JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipiner Vol. No. Agustus 2022, pp. http://journal. id/index. php/jipsi || ISSN 2962-9187 Penanaman Karakter Anak Usia Dini Melalui Program Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Etik Ratnawatiningsih a,1,*. Asih Puji Hastuti b,2. *a INISNU Temanggung. Indonesia. b INISNU Temanggung. Indonesia. 1etikratnawati7@gmail. aph@gmail. *Correspondent Author A R T I C L E I NF O Article history Received: 13 Juni 2022 Revised: 23 Juli 2022 Accepted: 21 Agustus 2022 Keywords Character Planting. Early Childhood. Clean and Healthy Lifestyle Habits. A BS T R A C T This study aims to determine the cultivation of AUD characters through the PHBS Habituation Program. This type of research is descriptive and qualitative. The study was conducted at RA Miftahul Falah Gondosuli on 37 students. data collection techniques using observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study found that the implementation of the PHBS habituation program was character education planting, namely applying 4K, loving the classroom environment program, enforcing sanctions for those who did not implement PHBS, and providing examples and attaching pictures of PHBS implementation. The resulting character values are maintaining personal and environmental hygiene, responsibility, discipline, cooperating with fellow friends, and not violating habits. Supporting factors for PHBS habituation are the availability of infrastructure, examples of PHBS habituation, cooperation between the school and student guardians, good behavior and awareness of cleanliness, love and desire to care for cleanliness, discipline in maintaining cleanliness, and binding regulations. The inhibiting factors for PHBS are the lack of responsibility and awareness about maintaining cleanliness, the lack of supervision, the influence of students who have not implemented PHBS, and a lack of understanding of the importance of maintaining cleanliness. A BS TRA K Penelitian ini bertujuan mengetahui penanaman karakter AUD melalui program pembiasaan PHBS. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di RA Miftahul Falah Gondosuli pada 37 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan pelaksanaan program pembiasaan PHBS sebagai penanaman pendidikan karakter yaitu menerapkan 4K, program cinta lingkungan kelas, sanksi bagi yang tidak menerapkan PHBS, memberikan contoh dan menempel gambar penerapan PHBS. Nilai karakter yang dihasilkan yaitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, tanggung jawab, kedisiplinan, bekerja sama dengan sesama teman, dan tidak melanggar pembiasaan. Faktor pendukung pembiasaan PHBS ialah ketersediaan sarana prasarana, contoh pembiasaan PHBS, kerjasama pihak sekolah dengan wali murid, perilaku yang baik dan kesadaran kebersihan, rasa cinta dan ingin merawat terhadap kebersihan, kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dan peraturan yang mengikat. Faktor penghambat PHBS yaitu kurangnya tanggungjawab dan kesadaran dalam menjaga kebersihan, kurangnya pengawasan, adanya pengaruh dari peserta didik yang belum menerapkan PHBS, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan. Kata Kunci: Penanaman Karakter. Anak Usia Dini. Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat https://journal. id/index. php/JIPSI husna@gmail. ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Usia dini atau yang dikenal Augolden periodAy merupakan periode (M. Mahbubi, 2. yang sangat mendasar bagi perkembangan individu karena pada masa ini terjadi pembentukan kepribadian dasar (Kholish et al. , 2. , penuh dengan kejadian penting dan unik yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang pada masa dewasa (Nashihin. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak (Munawwaroh, 2. serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa (Nashihin, 2. kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Iswanto, 2. Tujuan tersebut menunjukkan bahwa karakter pribadi (Nashihin et al. , 2. yang mulia merupakan salah satu inti kemajuan suatu bangsa, mengingat karakter pribadi yang kuat akan berdampak pada kemajuan suatu bangsa. Lembaga pendidikan berperan sangat penting dalam menanamkan pendidikan karakter sejak dini. Pembiasaan yang ditanamkan sejak dini akan memunculkan karakter (Nashihin, 2018. yang bersifat permanen (Nashihin, 2019. , menetap hingga berpengaruh besar dalam kehidupannya di fase-fase dewasa, sehingga tujuan pembentukan karakter sejak usia dini untuk membentuk kepribadian anak (Yaumi, 2. yang baik kepada sesama manusia dan lingkungan dapat tercapai. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 (Nashihin, 2018. bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan ahlak mulia (Husna Nashihin, 2. Amanat ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter (Nashihin, 2019. , sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai luhur karakter bangsa. Anak usia dini merupakan kelompok usia yang sangat rentan dan erat kaitannya dengan masalah kesehatan terutama pola hidup bersih dan sehat. Menurut Graham et al, kebersihan pada anak usia dini akan mempengaruhi perkembangan dan fungsi otak hingga dewasa nanti (Wahyu, 2. Selain rentan terhadap masalah kesehatan, anak usia dini juga berada pada kondisi yang sangat peka terhadap stimulus sehingga mudah dibimbing, diarahkan, dan ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (Haedari & Saha, 2. , termasuk kebiasaan berperilaku bersih dan sehat. Hidup bersih adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan untuk mewujudkan suatu nilai kebersihan pada diri. Hal ini mengikut tingkat kesadaran tiap individu (Nashihin, 2019. akan kebersihan. Apabila seorang individu telah sadar akan pentingnya suatu kebersihan, maka pola hidup bersih akan ia terapkan. Penanaman karakter dalam pembiasaan pola hidup bersih dan sehat harus berjalan seimbang antara lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga (Murtadho, 2. Sebelum diterapkan di lingkungan sekolah harus diterapkan terlebih dahulu di lingkungan keluarga dan didukung sepenuhnya oleh orang tua agar pembiasaan pola hidup bersih dan sehat dapat tertanam sejak dini. Penelitian Chairilsyah menemukan bahwa hidup sehat dan Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 bersih menjadi hal yang terkadang diabaikan oleh orang tua dan guru untuk diajarkan secara terprogram dan berkelanjutan. Guru menganggap bahwa orang tua telah mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah, padahal belum tentu setiap orang tua memahami pola perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia dini (Suprayitno & Wahyudi, 2. Orang tua meyakini bahwa guru di sekolah pasti telah mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat ini di sekolah, pada kenyataannya guru lebih disibukkan pada pencapaian pembelajaran anak yang lebih bersifat pengetahuan akademik. Raudhatul Athfal merupakan lembaga pendidikan setingkat Taman Kanak-Kanak yang telah menekankan penanaman karakter melalui program-program pembiasaan (Ali, 2. setiap harinya. Salah satu program pembiasaan yang ditanamkan pada peserta didik adalah pembiasaan pola hidup bersih dan sehat. Dalam perkembangannya, anak usia dini untuk mendapatkan pemahaman akan sikap dan perilaku yang sehat harus dilakukan sesering mungkin dan berulang. Pola hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dengan air mengalir, dengan menggunakan sabun, dan dengan cara yang benar dapat dilakukan oleh anak usia dini sebagai suatu pembiasaan yang dilakukan terus menerus. Hal ini akan terbawa dalam kesehariannya, kapanpun, dimanapun, anak akan melakukan dengan cara yang biasa dilakukan di sekolah berdasarkan yang diteladankan oleh pendidik. Kenyataannya, praktik pola hidup bersih dan sehat belum sepenuhnya tertanam dan menjadi karakter dalam diri peserta didik. Masih banyak ditemui perilaku anak dalam membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan berbagai contoh ketidakpedulian terhadap kebersihan lainnya. Begitupula di RA Miftahul Falah Gondosuli. Meskipun pihak sekolah sudah memberikan penyuluhan terhadap kebersihan siswa terutama membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sesudah memegang benda dan sebelum atau sesudah makan. Penyediaan tempat sampah di dalam ruangan kelas dan di luar kelas atau halaman, tempat cuci tangan juga tersedia sabun serta Penelitian terdahulu Apriliana Kuntoro Astuti menemukan perilaku sehat anak usia dini di lingkungan lembaga PAUD Purwomukti belum dilaksanakan dengan baik, dimana perilaku kebersihan lingkungan masih tergolong rendah, yaitu sebesar 58%, perilaku kebersihan pribadi terlaksana sebesar 63% dan perilaku kebutuhan tidur dan aktivitas terlaksana sebesar 65%. Selain itu, penelitian Lola Fitri Yana. Azizah Husin, dan Imron A Hakim juga menemukan kebiasaan hidup bersih dan sehat yang dibiasakan di Kampung 1 Desa Muara Beliti rata-rata kurang atau masih kurang baik. Begitupula di RA Miftahul Falah Gondosuli, menurut pengamatan penulis, guru belum memperhatikan anak dalam membuang sampah pada tempatnya, guru tidak memperhatikan bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar, setelah melakukan kegiatan mewarnai maupun olahraga, anak-anak tidak mencuci tangan. Berdasarkan observasi tersebut, diketahui bahwa penerapan hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli belum terlaksana dengan maksimal. Masih banyak anak-anak yang belum mengetahui arti pentingnya hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, masalah ini menjadi sebuah perhatian yang menarik untuk diteliti lebih dalam. Berdasarkan rumusan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, mengetahui nilai-nilai karakter yang dihasilkan dari pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung. Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan deksirptif kualitatif (Mukhtazar, 2. , yaitu penelitian yang bermaksud untuk menggambarkan fakta suatu fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistic dengan mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2022 di RA Miftahul Falah Gondosuli Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Subjek dalam penelitian ini adalah informan kunci yaitu guru dan siswa kelas B RA Miftahul Falah Gondosuli. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi secara langsung ke objek penelitian (Nasrudin, 2. untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Teknik analisis data dilakukan secara interaktif (Santosa, 2. meliputi: reduksi data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi . onclusion drawing or verificatio. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Program Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung Karakter suatu bangsa tergantung pada kualitas karakter sumber daya manusianya, karenanya karakter berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Pendidikan Anak Usia Dini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk membentuk sikap dan karakter peserta Begitu pula di negara lain seperti Taiwan, pendidikan anak usia dini di Taiwan sangat menjunjung tinggi penanaman pendidikan karakter anak usia dini, terutama untuk pedoman kurikulum prasekolah yang mengusulkan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sedini mungkin. Penerapan pendidikan karakter bukan suatu hal yang mudah. Jika pendidikan karakter berarti suatu cara untuk memahamkan siswa tentang moral atau berperilaku yang baik maka tentu lebih mudah bila tenaga pendidik memberikan pengalaman langsung yang sepenuhnya melibatkan pemikiran dan peran aktif peserta didik daripada menyeragamkan nilai-nilai moral pada anak-anak kita. Hal ini disebabkan karena nilai moral pada masingmasing pribadi manusia bersifat relatif, sehingga pendidik memerlukan program atau metode tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Hasil wawancara menyatakan pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat sebagai penanaman pendidikan karakter di RA Miftahul Falah Gondosuli ialah dengan menerapkan 4K . ebersihan, keindahan, kerapian, serta kenyamana. , program cinta lingkungan kelas, memberikan sanksi bagi yang tidak menerapkan pola kebiasaan hidup bersih dan sehat, memberikan contoh dan menempel gambar sebagai upaya penerapan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat agar anak bersedia menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kebersihan yang baik merupakan kebiasaan yang perlu mendapat perhatian dan harus ditanamkan pada anak sejak dini. Salah satunya ialah dengan menempel gambar tentang pelaksanaan program kebersihan. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa sekolah-sekolah dan pusat PAUD perlu menempelkan gambar berupa poster sebagai informasi untuk promosi kesehatan, baik poster berisi cuci tangan yang baik dan benar, penggunaan tempat sampah, perawatan fasilitas toilet dan persediaan air yang bersih agar menciptakan lingkungan yang bersih, sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit. Adanya program pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat sudah mulai berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh sekolah, dimana manfaat penerapan program tersebut peserta didik kemudian mulai menerapkan hal-hal positif seperti: mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mencuci tangan setelah memegang benda, membuang sampah pada tempat sampah, mencuci tangan setelah buang air kecil dan besar, makan Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 makanan dengan gizi seimbang, serta mencuci tangan setelah olah raga. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tenaga pendidik di RA Miftahul Falah telah menggunakan model pendidikan karakter yang tepat bagi peserta didik, yaitu model pembelajaran dengan menerapkan pembiasaan, pembinaan disiplin dan pemberian hukuman atau sanksi bagi yang melanggar. Menurut Likona, model pendidikan tersebut merupakan model pendidikan yang tidak hanya bermanfaat dalam pembelajaran yang substansinya materi, namun juga berkaitan langsung dengan penanaman nilai pendidikan karakter pada semua mata pelajaran atau bidang studi di semua jenjang dan jenis Nilai-Nilai Karakter dalam Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung Hasil wawancara menunjukkan nilai-nilai karakter yang dihasilkan melalui program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah yaitu nilai karakter menjaga kebersihan diri dan lingkungan, nilai karakter tanggung jawab, nilai karakter kedisiplinan, nilai karakter bekerja sama dengan sesama teman, dan tidak melanggar apa yang telah menjadi pembiasaan yang dilakukan setiap hari. Dari beberapa karakter tersebut selanjutnya dikategorikan dalam empat nilai karakter sebagai berikut: Nilai karakter hidup sehat, yaitu anak terbiasa menjaga kebersihan diri sehingga terhindar dari penyakit dan menanamkan rasa cinta akan kebersihan terhadap diri sendiri. Nilai karakter cinta lingkungan, yaitu anak terbiasa menjaga kebersihan lingkungan disekitar termasuk menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dan di lingkungan tempat Nilai karakter bekerja sama, yaitu anak terbiasa saling bekerja sama dengan sesama dalam menjaga kebersihan misalnya kebersihan kelas dengan adanya jadwal piket kelas yang dilakukan setiap hari. Nilai karakter religius, yaitu anak menjaga kebersihan diri dan perlengkapan yang digunakan untuk beribadah terutama peralatan salat diantaranya adalah berwudhu sebelum melakukan salat dan mencuci peralatan yang digunakan untuk salat. Nilai karakter yang dihasilkan dari pembiasan pola hidup bersih dan sehat diatas telah sesuai dengan nilai pendidikan karakter yang disampaikan Kemendiknas, dimana nilai pendidikan karakter merupakan aspek wajib yang harus ditanamkan, standar Kemendiknas menilai bahwa religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggungjawab adalah nilai-nilai yang harus ada dalam pendidikan karakter anak. Pendidikan karakter merupakan gerakan nasional menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika, bertanggung jawab, dan peduli dengan mencontoh dan mengajarkan karakter yang baik melalui penekanan pada nilai-nilai universal yang dimiliki Ini adalah upaya yang disengaja oleh sekolah dan pemerintah untuk menanamkan nilai-nilai etika inti kepada siswa seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Karakter yang baik tidak terbentuk secara otomatis, melainkan dikembangkan dari waktu ke waktu melalui proses berkelanjutan pengajaran, seperti pembelajaran dan praktek yang dikembangkan melalui pendidikan karakter. Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung Keberhasilan penanaman karakter anak tidak hanya menjadi tanggungjawab pihak sekolah, namun juga keluarga. Dalam prosesnya, banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi terlaksananya pembiasaan pola hidup bersih dan sehat anak. Faktor-faktor tersebut kemudian dapat menjadi faktor pendukung maupun faktor penghambat dalam implementasi pembiasaan pola hidup bersih dan sehat. Hasil penelitian menemukan beberapa faktor pendukung dalam pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung, yaitu: Tersedianya sarana dan prasarana dalam program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Kerjasama antara guru dan wali murid dalam melaksanakan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat. Kesadaran dari peserta didik dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sehingga menciptakan rasa cinta dan ingin merawat kebersihan disekitar RA Miftahul Falah Gondosuli Adanya perilaku yang baik, tanggungjawab dan kedisiplinan dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar RA Miftahul Falah Gondosuli Adanya contoh pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, serta adanya peraturan yang mengikat Berdasarkan faktor pendukung diatas, proses pembiasaan siswa berasal dari pemberian contoh yang kemudian ditiru oleh anak, adanya sarana prasana dan kerjasama antara guru dan wali murid kemudian menjadi pendukung dalam menciptakan kesadaran anak akan pentingnya menjaga kebersihan. Penelitian Hastuti dan Utomo mendukung hasil tersebut, dimana upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan kerja tim dan melakukan penjaminan mutu berupa informasi kepada orang tua sebagai sarana umpan balik kepada sekolah dalam memberikan jaminan pelayanan terbaik. Selain itu, penelitian Laeli juga menemukan proses pembiasaan berawal dari peniruan, selanjutnya dilakukan pembiasaan dibawah bimbingan orang tua, dan guru, peserta didik akan semakin terbiasa. Bila sudah menjadi kebiasaan yang tertanam jauh didalam hatinya, peserta didik akan sulit untuk berubah dari kebiasaannya itu. Hal ini disebabkan karena kebiasaan merupakan perilaku yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan, berlangsung begitu saja tanpa dipikirkan lagi. Penelitian Sugiarti dkk menemukan bahwa salah satu faktor pendukung pembentukan karakter yang dimulai sejak masa kanak-kanak ialah jalinan kerjasama antara orangtua, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Orangtua berperan penting dalam memberikan pola asuh positif untuk membentuk karakter yang positif pada anak sesuai dengan perkembangan dan usianya. Faktor penghambat pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli Bulu Temanggung ialah sebagai berikut: Kurangnya pemahaman peserta didik dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Masih ada sebagian peserta didik yang belum disiplin dalam menerapkan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat sehingga peserta didik yang sudah menerapkan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat menjadi terpengaruh dan mengabaikan program yang selama ini sudah diterapkan. Kurangnya pengawasan dari pendidik dalam pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli. Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 Temuan diatas menunjukkan faktor utama yang menghambat program pembiasaan Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) ISSN 2962-9187 JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. pola hidup bersih dan sehat ialah kurangnya kompetensi tenaga pendidik dalam mendisiplinkan dan mengawasi anak didik, sehingga ketika terdapat peserta didik yang tidak melakukan perilaku hidup bersih dan sehat berdampak pada anak didik lain yang semula melakukan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi tidak lagi menerapkan perilaku tersebut, sehingga perlu dilakukan evaluasi dan sosialisasi secara berkala. Penelitian Mitchell et al menyatakan ketidakpatuhan anak-anak berupa penolakan terhadap peraturan kebersihan merupakan hambatan yang paling sering dilaporkan dalam membangun kebiasaan kebersihan pribadi yang baik. Adanya peserta didik yang tidak patuh dalam melakukan perilaku PHBS akan berdampak pada peserta didik yang lain. Utomo, dkk dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi kesehatan meliputi pembiasaan mencuci tangan, memakai masker, serta membawa handsanitizer yang dilakukan guru dapat memberikan pengetahuan tentang pentingnya kesadaran hidup bersih dan sehat. Pengetahuan yang dimiliki anak pada akhirnya akan berdampak terhadap pola perilaku hidup bersih dan sehat. Didukung penelitian Agustiany, dkk yang juga menunjukkan adanya hubungan antara pemberian penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan tentang pentingnya peirlaku hidup bersih dan sehat pada anak usia dini. Kemampuan dalam menangkap hal-hal yang disampaikan oleh guru sebenarnya mampu dipahami anak, akan tetapi tidak semua anak dapat melakukannya karena sifatnya yang berbeda-beda, ada yang pemalu, pendiam, ada yang masih harus di tuntun dan ada juga yang tidak mau tahu atau cuek. Maka dari itu, sebagai pendidik harus sabar dan telaten dalam mendidik anaknya agar keinginan yang direncanakan sesuai dengan Guru harus sering memberikan penjelasan tentang kebersihan dan kesehatan dimana anak akan berimajinasi tentang pembahasan yang diberikan oleh gurunya. Simpulan Pelaksanaan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat sebagai penanaman pendidikan karakter di RA Miftahul Falah Gondosuli ialah menerapkan 4K . ebersihan, keindahan, kerapian, serta kenyamana. , program cinta lingkungan kelas, memberikan sanksi bagi yang tidak menerapkan pola kebiasaan hidup bersih dan sehat, memberikan contoh dan menempel gambar sebagai upaya penerapan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat agar anak bersedia menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Nilai-nilai karakter yang dihasilkan dari pembiasaan pola hidup bersih dan sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli yaitu nilai karakter menjaga kebersihan diri dan lingkungan, nilai karakter tanggung jawab, nilai karakter kedisiplinan, nilai karakter bekerja sama dengan sesama teman, dan tidak melanggar apa yang telah menjadi pembiasaan yang dilakukan setiap hari. Faktor pendukung dalam Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli ialah ketersediaan sarana prasarana, adanya contoh pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, adanya kerjasama pihak sekolah dengan wali murid, adanya perilaku yang baik dan kesadaran kebersihan diri dan lingkungan, adanya rasa cinta dan ingin merawat terhadap kebersihan diri dan lingkungan, adanya kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dan adanya peraturan yang mengikat. Faktor penghambat dalam Pembiasaan Pola Hidup Bersih dan Sehat di RA Miftahul Falah Gondosuli meliputi: kurangnya tanggungjawab dan kesadaran dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kurangnya pengawasan dari pihak sekolah terkait penerapan program pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, adanya pengaruh dari peserta didik yang belum menerapkan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan. Etik Ratnawatiningsih, et. al (Penanaman Karakter Anak Usia DiniA) JIPSI: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. No. Agustus 2022, pp. ISSN 2962-9187 Saran yang diberikan penulis sebagai upaya perbaikan ialah: Pihak sekolah agar senantiasa melakukan upgrade terhadap fasilitas kesehatan dan menyediakan berbagai saran prasarana kesehatan yang lebih memadai. Guru harus lebih aktif dalam memantau atau mengawasi siswa yang belum bisa membiasakan diri dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar tidak berdampak pada siswa lain. Pembiasaan contoh perilaku hidup bersih dan sehat harus tetap dilakukan meskipun sebagian besar siswa sudah terbiasa menerapkan program tersebut, orang tua disarankan untuk mengajarkan, mencontohkan dan mengingatkan kepada anak setiap hari tentang prilaku hidup bersih dan sehat, sehingga perilaku hidup bersih dan sehat bisa tertanam kedalam diri anak sejak kecil dan anak sudah mulai bisa membiasakannya. Daftar Pustaka Ali.