p-ISSN: 2776-3919 e-ISSN: 2776-2513 Vol. No. April 2022, page 1Ai18 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/19 Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran The Concept of "Dongkari" in the Perspective of the Cianjuran Sundanese Tembang Song Artist Denis Setiaji*. Program Studi Etnomusikologi. ISI Surakarta. Email: setiajidenis@gmail. Received: 9 February 2022 Accepted: 4 May 2022 Published: 6 May 2022 Keywords: Sundanese song Cianjuran, concept. Kata kunci: Tembang Sunda Cianjuran, konsep. Abstract: The following research explained how dongkari is a concept by artists, singers or AupenembangAy, and practitioners of Tembang Sunda Cianjuran. This research also used phenomenology as an approach, fieldwork activity, and depth interview with AupenembangAy who exist around Bandung. West Java. Through this paper, the author described dongkari as a musical language interpreted by knowledge and empirical practices in the context of the social living of penembang. Eventually, dongkari, as the aesthetic based construction, was interpreted as a complex concept, containing Sundanese world life context, as a based material style of vocal, then should be operating to indicate the virtuosity of penembang. Abstrak: Penelitian ini difokuskan untuk melihat bagaimana pemahaman konsep dongkari dalam perspektif seniman Tembang Sunda Cianjuran. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode fenomenologi dengan melakukan studi lapangan ke sejumlah praktisi Tembang Sunda Cianjuran di wilayah Bandung. Jawa Barat. Penulis mencoba melakukan pemaparan pengetahuan dan pemaknaan praktisi terhadap dongkari dalam konteks kehidupan masyarakat Tembang Sunda Cianjuran. Pada akhirnya dongkari dipahami sebagai konsep yang cukup kompleks, memuat konteks kehidupan masyarakat Sunda, sebagai material konstruksi estetik vokal, sebagai pembentuk gaya personal, hingga sebagai indikator virtuositas para praktisi Tembang Sunda. Citation: Setiaji. Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 2. , 1-18. https://doi. org/10. 30872/mebang. Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Pendahuluan Kesenian Tembang Sunda Cianjuran lahir sebagai sebuah genre musik Janaswara . dengan jenis anggana sekar (Natapraja, 2003, p. , diadopsi dari berbagai kesenian vokal yang berkembang sebelumnya di Tatar Pasundan. Tembang Cianjuran lahir pada masa Pemerintahan R. A Kusumaningrat atau biasa dikenal sebagai Dalem Pancaniti pada pertengahan abad 19 (Sukanda, 1983, pp. 24Ae. Kebanyakan orang menyebut genre musik ini Cianjuran mengacu pada tempat asalnya. Cianjuran yang melibatkan vokalis solo, baik laki Ae laki maupun perempuan melantunkan lagu dengan diiringi suling dan petikan . Pada perkembangannya Cianjuran atau mamaos juga biasa disebut sebagai Tembang Sunda oleh karena kelahirannya yang dibentuk oleh beberapa kesenian di Jawa Barat (Spiller, 2004, p. Ditinjau dari struktur pertunjukannya, bentuk pertunjukan seni mamaos (Tembang Cianjura. sampai pada tahun 1920-an, menyajikan beberapa wanda . diantaranya papantunan, jejemplangan, rarancagan, serta lagu ekstra dalam bentuk instrumentalia. Wanda rarancagan sebelumnya menggunakan laras pelog, sorog, salendro, berkembang dengan penggunaan laras mandalungan. Pada zaman dulu pertunjukan mamaos merupakan pertunjukan kalangenan . biasa digelar di pendapa atau di rumah, namun sekarang menjadi pertunjukan di atas panggung. Mamaos muncul dalam acara resepsi pernikahan, sunatan, radio. TV, dan sebagainya (Wiradiredja, 2005, p. Ditinjau dari aspek sejarah konstruksi musikalnya, dalam sebuah literatur menyebutkan bahwa seni mamaca adalah salah satu bahan dasar seni mamaos atau Tembang Sunda Cianjuran (Sukanda, 1983, p. Namun, ternyata bukan hanya seni mamaca yang menjadi dasar pembentukan seni mamaos. Dikatakan demikian sebab dapat diteliti bahwa selain seni mamaca, terdapat unsur kesenian lainnya yang secara eksplisit terlihat dan jelas asal usulnya. Beberapa kesenian, terutama seni suara Sunda yang telah ada sebelum lahirnya mamaos, hadir menjadi komposisi penyusun Tembang Sunda. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan: AuBahan-bahan dasar pembentuk Cianjuran tersebut antara lain seni Beluk. Pantun. Degung. Wayang Golek Purwa. Ronggeng, dan lain sebagainya. Karena pandainya pencipta seni Mamaos, bahan-bahan dasar tersebut diolah sedemikian rupa, dipadukan menjadi karya seni baru yang kita kenal sekarang seni Tembang Sunda CianjuranAy (Sukanda, 1983, p. Bahan-bahan dasar pembentuk yang dipaparkan di atas bisa ditelusuri dengan melihat seluruh aspek pembentuk Tembang Sunda Cianjuran. Tembang Sunda muncul pada masa Pemerintahan Belanda dan Pencak Silat telah ada sebelumnya. Kehidupan Pencak Silat pada awalnya dalam masa penjajahan, pemerintah Belanda tidak memberi kesempatan Pencak Silat/Beladiri berkembang. Kehidupan Pencak Silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kehidupan Pencak Silat diizinkan berupa pengembangan seni atau kesenian yang menjurus pada suatu upacara atau pertunjukan semata (Saleh, 1986, pp. 14Ae. Sebuah sumber literer menyebutkan bahwa khususnya di Cianjur dalam periode pemerintahan regent R. A Kusumaningrat, seni Tembang Cianjuran, model pakaian, dan Pencak Silat Seni berkembang sangat pesat. Maenpo merupakan rangkaian gerak untuk beladiri, kemudian disusun menjadi seni beladiri semacam pertunjukan bernama penca ibing (Suwondo, 1979, p. Penca Ibing sendiri terbagi kedalam beberapa jenis sajian di Denis Setiaji antaranya. Tepak Dua. Paleredan. Tepak Tilu, dan Padungdung. Bahan dasar pembentuk estetika vokal dalam Tembang Sunda Cianjuran disebut sebagai dongkari. Penulis mencoba untuk melihat bagaimana konsep dongkari menurut kacamata seniman Tembang Sunda Cianjuran. Metode Persoalan dongkari di atas akan penulis deskripsikan berdasarkan pemahaman native sebagai pemilik kesenian Tembang Sunda Cianjuran. Dongkari sebagai konsep berarti sesuatu menurut pemahaman pemilikinya. Untuk itu dalam mendeskripsikannya penulis menggunakan fenomenologi sebagai sebuah konsep sekaligus metode yang relevan. Fenomenologi pada dasarnya merupakan jalan untuk melihat gejala secara mutlak dan mendasar dalam aktivitas ilmiah. Ia bukanlah ilmu melainkan cara pandang . way of looking at thin. untuk meyakinkan orang atas suatu fenomena. Untuk memahami sebuah gejala metode ini mensyaratkan penggunanya untuk bersabar menyaksikan, mendengarkan, hingga menyelami bahasa yang diungkapan (Brouwer, 1983, p. Melalui pendekatan ini penulis mencoba melihat sebuah gejala untuk menghasilkan pengetahuan yang murni (Hardiman & Sitorus, 2009, p. Secara Etimologis. Fenomenologi adalah terusan dari kata fenomenon dan logos yakni ilmu tentang fenomena (Sobur, 2013, p. Secara umum fenomenologi dimaknai seperti pada kutipan di bawah ini. Dalam pengertian yang paling inti, istilah fenomenologi menunjuk pada suatu teori spekulatif tentang penampilan pengalaman. dan dalam penggunaan awal, pengertian fenomenologi dikaitkan dengan dikotomi Auphenomenon-noumenonAy, suatu perbedaan yang tampak . dan yang tidak tampak . Fenomenologi Husserl merupakan usaha spekulatif untuk menentukan hakikat yang seluruhnya didasarkan atas pengujian dan penganalisisan terhadap sesuatu yang tampak (Sobur, 2013, p. Awalnya Fenomenologi merupakan pendekatan filsafat yang fokus terhadap analisis kesadaran manusia (Bagus, 2005, p. Fenomenologi adalah sebuah upaya pengungkapan sebuah makna dari pengalaman individu maupun masyarakat. Makna yang dialami seseorang berkaitan dengan sesuatu yang dialaminya (Edgar & Sedgwick, 2005, p. Kemudian fenomenologi berfokus pada pengalaman personal termasuk bagaimana para individu mengalami sesuatu satu sama lain (Littlejohn, 2002, p. Sejalan dengan itu fenomenologi berkaitan pula dengan penampakan suatu objek, peristiwa, atau suatu kondisi dalam persepsi (Littlejohn & Foss, 2005, p. Kemudian Fenomenologi juga mengajarkan bahwa realitas itu akan muncul melalui sebuah proses aktif yang tidak terlepas dari kesadaran, tidak sama seperti idealism yang menafikan suatu realitas objektif (Delfgaauw, 2001, p. Filsafat Edmund Husserl meskipun tidak secara spesifik membahas studi seni, tetapi dua konsep yang mendasari karyanya menjadi suatu titik tolak metodologis yang bernilai bagi studi Fenomenologi yakni: epoche. terdiri dari pengendalian atau kecurigaan dalam mengambil Ini menunjukkan tentang tidak adanya prasangka yang akan mempengaruhi hasil Metode ini menjadi penting untuk memahami Tembang Sunda Cianjuran dari sudut pandang orang yang seniman ataupun praktisi cianjuran. Kita bisa masuk ke wilayah pengalaman dari pelaku seni untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Pemahaman yang sangat mendalam . ini menjadi penting untuk melihat peristiwa kesenian secara Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran objektif (Sobur, 2013, p. Selanjutnya konsep Edmund Husserl tentang eidetik: yang memberi kemampuan melihat esensi fenomena secara objektif bahkan juga membahas persoalan subjektivitas persepsi dan refleksi. Eidetik mengandaikan adanya kemampuan mencapai pemahaman intuitif tentang fenomena yang juga dapat dipertahankan sebagai pengetahuan AyobjektifAy (Sobur, 2013, p. Objek yang muncul dalam kesadaran akan berbaur dengan objek lainnya secara alamiah, itulah yang menyebabkan makna diciptakan dan pengetahuan kemudian juga dikembangkan (Moustakas, 1994, p. Manusia kemudian melibatkan kesadarannya, dan kesadaran akan selalu berarti kesadaran akan sesuatu atau realitas (Bertens, 1981, p. Jadi dalam studi fenomenologi tidak tertarik mengkaji aspek kausalitas di dalam sebuah peristiwa, melainkan upaya melakukan suatu pengalaman beserta makna pengalamannya (Watt & den Berg, 1995. Hal-hal tersebut di ataslah yang penulis coba lakukan dalam menggali pengetahuan tentang dongkari melalui pengalaman para praktisinya. Pembahasan 1 Definisi dan Ragam Istilah Dongkari Perbedaan yang pertama ialah ragam pemahaman atau pandangan mengenai pendefinisian dongkari. Setelah melakukan studi lapangan dan menemui beberapa praktisi Tembang Sunda, kaitannya dalam mencari informasi terkait apa sebenarnya definisi dongkari, ditemukanlah beberapa ragam pemahaman dalam mengartikan konsep dongkari. Dalam tataran pendefinisan saja, perbedaan pemahaman sudah terjadi. Beberapa penembang ada yang menganut definisi dari pernyataan seniman senior, yakni berpengaruh dalam Karawitan Sunda ataupun guru yang memberikan pengajaran Tembang, ada pula yang mencoba menginterpretasi sendiri definisi dongkari yang diperoleh berdasarkan pengalamannya selama bergelut dengan dunia vokal Tembang Sunda Cianjuran. Elis Rosliani misalnya memiliki pandangan mengenai dongkari seperti di bawah ini. AuDongkari adalah peristilahan yang khususnya di masyarakat Tembang Sunda Cianjuran itu sudah familiar istilah dongkari biasanya digunakan oleh penembang saja. dongkari itu sama dengan hiasan lagu tetapi lebih spesifik pada unsur tekecil saja, hanya serpihanserpihan dari hiasan lagu. Kalau dongkari-dongkari itu digabungkan maka itu istilahnya menjadi ornamen, ornamentasiAy. awancara 12 Oktober 2. Elis memandang bahwa dongkari merupakan partikel musikal pembentuk ornamen vokal. Pemahaman mengenai dongkari sebagai unsur terkecil dari hiasan lagu ini diperoleh dari seorang tokoh Karawitan Sunda yakni Koko Koswara atau yang terkenal dengan sebutan Mang Koko. Neneng Dinar dan Heri Herdini juga menganut definisi dongkari tersebut. Pernyataan di atas adalah salah satu sudut pandang praktisi Tembang Sunda dalam mengartikan dongkari. Partikel musikal yang dimaksud di atas mirip dengan istilah motif. Motif dalam kamus musik artinya melodi khas yang sangat singkat. Pada prinsipnya setiap dongkari memiliki bentuk musikal yang khas, yang akhirnya akan digunakan secara tunggal maupun berangkai. Rangkaian motif tersebut yang nantinya menjadi ornamen. Semisal dongkari a dan b, keduanya merupakan motif . artikel musika. , apabila dongkari a dan b dijadikan satu rangkaian maka disebut sebagai ornamen dengan komposisi motif dongkari a dan b. Denis Setiaji Sedikit berbeda dengan pernyataan di atas. Yus Wiradireja sebagai praktisi Tembang memberikan definisi dongkari sebagai berikut. AuSampai sekarang saya masih melacak apa itu dongkari, sebab dalam kamus Bahasa Sunda belum ada apa itu dongkari. Tapi yang pasti bahwa secara praksis, dongkari itu adalah sebuah kata yang menunjukan pada sebuah teknik-teknik baik cara menembang maupun bagian-bagian musikalAy. awancara 14 Oktober 2. Pernyataan di atas memberikan informasi bahwa kata dongkari itu sendiri tidak ada di dalam kamus Bahasa Sunda, sedangkan peristilahan dongkari sendiri telah ada sejak pertengahan abad 19, ini menjadi persoalan tersendiri terhadap istilah dongkari. Kemudian dongkari tidak terbatas pada unsur-unsur terkecil pembentuk ornamen atau suatu bagianbagian musikal, akan tetapi merujuk pula terhadap persoalan teknik atau cara menembang. Yus menambahkan cara menembang yang dimaksud ialah teknik penyuaraan dan teknik pedotan dalam menggunakan dongkari pada sebuah lagu. Pernyataan Yus di atas telah memposisikan dongkari sebagai sebuah teknik vokal Tembang. Yus juga menyetujui pernyataan salah satu seniman yakni R. Ace Hasan yang menyebutkan dongkari sebagai tajwidnya Tembang Sunda Cianjuran . awancara 21 April Seperti yang diketahui secara umum bahwa tajwid merupakan sebuah ilmu yang penting dalam kaidah pembacaan Al-QurAoan. Seseorang dalam membaca AL-QurAoan harus disertai pemahaman dan penguasaan ilmu tajwid, karena bila pembacaan tajwidnya salah, akan mempengaruhi terhadap arti dan maksud dari sebuah kata atau kalimat ayat dalam ALQurAoan. Dongkari oleh R. Ace Hasan disejajarkan dengan ilmu tajwid dalam membaca AlQurAoan. Artinya dongkari menjadi sangat vital dan penting keberadaan dalam Tembang Sunda Cianjuran. Penggunaan dongkari yang kurang tepat akan mempengaruhi esensi atau lebih pada persoalan rasa serta jiwa lagu yang dinyanyikan. Ada hal yang menjadi pertanyaan ketika mengapa R. Ace pada waktu itu mensejajarkan atau menganalogikan dongkari dengan ilmu tajwid, persoalan ini akan dibahas dalam subbab selanjutnya. Jika ditarik benang merah dari pernyataan-pernyataan di atas, bahwa dongkari merupakan bagian musikal terkecil sekaligus teknik pengeluaran suara pembentuk ornamentasi vokal dalam Tembang Tembang Sunda Cianjuran. Artinya dongkari berisi sejumlah embrio atau potongan pembentuk ornamen yang dihasilkan oleh suatu teknik penyuaraan tertentu. Setiap teknik memiliki istilah-istilah tersendiri yang digunakan oleh para penembang. Pada tahun 1998 Elis Rosliani melakukan penelitian di dalam dua jenis wanda Tembang yakni papantunan dan jejemplangan dengan objek dua orang penembang A. Tjitjah dan Euis Komariah. Hasilnya Elis menemukan sejumlah istilah dongkari sebagai suatu teknik penyuaraan tertentu. Dalam penelitiannya menyebutkan ada 17 jenis teknik dongkari di antaranya sebagai berikut, riak . , reureueus . , gibeg (), kait . , inghak(), jekluk (O. , rante . E), lapis (OO), gedag . , leot (A) A, buntut (A)uA, cacag(//), baledog ( ), kedet . , dorong(I. , galasar(), golosor(). Dalam tesisnya tahun 2014. Elis Rosliani memperlebar narasumber penelitiannya dan menemukan dua jenis dongkari yakni, ombak. , dan dangheuak ( I ). Sejumlah 19 jenis dongkari yang telah dibakukan tersebut dijadikan sebagai metode pembelajaran yang dikenal Simbol dongkari oleh Elis Rosliani dalam skripsi AuTeknik Vokal A. Tjitjah dalam Tembang Sunda CianjuranAy tahun 1998. Kemudian disimbolisasikan oleh Deni Hermawan menggunakan simbol dalam perangkat lunak komputer. Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran dengan Metode Pembelajaran Sistem Oral yang Efektif dan Efisien (MPSOE. yang kini digunakan di lingkungan SMKN (SMKI) 10 Bandung. Sebelum menggunakan simbolisasi perangkat komputer, pada penelitiannya tahun 1998. Elis membuat simbolisasi dongkari secara manual dengan menggunakan tulisan tangan, sebelum pada akhirnya digunakan simbol-simbol pada perangkat komputer. Pada penelitian pertama. Elis mengungkapkan penemuan sejumlah dongkari di atas masih terbatas terhadap dua jenis wanda dalam Tembang yakni papantunan dan jejemplangan. Masih ada beberapa wanda Tembang Cianjuran seperti rarancagan, dedegungan, kakawen dan sekar panambih yang kemudian dikaji sebagai bahan tesisnya. Hal tersebut menjelaskan bahwa tidak menutup kemungkinan masih terdapat dongkari jenis lainnya apabila memperluas kajian wanda Tembang. Akan tetapi untuk penelitian ini, penulis mencoba menggunakan pengetahuan istilah yang digunakan Euis Komariah sebagai bahan analisis kajian dongkari. Sejumlah istilah di atas lazim digunakan terutama oleh penembang yang berguru bersama Euis Komariah. Dalam hal ini Elis Rosliani dan Neneng Dinar pernah menjadi murid Tembang dari Euis Komariah. Neneng berpendapat bahwa kajian Elis dipandang mampu memperkaya pengetahuan dongkari di kalangan penembang. Secara umum Neneng setuju dengan definisi dari sejumlah dongkari yang diformulasikan oleh Elis. Walaupun ada hal-hal yang berbeda seperti pemahaman tentang dongkari kedet dan jekluk yang menurut Elis berbeda akan tetapi menurut Neneng adalah teknik yang sama . awancara, 24 Juni 2. Menurut Yus munculnya istilah-istilah dongkari dalam Tembang Sunda Cianjuran merupakan penganalogian bentuk musikal yang mempersonifikasikan pada gerak manusia dan fenomena alam. Hal tersebut terlihat dari penjelasan Yus yang selalu menjelaskan dongkari dengan analogi ditambah dengan gambaran musikal. Sehubungan dengan 19 teknik dongkari yang disusun oleh Elis, dipandang sebagai sesuatu yang belum umum di kalangan seniman tembang. Hal tersebut karena sejumlah istilah yang Elis kumpulkan, terbatas pada dua narasumber utama yakni A. Tjitjah dan Euis Komariah . awancara, 25 Juni 2. Kenyataan di lapangan memang tidak semua menggunakan konsep dan pemahaman dongkari di atas baik secara istilah teknik maupun simbolisasinya. Elis sebagai seorang yang membakukan istilah di atas tidak memungkiri bahwa penembang lainnya memiliki cara Hal tersebut disebabkan faktor dimana si penembang berguru dan kebiasaankebiasaan yang dilakukannya secara personal. Dalam menyebutkan sebuah teknik misalnya, banyak ditemukan penggunaan istilah yang berbeda akan tetapi menunjuk terhadap teknik yang sama secara auditif. Seperti yang diungkapkan oleh Elis di bawah ini. Ausaya meneliti ke ibu Euis Komariah dan ibu A. Tjitjah istilah-istilah yang dipergunakan saya pada saat itu, istilah yang dipergunakan oleh ibu Euis Komariah. Mungkin saja istilahistilah yang digunakan ibu Euis Komariah itu berbeda dengan penembang lain tetapi cara membunyikannya sama misalnya ada dongkari jekluk yang di luar disebut kedet tetapi bunyinya sama, ada lagi riak dan ombak, ada juga beulit yang lain ranteAy. awancara 12 Oktober 2. Perbedaan lainnya yang disebutkan seperti dongkari dangheuak ada yang menyebutnya dengan meong heuay, tentunya secara teknis dalam menghasilkan bentuk auditifnya tetap Seperti itulah keadaannya yang terjadi di antara penembang, namun kecenderungan Denis Setiaji perbedaan secara signifikan, terjadi di lingkungan seni yang non-formal seperti sanggarsanggar atau paguyuban Tembang. Penembang yang mengenyam pendidikan formal di SMKN 10 Bandung maupun ISBI Bandung dewasa ini memang telah menggunakan konsep dongkari yang dibakukan sebagai metode pembelajaran di atas. Pada akhirnya lulusan-lulusan sekolah formal tersebut terutama yang mengambil spesialisasi Tembang Sunda Cianjuran cenderung lebih seragam pemahamannya mengenai konsepsi dongkari. Selain istilah, simbolisasi teknik dalam dongkari sebelum adanya metode baku, secara umum penembang menggunakan simbol yang disebut notasi Cacing. Disebut notasi Cacing karena penembang hanya membuat garis-garis horizontal, vertikal, maupun lengkungan untuk keperluan simbolisasi sebuah teknik. Notasi Cacing ini digunakan oleh penembang untuk menandai teknik dongkari tertentu yang nantinya dibubuhkan di atas rumpaka atau teks tembang dalam kegiatan menembang terutama pada saat latihan. Neneng Dinar juga dalam pengalamannya belajar Tembang Sunda juga mengenal dan menggunakan notasi Cacing seperti pernyataannya di bawah ini. Au . karena banyak tehnik-tehnik tembang memang henteu tiasa dinotasikeun ngan tiasana nganggo gambar sora atanapi disebatnateh notasi Cacing, aya reureueus, aya jenghak, renghik, gedag, itu harus dipelajari betul-betul. Ay. awancara 28 April 2. karena banyak teknik-teknik tembang memang tidak bisa dinotasikan hanya bisa memakai gambar suara atau disebut dengan notasi Cacing, ada reureueus, jenghak, renghik,2 gedag, itu harus dipelajari betul-betul. Neneng menggunakan notasi Cacing yang dibuatnya sendiri. Sejumlah istilah teknik dibuat notasi Cacingnya untuk membantu menandai penggunaan teknik dalam rumpaka atau teks Tembang, yang hendak dilagukan. Pembuatan notasi Cacing satu teknik dengan teknik lainnya tentunya harus berbeda, simbol Cacing tersebut biasanya dibuat menggunakan analogi sesuai dengan bentuk auditif teknik dan tinggi rendahnya nada. Namun, pada prakteknya Neneng menggunakan notasi Cacing untuk menandai teknik dongkari yang notabene dianggap sulit misalnya, golosor, rante, jekluk, dan sebagainya . awancara, 25 Juni 2. Gambar 1. Contoh manuskrip penggunaan notasi Cacing di atas rumpaka Tembang Sunda Cianjuran. (Koleksi foto Neneng Dina. Teknik renghik secara auditif sama dengan dongkari inghak . awancara 24 Juni 2. Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Uniknya setiap penembang mempunyai cara masing-masing pula dalam membuat notasi Cacing. Artinya notasi Cacing yang dibuat dan digunakan oleh si penembang A belum tentu bahkan tidak akan dimengerti oleh si penembang B, seperti yang dikemukakan oleh Elis Rosliani di bawah ini. AuOrnamenna atanapi reureueus na dikieukeun tanpa menyebut istilah dongkari sehingga penembang itu dapat memberikan tanda masing-masing terhadap lagu menurut simbol masing-masing, misalna ceuk guru teh tah lebah dieuna direureueusan ah kira-kirana nadana ka luhur kita buat Cacing ka luhur jadi membuat simbol sendiri, itu rata-rata penembang yang belajar secara oral ka guruna. Simbolna teh aya anu lempeng siga Cacing, aya nu mudun lamun nadana turun, nu Cacingna ka luhur. Dengan kondisi seperti ini hanya bisa dimengerti oleh person masing-masingAy. awancara 23 April 2. (Ornamen atau rereueus-nya dibuat seperti ini/itu tanpa menyebut istilah dongkari sehingga penembang itu dapat memberikan tanda masing-masing terhadap lagu menurut simbol . ang dibua. masing-masing. Misalnya kata guru bagian lagu tertentu diberikanlah reureueus, nah kita membuat Cacing . ke atas jadi membuat simbol sendiri, itu ratarata penembang yang belajar secara oral kepada gurunya. Simbolnya ada yang lurus seperti Cacing, ada yang lurus kebawah bila nadanya turun, ada juga yang Cacingnya ke Dengan kondisi seperti ini hanya bisa dimengerti oleh person . Notasi Cacing sebagai upaya simbolisasi teknik dalam dongkari mengedepankan sifat personal atau subjektif, akan tetapi tidak merubah esensi musikal yang terbentuk karena pada dasarnya para seniman tetap dapat mengukur sebuah teknik yang ideal secara auditif. Pada akhirnya walaupun berbeda metode pengajaran dan pemahamannya, tetap menghasilkan sebuah estetika musikal Tembang Cianjuran yang diterima oleh masyarakat Tembang Sunda Cianjuran. Ternyata beberapa seniman tidak menyebutkan ornamen dengan istilah dongkari, guru dari Elis sendiri menyebut ornamen dengan istilah reureueus yang pada umumnya digunakan oleh para penembang untuk menamakan semua jenis dongkari. Akan tetapi dalam penelitiannya reureueus termasuk ke dalam salah satu jenis teknik vokal/dongkari tertentu secara lebih spesifik. Penembang lain ada pula yang menyebutkannya AurendaAy. Istilah AurendaAy sendiri kita ketahui lazim digunakan sebagai sebutan hiasan atau ornamen dalam kain ataupun Euis Komariah bahkan menyebutkan dongkari dengan istilah AusesuatuAy(Rosliani, 2014: . Informasi tersebut berbanding lurus dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Neneng Dinar di bawah ini. Aulamun teu diimeutan mah teknik teh asa genah weh, tapi da asa aya naon kitu, enya bener da ngalagunamah kadinya tapi da asa aya naon kitu, eta AusesuatuAy, tah didinya teh aya AusesuatuAy, ibu Euis mah kitu ngajarkeun teh tikapungkur. Berarti naon anu diajarkeun teh kedah diperdalam teknik teh dongkari-dongkari tehAy. awancara 28 April 2. ila tidak teliti sepertinya teknik tersebut sudah enak . , tapi sepertinya ada . ang kuran. , arah melagunya sudah benar tapi sepertinya ada apa, itu AusesuatuAy, nah disana Denis Setiaji ada AusesuatuAy, ibu Euis seperti itu mengajarkan . dari dulu. Berarti apa yang diajarkannya harus diperdalam tekniknya dongkari-dongkari tersebu. AuSesuatuAy yang dimaksud oleh Euis Komariah di atas selain menyebutkan adanya teknik dongkari dalam kalimat atau bahkan suku kata sebuah rumpaka, juga menunjukan suatu bunyi musikal dalam sebuah teknik yang khas, namun tidak dapat dijelaskan secara spesifik cara pengolahan suaranya. Euis Komariah biasanya menyuruh para muridnya untuk AungimeutanAy atau mencermati secara detail bentuk auditif sebuah teknik, kemudian untuk bisa mencari cara masing-masing dalam menguasainya. Beberapa pemaparan di atas merupakan gejala umum yang terjadi terkait dengan pendefinisian konsep dongkari beserta sejumlah istilah di dalamnya. Selain dongkari secara terminologis, teknik-teknik yang berbeda secara auditif diberikan istilah yang beragam pula, sehingga sering terjadi penamaan berbeda terhadap teknik yang sama. Upaya simbolisasi terhadap teknik telah dilakukan namun tetap mengedepankan personalitas pada praktiknya. Bahkan kata dongkari sebagai sebuah kata yang umum sekalipun ada yang menyebutkan dengan istilah lainnya. Bila melihat fenomena di atas, subjektivitas pemahaman dongkari begitu kental. Ragam pemahaman di tingkat personal seniman khususnya penembang menjadi indikator belum adanya sistem baku tentang pengetahuan konsep dongkari. 2 Dongkari dalam Kultur Masyarakat Sunda Dongkari sebagai sebuah konsep musikal dalam Tembang Sunda Cianjuran, terlahir dari kelompok di dalam sebuah kebudayaan dan menjadi salah satu produk kearifan lokal Kelahiran dongkari di tengah sebuah komunitas budaya dalam konteks ini kultur masyarakat Sunda, sedikit banyak bahkan secara keseluruhan unsur budaya, melekat pada struktur konsep ataupun gagasan mengenai dongkari. Artinya kita dapat menemukan suatu benang merah dari seberapa besar pengaruh kebudayaan Sunda pada konsep-konsep dalam Tembang khususnya dongkari, terutama masyarakat Cianjur sebagai daerah yang membidani kelahiran Tembang Sunda Cianjuran atau mamaos. Sebelum membahas hubungannya dengan dongkari terlebih dahulu kita melihat proses pembentukan Tembang Sunda Cianjuran. Tembang Sunda Cianjuran telah berusia kurang lebih 1,5 abad, dihitung sejak puncak penciptaannya pada tahun 1860-an. Pada masa itu dengan kreativitasnya, para seniman Karesidenan Cianjur melakukan sebuah AureproduksiAy untuk mengasilkan sebuah produk budaya khusunya seni yang dikenal dengan mamaos. Istilah reproduksi ini sangat tepat ketika melihat sejarah awal pembentukan dari Tembang Sunda atau mamaos. Jika kita telaah unsurunsur Tembang Sunda, baik secara instrumental, musikal, dan penciptaan teks atau rumpaka lagu, melekat aspek-aspek pembentuk dari seni atau unsur budaya Sunda lainnya. Hadirnya sebuah kesenian baru tidak menutup kemungkinan tercipta dari dasar atau ide kesenian yang telah ada sebelumnya. Berikut akan dipaparkan pengaruh seni-seni Sunda terhadap pembentukan Tembang Sunda atau mamaos. Dalam sebuah literatur menyebutkan bahwa mamaca adalah salah satu bahan dasar seni mamaos (Sukanda, 1983, p. Namun, ternyata bukan hanya seni mamaca yang menjadi dasar pembentukan seni mamaos. Dikatakan demikian sebab dapat diteliti bahwa selain seni mamaca, terdapat unsur kesenian lainnya yang secara eksplisit terlihat dan jelas asal usulnya. Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Beberapa kesenian, terutama seni suara Sunda yang telah ada sebelum lahirnya mamaos, hadir menjadi komposisi penyusun Tembang Sunda. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan di bawah ini. AuBahan-bahan dasar pembentuk Cianjuran tersebut antara lain seni Beluk. Pantun. Degung. Wayang Golek Purwa. Ronggeng, dan lain sebagainya. Karena pandainya pencipta seni Mamaos, bahan-bahan dasar tersebut diolah sedemikian rupa, dipadukan menjadi karya seni baru yang kita kenal sekarang seni Tembang Sunda CianjuranAy (Sukanda, 1983, p. Bahan-bahan dasar pembentuk yang dipaparkan di atas bisa ditelusuri dengan melihat seluruh aspek pembentuk Tembang Sunda Cianjuran. Dalam segi komposisi instrumen atau waditra misalnya. Tembang atau mamaos diiringi oleh suling, kecapi indung, dan kecapi Dalam seni Pantun yang telah ada sebelum mamaos, menggunakan instrumen kecapi dan tarawangsa . emacam reba. sebagai iringannya. Walaupun terdapat pengembangan dengan adanya tambahan kecapi rincik dan bentuk kecapi seperti perahu yang relatif lebih besar ukurannya dibandingkan kecapi pada seni lainnya. Maka kecapi yang berbentuk seperti itu biasa dinamakan AuKecapi TembangAy. Waditra suling juga terdapat dalam Degung. Kacapi Suling, dan sebagainya. Secara musikal. Tembang Sunda juga menggunakan nada-nada dengan mode atau laras yang ada dalam karawitan Sunda seperti. Salendro. Pelog, dan Madenda . , dimana laras tersebut secara umum digunakan oleh seni Sunda lainnya. Penggunaan laras tersebut dalam Tembang biasanya digunakan secara khusus pada wanda tertentu. Suatu contoh dalam wanda papantunan dan jejemplangan lazim menggunakan laras pelog dan sebagainya. Pembentukan karakter vokal pada Tembang juga tidak luput dari pengaruh seni Selaras dengan yang diungkapkan oleh Yus Wiradireja bahwa vokal Tembang Sunda Cianjuran terlahir dari seluruh seni Suara yang ada di Tatar Sunda . awancara 14 Oktober 2. Seni suara di Sunda seperti Pantun. Pupuh. Beluk, dan Wayang Golek menjadi dasar pembentuk Tembang Sunda. Di dalam Wayang Golek pun ada dua aspek vokal yakni. Haleuang-haleuang Dalang dan vokal kepesindenan. Kesemua unsur vokal dalam seni Suara Sunda tersebut menjadi pijakan para seniman Cianjur dalam menciptakan karya seni dengan nama mamaos. Bahan-bahan tersebutlah yang menjadi embrio lahirnya dongkari sebagai konsep vokal yang mendasar dalam Tembang Sunda. Tembang Sunda Cianjuran pada akhirnya menjadi sebuah seni yang tetap memiliki originalitas, walaupun sekian banyak seni Sunda yang menjadi embrio pembentuknya. Tembang Sunda mempunyai ciri khas yang spesifik dibandingkan dengan seni Suara lain, dan dongkari sebagai produk musikal baru memiliki peranan yang penting. Pemaparan di atas adalah sejumlah fakta mengenai pengaruh unsur kebudayaan khususnya seni Sunda terhadap lahirnya Tembang Sunda Cianjuran secara umum termasuk dongkari di dalamnya. Setelah ditelusuri konsep dongkari sendiri sebagai bagian kecil dari Tembang, sarat akan pengaruh budaya masyarakat Sunda terutama dalam pengistilahan serta analogi-analogi dalam menunjuk sebuah teknik dongkari. Seluruh peristilahan dalam dongkari ternyata digunakan pula dalam konteks kehidupan masyarakat sehari-hari. Semua istilah-istilah dongkari yang dipaparkan di atas bukanlah istilah Para seniman pada masa itu rupanya mengadopsi istilah-istilah yang lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk menganalogikan teknik tertentu. Seperti yang diungkapkan Denis Setiaji oleh Heri Herdini bahwa istilah-istilah yang terdapat pada dongkari di antaranya diambil dari maenpo . encak sila. , keadaan alam, kata benda, kata kerja, dan sifat kebiasaan masyarakat . awancara, 29 April 2. Di dalam dongkari banyak ditemukan istilah-istilah yang juga digunakan untuk menunjuk gerak-gerak maenpo atau pencak silat. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh beberapa narasumber, salah satunya Yus Wiradireja di bawah ini. AuSeperti ada istilah, yang namanya dangheuak, ada yang namanya kepret3, jekluk, dorong kalau saya analisis istilah-istilah tersebut menunjukan kepada gerak-gerak maenpoAy . awancara 14 Oktober 2. Salah satu istilah dalam dongkari seperti Dangheuak. Dalam gerakan maenpo, istilah Dangheuak yakni sebuah gerakan yang dilakukan saat seseorang di dorong keras dari arah depan oleh lawan kemudian orang tersebut jatuh terdorong kebelakang istilah orang Sunda AuNgadangheuakAy. Walaupun ngadangheuak juga sering digunakan dalam istilah sehari-hari apabila seseorang terdorong kebelakang diluar konteks Pencak Silat. Ada pula istilah kepret yang artinya gerakan menampar dengan cepat. Elis juga membenarkan informasi mengenai adanya istilah-istilah yang diadopsi dari maenpo atau pencak silat. Seperti pernyataannya di bawah ini. AuDi antaranya dalam gerak-gerak maenpo sehingga istilah-istilahnya juga diadopsi dari istilah silat. Misalnya ada jeblag4, kedet, gedag, kepret, yang dalam silat kepret itu gerakan yang cepat. Sama dalam istilah tembang juga. Kedet misalnya demonstrasi mungkin itu pengaruh dari maenpo istilah-istilahnya kita mengadopsi dari sana menurut informasiAy . awancara 12 Oktober 2. Penyebutan sebuah teknik dengan mengadopsi istilah dalam konteks Pencak Silat tersebut tentunya tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Cianjur pada masa tersebut. Pencak Silat menjadi sebuah unsur budaya yang telah melekat pada masyarakat Cianjur. Artinya sangat dimungkinkan para seniman menggunakan ulang istilah tersebut karena dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Tembang Sunda muncul pada masa Pemerintahan Belanda dan Pencak Silat telah ada Kehidupan Pencak Silat pada awalnya dalam masa penjajahan, pemerintah Belanda tidak memberi kesempatan Pencak Silat/Beladiri berkembang. Kehidupan Pencak Silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kehidupan Pencak Silat diizinkan berupa pengembangan seni atau kesenian yang menjurus pada suatu upacara atau pertunjukan semata (Saleh, 1986, pp. Sebuah sumber literer menyebutkan bahwa khususnya di Cianjur dalam periode pemerintahan regent R. A Kusumaningrat, seni Tembang Cianjuran, model pakaian, dan Pencak Silat Seni berkembang sangat pesat. Maenpo merupakan rangkaian gerak untuk beladiri, kemudian disusun menjadi seni beladiri semacam pertunjukan bernama penca ibing (Suwondo dalam Maryono, 2000, p. Penca Ibing sendiri terbagi kedalam beberapa jenis sajian di antaranya. Tepak Dua. Paleredan. Tepak Tilu, dan Padungdung. Teknik kepret secara auditif sama dengan dongkari jekluk . awancara, 24 Juni 2. Dongkari Jeblag sama dengan teknik dangheuak . awancara, 24 Juni 2. Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Pencak Silat juga menyebar ke seluruh Jawa Barat melalui Pesantren-pesantren (Masriatmadja dalam Maryono, 2000, p. Banyaknya pesantren dikarenakan masyarakat Sunda yang mayoritas muslim, kental dengan pendalaman terhadap agama Islam. Hal ini kemungkinan yang menjadi alasan kenapa R. Ace menyebut dongkari sebagai tajwidnya Tembang Sunda. Pada akhirnya masyarakat Cianjur mengenal tiga unsur budaya yang penting dalam kehidupannya, yakni Ngaos . aca Al-QurAoa. Mamaos (Tembang Sund. , dan Maenpo (Pencak Sila. Sebagai sebuah contoh dalam Tepak Pareredan terdapat istilah gedig/gedag dan juga jeblag (Saleh, 1983, p. Dalam Padungdung/Keringan juga digunakan istilah seperti jeblag, gedag, dan kepret (Saleh, 1983, pp. Kesemua istilah di atas tentu dipergunakan pula dalam artian diadopsi oleh para seniman dalam penyebutan teknik khususnya dongkari. Penggunaan istilah dalam dongkari banyak mengadopsi dari Pencak Silat, yang menjadi pertanyaan apakah istilah-istilah tersebut mampu menggambarkan sebuah bentuk teknik dalam Tembang. Neneng Dinar sebagai seorang penembang yang aktif dalam kegiatan Pencak menyatakan bahwa istilah tersebut ternyata berhubungan. Seperti dalam kutipan wawancara di bawah ini. AuTeteh pribadi karena mungkin dina pencak silat oge teteh rada tiasa, jadi memang sangat merasakan sekali, memang betul, bahwa dina gaya Tembang, bisa dipadukan dengan gaya pencak silat. Anu sok biasa Pencak mah karaos pisan, margi anu disebat kedet, jeblag teh memang karaos, anu bisa ngarasakeun teh urang, bahwa sami aya kesamaan. Dimana nangkis dimana urang nyerang. Ay . awancara 28 April 2. (Saya pribadi karena mungkin dalam pencak silat juga saya agak menguasai, jadi memang sangat merasakan sekali, memang betul, bahwa dina gaya Tembang, bisa dipadukan dengan gaya Pencak Silat. Yang biasa Pencak Silat akan sangat terasa, karena yang disebut kedet, jeblag memang terasa. Yang bisa merasakan hanya kita . emain Penca. , bahwa sama ada kesamaan. Dimana nangkis, dimana kita menyerang. Dengan melihat pendapat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa para seniman terdahulu bertindak dengan menggunakan akal pikirannya secara serius. Mereka tidak semata-mata mengadopsi sebuah istilah untuk digunakan dalam Tembang. Justru kita dapat membaca bahwa seniman kita melihat Pencak yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, dijadikan sebagai media dalam mengajarkan Tembang walaupun hanya sebatas peristilahan. Hal tersebut dilakukan karena peristilahan yang familiar, memudahkan masyarakat dalam mengingat serta memberikan gambaran yang dirasakan tepat pada sebuah teknik. Selain istilah Pencak Silat ada pula penyebutan teknik yang dianalogikan dengan keadaan alam dan pengimajinasian dari kebiasaan masyarakat Sunda. Istilah yang diambil dari alam seperti riak dan ombak. Sedangkan istilah dari kata sifat, benda, dan kerja yakni golosor, inghak, beulit, baledog, gibeg, kait, buntut, dan sebagainya. Riak misalnya, biasa digunakan dalam membahasakan genangan atau arus air. Masyarakat secara umum melihat arus air dengan gelombang kecil dan bersuara atau beriak, dalam bahasa Sunda Auriakna caiAy atau Aucai anu ngariakAy. Istilah riak tersebut diadopsi sebagai sebuah teknik yang memiliki bentuk auditif bergetar dengan halus. Istilah lainnya seperti ombak, selaras dengan pemahaman dalam Bahasa Indonesia, ombak merupakan pergerakan air laut yang naik turun atau bergulung-gulung, artinya membentuk gelombang yang besar. Ombak di Denis Setiaji dalam teknik dongkari juga merepresentasikan sebuah suara yang memiliki getaran namun mendapat penekanan tertentu, sehingga kesan suara yang timbul seolah-olah memiliki gelombang yang besar. Kemudian istilah yang diimajinasikan dari kebiasaan sehari-hari misalnya, istilah baledog dalam Kamus Basa Sunda artinya melempar. Baledog yakni melempar dengan menggunakan apapun, misalnya ngabaledog anjing ku batu . elempar anjing dengan bat. dan sebagainya. Dalam dongkari teknik baledog sendiri biasa ada di antara teknik gedag dan jeblag, suaranya tanpa penekanan, jadi melempar suara dari satu teknik ke teknik lainnya. Ada pula yang disebut dengan teknik inghak, di dalam masyarakat Sunda kata inghak ialah sebutan untuk keadaan seseorang yang sedang tersedu-sedu mengeluarkan suara desahan akibat menahan emosi saat menangis atau istilahnyaAunginghakAy. Teknik inghak di dalam dongkari biasanya dibubuhkan dalam huruf vokal dengan huruf /h/ sebagai ujungnya sehingga berkesan seperti desahan orang yang menangis. Biasannya teknik inghak ini lebih dominan digunakan oleh penembang wanita. Cacag sebagai salah satu teknik dalam dongkari, dalam keseharian masyarakat kata tersebut digunakan sebagai sebuah aktivitas memotong-motong sesuatu . isal dagin. menggunakan perkakas seperti golok/ bedog, pisau dan sebagainya. Begitupun dalam Tembang, memang secara auditif hampir mirip dengan teknik ombak, akan tetapi perbedaanya terletak pada penekanan yang lebih besar. Hal tersebut menghasilkan kesan auditif suara yang seolah terpotong-potong secara konstan. Ada pula rante atau biasa disebut juga beulit, rante atau rantai adalah sebuah benda yang terbuat dari logam dengan komposisi sejumlah logam bulat yang satu sama lain saling kait mengait, dapat pula berbentuk seperti spiral. Teknik rante prinsipnya mengulang-ulang beberapa nada dengan menggunakan penekanan tertentu dengan suara yang tidak terputus-putus, sehingga menimbulkan kesan auditif suara berantai. Untuk melihat secara jelas darimana adopsi terminologis 19 dongkari tersebut, akan dipaparkan dalam tabel di bawah ini. Tabel 1. Simbolisasi Asal Istilah Pencak Silat Alam Kata Benda Kata Sifat Kata Kerja Dongkari gedag . dangheuak ( I ) jekluk (O. dorong(I. Riak . Ombak . buntut (A)uA rante . E) lapis (OO) leot (A) A reureueus . Baledog ( ) cacag(//) Inghak () gibeg () Galasar () Golosor () kait . Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Seperti itulah fenomena dongkari yang ternyata keberadaannya sangat dipengaruhi oleh unsur budaya Sunda yang telah ada sebelumnya. Seni-seni suara Sunda sebagai embrio direproduksi hingga menjadi seni suara baru yang tetap memiliki ciri khas musikalitasnya. Dalam instrumentasi juga tidak terlepas dari pengaruh kesenian sebelumnya. Tembang Sunda mengkomposisikan waditra . tersebut seperti, kecapi dan suling yang digunakan sebagai pengiring. Begitupun mode atau laras yang digunakan tetap menggunakan Karawitan Sunda seperti Salendro. Pelog, dan Madenda. Mengerucut kepersoalan sejumlah istilah dongkari, juga tidak terlepas dari unsur kehidupan masyarakat khususnya Cianjur pada masa itu. Ada sebuah adopsi terminologis yang dilakukan para seniman Sunda dalam menandai, menyebutkan, dan menunjuk sebuah teknik Secara umum pengadopsian istilah yakni diambil dari Pencak Silat, fenomena alam, kata benda, kata kerja dan kata sifat dari kebiasaan masyarakat Sunda. Oleh karena itu konsepsi dongkari sarat akan unsur budaya masyarakat pemiliknya. Pemaparan di atas bila dibuat sebuah skema seperti di bawah ini. - BAHASA SUNDA -SENI SUARA -PENCAK SILAT -KATA . Sifat, dan Kerj. UNSUR SUMBER -IDE KREATIF SENIMAN -GAGASAN PENCIPTAAN -REPRODUKSI -ADAPTASI MUSIKAL -ADOPSI TERMINOLOGIS -ADOPSI INSTRUMEN PROSES TEMBANG -INSTRUMENTASI -MODE -TEKS -TEKNIK DONGKARI Gambar 2. Skema Proses Dongkari 3 Dongkari sebagai Indikator Virtuositas Penembang Denis Setiaji Dongkari adalah unsur musikal dalam vokal Tembang Sunda Cianjuran yang paling Keberadaan dongkari menjadi syarat mutlak dalam Tembang. Pada akhirnya dongkari dapat disebut sebagai ciri utama yang membuat Tembang Sunda Cianjuran menjadi Menguasai dongkari merupakan suatu keharusan oleh setiap praktisi terutama Seperti yang dikemukakan Neneng Dinar di bawah ini. AuDina mamaos Tembang Sunda mah dongkari teh janten penting pisan, pami tiasa disebatmah dongkari teh ruhna mamaos. Sok aya geuning bahasa upami juri dina pasanggiri tembang nyarios, ah eta mah nembangna eweuh ruhan. Ah teu muringkak etamah. Tah ruh didinya salian ti penjiwaan oge dongkari penembangna teu karasa. Ay . awancara 28 April 2. i dalam mamaos Tembang Sunda dongkari menjadi sangat penting, bisa disebut dongkari sebagai ruhnya mamaos. Sering ada bahasa juri di dalam lomba Tembang menyatakan seseorang menembang tidak terlihat ruhnya. Ah tidak membuat merinding. Ruh dalam pernyataan tersebut selain penjiwaan juga dongkari yang dibawakan penembang kurang terasa. Pernyataan di atas memberikan penjelasan bahwa dongkari sebagai bagian musikal Tembang Sunda, memiliki kedudukan paling dasar dalam membentuk rasa estetik. Dikatakan demikian karena Tembang Sunda Cianjuran hakikatnya adalah seni suara, maka pengolahan vokal tentunya merupakan aspek utama. Bahkan oleh seniman dongkari dikatakan sebagai ruh atau jiwa dari pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran. Di dalam memperlihatkan sejauh mana kemampuan penembang, ada salah satu ajang yang bergengsi di kalangan masyarakat Tembang yakni Pasanggiri . DAMAS yang telah berlangsuk sejak tahun 1958. Dalam ajang tersebut penembang yang dari seluruh wilayah DKI-JABAR berkompetisi untuk mendapatkan juara. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar Juara 1 DAMAS. Hal tersebut dilakukan karena DAMAS adalah even yang menjadi supremasi di kalangan penembang. Apabila seorang penembang menjadi Juara dalam lomba tersebut, maka ia akan diakui sebagai penembang AujadiAy. Telah menjuarai DAMAS artinya, penembang telah menguasai segenap elemen pelaguan Tembang termasuk penguasaan teknik dongkari yang telah AukhatamAy. Dongkari menjadi persoalan penting bagi penembang. Sebagai sebuah teknik vokal, ternyata dongkari bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikuasai. Tidak heran kenapa para penembang belajar dengan tekun hingga bertahun-tahun untuk menguasai setiap teknik. Selain memiliki bakat dalam menembang, ketelitian dalam memahami detail dari bentuk auditif dongkari wajib dilakukan oleh penembang. Seperti pernyataan Neneng. Ay. latihan, imeut kana tehnik-tehnik tembang, itu yang menjadikan kita menguasai atau bisa secara penuh, nembang anu bener. Kembali deui dongkari-dongkari teh harus dipelajari secara telitiAy . awancara 28 April 2. Pernyatan tersebut menjelaskan bagaimana pentingnya keseriusan dan ketelitian dalam mencapai penguasaan dalam teknik dongkari. Penembang harus bisa menemukan pendekatan secara mandiri dalam mendapatkan teknik tertentu. Dalam sebuah kasus misalnya, pada sebuah narangtang pondok lagu Mupu Kembang, terdapat teknik golosor pada suku kata Audeung" dalam kata AuLudeungAy. Teknik golosor tersebut termasuk salah satu dongkari yang dinilai cukup sulit dipelajari. Elis sebagai seorang pengajar Konsep Dongkari dalam Perspektif Seniman Tembang Tembang Sunda Cianjuran Tembang mengakui hal tersebut. Dilihat dari sebagian besar muridnya yang begitu kesulitan dalam menguasai golosor. Neneng dalam proses pembelajarannya, untuk mendapatkan teknik golosor, dirinya memerlukan waktu selama 6 bulan. Melihat fenomena sulitnya penguasaan dongkari, membuat pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran tidak dapat mencetak penebang secara instan. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat menguasai dongkari secara menyeluruh. Penembang seperti Yus Wiradireja. Elis Rosliani, dan Neneg Dinar yang notabene telah bergelut dengan seni Suara sejak kecil, mengakui mendapat suatu tantangan dan kesulitan yang signifikan dalam menguasai teknik Maka dari itu seperti yang dikatakan Neneng. AuKuasai dulu dongkari, sebelum memperbanyak laguAy. Artinya bila si penembang sudah menguasai dongkari, lagu seperti apapun akan mudah dan cepat dikuasai. Dongkari pada akhirnya menjadi indikator kecakapan, ketangkasan, kecerdasan, dan kejelian estetis, teknis, serta musikal bagi seorang Penutup Dongkari sebagai konsep, dimaknai seniman Tembang Sunda secara beragam berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Keberagaman mulai dari definisi dongkari hingga penggunaan terminologis setiap unsur dongkari. Penelitian sebelumnya telah menemukan Sembilan belas dongkari sebagai unsur ornamen. Di lapangan terdapat beberapa perbedaan terminologis yang menunjuk pada bentuk ornamen yang sama. Bila diperhatikan seksama, penamaan jenis dongkari sangat erat kaitannya dengan kultur masyarakat Sunda. Istilah-istilah dongkari tersebut diadopsi dari pencak silat, fenomena alam, dan imajinasi dari kebiasaan masyarakat Sunda. Istilah tersebut diadopsi guna memberikan analogi, agar mempermudah proses penguasaan sebuah dongkari, mengingat dongkari bukanlah sebuah persoalan musikal yang dipelajari hanya dengan penotasian. Daftar Pustaka