32 Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 31-42 STRATEGI KERUANGAN UNTUK MENINGKATKAN AKSES MASYARAKAT KELURAHAN TAMBAKJATI KABUPATEN SUBANG TERHADAP AIR BERSIH SPATIAL STRATEGY FOR IMPROVING PUBLIC ACCESS TO WATER IN TAMBAKJATI SUBDISTRICT OF SUBANG DISTRICT Sri Maryati Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No. Bandung, 40132 *e-mail: smaryati28@gmail. Abstrak Kelurahan Tambakjati merupakan salah satu kelurahan di Kabupaten Subang yang mengalami kesulitan dalam penyediaan air bersih. Sumber air di Kelurahan Tambakjati pada dasarnya berlimpah, namun masyarakat tidak mempunyai akses yang cukup baik terhadap sumber air tersebut. Keterbatasan akses ini disebabkan karena untuk memperoleh air bersih dari sumber yang berlimpah tersebut diperlukan biaya investasi dan operasi yang cukup tinggi, namun disisi lain kemampuan ekonomi masyarakat sangat rendah. Oleh karena itu dalam upaya penyediaan air bersih di Kelurahan Tambakjati perlu adanya intervensi dari Mengingat kemampuan masyarakat yang rendah, penyediaan air bersih diupayakan agar tetap dapat bersifat cost recovery, sehingga diperlukan sejumlah strategi untuk menyesuaikan biaya penyediaan air bersih dengan kemauan membayar masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejumlah strategi keruangan dalam penyediaan air bersih untuk menyesuiakan biaya penyediaan air bersih dengan kemauan membayar masyarakat. Kata kunci: air bersih, strategi keruangan, biaya penyediaan air bersih, kemauan membayar. Abstract Tambakjati Subdistrict is located in Subang District and is one area that has a problem in the provision of drinking water. There are a number of water resources in Tambakjati Village, but the local people do not have good access to reach. This limitation is due to the high costs for investment and operations, while the economic capacity of local communities is very low. Therefore, it needs the intervention of local governments to provide clean water, which is accessible to the entire community. However, provision of clean water can still be pursued for cost recovery. Therefore, it needs a number of strategies to adjust the cost for supplying drinking water with a willingness to pay from the community. This study will analyze a number of spatial strategies in the provision of clean water in Tambakjati Village to adjust to the cost of supplying drinking water to the willingness to pay from the community. Keywords: clean water, spatial strategy, cost water supply, willingness to pay. PENDAHULUAN Kelurahan Tambakjati, yang terletak di Kecamatan Patokbeusi, merupakan salah satu kelurahan di Kabupaten Subang yang terletak di wilayah pantai utara. Sesuai dengan karakteristik wilayah pantai utara pada umumnya, penduduk di wilayah ini tidak mempunyai Maryati. Strategi Keruangan untuk Meningkatkan Akses Masyarakat akses yang cukup baik terhadap air bersih. Kelurahan Tambakjati belum dilayani oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Untuk memperoleh air bersih penduduk melakukan upaya mandiri secara sederhana, seperti membuat sumur individual. Namun demikian, air yang diperoleh dari sumber air tersebut menunjukkan kualitas yang tidak Pada sisi lain, kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Tambakjati tidak menunjukkan potensi yang memadai, mayoritas penduduk di wilayah ini adalah petani . %) dan buruh tani . %). Kondisi ini semakin memperburuk kondisi penyediaan air bersih di Kelurahan Tambakjati. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus untuk mengatasi masalah penyediaan air bersih di Kabupaten Subang, khususnya di Kelurahan Tambakjati. Penduduk golongan ekonomi menengah ke bawah umumnya hanya mampu menggali air tanah dengan peralatan terbatas dan kedalaman dangkal, sehingga kondisi air umumnya masih bercampur dengan air laut terasa asin/payau. Sebagian penduduk yang sangat miskin bahkan harus mengusahakan sumur gali/pompa/bor tersebut penggalian yang terbatas, sehingga buruknya kualitas air diperparah lagi dengan akses yang cukup jauh untuk mencapai sumur. Sebagian penduduk lain masih memanfaatkan air permukaan . ungai dan saluran irigas. sebagai sumber air bersih mereka. Keterbatasan sumber air di Kelurahan Tambakjati mengharuskan adanya intervensi pemerintah dalam bentuk penyediaan sistem Tentunya sistem yang disediakan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah penyesuaian biaya penyediaan infrastruktur air bersih PDAM dengan kemampuan finansial masyarakat Kabupaten Subang. Penyesuaian ini dapat dilakukan dengan mengintervensi variabel keruangan yang mempengaruhi biaya penyediaan air minum. Kondisi Sumber Air Sumber air yang dapat digunakan di Kelurahan Tambakjati terdiri dari air tanah dan air permukaan. Berdasarkan Laporan Akhir Rencana Induk Pendayagunaan Air Bawah Tanah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pada wilayah Kelurahan Tambakjati terdapat cekungan air tanah yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Penampang hidrogeologi dari cekungan tersebut menunjukkan jenis air tanah yang terdapat pada wilayah tersebut terdiri atas sistem akifer tertekan dan sistem akifer tak tertekan. Produktivitas akifer di Kelurahan Tambakjati pada dasarnya tergolong pada produktivitas yang sedang. Akifer tak tertekan memiliki potensi cadangan sebesar 527. 000 m3/tahun dan akifer tertekan memiliki 270. m3/tahun. Jumlah tersebut sangat banyak dan jelas mencukupi kebutuhan air penduduk Tambakjati yang membutuhkan 0,001% dari jumlah akifer tertekan Saja. Oleh karena itu, air tanah merupakan salah satu sumber yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam upaya pengembangan infrastruktur air minum di Kelurahan Tambakjati. Batas barat Kelurahan Tambakjati adalah Sungai Cimalaya. Sungai yang merupakan air permukaan tersebut adalah salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan air bersih di Kelurahan Tambakjati. menurut informasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Sungai Cilamaya bermuara di Desa Rawameneng. Kecamatan Bianakan. Kabupaten Subang. Secara administrasi alirannya melalui 3 kabupaten, yaitu: Kabupaten Purwakarta. Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Subang. Sungai tersebut digunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan termasuk MCK, mengairi tanaman, dan tambak. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Subang juga menjelaskan bahwa rata-rata debit sungai adalah 47,50 m3/det, dengan begitu, perkiraan persediaan dari Sungai Cilamaya 000 m3/tahun, hampir 2 kali lipat lebih banyak daripada air tanah. Akan tetapi, tingkat polusi di Sungai Cimalaya juga sangat tinggi karena aktivitas industri di sekitarnya. Oleh karena itu, biaya pengolahan yang bersumber dari Sungai Cimalaya pun menjadi sangat mahal. dan distribusi yang terdapat di PDAM Kabupaten Subang. Kondisi sistem produksi dan distribusi di Kabupaten Subang ditunjukkan pada Tabel 1. METODA Dalam penelitian ini variabel kualitas air baku dan topografi menggunakan variabel dummy yang dinyatakan dengan nilai 0 dan 1. Variabel dummy yang mewakili kualitas air baku adalah sumur dalam . untuk sumur dalam dan 0 untuk selain sumur dala. dan air permukaan . untuk air permukaan dan 0 untuk selain air permukaa. Variabel dummy yang mewakili topografi adalah penggunaan pompa, yaitu 1 untuk sistem yang menggunakan pompa dan 0 untuk yang menggunakan Koefisien determinasi untuk model diatas adalah sebesar 97,1%. Intervensi terhadap biaya penyediaan air minum melalui variabel keruangan dapat dilakukan terlebih dahulu dengan mengembangkan model yang menyatakan hubungan antara biaya dan variabel keruangan yang Model hubungan ini mengadopsi model hubungan antara biaya dan variabel lingkungan yang dikembangkan oleh Maryati et al. 9a, 2009. Model yang telah dikembangkan pada dasarnya menyatakan hubungan antara biaya dan variabel lingkungan, yang terdiri dari kuantitas, kualitas air baku, topografi, dan kepadatan Variabel kuantitas berkaitan dengan jumlah penduduk yang dilayani dan cakupan pelayanan, dan kepadatan pelanggan berkaitan dengan distribusi ruang dari penduduk yang dilayani merupakan variabel keruangan yang akan diintervensi. Fungsi biaya produksi dan distribusi diatas diestimasi dengan menggunakan fungsi linear dengan menggunakan data sistem produksi Berdasarkan data sistem produksi dan distribusi di Kabupaten Subang, didapatkan model hubungan antara biaya produksi dengan variabel lingkungan . Model keterkaitan antara biaya distribusi dengan variabel lingkungan dinyatakan pada Model ini menggunakan biaya distribusi sebagai variabel dependen serta volume distribusi, topografi, dan kepadatan pelanggan sebagai variabel independen. Variabel volume dan kepadatan pelanggan adalah variabel numerik sehingga tidak diperlukan penggunaan variabel dummy. y = - . ,594x. 645,416Vprod . ,463x. SD . ,178x. AP . ,474x. Pproda. Vprod Pprod = volume produksi = sumur dalam = air permukaan = sistem pompa Tabel 1. Sistem Penyediaan Air Minum Kabupaten Subang Menurut Unit. Volume Produksi. Kapasitas Terpasang. Sistem Pengaliran dan Kepadatan Pelanggan No. Sistem Sumber Air Baku Kap. Disain (L/de. Volume Produksi Sistem Transmisi Sistem Distribusi Volume Distribusi PDT* (SL/. Maryati. Strategi Keruangan untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Subang Pamanukan Cisalak Pagaden Cipunagara Binong Sagalaherang Compreng Pusakanagara Ciasem/Blanakan Kalijati Purwadadi MA* Cibulakan 56,11 . MA. Cileuleuy 80,15 MA. Ciherang DW* 05 DW 06 S*. Tarum Timur MA. Cipondoh DW 01 DW 02 DW 01 DW 04 DW 05 DW 02 DW 01 DW 02 DW 03 DW 02 Cijengkol DW 01 DW 02 DW 01 8,74 4,31 7,61 38,07 24,71 7,75 7,75 5,24 4,74 5,26 6,00 4,89 5,86 6,35 5,90 40,00 5,00 5,00 10,00 0,090 0,090 0,090 0,038 0,038 0,038 0,068 0,053 0,053 0,017 0,016 0,016 0,016 0,052 0,052 0,052 0,035 0,053 0,019 0,019 0,038 Keterangan : MA* = Mata air. DW* = Sumur dalam. S* = Air permukaan G* = Gravitasi. P* = Pompa. PDT* = Pelanggan y = 3,656x108 1055,348Vdist - . ,113x. Pdt . ,362x. Pdist. Vdist Pdt Pdist = volume distribusi = kepadatan pelanggan = sistem pompa Maryati. Strategi Keruangan untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Sedangkan variabel topografi menggunakan variabel dummy dengan penetapan nilai persis seperti yang digunakan pada biaya produksi, yaitu 0 untuk sistem yang menggunakan tenaga gravitasi dan 1 untuk yang menggunakan pompa untuk sistem distribusi. Koefisien determinasi dari model tersebut sebesar 73,9%. Tingkat kemauan membayar air bersih penduduk Kelurahan Tambakjati dihitung dengan cara merata-rata jumlah rupiah yang bersedia dikeluarkan oleh responden untuk air bersih per m3. Jumlah tersebut didapat dengan cara membagi jumlah yang bersedia dikeluarkan untuk air bersih per bulan dibagi rata-rata volume penggunaan air bersih per Oleh karena itu, analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif serta perhitungan matematis sederhana. Dalam penelitian ini digunakan beberapa skenario untuk menyesuaikan biaya penyediaan air minum dengan kemauan membayar Skenario yang dikembangkan terkait dengan sumber air yang digunakan dan intervensi terhadap variabel keruangan. Dua sumber air yang dapat digunakan di Kelurahan Tambakjati, yaitu sumur dalam dan air Skenario-skenario yang dikembangkan adalah sebagai berikut: Skenario 1a: Sumber air: Air Permukaan, tanpa intervensi keruangan Skenario 1b: Sumber air: Air Permukaan, dengan intervensi keruangan berupa meningkatkan jumlah dan kepadatan Skenario 2a: Sumber air: Sumur Dalam, tanpa intervensi keruangan Skenario 2b: Sumber air: Sumur Dalam, dengan intervensi keruangan berupa meningkatkan jumlah dan kepadatan pelanggan. duduk adalah air permukaan dan tidak ada intervensi terhadap kondisi keruangan eksisting, biaya penyediaan air minum masih berada diatas kemauan membayar masyarakat. Biaya penyediaan air minum dengan skenario ini adalah Rp 17. 538/m3, sedangkan kemauan membayar masyarakat adalah Rp. 3280/m3. Nilai dari variabel untuk skenario ini ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai Masing-Masing Variabel SPAM air Permukaan pada Skenario Variabel Jumlah penduduk . Asumsi jumlah pelanggan . Asumsi volume produksi . Biaya produksi per tahun Biaya produksi per m3 Volume distribusi . Kepadatan pelanggan (SL/. Biaya distribusi per tahun Biaya distribusi per m3 TOTAL BPAM per m3 MWTP Nilai 0,016 Sumber: Hasil Analisis, 2010 Skenario 1b: Air Permukaan. Dengan Intervensi Keruangan Apabila sumber air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk adalah air permukaan, maka dilakukan intervensi terhadap kondisi keruangan sebagai berikut: Jumlah penduduk dalam wilayah pelayanan: 33. Cakupan pelayanan: 80% Kepadatan pelanggan: 0,05 SL/m Maka biaya penyediaan air minum adalah sebesar Rp 3124/m3. Biaya penyediaan air minum dengan skenario ini berada dibawah kemauan membayar masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3. Nilai Masing-Masing Variabel SPAM air Permukaan pada Skenario Skenario 1a : Air Permukaan. Tanpa Intervensi Keruangan Apabila sumber air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih pen- Variabel Jumlah penduduk . Asumsi jumlah pelanggan . Asumsi volume produksi . Biaya produksi per tahun Nilai Jurnal Purifikasi. Vol. No. Juli 2011: 93-100 Biaya produksi per m3 Volume Distribusi . Kepadatan pelanggan (SL/. Biaya distribusi per tahun Biaya distribusi per m3 TOTAL BPAM per m3 MWTP 0,050 Sumber: Hasil Analisis, 2010 Skenario 2a: Skenario Sumur Dalam. Tanpa Intervensi Keruangan Apabila sumber air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk adalah air sumur dalam dan tidak ada intervensi terhadap kondisi keruangan eksisting, biaya penyediaan air minum masih berada di atas kemauan membayar masyarakat. Biaya penyediaan air minum dengan skenario ini adalah Rp 7. 514 per m3, sedangkan kemauan membayar masyarakat adalah Rp. 3280/m3. Nilai dari variabel untuk skenario ini ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Nilai Masing-Masing Variabel SPAM air Permukaan pada Skenario Variabel Jumlah penduduk . Asumsi jumlah pelanggan . Asumsi volume produksi . Biaya produksi per tahun Biaya produksi per m3 Volume Distribusi . Kepadatan pelanggan (SL/. Biaya distribusi per tahun Biaya distribusi per m3 TOTAL BPAM per m3 MWTP Nilai 0,016 Sumber: Hasil Analisis, 2010 Skenario 2b: Skenario Sumur Dalam. Dengan Intervensi Keruangan Apabila sumber air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk adalah air sumur dalam dan dilakukan intervensi terhadap kondisi keruangan sebagai berikut: Jumlah penduduk dalam wilayah pelayanan: 9. Cakupan pelayanan: 80% Kepadatan pelanggan: 0,057 SL/m Maka biaya penyediaan air minum adalah sebesar Rp 3. 254 per m3. Biaya penyediaan air minum dengan skenario ini berada di bawah kemauan membayar masyarakat. Kondisi variabel untuk skenario 2b ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5. Nilai Masing-Masing Variable SPAM air Permukaan pada Skenario Variabel Jumlah penduduk . Asumsi jumlah pelanggan . Asumsi volume produksi . Biaya produksi per tahun Biaya produksi per m3 Volume Distribusi . Kepadatan pelanggan (SL/. Biaya distribusi per tahun Biaya distribusi per m3 TOTAL BPAM per m3 MWTP Nilai 0,057 Sumber: Hasil Analisis, 2010 KESIMPULAN Sistem penyediaan air bersih yang tepat untuk dikembangkan di Kelurahan Tambakjati terdiri atas 2 alternatif, yaitu: sistem yang menggunakan air permukaan dan sistem yang menggunakan sumur dalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi keruangan yang dibutuhkan untuk masing-masing sistem, yaitu: untuk skenario air permukaan, strategi keruangan yang dapat diterapkan agar biaya penyediaan air minum sesuai dengan kemauan membayar masyarakat adalah dengan memperluas wilayah pelayanan hingga Kelurahan Ciberes. Gempolsari, dan Jatiragas Hilir, dengan jumlah pelanggan adalah 85% dari total jumlah penduduk, serta kepadatan pelanggan adalah 0,050 SL/m. Sedangkan untuk skenario sumur dalam, strategi keruangan yang diterapkan adalah jumlah pelanggan 80% dari jumlah penduduk Tambakjati, serta kepadatan pelanggan 0,057 SL/m. UCAPAN TERIMA KASIH Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Dirjen Dikti yang telah memberikan dana Maryati. Strategi Keruangan untuk Meningkatkan Akses Masyarakat Penelitian Hibah Bersaing dengan nomor kontrak: 802/H11/LK-APBN/A. 01/ 2009 Tanggal 11 Mei 2009. Joko. Unit Air Baku dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu. Yogyakarta DAFTAR PUSTAKA