dikoleksi, dibaca, dan mengambil data yang berkaitan dengan fokus penelitian melalui Google Book, dan website digunakan untuk mencari informasi faktual yang berkaitan dengan metode pembelajaran PAI. Setelah mengumpulkan data penelitian, selanjutnya peneliti melakukan pengelompokan data berdasarkan variabel penelitian. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 24 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam KONSEP DASAR Studi tentang efektivitas metode drill dalam pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), telah menunjukkan bahwa itu dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan memfokuskan pada ketangkasan dan keahlian melalui repetisi yang terstruktur. Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Ismail di UIN Alauddin Makassar, misalnya, meneliti seberapa efektif metode drill dalam meningkatkan hasil belajar PAI di sekolah dasar dan menemukan bahwa metode ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan meningkatkan.4 Sementara itu, penelitian tentang teamwork dalam pendidikan menunjukkan bahwa kerjasama tim memiliki hubungan positif yang signifikan dengan efektivitas pembelajaran.5 Sebuah studi di Universitas Pakuan menemukan bahwa kompetensi pedagogik dan teamwork, ketika diterapkan bersama-sama, dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.6 Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi dan interaksi sosial dalam proses belajar mengajar. Metode role play juga telah diidentifikasi sebagai teknik pembelajaran yang melibatkan peran aktif peserta didik dalam menggambarkan dan mewujudkan situasi atau peristiwa yang terkait dengan materi Pelajaran.7 Dalam konteks PAI, role play memungkinkan peserta didik untuk memahami dan menghayati ajaranajaran Islam secara lebih mendalam dan interaktif, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai sumber. Penelitian ini akan memberikan kontribusi baru dengan mengintegrasikan ketiga metode tersebut drill, teamwork, dan role play dalam satu pendekatan pembelajaran PAI yang holistik. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan mengevaluasi efektivitas masing-masing metode secara terpisah, tetapi juga sinergi mereka dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya dan bermakna. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana metode-metode ini dapat diterapkan secara efektif dalam kurikulum PAI untuk meningkatkan pemahaman, retensi, dan aplikasi materi pelajaran oleh peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Metode Drill (Latihan) Salah satu metode yang digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah metode drill atau latihan. Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifka peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung, karena metode drill menuntut peserta didik untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru. Metode drill sering disebut orang sebagai latihan dan hal ini 4 https://repositori.uin-alauddin.ac.id/9843/1/Abdul%20Ismail.pdf https://journal.unpak.ac.id/index.php/JMP/article/download/1334/1153 6 https://journal.unpak.ac.id/index.php/JMP/article/download/1334/1153 7 https://takterlihat.com/metode-role-playing-dalam-pembelajaran-pai/ 5 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 25 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam menunjukkan bahwa seorang guru PAI harus memperhatikan bagaimana cara melatih peserta didik hingga mereka memiliki kemampuan yang tinggi. Menurut Ramayulis, metode drill disebut latihan siap karena tujuan pembelajaran adalah untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena pengetahuan hanya dapat disempurnakan dan disiapkan dengan melakukannya secara praktis. Pendapat ini menunjukkan bahwa metode drill menekankan pada pembelajaran yang bersifat latihan siap untuk keterampilan.8 Guru harus menerapkan metode ini untuk menyesuaikan siswa dengan tujuan pendidikan tertentu. Metode ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk membantu guru meningkatkan hasil belajar siswa. Latihan biasanya dilakukan dalam bentuk ujian tertulis, dan hasilnya dapat dianalisis untuk mengetahui apakah pengajaran telah dilakukan dengan baik atau tidak. Tata cara drill ialah metode yang memberi peserta didik kesempatan untuk melatih menggunakan keahlian tertentu berdasarkan penjelasan dan petunjuk guru. Karakteristik khas dari tata cara ini merupakan aktivitas yang berbentuk pengulangan yang berkali-kali biar asosiasi stimulus serta respons jadi sangat kokoh serta tidak gampang buat dibiarkan Dengan demikian terbentuklah suatu keahlian (pengetahuan) yang tiap dikala siap buat dipergunakan oleh yang bersangkutan.9 Dengan demikian tata cara drill ini bermaksud membagikan pengetahuan serta kecakapan tertentu yang bisa jadi kepunyaan anak didik serta dikuasainya dengan baik, bukan cuma bertujuan buat pengukuran semata. Bersumber pada sebagian komentar di atas bisa penulis simpulkan kalau yang diartikan dengan tata cara drill dalam pembelajaran agama Islam merupakan metode penyajian bahan pelajaran pembelajaran agama Islam lewat melatih peserta didik secara berulang-ulang serta sungguh-sungguh dalam wujud lisan, tulisan, ataupun kegiatan raga supaya peserta didik mempunyai ketangkasan ataupun keahlian yang besar dalam memahami bahan pelajaran, menguatkan sesuatu asosiasi ataupun menyempurnakan sesuatu keahlian biar jadi permanen”. Sangat penting bagi guru PAI dan calon guru untuk menekankan bahwa metode drill ini digunakan untuk mengajar PAI di dalam kelas, bukan di luar kelas. Proses pengulangan adalah modul yang diajarkan yang diulang-ulang supaya siswa memahaminya dengan baik dan memiliki hubungan yang kuat dengannya. peserta didik hendak menghafal suatu ayat lengkap dengan maksudnya Hingga tata cara drill sangat pas diberikan dengan metode guru mengucapkan terlebih dulu penggalan ayat-ayat serta peserta didik mengikutinya baik secara orang berkelompok mapun klasikal dicoba secara berulang-ulang sampai peserta didik mempunyai asosiasi serta keahlian. 8 Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Problematika Belajar Mengajar. Bandung: Alfabeta. 2009, hal. 57 9 Abdul Rachman Shaleh, Pendidikan Agama Islam dan Pembangunan Watak Bangsa, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006, ed.I, hal.135 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 26 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang metode drill dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Pertama, materi PAI disajikan dengan melatih peserta didik secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh. Metode latihan ini menunjukkan bagaimana materi PAI dapat dipahami oleh peserta didik melalui latihan yang dilakukan secara berulang-ulang. Kedua, latihan berulang yang disebutkan di atas dapat dilakukan oleh guru dalam bentuk lisan, tulisan, atau aktivitas fisik. Guru PAI dapat melakukan latihan lisan dengan mengeluarkan suaranya untuk mengucapkan kata-kata atau apapun itu di depan kelas. lalu siswa mengikutinya sampai mereka memahami dan memahami materi yang diajarkan. Ketiga, tujuan dari penggunaan metode drill adalah agar peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan yang tinggi dalam menguasai bahan pelajaran dan memperkuat hubungan atau menyempurnakan keterampilan sehingga menjadi permanen. Tujuan ketiga dari penggunaan metode drill adalah agar peserta didik memiliki ketangkasan, keterampilan, dan koneksi sehingga pengetahuan dapat diketahui secara permanen.10 Tata cara drill secara rinci tidak ditemui dalam al-Qur’an, tetapi apabila ditelusuri arti dari tata cara tersebut hendak ditemui secara subtantif. Ayat al-Qur’an serta dijadikan landasan dalam memakai tata cara ini bisa dimengerti dari ayat yang artinya: ”Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya”.(QS. Al-Qiyamah, 75: 1618). Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak boleh menggerakkan lidah dengannya. Ini berlaku untuk al-Qur'an, di mana Anda harus membacanya dengan lidah sebelum malaikat Jibril selesai membacanya kepada Anda karena jika Anda salah memahami bacaannya, Anda akan khawatir bahwa Anda tidak akan menghafalnya atau melupakan salah satu bagian darinya.11 Dengan demikian, dapat ditafsirkan bahwa penerapan metode drill membutuhkan proses latihan yang dicoba secara berulang-ulang dan dilaksanakan dengan tenang selama proses pendidikan. Proses latihan ini harus mencermati secara lebih jelas apa yang disampaikan oleh guru selama proses pendidikan.12 Ayat di atas mengatakan "faizaa qara'naahu fattabi' qur'aanahu", yang berarti "apabila sudah selesai, kami membacanya hingga Anda mengikutinya." Malaikat Jibril melatih Nabi Muhammad SAW untuk mengulangi apa yang sudah dibacakan. Untuk mendapatkan penguasaan yang lebih baik, "latihan yang dicoba secara berulangulang" diperlukan. 10 Roestiyah N.K., 1985. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara, hal.79 11 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah. 2012. Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Volume 14, cet. ke -5. Jakarta: Lentera Hati, hal. 539 12 Ibid, hal.541-542 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 27 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Maraghi menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: "Qara'nahu" berarti Jibril membacakannya kepadamu fattabi' Qur'anah, yang berarti dengarkanlah teks dan ulang- ulangilah supaya dia tetap kuat dalam dirimu. Saat Malaikat Jibril memberikan wahyu (al-Qur'an) kepada Nabi Muhammad SAW dengan membacakannya, dia diperintahkan untuk mengulanginya agar dia ingat dan membekas dalam dirinya. Ini adalah contoh metode pendidikan al-Qur'an.13 Kelebihan Metode Drill: Saat menggunakan metode drill, guru PAI harus mempertimbangkan beberapa hal yang harus diperhatikan. Beberapa kelebihan metode drill adalah sebagai berikut: Pertama, latihan berulang-ulang meningkatkan pemahaman peserta didik. Kelebihan ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode drill selama pembelajaran PAI, peserta didik akan mendapatkan pemahaman yang lebih luas karena latihan yang dilakukan berulang. Tentu saja, materi yang diajarkan oleh guru PAI harus dilakukan berulang kali, sehingga pemahaman peserta didik akan lebih luas dan tepat. Kedua, siswa sudah terbiasa dan siap menggunakan kemampuan mereka. Metode drill yang digunakan oleh guru PAI membuat keterampilan peserta didik lebih siap. Pengetahuan yang berhubungan dengan kegiatan fisik yang membutuhkan keterampilan yang diperlukan untuk memahami latihan tertentu yang dilakukan berulang kali akan lebih mudah dipahami daripada pendidikan verbalistik semata. Ketiga, siswa memperoleh keterampilan motorik. Dalam menggunakan metode drill ini, guru PAI harus memastikan bahwa peserta didik memiliki kecakapan motoris yang dimiliki dan dikuasai. Ini sangat penting karena penilaian kecakapan motoris hanya terdiri dari dua hal: mampu atau tidak mampu. Dengan menggunakan metode drill, masalah ini dapat diuji dengan jelas dan pengetahuan peserta didik dapat diukur dengan jelas. Perihal yang bisa dilihat dari kecakapan motorik yang diperoleh peserta didik merupakan menulis, melafalkan huruf, membuat serta memakai alat-alat. Keempat, peserta didik memperoleh kemampuan mental. Untuk memungkinkan individu untuk mempelajari dan berhasil di masa depan, kecakapan mental sangat penting bagi peserta didik dalam proses pertumbuhan mereka. Metode drill seperti ini dapat membangun keahlian mental peserta didik sampai pengetahuan mereka dapat berdampak besar pada kehidupan mereka. Perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan tanda-tanda dan simbol adalah beberapa contoh tindakan yang berkaitan dengan konsep ini. Kelima, bisa membuat kerutinan dan meningkatkan ketepatan dan kecepatan penerapan melalui latihan yang dicoba berulang-ulang tentang modul pendidikan. Keenam, Setelah modul pendidikan dicoba berulang kali, peserta didik akan memperoleh ketangkasan dan keahlian dalam melaksanakan apa yang dipelajarinya. Ketujuh, Bisa memunculkan rasa yakin diri kalau siswa yang sukses dalam belajar sudah memiliki keahlian khusus yang akan membantu mereka di masa depan. Rasa yakin diri adalah komponen penting yang harus dimiliki siswa karena siswa tidak sering memiliki rasa yakin diri yang kurang. Dengan menggunakan teknik drill ini, 13 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah. 2012. Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an Volume 14, cet. ke -5. Jakarta: Lentera Hati, hal. 79 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 28 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam keyakinan diri siswa akan meningkat karena mereka sudah memahami keahlian. Kedelapan, Dengan melihat apa yang dilakukan siswa selama pelajaran, guru dapat lebih mudah mengontrol dan membedakan siswa yang disiplin belajar. Dengan menggunakan teknik drill saat mengajar PAI, guru akan lebih mudah mengawasi siswa yang disiplin dengan melihat tindakan dan tindakan mereka sendiri. Kedua, guru PAI dapat membantu peserta didik menghindari stres dengan menggunakan teknik driil. Muntasir, yang dikutip Akbarizan, mengatakan bahwa penggunaan metode drill dalam pembelajaran dapat menghindari ketegangan dan suasana yang menakutkan pada anak-anak dengan menggunakan pelatihan yang intensif, memberikan contoh tingkah laku yang baik, mendorong partisipasi yang memadai pada anak-anak, dan membuat semua aktivitas dianggap sebagai ibadah.14 Berikut ini adalah penjelasan tentang kelemahan dan masalah yang harus dihindari oleh guru PAI selama proses pembelajaran Agama Islam. Pertama, Peserta didik memiliki kecenderungan untuk belajar melalui praktik. Karena latihan ini digunakan berulang kali, siswa cenderung menjadi monoton dalam pembelajarannya. Ini karena siswa hanya mengikuti pelajaran dengan teori-teori yang dapat membentuk kerutinan yang monoton. Kerutinan yang kaku berarti bahwa siswa melakukan sesuatu secara mekanis. Namun, ketika mereka diberi stimulus, mereka bertindak secara otomatis. Kedua, dapat menyebabkan kebosanan. Jika guru PAI tidak memahami tata cara drill dengan baik, itu akan membuat peserta didik bosan di kelas karena bentuknya monoton. Ketiga, bisa menghentikan kreativitas siswa. Jika guru yang kurang mampu menggunakan drill, itu hanya akan mengulangi pelajaran dengan tugas-tugas yang sudah ditetapkan oleh guru. Selain itu, karena bentuk pendidikan dan modul yang diajarkan hanya dapat dicoba melalui latihan, peserta didik tidak akan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kreativitas mereka. Keempat, memunculkan fraseologi. Drill yang digunakan dalam pendidikan PAI dapat menyebabkan peserta didik mengalami verbalisme. Bersikap verbalisme berarti bahwa peserta didik mengenali kata-kata atau memahaminya secara lisan tetapi tidak memahami materi pelajaran. Kekurangan tata cara pengajaran ini dapat menyebabkan verbalisme, terutama dalam pengajaran menghafal. dimana siswa dilatih untuk memahami materi secara hafalan dan secara otomatis mengingatkannya apabila ada pertanyaan yang berkaitan dengan hafalan. Kelima, memunculkan penyesuaian secara statis pada area proses pendidikan, yang sebenarnya merupakan terbentuknya penyesuaian diri secara alamiah dan baik dengan lingkungannya. Tugas-tugas yang dicoba hanya mengikuti instruksi guru PAI, dengan siswa menyelesaikannya secara statis sesuai dengan harapan guru. 14 Akbarizan. 2008. Pendidikan Berbasis Akhlak, cet. ke -1. Pekanbaru: Suska Press. alMaraghi, Ahmad Musthofa. t.t. Tafsir al-Maraghi, Jilid 29. Beirut: Dar al Maraghi. Hal.53-54 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 29 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam B. Metode Pembelajaran Kolaboratif (Teamwork) Metode teamwork melibatkan kerja sama antara peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam pembelajaran PAI, metode ini dapat diterapkan dengan membagi peserta didik ke dalam kelompokkelompok kecil dan memberi mereka tugas-tugas kolaboratif, seperti mempersiapkan presentasi tentang nilai-nilai Islam atau merencanakan proyek sosial yang berbasis agama. Melalui kerja sama dalam tim, peserta didik dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep agama dan mengembangkan keterampilan sosial mereka. Metode ini memotivasi peserta didik bekerja sama dalam tim atau kelompok untuk mempelajari konsep PAI. Memakai platform kolaboratif online semacam ruang kelas virtual, forum dialog ataupun media sosial buat memfasilitasi interaksi peserta didik serta berbagi gagasan Mempromosikan uraian yang lebih dalam serta pula memperluas pemikiran agama dari perspektif yang berbeda. Konsep pembelajaran kolaboratif terlihat dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu. Isyarat ini terdapat dalam QS. Al-Maidah: 2 yaitu “...Tolongmenolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)15 Metode teamwork dapat diterapkan dalam berbagai topik pada pelajaran PAI, terutama yang memerlukan diskusi mendalam, pemecahan masalah bersama, atau proyek kelompok. Materi PAI yang dapat menggunakan metode teamwork diantaranya: 1. Studi Kasus Etika dalam Islam, peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas studi kasus yang berkaitan dengan etika dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang kejujuran, keadilan, atau tanggung jawab sosial. Setiap kelompok diberi sebuah scenario atau dilema etis, dan mereka harus menganalisis situasi tersebut berdasarkan ajaran Islam, kemudian menyajikan solusi atau keputusan yang harus diambil. 2. Proyek Filantropi, peserta didik bisa bekerja dalam kelompok untuk merancang dan melaksanakan sebuah proyek filantropi atau kegiatan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Contohnya, mengorganisir penggalangan dana untuk masjid lokal, panti asuhan, atau korban bencana. Proses perencanaan dan pelaksanaan ini akan mengajarkan mereka tentang konsep zakat, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama. 3. Simulasi Peradilan Syariah. Dalam kelompok, peserta didik bisa mengadakan simulasi peradilan syariah dimana mereka memainkan berbagai peran seperti hakim, pengacara, dan saksi. Kasus yang dibahas bisa berkaitan dengan masalah waris, pernikahan, atau bisnis dalam Islam. Ini akan membantu mereka 15 Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta:CV. Nala Dana, 2006),h. 756 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 30 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam memahami lebih dalam tentang hukum Islam dan aplikasinya dalam kehidupan nyata. 4. Diskusi Kitab Klasik, kelompok peserta didik dapat diberikan tugas untuk membaca dan mendiskusikan kitab-kitab klasik Islam seperti Ihya’ Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali atau Risalah perihal Hakikat Manusia oleh Imam AlSyafii. Mereka mendiskusikan isi, mengidentifikasi tema utama, dan menyajikan bagaimana isi tersebut relevan dengan kehidupan modern. 5. Debat Isu Kontemporer, kelompok-kelompok peserta didik bisa melakukan debat mengenai isu kontemporer yang terkait dengan Islam, seperti peran wanita dalam Islam, globalisasi, atau integrasi antar agama. Debat ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan berargumentasi berdasarkan data dan ajaran Islam serta meningkatkan pemahaman mereka terhadap berbagai perspektif. 6. Penciptaan Konten Media, tim peserta didik dapat bekerja sama untuk menciptakan konten media (misalnya video, podcast, atau artikel blog) yang mendidik audiens mengenai topik-topik penting dalam Islam, seperti sejarah Nabi Muhammad SAW, pentingnya menjaga lingkungan dalam Islam, atau penjelasan tentang hari besar Islam. 7. Pembelajaran Tajwid Kelompok, peserta didik dalam kelompok kecil bisa saling mengajari tajwid, ilmu yang mempelajari cara membaca Al-Qur'an dengan benar. Setiap anggota kelompok belajar satu bagian aturan tajwid dan mengajarkannya kepada kelompoknya, membantu semua anggota kelompok meningkatkan kemampuan membaca dan memahami Al-Qur'an. Metode teamwork tidak hanya memperkaya pengalaman belajar tapi juga mengajarkan pentingnya kerjasama dan komunikasi yang efektif. Ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mengedepankan ummah (komunitas) dan gotong royong. Kelebihan dan kekuatan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode teamwork. Kelebihan metode teamwork adalah sebagai berikut: Pertama, peningkatan keterampilan sosial, melibatkan peserta didik dalam kerja tim memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan social, seperti komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan. Kedua, belajar dari diversitas, peserta didik dapat belajar dari berbagai pandangan dan pengalaman dari anggota tim lainnya. Ketiga, meningkatkan motivasi: kerjasama dalam tim dapat meningkatkan motivasi peserta didik karena mereka merasa didukung dan terlibat dalam proses pembelajaran. Terdapat pula beberapa kelemahan dan sekaligus hal ini menjadi perhatian yang perlu dihindari oleh guru PAI dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam, dapat lihat dalam uraian berikut. Peserta, tidak seimbangnya kontribusi: Beberapa peserta didik mungkin mendominasi diskusi atau pekerjaan kelompok, menyebabkan ketidakseimbangan dalam kontribusi. Kedua, kesulitan dalam penilaian individual: Penilaian individual kadang-kadang sulit dilakukan karena hasil kinerja kelompok dapat mencerminkan kontribusi gabungan dari seluruh anggota. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 31 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam C. Metode Role Play (Permainan Peran) Role play adalah sejenis teknik simulasi yang dimulai dengan tujuan menciptakan kembali peristiwa sejarah masa lalu, menciptakan kemungkinan masa depan, dan mengungkap peristiwa terkini. Misalnya saja role play yang menggambarkan bagaimana memberikan penyuluhan pada pelaksanaan program KB. Metode bermain peran adalah suatu permainan yang tidak mempunyai naskah, tidak ada latihan terlebih dahulu, dan dilakukan secara spontan. Kasus yang didramatisasi adalah tentang situasi sosial(a) Dramatisasi peristiwa yang melibatkan banyak orang lebih disukai daripada menceritakan karena lebih mudah dipahami, dapat ditafsirkan, dan mudah diserap oleh siswa. Hal ini didasarkan pada faktor didaktik. (b) Mendidik siswa memecahkan teka-teki sosial-psikologis; (c) Mendidik siswa untuk berinteraksi dengan orang lain dan menawarkan kemungkinan untuk memahami orang lain dan masalah mereka. Metode role play digunakan untuk tujuan pembelajaran adalah: (a) Menggambarkan situasi yang mempengaruhi banyak orang dan yang mana dramatisasi lebih disukai daripada narasi karena kejelasan dan ramah anak. (b) Membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah psikologi sosial. (c) Mendidik siswa untuk bersosialisasi dan memberi mereka kesempatan untuk memahami orang lain dan masalah mereka.16 Metode role play atau permainan peran dmerupakan cara efektif untuk mengajarkan konsep-konsep agama secara lebih mendalam dan interaktif. Dengan menggunakan metode ini, peserta didik dapat lebih memahami ajaran Islam melalui pengalaman langsung dalam simulasi yang menirukan situasi nyata. Materi PAI yang dapat diajarkan menggunakan metode role play, seperti: 1. Materi kisah para nabi. Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS berhadapan dengan Firaun. Peserta didik memainkan peran Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Firaun, dan pengikut-pengikutnya. Mereka akan menyimulasikan dialog antara Nabi Musa dan Firaun, serta proses meminta pembebasan Bani Israel. Seperti yang tertera dalam Al-Qur'an Surah Taha ayat 43-49, Surah Ash-Shu'ara ayat 10-66. 2. Praktek Ibadah, pelaksanaan shalat berjamaah dan adabnya. Peserta didik dapat memainkan peran imam, makmum, dan orang yang memberi pengajaran tentang tata cara shalat. Hadits tentang shalat berjamaah dan adabnya, serta buku fiqih yang menjelaskan tentang shalat seperti “Fikih Islam” oleh Wahbah Az-Zuhaili. 3. Zakat dan Ekonomi Islam; proses penghitungan dan distribusi zakat. Satu kelompok peserta didik sebagai amil zakat (pengumpul zakat), kelompok lain sebagai muzakki (orang yang membayar zakat), dan kelompok lain sebagai mustahiq (penerima zakat). 4. Tentang isu kontemporer; Debat tentang peran dan status wanita dalam Islam. Peserta didik memainkan peran ulama, aktivis hak wanita, dan anggota 16 Ibid, hal.192-193 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 32 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam masyarakat. Mereka mendebatkan berbagai pandangan tentang hak-hak wanita dalam Islam. 5. Interaksi Sosial dalam Islam, Etika berbicara dan berdiskusi dalam Islam. Peserta didik mempraktikkan cara berbicara yang baik dan sopan dalam sebuah diskusi, memainkan peran sebagai moderator, peserta diskusi, dan penonton. Persiapan yang harus dilakukan guru dalam menggunakan metode ini, guru menentukan skenario dan membagikan peran kepada peserta didik. Menyediakan teks atau poin-poin penting yang harus dibahas. Lalu peserta didik memainkan peran mereka, intervensi minimal kecuali untuk mengarahkan diskusi atau adegan. Setelah role play, adakan sesi diskusi untuk membahas apa yang telah dipelajari dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan role play dalam pembelajaran PAI membantu peserta didik memahami ajaran Islam dengan lebih nyata dan relevan, serta meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi mereka. Salah satu manfaat metode bermain peran adalah dapat meninggalkan efek yang bertahan lama dan kuat pada ingatan siswa. Tidak hanya merupakan tindakan pencegahan keselamatan yang menyenangkan dan sulit untuk dilupakan, namun juga: (1) Sangat menarik bagi siswa, membuat kelas menjadi hidup dan antusias; (2) Menimbulkan semangat dan optimisme dalam diri mereka serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat; (3) Mudah mengenali peristiwa yang sedang terjadi dan dapat mengidentifikasi hikmah hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri; (5) Dapat meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa dan menumbuhkan/membuka lapangan kerja. Salah satu kelemahan metode permainan peran adalah bahwa itu memerlukan tingkat kreatifitas dan inovasi yang tinggi dari guru dan siswa. Dan beberapa guru tidak memilikinya. (2) Sebagian besar siswa yang diminta untuk berperan dalam adegan tertentu merasa malu; (3) Pelaksanaan sosiodrama dan peran pemeran yang gagal dapat memberi kesan buruk dan berarti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Tidak semua pelajaran dapat disajikan dengan cara ini. Ini adalah langkah-langkah metode bermain peran: (1) Jika metode sosiodrama baru digunakan dalam pengajaran, guru harus menjelaskan cara melakukannya dan menentukan siswa mana yang tepat untuk berperan sebagai tokoh-tokoh. Setelah itu, metode ini secara sederhana dimainkan di kelas. (2) Tentukan situasi dan masalah yang akan dimainkan. Selain itu, Anda harus menceritakan jalan cerita dan latar belakangnya agar relevan dengan materi yang akan disampaikan.(3) Interaksi yang lebih menarik dapat dicapai melalui pengaturan adegan dan persiapan mental yang tepat.(4) Guru dapat menghentikan drama setelah sosiodrama mencapai puncak klimas. Ada kemungkinan bahwa pemecahan masalah akan diselesaikan secara umum, dan penonton—pelajar yang mengamati—akan memiliki kesempatan untuk berkomentar dan menilai sosiodrama yang dimainkan. Jika sosiodrama tidak menghasilkan hasil yang diinginkan, dapat dihentikan; (5) Peserta didik diberi kesempatan untuk memberikan komentar, kesimpulan, atau catatan tentang bagaimana sosiodrama berjalan dan sesuai dengan materi yang dibahas. (6) Guru menerima umpan balik dari siswa dan membuat kesimpulan yang tepat dari Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 33 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pengajaran materi melalui metode sosiodrama; (7) mengatur pemahaman siswa tentang ide-ide yang dijelaskan dalam pemecahan masalah atau soal yang relevan dengan materi pembelajaran. Menurut Ahmad Susanto, hasil belajar peserta didik adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah mengikuti kegiatan belajar. Kingsley membagi hasil belajar menjadi tiga kategori: (1) kebiasaan dan keterampilan; (2) pengetahuan dan pemahaman; dan (3) sikap dan prinsip. Permainan peran ini dapat mengambil bentuk sosiodrama, psikodrama, permainan simulasi, atau pembelajaran feer.17 D. Faktor-Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memilih Metode Pengajaran Setiap metode memiliki kelemahan dan kekurangan, tetapi metode hanyalah cara atau langkah-langkah, dan guru yang menggunakannya menentukan keberhasilannya. Sebuah teknik akan efektif jika digunakan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut: 1) Faktor tujuan dan bahan ajar Setiap pengajaran atau proses pendidikan bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti tujuan kognitif, afektif, atau psikomotor. Dengan perbedaan tujuan ini, metode yang digunakan harus berbeda. Demikian pula, saat memilih metode, bahn pelajaran yang akan diajarkan juga harus dipertimbangkan. 2) Faktor Peserta Didik 3) Tidak hanya setiap siswa memiliki latar belakang pengetahuan, bakat, minat, hobi, dan kecenderungan yang berbeda, tetapi setiap siswa memiliki sikap kejiwaan yang unik. 4) Faktor Lingkungan Dalam menentukan strategi pengajaran, perbedaan lingkungan juga harus dipertimbangkan. Sekolah, komunitas, perpustakaan, laboratorium, dan tempat lainnya memiliki lingkungan yang berbeda, sehingga metode pengajaran yang digunakan berbeda. 5) Faktor Alat dan Kesiapan Guru Dalam memilih metode pengajaran, berbagai jenis alat belajar dan bahan belajar harus dipertimbangkan. Ini harus dilakukan karena setiap metode memiliki alat dan sumber belajar yang berbeda-beda. Alat dan sumber belajar yang digunakan dalam metode ceramah misalnya berbeda dengan yang digunakan dalam metode simulasi, eksperimen, dan sebagainya. 6) Faktor Kesiapan Guru Setiap metode pembelajaran yang digunakan oleh guru membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang relevan untuk menerapkannya. Selain itu, keahlian guru dalam menerapkan setiap metode berbeda. 17 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: kalam Mulia, 2005), h. 282 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 34 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam PENUTUP Berdasarkan uraian dan analisis yang terdapat dalam uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa catatan penutup bahwa metode pengajaran sangat memegang peranan penting dalam mendukung keberhasilan pengajaran dan pendidikan. Ketepatan dalam memilih metode pengajaran dan sekaligus menggunakannya secara benar, merupakan bagian dari keterampilan yang harus dimiliki guru. Metode drill adalah pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada latihan berulang untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran. Dalam pembelajaran PAI, metode ini dapat diterapkan dalam pengulangan bacaan Al-Qur'an, hafalan hadis, dan pemahaman konsep-konsep agama. Melalui latihan yang berulang, peserta didik dapat menginternalisasi ajaran Islam dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menghafal dan memahami teks-teks suci. Metode teamwork melibatkan kerja sama antara peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam pembelajaran PAI, metode ini dapat diterapkan dengan membagi peserta didik ke dalam kelompokkelompok kecil dan memberi mereka tugas-tugas kolaboratif, seperti mempersiapkan presentasi tentang nilai-nilai Islam atau merencanakan proyek sosial yang berbasis agama. Melalui kerja sama dalam tim, peserta didik dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep agama dan mengembangkan keterampilan sosial mereka. Metode role play melibatkan peserta didik dalam peran-peran yang memungkinkan mereka untuk menjalani situasi-situasi kehidupan nyata yang berkaitan dengan ajaran Islam. Dalam pembelajaran PAI, metode ini dapat diterapkan dengan mensimulasikan situasi-situasi seperti penyelesaian konflik, nasihat, atau pengambilan keputusan berdasarkan ajaran Islam. Melalui role play, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan empati. Melalui metode ini, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam, memperkuat keterampilan mereka dalam menghafal dan memahami teks-teks suci, dan mengembangkan keterampilan sosial dan empati. Meskipun terdapat tantangan dalam menerapkan metode ini, manfaat yang dihasilkan jelas mengungguli kekurangannya. Oleh karena itu, pendekatan ini layak untuk dieksplorasi dan diterapkan dalam konteks pembelajaran PAI. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 35 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata. 2011. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, cet-2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Ahmad, “Pelaksanaan Metode Drill (Latihan Pembelajaran Siap) Bahasa dalam Arab”, Jurnal Fikrah, Vol. 5, No. 1, 2006 Ahmad. 1999. Psikologi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hamka. 1994. Falsafah Hidup. Jakarta: Pustaka Panjimas. Akbarizan. 2008. Pendidikan Berbasis Akhlak, cet. ke -1. Pekanbaru: Suska Press. al-Maraghi, Ahmad Musthofa. t.t. Tafsir al-Maraghi, Jilid 29. Beirut: Dar al Maraghi. Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safruddin Abdul Jabbar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoretis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, cet. 1. Jakarta: Bumi Aksara. Dan Salahuddin, Mahfud. 1987. Metodologi Pengajaran Agama. Surabaya: Bina Ilmu. Daradjat, Zakiah, et. al., 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, cet. 1. Jakarta: Bumi Aksara. Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Jurnal Al-hikmah Vol. 13, No. 2, Oktober 2016 ISSN 1412-5382 126 Djamarah,. Hariyanto, “Pengertian dan Tujuan Pembelajaran”, www.belajarpsikologi.com, April, 2012. Muradi, Nizar, Samsul. Memperbincangkan 2008. Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, cet. 1. Jakarta: Prenada Media Group. Prawira, Purwa Atmaja, 2012. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Yogjakarta: ArRuzz Media. Ramayulis. 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam, cet. ke -6. Jakarta: Kalam Mulia. Ramayulis. 1990. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia. Roestiah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Robert L., et. al., 2008. Psikologi Kognitif, Edisi ke-8. Jakarta: Erlangga. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 36 Susanna, Habiburrahim, Silahuddin: Strategi Pembelajaran Aktif: Pemanfaatan Metode Drill, Teamwork, Dan Role Play Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Roestiyah N.K., 1985. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Problematika Belajar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Sanjaya, Wina. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, cet. 2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 2011. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sarwono, Sarlito Wirawan. 2010. Pengantar Psikologi Jakarta: Rajawali Pers. Setyosari, Punaji. Penelitian 2010. Pendidikan Umum. Metode dan Pengembangan, cet. 1. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sawaludin dkk. 2022. Metode dan Model Pembelajaran, cet.2. Yayasan Hamzah Diha. NTB-Lombok Shaleh, Abdul Rachman, Pendidikan Agama Islam dan Pembangunan Watak Bangsa, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006, ed. 1 Shihab, Quraish M., Tafsir al-Mishbah. 2012. Pesan, Kesan dan Keserasian alQur’an Volume 14, cet. ke -5. Jakarta: Lentera Hati. Soemanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Solso, Syaiful Bahri dan Aswin Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar, cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar, Ed.II. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Ellis, Hendry C., 1978. Fundamental of Learning, Memory and Cognition. Mexico: Wm. C. Brown Company Publishers Dubuque. Fauzi, Winkel, W.S. dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi. Zuhairini, et. al., 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 21-37 37