Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta Alcyva Anindita Aisha Putri1* Lukman Nul Hakim2,3 Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial. UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia Pusat Riset Kesejahteraan Sosial. Desa dan Konektivitas. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Jakarta. Indonesia 3 Faculty of Education. Universitas Islam Internasional. Jakarta. Indonesia * Korespondensi: alcyvaanindita4087@gmail. Tel: 6289506871206 Diterima: tanggal 13 Januari 2024. Disetujui: tanggal 20 Mei 2024. Diterbitkan: tanggal 25 Mei 2024 Abstrak: Indonesia mengalami peningkatan pada struktur penduduk usia lanjut. Hal ini menyebabkan dampak positif dan negatif khususnya bagi keberlangsungan kehidupan bangsa. Lansia berdaya merupakan salah satu hal yang dapat meringankan kondisi bangsa untuk menjadi bangsa yang Konsep Active Ageing membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera. Konsep active ageing sendiri terdiri dari 8 faktor yang dibagi menjadi 2 bagian. Tentunya konsep ini akan berangkat sejak masa muda. Anak muda yang memahami konsep active ageing dapat menjadi lansia berdaya saat masa lanjut usia nanti. Hasil penelitian melalui metode statistic deskriptif ini penulis didapati bahwa anak muda memberikan hasil positif terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap konsep active ageing tersebut. Bahwa Anak Muda sudah mengetahui pengaplikasian konsep active ageing dalam kehidupan sehari- hari mereka. Secara teori kebanyakan anak muda belum maksimal dalam pemahaman konsep active ageing ini. Untuk penerapan konsep active ageing harus terus diterapkan oleh anak muda dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Pemerintah dalam hal ini dapat memberikan pendampingan dan pemberdayaan kepada remaja agar dapat menjadi individu yang produktif bahkan hingga masa lanjut usianya yang berdampak juga pada kesejahteraan bangsa Indonesia nantinya. Kata kunci: lanjut usia, active ageing, anak muda Abstract: Indonesia is experiencing an increase in the structure of its elderly population. This causes positive and negative impacts, especially for the survival of the nation. Empowered elderly people are one thing that can ease the condition of the nation to become a prosperous nation. The Active Aging concept brings the Indonesian nation into a prosperous nation. The concept of active aging itself consists of 8 factors which are divided into 2 parts. Of course, this concept will start from youth. Young people who understand the concept of active aging can become empowered seniors when they are old. The results of research using descriptive statistical methods, the author found that young people gave positive results regarding knowledge, attitudes and actions towards the concept of active That young people already know the application of the concept of active aging in their daily In theory, most young people are not optimal in understanding the concept of active aging. implement the concept of active aging, it must continue to be applied by young people and passed on to the next generation. In this case, the government can provide assistance and empowerment to teenagers so that they can become productive individuals even into old age, which will also have an impact on the welfare of the Indonesian nation in the future. Key words: elderly, active aging, young people https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3358 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 Pendahuluan Saat ini Indonesia mengalami penuaan pada struktur penduduknya, dilihat dari meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (Andini et al. , 2. Pembangunan yang signifikan dan penduduk yang semakin tinggi membuat pemerintah harus melaksanakan program-program demi pembangunan Pembangunan berkelanjutan sendiri merupakan konsep bahwa generasi saat ini jangan sampai memerlukan generasi selanjutnya dalam hal kesejahteraan sosial (Suparmoko, 2. Pembangunan berkelanjutan tentunya memiliki berbagai dampak, salah satunya adalah penduduk lanjut usia . mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah maupun proporsi. (Statistik Penduduk Lanjut Usia 2022. Pdf, n. , p. VII). Penduduk lanjut usia yang memiliki keadaan yang baik secara kesehatan dan sosialnya, tentunya akan membawa dampak positif bagi dirinya atau sekitarnya. Di sisi lain, apabila masalah lansia tidak mendapatkan penanganan baik, akan timbul berbagai masalah yang kompleks. Masalah kompleks yang terjadi pada penduduk lansia seperti pada masalah kesehatan, ekonomi dan sosialnya. Penduduk lanjut usia . tentu mendapat perhatian juga dari pemerintah dalam hal Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, sebanyak 10,48 persen penduduk merupakan lansia, yang mana memiliki rasio ketergantungan 16,09 poin. Hal ini dapat diartikan bahwa 100 penduduk usia produktif di indonesia harus menanggung 16 lansia pada tahun Secara sederhananya, setiap lansia memiliki ketergantungan pada enam penduduk usia produktif . -59 tahu. Kondisi lansia yang menurun disebabkan lansia yang tidak lagi produktif secara sosial, ekonomi, kesehatan maupun lainnya. Kondisi lansia menjadi lebih buruk pada lansia yang terbatas faktor ekonomi (Hakim, 2. Di masa tua, lansia dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan makanan yang seimbang untuk kesehatan pribadi lansia, dan juga kebutuhan- kebutuhan lain yang menunjang kesejahteraan lansia dimasa tua nya. Tentunya pemerintah dalam hal ini juga turut andil dalam menciptakan kesejahteraan bagi penduduk lanjut usia . Kebijakan terkait kesejahteraan lansia seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dari Kementerian Sosial, lalu ada pula program dari BKKBN seperti Bina Keluarga Lansia dan beberapa kebijakan turunan lain yang menunjang kesejahteraan lansia (Nugroho, 2. Pemerintah juga membuat program dengan nama ATENSI secara khusus untuk lansia, namun hanya sekitar 1,62 persen lansia yang sudah menikmati program tersebut. (Statistik Penduduk Lanjut Usia 2022. Pdf, n. , p. XI). Dalam keberlangsungannya, kesejahteraan lansia merupakan tanggung jawab bersama demi terwujudnya kesejahteraan pada lansia. Lingkup masyarakat juga harus turut serta dalam upaya kesejahteraan lansia, karena masyarakat memiliki kesempatan dan juga hak untuk kesejahteraan lansia baik secara perorangan dengan tujuan kesejahteraan lansia ini adalah untuk membentuk penduduk lanjut usia yang produktif dan berdaya. Ini juga sejalan dengan Angelita bahwa peningkatan kesejahteraan lansia di Indonesia bukan sekedar tanggung jawab dari pemerintah baik daerah ataupun pusat, seluruh lapisan masyarakat juga harus andil dalam hal ini. (Audria & Wahyuni, 2. Keluarga juga menjadi sosok yang paling dekat dengan lansia dan dalam tatanannya dalam setiap keluarga terdapat tiga sampai empat generasi yang salah satunya merupakan generasi lansia itu Sekitar 30,79 persen atau tiga dari sepuluh rumah tangga terdapat lansia (Statistik Penduduk Lanjut Usia 2022. Pdf, n. , p. Generasi lain dalam satu keluarga itu berperan sebagai generasi yang dapat mewujudkan lansia agar dapat mandiri dan juga berdaya tentunya. Dapat ditarik garis bahwa generasi dibawah lansia merupakan generasi yang memegang peranan penting bagi lansia dan bukan sebagai penanggung beban hidup penduduk lanjut usia . Dalam kehidupan dalam satu keluarga biasanya didominasi dengan tiga generasi yaitu generasi lansia, generasi tengah . rang tu. dan juga generasi muda atau anak muda. Dalam tiga generasi ini, anak muda memiliki peran penting pada generasi setelahnya atau sebelumnya. Anak muda merupakan salah satu dari generasi yang terlibat dalam satu tatanan keluarga yang berperan penting bagi kehidupan lansia. Anak muda merupakan warga negara yang memasuki masa penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 . nam bela. sampai 30 . iga pulu. Anak muda sebagai agen perubahan dan perannya sangatlah besar maka upaya dalam pembinaan Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 karakter kepada anak muda perlu agar menjadi pemimpin bangsa yang bijak dan baik nantinya (Putnarubun et al. , 2. Saat ini, anak muda cenderung memikirkan bagaimana membangun masa depan cerah yang tentunya selain untuk kepentingan diri sendiri, itu akan menjadi kepentingan generasi diatasnya. Namun, banyak anak muda yang belum memikirkan setelah menjadi orang sukses dengan masa depan Ketika menjadi lansia nantinya, apakah kegiatan yang akan dia lakukan ketika sudah memasuki masa pensiun akan berdampak baik bagi kehidupannya dan generasi dibawahnya. Tentunya berbagai persiapan perlu dilakukan anak muda mulai saat ini, terlebih lagi anak muda sebagai generasi yang sangat lekat dengan lansia yang mana anak muda dapat menemui dua generasi lansia dalam hidupnya yaitu kakek neneknya dan kedua orang tuanya ketika sudah memasuki lansia nanti. Theoretical framework Menjadi lansia yang berdaya tentunya adalah tujuan . dan perkembangan tahap akhir penduduk lanjut usia. United Nations telah menyusun kerangka teori tentang lansia berdaya, yang terdiri dari dua faktor besar yaitu Gender dan Culture dengan delapan dimensi, yaitu Health and social services. Economic determinats. Social determinats. Behavioural determinats. Personal determinants, dan Physical environment. Faktor- Faktor Active Ageing Anak muda harus memahami mengenai konsep active ageing, untuk mencapai konsep Active Ageing yang sesungguhnya. Mayoritas anak muda sesungguhnya memiliki perhatian khusus pada lansia, namun banyak juga dari mereka yang masih belum mengatahui mengenai hak-hak lansia seperti salah satu contohnya adalah hak dalam bekerja. Tentunya anak muda dinilai memahami dan siap menjadi lansia berdaya pada konsep active ageing apabila mereka memenuhi pengetahuan mengenai faktor-faktor dari apa yang disebut konsep active ageing. Gambar 1. Delapan Faktor Konsep Active Ageing Konsep active ageing akan terpenuhi apabila masyarakat kita telah mengerti betul apa saja faktor dari konsep active ageing tersebut. Dalam konsep active ageing ada delapan faktor determinan , yaitu: Gender and culture Budaya merupakan semua aspek yang membentuk saat kita menua nanti. Nilai- nilai budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana masyarakat kita menganggap sesuatu, termasuk cara Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 berperilaku atau pandangan seseorang terhadap lansia. Tradisi dan budaya juga berpengaruh bagaimana seseorang melihat generasi lansia, apabila lansia dengan penyakit tertentu cenderung dikaitkan dengan faktor penuaan, maka masyarakat cenderung belum paham akan konsep active Budaya juga harus dijadikan satu patokan bagaimana pemerintah memeberikan program atau kebijaka-kebijakan terbaru, karena ada nilai- nilai positif yang melampuin budaya yaitu hak asasi manusia dan etika. Gender dapat dianalogikan seperti lensa yang digunakan oleh masyarakat kita untuk menimbang kesesuaian atas banyaknya pilihan kebijakan dan juga apakah kebijakan yang dibuat akan berdampak dalam kesejahteraan laki-laki dan perempuan. Gender juga merupakan kontruksi sosial tentang peran, kewajiban, hak dan fungsi perempuan dan laki-laki yang tidak bersifat kodrati bahkan dapat juga dipertukartkan (Sari & Ismail, 2021, p. Dalam masyarakat kita, anak perempuan cenderung mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak laki-laki. Peran seorang perempuan sebagai AupengasuhAy rumah tangga juga berdampak bagi peningkatan kemiskinan yang ada. Selain kemiskinan, adanya kekerasan terhadap perempuan di rumah tangga juga dapat terjadi apabila beban pengasuhan keluarga dibebankan pada perempuan (Rosnawati, 2018, p. Banyak fenomena sekitar kita yang mana perempuan rela melepas tanggung jawab pekerjaannya untuk melaksanakan tanggung jawab AupengasuhanAy keluarga. Selain perempuan yang merelakan kesempatannya untuk bekerja, laki-laki cenderung banyak mengambil resiko tinggi seperti merokok, konsumsi alcohol dan obat obatan Health and Social Services Dalam membangun konsep active ageing, pelayanan Kesehatan primer harus berkualitas, terkoordinasi dan hemat biaya. Tentunya dalam pelayanannya tidak ada diskriminasi usia agar segala lapisan usia dapat pelayanan yang maksimal dari penyedia layanan Kesehatan. Dalam konsep active ageing. Kesehatan tidak hanya dalam bidang pengobatan, namun juga dalam ranah pencegahan. Tentunya pencegahan ada tahap pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan penyakit yang juga dapat mengehemat biaya dalam usia berapapun. Misalnya saja pemberian vaksin herpes zoster dengan kisaran harga 1. 000 akan membuat lansia terhindar dari penyakit itu, daripada nantinya seorang lansia harus menjalani perawatan karena penyakit tersebut yang mana biayanya melebihi harga sekali vaksin. Economic Determinants Dampak signifikan dalam faktor ini ada tiga, yaitu pendapatan, pekerjaan dan Pada penduduk lansia, apalagi dibidang ekonomi sangat rentan dengan kemiskinan. Kelompok lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kemiskinan. Di desa- desa masih banyak kelompok lansia terutama lansia perempuan yang tingga sendiri dengan atau tanpa bantuan ekonomi yang stabil. Fungsi lansia dapat terealisasi satu per tiga lebih tinggi pada lansia yang berpendapatan rendah disbanding dengan lansia yang berpendapatan tinggi. Negara maju ataupun berkembang kebanyakan lansianya bertindak sebagai sukarelawan, hal ini memiliki dampak baik dalam kontak sosial dan kesehatan psikologis penduduk lanjut usia, selain itu lansia juga memberikan kontribusi terhadap negara dengan terus menjadi lansia yang produktif. Social Determinants Pada dasarnya setiap manusia berhak mendapatkan hak haknya dalam pendidikan, hak hidup dan hak bersosialnya. Dalam faktor sosial ini, apabila lansia tidak mendaptkan ataupun kekurangan hak dalam pendidikan. Kesehatan dan perlindungan dalam hidupnya tentu juga berpengaruh pada kelangsungan hidup di masa lanjut usianya. Dalam dukungan sosial, orang lanjut usia cenderung tinggi pada kasus kehilangan anggota Kehilangan dalam hal ini tidak saja bermakna kematian, namun bisa saja ditinggal Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 bekerja seharian, merantau atau lainnya. Dengan begitu, dukungan sosial diperlukan agar lansia tidak mengalami gangguan seperti stress hingga depresi karena kesepian yang dialaminya. Pada masyarakat, orang lanjut usia laki-laki cenderung lebih sedikit memiliki jaringan sosial dari pada orang lanjut usia perempuan, namun tidak dipungkiri juga pada beberapa budaya dimasyarakat kita bahwa seorang janda, akan mendapatkan penolakan dari komunitas masyarakatnya. Oleh karena itulah pemerintah baik swasta maupun non-swasta seharusnya memebentu suatu kegiatan agar para lansia dapat tumbuh jaringan sosialnya dan mengurangi efek-efek dari rasa yang timbul akibat pengecualiaan atau hal-hal negative akibat ditinggalkan oleh keluarga, saudara atau kerabatnya. Tidak dapat dipungkiri juga, orang lanjut usia juga mendapatkan perundungan ataupun Pelecehan tidak hanya dilingkup sekesual saja, namun juga pelecehan psikologis, kekerasan fisik, finansial atau ekonomi dan penelantaran yang kerap diterima para lansia. Pelecehan yang terjadi pada lansia merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang mana ini juga memerlukan perhatian daripada masyarakat . Untuk active ageing, lansia juga diperlukan dalam keterampilannya dalam bekerja. Namun, pada 2023 ini, masih cukup banyak ditemui disekitar kita lansia dengan kecenderungan buta huruf atau buta Hal ini tentunya juga menghambat lansia menjadi lansia yang produktif. Tentunya apabila lansia ingin menjadi lansia yang produktif ditempat kerja, diperlukan pelatihan secara berkala ditempat kerjanya. Teknologi yang terus berkembang sudah seharusnya dikenalkan kepada para Tentunya hal ini dapat mendorong para lansia untuk menjadi produktif dan mengurangi angka ketergantungan pada usianya. Physical Environment Lansia yang tinggal dilingkungan yang tidak nyaman dan aman dapat membuat perbedaan antara kemandirian dan juga ketergantungan. Apabila lansia berada ditempat yang tidak nyaman ataupun aman bagi dirinya, hal itu dapat membuat lansia merasakan berbagai hambatan seperti lebih mudah depresi, terisolasi, penurunan kesehatan fisik dan juga mobilitas yang buruk. Sebaliknya, apabila lansia hidup dalam lingkungan yang aman, nyaman, tentram maka hal ini dapat meningkatkan hal-hal positif dalam hidup lansia. Hal positif dalam kehidupannya seperti kesehatan terjamin baik secara fisik maupun psikis dan juga mood dalam diri lansia akan mendorong menjadi lansia yang produktif. Dalam hal ini, anak muda seharusnya tau, bahwa menciptakan lingkungan yang positif akan berdampak baik dan juga positif pula kepada para penduduk lanjut usia. Lingkungan yang positif juga akan membawa karakter yang positif pula (Irhamna & Purnama, 2. Personal Determinats Banyak diantara kita yang menganggap bahwa faktor external merupakan penyebab adanya suatu penyakit, walaupun tidak sedikit diantara kita juga tau bahwa gen juga merupakan salah satu faktor dari penyakit itu sendiri. Di masyarakat kita saat ini sudah banyak populasi manusia yang berumur panjang, hal ini juga diturukan melalui genetik keluarga mereka. Namun, gen tidak serta merta begitu saja menjadikan manusia berumur panjang, banyak faktor- faktor lain seperti terpenuhinya gaya hidup sehat, makanan yang bergizi, berolahraga, lingkungan yang baik untuk fisik maupun psikologis dan banyak lainnya. Saat individu memasuki fase lanjut usia, individu akan mengalami banyak perubahan(Windri et , 2. Orang lanjut usia juga sering dikatakan sebagai orang paling rentan terkena penyakit, hal ini karena orang lanjut usia memiliki umur yang relatif lebih panjang dan juga metabolisme dalam tubuhnya sudah mulai menurun. Selain hal baik seperti umur Panjang, pengaruh genetika juga menurun mengenai penyakit seperti diabetes, jantung ataupun penyakit menurun lainnya. Kemampuan kecerdasan dan kapasitas kognitif juga dapat diturunkan melalui genetika. Namun seiring bertambahnya umur, kemampuan kognitif dan berpikir menurun secara alamiah. Kemampuan kognitif yang menurun ini selain dipengaruhi pertambahan usia, juga dipengaruhi dengan kurangnya latihan, terserang penyakit, kurang motivasi atau adanya faktor sosial juga seperti kesepian dan adanya isolasi sosial. Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 Behaviour Determinants Perawatan diri merupakan hal yang penting di semua tahap kehidupan manusia. Dimasyarakat kita, penuaan sering dikaitkan karena seseorang telat menerapkan gaya hidup sehat. Padahal menerapkan gaya hidup sehat sepeti makan makanan yang bergizi, minum air putih, olahraga teratur dan tidur yang cukup akan membuat seseorang semakin memperpanjang umurnya dan tentunya juga meningkatkan kualitas dalam hidup seseorang. Tidak dipungkiri masyarakat kita masih banyak yang mengonsumsi rokok, baik perempuan maupun laki-laki. Pada tahun-tahun terakhir ini pemerintah juga telah meningkatkan harga rokok. Kenyatannya harga rokok tidak memengaruhi tingkat konsumsi rokok(Afif & Sasana, 2. Seperti kita tahu bersama, merokok dapat menurunkan kepadatan tulang , kekuatan otot dan juga menurunkan fungsi pernafasan. Persepsi Anak Muda Terhadap Konsep Active Ageing Anak muda saat ini cenderung mendorong penduduk lanjut usia untuk terus mengisi waktu luang dalam berbagai kegiatan. Dalam kajian (Nugroho, 2. mengenai persepsi anak muda terhadap keberadaan lansia di Indonesia, sebanyak 88,5% anak muda merasa penting apabila dimasa masa lansia untuk mengembangkan hobinya dalam mengisi waktu luang. Hal ini membuktikan juga bahwa persepsi mereka dalam melihat lansia saat ini untuk terus memenuhi waktu luangnya dalam berbagai hal positif. Dalam Undang- Undang No 13 Tahun 1998 Pasal 5 Ayat 2 disebutkan bahwa lansia juga memiliki hak-hak untuk meningkatkan kesejahteraan sosial yang meliputi berbagai pelayanan keagamaan dan mental spiritual, pelayanan kesehatan, pelayanan kesempatan kerja, kemudahan dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasarana umum, kemudahan dalam layanan bantuan hukum, perlindungan sosial dan bantuan sosial. Namun dalam haknya untuk kesempatan kerja, anak muda cenderung belum memahami bahwa lansia juga memiliki hak bekerja, mereka hanya mendorong lansia untuk mengisi waktu luang bersama anak cucu atau bahkan hanya dirumah saja dengan mengembangkan hobi. Persepsi anak muda terkait hak lansia dalam bekerja ini, tentunya menimbulkan tren yang positif dimana anak muda harus paham betul apa saja hak-hak lansia, karena banyak anak muda yang tidak sependapat apabila lansia masih belajar dan bekerja. (Nugroho, 2. Berdasarkan fenomena di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Auapakah anak muda saat ini sudah memahami betul konsep active ageing?Ay. Tujuan jurnal ini yaitu menganalisa bagaimana anak muda dalam mempersiapkan masa lanjut usia nantinya, baik untuk dirinya maupun orang terdekatnya seperti orang tua atau bahkan kakek neneknya. Tentunya juga apakah anak muda sudah paham akan konsep active ageing yang sesungguhnya untuk menjadi lansia berdaya sesuai dengan tujuan dari program- program yang dibuat pemerintah agar tidak menjadi lansia yang bergantung pada generasi dibawahnya, namun menjadi lansia yang produktif dan juga meminimalisir ketergantungan pada generasi berikutnya. Metode Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif atau deskriptif data. Deskriptif data merupakan bagian dari ilmu statistika yang hanya mengolah, menyajikan data tanpa mengambil keputusan untuk populasi, dan analisis deskriptif merupakan bentuk analisis data penelitian untuk menguji hasil penelitian berdasarkan satu sampel. Alasan penggunaan metode statistik deskriptif untuk mendeskripsikan konsep active ageing terhadap anak muda di Yogyakarta tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau general. Metode pengambilan data dilakukan dengan kuisioner yang dibagikan secara online menggunakan applikasi google form. Teknik yang digunakan dalam metode ini yaitu dengan purposive sampling. Teknik ini mengambil sampel dengan kriteria tertentu (Amaliyah et al. , 2021, p. Kriteria responden dalam penelitian adalah anak muda berusia 19-30 tahun, berdomisili di Yogyakarta dan dapat menggunakan internet . ntuk penggunaan google for. Penelitian ini menggunakan penyajian data dalam bentul tabel dan Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 juga penyajian data dengan menggunakan bentuk visual yaitu dengan diagram lingkaran dan diagram pastel atau pie chart. Responden dalam penelitian ini berjumlah 44 responden, yang datanya diambil dalam waktu satu minggu, mulai tanggal 9 Desember 2023 hingga 15 Desember 2023. Alasan pemilihan responden anak muda yang berdomisili di Yogyakarta karena Yogyakarta merupakan daerah dengan Tingkat harapan hidup tinggi di Indonesia. Budaya atau culture di Yogyakarta juga masih kuat antara kaum muda dan kaum lansia, itulah yang menarik penulis itu memilih Yogyakarta sebagai lokus pada penelitian ini. Hasil Karakteristik Responden Penelitian ini menggunakan metode statistik deskriptif . Responden dalam penelitian ini adalah anak muda berusia 17-30 tahun yang berdomisili di Yogyakarta minimal satu tahun. Adapun jumlah responden dalam penelitian ini adalah 44 responden yang dideskripsikan sebagai berikut : Deskripsi Jenis Kelamin Tabel 1 Karakteristik Jenis Kelamin Responden Keterangan Jumlah Presentase Perempuan 72,7% Laki-laki 27,3% Total Sumber : Data Diolah, 2023 Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini jenis kelamin perempuan memiliki jumlah yang lebih besar dari pada responden laki-laki yaitu sebanyak 72,7% atau sebanyak 32 responden dan sebanyak 27,3% atau 12 merupakan responden laki-laki. Pemilihan gender dalam penelitian ini berguna untuk mengetahui pengaruh konsep active ageing dengan anak muda perempuan dan laki-laki. Hal ini juga berpengaruh karena salah satu faktor active ageing ada dalam budaya, dan budaya di Indonesia terhadap persoalan gender masih cukup kuat, seperti budaya patriarki. Budaya patriarki yang masih menyebabkan banyak macam masalah sosial di indonesia(Sakina & A, 2017, p. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 2 Karakteristik Usia Responden Keterangan Jumlah Presentase 19 tahun 4,5 % 20 tahun 18,2 % 21 tahun 38,6 % 22 tahun 18,2 % 23 tahun 2,3 % 25 tahun 6,8 % 26 tahun 4,5 % 27 tahun 2,3 % 28 tahun 2,3 % 29 tahun 2,3 % Total Sumber : Data Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 2, persebaran umur responden cukup merata, namun didominasi dengan responden dengan umur 21 tahun yaitu sebanyak 38,6%. Sebanyak 18,2 % berumur 20 dan 22 tahun. Hal ini sesuai dengan sasaran responden yang akan diteliti. Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 Karakteristik responden berdasar pekerjaan Tabel 3 Karakteristik Pekerjaan Responden Keterangan Jumlah Presentase Mahasiswa 77, 3% Wiraswasta/wirausaha 2,3 % PNS 13,6% Pegawai Swasta 4,5% Pendidik 2,3% Total Sumber : Data Diolah, 2023 Responden penelitian ini didominasi oleh mahasiswa, terlihat dalam Tabel 3, bahwa pekerjaan responden 77,3% atau 34 dari 44 responden pekerjaannya merupakan mahasiswa dan diikuti dengan PNS sebagai pekerjaan tertinggi kedua dengan 13,6% atau sebanyak 6 responnden. Karakteristik responden berdasar Status pernikahan Tabel 4 Karakteristik Status Pernikahan Responden Keterangan Jumlah Presentase Belum Menikah 97,7% Menikah 2,3% Total Sumber : Data Diolah, 2023 Berdasarkan tabel 4, didominasi dengan anak muda yang belum menikah, tentunya ini juga sejalan dengan penelitian Adiyana Adam bahwa remaja atau anak muda dengan tingkat pendidikan yang baik memiliki resiko lebih kecil untuk melakukan pernikahan dini (Adam, 2. , dengan kata Responden penelitian ini memiliki kematangan psikososial yang baik hal ini berhubungan dengan Tabel 3, yang didominasi dengan responden dengan latar pekerjaan mahasiswa dan dominasi kedua merupakan PNS. Karakteristik responden berdasar pendidikan terakhir Tabel 5 Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden Keterangan Jumlah Presentase SMP SMA 70,5% Diploma 13,6 % Sarjana 15,9 % Total Sumber : Data Diolah, 2023 Pada Tabel 5 diatas, menunjukan bahwa responden dengan tingkat pendidikan terakhir SMA memiliki jumlah yang paling banyak yaitu sebesar 70,5% atau 31 responden dari 44 responden. Pengetahuan Pada aspek pengetahuan, berdasarkan tiga item pertanyaan 68% responden setuju bahwa lansia terserang penyakit dikarenakan faktor gaya hidup semasa mudanya. Hal ini didukung dengan Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 responden yang juga mendukung pernyataan bahwa semua orang perlu untuk menjaga kesehatan sedini mungkin dan juga berolahraga secara rutin. Gambar 2: Diagram Hasil Pernyataan Faktor Penyakit pada Lansia Budaya Pada aspek budaya ada delapan item penyataan yang diberikan penulis. Melalui delapan item tersebut responden atau anak muda 95% menyetujui bahwa merokok akan membahayakan masa tua, meski begitu ada 13% responden yang masih aktif untuk merokok meskipun mereka tau bahwa merokok dapat berbahaya di masa tua. Dalam kehidupan di masyarakat, berbagai macam kebiasaan atau bisa kita sebut dengan budaya dapat berpengaruh besar. Apalagi individu dengan lingkungan sekitarnya memiliki pola hidup sehat pasti kebiasaan itu akan terbawa pada individu tersebut. Hal ini didukung dengan 43 dari 44 responden yang setuju bahwa banyak kebiasaan di lingkungan terdekat akan berdampak pada cara hidup individu. Sebagai contoh adanya pola hidup sehat yang akan membentuk cara seseorang menua. Meski banyak yang setuju bahwa kebiasaan dapat memengaruhi bagaimana seseorang hidup, 33 dari 44 responden sudah tidak mengikuti kepercayaan . yang ada disekitar mereka. Di Indonesia sendiri pamali masih tergolong cukup kuat di masyarakat itu sendiri,namun pada masa sekarang pamali mulai pudar seiring perkembangan zaman. Gambar 3 : Diagram Hasil Pernyataan Pengaruh Lingkungan pada Seseorang Responden juga menyadari bahwa suatu penyakit pada lansia timbul bukan semata-mata karena proses penuaan. Hal ini juga sejalan dengan item yang mana 95% responden sudah menjaga Kesehatan fisik dan mental mereka. Sejalan dengan itu, didukung dengan 86% atau 38 dari 44 responden aktif Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 setiap harinya untuk berkegiatan. Hal ini merupakan salah satu usaha individu untuk berusaha menjaga Kesehatan fisik dan mental mereka. 75% responden mengetahui bahwa lansia juga memiliki hak untuk bekerja, meskipun begitu hal ini cukup kontras dengan 52% responden merasa bahwa lansia sudah tidak perlu bekerja lagi. Gender Pada aspek gender terdapat tujuh item didalamnya. Pada item pengasuhan keluarga, responden telah memiliki kesadaran yang baik mengenai kesetaraan gender disamping adanya budaya di Indonesia. Ada 77,2% responden yang tidak setuju apabila claim bahwa perempuan lebih cocok mengasuh dari pada seorang laki-laki. Item ini juga didukung dengan 68% responden yang terdiri baik laki-laki maupun perempuan juga turut andil dalam mengasuh atau minimal mereka juga menjaga adik/keponakan atau keluarga mereka dalam kesehariannya. Gambar 4: Diagram Hasil Pernyataan Aspek Gender Meski begitu, dari 44 responden, 31 diantaranya setuju bahwa budaya dimasyarakat mengenai keseteraan gender masih belum maksmimal karena mereka mengenai kecenderungan seorang laki-laki yang mendapatkan porsi perkerjaan ataupun lainnya lebih baik dimasyarakat dari pada seorang Hal ini juga diperkuat dengan kesadaran responden dengan hasil 77,2 % perempuan yang akan lebih peduli terhadap penampilannya seperti peningkatan kualitas diri dan kesehatannya dibandingkan seorang laki-laki. Perilaku Pada aspek perilaku, terdapat 36 item pernyataan. Mengenai perilaku pola hidup sehat, kesadaran responden mengenai pola hidup sehat dapat dimulai pada umur berapun termasuk masa lansia bukanlah masa yang terlambat untuk memulai pola hidup sehat, hal ini terlihat dari hasil bahwa 61,1% responden tidak setuju bahwa masa lansia merupakan masa yang sudah terlambat apabila baru memulai pola hidup sehat. Selain dari aspek kesehatan, 77% responden juga telah melakukan pola hidup yang sehat dalam kesehariannya. Pola hidup sehat dapat dilakukan dengan makan makanan yang bergizi, tidur teratur, aktif berkegiatan secara fisik, aktif melakukan healing untuk kepentingan psikis yang sehat dan banyak lagi. Sebanyak 88,6% responden setuju bahwa kurangnya konsumsi kalsium saat muda akan berpengaruh dengan kesehatan tulang dan gigi dimasa tuan anti. Hal ini juga dilihat dari hasil tindakan mereka yang mana 68,1% dari mereka sudah aktif mengonsumsi makanan atau minuman fermentasi seperti keju, yoghurt dan juga yang terkait dengan kalsium saat ini. Selain konsumsi makanan atau minuman sehat, responden juga sudah memiliki kesadaran mengenai psikis mereka. Sebanyak 33 dari 44 responden meyakini bahwa diri mereka sehat secara Kesehatan psikis didapati ketika seseorang dapat mengendalikan emosional dan sosialnya dengan baik. Dalam menjaga kesehatan psikis, 95% responden setuju bahwa adanya rekreasi itu Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 merupakan hal yang penting, mereka juga melakukan refreshing secara rutin disela-sela kesibukan Selain refreshing dan rekreasi, responden juga melakukan kontak sosial dengan tergabung dalam forumsosial, aktif berogranisasi dan dengan lingkungan sekitar untuk kesehatan psikis mereka. Selain dari psikis, fisik juga berperan penting dalam perkembangan pribadi individu. Olahraga juga aktif dilakukan responden untuk menjaga kesehatan fisik mereka seperti 86% responden yang setuju lari pagi atau sekedar berjalan kaki setiap hari berdampak baik untuk pribadi mereka. Dalam jurnal UMJ dikatakan bahwa hidup sehat selain makanan bergizi diperlukan juga aktifitas fisik seperti berolahraga teratur, karena olahraga juga merupakan implementasi dari pola hidup sehat (Dewiyani et al. , 2. Responden juga konsisten mengenai penggunaan rokok. Sebanyak 84% responden setuju bahwa ada kaitan antara kematian dan merokok, dan ini juga diimbangi dengan 72% responden yang menghindari lingkungan dengan perokok aktif. Responden juga memberikan respon yang sama terkait dengan item vaksinisasi dan makanan bergizi. Responden setuju mengenai vaksinisasi wajib dan bahkan 63,6% responden sudah melakukan vaksinisasi pendukung. Ekonomi Pada aspek ekonomi teridiri dari 12 item pernyataan dan dibagi lagi menjadi empat bagian. Berdasarkan item kemampuan ekonomi, 65% responden setuju bahwa kapasitas diri akan meningkat apabila penghasilan rendah, hal ini dikarenakan ketika pemasukan atau pendapatan menipis, individu cenderung berpikir lebih kreatif agar mendapatkan pemasukan lain ini juga sejalan dengan item kedua dan ketiga Dimana responden setuju bahwa mereka akan mencari peluang-peluan baru untuk mendapatkan pendapatan ataupun pemasukan. Selain pemasukan, 97% responden juga memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab dirinya memiliki asurasi. Hal ini didukung dengan 39 dari 44 responden juga setuju bahwa setiap individu wajib memiliki asurasi dalam bentuk apapun itu. Bahkan hampir separuh dari responden sudah memiliki asuransi untuk diri mereka. Selain mengenai asuransi, responden juga banyak yang telah memiliki kesadaran terhadap hari tua mereka. Sekitar 86% responden setuju bahwa mereka memiliki ketertarikan dengan pekerjaan yang memiliki jaminan dana pensiunan, karena dana pensiunan Menurut 33 responden menjadi pemasukan utama saat masa pensiun nantinya, walaupun ada sekitar 75% yang merasa bahwa dana pensiun merupakan pendapatan utama dimasa tua, hal ini kurang selaras dengan asumsi mereka, hanya ada 45% responden yang setuju bahwa uang pensiun dapat memback up segala kebutuhan dihari tua. Meski begitu, 65% anak muda sebagai responden penelitian ini menyetujui mengenai lansia yang boleh bekerja dan bekerja sebagai hal yang dapat mengisi aktivitas sehari-hari agar terus aktif di lingkungan dan mereka juga memiliki ketertarikan untuk tetap bekerja di masa tuanya nanti. Kesehatan Pada aspek kesehatan dan pelayanan sosial, terdapat sembilan item. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan dengan tujuan pengoptimalan derajat kesehatan (Hardi et al. , 2. Melalui sembilan item tersebut didapati bahwa responden setuju bahwa mereka sudah menjaga kesehatan. Pada item pemeriksaan kesehatan, 95% responden merasa bahwa Gambar 5. Diagram Hasil Pernyataan Anak Muda yang Melakukan Cek Kesehatan Rutin Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 pemeriksaan rutin kesehatan secara umum diperlukan. Namun meski begitu hanya 47% responden saja yang sudah melakukan cek kesehatan secara rutin. Walaupun hanya setengah dari seluruh responden yang melakukan cek kesehatan secara rutin, responden terlihat berusaha melakukan pencegahan penyakit . Item vaksin membuktikan bahwa 72% responden sudah melakukan 7-10 vaksinasi wajib dan juga 88% responden atau anak muda memiliki kesadaran bahwa vaksinasi merupakan hal yang penting bagi kesehatan di masa depan. Hal ini juga sejalan seperti dalam jurnal Riptek Bappeda Semarang yang mengatakan bahwa vaksin atau imunisasi wajib bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan terhadap program vaksin yang dicanangkan pemerintah setempat (Makarim, 2. Sosial Pada aspek sosial, terdapat 39 item terkait faktor sosial yang mendukung menjadi lansia berdaya atau lansia aktif nantinya. Responden setuju mengenai pentingnya dukungan sosial bagi seseorang baik untuk internal seseorang maupun external seseorang. Hal itu juga didukung dengan 88,7% responden setuju bahwa pasangan hidup penting untuk kehidupan individu. Bersosialisasi secara aktif dengan lingkungan sekitar seperti keluarga, tetangga dan masyarakat yang lebih luas juga memberikan pengaruh positif untuk diri seseorang. Responden juga memiliki pikiran terbuka terkait lansia yang melakukan kontak sosial secara aktif. Sebanyak 84 % responden setuju untuk membebaskan anggota lansia di keluarga mereka untuk bebas bersosialisasi dan bepergian. Pemikiran mengenai lansia yang bekerja bagi responden merupakan hal yang biasa dan tidak termasuk kekerasan terhadap lansia, meski begitu hanya 27% responden yang setuju apabila lansia lebih baik tetap bekerja. Hal itu juga berkaitan dengan budaya di Indonesia mengenai menghormati orang tua. Gambar 6 : Diagram Hasil Pernyataan Pentingnya Pasangan Hidup Penghormatan terhadap lansia atau orang tua untuk lebih baik tidak bekerja juga tidak dapat sepenuhnya disalahkan karena hal ini bergantung pada pemikiran setiap keluarga masing-masing. Responden tetap memberikan perhatian kepada lansia dalam support untuk tetap bergerak aktif dan terus memberikan pelatihan mengenai teknologi. Sebanyak 59% responden anak muda sudah memberikan pelatihan teknologi kepala orang lanjut usia disekitar mereka. 95,4% Responden juga menyadari pentingnya pelatihan teknologi, tidak hanya kepada lansia tapi juga untuk semua kalangan umur atau generasi. Melalui pelatihan teknologi, responden juga dapat sekaligus melakukan obrolan mengenai berbagai macam Sejarah, budaya atau apapun mengenai kehidupan kepada generasi diatas mereka. Bahkan 72,7% respoden aktif untuk melakukan obrolan bersama generasi diatas mereka ataupun generasi dibawah mereka. Hal ini dikarenakan 93,1% setuju bahwa obrolan itu penting. Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 Pribadi Pada aspek pribadi, 95% responden setuju dengan item pola hidup dan pola makan harus dijaga dengan baik demi kesehatan dimasa tua. Sebanyak 27 dari 44 responden menyadari bahwa penuaan bukan karna faktor genetika dan penyakit seperti jantung, diabetes dan lainnya yang merupakan penyakit turunan juga harus dicegah dari diri sendiri dengan pola hidup dan pola makan yang baik. Hal ini juga sejalan dengan 77% responden yang sudah mengonsumsi makanan yang sehat serta Pola makan pada individu juga berpengaruh dalam kehidupannya, dalam jurnal Tata Boga Unesa, dikatakan bahwa pola makan merupakan cara individu untuk mengatur jumlah dan macam makanan dari informasi dengan maksud untuk mempertahankan kesehatan, status nutrisi dan juga mencegah ataupun membantu proses kesembuhan suatu penyakit (Amaliyah et al. , 2. dan juga telah menghindari lingkungan yang tidak sehat. Fisik Dari enam item fisik, pada bagian item lingkungan yang ramah, 42 dari 44 responden setuju dengan adanya prasarana seperti denah lokasi, petunjuk arah, akses disabilitas dll yang ada diruang publik akan memudahkan aktifitas individu terutama lansia. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Hari H. Siregar dan Hanson E. Kusuma mengenai Tingkat kenyamanan taman kota mengatakan bahwa masyarakat akan beraktivitas dengan maksimal apabila kelengkapan fasilitas sarana dan prasarananya dalam kondisi baik. (E. Kusuma, 2. Hal ini juga didukung dengan 95% responden yang akan mencari tempat atau lingkungan yang dirasa dapat menjamin keamanan dan kenyamanan bagi diri Melalui lingkungan yang positif juga akan menciptakan fisik dan psikis yang sehat. Lingkungan yang positif seperti keluarga yang harmonis juga salah satu hal yang dapat menyehatkan psikis seseorang. Keluarga yang tidak stabil akan menyebabkan terjadinya perkembangan yang membahayakan terhadap individu (Hasanah, 2. Hal ini sejalan dengan 93% responden yang berusaha untuk menciptakan keharmonisan pada lingkungan terkecil mereka yaitu Kesimpulan Melalui data-data yang telah didapat, faktor-faktor dari konsep active ageing sudah diterapkan dan dipahami dengan baik oleh anak muda. Hubungan positif antara konsep dan penerapan yang anak muda lakukan diharapkan menjadi satu tahap menjadi bangsa yang Sejahtera. Anak muda cenderung sudah mengetahui bagaimana mereka harus bertindak terhadap kesehatan, keuangan dan sosial Pengetahuan ini juga bukan diajarkan secara teori, namun dari pegalaman dan pembelajaran antar generasi yang menjadi budaya. Penerapan yang anak muda lakukan juga belum sepenuhnya maksimal, pada aspek kesehatan misalnya, mereka mengetahui pengetahuan mengenai bahaya merokok, namun masih banyak diantara mereka yang menjadi perokok aktif maupun pasif. tentunya hasil budaya secara tidak langsung berdampak pada konsep dan penerapan active ageing itu sendiri di Indonesia. Dalam aspek budaya sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa di Indonesia budaya menghormati orang yang lebih tua dan budaya lainnya masih mengakar kuat. Anak muda sudah memiliki pengetahuan untuk terus aktif bergerak hingga masa tua, namun mereka masih memeberikan kebebasan kepada lansia di keluarganya untuk lebih baik tidak bekerja. Padahal bekerja merupakan hak semua kalangan usia termasuk penduduk lansia itu sendiri. Dalam aspek ekonomi, anak muda sudah melek akan investasi, asuransi dan jaminan hari tua. Anak muda juga sudah memberikan diri mereka untukbekerja di sektor yang memiliki jaminan untuk hari tua mereka seperti dana pensiun dan asuransi yang diberikan sekaligus dari tempat kerja. Penelitian ini cukup mewakili bagaimana konsep active ageing pada anak muda saat ini. Sebagai kajian awal yang untuk nantinya dapat dikembangkan menjadi kajian-kajian terbaru. Anak muda yang sudah melek akan konsep active ageing ini akan menjadi dorongan menjadi bangsa yang sejahtera karena lansianya berdaya nantinya. Alcyva Anindita Aisha Putri dan Lukman Nul Hakim Lansia Berdaya Bangsa Sejahtera : Konsep Active Ageing terhadap Anak Muda Studi di Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 143 - 157 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis memberikan beberapa saran. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah penulis atau peneliti selanjutnya dapat mengembangkan delapan faktor-faktor active ageing secara lebih spesifik. Penulis selanjutnya juga dapat memberikan hasil kajian perdimensi agar lebih tajam dalam sisi pembahasan dan pengkajian dimensi dari delapan faktor active Hal ini penting untuk memberikan detail terkait masing- masing faktor yang berkaitan dengan konsep active ageing itu sendiri. Selain itu, bagi pemerintah dapat memberikan pendampingan dan pemberdayaan khusunya bagi anak muda agar menjadi individu yang berkualitas hingga di masa lanjut usia nanti. Pada penduduk lanjut usia, pemerintah dapat memberikan upaya dalam peningkatan sarana dan prasarana umum agar terjamin kenyamanan dan keamanan penduduk lansia itu sendiri. Selain itu, bagi pihak terkait yang sedang merancang maupun menyempurnakan Undang- Undang yang terkait dengan kelompok penduduk lanjut usia, dapat mempertimbangkan bagaimana kesejahteraan lansia tidak hanya dari segi ekonomi, namun juga dari segi sosial dan psikologis lansia itu sendiri. Secara umum, penelitian ini memberikan gambaran mengenai konsep active ageing terhadap anak muda saat ini. Hasilnya dapat menjadi acuan pihak-pihak terkait termasuk dari lingkup terkecil seperti keluarga, masyarakat. LSM dan pemerintah dalam memberikan dorongan, dukungan dan upaya untuk membantu bangsa Indonesia menjadi bangsa dengan penduduk lanjut usia yang sejahtera. Ucapan terimakasih : Ucapan terimakasih kami berikan kepada semua orang yang telah berkenan terlibat dalam penelitian ini baik menjadi responden dalam penelitian ataupun penyemangat penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Kepada PR KSDK BRIN khususnya para pembimbing yang sudah memberikan kesempatan saya dalam penelitian ini, kepada rekan-rekan yang tidak dapat dituliskan satu persatu. Daftar Pustaka