P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 22 Nomor 2. Desember 2018 p 63 - 69 Ekspresi Emosi Dalam Seni Patung I Wayan Endra Kurniawan1,Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun2. I Wayan Suardana3 1,2,3 Program Studi Penciptaan Dan Pengkajian Seni Progam Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar endrakurniawan916@gmail. Penciptaan ini dilatarbelakangi ketertarikan pencipta terhadap ekspresi emosi. Emosi dapat dilihat melalui ekspresi yang muncul pada wajah manusia. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Ketertarikan ini muncul karena di masyarakat muncul anggapan bahwa emosi semata-mata merupakan perasaan marah, padahal emosi tidak hanya tentang perasaan marah atau hal-hal yang negatif. Emosi dapat juga berupa hal yang positif. Pada tulisan ini dirumuskan dua masalah yakni, bagaimana memvisualisasikan ekspresi emosi ke dalam penciptaan karya seni patung?dan Bagaimana bentuk/ wujud karya pada penciptaan karya seni patung ekspresi emosi ini? Tujuan dari penciptaan ini yaitu memvisualisasikan ekspresi emosi ke dalam karya seni patung untuk dapat menyampaikan pesan dan menyadarkan masyarakat bahwa emosi bukan hanya tentang rasa marah melalui karya seni patung. Sasaran dari seluruh penikmat seni khususnya karya seni patung serta masyarakat awam. Pada penciptaan ini melalui tiga tahapan yakni eksplorasi, eksperimentasi/ perancangan dan proses pembentukan. Adapun teori yang digunakan pada penciptaan ini meliputi teori estetika, semiotika, dan kreativitas. Hasil Cipta pada penciptaan ini terdiri dari enam karya berupa patung berbahan logam yang dibuat dengan teknik assembling disertai dengan teknik las dan solder. Selain logam, bahan tembaga juga digunakan untuk menambah nilai estetis pada karya. Objek-objek yang ditampilkan merupakan figur-figur wajah manusia dengan berbagai ekspresi emosi yang biasa muncul dalam kehidupan manusia. Figur-figur dan ekspresi emosi tersebut merupakan hasil pengamatan dan lihatan pribadi pencipta terhadap kehidupan manusia di sekitar. Selain itu banyak pesan yang terkandung di dalamnya untuk dapat membuat masyarakat awam mulai menyadari tentang lingkup emosi yang tidak hanya berkisar pada rasa marah saja. Kata kunci: emosi, ekspresi, teknik assembling This creation is motivated by the creatorAos interest in emotional expression. Emotions can be seen through expressions that appear on human faces. Emotions are reactions to stimuli from the outside and from within the individual. This interest arises because in society there is an assumption that emotions are merely feelings of anger, whereas emotions are not only about feelings of anger or negative things. Emotions can also be positive. In this paper two problems are formulated, namely, how to visualize emotional expression into the creation of sculpture? and What is the form of work on the creation of this sculpture of emotional expression? The purpose of this creation is to visualize emotional expressions into sculpture to be able to convey messages and make people aware that emotions are not just about anger through sculpture. The target of all art connoisseurs, especially sculptures and ordinary people. In this creation, there are three stages, namely exploration, experimentation / design and formation process. The theories used in this creation include aesthetic theory, semiotics, and creativity. The results of the copywriting on this creation consisted of six works in the form of metal sculptures made with assembling techniques accompanied by welding and soldering techniques. Besides metal, copper material is also used to add aesthetic value to the work. The objects displayed are human face figures with various emotional expressions that usually appear in human life. These emotional figures and expressions are the result of observations and personal views of the creator of human life around. In addition, many messages contained in it can make ordinary people begin to realize about the scope of emotion that does not only revolve around anger. Keywords: emotion, expression, assembling technique Proses review : 2 - 30 september 2018, dinyatakan lolos 1 oktober 2018 I Wayan Endra Kurniawan (Ekspresi Emosi. PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan berbagai aktivitas mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok, memenuhi kewajiban terhadap komunitas dimana manusia melaksanakan kehidupan Dalam melangsungkan kehidupan, manusia dihadapkan dengan banyak tantangan. Aktivitas kehidupan manusia sehari-hari umunya disertai dengan perasaan-perasaan senang atau tidak senang, perasaan-perasaan yang seperti itu disebut Emosi yaitu keadaan yang tergerak dalam diri individu yang menyimpang dari keadaan yang normal dan tenang (Khairani. Emosi yang muncul pada individu dapat disebabkan oleh berbagai macam mulai dari hal yang sepele ataupun hal yang sangat serius. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu, senang maupun sedih. sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah . atau menyingkir . terhadap Proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun faktor fisiologis. Pada kenyataannya emosi itu tidaklah hanya berupa marah, emosi juga bisa dalam hal kebaikan. Emosi ada dua macam yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif . mosi yang menyenangka. , yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya. Emosi negatif . mosi yang tidak menyenangka. , yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya. Berdasarkn fenomena diatas pencipta terinpirasi untuk mengangkat ekspresi emosi pada diri manusia dalam penciptaan seni patung. Dari segala ekspresi emosi, segala perasaan yang ada pada hati manusia tentunya lebih cendrung terekspresikan pada Pemilihan ekspresi emosi sebagai sumber majinasi dalam penciptaan seni patung karena beberapa alasan yaitu ekspresi pada saat manusia emosi banyak memiliki karakter keunikan bentuk yang sangat estetis. Selain itu juga masyarakat masih banyak yang belum tahu bahwa emosional yang tidak terkendalikan dapat merugikan dirisendiri maupun orang lain. Namun sebaliknya, dengan perasaanperasaan dan emosi luhur dan terkendalikan, terarah, dapat melahirkan karya-karya besar, misalnya seiman lukis yang besar, maestro lukis maestro patung dan lain sebagainya (Fudyartanta,2011:. Penciptaan dilakukan dengan memvisualka bentuk karakter ekspresi emosi manusia kedalam karya seni Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 Perwujudan karya seni yang diciptakan adalah karya seni patung media logam dengan gaya impresionis. Dalam penciptaan berbagai karakter akan diwujudkan kebentuk karya patung seperti sedih, senang, kesal, marah dan lain sebagainya. Teknik yang akan digunakan dalam penciptaan karya seni patung yaitu teknik assembling yaitu teknik untuk membuat patung tiga dimensionaldengan cara merangkai beberapa mediahingga menjadi satu kesatuan karya patung yang utuh (Sugiharto, 2013:. Media yang digunakan adalah bahan logam karena bahan ini lebih kuat dari pada bahan yang lain, selain itu menggunakan bahan logam bisa memberikan nilai estetik yang lebih pada karya. PROSES Dalam proses penciptaan karya seni patung pencipta mengolah kejadian estetis atau pengalaman estetis yang berupa ekspresi-ekspresi emosi dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat yang kemudian divisualkan kedalam karya seni patung ekspresi emosi dengan metode atau tahapan penciptaan agar karya yang tercipta tetap memiliki alur yang jelas. Metode yang digunakan dalam menghasilkan karya ekspresi emosi dalam seni patung ini adalah metode dari Alma Hawkins yang di tulis dalam buku Suedarsono. Metode tersebut adalah eksplorasi yang merupakan pencarian ide, konsep dan landasan penciptaan, perancangan merupakan rancangan sketsa karya, menentukan sketsa terpilih, membuat maket, menentukan bahan dan teknik yang digunakan, dan yang ketiga perwujudan merupakan tahapan pembuatan karya jadi mulai dari pembuatan rangka hingga proses finishing. HASIL Karya-karya yang ditampilkan dalam penciptaan ini merupakan sebuah bahasa atau pesan yang ingin disampaikan oleh pencipta melalui bentuk visual yang dapat dinikmati secara tekstual dari visualisasi estetis dan artistik, serta secara kontekstual melalui pesan yang terkandung di dalam karya-karya patung ekspresi emosi dalam penciptaan ini. Pencipta berharap dapat memberikan cara pandang baru terhadap pemahaman tentang emosi. Pada umumnya bagi sebagian besar kaum awam emosi merupakan gambaran terhadap ekspresi marah atau identik dengan hal yang negatif, padahal sesungguhnya emosi tidak hanya tentang rasa marah, emosi juga dapat berupa hal yang positif. Ide penciptaan karya patung ini muncul dari lihatan pribadi pencipta terhadap kehidupan manusia yang beranjak remaja. Kehidupan remaja yang menggebu-gebu dan penuh dengan gairah ser- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Karya 1 Judul Karya : Bergairah Ukuran : 150 cm x 120 cm x 70 cm . ariable dimensio. Media : Galvanis Tahun : 2018 Karya 2 Judul Karya Ukuran Media Tahun ingkali membuat kita terheran-heran. Semua hal yang mereka lakukan biasanya tidak pernah mampu kita duga sebab mereka cenderung melakukan apa saja yang ada di pikirannya tanpa berpikir untuk mengemasnya . Remaja yang sedang dalam masa peralihan antara anak-anak menuju dewasa sering membuat mereka memiliki ego dan luapan gairah yang tak dapat dibendung. Luapan emosi ini dapat diibaratkan seperti dua sisi mata pisau. atau bisa disebut terlalu blak-blakan atau vulgar. Seringkali pula remaja hanya menelan mentah-mentah informasi apapun yang mereka terima. Luapan ego dan gairah tersebut membuat emosi mereka sering naik turun sehingga mereka menjadi labil . idak dalam kondisi stabi. Kelabilan itu pula yang membuat mereka seringkali menjadi lupa diri sehingga dapat terjerumus pada hal-hal yang tidak Namun ada kalanya juga, ketika dihadapkan pada penanganan yang tepat justru gairah menggebu ini dapat membawa mereka pada hal yang menguntungkan seperti misalnya sebuah prestasi. Gairah seperti inilah yang sesungguhnya perlu kita jaga sebagai orang yang dewasa dengan keadaan sudah mampu mengontrol diri, sehingga dapat menjadi insan yang menyalurkan gairah secara tepat guna. Pada karya patung ini ditampilkan bentuk figur wanita dan pria yang sedang bercumbu dalam balutan kain yang berlekuk-lekuk . raperi kai. Kesan yang ditegaskan pada karya ini adalah kesan sensual dan menggebu-gebu. Bentuk atau tampilan draperi kain yang dibuat runcing dan tajam tersebut merupakan visualisasi dari gairah remaja yang menggebu-gebu. Pose saling tarik dan menumpu yang ditampilkan menunjukkan karakter labil pada remaja yang sangat bergantung pada lingkungan atau pergaulan yang ada di sekitar mereka. Selain itu tampak juga tubuh telanjang yang diekspos sebagi perwujudan dari karakteristik para remaja yang seringkali dalam pemikirannya tidak pernah mengemasnya dengan baik : Murung yang Terselubung :150 cm x 100 cm x 70 cm . ariable : Tembaga dan Kuningan : 2018 Ekspresi wajah yang dibuat menutup mata atau terpejam tersebut merupakan visualisasi dari karakteristik remaja yang seringkali lupa diri ketika sudah dikuasai oleh gairahnya sendiri. Ketika sudah lupa diri tentunya mereka akan menutup mata atau tidak peduli pada apapun yang ada di sekitarnya sehingga tidak dapat memandang suatu hal dengan pikiran yang jernih layaknya insan yang telah dewasa. Hal inilah yang perlu menjadi renungan kita semua yaitu gairah layaknya remaja perlu dimiliki namun dengan kemampuan kontrol yang stabil yang cenderung dimiliki oleh kita yang telah dewasa. Ide pada karya ini merupakan sebuah lihatan pribadi dari pencipta terkait dengan fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat masa kini. Berkembangnya persaingan ketat dalam kehidupan sosial dan ekonomi membuat rentannya kemunculan karakter individualisme pada diri seseorang. Individualisme yang muncul akibat ketakutan akan kekalahan dalam sebuah persaingan justru seringkali malah melahirkan tingkat stress yang tinggi dalam diri seseorang. Keadaan tertekan, ketakutan, dan stress pada diri seseorang cenderung akan menimbulkan perasaan murung dan sedih. Pada persaingan yang ketat, seseorang akan sangat berusaha untuk sebisa mungkin menyembunyikan segala kekurangan atau kelemahan yang dimiliki. Bagi sebagian besar kalangan masyarakat, keadaan stress dan murung dianggap sebagai sebuah kelemahan atau hal yang dapat menjatuhkan kepercayaan diri seseorang. Berdasarkan fenomena tersebutlah pencipta seringkali melihat keadaan sekitar termasuk dalam kelu- I Wayan Endra Kurniawan (Ekspresi Emosi. Karya 3 Judul Karya Ukuran Media Tahun : Pasrah Tanpa Arah : 100 cm x 80 cmnx 70 cm . ariable : Tembaga dan Kuningan : 2018 arga pencipta sendiri, suatu keadaan saat seseorang yang ketakutan untuk menunjukkan kesedihan atau kemurungan yang dialaminya. Selain itu individualisme yang muncul dalam diri seseorang juga membuat egonya untuk menyimpan semua kepedihannya Keadaan-keadaan itu menimbulkan banyaknya individu yang di luarnya terlihat sangat sukses seperti berada di puncak yang tinggi namun sesungguhnya justru sedang merasa tertekan dan murung dalam dirinya. Figur pria dalam karya ini tampak seorang diri dengan kepala tertunduk lesu dan terbalut selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sosok yang tengah duduk sendiri ini merupakan visualisasi dari keadaan individualisme yang menguasai diri seseorang. Kepala tertunduk pada figur patung tersebut menggambarkan perasaan tertekan, stress dan ekspresi kemurungan yang dimiliki oleh orang tersebut. Sementara itu kain yang menutupi seluruh bagian tubuh figur pada karya patung tersebut merupakan gambaran akan kemurungan yang ditutup-tutupi. Bentuk batu bata yang bertumpuk tinggi tempat figur patung berpijak merupakan visualisasi dari keadaan luar seseorang yang tampak sukses atau berada di puncak kesuksesan namun sesungguhnya sedang menutupi suatu kemurungan atau kelemahannya. Gagasan yang menjadi ide pokok pada karya ini merupakan hasil pengamatan pencipta terhadap sebagian besar kaum menengah ke bawah yang semakin digilas oleh ketatnya persaingan dalam kesejahteraan hidup. Kaum yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin di era persaingan bebas ini Perasaan tersisih dan tersingkirkan ini membuat mereka kaum tersisih dan terbelakang akan semakin menutup diri terhadap derasnya kemajuan zaman. Perasaan pasrah membuat mereka semakin tak memiliki tujuan hidup, semakin kehilangan arah Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 Karya 4 Judul Karya Ukuran Media Tahun : Kesal pada Impian : 120 cm x 100 cm x 70 cm . ariable : Tembaga dan Kuningan : 2018 hingga akhirnya menutup diri dari cepatnya pergerakan waktu. Ketika itulah pula mereka hanya diam tak berkutik hingga menjadi stagnan. Nyaman dengan pergerakan yang mati dan kehidupan yang terselubung dalam tirai kemiskinan dan ketidakmapuan sampai akhirnya berada di antara pilihan untuk bertahan hidup menderita atau memilihi untuk mati lebih cepat. Pada karya ini ditampilkan figur seseorang sedang duduk berpangku tangan sedang menatap kosong ke depan dengan ekspresi pasrah. Hal ini dengan jelas menggambarkan tentang perasaan pasrah yang cenderung dimiliki kaum yang tersisihkan ketika sudah tidak ada lagi niatan untuk melawan atau bergabung dalam roda persaingan dan cepatnya laju Pose berpangku tangan tersebut juga menegaskan pada ketidakberdayaan kaum menengah ke bawah yang semakin disisihkan oleh kerasnya persaingan hidup. Selimut yang menutupi seluruh tubuh dari figur pada karya patung ini merupakan sebuah visualisasi dari sifat tertutup dari akum tersisihkan ini. Selimut yang menutupi ini juga mempertegas makna tentang keadaan sebagian besar kaum miskin yang cenderung untuk bersembunyi di tengah ketidakmampuannya untuk bersaing dan ikut bergerak memperbaiki kehidupan karena sudah pasrah dan meyakini bahwa dirinya sudah tidak mampu ikut ke dalam roda-roda persaingan yang semakin menggilas. Pada penciptaan karya ini ide yang ditampilkan bersumber dari pengalaman pribadi pencipta terkait dengan impian-impian dan cita-cita yang dimiliki oleh pencipta namun tidak bisa digapai. Tentunya hal ini tidak hanya terjadi pada pencipta saja. Ketika impian-impian yang melambung tinggi hingga bermunculan cabang-cabang dari impian yang semakin bertumbuh tidak beraturan, seringkali membuat kita kebingungan. Bingung tentang cara meraih im- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 Karya 5 Judul Karya Ukuran Media Tahun : Tercengang dalam Ketidakstabilan :100 cm x 80 cm x 40 cm . ariable : Tembaga dan Kuningan : 2018 pian-impian tersebut dengan keterbatasan kemampuan yang kita miliki akan membuat kita goyah dan tak dapat berpijak pada prinsip-prinsip hidup yang pernah kita miliki. Keterbatasan kemampuan akan menjadi sebuah tikaman sehingga membuat kita kadang kesal lalu menyesal pernah memiliki mimpi. Hal itulah yang membuat pencipta ingin menuangkannya pada sebuah karya seni patung. Ekspresi kesal akan impian yang terlalu tinggi ingin pencipta sampaikan selain sebagai titik untuk mengenang pengalaman juga untuk menyadarkan diri dan penikmat karya seni bahwa meskipun kesal pada impian yang tak tercapai namun menyesali sebuah mimpi adalah hal yang tidak benar. Karena mimpi yang tidak tercapai bisa saja membawa kita pada mimpi-mimpi yang lainnya. Pada karya patung ini ditampilkan objek kepala yang sedang mendongak ke atas dengan mata terpejam dan ekspresi kesal yang muncul dari raut wajahnya. Hal tersebut dengan jelas menggambarkan tentang Ekspresi kekesalan pada raut wajah itu memvisualisasikan pengalaman probadi pencipta tentang kekesalan terhadap impian-impian yang tidak terwujud. Pose kepala mendongak tersebut dibuat untuk mempertegas kekesalan yang dimaksud. Garis-garis tidak beraturan yang berbentuk cipratan dan menukik ke atas tersebut merupakan visualisasi dari impian-impian atau cita-cita yang terus tumbuh semakin tinggi seiring berjalannya waktu dan usia yang dilewati seseorang. Sementara itu pada bagian tumpuan patung menggunakan elemen garis spiral yang membuat objek utama patung seperti bertumpu pada garis yang tidak kokoh. Hal tersebut merupakan visualisasi dari kegoyahan yang yang dimiliki ketika kita dihadapkan pada kebingungan akan kondisi tidak tercapainya mimpi. Kebingungan yang berputar pada satu garis yaitu rasa menyesal sebagian orang karena telah berani bermimpi meski dengan keter- PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Karya 6 Judul Karya Ukuran Media Tahun : Lega : 100 cm x 100 cm x 15 cm . ariable : Kuningan : 2018 batasan kemampuan yang dimiliki. Namun lewat karya ini juga pencipta ingin membuat penikmat seni lainnya sadar bahwa elemen garis yang berupa cipratan sebagai perwujudan dari mimpi-mimpi yang bercabang merupakan sebuah gambaran bahwa lewat suatu mimpi yang gagal terwujud akan melahirkan mimpi-mimpi baru lainnya, sehingga menyesali mimpi yang pernah kita bangun bukanlah hal yang benar sebab sebuah mimpi akan membawa kita pada mimpi-mimpi lainnya yang menunggu untuk kita wujudkan. Ide pada karya ini bersumber dari pengamatan pencipta terhadap perkembangan kebudayaan yang muncul di Indonesia. Budaya sebagai hasil daya cipta manusia yang kemudian tumbuh berkembang dalam kehidupan manusia, terkadang menjadi tidak Hal ini terkait juga perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga mempengaruhi dengan munculnya kebudayaan-kebudayaan baru di masyarakat. Di era perkembangan informasi yang semakin bebas ini segala sesuatu yang muncul dari daya cipta manusia akan menyebar dengan cepat dan melekat di pikiran serta tingkah laku manusia. Berbeda pada era-era sebelumnya saat sebuah hasil daya cipta manusia memerlukan waktu dan pembuktian yang cukup lama untuk kemudian dapat diterima oleh masyarakat banyak. Pada era sekarang ketika perkembangan teknologi dan penyebaran informasi yang amat sangat cepat hanya dalam hitungan detik saja, berkembanglah kebudayaan populer. Hal-hal tersebut seringkali membuat kita tercengang dan tak pernah bisa menduga apa yang membuat hal yang tiba-tiba populer tersebut bisa menjadi populer padahal jika ini di era sebelumnya hal tersebut justru dianggap hal yang sangat tidak pantas. Masyarakat seringkali tercengang dan tidak tahu dalam menghadapi situasi perkembangan kebudayaan yang sangat tidak stabil zaman ini. I Wayan Endra Kurniawan (Ekspresi Emosi. Pada karya patung ini ditampilkan impresi wajah manusia dengan ekspresi kaget atau tercengang. Hal ini merupakan visualisasi dari kecenderungan masyarakat yang seringkali merasa tercengang dan terkejut pada kemunculan-kemunculan budaya-budaya baru yang cepat sekali menyebar di masyarakat untuk kemudian menjadi populer dan secara latah oleh masyarakat awam. Bentuk-bentuk kebudayaan terdahulu yang bersifat luhur dan telah mengalami proses yang panjang sehingga menjadi sebuah budaya sebagai perwujudan hasil daya cipta manusia justru tergerus dengan kondisi ketidakstabilan budaya masa kini. Fenomena tersebut divisualisasikan melalui bentuk garis tidak beraturan yang bersifat meruncing dan menggunakan komposisi asimetris untuk mempertegas kesan ketidakstabbilan. Ide pada karya ini bersumber dari lihatan pribadi pencipta yaitu berupa perasaan lega yang muncul ketika semua rencana-rencana yang dirancang dapat dilaksanakan secara baik. Ekspresi kelegaan yang paling hakiki adalah ketika semua rencana dan impian-impian dapat terealisasi sesuai keinginan. Hal tersebutlah yang membuat pencipta ingin berbagi pada penikmat seni lainnya bahwa bukan menjadi kaya atau sekedar menjadi terkenal saja yang dapat membuat kita bahagia. Justru secara sederhana yang dapat membuat kita lega dan bahagia adalah ketika segala apa yang kita rencanakan dapat terealisasi entah itu hal yang besar ataupun kecil. Pada karya ini ditampilkan objek wajah manusia yang terpejam dengan senyum yang damai sebagai wujud dari ekspresi kelegaan yang muncul dari dalam dirinya. Pada raut wajah tersebut juga dibuat mulus tanpa kerutan sebagai sebuah tanda bahwa kelegaan sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi yang membuat kita khawatir atau merasa ada yang mengganjal. Pada bagian sekeliling objek kepala yang juga berfungsi sebagai latar belakang dari objek utama berupa permainan garis yang dibuat teratur dan menimbulkan kesan tenang lewat bentuk seperti tetesan air menegaskan bahwa kelegaan muncul dari sebuah keteraturan. Keteraturan tersebut bersumber dari terwujudnya rencana-rencana sesuai jalan yang kita impikan. SIMPULAN Dari hasil karya-karya yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa karya seni patung penciptaan dengan tema ekspresi emosi, diwujudkan dengan dua aspek yaitu: aspek ideoplastis dan aspek fisikoplastis. Ekspresi emosi itu sendiri ada berbagai macam tidak hanya identik dengan hal yang negatif namun Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 ekspresi emosi juga berupa hal yang positif Dengan mengambil tema ekspresi emosi dapat menambah wawasan kepada masyarakat bahwa emosi tidak melulu perihal amarah yang tak terkendali atau hal yang negatif, namun emosi memiliki cakupan yang luas serta segala gerak-gerik emosi manusia yang timbul pada ekspresi wajah manusia memiliki unsur estetis yang sangat layak untuk dinikmati. Dalam penciptaan seni patung selalu dilandasi dengan latar belakang kehidupan sehari hari, aktivitas kehidupan manusia sehari-hari umunya disertai dengan perasaan-perasaan senang atau tidak senang, perasaan-perasaan seperti itulah yang disebut dengan emosi. Dalam proses penciptaan karya seni patung pencipta mengolah kejadian estetis atau pengalaman estetis yang berupa ekspresi-ekspresi emosi dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat yang kemudian divisualkan kedalam karya seni patung ekspresi emosi dengan metode atau tahapan penciptaan supaya karya yang tercipta tetap memiliki alur yang jelas serta antara isi dan bentuk memiliki kesatuan yang jelas. Dalam penciptaan seni patung ini, bahan yang digunakan pencipta adalah logam dengan tekhnik merakit dengan cara membentuk lempengan logam menjadi bentuk-bentuk yang dirancang kemudian dilas. Penciptaan patung ini membutuhkan tiga tahapan dalam perwujudan yaitu tahap modelling, tahap cetak kemudian tahap merakit. Dalam perwujudan seni patung Wujud yang digunakan berupa kenyataan yang nampak kongkrit . erati dapat dipersepsi dengan mata atau teling. maupun kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit, yakni yang abstrak, yang hanya bisa dibayangkan seperti suatu yang diceritakan. Dalam penciptaan karya seni patung ini pencipta menggunakan corak impresionis. Dalam perwujudan karya seni patung berbahan logam ada beberapa teknik yang dikenal yaitu teknik pengelasan dengan alat las listrik, pengelasan alat las asetiline dan tehnik ripet. Penciptaan karya seni patung logam, melalui beberapa proses tahapan dan memerlukan waktu serta ketrampilan, sampai terciptanya sebuah karya . Adapun proses kerja yang dilalui pencipta,dimulai dari proses pemotongan bahan besi, stanlis, plat kuningan, plat tembaga dan plat galvanis sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan serta membuatan modeling yaitu tahap pembuatan bentuk utama dengan menggunakan sterofum dan beton. Kemudian tahap mencetak dengan fiberglas, tahap ini yaitu tahap pembuatan cetakan tujuannya untuk mempermudah pembentukan plat tembaga menjadi karya patung. Setelah tahap pem- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 buatan cetakan dilanjutkan dengan tahap merakit yaitu tahap dimana plat logam yang sudah dipotong dan dilunakan dengan api kemudian dirakit didalam cetakan dan dibentuk dengan teknik ketok, dalampenyambungan plat tembaga menggunakan las asetiline dan ripet menggunakan Hand riveter tool. Kemudian yang terahir tahap finishing yaitu tahap memoles, mengantikan atau tahap pembuatan efek. DAFTAR RUJUKAN Bahari. Nooryan. Kritik Seni: Wacana. Apresiasi dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Berger. Arthur Asa. Pengantar Semiotika. Tanda-tanda dalam kebudayaan kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana,2010. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Sahman. Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang: IKIP Semarang Press. Mengenal Dunia Seni Rupa : Tentang Seni. Karya Seni. Aktifitas Kreatif. Apresiasi. Kritik dan Estetika. Semarang : IKIP Press1992. Soedarsono. Metodelogi: Seni Pertunjukan dan eni Rupa. Bandung: MSPI (Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesi. , 2001. Soedarso,Sp. Seni Patung Indonesia. Yogyakarta: Badan Penarbit ISI Yogyakarta, 1992. Setiadi. Imam. Psikologi Positif: Pendekatan Saintifik Menuju Kebahagiaan. Jakarta, 2016. Bowles. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tana. : Jakarta. Erlangga,1991. Sulaiman Salangka. Sains Kimia berdasarkan kurikulum 1994. Poliyama Widya Pustaka. Jakarta. Sugiharto. Bambang. Untuk Apa Seni. Bandung. Boeree. George. General Psychology. Jogjakarta: Prismasophie,2016. Sudira. Made Bambang Oka. Ilmu Seni Teori dan Praktek. Jakarta: Inti Prima,2010. Damanjati. Irma. Psikologi Seni. Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2006. Susanto. Mikke. Diksi Rupa. Kumpulan Istilah & Gerakan Seni Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art House, 2011. Daryanto. Teknik Las. Bandung, 2012. Djelantik. AuEstetika. Sebuah PengantarAy. Yogyakarta : Media Abadi, 1999. Ekman. Paul. Membaca Emosi Orang. Jogjakarta,2003. Fudyartanta,Ki. Psikologi Umum 1 dan 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2011. Hartati. Penentuan tembaga dalam contort geokimia di daerah Bangko, cara graphite furnace AAS. Jurnal Indo Kimia, 2. , 215-220, . Kartika. Dharsono Sony. Pengantar Estetika. Bandung,2004 Kartika. Dharsono Sony. Seni Rupa Modern. Cetakan Pertama. Rekayasa Sayn. Bandung,2017. Terzaghi. Mekanika Tanah dalam Praktek Rekayasa Edisi Kedua Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Sintalstr. Kecerdasan Emosi dan Pengendalian Diri. Jakarta, 2014 https://Istrsins. com/2014/10/,11 Agustus 2018 AlilaPramiyanti dan MaylannyChristin. Makna Simbol Emotikon Dalam Komunitas Kaskus, lmu Komunikasi Telkom University. https://media. media/publications/41631-ID-makna-simbol-emotikon-dalam-komunitas-kaskus. pdf, 13 Agustus Indar Luh Sepdyanuri. Sambungan Paku Keliling. Yogyakarta. https://drive. com/file/d/ 0B26edly7EXHcNlo3bXAwRlhHcDA/view,11Agustus 2014. Khairani. Makmun. Psikologi Umum. Yogyakarta. Marianto. Dwi. Menempa Quanta Mengurangi Seni. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta,