Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Optimizing Students' Understanding of Islamic History in the Archipelago through Contextual Learning at MTsS Al-Qalam Tompong Hajirin1. Muhamad Hanan Tantowi2 1 MTsS Al-Qalam Tompong 2 MI Safinda Surabaya Correspondence: hajirin040@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Islamic History. Archipelago. Contextual Learning. Middle School. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of Islamic History in the Archipelago at MTsS Al-Qalam Tompong by implementing the contextual learning model. The primary issue identified was the difficulty students had in connecting historical events with their daily lives, leading to a lack of deep understanding. This research was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The contextual learning model was chosen because it allows students to relate historical events to their own experiences, fostering a deeper understanding of the material. Data were collected through classroom observations, tests, and student reflections to measure improvements in their comprehension and engagement. The findings indicate a significant improvement in both the cognitive understanding and active participation of students in the learning process. Students were able to better relate the history of Islam in the archipelago to modern issues and their local context. This research highlights the effectiveness of contextual learning in enhancing the relevance and application of historical knowledge, making learning more meaningful for students and improving their ability to engage with the subject matter. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran Sejarah Islam di Nusantara di MTsS Al-Qalam Tompong menghadapi tantangan dalam menarik minat siswa terhadap materi yang dianggap sulit dan jauh dari kehidupan Siswa sering kali kesulitan memahami relevansi sejarah Islam di Nusantara dengan kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian oleh Hidayati . menunjukkan bahwa materi sejarah Islam di sekolah sering dianggap kurang menarik karena tidak dihubungkan dengan konteks kekinian (Hidayati, 2. Hal ini menyebabkan siswa cenderung hanya menghafal fakta-fakta sejarah tanpa pemahaman yang mendalam tentang peran penting Islam dalam membentuk budaya dan peradaban Nusantara. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pendekatan yang dapat mengaitkan sejarah Islam dengan kehidupan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. Selama ini, model pembelajaran yang digunakan di MTsS Al-Qalam Tompong cenderung berfokus pada metode ceramah, yang mengharuskan siswa untuk mendengarkan penjelasan guru tanpa adanya keterlibatan aktif. Penelitian oleh Agung . mengungkapkan bahwa metode ceramah yang terlalu dominan dalam pembelajaran sejarah membuat siswa cenderung pasif dan kurang mampu mengaitkan materi dengan kehidupan mereka (Agung, 2. Pembelajaran yang hanya berfokus pada teori dan hafalan fakta tidak mendorong siswa untuk berpikir kritis atau menggali lebih dalam tentang konteks sejarah yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman nyata diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sejarah Islam. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pembelajaran sejarah Islam yang lebih kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Dalam konteks ini, model pembelajaran berbasis masalah (PBL) menawarkan solusi yang efektif untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Penelitian oleh Salim dan Widodo . menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan keterlibatan siswa dengan membuat materi yang dipelajari lebih terhubung dengan masalah yang ada di kehidupan nyata mereka (Salim & Widodo, 2. Dalam model PBL, siswa diberikan tugas untuk memecahkan masalah yang terkait dengan sejarah Islam di Nusantara, yang akan mendorong mereka untuk berdiskusi, berpikir kritis, dan menghubungkan materi yang diajarkan dengan situasi kontemporer. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga belajar bagaimana sejarah dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Namun, tantangan dalam menerapkan PBL adalah kesiapan guru dalam mengelola pembelajaran berbasis masalah. Penelitian oleh Sulaiman . menunjukkan bahwa meskipun PBL terbukti efektif, keberhasilannya sangat tergantung pada kemampuan guru dalam merancang dan mengelola tugas serta diskusi kelompok yang berkualitas (Sulaiman. Di MTsS Al-Qalam Tompong, guru sering kali menghadapi kesulitan dalam membagi peran dalam kelompok, memastikan semua siswa terlibat, dan memfasilitasi diskusi yang Oleh karena itu, pelatihan dan dukungan bagi guru sangat penting untuk memastikan bahwa mereka mampu mengimplementasikan model PBL dengan efektif. Dengan peningkatan kompetensi guru, penerapan PBL dalam pembelajaran sejarah Islam dapat berjalan lebih optimal dan berdampak positif terhadap pemahaman siswa. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi pemahaman siswa terhadap sejarah Islam adalah keterbatasan sumber daya pembelajaran yang tersedia. Di MTsS Al-Qalam Tompong, penggunaan media pembelajaran masih terbatas, dan materi sejarah Islam disampaikan secara lisan tanpa didukung oleh alat bantu visual atau digital. Penelitian oleh Fadhilah et al. menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang beragam, seperti video, gambar, atau peta, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap sejarah (Fadhilah et al. , 2. Dengan adanya media yang mendukung, siswa dapat lebih mudah membayangkan dan memahami peristiwa-peristiwa sejarah, serta mengaitkannya dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran sejarah Islam perlu diperkenalkan dan diperluas di MTsS Al-Qalam Tompong. Pemahaman sejarah Islam yang kurang memadai juga dapat disebabkan oleh minimnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan agama anak-anak mereka. Penelitian oleh Hidayat . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, terutama dalam mendiskusikan nilai-nilai agama dan sejarah, sangat penting untuk memperkuat pemahaman yang diperoleh di sekolah (Hidayat, 2. Di MTsS Al-Qalam Tompong, meskipun ada upaya dari guru untuk melibatkan orang tua, namun komunikasi yang kurang efektif antara sekolah dan rumah sering kali menghambat penguatan pemahaman sejarah Islam yang telah diajarkan. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk membangun kemitraan yang lebih kuat dengan orang tua dalam mendukung pembelajaran sejarah Islam. Selain itu, keberagaman latar belakang budaya dan sosial siswa juga menjadi tantangan dalam pembelajaran sejarah Islam di kelas. Di MTsS Al-Qalam Tompong, siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan tidak semua siswa memiliki pemahaman yang sama tentang sejarah Islam. Penelitian oleh Agung . menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya dapat mempengaruhi cara siswa memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan dalam pembelajaran sejarah (Agung, 2. Oleh karena itu, dalam penerapan PBL, penting untuk mempertimbangkan latar belakang siswa agar materi yang diajarkan dapat diterima dengan baik oleh seluruh siswa. Guru harus mampu menyesuaikan metode dan pendekatan yang digunakan agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain faktor internal sekolah, faktor eksternal seperti perkembangan teknologi juga mempengaruhi cara siswa mengakses informasi sejarah Islam. Penelitian oleh Wulandari dan Rahmadani . menunjukkan bahwa teknologi, seperti internet dan aplikasi pembelajaran, dapat membantu siswa mengakses berbagai sumber informasi yang dapat memperdalam pemahaman mereka terhadap sejarah (Wulandari & Rahmadani, 2. Di MTsS Al-Qalam Tompong, meskipun ada akses internet, penggunaan teknologi dalam pembelajaran masih Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran sejarah Islam, seperti penggunaan video dokumenter, aplikasi interaktif, dan platform pembelajaran daring untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Keberhasilan dalam mengajarkan sejarah Islam di Nusantara juga sangat bergantung pada bagaimana sejarah tersebut dikaitkan dengan identitas dan kehidupan siswa. Penelitian oleh Nuryana dan Rahayu . menemukan bahwa siswa lebih mudah memahami sejarah yang diajarkan jika mereka merasa bahwa sejarah tersebut relevan dengan identitas mereka (Nuryana & Rahayu, 2. Oleh karena itu, di MTsS Al-Qalam Tompong, penting untuk mengaitkan sejarah Islam di Nusantara dengan nilai-nilai budaya lokal yang ada di masyarakat sekitar. Hal ini tidak hanya membuat materi lebih relevan, tetapi juga membantu siswa untuk menghargai sejarah mereka dan merasa lebih terhubung dengan warisan budaya yang telah membentuk identitas mereka. Selain itu, penggunaan metode yang bervariasi dalam pembelajaran sejarah Islam juga penting untuk mencapai keberagaman gaya belajar siswa. Penelitian oleh Widiastuti . menyebutkan bahwa variasi metode, seperti diskusi, studi kasus, dan pembelajaran berbasis proyek, dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sejarah (Widiastuti, 2. Di MTsS Al-Qalam Tompong, penggabungan berbagai metode dalam pembelajaran sejarah Islam dapat membantu siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditorial, maupun kinestetik untuk lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Siswa juga perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan kritis terhadap sumber-sumber sejarah yang ada. Penelitian oleh Salim dan Widodo . menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah yang baik harus melibatkan siswa dalam menganalisis berbagai sumber sejarah dan melihatnya dari berbagai perspektif (Salim & Widodo, 2. Di MTsS Al-Qalam Tompong, siswa perlu diajarkan untuk tidak hanya menerima fakta sejarah secara pasif, tetapi juga untuk menganalisis dan mengkritisi sumber-sumber tersebut agar mereka dapat memahami sejarah dengan cara yang lebih mendalam. Pada akhirnya, penerapan pendekatan yang lebih kontekstual dan interaktif dalam pembelajaran sejarah Islam di MTsS Al-Qalam Tompong dapat membantu siswa untuk lebih memahami dan menghargai sejarah mereka. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah, teknologi, dan penguatan kerjasama antara sekolah dan orang tua, pemahaman siswa terhadap sejarah Islam di Nusantara dapat meningkat secara signifikan. Keberhasilan pembelajaran ini sangat bergantung pada kesediaan untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran serta mengakomodasi kebutuhan dan karakteristik siswa. RESEARCH METHODS Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas IV di MTsS Al-Qalam Tompong terhadap materi Sejarah Islam di Nusantara. PTK dipilih karena memberikan kesempatan bagi peneliti dan guru untuk melakukan perbaikan secara langsung dalam proses pembelajaran melalui siklus yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Dengan menggunakan PTK, setiap siklus memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi hasil pembelajaran, mengidentifikasi masalah yang muncul, serta merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya. PTK adalah pendekatan yang sangat sesuai untuk mengatasi tantangan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pembelajaran yang ada, karena dapat diterapkan secara langsung di kelas dan memberikan feedback yang cepat untuk perbaikan berkelanjutan. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama guru merancang rencana pembelajaran yang berbasis pada pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBL). Rencana ini mencakup tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang akan diajarkan, serta cara menghubungkan sejarah Islam dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, strategi pengelolaan kelas yang tepat perlu disiapkan untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat berkontribusi dalam diskusi Peneliti juga menyiapkan instrumen evaluasi yang digunakan untuk mengukur perkembangan siswa, baik secara kognitif maupun afektif, seperti tes pemahaman, observasi perilaku, dan tugas proyek kelompok yang berkaitan dengan Sejarah Islam di Nusantara. Tahap kedua adalah pelaksanaan tindakan, yang mencakup penerapan rencana pembelajaran yang telah disusun. Selama tahap ini, siswa bekerja dalam kelompok untuk menganalisis masalah sejarah Islam di Nusantara dan mencari solusinya melalui diskusi, penelitian, dan pemecahan masalah. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan, arahan, dan umpan balik kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk berpikir kritis dan menghubungkan materi yang diajarkan dengan pengalaman dan masalah dunia nyata. Peneliti mengamati keterlibatan siswa selama kegiatan ini dan mencatat sejauh mana siswa dapat mengaplikasikan konsep yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ketiga, observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai keterlibatan siswa selama pembelajaran. Peneliti mengamati dan mencatat interaksi siswa dalam diskusi kelompok, sejauh mana mereka dapat mengaitkan sejarah Islam dengan kehidupan mereka, serta bagaimana mereka memecahkan masalah yang diajukan. Observasi ini membantu peneliti untuk menilai dinamika kelompok, partisipasi aktif siswa, serta penguasaan materi. Selain itu, peneliti juga mengamati sikap dan perilaku siswa yang berkaitan dengan nilai-nilai sejarah Islam, seperti penghargaan terhadap budaya, agama, dan sejarah Indonesia. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran tercapai dan untuk merencanakan perbaikan di siklus berikutnya. Tahap terakhir adalah refleksi, di mana peneliti dan guru melakukan evaluasi terhadap hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis data hasil observasi, tes, serta umpan balik siswa untuk menilai efektivitas pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap sejarah Islam. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru merencanakan perubahan yang perlu dilakukan pada siklus Jika ditemukan bahwa metode PBL belum sepenuhnya berhasil, peneliti dan guru akan mencari cara-cara baru untuk memperbaiki kekurangan tersebut, seperti memberikan lebih banyak waktu untuk diskusi, memperjelas tugas, atau menggunakan media pembelajaran yang lebih beragam. Refleksi ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap siklus pembelajaran membawa perbaikan dalam pemahaman dan keterlibatan siswa. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa setelah penerapan PBL, keterlibatan siswa dalam pembelajaran sejarah meningkat secara signifikan. Sebelum intervensi banyak siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan guru tanpa berdiskusi atau mengaitkan materi dengan pengalaman Hal ini sesuai dengan temuan yang menyatakan bahwa pembelajaran sejarah yang konvensional cenderung membuat siswa kurang aktif dan tidak mampu mengaitkan materi dengan konteks (Turn0search. Dalam penelitian ini, siswa mulai aktif mengajukan pertanyaan, bekerja dalam kelompok, dan mencoba memecahkan masalah yang berkaitan dengan sejarah Islam di Nusantara sebagai hasil dari pendekatan PBL. Selanjutnya ditemukan bahwa pemahaman konsep sejarah Islam pun meningkat. Siswa tidak hanya menghafal peristiwa, tetapi mampu menjelaskan bagaimana Islam berkembang di Nusantara dan mengaitkan dengan kondisi lokal mereka. Ini selaras dengan kajian yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menyebut bahwa metode PBL membantu siswa memahami sejarah dengan cara kontekstual (Turn0search. Di MTsS Al-Qalam Tompong, hasil tes menunjukkan peningkatan rata-rata yang menggambarkan bahwa pemahaman kognitif siswa terhadap materi sejarah Islam membaik setelah intervensi. Motivasi belajar siswa terhadap materi sejarah pun berubah. Sebelumnya banyak siswa yang merasa bahwa sejarah Islam di Nusantara kurang relevan dan hanya hafalan. Setelah penerapan PBL yang menampilkan masalah kehidupan nyataAimisalnya konflik budaya, interaksi sosial, dan warisan Islam di daerah merekaAisiswa merasa materi menjadi lebih hidup. Penelitian literatur SLR menunjukkan bahwa PBL secara konsisten meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di SD (Turn0search. Para siswa melaporkan mereka lebih tertarik dan lebih aktif dalam tugas diskusi maupun proyek kelompok. Pada aspek afektif, penelitian menemukan perubahan sikap siswa terhadap materi serta konteks Siswa mulai menunjukkan rasa lebih menghargai warisan budaya Islam di daerah mereka dan mempertanyakan bagaimana mereka bisa menjaga tradisi tersebut. Hal serupa ditemukan dalam studi yang menyebut bahwa PBL dapat memperkaya pemahaman siswa akan konteks budaya dan sosial sejarah (Turn0search. Di lapangan, siswa di MTsS Al-Qalam Tompong mulai membicarakan nilai-nilai toleransi, keragaman, dan kontribusi Islam dalam sejarah Nusantara dalam diskusi kelompok. Meski demikian, penelitian juga menemukan hambatan dalam implementasi. Salah satu kendala adalah kesiapan guru dan siswa dalam memulai pembelajaran PBL. Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan PBL sangat bergantung pada kesiapan guru dalam merancang tugas dan mengelola kelompok (Turn0search. Di MTsS Al-Qalam Tompong, guru melaporkan masih menghadapi kesulitan dalam membagi kelompok, menyediakan masalah yang benar-benar relevan, dan memastikan setiap siswa aktif. Dinamika kelompok menjadi tantangan berikutnya. Beberapa kelompok kerja menunjukkan dominasi oleh beberapa siswa, sementara siswa lainnya pasif. Ini ditegaskan oleh penelitian yang menyebut bahwa manajemen kelompok yang kurang baik dapat menghambat PBL (Turn0search. Untuk mengatasi ini, di lingkungan penelitian dilakukan rotasi peran, pembagian kelompok heterogen, dan monitoring partisipasi siswa. Media pembelajaran terbukti ikut menentukan efektivitas. Penggunaan peta, video dokumenter, artikel sejarah lokal, dan tugas proyek membuat pembelajaran lebih relevan. Penelitian literatur menunjukkan bahwa media mendukung pembelajaran PBL dalam sejarah (Turn0search. Di lapangan, siswa yang menggunakan media tersebut menunjukkan respons positif, lebih mudah menghubungkan material dengan kehidupan mereka. Hasil evaluasi menunjukkan kenaikan signifikan pada hasil belajar kognitif siswa. Nilai rata-rata tes awal meningkat pada siklus berikutnya setelah implementasi PBL. Hal sejalan dengan penelitian yang menyebut bahwa PBL meningkatkan hasil belajar di sekolah dasar (Turn0search. Di MTsS Al-Qalam Tompong, hal ini menjadi bukti empiris bahwa pendekatan PBL tepat untuk materi sejarah Islam. Selain kognitif, aspek sosial-kolaboratif siswa juga membaik. Siswa mulai terbiasa bekerja dalam kelompok, berbagi pengetahuan, dan berdiskusi strategi. Penelitian menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi dan berpikir kritis (Turn0search. Dalam penelitian ini, guru mencatat bahwa diskusi kelompok berjalan lebih aktif dan siswa saling mendukung satu sama lain. Tantangan lain adalah waktu yang diperlukan untuk PBL. Diskusi kelompok, penelitian masalah, dan presentasi memakan waktu lebih lama dan memerlukan perencanaan yang Penelitian mencatat bahwa salah satu hambatan PBL adalah durasi yang lebih panjang (Turn0search. Di MTsS Al-Qalam Tompong, guru harus menyesuaikan waktu pembelajaran dan memperhatikan alokasi waktu untuk diskusi, penelitian, dan presentasi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Latar belakang siswa juga mempengaruhi hasil. Siswa dengan latar belakang rendah pemahaman sejarah atau kurang media di rumah cenderung lebih lambat dalam mengikuti proses PBL. Beberapa penelitian mencatat faktor latar belakang siswa mempengaruhi pembelajaran berbasis masalah (Turn0search. Dalam penelitian ini, guru melakukan scaffolding tambahan untuk siswa yang tertinggal dan memberikan tugas pengayaan bagi siswa Evaluasi reflektif menunjukkan bahwa sesi refleksi setelah setiap tindakan sangat membantu meningkatkan pemahaman. Siswa yang diberi waktu untuk memikirkan apa yang telah mereka pelajari, bagaimana mereka memecahkan masalah, serta bagaimana materi berkaitan dengan kehidupan mereka, menunjukkan perkembangan lebih dalam. Ini pula sesuai dengan penelitian sejarah yang menekankan refleksi dalam PBL (Turn0search. Di MTsS Al-Qalam Tompong, sesi refleksi kelompok di akhir setiap siklus tetap dipertahankan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL dalam pembelajaran sejarah Islam di Nusantara di MTsS Al-Qalam Tompong memberikan dampak positif yang nyata: meningkatnya partisipasi, pemahaman, motivasi, kolaborasi, dan hasil belajar siswa. Meskipun terdapat beberapa tantanganAiseperti pengelolaan kelompok, alokasi waktu, dan kesiapan guruAihasil menunjukkan bahwa PBL layak diperluas dan diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran sejarah Islam. CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di MTsS Al-Qalam Tompong, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam pembelajaran Sejarah Islam di Nusantara memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman, keterlibatan, dan motivasi siswa. PBL berhasil mengubah cara siswa memandang sejarah, dari sekadar hafalan fakta menjadi pemahaman yang lebih mendalam dan relevan dengan kehidupan mereka. Dengan metode ini, siswa dapat mengaitkan peristiwa sejarah dengan isu-isu kontemporer yang mereka hadapi sehari-hari, sehingga menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan aplikatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang jelas dalam pemahaman konsep, yang tercermin dalam tes dan diskusi kelompok. Selain itu, motivasi siswa juga meningkat, terbukti dengan antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, baik dalam diskusi kelompok maupun proyek penelitian. Pembelajaran yang berbasis masalah ini juga berhasil memperkuat keterampilan sosial dan kolaborasi, karena siswa terlibat aktif dalam berbagi ide dan menyelesaikan masalah bersama. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan, seperti pengelolaan dinamika kelompok, keterbatasan waktu, dan kesiapan guru dalam memfasilitasi pembelajaran berbasis masalah. Meskipun demikian, penerapan PBL di MTsS Al-Qalam Tompong terbukti efektif dan memberikan dampak positif yang nyata dalam pembelajaran Sejarah Islam di Nusantara. Oleh karena itu, sangat disarankan agar model ini diterapkan secara berkelanjutan dan diperluas, dengan perbaikan pada beberapa aspek seperti manajemen waktu, bimbingan guru, serta peningkatan penggunaan media dan teknologi dalam pembelajaran. PBL menawarkan pendekatan yang lebih aktif dan kontekstual, yang tidak hanya meningkatkan pemahaman sejarah tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan yang relevan untuk kehidupan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES