Powered by TCPDF . ISSN 2527 Ae 5542 REKAYASA TEKNIK SIPIL Media Publikasi Karya Ilmiah di Bidang Teknik Sipil Volume 3. Nomer 2. Desember 2018 Penanggung Jawab : Ir. Moch. Hazin Mukti. MT. Mitra Bestari : Dr. Ir. Lalu Mulyadi. MT Dr. Ir. Kustamar. MT Dr. Ir. Subandiyah Azis. CES Dr. Faisal Estu Yulianto. ST. MT. Dr. Gusfan Khalik. ST. MT. Komite Pelaksana : Dedy Asmaroni. ST. MT. Taurina Jemmy Irwanto. ST. MT. Ahmad Fatoni ST. MT. Ahmad Fausi. ST. Aldi Setiawan. ST. Komite Pelaksana : Fakultas Teknik Ae Universitas Madura Jl. Raya Panglegur KM. 3,5 Pamekasan 69317 Telp. 322231 psw 114 Fax . 327418 Email : Jurnal. unira@gmail. ISSN 2527 Ae 5542 REKAYASA TEKNIK SIPIL Media Publikasi Karya Ilmiah di Bidang Teknik Sipil Volume 3. Nomer 2. Desember 2018 DAFTAR ISI Pembuatan Simulasi/Program Granulasi Tanah Berbutir Halus Menjadi Tanah Berbutir Kasar dengan Menggunakan Program Matlab Akhmad Maliki. Siswoyo Penggunaan Pasir Silika Sebagai Substitusi Agregat Halus untuk Meningkatkan Performance Bata Ringan Bambang Sujatmiko. Safrin Zuraidah. Wisnu Abiarto Nugroho. Elando Rizsa Putra Atmajaya Identifikasi Kawasan Slump Area di Kota Malang Fifi Damayanti. Pamela Dinar Rahma Studi Kelayakan Perumahan Citrapuri Keniten 1 Ponorogo Diliat Dari Site Plan Siti Choiriyah. Deni Eko Prasetyo Studi Perilaku Struktur Eccentrically Brace Frame (EBF) Akibat Beban Gempa dan Beban Siklik Budi Suswanto. Aniendhita Rizki Amalia. Isdarmanu. Fajri Aulia Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 PEMBUATAN SIMULASI/PROGRAM GRANULASI TANAH BERBUTIR HALUS MENJADI TANAH BERBUTIR KASAR DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM MATLAB Akhmad Maliki, 2Siswoyo Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Surabaya E-mail: maliki. ts@uwks. Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Surabaya E-mail: siswoyosecure@gmail. ABSTRAK: Lumpur Sidoarjo (LuS. merupakan semburan lumpur panas yang berasal dari dalam perut bumi. Komponen matarial yang dimuntahkan oleh LuSi sebagian besar berupa lempung. Jika dilihat dari sifat fisik LuSi yang berbentuk lempengan lebar, plastisitas dan penyusutan yang tinggi menyebabkan LuSi sulit untuk dipindahkan/diangkut. Agar dapat dengan mudah untuk mengangkutnya dan dapat digunakan untuk tanah urugan reklamasi yang tidak perlu lagi mengambil material urugan di daerah quarry, maka ukuran butiran LuSi harus dibesarkan melalui proses granular yang menggunakan drum granulator berputar. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat program dan simulasi granulasi LuSi dalam drum granulator, agar didapatkan ukuran butiran yang bergradasi baik . ell grade. Penelitian yang akan dilakukan yaitu pembuatan program dan simulasi mengenai pembesaran partikel LuSi dengan menggunakan program Matlab. Dari hasil pemodelan dan simulasi akan didapatkan ukuran butiran yang bergradasi baik, variabel bebas yang memberikan distribusi ukuran butiran bergradasi baik adalah kecepatan putra drum 9 rpm dan sudut kemiringan drum 5 derajat dengan variable tetep yaitu diameter drum 0,4 m dan Panjang drum sesuai dengan syarat Unified Soil Classification System (USCS) nilai Cu = 5,61 dan Cc = 2,1 berdasarkan nilai tersebut distribusi ukuran butiran didominasi oleh tanah pasir kasar dan pasir halus. Kata Kunci : Model dan simulasi. Lumpur Sidoarjo (LuS. , granulasi, drum granulator, butiran bergradasi baik . ell PENDAHULUAN halus akan didapatkan variasi distribusi ukuran butiran yang di perlukan. Dari uraian di atas perlu dilakukan pembuatan simulasi/program granulasi ukuran butiran LuSi yang berbutir halus dapat dirubah menjadi ukuran butiran kasar yang bergradasi baik dengan menggunakan program Matlab. Dengan dimikian pada suatu saat akan dilakukan percobaan granulasi di Laboratorium, maka dapat diketahui terlebih dahulu ukuran butiran kasar yang sudah tersimulasi oleh program. Lumpur Sidoarjo atau disebut LuSi merupakan semburan lumpur panas dari dalam perut bumi yang diakibatkan oleh pengeboran sumur ekplorasi gas milik PT Sidoarjo Brantas Inc. Volume lumpur yang dimuntahkan dari dalam perut bumi sangatlah besar, dimana komponen materialnya berupa lempung 71,43%, lanau 10,72%, dan pasir 17,86% (Noerwarsito, 2006 dalam Setyowati 2. Jika dilihat dari sifat fisik LuSi yaitu memliki bentuk berupa lempengan yang lebar dan memiliki sifat susut yang tinggi, sehingga LuSi sangat sulit untuk dipindahkan/diangkut yang mengkibatkan LuSi sulit untuk dapat dimanfaatkan dalam jumlah yang sangat besar misal dimanfaatkan sebagai tanah urug untuk Untuk pemindahan/pengangkutan, ukuran butiran LuSi yang halus harus dirubah menjadi ukuran butiran kasar/lebih besar atau disebut granulasi dengan menggunakan drum granulator berputar. Secara umum granulasi dapat dilakukan dengan cara butiran halus dimasukan kedalam drum granulator, kemudian disemprotkan air dengan kecepatan, volume dan dalam periode waktu tertentu. Pembesaran butiran tersebut dipengaruhi oleh dua parameter/variabel tetap yaitu diameter dan panjang drum, sedangkan untuk variabel bebas yaitu kecepatan putar drum, suhu air dan kadar air, kemiringan drum, dan waktu tinggal dalam Supaya granulasi LuSi dapat dilakukan lebih efektif dan efisien tanpa harus melakukan coba-coba/praktek terlebih dahulu, maka perlu dilakukan simulasi/program dengan menggunakan program Matlab. Model matematis yang digunakan dalam granulasi yaitu menggunakan mekanisme coalescence, dari pengembangan model matematis dan simulasi/program pembesaran butiran METODE PENELITIAN Benda uji tanah LuSi diambil di lokasi semburan LuSi di Porong. Sidoarjo Jawa Timur. Pengujian benda uji LuSi dilakukan di laboratorium untuk menentukan sifat fisik dan distribusi ukuran butiran LuSi. 1 Pembuatan Program Granulasi Pada tahap ini dilakukan pembuatan program. pengembangan model matematis mekanisme coalescence dan simulasi granulasi lempung LuSi menjadi butiran kasar untuk mendapatkan kurva distribusi ukuran butiran yang bervariasi. Pembuatan program granulasi dapat dilihat pada Gambar 1. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 PEMODELAN DAN SIMULASI DRUM GRANULASI LuSi Mekanisme proses granulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah mekanisme coalescence, karena mekanisme tersebut lebih mendukung pada ukuran butiran yang hampir sama atau homogen. Pada persamaan mekanisme coalescence dilakukan pemodelan matematis proses granulasi butiran tanah lempung yang menggunakan persamaan . ycoA ycuycn yc = ycA 0 Oe1 ycn 1 exp Oe 2 Oe 1 ycnOe1 exp OeycoA . (Pers. Volume rata-rata partikel meningkat seiring dengan waktu secara menggunakan persamaan . AA(Pers. Namum dalam penyelesaian persamaan . diperlukan untuk mengestimasi waktu tinggal dalam drum granulator yang terdapat pada persamaan . Gambar 1. Diagram alir pembuatan program komputer AuKurva Distribusi Ukuran ButiranAy AA. AA. (Pers. DISTRIBUSI UKURAN BUTIRAN LuSi Tanah lempung yang digunakan untuk input distribusi ukuran butiran dalam penelitian ini adalah Lumpur Lapindo (LuS. pada kedalaman kurang lebih 50 cm dari permukaan lumpur lapindo. Distribusi ukuran butiran LuSi diuji dengan analisa ayakan dan hidrometer di laboratorium dimana hasilnya dapat dilihat pada Gambar dimana : L adalah panjang granulator . Di adalah diameter granulator . N adalah kecepatan putar granulator . dan S adalah kemiringan granulator (C). Gambar 2. Kurva distribusi ukuran butiran tanah LuSi Tabel 1. Perbandingan Distribusi Ukuran Butiran Initial dan Hasil Simulasi Granular Distribusi Ukuran Distribusi Ukuran Butiran Initial Butiran Simulasi Diameter Persentase Diameter Persentase . ayakan (%) (%) 0,42500 99,63 Simulasi dilakukan dengan membuat berbagai macam variabel bebas dengan parameter kemiringan sudut drum granulator (S), kecepatan putar drum granulator (N) dan rate feed umpan dan variabel tetap dengan parameter distribusi ukuran butiran, diameter drum granulator, panjang drum granulator, dan densitas butiran lempung yang terdapat pada Gambar 1. Dari hasil simulasi granulasi didapatkan kurva distribusi ukuran butiran yang harga parameter variabel bebas yang menghasilkan kurva distribusi ukuran butiran yang mempunyai bentuk well graded yaitu kecepatan putar (N) = 9 rpm, sudut kemiringan (S) = 5 derajat dan rate feed umpan = 1,35 kg/menit. Tabel 1 memperlihatkan perbandingan distribusi ukuran butiran initial dengan distribusi ukuran butiran dari hasil simulasi proses Pada Gambar 2 terlihat bahwa distribusi ukuran butiran LuSi didominasi oleh ukuran butiran lanau lempung yaitu sebesar 95,5 % dan sisanya berupa butiran pasir-halus sebesar 4,5 % hal ini berarti bahwa tanah LuSi merupakan sebagian besar butiran halus. Dari data distribusi ukuran butiran pada Gambar 2 tersebut akan dirubah menjadi tanah berbutir kasar/granular dengan menggunakan program MATLAB. 0,25000 99,19 0,15000 98,26 0,07900 94,98 Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 D10 Lanjutan Tabel 1 0,04157 94,87 0,03771 92,94 0,02893 79,44 0,01860 75,58 0,0142 69,80 0,0102 64,98 0,0074 56,30 0,00560 50,52 0,00390 43,77 0,00341 35,86 0,00259 31,24 0,00123 22,17 0,00077 11,57 D30 D60 Dari perhitungan diperoleh bahwa harga Cu = 90 dan harga Cc = 2,61. Berdasarkan sistim klasifikasi USCS, syarat ukuran butiran bergradasi baik/well graded yaitu harga Cu Ou 4 untuk kerikil dan Cu Ou 6 untuk pasir, dan harga 1 O (C. O 3. Oleh sebab itu, tanah hasil simulasi dari proses granulasi tersebut dapat dikelompokkan sebagai tanah kerikil bergradasi baik/well graded. KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa simulasi granulasi LuSi dari model yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah: Distribusi butiran LuSi didominasi oleh butiran lanau lempung sebesar 95,5 % dan sisanya berupa butiran pasir halus sebesar 4,5%, artinya bahwa tanah LuSi sebagian besar merupakan butiran halus. Simulasi kecepatan drum granulator yang memberikan distribusi ukuran butiran yang bergradasi baik . ell grade. berdasarkan USCS adalah 9 rpm. Simulasi sudut putar drum granulator yang meberikan distrubusi ukuran butiran yang bergradasi baik . ell grade. berdasarkan USCS yaitu 5A. Dalam simulasi ini, diameter dan panjang drum granulator adalah tetap yaitu masing-masing sebesar 0,4 meter dan 2 meter. Tabel 1 terlihat bahwa granulasi pembesaran ukuran butiran initial didominasi oleh butiran pasir-kasar dan pasir-halus sebesar 92%, sedangkan lanau lempung sebesar 8%. Dari perolehan nilai tersebut, menunjukkan bahwa simulasi granulai mengalami pembesaran ukuran butiran dimana sebelumnya yaitu kondisi initial ukuran butiran didominasi oleh tanah lempung/butiran halus sebesar 95,5 %. Hasil simulasi proses granulasi distribusi ukuran butiran tersebut diplot seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai Cu dan Cc yang sesuai dengan syarat USCS. DAFTAR PUSTAKA Das. Alih bahasa : Noor Endah dan Indrasurya B. AuMekanika Tanah (Prinsip Ae prinsip Rekayasa Geotekni. Ay. Jilid I. Erlangga Jakarta. Ennis. AuAgglomeration Technology : Equipment SelectionAy. Chemical Egineering w. Che. Com Faizah. Peningkatan Perilaku Lumpur Sidoarjo (LuS. dengan Bahan Additive CaCO3 dan Ca(OH)2 untuk Material Urugan. Tesis. ITS. Surabaya. Holtz. dan Kovacs. An Introduction To Geotechnical Engineering. Prentice-Hall. Inc. New Jersey. Irawan. Buku Pintar Pemograman Matlab. MediaKom. Yogyakarta. Kapur. and Runkana. AuBalling and Granulation Kinetics RevisitiedAy. International Journal Miner Process, 72 . 417 Ae 427. Lachman. Herbert, & L. Joseph . AuTeori dan Praktek Farmasi IndustriAy. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta. Parikh. AuHandbook of Pharmaceutical Granulation Technology (Theory of Granulation : An Engineering Perspectiv. Ay. Informa Healtcare. New York USA. Gambar 3. Kurva distribusi ukuran butiran dari hasil simulasi proses granular Dari Gambar 3 di atas dapat dilihat bahwa diameter dimana butiran yang lolos ayakan 60 %, 30%, dan 10% adalah masing-masing sebesar 0,73 mm, 0,45 mm, dan 0,13 mm. Tanah yang begradasi baik harus memenuhi parameter koefisien keseragaman (C. yang ditentukan dengan menggunakan persamaan . Cu = (Pers. dan koefisien gradasi (C. yang dihitung dengan menggunakan persamaan . Cc = = Koefisien gradasi = Diameter bersesuaian dengan 10% lolos = Diameter bersesuaian dengan 30% lolos = diameter yang bersesuaian dengan 60% lolos ayakan yang ditentukan dari kurva distribusi ukuran butiran. (Pers. = Koefisien keseragaman Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Perloff. & Baron. AuSoil Mechanics Principle and ApplicationAy. The Ronald Press Company. New York. Pietsch, . AuSize Enlargement AgglomerationAy. John Wiley & Sons Ltd. West Sussex. England. Sastry K. , and Fuerstenau D. In: Sastry KVS . , ed. Aglomeration 77. AIME, 381. New York. Setyowati. AuPenggunaan Campuran Lumpur Lapindo Terhadap Peningkatan Kualitas Genteng KeramikAy. Dinamika Teknik Sipil Vol. 9 No. 67 Ae 75. Sridharan. dan Prakash. AuClassification Procedure For Expansive SoilsAy. Proceding Instn. Civ. Engsr. Geotech. Engineering. Venkataramana. Kapur. , dan Gupta. AuModelling of Granulation by a Two-stage Autolayering Mechanism in Continuous Industrial DrumsAy. Chemical Engineering Science, 57 . Yliniemi. AuAdvanced Control of A Rotary DryerAy. Oulu University Library. University of Oulu Finland. http://id. org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarj /KARAKTERISTIKLUMPURSDA Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 PENGGUNAAN PASIR SILIKA SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANCE BATA RINGAN Bambang Sujatmiko1. Safrin Zuraidah . Wisnu Abiarto Nugroho3. Elando Rizsa Putra Atmajaya. Bambang sujatmiko. Fakultas Teknik. Universitas Dr. Soetomo Surabaya Safrin Zuraidah. Fakultas Teknik. Universitas Dr. Soetomo Surabaya Wisnu Abiarto Nugroho. Fakultas Teknik. Universitas Dr. Soetomo Surabaya Elando Rizsa Putra Atmajaya. Fakultas Teknik. Universitas Dr. Soetomo Surabaya Email: bambang. sujatmiko@unitomo. Abstrak : Dengan kemajuan teknologi banyak ditemukan alternative bahan bangunan yang memudahkan pengerjaan, biaya yang semakin murah, ramah lingkungan, kecepatan dalam aplikasi dan masih banyak lagi keuntungan Bata ringan sebahgai bahan alternative pengganti bata merah saat ini banyak digunakan dan diaplikasikan pada pembangunan gedung dan rumah karena bata ringan memiliki berat jenis lebih ringan dari pada bata ringan pada umumnya dan dapat diatur sesuai kebutuhan berkisar berkisar 600-1600 kg/m3 sesuai dengan standart berat bata ringan pada SNI 03-2461-2002. Pasir silika adalah salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak kontingen bumi. Mineral ini memiliki struktur kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi silikon dioksida (SiO. , dengan skala kekerasan Mohs 7, densitas 2,65 g/cmA, titik lebur 17. 150AC dan konduktivitas panas 12 Ae 1000AC. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penggunan variasi pasir silika terhadap tercapainya kuat tekan dan kuat tarik belah pada bata ringan dan untuk mendapatkan komposisi optimum yang menghasilkan kuat tekan dan kuat tarik belah maksimum pada bata ringan. Bahan-bahan campuran bata ringan yang dipakai adalah semen gresik PC type 1, pasir Mojokerto dengan batas gradasi zone 3, penambahan foam Agent sebanyak 0,4 lt/variasi. benda uji = 0,063 m. dan penambahan kalsium sebesar 5% dari berat semen. Dalam pembuatan benda uji dengan variasi campuran pasir silika 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% dengan perbandingan campuran semen : pasir yaitu sebesar 1 : 4 dan penggunaan faktor air semen 0,5 didapatkan hasil nilai kuat tekan maksimal 2,924 N/mm2 atau 2,924 Mpa dan pada nilai kuat tarik belah maksimal dengan nilai sebesar 0,353 N/mm2 atau 0,353 Mpa. Kata kunci: bata ringan, pasir silika, kuat tekan, kuat tarik belah PENDAHULUAN METODE PENELITIAN Perkembangan teknologi konstruksi semakin pesat, khususnya pada inovasi terhadap bahan bangunan yaitu dengan semakin banyak ditemukannya bahan bangunan baru yang bertujuan untuk memudahkan pengerjan, ramah lingkungan, efek kenyamanan, ketahanan umur dan kecepatan dalam pengaplikasian. Saat ini, material untuk pemasangan dinding yang sedang populer selain batu bata adalah bata ringan. Dalam penelitian ini, bahan tambahan yang akan digunakan adalah pasir silika, kalsium dan foam agent. Pasir silika adalah salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak kontingen bumi. Mineral ini memiliki struktur kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi silikon dioksida (SiO. , dengan skala kekerasan Mohs 7, densitas 2,65 g/cmA, titik lebur 150AC, dan konduktivitas panas 12 Ae 1000AC. Bentuk umum silika adalah prisma segienam yang memiliki ujung piramida segienam . umber : wikipedia = Kuarsa/Silik. dan berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya Bata ringan adalah bahan bangunan yang di buat dengan teknologi modern sehingga kekuatan bata ringan tersebut sangat lah kuat dari bata merah atau pun batako dan juga sangatl mudah cara pemasangannya. Bata ringan memiliki berat jenis lebih ringan dari pada beton pada Berbeda dengan beton ringan biasa berat bata ringan dapat diatur sesuai kebutuhan. Pada umumnya beton ringan berkisar 600-1600 kg/m3. Metode pada penelitian ini terdiri dari beberapa bagian meliputi, studi literatur, persiapan bahan material, pengujian bahan material, perancangan benda uji, pembuatan benda uji, hasil analisa dan kesimpulan dan saran (Gambar . Benda uji beton yang digunakan berbentukl silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dengan total benda uji 60 buah, langkah-langkah penelitian dapat dilihat pada dialgram alir Gambar 1 dibawah ini : Jumlah total benda uji sebanyak 60 buah terdiri dari Kuat tekan 45 buah dan kuat tarik belah 15 buah, dengan komposisi pasir silika FS-0%. FS-25%. FS-50%. FS-75%, dan FS-100%, penambahan kalsium sebanyak 5% dari berat semen, dan penambahan foam agent sebanyak 0,4 lt/variasi . benda uji =0,063 m. , lalu menggunakan factor air semen (FAS) 0,5. Kemudian diuji menggunakan mesin kuat tekan dengan posisi horizontal dan variasi umur bata ringan 7, 14 dan 28 hari, untuk kuat tarik belah diuji menggunakan mesin kuat tekan dengan posisi vertikal dan tambahan penampang besi dengan variasi umur bata ringan 28 hari. Desain komposisi dan banyaknya benda uji adalah sebagai berikut yang dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini: Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Lanjutan Tabel 1 Mulai Studi Literatur Persiapan Bahan Material: Semen PC. Pasir Silika. Pasir Mojokerto, dan Foam Agent PS-50 PS-75 PS-100 Total Benda Uji C Prosedur Pengujian Kuat Tekan Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tekan bata ringan, pembebanan dilakukan sampai silinder bata ringan hancur dan dicatat besarnya beban maksimum P yang selanjutnya digunakan untuk menentukan tegangan tekan bata ringan . Ao. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan posisi benda uji silinder dengan arah vertikal dan posisi tepat di tengah mesin kuat tekan. C Kuat Tekan (Pers. Pengujian Bahan Material: C Uji Semen : Konsistensi. Pengikat Awal. Berat Jenis dan Berat Volume C Uji Agregat : Kelembaban Pasir. Berat Jenis. Air Resapan. Berat Volume. Kadar Lumpur dan Analisa Ayakan Rancangan Benda Uji: A Prosentase Pasir Silika (PS-0. PS-25. PS-50. PS-75. PS. % A Penambahan Kalsium ditentukan 5% dari berat semen A Penambahan Foam Agent ditentukan 0,4 l/variasi . benda uji=0,063m. Dimana: P = Beban Tekan (N) A = Luas . K = Kuat Tekan (N/mm. C Prosedur Pengujian Kuat Tarik Belah Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik belah bata ringan, embebanan dilakukan sampai silinder bata ringan hancur dan dicatat besarnya beban maksimum yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kekuatan tarik belah bata ringan . Pengujian kuat tarik belah dilakukan dengan posisi benda uji silinder dengan arah horizontal dan posisi tepat di tengah mesin kuat tekan dengan penambahan alat bantu besi penampang. Pembuatan Benda Uji: Umur 7, 14 dan 28 hari Kuat Tekan = 45 buah. Kuat Tarik Belah = 15 buah Hasil Analisa: Kuat Tekan. Kuat Tarik Belah. Berat Volume dan Porositas C Kuat Tarik Belah Fct = Kesimpulan dan Saran Dimana : Fct = Kuat Tarik Belah (N/mm. P = Beban pada Waktu Belah (N) L = Panjang Benda Uji Silinder . D = Diameter Benda Uji Silinder . Selesai Gambar 1 Diagram Alir C Prosedur Pengujian Berat Volume Bata Ringan Pengujian berat volume bata ringan dilakukan untuk mengetahui hasil akhir berat volume bata ringan per satuan volume benda uji. Berat Volume BV = G-T/V (Pers. Keterangan : G = Berat Benda Uji dan Silinder (N) T = Berat Penakar (N) V = Volume Silinder . Tabel. 1 Jumlah Benda Uji. Kode Banda Uji (%) Kalsiu m (%) Foam Agen t/va PS-0 PS-25 Beto . ar (Pers. Kuat Teka Kua Tari Bela C Prosedur Pengujian Porositas Pengujian Porositas dilakukan untuk mengetahui besarnya porositas yang terdapat pada benda uji. Semakin besar porositas yang terdapat pada benda uji maka Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 C Proporsi Campuran Bata Ringan Dalam penelitian ini terdapat 5 variasi dengan campuran pasir silika dan pasir Mojokerto yaitu: Pasir silika PS-0 % dan pasir Mojokerto 100 %. Pasir silika PS-25 % dan pasir Mojokerto 75 %. Pasir silika PS-50 % dan pasir Mojokerto 50 %. Pasir silika PS-75 % dan pasir Mojokerto 25 %. Pasir silika PS-100 % dan pasir Mojokerto 0 %. semakin rendah kekuatannya. Pengujian porositas menggunakan benda uji berbentuk silinder ukuran diameter 5 cm dan tinggi 10 cm. C Porositas Bata Ringan (Pers. Dimana: N = Porositas Benda Uji (%) mb = Berat Basah Benda Uji . mk = Berat Bata Kering . Vb = Volume Benda Uji . g/m. = rho air Proporsi kebutuhan bahan material pada campuran pembuatan foam agent dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini. C Porositas Bata Ringan Tabel 3 Proporsi Campuran Bata Ringan Pasir Pasir Var Seme . ilik (Mjkt Air Kalsiu . (Pers. Dimana: N = Porositas Benda Uji (%) mb = Berat Basah Benda Uji . mk = Berat Bata Kering . Vb = Volume Benda Uji . g/m. = rho air HASIL PENEITIAN Sebelum proses pembuatan benda uji bata ringan, pertama-tama dilakukan analisa bahan. Analisa bahan ini terdiri atas analisa semen dan analisa agregat halus. Proses ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bahan yang akan digunakan dalam pembuatan benda uji, sehingga pada saat penyusunan campuran desain hasil yang didapatkan bisa mencapai kekuatan sesuai rencana. Adapun hasil pengujian bahan material dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: 174,9 kg Pasir (Mojokert. 174,9 kg Air 43,75 ltr Kalsium 0,43725 kg Foam Agent 17,49 69,96 52,47 8,75 8,75 0,875 0,875 34,98 52,47 69,96 34,98 17,49 8,75 8,75 8,75 0,875 0,875 0,875 Tabel 4 Hasil Pengujian Test Slump Tabel 2 Kebutuhan Total Material No Material Kebutuhan Material Semen 87,45 kg Pasir . C Test Slump Slump Test dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan adukan hasil pencampuran, yang dapat menggambarkan kemudahanpengerjaan . bata Pada dasarnya perancanagan campuran dimaksudkan untuk menghasilkan suatu proporsi campuran bahan yang optimal dengan kekuatan yang Adapun hasil dari pengujian slump dapat lihat pada Tabel 4 dan Gambar 2 dibawah ini: C Kebutuhan Total Material Perancanaan campuran beton merupakan suatu hal yang komplek jika dilihat dari perbedaan sifat dan karakteristik bahan penyusunannya. Karena bahan penyusun tersebut akan menyebabkan variasi dari produk beton yang dihasilkan. Pada dsarnya perancanagan campuran dimaksudkan untuk menghasilkan suatu proporsi campuran bahan yang optimal dengan kekuatan yang maksimum. Kebutuhan total seluruh bahan material dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini: Foa Age . No. Kode benda uji (%) Test Slump 1 PS-0 PS-25 PS-50 PS-75 PS-100 Test Slump . Test Slump (RataRat. 200 ml Sumber: Hasil Olahan Peneliti Gambar 2 Grafik Hasil Test Slump Terhadap Variasi Campuran Pasir Silika Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Dari Tabel 4 dan Gambar 2 dapat dilihat bahwa nilai semakin menurun seiring dengan variasi persentase campuran pasir silika. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin besar penambahan pasir silika pada campuran bata ringan, maka akan menurunkan sifat workability/kelecakan bata ringan tersebut. Batasan nilai test slump dengan menggunakan kerucut abrams yatu 612 cm. Dapat disimpulkan penggunaan agregat berpengaruh terhadap hasil test slump, ditinjau dari pengujian material air resapan pada pasir silika lebih tinggi dari pada pasir Mojokerto yaitu 1,72% untuk pasir silika dan 1,318 untuk pasir Mojokert. Penggunaan faktor air semen (FAS) sangat berpengaruh pada hasil nilai test slump, pada penelitian ini faktor air semen (FAS) yang digunakan adalah 0,5 rata-rata terbesar yaitu 1458,5 Kg/m3 dan pada variasi campuran pasir silika 100 % umur 28 hari memiliki hasil berat volume rata-rata terkecil yaitu 1162,3 Kg/m3. Dari situ dapat disimpulkan bahwa selain persentase campuran pasir silika yang mempengaruhi berat volume rata-rata juga terdapat lama umur benda uji yang mempengaruhi berat volume rata-rata. Menurut (SNI 03-3449-1. beton ringan adalah beton yang memakai agregat ringan atau campuran pasir alam sebagai agregat pengganti dengan ketentuan tidak boleh melampaui berat isi maksimum beton yaitu 1850 Kg/m3 yang pada umumnya berat bata ringan berkisar antara 600 Kg/m3 Ae 1600 Kg/m3. Dengan demikian hasil pengujian berat volume memenuhi standart dan dapat dikategorikan sebagai bata C Berat Volume Benda Uji Pengujian benda uji bertujuan untuk mengetahui batas dari kriteria kekuatan, kualitas dan kuantitas terutama pada penelitian bata ringan. Pengujian yang dilakukan adalah berat volume, kuat tekan dan kuat tarik belah. Adapun hasil pengukuran berat benda uji dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 3 di bawah ini ditinjau per variasi campuran pasir silika. C Pengujian Kuat Tekan Pengujian kuat tekan dilakukan dengan posisi benda uji silinder dengan arah vertikal dan posisi tepat di tengah mesin kuat tekan. Adapun dari hasil pengujian yang dilakukan di laboratorium Teknologi Beton Universitas Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 4 sebagai berikut: Tabel 6 Rekapitulasi Pengujian Kuat Tekan Rata-Rata Pada Umur 7, 14, dan 28 Hari Kode Kuat Tekan No. Benda (N/ mm. Uji (%) 7 hari 14 hari 28 hari PS-0 1,792 2,075 2,358 PS-25 1,886 1,981 2,547 PS-50 2,075 1,886 2,83 PS-75 1,603 2,264 2,924 PS-100 1,981 1,883 2,753 Tabel 5 Rekapitulasi Perhitungan Berat Volume RataRata Pada Umur 7, 14, & 28 Hari Kode Berat Volume No. benda uji Rata-Rata (Kg/m. (%) PS-0 PS-25 PS-50 PS-75 PS-100 Gambar 4 Grafik Hasil Pengujian Kuat Tekan Rata-Rata Pada Umur 7, 14, dan 28 Hari Berdasarkan Tabel 6 dan Gambar 4 data hasil pengujian terlihat bahwa variasi campuran pasir silika 75 % memiliki rata-rata hasil kuat tertinggi jika ditinjau antara kuat tekan dan umur benda uji yaitu pada umur 7 hari memiliki hasil kuat tekan rata-rata terkecil yaitu 1,603 N/mm2 , umur 14 hari memiliki hasil kuat tekan 2,264 N/mm2 dan pada variasi campuran pasir silika 75 % umur 28 hari memiliki hasil kuat tekan rata-rata terbesar yaitu 2,924 N/mm2. Berbeda dengan campuran variasi Gambar 3 Grafik Rekapitulasi Hasil Perhitungan Berat Volume Rata- rata Terhadap Umur Benda Uji Berdasarkan Tabel 5 dan Gambar 3 menunjukkan umur benda uji dan presentase penambahan pasir silika mempengaruhi berat volume rata-rata bata ringan. Dari data hasil pengujian terlihat bahwa variasi campuran pasir silika 0 % di umur 7 hari memiliki hasil berat volume Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 C Hubungan Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Pada Umur 28 hari Adapun hubungan antara kuat tekan dan kuat tarik belah dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini: pasir silika 50 % pada saat umur 7 hari memiliki kuat tekan tertinggi yaitu 2,075 N/mm2 namun menurun saat umur 14 hari menjadi 1,886 N/mm2 dan mengalami peningkatan lagi pada saat umur 28 hari yaitu 2,83 N/mm2. Tabel 8 Hasil Pengujian Porositas Pada Umur 28 Hari Hubung an Kuat Kuat Kua Tarik Perbanding Kode Teka Belah / an Kuat No Bend Tari Kuat Tarik Belah a Uji (N/ Tekan dan Kuat Bela Tekan (N/ 1 PS-0 2,358 0,22 0,145 9,45 2 PS2,547 0,25 0,162 10,16 3 PS2,83 0,35 0,178 10,58 4 PS2,924 0,31 0,185 10,87 5 PS2,753 0,32 0,198 11,95 Sumber: Hasil Olahan Peneliti C Pengujian Kuat Tarik Belah Pengujian kuat tarik belah dilakukan dengan posisi benda uji silinder dengan arah horizontal dan posisi tepat di tengah mesin kuat tekan dengan penambahan alat bantu besi penampang. Adapun dari hasil pengujian yang dilakukan di laboratorium Teknologi Beton Universitas Dr. Soetomo Surabaya dapat dilihat pada Tabel 7 dan Gambar 5 sebagai berikut: Tabel 7 Hasil Pengujian Kuat Tarik Belah Benda Uji Pada Umur 28 Hari Kode Benda Uji Kuat Tarik Belah No. (N/ mm. (%) PS-0 PS-25 0,223 0,259 PS-50 PS-75 PS-100 0,353 0,318 0,329 Hubungan nilai kuat tarik belah terhadap akar kuadran kuat tekan beton menurut SNI T-15-1991-03 menyatakan bahwa fAot=0. 7OofAoc pada hasil penelitian hubungan kuat tarik belah terhadap akar kuadran kuat tekan berkisar antara fAot=0,145 sampai 0,198OofAoc dan perbandingan kuat tarik belah terhadap kuat tekan berkisar antara 9,45 sampai 11,95%. C Pengujian Porositas Semakin tinggi tingkat kepadatan pada beton maka semakin besar kuat tekan atau mutu beton, sebaliknya semakin besar porositas beton, maka kekuatan beton akan semakin kecil. Jadi porositas juga memiliki pengaruh terhadap hasil nilai pada kekuatan kuat tekan dan kuat tarik belah pada bata ringan. Berikut hasil pengujian porositas bata ringan umur 28 hari pada Tabel 9 dan Gambar : Gambar 5 Grafik Hasil Pengujian Kuat Tarik Benda Uji Pada Umur 28 Hari Berdasarkan Tabel 7 dan Gambar 5 menunjukkan dengan penambahan pasir silika mempengaruhi hasil kuat tarik belah rata-rata pada bata ringan. Dari data hasil pengujian terlihat bahwa variasi campuran pasir silika 0 % umur 28 hari memiliki hasil kuat tarik belah rata-rata terkecil yaitu 0,223 N/mm2 terus mengalami peningkatan kuat tarik yang terbesar pada variasi campuran pasir silika 50 % yaitu 0,353 N/mm2 dan mengalami penurunan di variasi campuran pasir silika 75 % dengan hasil kuat tarik 0,318 N/mm2 dan pada variasi campuran pasir silika 100 % mengalami peningkatan kembali menjadi 0,329 N/mm2. Tabel 9 Hubungan Campuran Variasi Pasir Silika Terhadap Porositas Pada Umur 28 Hari Kode Bana Uji Porositas No. Rata-Rata (%) PS-0 19,108 PS-25 16,561 PS-50 15,287 PS-75 14,013 PS-100 12,739 Sumber: Hasil Olahan Peneliti Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Terlihat pada hasil nilai kuat tekan pada umur 28 hari yang memiliki nilai kuat tekan tertinggi 2,924 N/mm2 dengan nilai porositas 14,013 % dan memiliki hasil nilai kuat tekan terendah pada umur 28 hari dengan nilai kuat tekan 2,358 N/mm2 dengan nilai porositas 19,108 %. Hal ini membuktikan hasil dari nilai porositas juga berpengaruh terhadap hasil nilai kuat tekan pada bata Tabel 11 Hubungan Porositas Dengan Kuat Tarik Belah Pada Umur 28 Hari No. Campuran Kuat Tarik Porositas Pasir Silika Belah Rata-Rata (%) (N/ mm. (%) 0,223 19,108 Gambar 6 Grafik Hubungan Campuran Variasi Pasir Silika Terhadap Porositas Pada Umur 28 Hari 0,259 0,353 0,318 0,329 Sumber: Hasil Olahan Peneliti Berdasarkan Tabel 9 dan Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin besar variasi campuran pasir silika maka berpengaruh terhadap semakin kecilnya porositas yang Hal ini disebabkan karena pada pasir silika memiliki kadar resapan air yaitu 1,72 % dan pasir Mojokerto memiliki kadar air 1,38 %. Pada variasi campuran pasir silika 0 % mimiliki nilai porositas 19,108 % dan terus mengalami penurunan hingga pada variasi campuran pasir silika 100 % memiliki nilai porositas 12,739 %. 16,561 15,287 14,013 12,739 Tabel 10 Hubungan Porositas Pada Umur Dengan Kuat Tekan 28 Hari Kode Banda Kuat Porositas No. Uji Tekan Rata-Rata (N/ mm. (%) PS-0 PS-25 PS-50 PS-75 PS-100 2,358 2,547 2,83 2,924 2,753 19,108 16,561 15,287 14,013 12,739 Gambar 8 Grafik Hubungan Porositas Dengan Kuat Tarik Belah Pada Umur 28 Hari Dari Tabel 11 dan Gambar 8 dapat dilihat hubungan antara porositas dan kuat tarik belah memiliki pengaruh, dapat dilihat pada nilai porositas 15,287 % memiliki nilai kuat tarik belah tertinggi yaitu 0,353 N/mm2, lalu mengalami penurunan kuat tarik belah pada nilai porositas 16,561 % dengan nilai kuat tarik belah 0,259 N/mm2 sampai pada nilai porositas 19,108% mengalami nilai penurunan dengan nilai kuat tarik belah 0,223 N/mm2. Sumber: Hasil Olahan Peneliti KESIMPULAN Berdasarkan hasil data pengujian dan grafik yang merupakan hasil penelitian mengenai penggunaan pasir silika dan penambahan kalsium pada pembuatan bata ringan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut : Pengaruh kuat tekan dan kuat tarik belah dari hasil penelitian menggunakan sustitusi pasir silika pada komposisi PS-75%, umur 28 hari kenaikan kuat tekan maksimal sebesar 2,924 N/mm2 atau 2,924 Mpa, sedangkan kuat tarik belah maksimal sebesar 0,353 N/mm2 atau 0,353 Mpa. Pada komposisi PS-50%, Berat volume komposisi pasir silika PS-100 % umur 28 hari rata-rata sebesar 1162,3 Kg/m3. Menurut (SNI Gambar 7 Grafik Hubungan Porositas Dengan Kuat Tekan Pada Umur 28 Hari Dari Tabel 10 dan Gambar 7 dapat dilihat hubungan antara porositas dan kuat tekan pada umur 28 hari memiliki pengaruh, yang disimpulkan semakin kecil nilai porositas maka semakin tinggi pula hasil nilai dari kuat Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 03-3449-1. beton ringan mempunyai berat berkisar antara 600 Kg/m3 Ae 1600 Kg/m3. Dengan demikian hasil pengujian berat volume memenuhi standart dan dapat dikategorikan sebagai bata ringan. http://eprints. id/35543/1/naskah publik Mukarom, 2018 AuPembuatan Bata Ringan Dengan Menambahkan Foam Agent Dengan Berbagai KomposisiAy. Rezko Yunanda dkk, 2014 AuPenggunaan Pasir Kuarsa Sebagai Bahan Pengganti Semen Tipe I Pada Disain Beton K-250 Dan K-300Ay Vol. 2, 2014. Rencana Campuran Beton Normal (SNI 03-2834-2000 Standar Nasional Indonesia. Semen Portland Pozolan (SNI 15-0302-2. Standar Nasional Indonesia. Metode Pengujian Waktu Ikat Awal Semen (SNI 03-6827-2. Standar Nasional Indonesia. Tata Cara Pembuata. Standar Nasional Indonesia. Bata Beton Untuk Pasangan Dinding (SNI 03-0349-1. Subakti. Mix Desain Beton Normal dengan Metode DOE dan ACI. Surabaya SARAN Sebelum melakukan penelitian perlu dikenali sifat bahan dan peralatannya terlebih dahulu dan juga diperlukan pemaham yang baik dalam perencanaan dalam pembuatan bata ringan. Pada penelitian ini pengaruh penggunaan campuran pasir silika dengan prosentase tertentu sangat mempengaruhi hasil pada nilai kuat tekan dan kuat tarik belah, dengan campuran pasir silikan masih memungkinkan didapatkan nilai kuat tekan dan kuat tarik belah yang lebih maksimal lagi dengan penambahan bahan tambahan yang lebih bervariasi misalkan prosentase foam agent yang lebih bervariasi, penggunan campuran agregat selain pasir Mojokerto, kalsium yang bervariasi, penambahan zat aditif Aditton, perbandingan antara semen dan pasir yang bervariasi dan FAS yang juga bisa divariasi agar menghasilkan campuran yang optimal sehingga didapatkan nilai kuat tekan, kuat tarik belah yang maksimal. Melihat hasil penelitian ini maka penelitian ini masih bisa dilanjutkan untuk mendapatkan kuat lebih dari 5 N/mm2 atau 5 Mpa. Untuk pemakaian agregat halus . asir silik. dengan presentase yang sudah optimum yaitu 75%, untuk menghasilkan nilai kuat tekan dan kuat tarik belah yang lebih maksimal lagi mungkin masih bisa dengan menggunakan pasir silika dengan mesh yang lebih bervariasi dan juga penggunaan substitusi bahan campuran selain pasir Mojokerto supaya bisa mendapatkan variasi bata ringan yang lebih ringan dan kuat sehingga menghasilkan bata ringan yang optimal melebihi batas maksimum yang telah ditentukan untuk kuat tekan dan kuat tarik belah. DAFTAR PUSTAKA ASTM. Foaming Agents for Usse in Producing Cellular Concrete UsingPreformed Foam. ASTM C 796 Ae 87. ASTM Standart, 2002,ASTM C 270. Austandart kuat tekan mortar atau plesteranAy. ASTM Internasional West Conshohocken. Departemen Pekerjaan Umum. SNI 03-6882 Spesifikasi Mortar Untuk Pekerjaan Pasangan. Yayasan LPMB. Bandung. Departemen Pekerjaan Umum. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum, 2011. Cara Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder SNI 1974-2011. Badan Standarisasi Nasional. Endang Kasiati, 2012 AuPerubahan Kuat Tekan Optimum Beton Pada Komposisi Campuran Pasir Silika Dengan Pasir Limbah. Lilik Sri Widodo. 2015 AuPengaruh Foam Agend dan Serbuk Gypsun Terhadap Kualitas Bata RinganAy. Jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Halaman Ini Sengaja Dikosongkan Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Identifikasi Kawasan Slum Area di Kota Malang Fifi Damayanti1 and Pamela Dinar Rahma2 SIPIL. Fakultas Teknik. Universitas Tribhuwana Tungga Dewi. Malang SIPIL. Fakultas Teknik. Universitas Tribhuwana Tungga Dewi. Malang E-mail: fifidamayanti197408@yahoo. com, pamela. dinar@unitri. ABSTRAK: Perumahan dan permukiman adalah bagian dari kehidupan komunitas dan secara keseluruhan bagian dari lingkungan sosial. Baik secara langsung maupun tidak langsung akan selalu terjadi hubungan timbal balik baik antara penghuni dan huniannya yang juga tidak lepas dari konsep hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Permukiman umumnya terbentuk dalam dan pada suatu kawasan yang merupakan hasil antara interaksi manusia dengan lingkungan alam ataupun sosialnya. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif yaitu pada saat untuk mengidentifikasi kawasan dan area slum area yang berada di kota Malang. Observasi populasi dilakukan pada 5 kecamatan, sampel yang dipakai sebanyak 7 kelurahan. Purposive Sampling adalah Metode dalam dipakai dalam menentukan sampel. Dari total sebanyak 57 kelurahan ditemukan 29 kelurahan dikategorikan kawasan permukiman kumuh. Kawasan kumuh di kota Malang diidentifikasi paling banyak terdapat pada daerah kecamatan Lowokwaru. Kata Kunci: slum area, deskriptif kualitatif, malang PENDAHULUAN Dari pemaparan mengenai definisi permukiman tersebut, dimana definisi permukiman tidak hanya dapat dipahami secara 3 . dimensi saja, melainkan juga dengan 4 . dimensi, dikarenakan manusia dan masyarakat sejatinya selalu berubah-ubah dan cenderung berkembang secara berkelanjutan secara terus-menerus. Definisi permukiman kumuh dapat didasarkan pada karakteristiknya yaitu suatu lingkungan permukiman yang dulu maupun saat ini telah mengalami penurunan secara Atau Dengan kata lain dapat disebut memburuk yaitu secara fisik tersurat maupun tersirat, social-budaya maupun social-ekonomi. Dan tidak memungkinkan tercapainya kehidupan yang layak bahkan cenderung dapat membahayakan bagi penghuninya. Adapun Ciri permukiman kumuh yaitu merupakan bentuk permukiman dengan jenis tingkat hunian, kepadatan, kerapatan bangunan yang sangat tinggi, bentuk bangunan tidak teratur, dan juga kualitas hunian yang sangat rendah. Disisi lain tidak memadainya prasarana dan sarana yang sangat pokok seperti sumber air minum, jaringan jalan, distribusi air limbah dan distribusi sampah. Kawasan kumuh adalah definisi kawasan dimana kondisi hunian dan kondisi hunian masyarakat di dalam kawasan tersebut teramat sangat buruk. Rumah hunian maupun sarana dan prasarana yang terdapat di Kawasan tersebut tidak sesuai dengan apa yang disebut standar yang sedang berlaku, baik yang dimaksud dengan standar kebutuhan, kepadatan-kerapatan bangunan, deskripsi persyaratan rumah sehat, deskripsi kebutuhan sarana air bersih, deskripsi sanitasi maupun deskripsi persyaratan kelengkapan prasarana jalan, deskripsi ruang terbuka, serta deskripsi kelengkapan fasilitas sosial lainnya. Ciri-ciri sebuah pemukiman kumuh, adalah seperti yang didefinisikan oleh Prof. DR. Parsudi Suparlan adapaun beberapa diantaranya adalah : Fasilitas umum dimana kondisinya dapat dikatakan kurang atau sangat tidak memadai. Kondisi ruang, hunian dan pemukiman mencerminkan penghuninya kekurangan. kesemrawutan ruang, intonasi volume dan kepadatan suara tinggi Berkembangnya meningkatnya arus urbanisasi yang antara lain menimbulkan permasalahan akan perumahan dan Secara programnya, pemerintah terus berusaha menyelesaikan permasalahan mengenai perumahan dan permukiman. Namun dikarenakan permintaan akan kebutuhan perumahan dan permukiman yang terus meningkat, maka beberapa kalangan masyarakat membangun . aik secara individu maupun kelompo. secara ilegal. Perumahan dan permukiman adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan komunitas dan keseluruhan lingkungan sosial. Hunian dalam arti harfiah yaitu dapat diidentikkan sebagai dengan rumah atau sebagai benda mati. Jika dalam konteks ini, dimana hunian yang dimaksudkan sebagai istilah yaitu yang dimaksud?vernacular architecture?, yaitu merupakan hasil karya sebuah perwujudan kesepakatan dari seluruh lapisan masyarakat, dan bukan hasil dari karya seseorang saja dan juga merupakan bagian dari salah satu aktivitas kehidupan manusia yang menghuninya. Akan selalu terjadi hubungan berupa timbal balik yaitu antara penghuni dan huniannya namun juga yang tidak lepas dari sebuah konsep hubungan antara manusia dengan sekitarnya / lingkungannya. Permukiman atau yang juga dapat disebut istilahnya sebagai Human Settlement dimana menurut Doxiadis () dalam Kuswartojo . yaitu merupakan sebuah domain / tempat yang dihuni oleh sekelompok manusia. Dimana Manusia yang bermukim di berbagai tempat tersebut akan menentukan jenis bentuk permukimannya. Permukiman terdiri dari elemen yaitu the content . ociety dan ma. dan the container . etwork, shell, dan Kelima unsur permukiman ini saling terikat dan terkait anatara satu sama lainnya, akan tetapi komposisi dan porsi lima elemen-elemen ini sangat variatif, sehingga nantinya akan dapat membentuk definisi permukiman dengan sebuah karakter tertentu. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Pemukiman kumuh merupakan suatu bentuk satuan-satuan komuniti dimana penghuninya hidup secara menyendiri dengan batas-batas berupa kebudayaan dan juga sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai: C Berbentuk Sebuah komuniti tunggal, lokasinya berada di tanah milik pemerintah / negara, dan karena itu dapat dikategorikan sebagai hunian liar. C Sebuah Satuan komuniti tunggal yang berbentuk bagian dari sebuah RT atau sebuah RW. C Sebuah satuan berbentuk komuniti tunggal yang berwujud yaitu sebagai sebuah RT atau RW atau bahkan memungkinkan terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan bebentuk hunian Penghuni pemukiman kumuh apabila secara sosial dan ekonomi tidak cukup homogen, warganya didefinisikan mempunyai jenis mata pencaharian dan tingkat kerapatan-kepadatan yang beranekaragam, dan juga asal muasalnya. Dalam definisi masyarakat pemukiman kumuh juga dikenal adanya berbagai pelapisan sosial berdasarkan atas dasar kemampuan ekonomi mereka yang bervarian dan berbeda-beda tersebut. Sebagian besar penghuni pemukiman area kumuh adalah mereka pekerja yang bermata pencaharian di sektor informal atau disebut mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informal. Sebagian besar penduduknya berusaha atau bekerja di sektor informal Lingkungan permukiman, rumah, fasilitas dan prasarananya di bawah standar minimal sebagai tempat bermukim, misalnya memiliki: C Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km2 C Kepadatan bangunan > 110 bangunan/Ha. C Kondisi prasarana buruk . alan, air bersih, sanitasi, drainase, dan persampaha. C Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun Permukiman adalah bagian dari lingkungan di luar kawasan lindung, dapat merupakan kawasan perkotaan dan pedesaan, berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Sedangkan kata kumuh menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kotor atau cemar. Jadi, bukan padat, rapat becek, bau, reyot, atau tidak teraturnya, tetapi justru kotornya yang menjadikan sesuatu dapat dikatakan kumuh. Menurut Johan Silas. Permukiman Kumuh dapat diartikan menjadi dua bagian, yang pertama ialah kawasan yang proses pembentukannya keterbatasan kota dalam menampung perkembangan kota sehingga timbul kompetisi dalam menggunakan lahan Sedangkan berkepadatan tinggi merupakan embrio permukiman Dan yang kedua ialah kawasan yang lokasi penyebarannya secara geografis terdesak perkembangan kota yang semula baik, lambat laun menjadi kumuh. Untuk melakukan identifikasi kawasan permukiman kumuh digunakan kriteria. Penentuan kriteria kawasan mempertimbangkan berbagai aspek atau dimensi seperti kesesuaian peruntukan lokasi dengan rencana tata ruang, status . tanah, letak/kedudukan lokasi, tingkat kepadatan penduduk, tingkat kepadatan bangunan, kondisi fisik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Selain itu digunakan kriteria sebagai kawasan seperti kawasan permukiman kumuh teridentifikasi yang berdekatan atau berbatasan langsung dengan kawasan yang menjadi bagian dari kota metropolitan. Kriteria kawasan permukiman kumuh Berdasarkan uraian diatas maka untuk menetapkan lokasi kawasan permukiman kumuh digunakan kriteria-kriteria yang dikelompok kedalam kriteria: C VitalitasNonEkonomi C VitalitasEkonomi Kawasan C Status Kepemilikan Tanah C Keadaan Prasarana dan Sarana C Komitmen Pemerintah Kabupaten/Kota C Prioritas Penanganan Jika didasarkan pada salah satu ciri diatas, dapat disebutkan bahwa permukiman kumuh diantarnya memiliki ciri kondisi ruang, hunian, dan pemukiman yang mencerminkan kondisi yang kurang mampu Penggunaan ruang yang berada pada sebuah ruang yang tidak sesuai akan fungsi aslinya sehingga nantinya berubah menjadi sebuah fungsi permukiman, seperti yang muncul pada daerah sempadan nantinya untuk kebutuhan Ruang Terbuka Hijau. Keadaan demikian akan menunjukan bahwa penghuninya yang ekonominya kurang mampu untuk membeli atau bahkan menyewa rumah di area perkotaan dengan harga lahan dan bangunan yang tinggi, akan tetapi lahan kosong di daerah perkotaan pun sudah tidak tersedia. Permukiman tersebut muncul di permukaan dengan sarana dan prasarana yang kurang bahkan sangat tidak memadai, kondisi dan keadaan rumah yang kurang bahkan sangat tidak baik dengan kepadatan dan kerapatan yang tinggi serta mengancam kondisi kesehatan sekitar bahkan penghuni. Dengan begitu, permukiman yang berada pada kawasan area SUTET, kawasan area semapadan sungai, kawasan area semapadan rel kereta api, dan kawasan area sempadan situ/danau merupakan kawasan permukiman kumuh. Menurut Ditjen Bangda Depdagri, ciri-ciri permukiman atau daerah perkampungan kumuh dan miskin dipandang dari segi sosial ekonomi adalah sebagai Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan rendah, serta memiliki sistem sosial yang rentan. Kegiatan penilaian kawasan permukiman kumuh dilakukan dengan sistem pembobotan pada masingmasing kriteria diatas. Umumnya dimaksudkan bahwa setiap kriteria memiliki bobot pengaruh yang berbedabeda. Selanjutnya dalam penentuan bobot kriteria bersifat relatif dan bergantung pada preferensi individu atau Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 kelompok masyarakat dalam melihat pengaruh masingmasing kriteria. (Kecamatan Lowokwar. Kelurahan Kauman (Kecamatan Kloje. Kelurahan Jodipan (Kecamatan Belimbin. Kelurahan Kota Lama (Kecamatan Kedung Kandan. Kelurahan Kasin dan Kelurahan Ciptomulyo (Kecamatan Suku. Penentuan sampling menggunakan Purposive Sampling, peneliti menentukan sampel penelitian dengan asumsi bahwa kelurahan tersebut termasuk dalam kawasan permukiman kumuh atau slum area berdasarkan observasi awal. METODE PENELITIAN Dalam penelitian mengenai slum area ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data non-numerik. Menurut Moleong . sebuah fenomena yang dialami sebuah subyek dapat dipahami secara holistik dengan menggunakan penelitian kualitatif. Lebih jauh Moleong menyatakan bahwa salah satu karakteristik penelitian kualitatif adalah bersifat deskriptif. Deskriptif dalam hal ini mengandung arti bahwa pengumpulan data yang nantinya dilakukan menghasilkan data berupa gambar, kata-kata dan bukan Semua data yang didapatkan akan menjadi poin penting penelitian yang telah dilakukan. Sehingga laporan penelitian tersebut akan berisi dari kutipan-kutipan data yang menggambarkan penyajian data tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan data, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi pada saat penelitian akan berlangsung dengan apa adanya. Hal ini akan berkaitan dengan karakteristik penelitian yang harus bersifat objektif. Penelitian ini menafsir dan memaparkan data yang nantinya terkait dengan fenomena yang sedang terjadi, perilaku dan pandangan yang ada dalam suatu masyarakat, pengaruh terhadap suatu peristiwa, pembandingan dua kondisi yang berbeda, perbedaan antar fakta dan lain-lain. Dalam penelitian kualitatif manusia diandalkan sebagai alat Secara umum kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini antara lain aktivitas penginterpretasian data, hingga menarik sebuah simpulan yang berdasar kepada hasil analisis data tersebut. Menurut Denzin & Lincoln, bahwa paradigma akan dipandang sebagai seperangkat utuh keyakinan-keyakinan dasar yang nantinya berkaitan dengan prinsip. Sedangkan Thomas Kuhn menyatakan bahwa sebuah paradigm digunakan dalam 2 arti yang berbeda. Pertama, paradigma dapat diartikan keseluruhan konstelasi nilai. Teknik, kepercayaan dan sebagainya yang dimiliki anggotaanggota masyarakat tertentu. Yang kedua, menunjuk sejenis elemen dalam konstelasi tersebut, pemecahan teka-teki konkrit dan apabila dijadikan sebagai sebuah model, akan mampu menggantikan kaidah-kaidah eksplisit sebagai dasar pemecahan sains normal dan Dalam sebuah penelitian paradigma digunakan sebagai sebuah dasar. Terdapat dua macam paradigma yang secara umum digunakan dalam penelitian ilmiah yaitu Scientific paradigm . aradigma ilmia. dan naturalistic paradigm atau disebut paradigma alamiah merupakan paradigma yang secara umum. Pada arsitektur scientific paradigm berkaitan dengan rekayasa teknik arsitektur sedangkan naturalistic paradigm berhubungan dengan penjelasan bentuk yang selalu mengandung unsur makna simbolik Dalam penelitian ini dilakukan observasi terhadap lima kecamatan dengan dilengkapi sampel kelurahan sebanyak 7 kelurahan. Kelurahan yang menjadi sampel adalah Kelurahan Dinoyo. Kelurahan Sumbersari KONDISI KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH/SLUM AREA DI KOTA MALANG Permasalahan utama program pengadaan perumahan yang belum terselesaikan hingga saat ini adalah kebutuhan perumahan yang layak bagi masyarakat dalam arti luas belum terpenuhi, khususnya bagi masyarakat miskin, dan masyarakat berpenghasilan rendah serta tidak Kelayakan perlu dipahami dengan kehidupan atau sifat sosio-ekonomi masyarakat yang bersangkutan bukan secara teknis rasional melainkan dengan memahami. Sejalan dengan pertambahan penduduk daerah perkotaan mengakibatkan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana perkotaan terutama kebutuhan perumahan (Panudju, 1. Salah satu permasalahan yang sampai sekarang belum bisa diselesaikan adalah penyediaan akan kebutuhan Padahal rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi setiap manusia selain pangan dan Pengadaan perumahan daerah perkotaan sangat terbatas sehingga masalah pemenuhan kebutuhan perumahan sampai saat ini masih sulit dipecahkan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Mayoritas masyarakat miskin sering kali terpaksa melakukan sesuatu diluar hukum, bukan hanya dalam kaitan dengan tanah perkotaan tetapi juga dalam memperoleh tempat tinggal. Masyarakat miskin tidak mampu membangun sesuai dengan izin mendirikan bangunan yang berlaku (McAuslan, 1. Peraturan perencanaan dan pembangunan rumah, dimaksudkan untuk menjamin bahwa standar kesehatan dan keamanan dasar dapat terpenuhi. Tetapi dengan tuntutan standar yang tidak realistis dan terlalu mahal, mayoritas masyarakat miskin dipersalahkan karena tidak pernah memenuhi ketentuan standar. Kasus yang terjadi di sebagian besar negaranegara berkembang mengenai permasalahan rumah, khususnya bagi masyarakat golongan kurang mampu adalah golongan tersebut tidak mampu menjangkau harga rumah walaupun dalam batas ukuran layak minimal. Sehingga masyarakat tinggal di kawasan-kawasan marginal dengan kondisi rumah yang memprihatinkan, sebagai contoh yaitu di kota-kota besar dari negara dunia ketiga, jumlah penghuni yang tinggal di daerah permukiman liar semakin meningkat. Masyarakat tidak mampu membangun rumah yang layak . ecara sah, memiliki saluran air dan mengindahkan kebersihan. Pengadaan perumahan daerah perkotaan akan sangat terbatas, sedangkan menurut Panudju . masalah akan pemenuhan kebutuhan perumahan hingga sampai saat ini masih sangat sulit dipecahkan, khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Adapun Kebutuhan perumahan di daerah perkotaan akan selalu Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 meningkat dengan pesat. Akibatnya dimana sebagian penduduk yang kurang mampu, akan mencari tempat tinggal pada kawasan yang tidak atau kurang teratur, lingkungan kurang baik, kawasan slum, kawasan squater, atau pada kawasan marginal seperti pada bantaran sungai. Hal ini membentuk bentuk permukiman-permukiman liar yaitu dalam usaha untuk mendapatkan tempat untuk bernaung dan berlindung yang relative dekat dengan tempat bekerja. Menurut Turner . seiring dengan bertambahnya pendapatan, prioritas kebutuhan akan huniannya akan Prioritas kebutuhan akan perumahan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan sangat rendah akan memiliki perbedaan dalam urutan prioritas yang dipandang paling primer yaitu prioritas pertama terutama pada faktor jarak antara rumah dengan tempat bekerja, prioritas kedua terdapat pada faktor kejelasan status kepemilikan tanah dan hunian, sedangkan, dan prioritas terendah terletak pada faktor bentuk dan juga kualitas bangunan. Padahal Kota Malang adalah kota terbesar nomor dua di Jawa Timur. Kota Malang dikenal dengan semboyan berupaTri Bina Cita yaitu sebagai berbagai nama diantaranya Kota Pariwisata. Kota Industri dan Kota Pendidikan yaitu yang mencerminkan profil akan potensi ekonomi Kota Malang, dengan batas C Sebelah Barat berbatasan yaitu dengan Kecamatan Wagir Kecamatan Dau C Sebelah Timur berbatasan yaitu dengan Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang. C Sedangkan Sebelah Utara berbatasan yaitu dengan Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso C Sedangkan Sebelah Selatan berbatasan yaitu dengan Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Selain itu berdasarkan data Pemerintah Kota Malang diketahui bahwa sebanyak 29 kelurahan dari keseluruhan total 57 kelurahan yang letaknya tersebar di berbagai penjuru di Kota Malang, tepatnya di provinsi Jawa Timur, ternyata masuk dikategorikan sebagai kawasan pemukiman kumuh. Pemukiman ini nantinya akan ditata ulang sedemikian rupa sehingga akan terwujud program bebas area dan kawasan kumuh pada tahun 2019. Tabel 1. Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Kota Malang Hasil Sensus Penduduk 2010 Dari Tabel 2. Kriteria Penentuan Kawasan dan area Kumuh di Kota Malang berikut terlihat bahwa kecamatan Lowokwaru merupakan kecamatan dengan nilai kriteria kawasan kumuh yang tertinggi yakni sebesar 1470 dengan nilai kriteria Kelurahan Sumbersari sebesar 870 dan nilai kriteria sebesar 600 dari Kelurahan Dinoyo. Kriteria ini didapatkan dari kelurahan Sumbersari dan Dinoyo. Sedangkan kecamatan Blimbing memiliki nilai kriteria terendah yakni 570 dari kelurahan Purwantoro. Kota Malang yang beribukota di daerah Klojen yang memiliki luas sebesar 110 Km2 yang terbagi kedalam 57 Kelurahan/Desa dan juga 5 Kecamatan. Adapun Komoditi unggulan Kota Malang yaitu terdiri atas sektor perkebunan dan jasa. Sektor produk Perkebunan adapun komoditi unggulannya adalah Kopi. Tebu, , dan Kelapa, sedangkan untuk sub sektor jasa tepatnya yaitu Pariwisata. Adapun Klasifikasi permukiman di Kota Malang akan dibagi menjadi tiga jenis yaitu permukiman yang dibangun oleh masyarakat, permukiman yang dibangun oleh pengembang. Jika dipandang dari trend yang ada saat ini maka pada hakikatnya permukiman yang dibangun oleh orang pribadi atau masyarakat terdapat tiga jenis yaitu permukiman yang tertata dengan rapi, permukiman sembarangan dan tidak teratur, serta permukiman kampung kumuh. Tabel 2. Kriteria Penentuan Kawasan Kumuh di Kota Malang Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Kota Malang Hasil dari Sensus Penduduk tahun 2010 Dari Tabel 1. Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Kota Malang Hasil dari Sensus Penduduk tahun 2010 dapat diketahui bahwa kecamatan Klojen merupakan kecamatan terpadat di kota Malang, dan kecamatan Kedung Kandang yang merupakan kecamatan yang laju pertumbuhan penduduknya paling tinggi. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Elemen-elemen permukiman informal di wilayah kecamatan Lowokwaru (Dinoyo ? Sumbersar. Malang Jawa timur: Berdasarkan observasi lapangan dan identifikasi bangunan yang terdapat di kecamatan Lowokwaru, memberikan gambaran bahwa kondisi elemen?elemen permukiman informal di lokasi tersebut, mengenai: C Kondisi rumah tinggal sangat tidak aman karena jarak rumah dengan bantaran sungai sangat dekat dan rawan longsor apabila terjadi banjir akibat hujan yang lebat. C Jarak antar rumah sangat-sangat padat,rapat dan hampir tidak ada cahaya sinar matahari yang dapat masuk ke dalam rumah, sehingga kondisi dindingnya lembab. C Kepadatan penduduk sangat tinggi. Akses jalan sangat sempit, kebanyakan berupa gang yang hanya bisa dilewati motor dan sepeda. C Ada sebuah jembatan yang sejatinya penghubung antar sungai dengan Jembatan ini menjadi satu-satunya jalur mempersingkat jarak tempuh mereka dari rumah menuju tempat lain. C Vegetasi atau pepohonan sangat minim. C Untuk fasilitas umum hanya berupa tempat peribadatan masjid. Elemen-elemen permukiman informal di wilayah kecamatan Kedung Kandang (Kota Lam. Malang Jawa timur: Berdasarkan observasi lapangan dan identifikasi bangunan yang ada di wilayah kecamatan Kedung Kandang, memberikan gambaran bahwa kondisi elemen?elemen permukiman informal di lokasi tersebut, mengenai: C Rumah dibangun di sepanjang pinggir rel-rel lintasan kereta api yang sangat mendiami kawasan tersebut. C Kepadatan penduduk sangat padat dan jarak antar rumah satu dengan rumah lain sangat rapat dan padat dan kotor. C Kondisi jalan setapak sangat sempit berupa gang-gang kecil. C Sirkulasi jalan mempergunakan jalan di sepanjang pinggir kereta api. Gambar 4. Rumah Tumbuh di Kecamatan Kedung Kandang Gambar 5. Akses Jalan di Kecamatan Kedung Kandang Gambar 1. Rumah Tumbuh di Kecamatan Lowokwaru Gambar 2. Vegetasi di Kecamatan Lowokwaru Gambar 3. Akses Jalan di Kecamatan Lowokwaru Elemen-elemen permukiman informal di wilayah kecamatan Blimbing (Jodipa. Malang Jawa Berdasarkan observasi lapangan dan identifikasi bangunan yang terdapat di kecamatan Blimbing (Jodipa. , memberikan gambaran bahwa kondisi elemen ?elemen permukiman informal di lokasi tersebut, mengenai: C Banyak rumah dibangun dengan kondisi seadanya ditutup seng, sangat tidak dapat memenuhi syarat C Kondisi rumah tinggal sangat tidak aman, karena jarak rumah dengan bantaran sungai sangat dekat dan rawan longsor apabila terjadi banjir akibat hujan yang lebat. C Jarak antar rumah yang sangat- sangat rapat dan hampir tidak ada cahaya sinar matahari yang dapat masuk ke sisi dalam rumah, sehingga kondisi dindingnya lembab. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Gambar 6. Rumah Tumbuh di Kecamatan Blimbing C Vegetasi sangat minim, tanaman sengaja ditanam di pot-pot kecil yang tidak memenuhi syarat penghijaun kawasan Jalan berupa gang-gang sangat sempit yang menghubungkan kawasan kumuh dengan wilayah luar sangatlah tidak memenuhi Elemen-elemen permukiman informal di area kecamatan Klojen (Kauma. Malang Jawa Berdasarkan observasi lapangan dan identifikasi bangunan yang terdapat di wilayah kecamatan Klojen (Kauma. , memberikan gambaran bahwa kondisi elemen?elemen permukiman informal di lokasi tersebut, mengenai: C Kepadatan penduduk sangat padat dan jarak antar rumah sangat rapat dan padat, terlihat sangat kotor. C Jarak antar rumah sangat-sangat rapat dan hampir tidak ada cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam rumah, sehingga kondisi dindingnya lembab. C Vegetasi atau pepohonan tidak ada, hanya tanaman yang ditanam di pot kecil didepan rumah sebagian warga C Jalan setapak sangat sempit tidak memenuhi syarat C Sirkulasi warga untuk menghubungkan lokasi rumah mereka dengan wilayah luar berupa jalan setapak dengan perkerasan paving swadaya masyarakat C Kawasan ini tidak ada fasilitas umum, hanya tempat peribadatan berupa masjid Gambar 9. Rumah Tumbuh di Kecamatan Klojen Gambar 7. Akses Jalan di Kecamatan Blimbing Gambar 10. Akses Jalan di Kecamatan Klojen Gambar 8. Fasilitas Umum di Kecamatan Belimbing C Kawasan ini memiliki fasilitas umum berupa lapangan kecil untuk tempat olahraga bulutangkis dan bola voley, tetapi keadaannya sangat membahayakan karena berada di pinggir Fasilitas peribadatan berupa masjid Mempunyai fasilitas MCK umum dengan kesehatan yang sangat tidak memenuhi syarat. Elemen-elemen permukiman informal di wilayah kecamatan Sukun (Kasin. Ciptomuly. Malang Jawa timur: Berdasarkan observasi lapangan dan identifikasi bangunan yang berada di wilayah Sukun (Kasin. Ciptomuly. , elemen?elemen permukiman informal di lokasi tersebut, mengenai: C Kepadatan penduduk sangat padat dan jarak antar rumah yang sangat-sangat rapat dan padat, terlihat sangat kotor. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 prasarana umum yang kurang layak. Selain itu penggunaan lahan lebih banyak digunakan untuk perumahan, dan hanya sebagian kecil lahan yang digunakan sesuai fungsinya. Faktor yang mempengaruhi tumbuhnya slum area di Kawasan atau area tersebut antara lain adalah kepadatan penduduk dan kelajuan/pertumbuhan penduduk. Selain itu jarak permukiman dengan sarana dan/atau prasarana umum atau pusat kota menjadi faktor yang lain. Kriteria untuk menentukan sebuah kawasan termasuk dalam Slum Area antara lain vitalitas ekonomi kawasan, vitalitas nonekonomi kawasan, sarana dan prasarana kawasan, status penggunaan tanah dalam kawasan, serta komitmen Jarak antar rumah sangat-sangat rapat dan hampir tidak ada cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam rumah, sehingga kondisi dindingnya lembab. Gambar 11. Rumah Tumbuh di Kecamatan Sukun DAFTAR PUSTAKA Anonim. Profil Kota Malang. Dalam Diakses tanggal 28/11/2015 Asian Development Bank. Buku Panduan Tentang Permukiman Kembali. ADB. Manila Philippines Anonymous. Rumah Untuk Rakyat Bukan Impian?: Tempat Tinggal Untuk Yang Tak Punya Rumah. Prisma. Mei. Nomor 5. Jakarta Bria. Petrus. Kajian Pemukiman Kembali Penduduk Kedung Ombo, di Desa Kedung Mulyo Kabupaten Boyolali. Tesis. Magister Perencanaan Kota dan Daerah. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Djemabut. Blaang. Perumahan dan Permukiman Sebagai Kebutuhan Pokok. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 1986. Hidayati. A Nurul. Tipologi Kampung Kumuh di Kotamadya Malang. Tesis. Magister Perencanaan Kota dan Daerah. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Kuswartojo. Tjuk. Rosnarti. Dwi. Effendi. Vinondini. Eko K. Rasiono. Sidi. Purnomo. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Upaya membuat perkembangan kehidupan yang berkelanjutan. ITB, Bandung. Kuswartojo. Tjuk. Permukiman dan perkotaan: Mengusik Tata Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan Pemukiman. ITB. Bandung Murdaningsih. Dwi. 29 Kelurahan di Malang Kumuh. Dalam w. Republika. id,Mlg. Diakses tanggal 28/11/2015 Rahayu. Murtanti Jani dan Rutiana D. Strategi Perencanaan Pembangunan Permukiman Kumuh. Kasus Pemukiman Bantaran Sungai Bengawan Solo. Kelurahan Pucangsawit. Surakarta. GEMA TEKNIK - No 1/Tahun X Januari 2007. Hal. Gambar 12. Akses Jalan di Kecamatan Sukun Vegetasi atau pepohonan tidak ada, hanya tanaman yang ditanam di pot kecil didepan rumah sebagian warga setempat. Akses jalan sangat sempit, kebanyakan berupa gang yang hanya bisa dilewati motor dan sepeda, hal ini sangat tidak memenuhi syarat. Sirkulasi warga untuk menghubungkan lokasi rumah mereka dengan wilayah luar berupa jalan setapak dengan perkerasan paving swadaya masyarakat sendiri. Dari kondisi elemen-elemen informal pada setiap kecamatan dapat disimpulkan bahwa kecamatan di kota Malang memiliki kawasan kumuh. Hal ini terlihat jelas pada kondisi permukiman, akses jalan serta kondisi sarana-prasarana umum yang kurang layak. Selain itu penggunaan lahan lebih banyak digunakan untuk perumahan, dan hanya sebagian kecil lahan yang digunakan sesuai fungsinya. KESIMPULAN Dari hasil penelitian terlihat bahwa slum area atau area kumuh banyak terdapat di Kecamatan Lowokwaru. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang padat dengan kelajuan/pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Dari kondisi elemen-elemen informal pada setiap kecamatan dapat disimpulkan bahwa kecamatan di kota Malang memiliki kawasan kumuh. Hal ini terlihat jelas pada kondisi permukiman, akses jalan serta kondisi sarana- Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Halaman Ini Sengaja Dikosongkan Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 STUDI KELAYAKAN PERUMAHAN CITRAPURI KENITEN 1 PONOROGO DILIHAT DARI SITE PLAN Siti Choiriyah. 1 dan Deni Eko Prasetiyo 2 Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya E-mail: siti. choiriyah@itats. id,dekop23@gmail. ABSTRAK : Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat seiring dengan kebutuhan akan perumahan juga mengikuti, karena rumah adalah kebutuhan primer. Sebagai pengembang Perumahan Citra Puri Keniten 1 terletak di jalan Arif Rahman HakimJalan Raya Ponorogo-Madiun Kabupaten Ponorogo berusaha memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal sesuai dengan keinginan pembeli, maka dilakukukan beberapa studi kelayakan perumahan salah satunya adalah studi kelayakan Site Plan berdasarkan SNI-03-1733-2004. Persyaratan dasar rumah dan bangunan yaitu harus memenuhi persyaratan administrasi, mengacu pada RTRW (Rencana Tata Ruang Wilaya. Tipe dasar perumahan untuk menentukan luas minimum rata-rata perpetakan tanah didasarkan pada faktor kegiatan alam dan peraturan bangunan. Dan juga harus terdapat Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan yang merupakan salah satu sumber akan cahaya maupun Hasil analisisnya yaitu : Perencanaan perumahan tersebut telah memenuhi standar SNI-03-1733-2004 mulai dari administrasi perijinan, tipe perumahan, sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH ) dengan luas 66. 79% : 33. 21% dan sarana prasarana (Jalan, tempat beribadah, drainase, jaringan air bersih, saluran air kotor, taman atau penghijauan serta tempat bermai. Kata Kunci: RTH. Site Plan. RTRW beberapa hal yang kurang seperti drainase dan manajemen pengelolaan sampah. PENDAHULUAN Pesatnya pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Badan Pusat Statistik menjelaskan bahwasanya penduduk di Kabupaten Ponorogo mengalami peningkatan yang Di tahun 2017 jumlah penduduk mencapai 393 jiwa. Dengan hal ini mengakibatkan kebutuhan yang semakin meningkat. Salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal untuk berlindung, yaitu rumah. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengembangan konsep perumahan yang dilengkapi dengan sarana prasarana dan utilitas umum supaya dapat menciptakan tata kota yang lebik baik dan nyaman (UU. No. Th. Namun perlu adanya studi kelayakan untuk menganalisis layak atau tidaknya sebuah perencanaan perumahan . ite pla. supaya memenuhi standar. Karena konsep perumahan yang layak dapat dilihat dari lokasinya yang strategis untuk mempermudah akses jalan ke tempat tujuan serta kelengkapan sarana prasarananya seperti jaringan jalan, sistem drainase, tempat ibadah, tempat bermain untuk anak-anak, taman, dan lapangan olahraga (SNI-1733-2. Kelayakan site plan perumahan berdasarkan SNI-031733-2004 . Persyaratan dasar rumah dan bangunan yaitu persyaratan administrasi, mengacu pada RTRW (Rencana Tata Ruang Wilaya. setempat, terdapat perencanaan sarana dan prasarana yang memadai. Tipe dasar perumahan untuk menentukan luas minimum rata-rata perpetakan tanah didasarkan pada faktor kegiatan alam dan peraturan bangunan dengan L per orang = U / Tp (Pers. L per orang : luas lantai hunian per orang U: kebutuhan udara segar/orang/jam dalam satuan Tp : tinggi plafon minimal dalam satuan m Maka luas lantainya per orang: L per orang dewasa = U dewasa / Tp = 24 (Pers. m3 / 2. 5 m = 9,6 m2 PENELITIAN TERDAHULU Penelitian terdahulu yang serupa penelitian ini telah benyak dilakuan, di antaranya . Penelitian yang dilakukan oleh Wibowo pada tahun 2013 yang berjudul AuAnalisis site plan Perumahan Taman Sentosa tahap II Kecamatan Ngemplak Kabupaten BoyolaliAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan site plan Perumahan Taman Sentosa tahap kedua yang memenuhi Adapun hasilnya adalah perumahan tersebut layak dan sesuai standar, dimana terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kelengkapan sarana prasarana yang memadai, meskipun terdapat L per orang anak = U anak / Tp = 12 m 3 / 2. m = 4. 8 m2 (Pers. Keterangan : U dewasa : dewasa/jam dalam satuan m3 U anak Kebutuhan /orang : Kebutuhan udara segar/orang anak/jam dalam satuan m3 : Tinggi plafon minimal dalam satuan m Jika koefisien dasar bangunan 50%, maka luas kaveling minimum untuk keluarga dengan anggota 5 orang: L kav min. = 100/50 x51m2 = 100m2 (Pers. Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang merupakan komponen berwawasan lingkungan yang mempunyai arti menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan karena adalah salah satu sumber akan cahaya maupun oksigen dimanfaatkan oleh penduduk perumahan. RTH ini dapat dimanfaatkan antara lain: sarana tempat bermain anak-anak, taman maupun lapangan olahraga, untuk luas RTH dapat dianalisis dengan perbandingan antara wilayah terbangun dan wilayah terbuka minimal adalah 70% : 30% dengan rumus: Perencanaan sarana dan prasarana untuk menunjang fasilitas perumahan. Terdapat 6 macam sarana prasarana. Jaringan drainase yang merupakan saluran yang berada disepanjang perumahan dan ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peraturan / perundang-undangan yang berlaku, terutama mengenai tata di perkotaan. Jaringan drainase merupakan prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke saluran drainase perumahan di perkotaan dan mengontrol debit air pada saat musim . Jaringan jalan yang merupakan sarana perumahan yang harus disesuaikan dengan klasifikasi berdasarkan fungsi jalan dan kelas . Jaringan air bersih dan air limbah yang merupakan kebutuhan akan air bersih untuk setiap unit rumah agar dapat tercukupi. Air bersih tersebut harus memenuhi persyaratan yang standar. Jaringan air limbah yaitu jaringan untuk mengalirkan limbah rumah tangga, dalam perencanaan ini harus sesuai ketentuan dan persyaratan teknis yang diatur dalam peratuan atau perundang-undangan yang berlaku, terutama mengenai tata acara perencanaan umum jaringan air bersih dan air Jenis dari sarana ini untuk minimal jaringan air bersih difasilitasi dengan PDAM sedangkan untuk jaringan air limbah minimal disediakan septiktank dan sumur . Jaringan persampahan yang merupakan pengelolaan sampah yang ada di kawasan perumahan supaya lingkungan tetap terjaga dari kotoran maupun sampah organik dan anorganik, serta menjaga lingkungan dari pemasanan global, karena sampah perumahan sampah yang tergolong banyak disebabkan pengguni perumahan yang padat. Maka harus disediakan tempat sampah disetiap unit rumah dan pembuangan sampah Jaringan listrik yang merupakan kebutuhan akan daya listrik untuk setiap unit rumah, dikawasan perumahan harus direncanakan berdasarkan peraturan dan persyaratan yang berlaku seperti: kebutuhan daya listrik dan jaringan listrik dengan ketentuan Setiap lingkungan perumahan harus mendapatkan daya listrik dari PLN dengan daya listrik minimum 450 VA per jiwa dan untuk sarana lingkungan sebesar 40% Sarana peribadatan yang memerhatikan struktur penduduk menurut agama yang dianut dan tata cara masyarakat setempat dalam menjalankan ibadah agamanya dengan ketentuan jumlah penduduk 250 jiwa dibangun Musholla luas lahan 45m 2, penduduk 2500 jiwa disediakan Masjid dengan luas lahan 300m2. METODE PENELITIAN Alur penelitian terdiri dari studi literatur, studi lapangan, pengumpulan data, analis dan pengumpulan data serta studi kelayakan site plan. Diagram alir terdapat pada Gambar 1. Mulai Studi Literatur Studi Lapangan Pengumpulan Data Data Primer : Pengamatan dan Pengukuran langsung di lapangan Wawancara - Waktu Proyek - Data Marketing Data Sekunder : Data yang diperoleh developer proyek : - Gambar Site Plan - Gambar Tipe Unit Rumah Analisis dan Pengolahan Data Studi Kelayakan Site Plan - Persyaratan Dasar Perumahan - Tipe Dasar Perumahan - Ruang Terbuka Hijau (RTH) - Perencanaan Sarana dan Prasarana Finish Gambar 1 Diagram Alir Penelitian Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 . Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tujuan dari ruang terbuka hijau ini adalah untuk menjaga perumahan, serta salah satu sumber akan udara maupun cahaya matahari yang dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup penduduk yang berada di kawasan tersebut, berikut hasil analisisnya pada Tabel 2: Tabel 2 Wilayah terbangun dan terbuka perumahan PEMBAHASAN Pengumpulan data merupakan bagian awal dari penelitian yang dilakukan dengan cara survei lapangan di Perumahan Citra Puri Keniten 1, dengan ini akan mendapatkan data sebagai berikut : Data Primer yaitu data yang didapat di proyek secara langsung dengan mengamati maupun wawancara. Data Sekunder yaitu data yang didapat dari pihak developer perumahan yang meliputi: Gambar Site Plan. Tipe Perumahan. RAB. Harha Jual Perumahan. Analisis Kelayakan Site Plan Perumahan Berdasarkan SNI-03-1733-2004 . Persyaratan Dasar Perumahan Lingkungan perumahan ini menjadi kawasan baru memiliki kependudukan sendiri yang diatur oleh Rukun Tetangga dan Rukun Warga (RT/RW) Admistrasi berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, perumahan telah melakukan administrasi perijinan sebelum pembangunan dimulai yaitu: Ijin advive planning. Ijin site plan PU . Ijin UPLUKL. Ijin Peruntukan Pengembangan Tanah (IPPT). Spit lapangan oleh BPN. Ijin peil banjir dan IMB induk tiap unit rumah. Tipe Dasar Perumahan Tabel 1 Tipe Dasar Perumahan . Sarana Dan Prasarana Lingkungan Perumahan Jalan perumahan tersebut menggunakan paving, sedangkan untuk lebar jalan 9,75 meter ditambah dengan jaringan drainase disamping kanan dan kiri dengan lebar 1 meter. Jaringan Air Bersih Pemenuhan kebutuhan akan air bersih dalam kawasan perumahan tersebut dengan menyediakan sumber air dari PDAM. Jaringan Air Limbah dalam perumahan ini telah disediakan septiktank dan sumur resapan yang bertujuan supaya kawasan perumahan lebih nyaman serta lingkungan tidak tercemar oleh limbah. Tempat Peribadatan dalam perumahan ini akan dibangun sebuah Musholla dengan luas 150m2. Dalam memperhitungkan luasan Musholla dapat dilihat dari jumlah penduduk yaitu dengan hasil analisis sebanyak 269 jiwa, maka luasan Musholla telah memenuhi standar. Jaringan Drainase dalam kawasan ini terdapat dua detail drainase yang digunakan yaitu menggunakan buis beton dengan diameter 60cm dan beton cetak dengan ukuran 100 x 100 cm. Jaringan Persampahan pada kawasan perumahan ini dilengkapi dengan bak sampah pada setiap unit rumah yaitu berjumlah 75 unit bak sampah yang berada didepan rumah, dengan adanya bak sampah ini maka setiap rumah tangga dapat menjaga kebersihan dari sampah organik maupun anorganik sehingga kawasan Jurnal Rekayasa Tenik Sipil Universitas Madura Vol. 3 No. 2 Desember 2018 ISSN 2527-5542 perumahan tetap terjaga kebersihannya. Jaringan Listrik pada kawasan perumahan mendapatkan daya listrik dari PLN, untuk besaran dayanya dibagi menjadi dua jenis, untuk jenis pertama bagi perumahan tipe tidak bertingkat . ipe 45, tipe 52, tipe 56 dan tipe . yaitu dengan daya listrik sebesar 1300 VA sedangkan untuk jenis kedua bagi perumahan yang tipe bertingkat ( tipe 89, tipe 104, dan tipe 130 ) dengan daya listrik sebesar 2200 VA. Supriadi. Qomariyah. , dan Muttaqin. AY. Perencanaan Site Plan dan Studi Kelayakan Investasi pada Perumahan Pondok Permata Hijau Desa Wirun Kecamatan Mojolaban. Ejurnal MATRIKS Teknik Sipil/Juni 2013/118. matrik sipil. id, diakses 29 Januari 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun Perumahan Dan Kawasan Pemukiman. KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini Analisis kelayakan Site Plan berdasarkan SNI-03-17332004 adalah: Persyaratan dasar perumahan tersebut telah memenuhi standar yang berlaku Tipe dasar perumahan ini telah memenuhi standar akan pasokan udara untuk penduduk disetiap unit Ruang Terbuka Hijau (RTH) telah menenuhi standar yaitu perbandingan antara luas terbangun dan terbuka adalah 66,79% : 33,21% Sarana prasarana di perumahan telah memenuhi standar yang meliputi: jaringan jalan, air bersih, air limbah, tempat peribadatan, jaringan drainase, jaringan persampahan dan jaringan listrik. DAFTAR PUSTAKA Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press. Febrian. , dan Sibi. Studi Kelayakan Proyek Pembangunan Perumahan Bethsaida Bitung oleh PT. Cakrawala Indah Mandiri Dengan Kriteria Investasi. Jurnal Sipil Statik. Vo. 5 No. 7 September 2017, . ISSN: //ejournal. id, diakses 29 Januari 2. KEPMEN No. 468 Tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesbilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Messah. Pah. , dan Putri. Studi Kelayakan Finansial Investasi Perumahan UME Malinan Permai Kabupaten Kupang. Jurnal Teknik Sipil Vo. IV. No. 2 September 2015. id, diakses 29 Januari 2. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 93/PMK. 011/2014 tentang Sasaran Inflasi Tahun 2016. Tahun 2017 dan Tahun 2018 Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor : 34/PERMEN/M/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana. Sarana.