REPRESENTASI PEREMPUAN DAN ISU SOSIAL DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA: ANALISIS PERSPEKTIF WARGANET Anisa Maulidiya Istikomah Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: istiqomanisaa@gmail. Happy Dwi Ardike Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: happydwiardike88@gmail. Nabila Nur Aini Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: nabilanuraini205@gmail. Mohamad Afrizal Universitas Muhammadiyah Jember. Jember. Indonesia e-mail: afrizal@unmuhjember. ABSTRACT This study aims to analyze the themes in the comments of netizens on the Youtube platform about the movie Ayat Ayat Cinta. Adapted by Habiburrahman El Shirazy. The main focus is love, religion, culture, and feminism, related to the movie Ayat-Ayat Cinta. Using a qualitative method, this study adopted a discourse analysis approach to examine user-generated comments from YouTube videos, including trailers and reviews. Data collection was done by systematically selecting comments based on popularity, relevance, and interaction metrics. The analysis used thematic coding to identify recurring patterns in public discourse. The theoretical framework used includes mass communication theory to understand digital public engagement, feminist theory to explore gender portrayals, and literary theory to contextualize the societal narratives in the film. The results showed diverse opinions, ranging from praise of the Islamic values and moral ideals portrayed in the film to criticism of the passive portrayal of certain female characters. The research highlights YouTube as an interactive public space, reflecting broader cultural dynamics such as religious tolerance and gender roles. YouTube proved to be an interactive public space that reflects cultural dynamics such as tolerance and gender roles. This study recommends the exploration of other platforms, such as TikTok or Instagram, to expand the understanding of audience engagement with literary adaptations. Keywords: comments, cultural representation, digital public discourse, feminism PENDAHULUAN Gambaran awal mengenai opini netizen di YouTube dalam film Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah salah satu film populer yang mencatatkan sejarah di Indonesia. Mengangkat tema cinta, agama, dan budaya, film ini tidak hanya menarik minat cinephile dari berbagai kalangan Page | 83 tetapi juga memengaruhi diskursus publik melalui adaptasi filmnya yang dirilis pada tahun 2008. Popularitas film ini melahirkan respons yang luas di berbagai platform digital, termasuk YouTube, yang menjadi ruang diskusi aktif di era digital (Santoso & Pranata. YouTube, sebagai platform penggunanya untuk tidak hanya menonton ulasan dan trailer film tetapi juga menyampaikan pendapat dan interpretasi mereka melalui komentar. Komentar-komentar ini, yang mencakup apresiasi, kritik, hingga refleksi personal terhadap tema dan nilai-nilai dalam Ayat-Ayat Cinta, keragaman opini masyarakat. Dalam konteks ini. YouTube berfungsi sebagai wadah diskursus publik, di mana karya sastra populer seperti Ayat-Ayat Cinta menjadi pusat perhatian dan bahan diskusi lintas budaya dan agama (Hidayanto & Irwansyah 2. Komentar netizen di YouTube juga memiliki signifikansi sebagai bentuk respons sosial terhadap karya sastra Analisis terhadap komentar ini dapat menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai nilai-nilai agama, moralitas, dan cinta yang diangkat oleh cerita Ayat-Ayat Cinta. Dengan mengkaji pola komentar, dapat diidentifikasi pandangan umum, persepsi budaya, dan peran agama dalam kehidupan seharihari masyarakat. Selain itu, komentarkomentar ini menunjukkan bahwa audiens tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi juga partisipan aktif dalam membangun makna dan diskursus yang relevan dengan isu-isu kontemporer (Prasetya & Sadewo 2. Deskripsi film Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy mengisahkan perjalanan cinta dan spiritual seorang mahasiswa asal Indonesia bernama Fahri bin Abdillah yang menempuh studi di Al-Azhar. Mesir. Alur cerita berpusat pada perjuangan Fahri menjalani kehidupan yang penuh tantangan, terutama dalam hubungannya dengan empat wanita yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda: Maria Girgis, seorang Kristen Koptik yang toleran. Nurul, gadis Muslim dari keluarga terpandang. Noura, seorang perempuan Mesir yang menjadi korban kekerasan. dan Aisha, perempuan Muslim Jerman-Turki yang menjadi istrinya. Film ini mengangkat tema cinta yang dilandasi nilai-nilai agama dan budaya, menghadirkan dilema moral yang kompleks di tengah keberagaman sosial dan budaya Mesir. Dengan menggabungkan unsur cinta, agama, dan budaya. Ayat-Ayat Cinta menjadi refleksi tentang pentingnya toleransi, kesabaran, dan iman dalam menghadapi konflik batin serta sosial, menjadikannya relevan bagi pembaca di berbagai konteks budaya. Unsur intrinsik yang menarik dalam film Ayat-Ayat Cinta, salah satu unsur intrinsik yang sangat penting adalah tokoh, yang menjadi pusat dalam membangun cerita dan tema. Tokoh utama. Fahri, yang diperankan oleh Fedi Nuril, merupakan simbol dari pemuda yang mencari cinta sejati dalam bingkai nilai-nilai agama dan budaya. Karakter ini menghadapi dilema moral dan emosional yang mencerminkan konflik batin yang dialami banyak orang, terutama dalam konteks hubungan antaragama dan perbedaan budaya. Plot film mengungkapkan perkembangan hubungan Fahri dengan dua perempuan. Aisha dan Maria, yang menjadi bagian penting dalam menggambarkan tema cinta, agama, dan perjuangan hidup. Latar Mesir sebagai setting utama juga Page | 84 memberikan dimensi yang kuat, mencerminkan pertemuan antara dunia Timur dan Barat, serta memperlihatkan membentuk cara pandang terhadap cinta dan kehidupan. Sudut pandang yang digunakan dalam film ini lebih banyak berfokus pada Fahri, yang memberikan nuansa subjektif terhadap cerita dan menambah kedalaman konflik Keterkaitan film ini dengan komentar netizen di platform YouTube sangat erat, karena banyak penonton yang membagikan reaksi dan pendapat karakter-karakter tersebut, serta bagaimana mereka menilai perjalanan emosional dan moral yang ditampilkan dalam film. Komentarkomentar ini mencerminkan beragam pandangan tentang nilai-nilai yang diangkat dalam film, seperti pandangan tentang cinta, agama, dan peran bagaimana media sosial menjadi ruang untuk dialog dan refleksi sosial. Seperti yang dijelaskan oleh Pieter . "Komentar di media sosial sering kali menggambarkan reaksi emosional dan intelektual terhadap tema-tema yang diangkat dalam sebuah karya, yang mencerminkan hubungan antara teks budaya dan audiens. " Hal ini juga sesuai dengan pendapat Kusumaningtyas . , yang menyatakan bahwa filmfilm dengan tema universal, seperti Ayat-Ayat Cinta, sering kali memicu respons yang beragam dari penonton. Respons ini dapat terlihat jelas melalui komentar di platform digital, yang mencerminkan berbagai perspektif yang muncul dari penonton yang terhubung dengan teks tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana karya budaya, khususnya film, dapat mengundang interaksi yang intens di ruang digital, yang semakin memperkaya wacana publik seiring berkembangnya teknologi Dalam penelitian ini, terdapat dua pertanyaan utama yang menjadi fokus analisis. Pertama, apa yang menjadi fokus analisis dalam komentar netizen terhadap film Ayat-Ayat Cinta di platform YouTube? Hal ini mencakup bagaimana netizen merespons dan mengenai film tersebut, baik dari segi penggambaran tema yang ada. Kedua, komentar-komentar tersebut mencerminkan pandangan sosial budaya, khususnya terkait isu perempuan dan agama yang diangkat dalam cerita? Pertanyaan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana persepsi masyarakat terhadap isu-isu sensitif seperti gender dan agama yang tercermin dalam film, serta bagaimana hal ini berpengaruh pada interaksi sosial di dunia maya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami respons netizen terhadap film Ayat-Ayat Cinta melalui analisis komentar di YouTube, dengan fokus pada bagaimana mereka menanggapi tema-tema utama yang ada dalam karya Dengan menggali berbagai komentar-komentar tersebut, penelitian ini mengeksplorasi isu-isu sosial dan budaya yang diangkat dalam film. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana media sosial, khususnya YouTube, dapat berfungsi sebagai ruang diskusi publik yang mencerminkan persepsi masyarakat terhadap karya sastra populer. Selain itu, mengungkap dinamika pandangan sosial budaya yang berkaitan dengan isu perempuan dan agama dalam konteks Page | 85 budaya Indonesia, sehingga dapat memberikan wawasan lebih luas mengenai interaksi antara media dan TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan merangkum berbagai teori dan terhadap representasi perempuan dan isu sosial dalam film Ayat-Ayat Cinta melalui komentar di YouTube. Teori representasi yang dikemukakan oleh Stuart Hall . menjadi dasar utama dalam memahami bagaimana media tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuknya melalui konstruksi budaya. Dalam konteks film Ayat-Ayat Cinta, perempuan dapat dikaji untuk melihat apakah mereka digambarkan sebagai individu yang berdaya atau sekadar Penelitian Rahmawati . menegaskan bahwa media sering kali mereproduksi stereotip gender yang berdampak pada persepsi masyarakat terhadap peran perempuan. Selain itu, teori feminisme media dari Mulvey . melalui konsep male gaze relevan dalam analisis ini, di mana perempuan dalam film sering kali diposisikan sebagai objek visual bagi pandangan laki-laki. Komentar netizen di YouTube dapat apakah film ini memperkuat atau menantang narasi patriarkal. Studi Puspita . menyatakan bahwa film dengan latar budaya patriarkal sering membatasi peran perempuan dalam narasi sebagai sosok pasif yang bergantung pada laki-laki. Lebih lanjut, teori diskursus sosial dari Foucault . menjadi penting untuk memahami bagaimana opini publik yang muncul dalam komentar YouTube mencerminkan wacana sosial yang berkembang mengenai isu gender dan sosial. Foucault . menyoroti bagaimana kekuasaan dan pengetahuan berinteraksi dalam membentuk wacana yang diterima oleh masyarakat, di mana kekuasaan tidak hanya dipraktikkan oleh institusi, tetapi juga melalui diskursus yang terjadi dalam ruang publik seperti media sosial. Dalam konteks ini, teori Kristeva berperan penting, di mana film sebagai teks budaya selalu berhubungan dengan teks lain yang telah ada sebelumnya, baik dalam konteks budaya, sosial, referensi-referensi Studi Nugroho . menunjukkan bahwa film dengan muatan religius sering kali mendapatkan tanggapan beragam di media sosial, yang mencerminkan perbedaan interpretasi antar kelompok masyarakat terkait nilai-nilai agama dan budaya, serta bagaimana diskursus tersebut dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan keagamaan masing-masing individu yang terlibat dalam percakapan di platform digital. Dalam era digital, media sosial seperti YouTube telah menjadi ruang partisipasi publik yang memungkinkan audiens untuk terlibat dalam diskusi Menurut Boyd dan Ellison . , media sosial memberikan peluang bagi individu untuk berpartisipasi dalam wacana yang sebelumnya dimonopoli oleh media konvensional. Prasetyo . juga menunjukkan bahwa komentar netizen di YouTube sering kali mencerminkan opini masyarakat yang berkembang terkait isu-isu gender dan Beberapa studi terdahulu yang Page | 86 relevan dalam penelitian ini antara lain penelitian Sari . yang menemukan bahwa representasi perempuan dalam film Indonesia masih didominasi oleh narasi patriarki, serta penelitian Widodo . yang mengungkap bahwa film dengan latar religius cenderung memperlihatkan perempuan dalam peran domestik yang konservatif. Dengan demikian, kajian pustaka ini menunjukkan bahwa berbagai teori seperti representasi, feminisme media, dan diskursus sosial dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana netizen representasi perempuan dan isu sosial dalam film Ayat-Ayat Cinta. Artikel pendekatan analisis wacana atau analisis teks untuk mengkaji komentar netizen terhadap film Ayat-Ayat Cinta di YouTube. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap makna, ideologi, dan pola diskursus yang terkandung dalam teks komentar. Dalam penelitian ini, analisis wacana dikombinasikan dengan perspektif feminisme, teori representasi, serta pendekatan kritis lainnya guna memahami bagaimana bahasa digunakan oleh netizen untuk membangun dan mereproduksi makna terkait tema-tema dalam film, seperti cinta, agama, gender, dan budaya. Sebagai landasan teoritis, artikel ini mengintegrasikan teori diskursus, teori feminisme, dan teori komunikasi Wacana merupakan konsep yang sangat sentral bagi Foucault . Dalam penggunaan sehari-hari, wacana mengacu pada kumpulan teks atau ucapan yang bermakna. Menurut Foucault . wacana adalah kumpulan ujaran. Wacana mencakup segala sesuatu yang tertulis, diucapkan, atau dikomunikasikan menurut aturan Lebih jauh lagi, wacana mengatur apa yang dapat dikatakan, siapa yang dapat mengatakannya, bagaimana mengatakannya, dan kapan Wacana menggabungkan bahasa dan praktik dan mengacu pada semua prosedur dan aturan yang ada. Dalam konteks penelitian ini, teori diskursus digunakan representasi perempuan dalam film Ayat-Ayat Cinta dikonstruksi dalam narasi media dan bagaimana netizen menanggapinya melalui komentar di YouTube. Komentar netizen di YouTube dianalisis untuk melihat bagaimana perempuan dalam film tersebut. Dengan menggunakan teori diskursus, peneliti dapat memahami bagaimana makna mengenai peran gender dikonstruksi dan dinegosiasikan dalam ruang digital. Hal ini memberikan wawasan tentang bagaimana media membentuk dan memperkuat norma sosial serta bagaimana audiens berpartisipasi dalam wacana publik terkait isu gender. Sementara itu, teori feminisme direpresentasikan dalam film Ayat-Ayat Cinta serta bagaimana isu sosial yang Salah satu pendekatan yang mungkin digunakan adalah Analisis Wacana Kritis model Sara Mills, yang melihat bagaimana posisi perempuan dalam film dapat mempengaruhi cara audiens memahami dan menafsirkan peran gender Mills . Artikel ini juga menyoroti bagaimana netizen menanggapi representasi perempuan dalam film tersebut melalui komentar di YouTube, yang dapat mencerminkan terhadap isu gender dan kesetaraan. Dengan Page | 87 terhadap teori feminisme dalam tinjauan pustaka menjadi dasar dalam mengevaluasi representasi perempuan dalam film dan respons publik Teori representasi perempuan dalam film Ayat-Ayat Cinta dipersepsikan oleh audiens, khususnya dalam konteks budaya patriarki dan nilai-nilai agama. Adapun juga Teori komunikasi massa dapat dijelaskan dari dua Yaitu bagaimana orang menyebarkannya melalui media, dan menggunakan berita tersebut. Secara sederhana, komunikasi massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi melalui media massa. Dalam kajian komunikasi massa, unsur media massa memegang peranan yang sangat Studi komunikasi massa sangat dipengaruhi oleh tren media massa dan penggunaannya oleh khalayak. Teori ini digunakan untuk memahami bagaimana pesan dalam media digital memengaruhi opini publik Hadi, at all . Dalam analisis representasi perempuan dalam penting untuk bagaimana media mengonstruksi citra perempuan dan bagaimana audiens menafsirkan representasi tersebut. Analisis mengungkap bias gender dalam media dan memahami dampaknya terhadap persepsi masyarakat. Dengan demikian, teori komunikasi massa memberikan kerangka kerja yang penting dalam meneliti representasi perempuan dan isu sosial dalam media, serta memahami respons audiens terhadap representasi Teori komunikasi massa, di sisi lain, memberikan kerangka untuk memahami peran media digital seperti YouTube dalam memfasilitasi diskusi publik tentang karya sastra populer van Dijk . Melalui kombinasi pendekatan dan teori ini, analisis difokuskan pada mencerminkan atau menantang norma sosial dan budaya yang dominan. Dengan memanfaatkan teori-teori tersebut, penelitian ini tidak hanya mengungkap pandangan individual tetapi juga pola dan tren diskursus yang lebih luas. Hal ini memungkinkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika interaksi digital dalam konteks respons terhadap karya sastra dan budaya populer Gee . METODE PENELITIAN Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menganalisis perspektif perempuan dan isu sosial dalam film Ayat-Ayat Cinta berdasarkan komentar di YouTube. Penelitian ini bersumber dari data primer berupa komentar netizen pada video terkait film tersebut, serta data sekunder seperti jurnal, artikel, dan literatur pendukung terkait teori feminisme dan kajian representasi perempuan dalam media. Teknik dilakukan melalui metode dokumentasi, menyaring, dan mendokumentasikan komentar yang relevan untuk dianalisis lebih lanjut. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan metode analisis isi kualitatif, dengan kategorisasi komentar berdasarkan tema tertentu, dan interpretasi menggunakan teori feminisme serta kritik sosial dalam sastra. Penyajian hasil penelitian dilakukan secara deskriptifanalitis, di mana temuan penelitian akan Page | 88 dikategorikan representasi perempuan dan isu sosial yang terdapat dalam komentar, serta interpretasi perspektif netizen terkait hal tersebut. Penelitian ini mengacu pada konsep yang dikemukakan oleh para ahli, seperti Moleong . , yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan, serta Krippendorff . , yang menjelaskan bahwa analisis isi bertujuan untuk mengidentifikasi pola dan makna dalam teks secara sistematis. Lebih lanjut, penelitian ini juga menelaah bagaimana dinamika diskusi di konstruksi sosial dan budaya dalam memahami representasi perempuan dalam film. Seperti yang diungkapkan oleh Fairclough . , analisis wacana kritis dapat membantu mengidentifikasi tersampaikan melalui bahasa dan interaksi sosial. Dengan demikian, komentar-komentar netizen tidak hanya dipahami sebagai pendapat individu, tetapi juga sebagai bagian dari wacana yang lebih luas terkait peran gender dan norma sosial dalam masyarakat. Dengan metodologi ini, penelitian diharapkan komprehensif mengenai perspektif perempuan dan isu sosial dalam film Ayat-Ayat Cinta. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Tema Umum pada Komentar Warganet Komentar netizen di platform YouTube terkait film Ayat-Ayat Cinta mencerminkan beragam tema yang menjadi diskusi utama, seperti cinta, agama, budaya, dan feminisme. Dalam konteks cinta, banyak netizen memuji penggambaran Fahri sebagai sosok yang mencintai berdasarkan nilai agama, terlihat pada komentar: Tema ini banyak diapresiasi oleh netizen yang melihatnya sebagai bentuk cinta Islami yang ideal, tetapi ada juga penggambaran ini terlalu idealis dan jauh dari realitas cinta sehari-hari. Tema agama menjadi dominan dalam komentar netizen, mengingat novel dan film ini didasarkan pada nilai-nilai Islam. Banyak komentar menyoroti bagaimana konflik dalam cerita mencerminkan ajaran Islam tentang keikhlasan, pengorbanan, dan toleransi. Salah satu kutipan dari novel yang sering dikaitkan Komentar ini menunjukkan bagaimana film ini dipandang sebagai media dakwah yang memperkenalkan nilai-nilai Islam secara universal. Isu feminisme juga menjadi perdebatan hangat di antara netizen. Beberapa perempuan dalam novel yang dianggap terlalu pasif atau hanya berperan sebagai pendukung tokoh utama pria. Namun, ada juga komentar yang memuji Page | 89 karakter Aisha sebagai representasi perempuan Muslim modern yang kuat dan independen. Hal ini mengacu pada pandangan feminisme yang mengkritik representasi perempuan dalam karya sastra populer sebagai objek alih-alih 2 Perspektif Tentang Perempuan pada Komentar Warganet Karakter perempuan dalam AyatAyat Cinta kerap menjadi bahan diskusi netizen di kolom komentar YouTube. Beberapa netizen memuji Aisha sebagai sosok perempuan Muslim modern yang cerdas, mandiri, dan tangguh. Karakter Aisha sering dipandang sebagai representasi perempuan Muslim ideal, terlihat dari kutipan: Komentar penggambaran perempuan yang kuat dalam film, sekaligus memberikan harapan akan representasi yang lebih progresif bagi perempuan dalam karya sastra Islami. Di sisi lain, beberapa netizen penggambaran karakter Noura, yang dianggap terlalu lemah dan bergantung pada tokoh pria untuk keluar dari Karakter ini mencerminkan stereotip perempuan sebagai korban yang membutuhkan penyelamatan, sebagaimana terlihat dalam komentar: Komentar ini menunjukkan ketidakberdayaan beberapa karakter perempuan dalam film, yang dianggap tidak sesuai dengan gagasan kesetaraan Selain membahas Maria Girgis sebagai tokoh perempuan yang unik dalam novel. Sebagai seorang Kristen Koptik. Maria digambarkan memiliki sikap toleran yang tinggi dan cinta yang tulus kepada Fahri. Komentar: Sering diangkat oleh netizen perempuan dalam hubungan cinta. Namun, komentar lain mengkritisi penggambaran Maria yang dianggap terlalu sempurna, menjadikannya sosok idealistik daripada manusiawi. Pandangan netizen terhadap karakter perempuan dalam novel ini juga memperlihatkan bagaimana nilainilai tradisional dan modern saling Beberapa mencerminkan dukungan terhadap peran perempuan yang lebih aktif dalam mengambil keputusan, sejalan dengan teori feminisme yang mengkritik subordinasi perempuan dalam narasi patriarkal (De Beauvoir, 2. Media Page | 90 sosial seperti YouTube memungkinkan diskusi yang lebih kritis tentang peran perempuan dalam film ini, memperkaya interpretasi publik tentang isu gender dalam sastra populer. Sebagaimana disebutkan oleh Sundar dan Limperos . , platform digital menyediakan ruang bagi audiens untuk menyuarakan menciptakan dialog yang lebih inklusif dan dinamis. 3 Pengaruh Media Sosial terhadap Interpretasi Novel Media YouTube, telah menjadi platform yang interpretasi film Ayat-Ayat Cinta. Kolom komentar pada video ulasan atau diskusi terkait film adaptasi novel ini menjadi ruang bagi netizen untuk berbagi pandangan dan analisis mereka. Sebagai menyebutkan bahwa kisah cinta dalam film ini tidak hanya tentang hubungan romantis, tetapi juga cinta kepada Tuhan. Misalnya pada komentar berikut: Komentar memaknai tema cinta dalam novel sebagai sebuah refleksi spiritual, sehingga memperkaya diskursus publik mengenai makna cinta Islami. Komentar netizen juga berperan dalam mengkritisi elemen-elemen dalam film yang sebelumnya mungkin tidak banyak dipertanyakan oleh Misalnya, komentar menyoroti konflik antara Fahri dan Noura sebagai cerminan isu sosial terkait ketidakadilan gender dalam Media sosial juga memungkinkan audiens untuk melihat film ini dari perspektif lintas budaya. Netizen dari latar belakang non-Muslim atau luar Indonesia kerap memberikan komentar yang menyoroti nilai-nilai universal dalam film, seperti toleransi dan Hal ini diperkuat oleh Perspektif ini menciptakan dialog lintas budaya, memperluas daya tarik film sekaligus memberikan peluang bagi penonton global untuk memahami budaya Islam dalam konteks yang lebih positif dan inklusif. Lebih jauh, diskusi di media sosial memengaruhi bagaimana masyarakat secara kolektif memandang isu-isu yang diangkat dalam film. Sebagaimana disebutkan oleh Sundar dan Limperos . , media sosial tidak hanya menyediakan ruang untuk menyuarakan opini, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk membentuk persepsi kolektif terhadap karya seni. Dalam hal ini, interpretasi film dengan memasukkan sudut pandang personal yang bervariasi, sehingga film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga fenomena sosial yang relevan dalam berbagai konteks. Teori Henry Jenkins participatory culture juga mendukung gagasan bahwa audiens aktif dapat Page | 91 keterlibatan mereka dengan media (Jenkins, 2. 4 Studi Kasus Komentar Warganet Dalam kolom komentar YouTube terkait film Ayat-Ayat Cinta, terdapat beberapa komentar yang menarik untuk dianalisis lebih mendalam karena mencerminkan berbagai perspektif Salah Analisis terhadap komentar ini representasi Simone de Beauvoir yang menjelaskan bahwa perempuan sering digambarkan sebagai sosok ideal atau "yang lain" dalam karya sastra patriarkal . e Beauvoir, 2. Komentar: Pandangan ini dapat dianalisis menggunakan pendekatan teori sosial tentang toleransi agama. Komentar ini audiens terhadap konflik cinta lintas agama dalam cerita ini memunculkan diskusi yang lebih luas tentang realitas sosial di masyarakat, terutama dalam konteks pluralisme dan toleransi di Indonesia. Selain itu, sebuah komentar Perspektif ini dapat dianalisis melalui lensa teori feminisme, yang sering mengkritik penggambaran perempuan sebagai korban pasif. Komentar lain Melalui komentar ini, terlihat bahwa media sosial menjadi ruang untuk mengevaluasi ulang penggambaran perempuan dalam karya sastra populer. Netizen juga memberikan pandangan yang lebih modern terhadap nilai-nilai yang diusung dalam cerita ini. Salah satu komentar menyebutkan: Komentar ini dapat dianalisis menggunakan teori reader-response, di mana interpretasi pembaca dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan konteks sosial mereka (Rosenblatt, 1. Media sosial memberikan platform bagi pembaca untuk berbagi pengalaman dan pemaknaan mereka, yang pada akhirnya Page | 92 memperkaya narasi kolektif tentang Sebagaimana dikemukakan oleh Sundar dan Limperos . , media sosial memainkan peran penting dalam membentuk makna baru yang lebih relevan bagi audiens modern. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa representasi perempuan dalam film ini masih cenderung mereproduksi nilai-nilai patriarki yang kuat, di mana karakter perempuan sering kali digambarkan dalam peran tradisional yang tunduk pada norma sosial dan religius yang Komentar pandangan antara mereka yang menerima representasi tersebut sebagai cerminan budaya dan agama yang ideal, representasi perempuan yang dianggap mencerminkan realitas perempuan modern yang lebih mandiri dan berdaya. Dalam kaitannya dengan isu sosial, film ini menampilkan berbagai persoalan seperti poligami, relasi gender, dan nilainilai religius yang memicu perdebatan di ruang digital. Dibandingkan dengan isuisu kesetaraan gender yang berkembang dalam masyarakat saat ini, film ini masih dianggap kurang mampu memberikan representasi yang inklusif terhadap perempuan sebagai individu yang memiliki hak dan kebebasan yang setara. Sebagai saran, penelitian ini merekomendasikan agar industri film Indonesia, khususnya film bernuansa religi, dapat lebih berupaya dalam menghadirkan representasi perempuan yang lebih beragam dan inklusif, yang mencerminkan perubahan sosial dalam masyarakat modern. Para pembuat film diharapkan untuk lebih peka terhadap memberikan ruang bagi narasi yang lebih memberdayakan perempuan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat lebih kritis dalam mengonsumsi media dan tidak menerima representasi gender secara pasif, melainkan dengan mempertimbangkan perspektif yang lebih luas dan beragam. Platform media sosial seperti YouTube dapat terus menjadi ruang diskusi yang konstruktif perempuan dalam media, sehingga dapat mendorong kesadaran dan perubahan sosial yang lebih progresif. DAFTAR PUSTAKA