Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 187-195 Formulation of taro leaf stem juice ointment (Colocasia esculenta L. ) schoot for healing cut wounds in male white rats (Rattus norvegicu. Formulasi salep sari batang daun talas (Colocasia esculenta L. ) schoot pada penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus norvegicu. Rani Ardiani a*. Fahma Shufyani a. Syati Manaharawan Siregar b. Ali Affan Silalahi c a Fakultas Farmasi dan Kesehatan. Program Studi S-1 Farmasi. Institut Kesehatan Helvetia. Sumatera Utara. Indonesia. b Fakultas Soshum dan Pendidikan. Program Studi S-1 Manajemen. Universitas Haji Sumetera Utara. Sumatera Utara. Indonesia. c Fakultas Ilmu Kesehatan. Program Studi S-1 Farmasi Universitas Haji Sumetera Utara. Sumatera Utara. Indonesia. Corresponding Authors: raniardiani287@gmail. Abstract Introduction: Taro contains several compounds that can accelerate wound healing, such as flavonoids, phenols, and saponins. These compounds act as natural antibiotics, cleansing wounds with their antibacterial and antifungal properties. Therefore, this plant can aid in the wound healing process. Tannins, on the other hand, have the ability to constrict blood vessels and reduce bleeding in the wound area, decrease infection, and aid in wound healing during the inflammatory phase. One of the wound healing factors, vitamin C helps strengthen the walls of blood vessels, especially in the injured area, to maintain blood supply there and assist in accelerating collagen synthesis during the wound healing process. Lectin, a substance that can accelerate wound closure by aiding better cell regeneration. Arecaceae plants have many benefits for society, such as being used as a food source by harvesting their tubers, or being used as ornamental plants that beautify yards. Taro is also used as medicine both internally and externally. Almost all parts of the taro plant are processed into medicines, and the tubers, stem bark, and roots are crushed and then applied to the skin to heal wounds or bruises. Objective: This study aims to determine the wound healing effects of the sap from the taro stem (Colocasia esculenta L) Schott on male rats (Rattus norvegicu. Method: This study uses an experimental method, which includes sampling, preparation of taro leaf stem extract with concentrations of 2%, 4%, 6%, ointment evaluation test, and incision wound healing activity test on white rats grouped into 5 groups, each consisting of 3 rats. Statistical analysis includes one-way ANOVA to see if there is a significant difference between concentrations in the healing of incisional wounds in male white rats. Result: The research conducted shows that F1 . % concentratio. can heal the rats on the 10th F2 . % concentratio. the rats healed on the 8th day. F3 . % concentratio. the cut wounds healed on the 7th day, positive control (Betadine ointmen. all rats healed on the 7th day. Conclusion: The extract of taro leaf stems (Colocasia esculenta L) Schoot can be formulated into an ointment preparation for the healing of incised wounds in male white rats (Rattus norvegicu. , with the most effective concentration being 6% because it can heal incised wounds the fastest among the other concentrations. Keywords: Salep. Extract of Taro Stem and Leaf. Cut Wound. Male White Rat Abstrak Pendahuluan: Talas memiliki beberapa senyawa yang dapat mempercepat penyembuhan luka, seperti flovanoid, fenol, dan saponin. Senyawa ini bertindak sebagai antibiotik alami, membersihkan luka dengan sifat antibakterial dan antifungalnya. Oleh karena itu, tanaman ini dapat membantu proses penyembuhan Tanin, di sisi lain, memiliki kemampuan untuk menciutkan pembuluh darah dan mengurangi pendarahan di daerah luka, mengurangi infeksi dan membantu penyembuhan luka selama fase inflamasi. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Salah satu faktor penyembuhan luka, vitamin C membantu memperkuat dinding pembuluh darah, terutama di daerah yang luka, untuk menjaga suplai darah tetap ada di sana dan membantu mempercepat sistensis kolagen selama proses penyembuhan luka. Lektin, zat yang dapat mempercepat penutupan luka dengan membantu regenerasi sel lebih baik. Tumbuhan araceae memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, seperti dapat digunakan sebagai sumber makanan dengan mengambil umbinya, atau dapat digunakan sebagai tanaman hias yang menghiasi pekarangan. Talas juga digunakan sebagai obat-obatan di dalam dan di luar Hampir semua organ tumbuhan talas diolah menjadi obat-obatan, dan organ umbi, kulit batang, dan akarnya ditumbuk dan kemudian diterapkan pada kulit untuk menyembuhkan luka atau memar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penyembuhan luka sayat dari sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) schoot pada tikus jantan . attus nervegicu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, yang meliputi pengambilan sampel, pembuatan sari batang daun talas dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, uji evaluasi salep dan uji aktivitas penyembuhan luka sayat terhadap tikus putih yang dikelompokan menjadi 5 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 3 tikus. Analisis statistik meliputi uji one way ANOVA untuk melihat ada tidaknya perbedaan signifikan antar kosentrasi dengan penyembuhan luka sayat tikus Jantan putih. Hasil: Penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa F1 . osentrasi 2 %) dapat menyembuhkan tikus pada hari ke- 10 F2 . osentrasi 4%) kesembuhan tikus pada hari ke-8. F3 . osentrasi 6 %) kesembuhan luka sayat pada hari ke-7, kontrol positif (Betadine sale. kesembuhan tikus semua dihari ke-7. Kesimpulan: Sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) Schoot dapat diformulasikan dalam sediaan salep untuk penyembuhan luka sayat tikus putih jantan (Rattus norvegicu. , dengan kosentrasi yang paling efektif adalah konsentrasi 6% karena mampu menyembuhkan luka sayat yang paling cepat diantara konsentrasi yang lainnya. Kata Kunci: Salep. Sari Batang Daun Talas. Luka Sayat. Tikus Putih Jantan Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 10/10/2024. Revised: 05/02/2025 Accepted: 07/02/2025. Available Online : 10/02/2025. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Luka sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Jumlah kejadian luka di Indonesia mencapai 8,2% secara nasional, dengan Sulawesi Selatan mencatatkan tingkat tertinggi, sebesar 12,8%. Jatuh menjadi penyebab luka paling umum dengan 40,9%, diikuti oleh kecelakaan sepeda motor dengan 40,6% dan terkena benda tajam dengan 7,3% . Luka adalah kerusakan terus menerus kulit, mukosa membran, tulang, atau organ tubuh lainnya. Jika luka terjadi, mungkin terjadi kehilangan fungsi organ sepenuhnya atau sebagian, reaksi stres simpatis, pendarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan kematian sel . Banyak aktivitas bioseluler yang terlibat, penyembuhan luka adalah proses yang kompleks. Setiap kali terjadi luka, tubuh berusaha memperbaiki bagian jaringan yang rusak dengan membuat struktur baru yang dapat melakukan apa yang dilakukan sebelumnya . Regenerasi lokal tidak satu-satunya faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan, jenis obat yang digunakan dan produk perawatan luka yang digunakan adalah salah Pilihan produk yang salah dapat menyebabkan inflamasi berlanjut dan mengurangi pasokan oksigen ke area luka. Hal ini dapat memperpanjang waktu penyembuhan dan luka yang memerlukan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. waktu yang lama untuk sembuh, seringkali dikombinasikan dengan penurunan daya tahan tubuh, yang membuat luka lebih rentan terhadap mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi . Tanaman talas adalah salah satu tanaman berkhasiat obat yang digunakan oleh masyarakat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, salah satunya sebagai pembalut luka baru dan sebagai alternatif obat Batang talas dibelah, dibalut pada luka, dan tunggu beberapa menit sampai kering . Talas memiliki beberapa senyawa yang dapat mempercepat penyembuhan luka, seperti flovanoid, fenol, dan saponin. Senyawa ini bertindak sebagai antibiotik alami, membersihkan luka dengan sifat antibakterial dan Oleh karena itu, tanaman ini dapat membantu proses penyembuhan luka. Tanin, di sisi lain, memiliki kemampuan untuk menciutkan pembuluh darah dan mengurangi pendarahan di daerah luka, mengurangi infeksi dan membantu penyembuhan luka selama fase inflamasi. Salah satu faktor penyembuhan luka, vitamin C membantu memperkuat dinding pembuluh darah, terutama di daerah yang luka, untuk menjaga suplai darah tetap ada di sana dan membantu mempercepat sistensis kolagen selama proses penyembuhan luka. Lektin, zat yang dapat mempercepat penutupan luka dengan membantu regenerasi sel lebih baik . Tumbuhan araceae memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, seperti dapat digunakan sebagai sumber makanan dengan mengambil umbinya, atau dapat digunakan sebagai tanaman hias yang menghiasi Talas juga digunakan sebagai obat-obatan di dalam dan di luar tubuh. Hampir semua organ tumbuhan talas diolah menjadi obat-obatan, dan organ umbi, kulit batang, dan akarnya ditumbuk dan kemudian diterapkan pada kulit untuk menyembuhkan luka atau memar . Berdasarkan hal tersebut, maka perlu untuk melakukan penelitian yang dimana kandungan kimia dari tumbuhan talas berpontensi sebagai alternatif obat luka, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian Formulasi salep sari batang daun Talas (Colocasia esculenta L) schoot pada penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus Metode Penelitian Bagian Eksperimental yang dilakukan di laboratorium Institut kesehatan helvetia medan, untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul pada hewan tikus putih (Rattus norvegicu. , sebagai akibat adanya perlakuan tertentu. Harus dijelaskan dengan rincian yang cukup untuk memungkinkan orang lain mereplikasi dan mengembangkan hasil yang dipublikasikan. Bahan dan Peralatan Alat digunakan secara lain adalah timbangan digital (Digital Scal. , cawan porselin, lumpang dan alu, spatula, kertas saring, penjempit, corong, gelas ukur, batang pengaduk, timbangan hewan, alat cukur, pisau bedah . urgical blade steril. , penggaris, jangka sorong, sarung tangan, kasa steril, wadah maserasi, beaker gelas, sudip, objek glas, wadah . ot sale. Bahan yang digunakan adalah sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) schoot yang berusia 2-3 bulan . asi muda dan luna. , adeps lanae, vaseline putih, betadine salep, tikus putih (Rattus norvegicu. Pembuatan Salep Sari Batang Daun Talas Proses pembuatan salep di awali degan menimbang semua bahan yang di perlukan sesuai dengan Dimasukan adeps lanae, dan vaseline putih, kedalam cawan poreselin yang telah di lapisi kain kasa, lalu di leburkan di atas penangas air. Setelah meleleh, hasil leburan dimasukan kedalam lumpang, gerus hingga homogen dan dingin, ditambahkan sari batang daun talas sedikit demi sedikit gerus hingga homogen dan menjadi massa setengah padat yaitu massa . dari lumpang lalu di timbang sebanyak 35 g lalu masukan kedalam wadah . ot plasti. Uji Stabilitas Salep Uji stabilitas salep meliputi organoleptik, homogenitas, ph, daya lekat, uji daya sebar. Uji Organoleptik Uji organoleptik dilakukan dengan mengamati bentuk, warna dan bau dari salep sari batang daun Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan melihat apakah sediaan homogen atau tidak, caranya, salep dioleskan pada kaca transparan dimana sediaan diambil 3 bagian yaitu atas bawah dan tengah dan Homogenitas ditunjukkan dengan tidak adanya butiran kasar pada sediaan salep. Pengukuran pH Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH stik dengan cara 0,5 gram salep diencerkan ke dalam 5 ml aquadest, pH stik dicelupkan selama 1 menit, dilihat perubahan warna pada pH stik. Perubahan warna pada pH stik menunjukkan nilai pH dari salep. Uji Daya Lekat Uji daya lekat dilakukan dengan menimbang salep 0,5 g diatas objek glass dan diletakkan lagi objek glass pada alat uji daya lekat salep dan dilepaskan beban seberat 100 g dan dicatat waktu hingga kedua objek glass tersebut terlepas. Dilakukan replikasi 3 kali. Uji Daya Sebar Uji daya sebar merupakan pengujian untuk mengetahui kemampuan salep untuk uji daya sebar, uji daya sebar dilakukan dengan cara penimbangan 0,5 g salep dan diletakkan pada tengah kaca datar lainnya diatas massa salep kemudian didiamkan selama 1 menit, diamater massa yang tersebar kemudian diukur. Selanjutnya kaca datar diberi beban 50 g hingga mendapat penyebaran yang stabil dan Uji Aktivitas Sari Batang Daun Talas Salep sari batang daun talas ini diberikan dengan cara di oleskan pada bagian punggung tikus putih jantan yang di buat luka secara merata dengan pengolesan 0,25 g dua kali sehari ( pagi dan sore ). Pada setiap kelompok di berikan perlakuan sebagai berikut : Kontrol negatif . elompok I) : Luka diberi dasar salep Kontrol positif (Kelompok II) : Luka sayat di beri betadine salep . kali sehar. Konsentrasi 2% (Kelompok . : Luka sayat ditutupi sari batang daun talas 2% . kali sehar. Konsentrasi 4% ( Kelompok IV) : Luka sayat di tutup sari batang daun talas 4% . kali sehar. Konsentrasi 6% . elompok V) : Luka sayat di tutup sari batang daun talas 6 % . Kali sehar. Perlakuan dilakukan 2 kali sehari pada jam yang sama, sebelum di oleskan luka dibersihkan terlebih dahulu dengan alkohol 70%. Dioleskan salep sari batang daun talas dengan pengamatan dilakukan setiap hari selama 14 hari untuk melihat penyembuhan luka. Pengamatan pada luka ini dilakukan sebelum pemberian dan sesudah perlakuan sampai adanya tanda-tanda penyembuhan dengan mengukur luka menggunakan jangka sorong. Penyiapan Hewan Uji dan Pembuatan Luka Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tikus putih jantan (Rattus norvegicu. sebanyak 15 ekor yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok terdiri dari 3 ekor dengan berat badan 200300 g. Sebelum perlakuan tikus diadaptasikan terlebih dahulu dengan lingkungan selama 7 hari. Hewan uji dicukur bulunya di daerah punggung yang sudah ditandai sampai licin, terlebih dahulu punggung dan semuanya di bersihkan dengan alkohol 70%. Sebelum dilakukan luka dianastesi secara dipaha subkutan mengunakakan lidocain 2ml/kgBB. Lalu dibuat luka sayat dengan panjang 2 cm dengan kedalaman luka 2 mm . iukur menggunakan jangka soron. pada bagian punggung kiri tikus mengunakan pisau bedah . urgical blade steril. , untuk kedalaman luka ditandai ujung pisau bedah dengan pembatas. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) Schoot dalam penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan galur Wistar, menggunakan metode ANOVA yang diolah dengan perangkat lunak statistik SPSS. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil dan Pembahasan Uji Efektivitas Penyembuhan Luka Hasil penelitian merupakan lama waktu yang menunjukan efektivas penyembuhan luka yang ditandai dengan perubahan panjang dan kedalaman luka sayat pada tikus putih jantan, setelah dioleskan sediaan salep sari batang daun talas dengan konsentrasi 2%, 4%, 6% yang telah diuji terlebih dahulu. Adapun uji karakteristik sediaan salep yaitu meliputi Uji organoleptis. Uji homogenitas. Uji pH. Uji daya sebar dan Uji daya lekat. Hasil Uji Organoleptis Pengujian organoleptis dilakukan dengan mengamati sediaan salep dari bentuk, bau, dan warna sediaan parameter kualitas salep yang baik adalah bentuk sediaan setengah padat, salep berbau khas ekstrak atau yang digunakan atau tidak tengik. Tabel 1. Hasil Uji Organoleptis Sediaan Salep Sari Batang Daun Talas (Colocassia Esculenta L. ) Schoot Formula Bentuk Semi padat Semi padat Semi padat Semi padat Hasil Pengamatan Bau Tidak ada bau khas Tidak ada bau khas Tidak ada bau khas Tidak ada bau khas Warna Kuning pucat Kuning pucat Kuning pucat Kuning pucat Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% Hasil Uji Homogenitas Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Sediaan Salep Sari Batang Daun Talas (Colocassia Esculenta L) Schoot Formula Uji Homogenitas (Pengulanga. i i i i Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% Pengujian homogenitas dilakukan dengan mengoleskan 0,5 gram salep pada permukaan gelas objek, sediaan salep dikatakan homogen apabila tidak terdapat butiran kasar pada gelas objek. Uji pH Sebanyak 0,5 gram sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 20ml. Elektroda ph meter dicelupkan ke dalam larutan yang di periksa, jarum ph meter dibiarkan bergerak sampai Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. menunjukan posisi tetap, ph yang ditunjukan jarum ph meter dicatat dan dibandingkan dengan rentang pH kulit antara 4,6 Ae 6,5. Tabel 3. Hasil Uji pH Sediaan salep sari batang daun talas . olocassia Esculenta schoo. Formula 5,19 5,13 5,57 5,67 Uji pH (Pengulanga. i 5,17 5,15 5,11 5,10 5,59 5,60 5,65 5,62 Rata-Rata 5,17 5,11 5,58 5,64 Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% Uji pH dilakukan untuk mengetahui keamanan sediaan salep saat digunakan, karna jika sediaan memiliki ph terlalu rendah atau asam dapat mengiritasi kulit dan sebaliknya ph sediaan terlalu tinggi atau basa maka dapat mengakibatkan kulit menjadi kering saat penggunaan. Kriteria ph yang baik yaitu 4,5-6,5. Uji Daya Sebar Uji daya sebar dilakukan untuk menjamin pemerataan salep untuk diaplikasikan pada kulit. Tabel 4. Hasil Daya Sebar Sediaan Salep Sari Batang Daun Talas (Colocassia esculennta . Formula Pengulangan i i i i Beban 50 gram 32,5 mm 31,9 mm 32,8 mm 28,9 mm 32,9 mm 32,9 mm 37,3 mm 35,7 mm 38,4 mm 35,0 mm 38,4 mm 39,6 mm Jumlah 100 gram 37,4 mm 35,5 mm 38,0 mm 33,7 mm 35,0 mm 35,3 mm 44,9 mm 37,8 mm 40,9 mm 39,5 mm 43,6 mm 40,8 mm 69,9 mm 67,4 mm 70,8 mm 62,6 mm 67,9 mm 68,2 mm 82,2 mm 37, 5 mm 79,3 mm 74,5 mm 82 mm 80,4 mm Rata-Rata 69,3 mm 66,2 mm 78,3 mm 78,9 mm Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% Cara melakukan uji daya sebar timbang 0,5 g salep diletakan diatas kaca bulat dengan kaca diletakan diatasnya dan dibiarkan selama 1 menit. Setelahnya, 50 gram didiamkan 1 menit dicatat diameternya, lalu 100 gram beban ditambahkan dan didiamkan 1 menit lalu di ukur diameter yang konstan. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 5. Hasil Uji Daya Lekat Sediaan Salep Sari Batang Daun Talas (Colocassia Esculennta L ) Schoot Formula 4,30 detik 4,51 detik 4 detik 5,14 detik Uji Daya Lekat (Pengulanga. 5,96 detik 5,95 detik 5,85 detik 6,90 detik Rata-Rata i 6,10 detik 6,71 detik 7,44 detik 7 detik 5,45 detik 5,72 detik 5,76 detik 6,34 detik Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% Pengujian daya lekat dimaksudkan untuk melihat berapa lama kemampuan salep untuk melekat. Hasil pengujian daya lekat (Tabel . Menunjukan bahwa daya lekat dari salep lebih 3 menit pada semua Syarat salep yang baik apabila semakin lama waktu yang diperlukan hingga kedua objek glass terlepas, maka semakin baik daya lekat salep tersebut. Hasil Pengukuran Panjang Luka Sayat Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicu. Hasil pengukuran luka sayat hingga menutup sempurna baik pada kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif . , kelompok kosentrasi 2%, kelompok konsentrasi 4%, kelompok konsentrasi 6%. Data perubahan rata-rata panjang luka pada setiap kelompok. Tabel 6. Rata-Rata Panjang Luka Sayat Tiap Kelompok Formula Tikus Rata-Rata Rata-Rata 19,46 18,56 18,83 17,03 17,33 14,53 Rata-Rata Rata-Rata Rata-Rata 15,56 13,63 13,33 16,56 13,16 Panjang Luka Sayat Hari (Wakt. 16,13 14,43 12,73 9,16 6,13 9,96 1,13 9,76 7,63 8,03 8,66 6,03 2,93 1,93 Keterangan: F0 : Blanko F1 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 2% F2 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 4% F3 : Sediaan salep sari batang daun talas konsentrasi 6% K : Kontrol Positif Hari (Wakt. : Lama Pengamatan Penyembuhan Luka Satuan Panjang Luka : mm (Menggunakan Jangka Soron. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Berdasarkan hasil uji organoleptik sediaan salep sari batang daun talas yang terbuat dari sarinya yaitu F0,F1,F2,F3 diperoleh hasil yang homogen, tidak ada butiran kasar saat dioleskan pada kaca transparan. Salep yang homogen ditandai dengan tidak terdapatnya gumpalan pada hasil pengolesan, struktur yang rata dan memiliki warna yang seragam dari titik awal pengolesan sampai titik akhir perngolesan. Hasil ini menunjukan bahwa perbedaan basis salep dan lama penyimpanan tidak mempengaruhi homogenitas salep . Berdasarkan hasil uji pH sediaan salep sari mengunakan pH meter menunjukan pH salep batang daun talas tersebut memenuhi persyaratan pH sediaan salep dengan rata-rata pH F0 5,17 , pH F1 5,11 , pH F2 5,58, dan pH F3 5,64. Basis salep mempengaruhi pH karena masing- masing memiliki komposisi minyak dan air yang berbeda. Semakin tinggi kosentrasi zat aktif pada sediaan salep maka semakin tinggi pH sediaan salep Maka Kesesuaian pH kulit dengan pH sediaan salep mempengaruhi penerimaan kulit terhadap Sediaan salep yang ideal tidak mengiritasi kulit 4,5- 6,5 . Berdasarkan uji daya sebar pada formulasi F0 berdiameter 69,3 mm, formulasi F1 berdiameter 66,2 mm, formulasi F2 berdiameter 78,3 mm, dan formulasi F3 hasil diameter 78,9 mm. Basis salep yang memiliki daya sebar yang baik adalah formulasi F3 sehingga daya sebar diharapkan berpengaruh terhadap kecepatan difusi zat aktif dalam melewati membran. Semakin luas membran tempat sediaan salep menyebar maka koefisien difusi semakin besar yang dimana mengakibatkan difusi obat pun semakin meningkat. Daya sebar sediaan topikal yang sesuai dengan persyaratan adalah 5-7cm . Berdasarkan uji daya lekat salep batang daun talas menunjukan dasar salep, konsentrasi 2%, kosentrasi 4%, konsentrasi 6% memenuhi kriteria daya lekat yang baik. Hasil rata-rata yang dasar salep 5,45 detik, konsentrasi 2% 5,72 detik, kosentrasi 4% 5,76 detik, kosentrasi 6% 6,34 detik. Standar untuk daya lekat pada sediaan salep adalah tidak kurang 4 detik . Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan pengukuran panjang luka menunjukkan bahwa semua kelompok perlakuan ke-1 sampai hari ke-14 mengalami perubahan pada panjang luka, namun kelompok F0 sangat lama proses penyembuhannya dibanding dengan kelompok lain karena tidak ada kandungan sari batang daun talas. Pada tabel dan gambar grafik diatas dapat dilihat bahwa adanya pengurangan panjang luka sayat oleh masing-masing perlakuan yang berangsur sembuh mulai hari ke-1 sampai hari ke-14. Berdasarkan aktivitas penyembuhan luka menunjukan bahwa F1 sembuh pada hari ke10. F2 sembuh pada hari ke-8 . F3 sembuh pada hari ke-7, kontrol positif sembuh pada hari ke-7, kontrol negatif sembuh pada hari ke-14 tapi masi ada bekas luka hingga hari ke-21. Hasil penelitian menjukan bahwa adanya kemampuan salep sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) Schoot. Terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus norvegicu. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sari batang daun talas (Colocasia esculenta L) Schoot dapat diformulasikan dalam sediaan salep dan menunjukkan efektivitas dalam penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan (Rattus norvegicu. Salep dengan konsentrasi 6% memberikan hasil yang lebih efektif dalam penyembuhan luka sayat dibandingkan dengan salep dengan konsentrasi 2% dan 4%. Namun, meskipun salep dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6% menunjukkan aktivitas penyembuhan, efektivitasnya masih kurang jika dibandingkan dengan salep Betadine . ontrol positi. Acknowledgment Tidak ada penelitian hibah. Penelitian mandiri. Referensi