Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 95 Ae 102 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbasis Media Film Pendek Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Materi Masa Kolonialisme Dan Imperialisme Kelas Vi Di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya Lolita Salsabilla Widiyanti . Ketut Prasetyo. Niswatin . Riyadi . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis media film pendek terhadap hasil belajar IPS materi Masa Kolonialisme dan Imperialisme di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen dengan desain Quasi Eksperimen, melibatkan kelas Vi-A sebagai kontrol dan Vi-B sebagai eksperimen yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Paired Sample t-test. Independent Sample t-test, dan N-Gain Score dengan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelas eksperimen dengan rata-rata N-Gain Score 70 . ategori tingg. , serta perbedaan signifikan hasil posttest antara kelas kontrol dan eksperimen. Dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis media film pendek efektif diterapkan dalam pembelajaran IPS untuk memberikan peningkatan dalam hasil belajar IPS. Kata Kunci: Ilmu Pengetahuan Sosial, problem based learning, film pendek, hasil belajar Abstract This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL) model based on short film media on social studies learning outcomes in the topic of Colonialism and Imperialism at SMP Labschool Unesa 2 Surabaya. The research employed a quantitative experimental method with a quasi-experimental design, involving class Vi-A as the control group and class Vi-B as the experimental group, selected through purposive sampling. Data were collected through tests and documentation, and analyzed using Paired Sample t-test. Independent Sample t-test, and N-Gain Score with SPSS 25. The results showed a significant difference between the pretest and posttest scores in the experimental class, with an average N-Gain Score of 70 . igh categor. , as well as a significant difference in posttest scores between the control and experimental classes. The Problem Based Learning (PBL) model based on short film media was found to be effective in improving social studies learning outcomes. Keywords: social science, problem based learning, short movie, learning outcomes. How to Cite: Widiyanti. Prasetyo. Ketut. Niswatin. Riyadi . Pengaruh Media Ludo Edukatif terhadap Group Decision Making Skills Siswa pada Materi Perubahan Sosial di SMP Negeri 5 Sidoarjo. Dialektika Pendidikan IPS. Vol. (No. : halaman 95-102 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peranan penting dalam mencerdasarkan kehidupan bangsa. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab 1, pasal 1, mengatakan bahwa AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy. Pendidikan sebagai proses pemberdayaan yang berlangsung sepanjang masa. Pendidikan dapat meningkatkan pembangunan masa mendatang ialah pendidikan yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan dan memecahkan permasalahan pengasuhan mereka. Pendidikan sebagai peranan utama sumber daya manusia yang berkualitas Ilmu pengetahuan sosial bermula dari peristiwa atau fenomena yang berkaitan dengan pendekatan dari beberapa bidang ilmu sosial dan aspeknya (Ekonomi. Sejarah. Geografi, dan Sosiolog. (Bahri, 2. Dalam konteks Pendidikan abad-21, pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Indonesia, khususnya mengenai materi masa kolonialisme dan imprialisme, memerlukan pendekatan yang inovatif dan relevan. Pendidikan IPS sebagai salah satu pengetahuan untuk mengajarkan fakta sejarah, tetapi juga untuk membentuk karakter dan kesadaran sosial peserta didik. Pendidikan IPS di era digital ini juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Literasi digital menjadi kunci dalam pengembangan pendidikan IPS, yang harus mampu berinovasi untuk menghadapi tantangan teknologi (Faliyandra, 2. Pembelajaran IPS di era abad-21 ini menghadapi tantangan yang perlu dilakukan sebuah perubahan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif. Salah satu tantangan utama adalah metode pembelajaran yang masih cenderung konvensional, yang sering kali membuat peserta didik jenuh dan terlihat kurang menikmati dalam proses belajar Afifah . Metode yang monoton ini tidak hanya mengurangi minat peserta didik, tetapi juga berdampak negatif pada hasil belajar mereka. Peningkatan hasil belajar sebagai ukuran atau tingkat keberhasilan yang dapat dicapai oleh seorang peserta didik berdarsarkan pengalaman yang diperoleh setelah melakukan evaluasi terhadap diri masing-masing. Pembelajaran IPS harus mampu mengembangkan potensi peserta didik agar terampil dalam mengatasi masalah sosial yang kompleks (Indraswati et al. , 2. Tantangan juga muncul dari peran guru yang harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan metode pembelajaran yang lebih inovatif. Pendidik diharapkan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga fasilitator yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan kolaboratif (Damayanti, 2. Namun, banyak guru yang masih menghadapi kesulitan dalam mengimplementasikan metode pembelajaran yang lebih modern, seperti Problem Based Learning (PBL) dan penggunaan media pembelajaran yang menarik, seperti film pendek atau teknologi digital lainnya. Tantangan dalam pembelajaran IPS juga berkaitan dengan kebutuhan untuk mengintegrasikan keterampilan abad 21, seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis . C) ke dalam kurikulum (Nurhayati, 2. Hal ini menuntut adanya inovasi dalam metode pengajaran yang tidak hanya fokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Proses belajar mengajar pemilihan model pembelajaran yang tepat memungkinkan pesrta didik untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang mampu untuk meningkatkan kemampuan peserta didik salah satunya yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) (Amir, 2. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang membentuk kemajuan berpkir peserta didik untuk mempunyai keahlian terhadap penyelesaian suatu permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar (Aji, 2. Keunggulan model pembelajaran PBL dibandingkan dengan metode umumnya ialah PBL mampu untuk membuat peserta didik agar lebih aktif dan berfikir secara kritis serta bekerja sama dalam menyelesaikan masalah terkait dengan materi pembelajaran sehingga meningkatkan hasil belajar peserta didik tersebut dan memberikan dampak signifikan dibandingkan dengan metode lainnya (Hermuttaqien et al. , 2. Selain itu, didukung oleh pendapat (Santoso & Subagyo, 2. yang menyatakan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik diperlukan penerapan metode pembelajaran yang efektif. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 Dalam observasi yang dilakukan peneliti proses pembelajaran di kelas Vi di SMP Labschool Unesa 2, diketahui bahwa hasil belajar IPS pada mata pelajaran IPS sangat kurang dan banyak membuat peserta didik menjadi bosan dan cenderung tidak memperhatikan jika guru sedang memberikan sebuah materi pada saat pembelajaran. Hal ini terlihat dari aktivitas peserta didik selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, peserta didik banyak yang bercerita dengan teman sebangku, ketiduran, dan memainkan tabletnya masing-masing. Pemberian buku-buku IPS selama ini kurang efektif, karena bersifat memberi materi secara langsung tentang faktafakta sejarah kepada peserta didik daripada memberikan daya kreatif peserta didik untuk mampu berpikir secar kreatif dan kritis dalam pemahaman sebuah peristiwa sejarah. Penulis buku tidak memberikan ruang berifkir kepada peserta didik tentang bagaimana sebuah fakta sejarah muncul dan narasi menarik untuk disajikan, sehingga peserta didik merasa bosan membaca teks sejarah di sekolah. Peserta didik juga jarang melakukan dialog tentang pemahaman sebuah karya sejarah periode tertentu. Oleh karena itu, pembelajaran IPS dalam materi masa kolonialisme dan imperialisme yang hendak untuk memaksimalkan peserta didik dalam belajar semenarik mungkin (Astuti, 2. Salah satu cara untuk membuat perhatian peserta didik leih terfokus dalam proses pembelajaran yaitu dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan media film pendek sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi dalam proses pembelajaran. Untuk meningkatkan pembelajaran, yang akan mendorong peserta didik menjadi lebih terampil, proses pembelajaran harus dilakukan dengan seimbang antara pembelajaran teori dan praktek. Jika praktik memungkinkan penggunaan alat peraga yang lebih dominan, proses pembelajaran harus dilakukan dengan seimbang. Sebagai seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin, guru harus berusaha untuk membuat proses pembelajaran bermakna bagi peserta didik. Sebagai mana latar belakang yang sudah peneliti sampaikan di atas, menjadi sebuah pemikiran peneliti untuk meneliti bahwa terdapat permasalahan bagaimana kita bisa menerapkan pembelajaran menggunakan problem based learning ini, dengan demikian peneliti mengangkat judul penelitian yaitu AuPengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbasis Media Film Pendek Terhadap Hasil Belajar IPS Pada Materi Masa Kolonilisme Dan Imperialisme Kelas Vi Di SMP Labschool Unesa Surabaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya dengan menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan desin quasi eksperimen. Penelitian ini melibatkan dua kelas, yakni satu kelas sebagai kelompok eksperimen yang mendapatkan pembelajaran dengan model Problem Based Learning berbasis media film pendek, dan satu kelas sebagai kelompok kontrol yang mendapatkan model pembelajaran discovery learning berbasis media film pendek. Jumlah siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu 40 siswa dengan masing-masing 20 per kelas. Pemilihan kelas VII F dipilih sebagai kelompok eksperimen, dan kelas VII G sebagai kelompok kontrol, dilakukan karena mempertimbangkan homogenitas karakteristik siswa yang relatif setara, serta kemudahan pelaksanaan penelitian dengan adanya ketersediaan fasilitas pendukung. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan data penelitian yang valid dan dapat diandalkan. Pemilihan kelas Vi-A dipilih sebagai kelompok kontrol, dan kelas Vi-B sebagai kelompok ekperimen, dilakukan karena mempertimbangkan homogenitas karakteristik siswa yang relatif setara, serta kemudahan pelaksanaan penelitian dengan adanya ketersediaan fasilitas pendukung. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan data penelitian yang valid dan dapat diandalkan. Sebelum perlakuan diberikan, kedua kelompok diberikan tes awal . untuk mengukur capaian pembelajaran pengetahuan mereka terhadap materi yang akan diajarkan. Setelah itu, perlakuan dilakukan dalam beberapa pertemuan yang terstruktur sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dirancang. Kelompok kontrol mengikuti pembelajaran sesuai dengan arahan menggunakan model pembelajaran discovery learning berbasis media film pendek dan kelas eksperimen menggunakan Problem Based Learning berbasis media film pendek untuk melihat peningkatan hasil belajar IPS. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen tes pilihan ganda yang dikembangkan berdasarkan indikator capaian pembelajaran pengetahuan dalam mata pelajaran IPS. Tes diberikan sebelum . dan sesudah perlakuan . untuk mengukur perubahan capaian pengetahuan siswa. Validitas dan reliabilitas instrumen telah diuji sebelum digunakan pada penelitian ini. Seluruh data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kuantitatif. Analisis statistik dilakukan dengan uji-t independen . ndependent sample t-tes. untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kontrol secara signifikan. Selain itu, analisis gain score digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar pada masing-masing. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Labschool Unesa 2 Surabaya. Penelitian yang berorientasi untuk menjelskan pengaruh Problem Based Learning berbasis media film pendek terhadap hasil belajar IPS pada materi masa kolonialisme dan imperialisme. Pembelajaran yang terdiri dai 40 peserta didik dalam cakupan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Tes awal . re-tes. dilakukan sebelum perlakuan untuk menilai kemampuan awal peserta didik terhadap capaian pembelajaran pengetahuan peserta didik sedangkan untuk tes akhir . ost-tes. dilaksanakan setelah perlakuan untuk mengevaluasi capaian pembelajaran peserta didik. Adapun tujuan dari penelitian ini merupakan menguji peserta didik dari kedua kelas dengan tes awal . re-tes. yang mengukur capaian pembelajaran pengetahuan peserta didik sebelum perlakuan, dan tes akhir . ost-tes. sebagai evaluasi pengaruh. Uji Nomalitas Uji normalitas bertujuan untuk menganalisis sebaran data yang digun dalam penelitian. Uji Normalitas digunakan untuk menentukan apakah variabel pengganggu atau residual dalam suatu regresi berdistribusi normal. Seperti yang diketahui bahwa uji t dan uji f berasumsi bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika hasil signifikansi Uji Normalitas nilainya lebih besar dari 0,05 artinya data tersebut berdistrubsi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan pada data pre-test dan post-test dari dua kelompok yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan Shapiro-Wilk. Penggunaan metode ini dikaren jumlah sampel yang digun dalam penelitian ini pada setiap kelasnya kurang dari 50. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas KontrolHasil uji normalitas pada data pre test dan post test dari kelas eksperimen disajikan pada table berikut: Kelas (Si. Keterangan Pretest control 0,845 Berdistribusi Normal Posttest control 0,111 Berdistribusi Normal Pretest eksperimen 0,621 Berdistribusi Normal Posttest ekperimen 0,607 Berdistribusi Normal Berdasarkan hasil uji normalitas diatas, hasil pretest kelas eksperimen diperoleh dengan signifikasi sebesar 0,621, dan hasil posttest kelas ekperimen diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,607. Untuk kelas kontrol, nilai signifikansi pada pretest sebesar 0,845 dan pada posttest sebesar 0,111. Karena semua nilai signifikansi lebih dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data pada pretest dan posttest baik di kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui adanya kesamaan atau tidak dari sampel penelitian pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dalam penelitian ini, uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji Levene dengan bantuan SPSS 25. Suatu distribusi dikatakan homogen jika taraf signifikansinya > 0,05, sedangkan jika taraf signifikansinya < 0,05 maka distribusinya dikatakan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 tidak homogen. Kelompok Jumlah Nilai Signifikasi Keterangan Vi A dan Vi B 0,127 Homogen Berdasakan tabel diatas yang menunjukkan bahwa nilai signifikasi uji LeneveAos Test adalah sebesar 0,127 > 0,05. Nilai 0,127 tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang homogen. Uji Paired Sample T-Test Perbedaan kemampuan awal . dan kemampuan akhir hasil belajar peserta didik kelas eksperimen . hasil belajar kelas eksperimen yang dianalisis menggunsksn uji paired sample t-test. Uji Paired sample t-test digunakan untuk melihat perbedaan hasil belajar peserta didik, dimana untuk membandingkan skor yang didapatkan dari 2 sampel yang telah digunakan. Persyaratan dalam melakukan uji ini yaitu data harus berdistribusi normal dan homogen terlebih Beirkut hasil uji perbedaan kemampuan awal hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen yang menggunakan uji Paired sample t-test sebagai berikut: Nilai t-hitung (Si. 0,000 Berdasarkan hasil uji Paired sample t-test bahwa diperoleh -12. Diketahui bahwa jumlah sample dari penelitian ini yaitu 20 peserta didik, maka Df= N-1= 19 diperoleh t tabel yaitu 2,0903. Dasar keputusan pengujian yaitu jika t hitung > t tabel dan Sig. sebesar 0,0, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dimana berdasarkan hasil uji ditas diperoleh t hitung > yaitu -12. 967, > 2,090234 dengan nilai sihnifikasi 0,00<005. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal akhir antara hasil belajar peserta didik kelas eksperimen. Hal tersebut disimpulakn bahwa H0 ditolak H1 diterima maka kesimpulannya bahwa ada pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbasis media film terhadap hasil belajar IPS pada materi masa kolonialisme dan imperialisme kelas Vi di Smp Labschool Unesa 2 Surabaya. Uji Independent Sample T-Test Perbedaan kemampuan akhir hasil belajar peserta didik dapat diperoleh dari nilai kemampuan akhir dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang dianalisis menggunakan uji independent sample t-test. Uji Independent sample t-tes digunakan untuk melihat pengaruh hasil belajar peserta didik , dimana untuk melihat perbedaan rata-rata 2 sample yang tidak berpasangan yaitu perbedaan kemampuan hasil akhir belajar peserta didik antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Persyaratan dalam melakukan uj ini yaitu data harus berdistribusi normal dan homogen . Berikut hasil uji perbedaan kemampuan akhir hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontol yang dianalisis menggunakan uji independent sample t-test sebagai berikut: Nilai T-hitung Nilai Sig . -taile. 0,000 Mean Diketahui bahwa jumlah sampel dari penelitian ini yaitu 40 peserta didik, maka Df = N-K-1= 38, diperoleh t-tabel yaitu 2,0024394. Dasar keputusan pengujian yaitu jika t hitug > t-tabel dan nilai Sig. -taile. sebesar 0,0 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dimana berdasarkan hasil uji independent sample t-test diperoleh t-hitung > t tabel yaitu 4. 583 > 2,0024394 dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpukan bahwa terdapat perbedaan kemampuan akhir hasil belajar peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak sedangkan H1 diterima maka kesimpulnnya bahwa terdapat pengaruh model Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 pembelajaran Problem Based Learning berbasis media film pendek pada materi masa kolonialisme dan imperalisme terhadap hasil belajar IPS kelas Vi di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya. Uji N-Gain Uji N-Gain Score dilakukan unuk mengetahui seberapa besar besar peningkatan hasil belajar IPS peserta didik sebelum dan sesudah dberikan perlakuan, baik dikelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil pengolahan data N-Gain Score dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Kelompok Mean Eksperimen 69. Kontrol Minimum Maksimum Klasifikasi Tinggi Sedang Berdasarkan tabel diatas dapat diketahi bahwa hasil perhitungan uji N-gain Score menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 69,9035 atau 70% termasuk dalam kategori tinggi dengan minimal 44% dan nilai maksimal 89%. Untuk kelas kontrol adalah 50. 5407 atau 51% dengan nilai minimal 15% dan nilai maksimal 80%. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbasis media film memberikan dampak pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dijelaskan bahwa model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar IPS pada materi masa kolonialisme dan imperialisme. Hal tersebut dibuktikkan dengan hasil output uji hipotesis yang menggunakan uji parametrik uji paired sample t-test dan uji independent sample t-tes. Pada uji keduanya yang menunjukkan angka bahwa Sig. -taile. menujukkan angka 0,000 yang berarti probabilitasnya dibawah 0,05 . ,000 < 0,. maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Pada Paired Sample T-Test yang diperoleh t hitung > t tabel > yaitu -12. > 2,093024 dengan nilai signifikasi 0,00<0,05. Sedangkan hasil uji independent sample t-test untuk mengukur kemampuan akhir setelah dilakukan treatment berupa posttest di kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan diperoleh t hitung > t tabel yaitu 583 > 2,0024394 dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,05. Dari hasil uji hipotesis kedua dengan menggunakan uji-T dapat dibuktikan bahwa penelitian yang dilakukan dengan model pembelajaran Problem based learning (PBL) memberikan pengaruh yang signifikan. Dengan adanya pengaruh hasil belajar IPS pada peserta didik membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan sudah sesuai dengan tahapan Problem based learning (PBL) berbasis media film yang sesuai dengan temuan Istikomatin Napsiah . yang menunjukkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek dapat meningkatkan hasil belajar IPS. Secara teoritis, sejalan dengan pandangan Lev Vygotsky dalam teori kontruktivisme berpendapat bahwa bahasa adalah alat utama yang digunakan peserta didik untuk menginternalisasi konsep baru dan membangun pemahaman Interaksi sosial yang terjadi dalam lingkungan belajar, seperti diskusi kelompok atau pembelajaran berbasis proyek, memungkinkan peserta didik memperoleh perspektif yang lebih luas dan memperkaya pemahaman mereka terhadap suatu konsep (Budiyanti et al. , 2. Peningkatan hasil belajar IPS dapat dilihat dari data yang telah dilakukan oleh peneliti pada saat melakukan treatmeant berupa posttest dan pretest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil uji dapat dilihat dari uji N-gain score disetiap kelas. Uji N-Gain kemampuan hasil belajar siswa yang menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis media film pendek pada materi masa koloniaslime dan imperialismeNilai yang diperoleh kelas eksperimen mendapatkan rata-rata 70 dengan kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol diperoleh dengan ratarata 50 dengan kategori sedang. Pada kelas eksperimen dengan nilai minimal 33% dan nilai maksimal 89% dengan kategori tinggi. Sedangkan pada kelas kontrol dengan nilai minimal 0% dan nilai maksimal 80% dengan kategori sedang. Dari hasil belajar tersebut dapat diketahui bahwa 2 model pembelajaran sangat mempengaruhi hasil belajar IPS yang memiliki perbedaan kategori Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 tinggi dan sedang. Untuk mengetahui perbedaan kemampuan hasil belajar IPS pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek dan kelas kontrol menggunakan discovery learning. Untuk dapat melihat perbedaan pada possttest hasil belajar IPS dengan uji independent sample t-test dengan diperoleh t hitung > t tabel yaitu 4. 583 > 2,0024394 dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,05. Dari hasil analisis data tersebut dapat diketahu bahwa adanya peningkatan kemampuan hasil belajar IPS pada materi masa kolonialisme dan imperialism antara kelas eksperimen dan kelas Peningkatan hasil belajar IPS pada peserta didik antara kelas kontrol dan kelas eksperimen terdapat perbedaan, dimana kelas eksperimen atau kelas yang diberikan treatment dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek mendapatkan hasil belajar IPS lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen menunjukkan ahwa terdapat peningkatan kemampuan hasil belajat dimana hasil posstest peserta didik seleuruhnya diatas KKM sedangkan untuk kelas kontrolnya masih terdapat peserta didik yang memperoleh dibawah KKM. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran Problem based learning (PBL) membuat peserta didik lebih memahami materi masa koloniaslime dan imperialsime dan pembelajaran diartikan diterima oleh peserta Dari hasil pembelajaran secara langsung dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek yang dilakukan kelas eksperimen dapat mendorong peserta didik lebih memahami materi pembelajaran dikarenakan pembelajaran yang diterapkan melibatkan langsung peserta didik dengan menggunakan film pendek yang mudah dipahami oleh pesert didik. Pembelajaran di kelas control kurang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik kurang memperhatikan dalam pembelajaran yang berlangsung. Model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPS di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya sesuai dengan teori kontruktivisme. Teori ini menjelaskan bahwasannya proses pembelajaran yang dilakukan dapat membangun pengetahan peserta didik karena dapat memecahkan suatu persoalan dan memahami materi dengan sendirinya, selain itu pembelajaran yang diterapkan juga dapat dibagi pengetahuan ke orang lain maupun dari orang lain karena para peserta didik saling berinteraksi, berbagi pendapat. Pembelajaran berbasis interaksi sosial dan bahasa dapat menumbuhkan lingkungan belajar efektif yang mendukung perkembangan kognitif dalam berbagai konteks (Lathifah, 2. Hasil dari penelitian ini sepadan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Istikomatin Napsiah . yang menunjukkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek dapat meningkatkan hasil belajar IPS. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek dapat digunakan dalam mata pelajaran IPS materi masa koloniaslime dan imperilisme. Hasil penelitian laiinya yang sepada dengan penulis lakukan oleh Afeni rahmadani . yang menunjukkan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran Problem based learning (PBL) dengan audio visual dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hasil penelitian yang sepada yang telah dilakukan oleh Dini Nurfadila Putri . yang menjukkan bahwa peggunaan model pembelajaran Problem based learning (PBL) dengan menggunakan video animasi berbantuan animaker terhadap kemampuan komunikasi memberikan pengaruh yang signifikan KESIMPULAN Penerapan model pembelajaran Problem based learning (PBL) dengan media pembelajaran berbasis film pendek terhadap hasil belajar IPS pada materi masa koloniaslisme dan imperialisme di SMP Labschool Unesa 2. Hal tersebut dapat dibuktikkan dengan hasil output data pada hasil pretest dan posttes dengan menggunakan paired sample t-tes yang diperoleh dengan t hitung > t tabel yaitu -12. 967 > 2,093024 dengan nilai signifikasi 0,00<0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Selanjutnya, dibantu dengan hasil perhitungan Hal tersebut dibuktikkan perbandingan kelas kontrol dan eksperimen menggunakan uji independent sample t-tes untuk Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 95- 102 mengukur nilai akhir. Nilai akhir yang diperoleh dari kelas kontrol dan eksperimen yaitu t-hitung > t tabel yaitu 4. 825 > 2,0024394 dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,05. Dengan Peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning (PBL) berbasis media film pendek pada materi masa koloniaslime dan imperialisme di SMP Labschool Unesa 2 Surabaya. Pada data tes hasil belajar IPS, peneliti menggunakan uji N-Gain Score untuk mengetaui seberapa besar peningkatan yang didapatkan. Hasil output N-Gain yang didapatkan tes hasil belajar IPS pada kelas eksperimen pada nilai rata-rata 69. 9035 dan nilai maksimum 89 yang menunjukkan bahwa besarnya efektifitas dari penelitian ini menurut kriteria N-Gain score mendapatkan nilai kategori tinggi. Sedangkan, hasil belajar IPS pada kelas control menunjukkan nilai rata-rata sebear 50,5407 dengan nilai maksimal 80. 00 yang menunjukkan bahwa besarnya efektitifitas yang dianggap mendapatkan kategori sedang. Oleh karena itu, peningkatan hasil Ngain pada peserta didik dengan melihat perbandingan antara hasil kelas eksperimen dan kelas DAFTAR PUSTAKA