eISSN 2598-9898 | pISSN 2654-2811 JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Vol. 10 | No. 1 | Juni 2026 | Hal. 30 - 39 http://riset. id/index. php/JU-ke/index http://dx. org/10. 33474/JU-ke ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG Rossiano Ferdinan Ramadhan1. Lia Rohmatul Maula2. Arief Joko Saputro3 A Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Malang. Email : 22201032032@unisma. Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Malang. Email : liarohmatul@unisma. Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Malang. Email : ariefjs@unisma. ABSTRACT Hybrid maize is an important agricultural commodity that contributes to increasing farmersAo income and supporting regional agricultural development. However, relatively high production costs require efficient farm management to ensure economic feasibility. This study aims to analyze the efficiency of hybrid maize farming in Bringin Village. Wajak District. Malang Regency. The research employed a descriptive quantitative approach using a survey method. Primary data were collected through direct interviews with farmers using structured questionnaires, while secondary data were obtained from relevant institutions and supporting literature. Data analysis involved calculating production costs, revenue, income, and farming efficiency using the Return Cost Ratio (R/C rati. The results showed that the average total production cost was Rp 10. 448 per hectare per planting season, while the average revenue reached Rp 30,245,538. 04 per hectare per planting season. An R/C ratio value of 2. 81 indicates that hybrid maize farming in Bringin Village is economically efficient and feasible to be developed. Keyword: farming efficiency, hybrid maize. R/C ratio, farm income. ABSTRAK Jagung hibrida merupakan komoditas pertanian penting yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani dan pengembangan sektor pertanian daerah. Namun, tingginya biaya produksi menuntut pengelolaan usahatani yang efisien agar tetap layak secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi usahatani jagung hibrida di Desa Bringin. Kecamatan Wajak. Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait dan literatur pendukung. Analisis data dilakukan dengan menghitung biaya produksi, penerimaan, pendapatan, serta efisiensi usahatani menggunakan pendekatan Return Cost Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total biaya produksi sebesar Rp 10. 448 per hektare per musim tanam, dengan rata-rata penerimaan Rp 30. 538,04 per hektare per musim tanam. Nilai R/C ratio sebesar 2,81 menunjukkan bahwa usahatani jagung hibrida di Desa Bringin tergolong efisien dan layak dikembangkan. Kata Kunci: efisiensi usahatani, jagung hibrida. R/C ratio, pendapatan petani. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG PENDAHULUAN Jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta perekonomian sektor pertanian. Selain sebagai sumber pangan alternatif, jagung juga dimanfaatkan secara luas sebagai bahan baku industri pakan ternak dan pangan olahan. Tingginya permintaan dari berbagai sektor tersebut menyebabkan jagung memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan prospek pengembangan yang berkelanjutan (Wahyuningsih et al. , 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu sentra utama produksi jagung nasional dan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi jagung di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2. Jagung hibrida menjadi varietas yang paling banyak dibudidayakan oleh petani karena memiliki potensi hasil yang tinggi, umur panen relatif singkat, serta daya adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi agroekologi. Keunggulan tersebut menjadikan jagung hibrida sebagai komoditas unggulan dan sumber pendapatan penting bagi petani di wilayah sentra produksi, termasuk Kabupaten Malang (Erviyana, 2. Namun demikian, budidaya jagung hibrida memerlukan input produksi yang relatif besar, sehingga biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani juga cukup tinggi. Kondisi ini menuntut adanya pengelolaan usahatani yang efisien agar kegiatan produksi tetap memberikan keuntungan dan layak secara ekonomi. Efisiensi usahatani merupakan indikator penting dalam menilai kinerja ekonomi suatu kegiatan pertanian. Efisiensi mencerminkan kemampuan petani dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal untuk memperoleh penerimaan maksimum dengan biaya minimum. Usahatani yang tidak efisien berpotensi menurunkan pendapatan petani meskipun tingkat produksi relatif tinggi, sehingga analisis efisiensi menjadi penting sebagai dasar evaluasi kelayakan ekonomi suatu usahatani (Pioke et al. , 2. Salah satu pendekatan yang umum digunakan untuk mengukur efisiensi ekonomi usahatani adalah Return Cost Ratio, yaitu perbandingan antara total penerimaan dan total biaya produksi selama satu musim tanam. Dari perspektif sosial ekonomi, kegiatan pertanian memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan usaha pertanian yang efektif dapat mendorong peningkatan pendapatan, kemandirian ekonomi, serta keberlanjutan usaha masyarakat tani (Maula et al. , 2. Selain itu, penguatan aktivitas ekonomi berbasis pertanian juga berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas sosial ekonomi masyarakat melalui optimalisasi sumber daya lokal dan pengelolaan usaha yang lebih efisien (Saputro & Sari. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi usahatani memiliki implikasi yang luas, tidak hanya pada aspek keuntungan finansial, tetapi juga pada stabilitas sosial ekonomi petani. Nilai R/C ratio memberikan gambaran tingkat kelayakan usahatani, di mana nilai sama dengan satu menunjukkan kondisi impas, nilai kurang dari satu menunjukkan usahatani tidak layak secara ekonomi, dan nilai lebih besar dari satu menunjukkan bahwa usahatani tersebut efisien dan menguntungkan(Fadli, et al. , 2. Semakin besar nilai R/C ratio, semakin tinggi tingkat keuntungan yang diperoleh petani, sehingga indikator ini banyak digunakan dalam evaluasi ekonomi usahatani tanaman pangan. Desa Bringin. Kecamatan Wajak. Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah yang mengembangkan usahatani jagung hibrida secara intensif. Meskipun komoditas ini telah lama diusahakan oleh petani setempat, kajian empiris mengenai tingkat efisiensi usahatani jagung hibrida di wilayah tersebut masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi usahatani jagung hibrida di Desa Bringin menggunakan pendekatan analisis biaya, penerimaan, dan R/C ratio. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kelayakan ekonomi usahatani jagung hibrida serta menjadi dasar evaluasi dalam upaya peningkatan efisiensi dan keberlanjutan usahatani di tingkat petani. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG LANDASAN TEORI Teori Efisiensi Usahatani Efisiensi usahatani merupakan konsep penting dalam analisis ekonomi pertanian yang bertujuan untuk menilai sejauh mana petani mampu mengalokasikan sumber daya . seperti lahan, tenaga kerja, benih, pupuk, dan biaya operasional untuk menghasilkan output maksimum dalam kondisi teknologi yang tersedia (Pasaribu et al. , 2. Efisiensi dapat dikaji melalui tiga dimensi utama, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif . , dan efisiensi Efisiensi teknis menggambarkan kemampuan petani dalam menghasilkan output tertinggi dari kombinasi input tertentu berdasarkan frontier produksi (Hilalullaily et al. , 2. Efisiensi usahatani dapat dianalisis dengan membandingkan total penerimaan yang diperoleh terhadap seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Metode yang umum digunakan untuk mengukurnya adalah R/C Ratio (Return to Cost Rati. Indikator ini menunjukkan seberapa besar pendapatan kotor yang dapat dihasilkan dari setiap satuan biaya produksi yang dikeluarkan. Dengan kata lain. R/C Ratio memberikan gambaran mengenai tingkat keuntungan relatif yang diterima petani berdasarkan total biaya yang diinvestasikan dalam kegiatan usahataninya (Fadli et al. , 2. Teori Produksi Teori produksi membahas hubungan antara jumlah input atau faktor produksi yang digunakan dengan output atau hasil produksi yang dihasilkan dalam suatu proses usahatani. Dalam konteks pertanian khususnya jagung hibrida, input seperti lahan, benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja manusia maupun tenaga kerja mesin, serta modal akan memengaruhi kuantitas dan kualitas produksi yang diperoleh. Menurut prinsip dasar teori produksi, peningkatan penggunaan input hingga tingkat tertentu akan meningkatkan output secara proporsional, namun setelah mencapai titik tertentu hasil tambahan . arginal produc. akan semakin menurun atau dikenal dengan hukum hasil tambah yang menurun (Law of Diminishing Retur. (Sumarno et al. , 2. Secara ekonomi, tujuan utama penerapan teori produksi adalah untuk menemukan tingkat penggunaan input yang optimum sehingga keuntungan dan efisiensi usahatani dapat tercapai. Pada usahatani jagung hibrida, penerapan teori produksi membantu petani menentukan takaran input yang paling efisien seperti dosis pupuk, jumlah tenaga kerja, serta varietas benih yang dapat memberikan hasil tertinggi dengan biaya serendah mungkin, sehingga pendapatan yang diperoleh menjadi lebih optimal (Kabeakan et al. , 2. Teori Pendapatan Pendapatan usahatani merupakan selisih antara total penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan produk pertanian dengan total biaya produksi yang dikeluarkan selama proses budidaya berlangsung (Sukmayanto et al. , 2. Dalam konteks ekonomi pertanian, pendapatan menjadi indikator utama keberhasilan suatu kegiatan usahatani karena mencerminkan tingkat keuntungan yang diterima petani serta efisiensi pengelolaan sumber daya yang digunakan. Penerimaan usahatani dipengaruhi oleh volume produksi, kualitas hasil, serta harga jual produk di pasar yang sering kali berubah akibat kondisi permintaan, penawaran, musim, dan pergerakan pasar komoditas. Sementara itu, biaya produksi mencakup biaya tetap seperti sewa lahan dan penyusutan alat, serta biaya variabel seperti benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja dan biaya operasional lainnya. Semakin efisien penggunaan input dalam proses produksi, semakin besar kemungkinan peningkatan pendapatan yang diterima petani (Suryanto et al. , 2. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai tingkat efisiensi usahatani jagung hibrida berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Pendekatan ini dipilih karena mampu menjelaskan fenomena ekonomi usahatani secara kuantitatif melalui pengukuran biaya, penerimaan, dan efisiensi ekonomi dalam satu musim tanam. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada analisis biaya produksi, penerimaan, serta tingkat efisiensi ekonomi usahatani jagung hibrida, yang diukur menggunakan pendekatan Return Cost Ratio, sebagaimana umum digunakan dalam penelitian efisiensi usahatani tanaman pangan. Penelitian dilaksanakan di Desa Bringin. Kecamatan Wajak. Kabupaten Malang, yang dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi jagung hibrida dan mayoritas petaninya menggantungkan pendapatan pada komoditas tersebut. Objek penelitian ini adalah petani jagung hibrida yang melakukan kegiatan usahatani dalam satu musim tanam. Jenis data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur yang telah disiapkan sebelumnya, serta dilengkapi dengan observasi lapangan untuk memastikan kesesuaian data yang diperoleh dengan kondisi aktual usahatani. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, instansi terkait, serta berbagai literatur pendukung yang relevan dengan topik penelitian. Bahan utama penelitian berupa data biaya produksi dan penerimaan usahatani jagung hibrida, dengan alat bantu yang digunakan meliputi kuesioner, alat tulis, dan perangkat lunak pengolah data. Variabel penelitian meliputi biaya produksi dan penerimaan usahatani jagung hibrida. Biaya produksi terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel yang dihitung dalam satuan rupiah per hektare per musim tanam, sedangkan penerimaan didefinisikan sebagai nilai produksi jagung yang diperoleh petani berdasarkan harga jual yang berlaku pada saat penelitian. Penggunaan variabel biaya dan penerimaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kinerja ekonomi dan tingkat efisiensi usahatani jagung hibrida. Analisis data dilakukan dengan menghitung pendapatan dan Return Cost Ratio. Untuk metode analisisnya sebagai berikut: Biaya Usahatani Biaya usahatani merupakan seluruh pengeluaran yang diperlukan selama proses produksi Biaya usahatani dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu biaya tetap . ixed cos. dan biaya variabel . ariable cos. (Chotimah et al. , 2. Biaya tetap adalah pengeluaran yang jumlahnya tidak berubah meskipun volume produksi mengalami peningkatan atau penurunan, seperti sewa lahan dan penyusutan alat. Biaya variabel merupakan biaya yang besarannya bergantung pada tingkat aktivitas produksi, misalnya biaya benih, pupuk, pestisida, serta upah tenaga kerja harian (Sidabutar et al. , 2. Secara matematis, total biaya usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut: TC = FC VC Keterangan: TC = Total Cost . iaya tota. (R. FC = Fixed Cost . iaya teta. (R. VC = Variable Cost . iaya variabe. (R. Penerimaan Penerimaan (Total Revenu. dalam kegiatan usahatani merupakan nilai ekonomi yang diperoleh petani dari hasil produksi yang dihasilkan selama satu periode atau satu musim Penerimaan tersebut dihitung sebagai hasil perkalian antara jumlah produksi yang dihasilkan dengan harga jual per satuan produksi yang berlaku pada saat penjualan. Besarnya penerimaan mencerminkan pendapatan kotor yang diperoleh petani sebelum dikurangi oleh berbagai komponen biaya produksi yang dikeluarkan selama proses budidaya berlangsung. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Rossiano Ferdinan Ramadhan1. Lia Rohmatul Maula2. Arief Joko Saputro3 Oleh karena itu, penerimaan menjadi salah satu indikator penting dalam analisis usahatani karena menggambarkan kemampuan kegiatan produksi dalam menghasilkan nilai ekonomi. Perhitungan penerimaan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: TR = P y Q Keterangan: = Total Revenue . otal penerimaa. (Rp atau Rp/h. P = Price . arga jual jagung per k. Q = Quantity . umlah produksi jagung dalam kg/h. Pendapatan Pendapatan usahatani merupakan nilai ekonomi yang diperoleh petani sebagai hasil akhir dari kegiatan produksi setelah seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses budidaya Pendapatan usahatani dihitung sebagai selisih antara total penerimaan . otal revenu. dan total biaya produksi . otal cos. yang dikeluarkan oleh petani selama satu musim Besarnya pendapatan ini mencerminkan keuntungan bersih yang diterima petani dari kegiatan usahatani yang dijalankan, sehingga dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat keberhasilan dan kelayakan ekonomi suatu usahatani. Apabila pendapatan yang diperoleh bernilai positif, maka usahatani tersebut memberikan keuntungan, sedangkan apabila bernilai negatif menunjukkan bahwa usahatani mengalami kerugian. Perhitungan pendapatan usahatani dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: A = TR Ae TC Keterangan: A = Income atau pendapatan bersih (R. TR = Total Revenue . enerimaan tota. (R. TC = Total Cost . iaya tota. (R. Efisiensi Usahatani Analisis R/C Ratio (Revenue Cost Rati. merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui dan mengevaluasi tingkat efisiensi finansial suatu kegiatan usahatani. Nilai R/C ratio menggambarkan perbandingan antara total penerimaan . otal revenu. yang diperoleh dari hasil produksi dengan total biaya . otal cos. yang dikeluarkan selama proses produksi berlangsung dalam satu periode atau satu musim tanam (Rahim et al. , 2. Melalui analisis ini dapat diketahui sejauh mana penerimaan yang dihasilkan mampu menutupi seluruh biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. Nilai R/C ratio juga berfungsi sebagai indikator kelayakan ekonomi usahatani, di mana nilai R/C yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa usaha tani memberikan keuntungan dan layak untuk dijalankan, sedangkan nilai R/C sama dengan satu menunjukkan kondisi impas, dan nilai R/C kurang dari satu menandakan bahwa usaha tani mengalami kerugian. Perhitungan R/C ratio dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: R/C rasio = Total Revenue/Total Cost Keterangan : R/C ratio = Revenue Cost Ratio TR = Total Revenue . enerimaan tota. (R. TC = Total Cost . iaya tota. (R. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG HASIL DAN PEMBAHASAN Efisiensi usahatani dianalisis menggunakan Return Cost Ratio (R/C rati. , yaitu perbandingan antara total penerimaan dan total biaya produksi selama satu musim tanam. Usahatani berada pada kondisi impas apabila nilai R/C ratio sama dengan 1, sedangkan nilai R/C ratio kurang dari 1 menunjukkan usahatani tidak layak secara ekonomi. Semakin tinggi nilai R/C ratio, semakin besar tingkat keuntungan yang diperoleh petani (Chotimah et al. , 2. Biaya Tetap Tabel 1. Rata-Rata Biaya Tetap Usahatani Jagung Hibrida Uraian Jumlah (Rp/Ha/MT) Pajak Lahan 742,83 Penyusutan Alat 174,87 Total 917,70 Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 1, lahan yang digunakan dalam kegiatan usahatani jagung hibrida pada lokasi penelitian seluruhnya merupakan lahan milik sendiri, sehingga komponen biaya lahan tidak diperhitungkan sebagai biaya sewa lahan. Sebagai gantinya, biaya lahan dihitung berdasarkan biaya pajak lahan yang wajib dibayarkan oleh petani setiap tahun. Pajak lahan tersebut diklasifikasikan sebagai biaya tetap, karena besarannya relatif konstan dan tidak dipengaruhi oleh perubahan tingkat produksi maupun luas hasil panen yang diperoleh petani. Rata-rata biaya pajak lahan yang dikeluarkan oleh petani jagung hibrida dalam satu musim tanam tercatat sebesar Rp 742,83 per hektare per musim tanam, yang mencerminkan beban biaya kepemilikan lahan dalam kegiatan produksi pertanian. Selain biaya pajak lahan, komponen biaya tetap lain yang diperhitungkan dalam penelitian ini adalah biaya penyusutan alat pertanian. Biaya penyusutan alat menggambarkan penurunan nilai ekonomis dan daya guna peralatan sebagai akibat dari penggunaan secara berulang dalam proses produksi usahatani. Oleh karena itu, biaya ini dimasukkan ke dalam biaya tetap karena besarnya tidak bergantung pada jumlah output yang dihasilkan dalam satu musim tanam. Rata-rata biaya penyusutan alat yang dikeluarkan oleh petani jagung hibrida sebesar Rp 17. 174,87 per hektare per musim tanam, yang mencakup penggunaan berbagai peralatan pertanian seperti cangkul, sprayer, dan sabit. Perhitungan biaya penyusutan alat menjadi penting untuk memberikan gambaran biaya produksi yang lebih akurat dan realistis, sehingga mampu mencerminkan kondisi ekonomi usahatani secara menyeluruh (Pioke et al. , 2. Dengan memperhitungkan biaya pajak lahan dan biaya penyusutan alat tersebut, maka total biaya tetap yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani jagung hibrida pada lokasi penelitian adalah sebesar Rp 223. 917,70 per hektare per musim tanam. Biaya Variabel Tabel 2. Rata-Rata Biaya Variabel Usahatani Jagung Hibrida Uraian Jumlah (Rp/Ha/MT) Benih 724,89 Pupuk Kandang 576,12 Pupuk Phonska 562,92 Pupuk Urea 467,96 Pestisida 014,89 Tenaga Kerja 183,81 Total 530,59 Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 2, komponen biaya variabel dalam kegiatan usahatani jagung hibrida terdiri atas biaya benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja, yang seluruhnya dikeluarkan selama JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Rossiano Ferdinan Ramadhan1. Lia Rohmatul Maula2. Arief Joko Saputro3 satu siklus produksi atau satu musim tanam. Biaya variabel ini bersifat tidak tetap karena besarannya sangat dipengaruhi oleh intensitas penggunaan input dan skala produksi yang dijalankan oleh petani. Salah satu komponen biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya benih jagung hibrida, dengan rata-rata sebesar Rp 125. 724,89 per hektare per musim tanam. Besarnya biaya tersebut mencerminkan penggunaan benih unggul hibrida sebagai input utama dalam kegiatan produksi, yang umumnya memiliki harga lebih tinggi dibandingkan benih lokal. Meskipun demikian, penggunaan benih hibrida diharapkan mampu meningkatkan potensi hasil produksi dan kualitas jagung yang dihasilkan, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi petani (Wahyuningsih et al. , 2. Komponen biaya variabel terbesar dalam usahatani jagung hibrida berasal dari penggunaan pupuk, yang meliputi pupuk kandang, pupuk ponskha, dan pupuk urea. Rata-rata biaya pupuk kandang tercatat sebesar Rp 3. 576,12 per hektare per musim tanam, sedangkan biaya pupuk ponskha dan pupuk urea masing-masing sebesar Rp 894. 562,92 dan Rp 821. 467,96 per hektare per musim tanam. Penggunaan berbagai jenis pupuk tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman, menjaga kesuburan tanah, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung hibrida secara optimal. Oleh karena itu, biaya pupuk menjadi salah satu komponen dominan dalam struktur biaya variabel usahatani jagung hibrida. Selain biaya pupuk, biaya pestisida yang meliputi penggunaan herbisida, fungisida, dan insektisida juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap total biaya variabel. Ratarata biaya pestisida yang dikeluarkan petani sebesar Rp 1. 014,89 per hektare per musim tanam, yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman agar tidak menurunkan produktivitas maupun kualitas hasil panen. Selanjutnya, biaya tenaga kerja yang mencakup berbagai kegiatan, mulai dari persiapan lahan, pengolahan lahan, penanaman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama, hingga kegiatan panen, mencapai Rp 3. 183,81 per hektare per musim tanam. Tingginya alokasi biaya tenaga kerja menunjukkan bahwa usahatani jagung hibrida di lokasi penelitian masih bersifat padat karya dan sangat bergantung pada tenaga kerja manusia dalam setiap tahapan produksi. Dengan demikian, rata-rata total biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani jagung hibrida dalam satu musim tanam adalah sebesar Rp 10. 530,59 per hektare per musim tanam. Total Biaya Usahatani Tabel 3. Total Biaya Usahatani Uraian Jumlah (Rp/Ha/MT) Biaya Tetap 917,70 Biaya Variabel 530,59 Total 448,29 Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata total biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani dalam kegiatan usahatani jagung hibrida pada lokasi penelitian mencapai Rp 448,29per hektare per musim tanam. Total biaya produksi tersebut merupakan akumulasi dari seluruh pengeluaran yang harus ditanggung oleh petani selama proses budidaya jagung hibrida, mulai dari tahap persiapan lahan, kegiatan pemeliharaan tanaman, hingga pelaksanaan Besarnya total biaya produksi ini mencerminkan tingkat kebutuhan modal yang harus disediakan petani dalam menjalankan kegiatan usahatani selama satu siklus produksi. Struktur total biaya usahatani jagung hibrida di lokasi penelitian terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel, yang masing-masing memiliki kontribusi berbeda terhadap total biaya produksi. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani tercatat sebesar Rp 223. 917,70 per hektare per musim tanam, yang meliputi biaya pajak lahan serta biaya penyusutan alat-alat pertanian yang digunakan dalam kegiatan produksi. Biaya tetap tersebut bersifat relatif konstan karena besarannya tidak dipengaruhi oleh tingkat produksi yang dihasilkan dalam satu musim tanam. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG Sementara itu, komponen terbesar dalam struktur total biaya produksi berasal dari biaya variabel, yaitu sebesar Rp 10. 530,59 per hektare per musim tanam. Biaya variabel tersebut mencakup berbagai pengeluaran yang berkaitan langsung dengan aktivitas produksi, seperti biaya benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Dominasi biaya variabel dalam struktur biaya menunjukkan bahwa sebagian besar pengeluaran petani sangat dipengaruhi oleh intensitas kegiatan budidaya yang dilakukan selama satu musim tanam. Dengan demikian, total biaya produksi sebesar Rp 10. 448 per hektare per musim tanam dapat menggambarkan secara menyeluruh besarnya modal yang harus disiapkan petani untuk menjalankan usahatani jagung hibrida secara berkelanjutan dan efisien. Penerimaan,Pendapatan, dan R/C ratio Tabel 4. Rata-Rata Penerimaan. Pendapatan. Keuntungan dan R/C Ratio Uraian Jumlah Penerimaan (Rp/h. 538,04 Pendapatan (Rp/h. 089,75 Total Biaya (Rp/h. 448,29 R/C Ratio 2,81 Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 6, harga jual jagung hibrida yang diterima petani pada tingkat usaha tani tercatat sebesar Rp 6. 630 per kilogram, dengan rata-rata produksi mencapai 4. 542,80 kilogram per hektare per musim tanam. Capaian tingkat produksi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan usahatani jagung hibrida yang dijalankan oleh petani pada lokasi penelitian mampu menghasilkan output yang relatif baik dalam satu siklus produksi, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan petani. Dengan mengalikan harga jual jagung hibrida dengan jumlah produksi yang dihasilkan, maka diperoleh rata-rata penerimaan yang diterima oleh petani jagung hibrida sebesar Rp 30. 538,04 per hektare per musim tanam. Nilai penerimaan tersebut mencerminkan besarnya nilai total produksi yang dihasilkan petani sebelum dikurangi oleh berbagai komponen biaya produksi yang dikeluarkan selama proses budidaya. Di sisi lain, rata-rata biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani jagung hibrida selama satu musim tanam tercatat sebesar Rp 10. 448,29 per hektare per musim tanam, yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi tersebut menggambarkan pendapatan bersih yang diperoleh petani dari kegiatan usahatani jagung Dalam penelitian ini, pendapatan bersih petani tercatat sebesar Rp 19. 089,75 per hektare per musim tanam, yang menunjukkan bahwa kegiatan usahatani jagung hibrida mampu memberikan keuntungan ekonomi yang cukup signifikan bagi petani. Tingginya pendapatan yang diperoleh petani menunjukkan bahwa penerimaan yang dihasilkan relatif lebih besar dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat penerimaan relatif terhadap biaya produksi, maka semakin besar pula pendapatan dan kelayakan ekonomi usahatani jagung yang dijalankan oleh petani (Wahyuningsih et al. , 2. Selanjutnya, hasil perhitungan R/C ratio menunjukkan nilai sebesar 2,81, yang berarti bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,00 mampu menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,81. Nilai R/C ratio yang lebih besar dari satu tersebut mengindikasikan bahwa usahatani jagung hibrida pada lokasi penelitian berada pada kondisi yang efisien secara ekonomi dan layak untuk Semakin tinggi nilai R/C ratio yang diperoleh, maka semakin besar pula tingkat keuntungan serta efisiensi ekonomi yang dapat dicapai oleh petani dalam menjalankan kegiatan usahatani jagung hibrida (Fadli,et al. , 2. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, rata-rata pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani jagung hibrida di Desa Bringin. Kecamatan Wajak. Kabupaten Malang tercatat sebesar Rp 19. 089,75 per hektare per musim tanam. Nilai pendapatan tersebut diperoleh dari selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi yang dikeluarkan selama satu musim Selain itu, hasil perhitungan efisiensi ekonomi menggunakan pendekatan Return Cost Ratio (R/C rati. menunjukkan nilai sebesar 2,81, yang berarti bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,00 mampu menghasilkan penerimaan sebesar Rp 2,81. Nilai R/C ratio yang lebih besar dari satu ini mengindikasikan bahwa kegiatan usahatani jagung hibrida yang dijalankan oleh petani di wilayah penelitian telah berada pada kondisi yang efisien secara ekonomi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung hibrida di Desa Bringin tidak hanya layak untuk dijalankan. DAFTAR RUJUKAN Badan Pusat Statistik. Luas Panen dan Produksi Jagung di Indonesia 2024. https://w. id/id/publication/2025/08/15/2bb49a0af17ec89ac16971de/luas-panendan-produksi-jagung-di-indonesia-2024. Chotimah. Baruwadi. , & Bakari. Analisis Efisiensi Usahatani Jagung Di Kecamatan Randangan Kabupaten Pohuwato. Jurnal Agrinesia, https://doi. org/https://doi. org/10. 37046/agr. Erviyana. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Tanaman Pangan Jagung Di Indonesia. Journal Economics Policy, 7. , 100Ae202. https://doi. org/10. 15294/jejak. Fadli. Nursan. , & Yusuf. Analisis Efisiensi Usahatani Cabai Rawit Di Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Prosiding Saintek, 6. , 3. https://doi. org/https://doi. org/10. 29303/saintek. Hilalullaily. Kusnadi. , & Rachmina. Analisis Efisiensi Usahatani Padi di Jawa dan Luar Jawa. Kajian Prospek Peningkatan Produksi Padi Nasional. Jurnal Agribisnis Indonesia, 9. , 143Ae153. https://doi. org/10. 29244/jai. Kabeakan. Habib. , & Manik. Efisiensi Teknis Penggunaan Faktor-Faktor Produksi pada Usahatani Jagung di Desa Pintu Angin. Laubaleng. Kabupaten Karo. Sumatera Utara. Indonesia. Agro Bali : Agricultural Journal, 5. , 42Ae49. https://doi. org/10. 37637/ab. Maula. Surya. Rianti. , & Kunci. Peningkatan Pendapatan Melalui Teknologi Pengolahan Selada pada Kelompok Urban Farming Kebun Semi. Kota Malang History Artikel. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 8. , 44Ae51. https://doi. org/https://doi. org/10. 31100/matappa. Pasaribu. Bakce. , & Dewi. Analisis Efisiensi Produksi Usahatani Kelapa Di Kecamatan Keritang Kabupaten Indragiri Hilir. Jurnal Online Mahasiswa Faperta, 3. , 23. https://jom. id/index. php/JOMFAPERTA Pioke. Indriani. , & Boekoesoe. Analisis Efisiensi Usahatani Jagung Di Desa Bongotua Kecamatan Paguyaman. Jurnal Ilmiah Agribisnis, 5. , https://ejurnal. id/index. php/AGR/article/view/12273/3562 Rahim. Suprapti. , & Hastuti. Model Analisis Ekonomi Pertanian. Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar. https://eprints. id/3891/1/Model Analisis Ekonomi Pertanian (Ra him. Supardi. Hastuti, 2. Saputro. , & Sari. Determinan Efisiensi Teknis dan Sosial Ekonomi Produksi Kopi Determinants Technical Efficiency and Socio-Economics of Coffee Production. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 20. , 341Ae349. https://journal. id/index. php/jsep JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. ANALISIS EFISIENSI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI DESA BRINGIN KECAMATAN WAJAK KABUPATEN MALANG Sidabutar. , dan Jum. , & Yusri, atri. Analisis Usahatani Jagung( Zea May. Di Desa Dosroha Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Ekonomi Pertanian Indonesia, 3Ae7. https://jom. id/index. php/JOMFAPERTA/article/viewFile/2537/2469 Sukmayanto. Listiana. , & Hasanuddin. Analisis Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis, 6. , 625. https://doi. org/10. 21776/ub. Sumarno. Harianto. , & Kusnadi. Peningkatan Produksi Dan Efisiensi Usahatani Jagung Melalui Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (Pt. Di Gorontalo. Jurnal Manajemen Dan Agribisnis, 12. , 10Ae17. https://doi. org/10. 17358/jma. Suryanto Pirngadi. Purti Utami. Fadhly Siregar. Habib. , & Rahmadani Manik. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Cabai Merah Di Kecamatan Beringin. Jurnal Pertanian Agros, 25. https://ejournal. id/index. php/JA/article/view/2422 Wahyuningsih. Setiawan. , & Kristanto. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi. Pendapatan Usahatani Jagung Hibrida Dan Jagung Lokal Di Kecamatan Kemusu. Kabupaten Boyolali. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian, 2. , 1Ae13. http://ejournal2. id/index. php/agrisocionomics Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga.