Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) https://ejournal. id/index. php/aijis PENDIDIKAN RUMAH TANGGA MENURUT ABDULHAMID ABUSULAYMAN Ahmad Nabil Amir1*. Tasnim Abdul Rahman2 1Former Associate Research Fellow. International Institute of Islamic Thought and Civilization. Kuala Lumpur. Malaysia 2 Fakulti Pengajian Kontemporari Islam. Universiti Sultan Zainal Abidin. Terengganu. Malaysia Keywords: AbdulHamid AbuSulayman, extended family, ethics and adab Kata kunci: AbdulHamid AbuSulayman, institusi rumah tangga, keluarga Abstract The paper aims to highlight AbdulHamid AbuSulaymanAos . epistemological outlook of Islamic education especially in the context of religious and spiritual instruction relating to familial matters and relation. It aspires to understand the issue from contextual interpretation of the meaning of the ayah as alluded to by the practice of the salaf and the spirit of the shariah. The study is based on qualitative method by way of literature survey and content The data was analyzed using hermeneutical and philosophical approaches of Abdullah Saeed and Fazlur RahmanAos contextual and double movement framework. The finding shows critical epistemological and structural reform introduced by AbdulHamid AbuSulayman in his works on marital discord and the inviolable principle of human dignity as enshrined in the doctrines of the higher objectives of Islamic Law that presents comprehensive and coherent interpretation of the QurAoan and hadith that celebrates the dynamic context and ideal of shariah to safeguard the welfare of women and children, and transcendental humanistic and reciprocal value and uphold their right and responsibility as guaranteed by law and its manifestation in contemporary legal verdict and opinion showing sympathetic voice on their favour. It contributed to strategic educational breakthrough that uplift their untapped voice and Abstrak Kajian ini membincangkan konstruksi asas epistemologi pendidikan AbdulHamid AbuSulayman . khususnya dalam konteks kerohanian dan instruksi dalaman tentang hubungan rumah tangga. Ia bertujuan memahami persoalan kekeluargaan dan rumah tangga ini dari konteks penafsirannya yang meluas terhadap maksud ayat mengikut semangat dan kehendak asal syariat. Metode kajian bersifat kualitatif berdasarkan penelitian kepustakaan dan tinjauan Bahan dan data kajian diperoleh daripada sumber primer dan sekunder yang terkait dan dianalisis berasaskan pendekatan Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) hermeneutika, konteksual dan gerak ganda Abdullah Saeed dan Fazlur Rahman. Dapatan kajian menunjukkan pembaharuan epistemologis dan struktural yang diperkenalkan AbdulHamid AbuSulayman dalam karyanya tentang adab rumah tangga dan harga diri insan sesuai dengan doktrin maqasid dan maslahah dalam proses pendidikan rumah tangga. Hal ini dirumuskan mengikut pendekatan dan pemahaman teks al-QurAoan dan hadith yang syumul yang meraikan kemaslahatan dan kebajikan kaum wanita dan kanakkanak, dan nilai kemanusiaan dan prinsip timbal balik serta pembelaan hak dan tanggungjawab mereka yang dijamin oleh hukum dan selari dengan fatwa-fatwa syariah yang mutakhir. menyumbang kepada pembangunan modul pendidikan yang strategik yang mengangkat suara dan aspirasi mereka yang *Penulis Koresponden E-mail: nabiller2002@gmail. This is an open-access article under the CC-BY-SA license. A 2025 Author. PENDAHULUAN Perbincangan terkait isu-isu rumahtangga dan akibat yang ditimbulkan dari krisis perkahwinan dan konsekuensinya yang jelek dengan risiko-risiko perceraian banyak dikupas oleh aktivis dan pemikir Islam yang terkenal. Profesor Emeritus DatoAo Dr. AbdulHamid A. AbuSulayman . 6-18 Ogos 2. dalam penulisannya, yang dihasilkan bagi merungkai dan menangani isu-isu rumahtangga yang kompleks dalam sejarah moden berlandaskan prinsip Maqasid al-Shariah dan sudut pandang agama, tata hukum dan nilai syariah. Terdapat kesenjangan yang jelas dalam penggambaran tentang masalah ini mengikut teori dan ideal syariah yang asal. Kesalahfahaman tentang maksud daraba yang digunapakai dalam al-QurAoan yang dimaknai secara sempit telah mengabsahkan keganasan rumah tangga tanpa merujuk kepada pemahamannya yang sebenar dari pandangan tafsir dan usul yang muktabar. Menurut Nur Sahraini Wanisa . dalam kajiannya tentang semantik al-QurAoan, kata daraba dan derivasinya dalam al-QurAoan yang disebut sebanyak 58 kali dalam teks alQurAoan, tidak sepenuhnya mengindikasikan pukulan atau tindakan fizik, sebaliknya secara konsepsual membawa pemahaman relasional yang lain seperti perjalanan, perumpamaan atau ketetapan hukum dalam konteks tematis yang luas. Keterangan ini didasarkan dari pemakaian linguistiknya dalam tradisi lisannya yang muktabar dalam Lisan al-AoArab dan MuAojam Maqayis al-Lughah. Dalam sumber-sumber syiah, yang dinukilkan dalam karya hadith, rijal dan tafsirnya sebagai Mustadrak al-WasaAoil, al- Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Masalik, al-HadaAoiq. Bihar al-Anwar dan MajmaAo al-Bayan, menunjukkan pengertian alegorisnya sebagai kejengkelan, mengenyampingkan, atau dengan maksud bercanda dan Tekanan pada ayat 34 surah al-NisaAo ini ialah anjuran berdamai . , menawarkan langkah preventif perceraian seperti Aoizah . , hajr . eninggalkan tempat tidur atau menggauliny. dan darb . emukul yang juga diertikan dengan bergerak, berlalu, mendirikan, mencampur, bepergian, mewajibkan, merosakkan, hubungan dan menaha. dan campurtangan hakam sebagai solusi yang praktis. Kenyataan ini turut didukung oleh kajian-kajian terkini oleh Anisa Agustini . Bakti Nasution . Mubasirun et al. dan Fitrotul Maulidina et al. tentang teori daraba, nusyuz, dialektika nas dalam relasi suami isteri dan qiraah mubadalah . ubungan timbal balik dan kesalinga. yang relevan dengan nilai semasa dan manfaatnya yang instruktif dan menyeluruh dalam kehidupan dan pemecahan masalah rumah tangga. Yang mutakhir adalah buku AbdulHamid A. AbuSulayman yang ringkas AuMarital Discord: Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic LawAy . [Perselisihan Rumahtangga: Merebut Kembali Semangat Islam yang Sepenuhnya tentang Harga Diri Insa. Dalam buku ini, beliau meneliti maksud dan tujuan-tujuan tertinggi syariat yang menghendaki terwujudnya struktur rumahtangga yang harmonis, dengan meninjau semula ketentuan dan kelonggaran hukum syarie yang mengharuskan untuk memukul isteri, yang menurutnya telah disalahfahami dan melanggar kehendak dan semangat hukum yang asal, dan ditindak dengan sewenang-wenang. Bukunya ini mengupas kefahaman dan manhaj yang praktis dalam menangani kekusutan rumahtangga yang dirungkai dari perspektif al-QurAoan dan al-Sunnah. menyorot aspek-aspek yang dibangunkan dari pandangan al-QurAoan tentang struktur rumahtangga, yang menekankan dasar kasih sayang yang mengikat ruh dan semangat kesefahaman dan kerukunan yang mendalam. Perbincangannya menfokuskan kepada metodologi yang praktikal dalam menangani kemusykilan rumahtangga dengan meneliti ayat-ayat al-QurAoan dan nas-nas hadith yang menggariskan manhaj yang tepat dan pentafsiran yang jelas berhubung isu-isu rumahtangga seperti perceraian, pukulan, nusyuz dan sebagainya. Tema utama yang disorot dalam buku ini adalah upaya penafsiran ulang terhadap maksud daraba . dalam al-QurAoan yang dibahaskan secara komprehensif dan Ia merujuk kepada pandangan mufassir dan fuqaha yang muktabar terkait Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) permasalahan ini dengan menggariskan kefahaman dan pesannya yang universal, yang menzahirkan ketinggian idealisme dan nilai maqAsid yang menganjurkan pembaikan . dan mengangkat karamah al-insan. Perbincangan ini membentuk pemahaman asas tentang manhaj dan citra QurAoanik yang ideal dan maqAsidnya yang sebenar dalam merungkai isu-isu rumahtangga dalam bingkai hukum dan syariat. Merujuk pada perbincangan lepas, terdapat sejumlah penulisan yang mengupas idealisme yang dikembangkan oleh AbdulHamid AbuSulayman tentang nilai pendidikan, institusi rumah tangga dan maqasidnya. Ini dihuraikan oleh Belayat Hossen dan Mizanur Rahman . dalam artikel mereka yang mendalam tentang kekuatan buku Marital Discord Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic Law yang menampilkan perdebatan yang perseptif tentang hukum memukul isteri, dan langkah-langkah untuk menormalisasi hubungan keluarga. Dalam aspek yang lain. Imad ad-Dean Ahmad . menulis obituari tentang legasi AbuSulayman dalam pembaharuan intelektual, dan bidang-bidang yang dekat dengan pemikirannya. Ia membawakan sorotan ilmiah tentang karya-karyanya yang berpengaruh dan impaknya terhadap pemikiran Islam dan para pemikirnya, dan menjelaskan tentang falsafah dan harakat intelektual yang dikembangkannya dalam konteks klasikal, tradisional dan moden. Selain itu adalah memoir yang ditulis oleh Anwar Ibrahim . , mengenangkan persahabatan, sumbangan dan perjuangannya dalam mengangkat martabat dan harakat ummah dan membawa misi pendidikan Islam yang moden dan progresif. Penulisan lain banyak meninjau tema-tema asas pemikirannya dan relevansinya dengan konteks semasa, merangkumi aspek nilai, kemasyarakatan, ekonomi, moral, legalisasi, etika dan polisi pendidikan yang holistik, yang dibawakan oleh Nurizal Ismail & Siti Aisyah . Muhammad Mumtaz Ali . Abdelaziz Berghout . dan Nurul Ain Norman . Justeru kajian ini bermaksud meneliti tema-tema pemikiran AbdulHamid AbuSulayman yang fleksibel dan inovatif terkait konsep dan definisi daraba dalam alQurAoan dan pemanjangan ideanya dalam konteks kemasyarakatan yang luas yang menghargai nilai-nilai kesalingan dan timbal balik dalam al-QurAoan . iraah mubadala. dan simpatik yang mengarusutamakan peranan gender yang sentral dan dinamis. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) METODE PENELITIAN Metode kajian bersifat kualitatif-fenomenal dari jenis studi kepustakaan dan analisis isi. Ia menerapkan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu, tematik al-Farmawi, hermeneutika Gadamer dan kontekstualisasi Abdullah Saeed dan Double Movement Fazlur Rahman bagi menguji korelasi idea dan kritiknya dalam horizon teks. Sumber data diperoleh daripada bahan primer dan sekunder yang terkait yang menunjang topik Materi dan literatur klasik ini diolah secara deskriptif, empiris, analitis, dan historis bagi merumuskan penemuan dan dapatan akhir dan mencerap konteks historis dan moral universalnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan tentang teori pendidikan AbdulHamid AbuSulayman disorot dalam bahagian ini khasnya mengenai konsep dan teorinya tentang pendidikan rumahtangga. Ini meliputi tinjauan terkait intisari pemikiran dan doktrin serta pemandangannya yang holistik yang dirumuskan dalam penulisannya yang prolifik seperti Islamization of Knowledge. Crisis of the Muslim Mind dan Marital Discord Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic Law yang mencakup pembahasanpembahasan penting terkait isu-isu pendidikan yang substantif dan ensiklopedik. Ini digambarkan dari pemahamannya yang meluas terhadap ayat-ayat al-QurAoan dan hadith dan dikembangkan dari upaya penafsirannya yang mutakhir dan kontekstual. Prof. Emeritus DatoAo Dr. AbdulHamid A. AbuSulayman adalah mantan Presiden Institut Pemikiran Islam Antarabangsa . T) Amerika Syarikat (USA). Presiden Yayasan Pembangunan Kanak-Kanak. USA. dan mantan Rektor Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (IIUM) . 8/1989-1. Beliau juga adalah penulis berbagai karya termasuk: The Islamic Theory of International Relations: New Directions for Islamic Methodology and Thought . [Teori Islam tentang Hubungan Antarabangsa: Arah Baru bagi Metode dan Pemikiran Isla. engan terjemahannya dalam bahasa Arab dan Urd. Crisis in the Muslim Mind . [Krisis Pemikiran Musli. Revitalizing Higher Education in the Muslim World . [Memperkasa Pendidikan Tinggi di Dunia Isla. serta beberapa buah buku dan makalah dalam bahasa Arab. AbuSulayman juga telah menyampaikan banyak kertas kerja dan syarahan dan berperanan penting dalam menganjurkan banyak simposium, konferen dan seminar antarabangsa. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Dilahirkan di Mekah pada 1355 H/1936, beliau merupakan pemikir Islam yang terkemuka pada abad ke-20 dan tokoh utama dalam gerakan Islamisasi ilmu. Memperoleh Ijazah Dasar (BA) nya dalam bidang Perniagaan, di Universiti Kaherah, pada 1378 H/1959 M. Kemudiannya menyambung ke peringkat Sarjana (MA) dalam Sains Politik, di Universiti Kaherah, pada 1381 H /1963 M. , seterusnya meraih Ijazah Doktor Falsafah (PhD) nya dalam Hubungan Antarabangsa, dari Universiti Pennsylvania, 1398 H /1973 M dengan tesisnya yang bertajuk Towards an Islamic Theory of International Relations: New Directions for Islamic Methodology and Thought. Memulakan kerjaya singkatnya dalam pentabiran sebagai Setiausaha. Jawatankuasa Perancangan Negara. Arab Saudi, 1383-1384 H/1963-1964 M, sebelum dilantik menjadi Pengarah. Jabatan Sains Politik di King Saud University. Riyad. Arab Saudi, 1402-1404 H /1982-1984 M. Dr. AbuSulayman merupakan Pengasas bersama Pertubuhan Sains Sosial Islam (AMSS), 1392 H /1972 M, dan mantan Presidennya, 1405-1407 H /1985-1987 M. Setiausaha Agung Himpunan Belia Islam Sedunia (WAMY), 1393-1399 H /1973- 1979 , dan menggalas portfolio penting sebagai Pengerusi Majlis Pengarah. Lembaga Pemegang Amanah, mantan Presiden, dan anggota Pengasas Institut Pemikiran Islam Antarabangsa . T). Merupakan pengarang beberapa buah artikel dan buku tentang pembaharuan ummah. Antaranya termasuklah The Islamic Theory of International Relations: New Directions for Islamic Methodology and Thought [Teori Islam tentang Hubungan Antarabangsa: Arah Baru bagi Metodologi dan Pemikiran Isla. Azmat al AoAql al Muslim . ahasa Ara. [Krisis dalam Pemikiran Musli. , dan The Islamic Theory of Economics: Philosophy and Contemporary Means [Teori Islam tentang Ekonomi: Falsafah dan Kaedah Semas. Karya seminalnya yang berjudul Crisis in the Muslim Mind atau tajuk asalnya Azmat al-AoAql al-Muslim . engan terjemahan Inggerisnya oleh Yusuf DeLorenz. mengupas tentang kegawatan pemikiran dan intelektual dan kebobrokan moral dan kenaifan budaya yang menjadi inti perbincangannya yang mendasar. Analisisnya tentang kelesuan budaya dan moral ini menjurus kepada permasalahan pokok dari krisis pemikiran dan intelek yang dicanangkan sebagai punca dari kepincangan budaya dan moral yang masif ini. Penyelesaiannya digarap dengan jelas dengan menggariskan kefahaman tentang falsafah, epistemologi dan metodologi pemikiran Islam yang ideal yang berakar dari faham tauhid dan nilai moral yang universal dan dinamik. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) AbuSulayman turut merumuskan strategi yang signifikan bagi menggembleng semula kekuatan dan mereformasi sistem pendidikan dan memugar idealisme Islam. Kekuatan ruh dan fikrah Islamiyah maknawiyah yang dipugar ini yang dapat mencetuskan pembaharuan dalam pandangan dan kefahaman Islam yang berakar . dari idealisme al-QurAoan dan al-Sunnah, dan pandangan dunianya yang konstruktif. Hal ini cuba diangkat dalam banyak karyanya yang lain bagi merekonstruksi semula pemikiran dan meneruskan kelangsungan dakwah Islam di abad moden. Pembahasan terkait dengan prinsip dan faham pendidikan khasnya dalam konstruksi rumah tangga dan perbandingannya dengan teori lain yang terkait dibawakan oleh AbdulHamid AbuSulayman dalam bukunya Marital Discord Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic Law di mana pengarang menyorot isu yang rumit tentang perselisihan rumahtangga dan AupenderaanAy . ke atas isteri dengan penghargaan yang mendalam terhadap kedudukan dan status wanita. Beliau mencabar kekeliruan sejarah dan semasa bersabit perdebatan tentang idribuhunna yang telah sebahagian besarnya menggelapkan sebarang penafsiran yang bermakna terhadap ayat 4:34 dari al-QurAoan, selain daripada hak suami untuk menggunakan pendisiplinan fizikal ke atas isteri yang AudurhakaAy. Teorinya didasarkan pada prinsip yang terkandung dalam falsafah maqAsid alsharAoah . bjektif dan matlamat tertinggi hukum Isla. yang membentuk kesimpulannya terkait penafsiran kata kerja daraba, merumuskan ke arah merealisasi kesejahteraan, harga diri dan kehormatan manusia. Dalilnya adalah berbagai penggunaan daripada kata kerja yang sama dalam sejumlah konteks yang lain di dalam al-QurAoan sendiri, tindak tanduk Nabi Muhammad . dan semangat daripada pesan al-QurAoan. Menurutnya, penting untuk diperhalusi makna dari kata kerja daraba, yang membawa pelbagai maksud, sebagaimana beliau dengan berhasil tayangkan, yang berbeza secara meluas bergantung kepada situasi dan kandungan daripada kata kerja di mana ia diungkapkan. Mengingat tujuan dan prinsip Islam yang tertinggi . aqAsi. dari kasih sayang dan kecintaan dalam perkahwinan, ia menjelaskan bahawa penggunaan akar da ra ba dari kata kerja itu dengan maksud memukul, menumbuk, atau sebarang bentuk AupenderaanAy, adalah mengambilnya di luar tujuannya dan bagi menyalahgunakannya. Penderaan fizikal, atau bahasa yang kasar, ataupun penderaan lisan, adalah praktik yang tidak diterima dalam Islam. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Beliau mempertahankan bahawa keganasan rumahtangga dan penindasan lelaki yang lazim tidak ada hubungannya dengan ajaran al-QurAoan, atau perbuatan Nabi Muhammad . , sebaliknya menunjukkan kepada pemeliharaan unit keluarga dan hubungan kemanusiaan sebagai kepentingan yang utama, khususnya tatkala melibatkan anak-anak. Impak yang negatif dari sebarang bentuk keganasan antara pasangan terhadap anak-anak kini dengan meluas didokumentasikan dan memberi dukungan kepada hujah bahawa tindakan harus memfokuskan ke arah merealisasikan semangat Islam yang sebenar dari harga diri insan bagi semua anggota keluarga. Ini ditekankan dalam banyak ayat al-QurAoan, dan dalam perbuatan Nabi . sendiri, di mana beliau membincangkan secara spesifik dalam kes ini hubungan Baginda . sendiri dengan isteri-isterinya. Menurutnya, ayat 4:34 secara tak langsung meletakkan tanggungjawab ke atas lelaki untuk mempertahankan keharmonian pernikahan dan meleraikan sebarang pertelingkahan rumahtangga. Ini kemungkinan disebabkan garis pembukaannya menanggapi lelaki sebagai qawwAmn. Perkataan ini, yang berasal dari akar qa wa ma, menurutnya telah diterjemahkan dalam pelbagai cara ke dalam bahasa Inggeris, dari Aupenjagaan,Ay Autanggungjawab dan dukungan,Ay kepada Auperlindungan,Ay Aukuasa,Ay Aubertanggungjawab. Ay Mengingat konteks di mana lelaki justeru ditempatkan dalam ayat tersebut, ianya beralasan yang mereka disarankan untuk mempertahankan keharmonian. Meskipun demikian, ini tidak bermaksud untuk mengatakan yang wanitalah satusatunya sumber dari permasalahan rumahtangga atau lelakilah satu-satunya untuk Bahkan ayat 4:34 harus dibaca dalam hubungannya dengan ayat 4:128, dalam surah yang sama, yang merujuk kepada bagaimana untuk menangani layanan-jelek AuDan jika seorang wanita mempunyai alasan untuk khuatir layanan-jelek dari suaminya, atau bahawa dia mungkin berpaling darinya, tidaklah salah bagi keduanya untuk menegakkan perkara secara damai kepada perbaikan antara mereka: kerana perdamaian adalah yang terbaik, dan keegoan diri sentiasa-ada dalam jiwa manusia. Tetapi jika kamu berbuat baik dan sedar padaNya Ae perhatikanlah. Tuhan sesungguhnya menyedari tentang semua yang kamu lakukan. Ay . Kata kerja nushz, yang wujud dalam kedua-dua ayat . :34. dan bermaksud aksi dari kehendak-jelek/layanan-jelek yang dilakukan oleh mana-mana pihak, baik suami atau isteri, juga mempunyai hubungan dalam tesis AbuSulayman. Bagi wanita Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) perkataan nushz ini lazimnya diterjemahkan sebagai lebih keras Auderhaka/berontak,Ay berlawanan dengan terjemahan yang jauh lebih halus bagi lelaki sebagai Aupengasingan,Ay Aupenyisihan,Ay Aukebencian,Ay dan Aukeengganan. Ay Muhammad Asad membuat pemerhatian yang menarik pada ayat 4:34 berhubung kata kerja ini dalam tafsirnya The Message of the QurAoAn: AuIstilah nushz . akna literal. AupenderhakaanAy Ae di sini diterjemahkan sebagai Aukehendak-jele. merangkumi setiap bentuk tingkah laku isteri yang buruk yang sengaja terhadap suaminya atau dari seorang suami terhadap isterinya, termasuk apa yang hari ini digambarkan sebagai Aukekejaman mentalAy. dengan rujukan kepada suami, ia juga menunjukkan Aulayanan-jelek, dalam pemahaman fizikal, terhadap isterinya . dari srah in. Dalam konteks ini, kehendak-jelek isteri membayangkan pelanggaran yang sengaja, berterusan terhadap tanggungjawab rumahtangganya. (Muhammad Asad, 1980, h. 109, nk. Rumusannya justeru, kita seharusnya menginsafi tentang praktik budaya dan sikap berat sebelah yang mempunyai hubungannya dengan penafsiran, atau terjemahan, pada ayat-ayat al-QurAoan. Buku AbuSulayman adalah contoh yang terunggul dari pendekatan dan metodologi yang tersuluh dalam pemahaman dan penafsiran ayat al-QurAoan yang sulit, berasaskan sarana-sarana maqAsid dalam menarik kesimpulan ke arah mempertahankan kehormatan, harga diri dan kesejahteraan, yang dilandasi dengan pemahaman yang substantif terhadap tujuan-tujuan tertinggi hukum Islam. Hikmah dan Kebijaksanaan Hukum dan Maqasid Menurut Katherine Bullock . dalam kata pengantarnya kepada buku Marital Discord: Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic Law, metodologi yang digunakan oleh Dr. AbuSulayman adalah untuk meneliti tabiat permasalahan, menyelidiki konteks dan mencapai kefahaman yang objektif berdasarkan matlamat-matlamat Wahyu Ilahi dan Sunnah Nabi Muhammad . Beliau melihat isu perselisihan rumahtangga dengan sensitiviti yang mendalam pada perspektif wanita, sikap yang agak menyegarkan dan, malah, kerap terlepas pandang dalam karya-karya tentang kewanitaan yang ditulis oleh lelaki. Dr. AbuSulayman menangani isu yang krusial ini dengan wawasannya yang khas. Beliau sangat mengesyorkannya kepada sesiapa jua yang berhasrat untuk mendalami ajaran al-QurAoan tentang hubungan suami-isteri dalam Islam. Di mana terdapat banyak cara yang berbeza dalam pembacaan al-QurAoan, dari pandangan misoginistik kepada Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Karya ini melanjutkan perdebatan ke depan dengan memperkenalkan tafsiran alternatif ke atas teks al-QurAoan. Penjelasannya segar dan kuat yang memihak kepada pembelaan hak kemanusiaan wanita. Antara isi dan perhatian pokoknya ialah pembahasan tentang intisari syariat di mana ia berusaha memberikan tafsiran alternatif ke atas teks al-QurAoan, dengan penjelasannya yang segar dan kuat yang memihak kepada pembelaan hak asasi wanita. Mungkin tidak semua yang bersetuju dengan kesimpulannya, namun, sebagaimana yang ditunjukkan AbuSulayman, malah menurut catatan tradisional, al-QurAoan tidak merestui keganasan rumahtangga. Kerananya tidak seorang dapat menyangkal seruannya kepada suami dan isteri untuk menangani perselisihan rumahtangga dengan cara yang mahabbah, mahupun menafikan tujuannya yang terpuji ke arah keluarga Islam yang berasaskan nilai-nilai al-QurAoan tentang harga diri insan, kasih sayang, bertimbang rasa, dan di atas kesucian dan maruah hidup manusia. Menurutnya, isu AupenderaanAy wanita ini mempunyai makna yang kritikal, yang menuntut pengamatan yang dekat dan teliti serta penilaian semula yang komprehensif dalam konteks Islam, menyedari tentang realiti masyarakat kontemporer yang berbeza dengan period awal kehidupan wanita Islam yang terbatas kebebasannya. Jelasnya isu ini tidak hanya memberi kesan pada hubungan suami-isteri . an yang lain yang terlibat dalam isu tersebu. tetapi juga pada kehidupan keluarga, secara umum. AbuSulayman menekankan landas yang membangunkan hubungan kekeluargaan dalam Islam, yang pada umumnya tertegak di atas konsep Aukeheningan, kasih sayang dan belas kasihanAy, yang nilainya terangkum dalam riwayat hadith, seperti: Auyang terbaik di kalangan orang beriman adalah yang terbaik akhlaknya dan yang terbaik di antaramu adalah yang terbaik terhadap isterinya. Ay Praktik sunnah juga merakamkan bahawa Nabi . dengan kuat menyelar suami yang memukul isterinya: AuSeseorang darimu tegar memukul isterinya sebagai hamba dan tidak malu untuk terus menidurinya. Ay (AuBukhAr,Ay jil. 6, h. Baginda . juga bersabda Aubegitu banyak wanita yang datang kepada keluarga Muhammad . oleh suami mereka, dan kalangan itu bukanlah yang terbaik di Ay (Ab Dawd,Ay jil. 8, no. 2146, h. Nabi . sendiri menetapkan contoh yang terbaik tentang kecintaan, belas kasihan, maruah, dan kebajikan: AuBaginda . tidak pernah memanjangkan tanganya untuk mencederakan wanita, atau hamba atau sesiapa pun yang lainAAy (Muslim,Ay vol. 2, no. 2328, h. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Dalam pemeriksaannya terhadap keterangan al-QurAoan yang merujuk kepada isu AupenderaanAy ayat-ayat suci itu turut membawakan nada dan pemahaman yang sama: Aulelaki adalah pelindung dan pemelihara wanita, kerana Tuhan telah melebihkan yang satu dari yang lain, dan kerana nafkah yang mereka berikan dari sarana mereka sendiri. Dan wanita yang beriman adalah yang benar-benar taat, yang memelihara keintiman yang Tuhan telah . erintahkan untu. Dan tentang wanita yang kehendakjeleknya menjadikan alasan untuk kamu merasa khuatir, nasihati mereka . kemudian jauhi mereka dari tempat tidur. kemudian pukullah mereka. dan jika kemudian mereka tunduk kepada kamu, jangan mencari jalan untuk menyakiti mereka. Perhatikanlah. Sesungguhnya Tuhan Maha Tinggi dan Maha Besar! Jika kamu khuatir keretakan antara kedua mereka, lantiklah dua pendamai: seorang dari keluarganya . dan seorang lagi dari keluarganya . jika mereka menginginkan perbaikan. Tuhan akan menjadikan jalan untuk mereka berbaik kembali: kerana Tuhan meliputi pengetahuanNya, dan . mengetahui tentang semua benda. :34-. Pemahamannya cuba dikembangkan oleh AbuSulayman dengan mengaitkan penafsirannya berasaskan kepada ayat-ayat al-QurAoan yang lain yang berkaitan, seperti: AuWahai manusia! Sedarlah pada Tuhan-Pemeliharamu, yang telah menciptakan kamu daripada jiwa yang satu, dan menciptakan . aripada kejadian yang sam. pasangannya, dan daripada keduanya menyebar keturunan yang banyak daripada lelaki dan wanita. agungkanlah Tuhan melalui Siapa kamu menuntut . ak sesamam. , dan junjunglah rahim . ang mengandung dan melahirkanm. : kerana Tuhan sentiasa memerhatikan Ay . AuDan antara tanda-tandaNya adalah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri, supaya kamu dapat tinggal dengan tenteram kepada mereka, dan Dia menimbulkan kasih sayang dan kecintaan antara kamu: sesungguhnya dalam itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang merenungkanAy. AuApabila kamu menceraikan wanita, dan mereka memenuhi tempoh Aoiddah . empoh menungg. mereka sama ada rujuk mereka semula secara saksama atau lepaskan mereka secara saksama. tetapi jangan mengambil mereka semula untuk menyakiti mereka, atau untuk mengambil keuntungan yang tak pantas. jika seseorang melakukannya, dia menzalimi jiwanya sendiri. Jangan mengambil ayat-ayat Tuhan sebagai persendaan, tetapi dengan tulus raikan limpah kurnia Tuhan kepadamu, dan bahawa Dia menurunkan kepadamu Kitab [Wahy. dan Hikmah [Kenabia. sebagai Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) petunjukmu, dan bertakwalah kepada Tuhan, dan ketahuilah bahawa Tuhan Maha Meliputi PengetahuanNya dan . menyedari tentang semua bendaAy. AuWahai kalian yang telah mencapai keimanan! Jika kamu menikahi wanita yang beriman dan kemudian menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka . alam hubungan kelami. , tiada sebarang tempoh-menunggu [Aoidda. bagi mereka yang kamu harus hitungkan ke atas mereka. maka, jelaskan sekaligus pemberian bagi mereka, dan lepaskan mereka dengan cara yang beradabAy. AuPerceraian . iizinkan hany. dua kali, setelah itu kedua-pihak itu harus sama ada tegak bersama secara saksama atau berpisah dengan bermaruah. Tidaklah sah bagimu . untuk mengambil kembali apa jua dari pemberianmu . aripada isterim. , kecuali manakala kedua-dua pihak khuatir yang mereka tidak mampu untuk mengekalkan batas yang diperintahkan oleh Tuhan . ebagai contoh, untuk melayani satu sama lain dengan Jika kamu . sesungguhnya khuatir bahawa mereka tidak mampu untuk mengekalkan batas yang diperintahkan oleh Tuhan, tiada celaan ke atas sesiapa dari mereka jika dia . melepaskan sesuatu sebagai imbalan bagi pembebasannya. Inilah batas yang diperintahkan oleh Tuhan. jangan melanggarnya. Jika sesiapa melanggar batas yang diperintahkan oleh Tuhan, orang itu menzalimi . iri mereka dan juga yang lai. Ay. Dalam upayanya menakwilkan ayat-ayat ini. AbuSulayman cuba memperhalusi dan meniliknya dari segi maqasid dan dimensi sosio-hukum yang berakar dalam tradisi dan pengalaman Islam, di mana ayat-ayat ini jelas membayangkan prinsip Islam yang kuatberakar tentang harga diri insan, kebebasan, dan tanggungjawab, status manusia sebagai khalfah . yang dipilih oleh Tuhan, dan hak yang sah dari penentuan-diri. Dalam usaha mengenalpasti faham sebenar yang dimaksudkan dari AupenderaanAy, dan tempatnya dalam hubungan keluarga, rumahtangga dan keibubapaan, dan apakah susunan rumahtangga Islam yang asli yang menopang struktur keluarga Islam, beliau berusaha menyelidik secara komprehensif tentang pelbagai dimensi dan konotasinya, bagi menilai semula seluruh persoalan dalam segi kerangka metodologinya, dan melihat konotasi yang berbeza dari kata kerja daraba dan kata terbitannya yang beragam di dalam al-QurAoan. yang menghasilkan hampir tujuh belas nuansa yang berbeza sebagai ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut: . :75, 76, 112. , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , . , dan . Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Alhasil ia melihat bahawa akar kata kerja . ransitif dan tidak transiti. mempunyai beberapa konotasi figuratif atau alegorik, yang dapat bermaksud untuk menyisihkan, untuk memisahkan, untuk meninggalkan, untuk menjauhi, untuk mengenepikan, untuk menyingkirkan, dan lain-lain. Justeru, konotasi yang umum dari akar kata kerja daraba dalam istilah al-QurAoan bermaksud untuk memisahkan, untuk menjauhi, untuk meninggalkan, untuk menyingkirkan, dan sebagainya. Manakala tafsiran ini dipakai pada penyelesaian masalah rumahtangga dan pengembalian semula kemesraan dan keharmonian antara pasangan yang merenggang, dalam konteks ayat . , pertimbangan dan tujuan ayat ini adalah perdamaian dalam cara yang bermaruah dan tanpa paksaan atau ugutan sebagaimana setiap pasangan mempunyai kemampuan dan hak untuk membubarkan perkahwinan. Kerananya, makna darb tidak mungkin membayangkan pengenaan kecederaan, kesakitan atau keaiban. Tafsiran yang paling mudah adalah justeru pengunduran, pemisahan atau pengasingan. Pengaturan ini, di mana suami yang merenggangkan diri meninggalkan isterinya sepenuhnya untuk suatu masa, membantu membawa situasi kepada pemecahan yang mungkin kerana ialah langkah terakhir setelah mengingatkannya dan enggan Sekarang, sementara suami berjauhan, isterinya beroleh kesempatan yang banyak untuk memikirkan semula seluruh situasi, untuk merenungkan akibat akhirnya, dan untuk menyedari natijah yang tak terelakkan dari penolakan, yakni, perceraian. Pada poin ini dia harus dengan teliti memutuskan apakah dia lebih suka untuk dipisahkan secara kekal dari suaminya atau dirujuk kepada pernikahan asal. Analisisnya tentang kata kerja daraba ini selari dengan hadith Nabi . dan praktik sebenar Nabi . , sebagaimana diakui dalam naratif yang meriwayatkan bahawa Nabi . menjauhi isteri-isterinya apakala mereka menderhaka setelah tuntutan untuk memperoleh tahap kehidupan yang lebih baik dinafikan. Nabi . mengungsi ke suatu tempat dalam rumah yang dikenal sebagai al-mashrabah sebulan lamanya dan menawarkan mereka pilihan untuk menerima standard kehidupan yang Baginda . mampu berikan, dan justeru untuk tinggal bersama, atau untuk dilepaskan dari ikatan perkahwinan dan berpisah secara bermaruah. Dengan memisahkan, menjauhi, dan menjarakkan dirinya daripada mereka, hal itu konsisten, pada satu segi, dengan tabiat psikologi dari perkara tersebut, dan pada segi yang lain, dengan pemahaman yang umum dari berbagai penggunaan al-QurAoan terhadap akar kata kerja daraba dan konsepsi, kata terbitan dan figuratifnya. (AbuSulayman, 2. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) KESIMPULAN Kesimpulan dan ikhtisar yang dapat diambil berhubung prinsip yang dibawakan oleh AbdulHamid AbuSulayman dalam bukunya Marital Discord Recapturing Human Dignity through the Higher Objectives of Islamic Law terkait nilai pendidikan rumahtangga dan pemahaman yang praktis yang dirumuskannya dalam persoalan rumah tangga, menyimpulkan bahawa pemikiran dan ijtihadnya ini konsisten dengan hikmah, dalil dan ajaran al-QurAoan tentang hubungan suami isteri yang berkait rapat dengan struktur keluarga dan hubungan manusiawi dalam menciptakan ketenteraman, kasih sayang dan belas ihsan dan menyediakan persekitaran spiritual, emosi, dan psikologi yang selamat dan responsif kepada cabaran zaman. sesuai dengan semangat, maksud, objektif dan matlamat tertinggi hukum, dan arahan yang kolektif dari shariAoah dan keseluruhan idealisme dan tradisi kenabian. Akhirnya disarankan agar tafsiran AbdulHamid AbuSulayman terhadap konsep daraba ini diangkat sebagai pedoman pendidikan dalam mencermati persoalan rumah tangga dan meluruskan dekadensi moralnya yang telah meretakkan hubungan suami isteri akibat salah faham terhadap pemaknaan ayat yang bersifat rekonsiliatif dan akomodatif. REFERENSI