JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1810 - 1818 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Netri Bukhori1A. Amelyssa Islamiyah2. Soleha Ibni Nazifa3. Rita Kurnia4 Universitas Riau. Indonesia1,2,3,4 E-mail: netri. bukhori3678@student. id1, amelyssa. islamiyah0654@student. ibni1104@student. id3, rita. kurnia@lecturer. Abstrak Pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk karakter nasional berbasis etika universal seperti toleransi, keadilan, dan integritas. Namun, fenomena perundungan . di sekolah tetap tinggi, dengan 226 kasus dilaporkan KPAI pada 2022, termasuk cyberbullying, meskipun ada kebijakan seperti UU No. 35/2014 dan Permendikbud No. 82/2015. Kesenjangan ini disebabkan lemahnya kolaborasi tripartit antara orang tua, guru, dan manajemen sekolah. Penelitian ini menganalisis peran kolaboratif tersebut melalui tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap 15 penelitian mutakhir . dari jurnal nasional dan internasional, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis tematik. Hasil menunjukkan peran orang tua dalam membangun komunikasi suportif dan etika moral . eperti dalam Kamila et al. , 2. guru sebagai teladan pendidikan karakter dan disiplin restoratif (Maemunah et al. , 2. , serta manajemen sekolah melalui kepemimpinan transformasional dan sistem pelaporan digital (Gregory et al. , 2. Komparasi literatur lokal-global mengungkap efektivitas intervensi sosial-emosional (SEL) hingga 30-40% penurunan bullying, meskipun tantangan budaya dan sumber daya di Indonesia membatasi dampak. Kesimpulan menekankan sinergi ekosistem sekolah-keluarga untuk lingkungan belajar aman, inklusif, dan etis, dengan implikasi kebijakan pendidikan karakter sesuai UU Sisdiknas No. 20/2003. Penelitian ini berkontribusi pada model pencegahan bullying berbasis bukti, mencegah trauma psikologis dan mendukung RPJMN 2020-2024. Kata Kunci: Peran orang tua. Peran guru. Manajemen sekolah. Pendidikan karakter. Pencegahan bullying Abstract Education serves as a cornerstone in fostering national character grounded in universal ethical principles such as tolerance, justice, and integrity. Despite this, bullying in schools persists at high levels, with 226 cases reported by the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) in 2022, encompassing cyberbullying, notwithstanding regulatory frameworks like Law No. 35/2014 and Ministry of Education and Culture Regulation No. 82/2015. This discrepancy arises from inadequate tripartite collaboration among parents, teachers, and school management. This study employs a systematic literature review (SLR) of over 15 recent studies . 9Ae2. sourced from national and international journals, utilizing a descriptive qualitative approach with thematic analysis. Findings highlight the pivotal roles of parents in fostering supportive communication and moral ethics . Kamila et al. , 2. , teachers as exemplars in character education and restorative discipline . Maemunah et al. , 2. , and school management through transformational leadership and digital reporting systems . Gregory et al. , 2. Comparative analysis of local and global literature underscores the efficacy of social-emotional learning (SEL) interventions in reducing bullying by 30Ae40%, albeit constrained by cultural and resource limitations in Indonesia. The study concludes by advocating for synergistic integration within the school-family ecosystem to cultivate safe, inclusive, and ethically oriented learning environments, with policy implications aligned to the National Education System Law No. 20/2003. This research contributes an evidencebased model for bullying prevention, mitigating psychological trauma and supporting Indonesia's 2020Ae2024 National Medium-Term Development Plan. Keywords: Role of parents. Role of teachers. School management. Character education. Bullying prevention Copyright . 2025 Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia A Corresponding author : Email : netri. bukhori3678@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1811 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membentuk identitas dan kepribadian suatu bangsa. Karakter nasional yang kuat sebaiknya didasarkan pada nilai-nilai etika dan moral yang bersifat universal, termasuk prinsip-prinsip kunci seperti toleransi, keadilan, integritas, dan penghargaan terhadap kemanusiaan. Namun, di era kemajuan teknologi dan globalisasi yang semakin pesat, muncul berbagai risiko dan hambatan yang dapat merusak moralitas serta etika sosial, salah satunya adalah fenomena perundungan . kebijakan anti-bullying di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76C yang melarang kekerasan terhadap anak, dan Pasal 54 yang mewajibkan perlindungan anak di satuan pendidikan. Sanksi bagi pelanggaran diatur dalam Pasal 80 UU 35/2014, dengan hukuman yang bervariasi tergantung tingkat keparahan, dan juga diatur dalam KUHP. Untuk konteks sekolah. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 mengatur tanggung jawab sekolah dalam pencegahan bullying. Meskipun berbagai kebijakan anti-bullying telah diterapkan, seperti Permendikbud No. 82 Tahun 2015 yang mewajibkan sekolah mencegah kekerasan, data lapangan menunjukkan kesenjangan signifikan. Kasus bullying di sekolah tetap tinggi, dengan 226 insiden kekerasan terkait bullying dilaporkan KPAI pada 2022, termasuk 18 kasus cyberbullying. Kesenjangan ini terletak pada lemahnya kolaborasi tripartit antara orang tua, guru, dan manajemen sekolah, di mana pendekatan sekolah-sentris sering gagal melibatkan keluarga dan masyarakat secara efektif. Akibatnya, pendidikan karakter yang bertumpu pada etika universal belum mampu mengurangi insiden bullying secara signifikan, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis peran kolaboratif tersebut untuk menutup celah ini. Didasarkan pada informasi yang disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2022, terdapat 226 kasus kekerasan dan gangguan mental yang terkait dengan perundungan di lingkungan sekolah, termasuk 18 kasus perundungan dalam dunia maya. Situasi ini merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan bagi sektor pendidikan di Indonesia (Nasional. co, 2. Sementara itu untuk di Kampar sendiri tindakan bullying yang terjadi hanya kisaran di bawah 10 kasus. Keterangan ini di dapatkan melalui dispora Kabupaten Kampar. Dispora kabupaten kampar pun menjelaskan bahwasanya jarang sekali sekolah yang mau melaporkan kasus bullying tersebut ke KPAI atau ke dispora. Hal ini dikarenakan sekolah tersebut dianggap masih bisa mengatasi kasus tersebut, dan nantinya pihak sekolah takut akan berdampak buruk terhadap sekolah tersebut. Di Indonesia, perundungan telah menjadi masalah serius, khususnya di berbagai jenjang institusi pendidikan. Perilaku ini mencakup berbagai bentuk kekerasan, mulai dari ancaman, pemaksaan, penindasan, hingga pelecehan. Akibatnya, perundungan dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental yang parah pada korban. Mengingat pentingnya masalah ini, langkah-langkah penanganan yang efektif sangat Pengembangan program pendidikan karakter dapat dijadikan sebagai strategi utama untuk mengatasi isu tersebut. Melalui pendidikan karakter, individu didorong untuk memperbaiki perilaku moral Dengan demikian, diharapkan upaya ini dapat secara signifikan mengurangi, bahkan menghilangkan, insiden perundungan di masyarakat dan sekolah. Beberapa studi telah menyelidiki kaitan antara pendidikan karakter dan langkah-langkah untuk menangani perilaku perundungan . Hasil penelitian, seperti yang disampaikan oleh (Azhari et al. , 2. menunjukkan bahwa program pendidikan karakter berhasil memperkuat moralitas siswa sambil mengurangi kejadian perundungan. Pendidikan karakter dianggap sebagai elemen penting yang berfungsi sebagai panduan bagi siswa. Dengan panduan ini, siswa diharapkan dapat membedakan dengan jelas antara tindakan yang positif dan negatif, serta antara perilaku yang menguntungkan dan membahayakan orang lain. Sangat krusial agar nilai-nilai karakter tersebut ditanamkan dan dijadikan kebiasaan sejak masa kecil, mencakup lingkup keluarga, sekolah formal, dan masyarakat luas. Upaya ini membutuhkan kolaborasi kuat dari berbagai pihak, seperti orang tua, pendidik, dan anggota lingkungan sosial siswa. Oleh karena itu, penerapan pendidikan karakter yang bertumpu pada etika dan moralitas menjadi keharusan di semua jenjang pendidikan. Pendidikan karakter memainkan peran penting Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1812 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. dalam membantu peserta didik mengembangkan empati, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial, yang secara langsung mendukung upaya mereka untuk menghindari perilaku bullying. Agar pembelajaran menjadi efektif dan bermakna, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang hakikat dan dasar-dasar pendidikan sebagai landasan dalam pelaksanaan program. Dengan landasan yang kuat, pendidikan dapat mencapai tujuan utamanya, yaitu menghasilkan individu yang berpikiran luas dan berkarakter kuat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap hakikat dan dasar-dasar pendidikan merupakan kunci keberhasilan proses pembelajaran sekaligus kunci dalam pencegahan bullying. Dasar-dasar pendidikan, sebagaimana didefinisikan oleh (Hasan et al. , 2. adalah konsep-konsep dasar yang berfungsi sebagai fondasi bagi seluruh proses pendidikan. Tujuan utama dari pendidikan karakter yang berlandaskan moral dan etika adalah membantu peserta didik mengembangkan seluruh potensinya dalam aspek intelektual, emosional, sosial, dan spiritual, sehingga terbentuk individu yang tangguh dan bermoral (Efendi, 2. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penanaman pengetahuan, sikap, dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang selaras dengan norma agama, hukum, dan sosial masyarakat. Secara global, pendekatan whole-school approach telah terbukti efektif dalam pencegahan bullying. Studi Olweus 1993, (Diperbarui dalam meta-analisis, 2. menunjukkan bahwa program yang melibatkan kolaborasi guru, orang tua, dan manajemen sekolah dapat mengurangi insiden bullying hingga 50%, dengan fokus pada pendidikan karakter yang menanamkan empati dan tanggung jawab. Demikian pula, penelitian (Smith & Thompson, 2. menegaskan bahwa lemahnya kolaborasi tripartit menjadi penyebab utama kegagalan pencegahan, yang selaras dengan temuan di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi wawasan ini untuk menganalisis penerapan tripartit di konteks lokal, sehingga memberikan kontribusi global terhadap strategi pencegahan bullying. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkolaborasi penerapan peran tripartit, yaitu orang tua, guru, dan manajemen sekolah, dalam konteks pencegahan perilaku perundungan . di lingkungan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan sistematis terhadap literatur ilmiah . iterature revie. Urgensi penelitian ini terletak pada dampak sosial dan kebijakan yang mendalam: bullying tidak hanya menimbulkan trauma psikologis pada siswa, tetapi juga mengancam pembentukan karakter nasional yang kuat, sebagaimana diinginkan dalam RPJMN 2020-2024 yang menekankan pendidikan etika dan moral. Dengan kasus bullying yang tinggi meskipun ada kebijakan, penelitian ini mendesak untuk memberikan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman dan mendukung perkembangan siswa secara optimal, mencegah hilangnya potensi generasi muda akibat kekerasan sosial. Diharapkan hasil Penelitian ini dapat memberikan wawasan yang berharga bagi orang tua, pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan. Wawasan tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi berbagai pihak terkait dalam mengambil peran aktif untuk memitigasi atau mencegah terjadinya perilaku bullying di lingkungan sekolah. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan pembelajaran yang inklusif, aman, dan suportif bagi seluruh peserta Kondisi ini memungkinkan mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa adanya kekhawatiran yang disebabkan oleh tekanan atau rasa takut akibat tindakan perundungan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR). Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial dan pendidikan secara kontekstual (Sulistyawati et al. , 2. Tinjauan literatur sistematis dilakukan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mensintesis berbagai penelitian yang relevan terkait peran aktor pendidikan dalam mencegah bullying di lingkungan sekolah. Langkah-langkah tinjauan literatur ini mengacu pada pedoman yang dijelaskan oleh (Martynez-Carrera et , 2. yang menekankan pentingnya proses seleksi literatur yang transparan dan terukur. Dalam penelitian ini, penulis menetapkan kriteria inklusi berupa artikel berbahasa Indonesia atau Inggris yang diterbitkan pada Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1813 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. periode 2020Ae2025, membahas pencegahan bullying di konteks pendidikan formal, serta memuat hasil penelitian empiris. Adapun kriteria eksklusi meliputi sumber yang bersifat opini, berita, atau tidak melalui proses penelaahan sejawat . eer revie. Seluruh data yang digunakan merupakan data sekunder, diperoleh dari jurnal nasional dan internasional bereputasi, buku akademik, serta publikasi ilmiah daring. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan tematik . hematic analysi. sebagaimana dijelaskan oleh (Braun dan Clarke, 2. yaitu melalui proses pengkodean, identifikasi pola, dan penentuan tema-tema utama yang muncul dari hasil kajian literatur. Untuk menjaga keabsahan hasil, dilakukan proses triangulasi sumber serta evaluasi kredibilitas referensi berdasarkan reputasi penerbit dan jumlah sitasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Perundungan di bidang pendidikan telah menjadi sorotan media selama bertahun-tahun, menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah hal baru berdasarkan ulasan literatur yang ada. Namun, korban sering kali ragu untuk melaporkan pengalaman mereka, seperti yang ditemukan oleh (Wibowo et al. , 2. keguruan ini timbul dari rasa takut akan stigma negatif atau kemungkinan situasi yang memburuk setelah pelaporan. Oleh karena itu, perundungan perlu dianggap sebagai tanggung jawab kolektif dari semua komponen sekolah, termasuk partisipasi orang tua (Hidayat et al. , 2. mereka menyoroti bahwa penanganan yang berhasil memerlukan partisipasi dan kesadaran dari semua pihak yang terlibat. Kolaborasi dan integrasi komunitas sekolah secara keseluruhan telah terbukti sebagai pendekatan efektif untuk mengurangi perundungan. Secara kesimpulan, kerja sama yang solid di antara semua elemen sekolah, yang ditandai oleh sensitivitas terhadap isu dan kolaborasi yang erat, adalah kunci penting untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang aman, inklusif, dan tanpa toleransi terhadap segala jenis perundungan. Semua pihak diharapkan untuk bertindak proaktif dalam mewujudkan kondisi tersebut. Untuk menguatkan analisis ini, pembahasan berikut menggabungkan perbandingan dengan setidaknya lima belas temuan penelitian terkini dari jurnal nasional dan internasional . emua dari lima tahun terakhir, yaitu 2019-2. Penelitian ini dipilih karena relevansinya dengan pencegahan perundungan melalui intervensi iklim sekolah, disiplin restoratif, dan pembelajaran sosial-emosional (SEL). Dengan membandingkan literatur lokal . Indonesi. dan global, analisis ini menunjukkan sintesis teori yang lebih mendalam, mengungkap kesamaan dan perbedaan dalam efektivitas strategi pencegahan. Contohnya, penelitian internasional seperti (Jones et al, 2. di Journal of School Psychology menunjukkan bahwa program SEL dapat mengurangi insiden perundungan hingga 20-30% melalui peningkatan empati dan regulasi emosi, yang sejalan dengan temuan lokal (Kamila et al. , 2. mengenai peran orang tua dalam membentuk stabilitas emosional anak. Namun, perbedaan budaya menunjukkan bahwa intervensi SEL lebih sukses di konteks Barat dibandingkan Indonesia, di mana elemen keluarga tradisional memainkan peran lebih utama, lihat perbandingan dengan (Sari et al. , 2. , di Jurnal Pendidikan Indonesia. Peran Orang Tua Peran keluarga, khususnya orang tua, sangat penting dalam mengurangi perilaku intimidasi atau perundungan pada anak. Kontribusi utama ini tercermin dalam membangun komunikasi yang mendukung, memberikan contoh baik, serta menanamkan dasar etika dan moral sejak awal. Tujuan akhir dari langkahlangkah ini adalah memastikan bahwa anak berkembang menjadi individu yang kuat dan bertanggung jawab. Selain itu, ketika orang tua berhasil menciptakan ikatan emosional yang erat, memberikan bimbingan yang cukup, dan dukungan terus-menerus, anak akan merasa aman, memiliki kepercayaan diri yang lebih besar, serta mampu menjalin interaksi sosial yang positif. (Kamila et al. , 2. menambahkan bahwa ketika orang tua bekerja sama, memenuhi kebutuhan dasar anak, dan mempertahankan stabilitas di rumah, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang stabil dan kondusif yang sangat mendukung perkembangan optimal mereka. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1814 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Perbandingan dengan penelitian terkini menguatkan temuan ini. Penelitian internasional seperti (Espelage et al. , 2. di Journal of School Psychology menemukan bahwa intervensi keluarga berbasis SEL mengurangi risiko menjadi korban perundungan hingga 25%, dengan penekanan pada komunikasi terbuka yang mirip dengan pendekatan (Kamila et al. , 2. di tingkat nasional, (Hidayat et al. ,2. di Journal of Educational Psychology menunjukkan bahwa orang tua di Indonesia yang aktif dalam pendidikan karakter anak mengalami penurunan insiden perundungan sebaya sebesar 15%, meskipun efektivitasnya menurun di daerah pedesaan karena keterbatasan akses pendidikan. Penelitian lain seperti (Wang et al. , 2. di School Psychology Review mengonfirmasi bahwa dukungan emosional orang tua berkorelasi positif dengan ketahanan anak terhadap perundungan, dengan dampak yang lebih besar di sekolah dengan iklim positif. Secara keseluruhan, literatur ini menunjukkan bahwa peran orang tua sebagai dasar etika moral seperti dalam (Kamila et al. , 2. dapat ditingkatkan melalui program kolaboratif sekolah-keluarga, meskipun tantangan budaya lokal seperti norma patriarki di Indonesia lihat (Sari et al. , 2. memerlukan penyesuaian intervensi. Peran Guru dalam Mencegah Perilaku Bullying di Sekolah Perlindungan anak dalam konteks pendidikan diatur secara spesifik melalui peraturan hukum, termasuk UU Nomor 35 Tahun 2014 yang melarang semua bentuk kekerasan dan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015, yang menetapkan tanggung jawab sekolah dan tenaga pengajar dalam menangani kekerasan. Guru memberikan kontribusi besar dalam mencegah intimidasi atau perundungan. (Maemunah et al. , 2. menekankan peran utama Guru PKn dalam pendidikan karakter untuk meminimalkan insiden perundungan. Tugas mereka meliputi pengembangan sikap dan perilaku positif melalui bimbingan serta demonstrasi penolakan keras terhadap Di lain sisi. Guru BK berperan dalam pencegahan melalui layanan reformasi perilaku, yang diterapkan dengan sanksi positif, penciptaan kesempatan baik, pengembangan keterampilan sosial, serta peningkatan empati dan simpati. (Rahmadiani, 2. menyimpulkan bahwa kesiapan guru, yang didefinisikan sebagai kemampuan dan keinginan untuk menciptakan iklim pembelajaran yang efektif, adalah faktor penentu dalam mencapai tujuan pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan kompetensi berpikir kritis siswa. Untuk memperdalam analisis, perbandingan dengan penelitian terkini menunjukkan kesamaan dan Penelitian internasional seperti (Morrison et al. , 2. di Reclaiming Children and Youth menemukan bahwa disiplin restoratif oleh guru mengurangi perundungan hingga 40% melalui dialog dan penyelesaian konflik, yang sejalan dengan pendekatan Guru BK dalam (Maemunah et al. , 2. Di Indonesia, (Wibowo et , 2. di Journal of Public Health melaporkan bahwa guru yang dilatih SEL dapat menurunkan insiden perundungan sebaya sebesar 18%, namun kesiapan guru seperti dalam (Rahmadiani, 2. sering kali terhalang oleh beban kerja yang berlebihan. Penelitian lain seperti (Olweus et al. , 2. di Journal of School Health menekankan intervensi iklim sekolah oleh guru, yang efektif di konteks global namun memerlukan adaptasi lokal untuk mengatasi stigma pelaporan lihat (Hidayat et al. , 2023. Selain itu, meta-analisis (Yeager et al. , 2. di Psychological Science in the Public Interest menunjukkan bahwa pembelajaran berpikir kritis oleh guru mengurangi perundungan melalui peningkatan empati, dengan hasil serupa di penelitian nasional seperti (Maemunah et al. , 2. Penelitian tambahan dari (Espelage et al. , 2. dan (Wang et al. , 2. mengonfirmasi bahwa guru sebagai model perilaku positif berkontribusi pada penurunan perundungan, meskipun tantangan seperti kurangnya pelatihan di sekolah Indonesia lihat (Sari et al. , 2. membatasi Secara keseluruhan, literatur ini menegaskan bahwa peran guru dalam pendidikan karakter (Maemunah et al. , 2. dapat diperkuat melalui integrasi SEL dan disiplin restoratif, namun variasi efektivitas bergantung pada dukungan dari manajemen sekolah. Peran Manajemen Sekolah Dalam Mencegah Bullying di Sekolah Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 77, menetapkan bahwa setiap tindakan diskriminasi yang disengaja terhadap anak diklasifikasikan sebagai kejahatan. Pelanggaran ini mencakup pengabaian, kerugian materi atau non-materi, serta tindakan yang menyebabkan penderitaan fisik. Selanjutnya. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1815 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. siapa pun yang terbukti menyebabkan stres psikologis atau tekanan sosial pada anak dapat dikenai hukuman. Sanksi yang diberikan bisa berupa penjara maksimal lima tahun atau denda hingga Rp100. 000,00. Selain peraturan tersebut, perlindungan anak di lingkungan sekolah juga diatur jelas dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 54. Ketentuan ini menekankan perlunya membebaskan anak dari segala bentuk kekerasan yang mungkin terjadi, baik dari staf pengajar maupun siswa lain, di lembaga pendidikan formal dan non-formal. Bertentangan dengan ketentuan ini, data KPAI selama 2023 menunjukkan bahwa laporan kekerasan di bidang pendidikan adalah jenis pengaduan publik yang paling Sebagian besar laporan ini berfokus pada perundungan oleh teman sebaya. Hal ini menimbulkan masalah karena mengungkap realitas paradoks: sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar, justru menjadi zona risiko tinggi untuk konflik dan kekerasan antar siswa. Untuk melampaui aspek regulasi, peran manajemen sekolah harus menyoroti strategi praktis seperti memperkuat budaya sekolah, sistem pelaporan digital, serta keterlibatan siswa sebagai agen anti-perundungan. Konsep kepemimpinan transformasional dapat diterapkan, di mana kepala sekolah memotivasi staf dan siswa melalui visi inklusif, sementara manajemen sekolah inklusif memastikan partisipasi semua pihak dalam kebijakan pencegahan. Perbandingan dengan penelitian terkini menguatkan ini. Penelitian internasional seperti Gregory et al. di School Psychology Review menemukan bahwa kepemimpinan transformasional mengurangi perundungan hingga 35% melalui budaya sekolah yang positif, yang sejalan dengan data KPAI 2023 tentang risiko di sekolah Indonesia. Di tingkat nasional. Maemunah et al. menunjukkan bahwa manajemen inklusif dapat meningkatkan pelaporan perundungan melalui sistem digital, dengan penurunan insiden sebesar 22%. Penelitian lain seperti Bradshaw et al. di Journal of Educational Psychology mengonfirmasi efektivitas keterlibatan siswa sebagai agen anti-perundungan, dengan hasil serupa di studi lokal Hidayat et al. Selain itu, meta-analisis Jones et al. dan Espelage et al. menunjukkan bahwa intervensi iklim sekolah oleh manajemen efektif di konteks global, namun tantangan implementasi di Indonesia mencakup keterbatasan sumber daya . ihat Sari et al. , 2. Penelitian tambahan dari Olweus et al. dan Yeager et al. menegaskan bahwa sistem pelaporan digital mempercepat respons, mengurangi stigma, dan meningkatkan keamanan sekolah. Secara keseluruhan, perbandingan ini menunjukkan bahwa strategi praktis seperti budaya sekolah dan kepemimpinan transformasional (Gregory et al. , 2. lebih efektif daripada regulasi saja, dengan potensi penurunan perundungan hingga 30-40% jika digabungkan dengan SEL dan disiplin restoratif. Namun, refleksi kritis diperlukan: literatur yang ditinjau sebagian besar fokus pada konteks Barat atau perkotaan Indonesia, sehingga keterbatasan mencakup generalisasi ke daerah pedesaan atau budaya non-mainstream. Selain itu, banyak penelitian bergantung pada data laporan diri, yang rentan bias, dan kurangnya studi longitudinal jangka panjang membatasi pemahaman dampak jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian mendatang perlu memperluas cakupan ke variasi geografis dan metodologi campuran untuk objektivitas yang lebih baik. Dengan demikian, sinergi antara orang tua, guru, dan manajemen sekolah didukung oleh intervensi berbasis bukti merupakan dasar untuk lingkungan belajar yang aman dan inklusif. KESIMPULAN Kajian literatur ini menegaskan bahwa bullying di sekolah merupakan fenomena kompleks dengan dampak sosial dan psikologis yang serius bagi siswa, sehingga pencegahannya memerlukan pendekatan kolaboratif dan integratif antara guru, manajemen sekolah, dan keluarga. Temuan menunjukkan bahwa keberhasilan strategi anti-bullying tergantung pada penerapan pendidikan karakter berbasis nilai moral dan etika universal seperti integritas, tanggung jawab, keadilan, empati, dan toleransi yang ditanamkan secara konsisten melalui interaksi sehari-hari, program kurikulum, serta kebijakan sekolah yang terstruktur. Guru, khususnya di bidang Pendidikan Pancasila. Kewarganegaraan, dan Bimbingan Konseling, berperan sebagai teladan dan pembimbing dalam mengembangkan sikap positif dan empati siswa, sementara orang tua menjadi figur utama Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1816 Peran Orang Tua. Guru dan Manajemen Sekolah dalam Mencegah Perilaku Bullying Ae Netri Bukhori. Amelyssa Islamiyah. Soleha Ibni Nazifa. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. dalam menanamkan nilai-nilai etis sejak rumah. Manajemen sekolah mendukung keberhasilan ini melalui kebijakan anti-bullying yang jelas, pembentukan tim khusus, pengawasan, serta penyediaan mekanisme pelaporan yang aman dan transparan. Selain itu. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan di Indonesia menekankan pembentukan karakter moral dan etika sebagai dasar bagi pencegahan perilaku menyimpang, termasuk bullying. Secara praktis, hasil kajian ini memberikan kontribusi akademik dengan merumuskan model konseptual pencegahan bullying berbasis ekosistem sekolahkeluarga, sekaligus menawarkan implikasi nyata bagi kebijakan pendidikan karakter di tingkat SD dan SMP, yaitu membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan etis. Dengan demikian, strategi pencegahan bullying yang mengintegrasikan pendidikan karakter, kolaborasi lintas aktor pendidikan, dukungan komunitas, dan dasar kebijakan nasional dapat menekan perilaku agresif serta membentuk generasi muda yang unggul, berkarakter, dan mampu beradaptasi harmonis dalam keragaman sosial. SARAN Berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh Fikriyah dan rekannya . , keluarga, terutama orang tua, berfungsi sebagai lembaga pendidikan primer yang berkontribusi signifikan dalam membentuk dan mengembangkan karakter anak. Hal ini karena karakter anak umumnya sangat dipengaruhi oleh orang tua. Elemen penting dalam proses ini meliputi gaya pengasuhan dan nilai-nilai yang diterapkan oleh orang tua, seperti menjadi teladan, memberikan bimbingan dalam kegiatan sehari-hari, menanamkan nilai-nilai etika secara bersama, serta membangun komunikasi terbuka dan memberikan penghargaan atas setiap kegiatan anak. Selain itu, cakupan penelitian ini perlu diperluas ke berbagai lembaga pendidikan dengan keragaman geografis dan budaya. Dengan melibatkan sekolah dari latar belakang yang berbeda, studi ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang cara menerapkan dasar-dasar pendidikan karakter yang efektif untuk mencegah bullying di berbagai konteks. DAFTAR PUSTAKA