Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HUBUNGAN PENGETAHUAN VAGINAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 1 SELAT Ni Kadek Yuni Antari*1. Ida Arimurti Sanjiwani1. Ika Widi Astuti1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: kadekyuniantari46@gmail. ABSTRAK Kesehatan reproduksi merupakan kesejahteraan fisik, mental, dan juga sosial yang utuh, tidak ada penyakit ataupun masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsinya. Keputihan ialah satu diantara masalah kesehatan reproduksi. Keputihan dibagi menjadi dua jenis, yakni keputihan fisiologis dan keputihan patologis, keputihan fisiologis terjadi karena proses alami tubuh sedangkan patologis dipicu oleh adanya virus, bakteri, dan jamur yang berkembang pada vagina. Tujuan penelitian ini ialah untuk melakukan analisis hubungan pengetahuan vaginal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Negeri 1 Selat. Penelitian observasional dengan desain cross sectional, sampel yang terlibat pada penelitian ini sejumlah 97 siswi perempuan yang dipilih menggunakan teknik quota random sampling. Variabel penelitian ini yakni pengetahuan vaginal hygiene dan kejadian keputihan pada remaja, pengumpulan data memakai kuesioner. Analisis yang dipakai yakni analisis univariat dan bivariat memakai uji spearman rank. Diperoleh angka signifikansi atau angka probabilitas . lebih rendah dari 0,05 atau . , maka H0 ditolak yang berarti ada korelasi antara pengetahuan vaginal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja di SMA Negeri 1 Selat. Implikasi penelitian ini yaitu sekolah dapat meningkatkan upaya promosi kesehatan pada siswa untuk meningkatkan wawasan terkait pentingnya kesehatan reproduksi untuk mencegah terjadinya keputihan melalui vaginal hygiene. Kata kunci: keputihan, pengetahuan, remaja, vaginal hygiene ABSTRACT Reproductive health is the complete physical, mental, and social well-being without the presence of diseases or problems related to the reproductive system and its functions. Vaginal discharge is one of the reproductive health issues and is divided into two types: physiological and pathological discharge. Physiological discharge occurs due to the body's natural processes, while pathological discharge is triggered by viruses, bacteria, and fungi developing in the vagina. The aim of this study is to analyze the relationship between knowledge of vaginal hygiene and the occurrence of vaginal discharge among female adolescents at SMA Negeri 1 Selat. This observational study uses a cross-sectional design, involving a sample of 97 female students selected using quota random sampling technique. The variables in this study are knowledge of vaginal hygiene and the occurrence of vaginal discharge among adolescents, with data collected using questionnaires. The analysis used is univariate and bivariate analysis with the Spearman rank test. The obtained sig value or probability value . is lower than 0,05 or . , indicating that H0 is rejected, which means there is a correlation between knowledge of vaginal hygiene and the occurrence of vaginal discharge among adolescents at SMA Negeri 1 Selat. The implication of this study is that the school can enhance health promotion efforts among students to increase awareness about the importance of reproductive health to prevent vaginal discharge through proper vaginal Keywords: knowledge, teenagers, vaginal discharge, vaginal hygiene Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Remaja ialah masa perubahan dari anak-anak Berdasarkan pengelompokan World Health Organization (WHO), pada konteks ini rentang usia remaja ialah dari rentang usia 10 tahun hingga 24 tahun (Musturoh & Nauri, 2. Periode remaja merupakan waktu dimana seseorang tumbuh dan berkembang dari masa kanak-kanak yang belum matang ke usia dewasa. Periode remaja ialah masa peralihan dari segi Pada fase remaja tentunya akan sering mengalami masalah kesehatan, salah satunya masalah kesehatan pada organ reproduksi yang sering dialami dan beresiko pada remaja putri ialah keputihan (Pradnyandari. Surya,& Aryana, 2. Keputihan merupakan kondisi vagina yang memproduksi lendir atau cairan pertumbuhan bakteri dan jamur. Selain itu, keputihan juga dapat menyebabkan rasa yang tidak nyaman seperti adanya gatal pada area vagina, bau tidak sedap, dan timbul warna kekuningan atau kehijauan dan akan membuat rasa tidak nyaman pada Keputihan bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni keputihan fisiologis dan patologis (Bagus & Aryana. Ciri-ciri keputihan fisiologis, yakni pengeluaran cairan yang warnanya bening, tidak berlebihan, tidak berbau, serta tidak memunculkan rasa gatal atau perih. Sementara keputihan patologis memiliki karakteristik jumlah sekret yang banyak dan memiliki warna putih mirip susu basi, kuning / kehijauan, gatal, perih, dan diikuti bau amis atau busuk. Warna keputihan berbeda sesuai dengan penyebab keputihan tersebut (Marhaeni, 2. Data yang didapatkan WHO tahun 2018 mengungkapkan 75% perempuan di dunia akan mengalami keputihan patologis sedikitnya satu kali seumur hidup dan 45% merasakan dua kali atau lebih. Sekitar 90% Indonesia keputihan sebab Indonesia yang berada pada kawasan tropis (Anggarini, 2. Angka keputihan pada wanita di Indonesia Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 sebagaimana yang tercatat di tahun 2021 (Melina, 2. Berdasarkan data dari Dinkes Provinsi Bali menunjukan, total kasus IMS (Infeksi Menular Seksua. dengan gejala keputihan pada tahun 2018 paling banyak terjadi di kota Denpasar dengan jumlah 477 kasus. Faktor internal penyebab keputihan meliputi bakteri, virus, jamur, parasit, maupun vagina yang kurang bersih. Kebiasaan jarang mengganti pakaian dalam atau juga pembalut pada saat menstruasi, dan bisa juga disebabkan karena perawatan saat menstruasi yang kurang bersih. Selain itu, pemakaian celana dalam yang tidak menyerap keringat dan aktivitas seksual menyebabkan keputihan (Astuti. Wiyono, & Candrawati, 2. Salah satu faktor internal adalah perilaku personal hygiene yang minim di area genitalia yang dapat menimbulkan kuman penyakit berkembang biak dengan cepat di area genitalia wanita (Indriyani. Faktor eksternal yang berisiko pemakaian benda asing secara sengaja maupun tidak di area vagina, penggunaan KB, pemakaian pantyliner, kondisi daerah sekitar vagina yang lembab, serta terkontaminasi oleh bakteri (Marlina. Keputihan fisiologis dan patologis pada wanita memiliki beberapa dampak yang kemungkinan akan terjadi, keputihan fisiologis bisa berakibat munculnya rasa tidak nyaman ke wanita karenanya dapat memberikan pengaruh kepercayaan diri dari individu yang mengalami keputihan. Keputihan patologis yang terus berlangsung akan membuat terganggunya fungsi organ reproduksi wanita, khususnya di bagian tuba falopi. Jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik, maka akan berakibat pada timbulnya penyakit kanker dinding rahim dan kanker serviks (Marhaeni, 2. Keputihan yang terjadi umumnya disebabkan kurangnya kesadaran wanita dalam memperhatikan kesehatan dan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 kebersihan organ reproduksi khususnya Kondisi keputihan sejenis ini dapat diantisipasi dengan memiliki pengetahuan yang baik. Pengetahuan adalah sebuah hal yang penting terkait pembentukan perilaku dari individu (Novriyanthi, 2. Berdasarkan data dari BKKBN, didapatkan bahwa reproduksi masih minim. Berdasarkan data statistik Indonesia dari 43,3 juta remaja yang usianya 15-24 tahun, memiliki perilaku tidak sehat saat vaginal hygiene dan masih banyak remaja yang kurang mengetahui perihal cara melakukan vaginal hygiene dengan benar serta bagaimana perawatan vagina pada saat menstruasi. Hal itu juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya keputihan (Sari, 2. Pengetahuan vaginal hygiene yang penting untuk diketahui oleh remaja putri meliputi rutin untuk mengganti celana dalam, tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat, rutin untuk mengganti pembalut pada saat menstruasi, serta mencuci area vagina setelah BAB/BAK dengan baik dari arah depan ke belakang (Astuti, 2. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi individu untuk memiliki kesadaran terhadap hygiene yang baik, seperti adanya kesibukan aktivitas individu tersebut sehingga kurang memperhatikan bagaimana cara merawat area sensitif mereka. Jika perilaku vaginal METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Selat pada bulan Juli 2024. Variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan vaginal hygiene dan Populasi yakni siswa kelas X SMA Negeri 1 Selat sebanyak 97 Teknik sampling menggunakan probability sampling dengan pengambilan sampel melalui teknik quota random Pengumpulan data menggunakan Kuesioner yang digunakan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 menyebabkan terjadinya infeksi pada vagina, salah satunya keputihan (Sari. Hasil studi pendahuluan yang sudah dilakukan dengan mewawancarai beberapa remaja putri di SMA Negeri 1 Selat, didapatkan kalau mereka belum pernah keputihan, baik dari puskesmas maupun dari pihak sekolah. Beberapa dari remaja tersebut menilai keputihan adalah hal yang wajar bagi perempuan, dan dari para siswi juga tidak terlalu memperhatikan dan memahami terkait kebersihan vaginal hygiene terutama pada saat menstruasi Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, ditemukan masih terdapat pengetahuan vaginal hygiene dengan Oleh sebab itu, peneliti ingin meneliti dengan lokasi yang berbeda, yaitu di SMA Negeri 1 Selat. Sekolah ini dipilih karena lokasinya berada di pedesaan dan di sekolah tersebut belum pernah dilakukan penyuluhan maupun pemberian infomasi mengenai vaginal hygiene dan keputihan. Siswi di sekolah tersebut akan memiliki karakteristik individu yang berbeda dari adalah kuesioner pengetahuan vaginal hygiene dan kuesioner kejadian keputihan. Penyebaran kuesioner terdiri dari penjelasan penelitian, penyebaran informed consent. Kuesioner pengetahuan vaginal hygiene terdiri dari 10 pernyataan yang tersusun dari 8 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif, serta pada kuesioner kejadian keputihan terdiri dari 10 pernyataan. pernyataan keputihan fisiologis dan 5 pernyataan keputihan patologis. Kuesioner yang digunakan merupakan adopsi dari peneliti sebelumnya (Mega, 2. serta telah dikembangkan dan dimodifikasi oleh peneliti sesuai tujuan penelitian. Kuesioner yang digunakan sudah diuji validitas dan reliabilitas dengan nilai r . ,428 Ae 0,. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Penyajian data dalam hygiene dan kejadian keputihan. Penelitian ini sudah memperoleh persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran 1614/UN14. VII. 14/LT/2024. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Tendensi Sentral Usia Responden . Variabel Mean A SD Usia 15,95 A 0,054 Minimum - Maksimum 15- 17 Berdasarkan Tabel 1 memperlihatkan bahwa usia termuda responden adalah 15 tahun dan usia tertua adalah 17 tahun. Hal ini menunjukan bahwa responden penelitian berada pada rentang usia remaja tengah hingga remaja akhir. Tabel 2. Kategori Pengetahuan Vaginal Hygiene . Kategori Pengetahuan Frekuensi . Baik Cukup Kurang Total Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan vaginal hygiene dalam kategori baik, yaitu sebanyak 73 responden . ,3%). Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja putri dalam penelitian ini telah memiliki pemahaman yang baik mengenai vaginal hygiene. Tabel 3. Kategori Keputihan pada Responden . Kategori Keputihan Frekuensi . Fisiologis Patologis Total Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa sebagian besar responden mengalami Persentase (%) Persentase (%) keputihan fisiologis, yaitu sebanyak 86 responden . ,7%). Tabel 4. Hubungan Pengetahuan Vaginal Hygiene dengan Kejadian Keputihan Responden . Variabel Nilai p Nilai r Pengetahuan Vaginal Hygiene 0,000 0,633 Kejadian Keputihan Berdasarkan Tabel 4 diperoleh informasi jika nilai p = 0,000 (<0,. yang maknanya terdapat korelasi yang signifikan pengetahuan dengan keputihan secara fisiologis. Hasil uji statistik juga menunjukan nilai r = 0,633 yang berarti bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri di SMA Negeri 1 Selat memiliki tingkat pengetahuan vaginal hygiene yang baik, yaitu sebesar 75,3%. Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden telah memahami Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 tergolong cukup kuat dengan arah korelasi Hal ini berarti bahwa semakin baik tingkat pengetahuan vaginal hygiene, maka semakin besar kemungkinan responden mengalami keputihan fisiologis dan semakin kecil risiko terjadinya keputihan konsep dasar kebersihan organ reproduksi perempuan serta pentingnya penerapan perilaku vaginal hygiene dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat pengetahuan yang baik tersebut berkontribusi terhadap tingginya kejadian keputihan fisiologis yang dialami Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 oleh responden. Pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang berperan penting dalam membentuk sikap dan perilaku kesehatan seseorang. Pengetahuan diperoleh melalui proses penginderaan terhadap suatu objek yang kemudian diolah menjadi Sumber pengetahuan dapat berasal dari pendidikan formal, media massa, pengalaman pribadi, maupun lingkungan sosial. Pengetahuan yang telah dipahami dengan baik akan memengaruhi cara individu dalam mengambil keputusan dan bertindak, termasuk dalam menjaga kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan responden dalam penelitian ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, tingkat pendidikan, lingkungan sosial, dan budaya. Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan yang baik pada responden dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari, lingkungan sosial, serta informasi kesehatan reproduksi yang telah diperoleh di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) dan sosialisasi kesehatan reproduksi. Selain itu, responden sebelumnya juga telah memperoleh materi mengenai kesehatan reproduksi pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di jenjang Sekolah Menengah Pertama Kurikulum 2013 (Kemdikbud, 2. Di era digital saat ini, akses informasi melalui telepon pintar juga turut berperan dalam mengenai kesehatan reproduksi. Pengetahuan yang baik mengenai vaginal hygiene dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan reproduksi remaja putri. Dengan memiliki pengetahuan yang memadai, risiko terjadinya masalah kesehatan reproduksi, khususnya keputihan patologis, dapat diminimalkan. Keputihan merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, upaya menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius, seperti infeksi saluran kemih dan kanker serviks. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 97 responden, sebanyak 88,7 % mengalami keputihan fisiologis, sedangkan 11,3 % mengalami keputihan patologis. Tingginya persentase keputihan fisiologis pada responden diduga berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku vaginal hygiene yang sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari mayoritas responden yang memiliki pengetahuan serta perilaku menjaga kebersihan area kewanitaan dengan Namun demikian, masih ditemukan beberapa responden yang menggunakan sabun antiseptik khusus wanita setiap hari. Penggunaan sabun antiseptik secara keseimbangan pH vagina, sehingga kesehatan pada area kewanitaan, termasuk keputihan (Kusmiran, 2. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, salah satunya masalah kesehatan Keputihan merupakan keluhan yang sering dialami oleh remaja putri (Sri. Keputihan dibedakan menjadi Keputihan fisiologis merupakan kondisi normal yang terjadi sebagai respons alami tubuh, biasanya muncul sebelum dan sesudah menstruasi, tidak berbau, serta berwarna putih atau bening. Sebaliknya, keputihan patologis disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur pada area vagina, yang ditandai dengan bau tidak sedap, perubahan warna, serta rasa tidak nyaman. Kurangnya pemahaman mengenai keputihan masih menjadi permasalahan di masyarakat. Banyak remaja putri yang menganggap keputihan sebagai hal yang wajar dan tidak memerlukan penanganan khusus. Selain itu, rasa malu sering kali menjadi faktor berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Padahal, keputihan yang tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti infertilitas, infeksi, hingga kanker serviks yang berpotensi menyebabkan kematian. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Hasil penelitian menunjukkan adanya pengetahuan vaginal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri, dengan tingkat keeratan hubungan yang cukup kuat dan arah korelasi positif. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ririn dan Nurlama . , yang menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan vaginal dengan kejadian keputihan fisiologis pada remaja putri di SMA Swasta Pencawan Medan. Semakin tinggi tingkat pengetahuan vaginal hygiene, maka semakin rendah risiko terjadinya keputihan Penelitian serupa juga dilakukan oleh Astuti . di PSIK UNITRI Malang yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan vaginal hygiene dan kejadian keputihan fisiologis. Pengetahuan yang dimiliki remaja putri mengenai perubahan yang terjadi pada tubuhnya dapat membantu mereka dalam menghadapi permasalahan kesehatan secara lebih tenang dan rasional. Dengan pengetahuan yang memadai, remaja cenderung memahami bahwa perubahan tertentu merupakan proses yang normal. Pengetahuan vaginal hygiene merupakan salah satu faktor penting dalam pencegahan Remaja putri yang memiliki pengetahuan yang baik akan memahami cara menjaga kebersihan organ reproduksi secara benar, sehingga risiko terjadinya Sebaliknya, remaja dengan pengetahuan yang kurang mengenai vaginal hygiene cenderung memiliki perilaku yang tidak tepat dalam menjaga kebersihan area Kurangnya informasi dapat menyebabkan rendahnya kesadaran akan pentingnya menjaga vaginal hygiene. Tanpa pengetahuan yang memadai, remaja tidak mampu menerapkan praktik vaginal hygiene yang benar (Violita, 2. Keputihan hingga saat ini masih menjadi masalah serius yang dialami oleh remaja putri, kejadian keputihan yang meningkat setiap tahunya masih banyak perempuan belum banyak mengetahui bahaya terjadinya keputihan sehingga mereka masih menganggap Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 keputihan merupakan hal yang wajar dan sering dianggap sesuatu yang kurang Pada dasarnya semua masalah kesehatan tidak bisa dianggap kurang penting, karena apabila keputihan itu ditangani dengan lambat maka dapat mengakibatkan dampak serius seperti terjadinya ISK, iritasi vagina, dan kanker serviks (Swajarna, 2. Setelah mengenai pengetahuan vaginal hygiene dengan kejadiaan keputihan di SMA Negeri 1 Selat didapatkan hasil bahwa ada pengetahuan vaginal hygiene terjadinya keputihan, dilihat dari hasil penelitian yaitu sebanyak 75,3% remaja memiliki pengetahuan vaginal hygiene yang baik dan diikuti sejumlah 88,7% remaja putri yang mengalami keputihan Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan yang baik mengenai vaginal hygiene akan membentuk perilaku positif Sebaliknya, pengetahuan akan menyebabkan individu tidak mampu menerapkan praktik vaginal hygiene yang benar karena tidak memiliki dasar pemahaman yang memadai. SIMPULAN Berdasarkan karakteristik responden didapatkan hasil bahwa rata-rata usia responden adalah 16 tahun, dengan usia paling muda yaitu 15 tahun dan usia tertua 17 tahun. Data pengetahuan vaginal hygiene responden, didapatkan hasil sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik . ,3%). Data kejadian keputihan didapatkan hasil 88,7% responden mengalami keputihan fisiologis dan 11,3% responden menderita keputihan Terdapat pengetahuan vaginal hygiene dengan adanya keputihan pada remaja putri di SMA Negeri 1 Selat. DAFTAR PUSTAKA