NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" The Director of Photography's Application of Shooting Techniques in the Production of the Feature Video "Bamboo Melody" Guntur Aghni Triguna1*. Encang Saepudin2. Ari Agung Prastowo3 Universitas Padjadjaran. Indonesia Email: guntur21004@gmail. id encang@unpad. id ari. agung@unpad. Article History: Received: Juni 20, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted: Juli 28, 2025. Publish: Juli 30, 2025. Keywords: Angklung. Director of Photography. Cinematography. Cultural Preservation. Feature Video. Abstract: This Final Project report discusses the visual design process by the author as Director of Photography (DoP) in the creation of a feature video entitled "Bamboo Melody: Reviving a Traditional Symphony. " This work aims to highlight the challenges faced in preserving the art of angklung music in the modern era, particularly the low interest of Generation Z in traditional culture. Angklung, which is one of Indonesia's cultural heritages, is experiencing a regeneration crisis, where the successors of this tradition are decreasing. In this context, it is important to convey the meaning and cultural values of angklung to the younger generation in a relevant and engaging way. The method of writing this report uses a descriptive approach that includes three production stages: pre-production, production, and postproduction. Each stage is designed systematically and reflectively to ensure that the intended message is well received by the audience. In the pre-production stage, the author designed a visual concept that aligns with the theme and purpose of the work, namely to depict the meaningful philosophy of the angklung sound. In the production stage, shooting techniques were carefully selected to ensure aesthetics and clear communication in each frame. The results of the application of appropriate shooting techniques are proven to be able to present the philosophical value of angklung aesthetically and communicatively. Through powerful visuals, viewers can experience the depth of meaning behind this traditional musical Furthermore, this work concludes with testimonials from young angklung players and an angklung performance at Saung Angklung Udjo, illustrating concrete efforts to preserve angklung culture. This section emphasizes the importance of youth involvement in cultural regeneration, demonstrating that with a creative approach, the angklung's sound philosophy can be revived and well-received by Generation Z. Therefore, this work not only conveys solutions in the form of discourse but also provides a concrete illustration of cultural preservation through contemporary media that is accessible and understandable to the younger Abstrak Laporan Tugas Akhir ini membahas proses perancangan visual oleh penulis sebagai Director of Photography (DoP) dalam pembuatan video feature berjudul AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy. Karya ini bertujuan untuk menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pelestarian seni musik angklung di era modern, khususnya rendahnya minat generasi Z terhadap budaya tradisional. Angklung, yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia, mengalami krisis regenerasi, di mana penerus tradisi ini semakin sedikit. Dalam konteks ini, penting untuk menyampaikan makna dan nilai budaya angklung kepada generasi muda dengan cara yang relevan dan menarik. Metode penulisan laporan ini menggunakan pendekatan deskriptif yang mencakup tiga tahapan produksi: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Setiap tahapan dirancang dengan sistematis dan reflektif untuk memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Pada Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" tahap pra-produksi, penulis merancang konsep visual yang menyesuaikan dengan tema dan tujuan karya, yakni untuk menggambarkan filosofi suara angklung yang penuh makna. Pada tahap produksi, teknik pengambilan gambar dipilih dengan hati-hati untuk memastikan estetika dan komunikasi yang jelas dalam setiap frame. Hasil dari penerapan teknik pengambilan gambar yang tepat terbukti mampu menghadirkan nilai filosofis angklung secara estetis dan komunikatif. Melalui visual yang kuat, penonton dapat merasakan kedalaman makna di balik alat musik tradisional ini. Selain itu, penyelesaian karya ini juga dilakukan dengan menampilkan testimoni pemain angklung muda dan pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, yang menggambarkan upaya nyata dalam melestarikan budaya angklung. Bagian ini menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam regenerasi budaya, menunjukkan bahwa dengan pendekatan kreatif, filosofi suara angklung dapat dihidupkan kembali dan diterima dengan baik oleh generasi Z. Oleh karena itu, karya ini tidak hanya menyampaikan solusi dalam bentuk wacana, tetapi juga memberikan gambaran konkret tentang pelestarian budaya melalui media masa kini yang dapat diakses dan dipahami oleh generasi muda. Kata Kunci: Angklung. Director of Photography. Sinematografi. Pelestarian Budaya. Video Feature. PENDAHULUAN Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki alat musik tradisional. Salah satu kegunaan alat musik tradisional selain untuk menghibur bisa juga digunakan untuk keperluan upacara Seiring perkembangan zaman, kepedulian pelestarian kebudayaan nasional khususnya alat musik tradisional menjadi sangat minim. Banyak orang yang lebih memilih memainkan alat musik modern dari pada memainkan alat musik tradisional. Sebagai contoh kurangnya pengenalan dan sosialisasi akan budaya Indonesia sendiri dimasyarakat merupakan salah satu faktor penting mengapa minat masyarakat menjadi kurang terhadap alat musik tradisional. Dengan minat yang kurang tersebut hendaknya kita sebagai masyarakat Indonesia harus berinisiatif untuk mulai melestarikan kebudayaan sendiri. Banyak sekali wisatawan luar negeri yang memberikan apresiasi tinggi kebudayaan Indonesia dibandingkan dengan masyarakat Indonesia sendiri. (Miftah, 2. Musik tradisi merupakan sebuah warisan budaya yang memiliki nilai tak ternilai, setara dengan benda cagar budaya seperti monumen atau situs sejarah. Tidak hanya dipahami secara mekanis sebagai alat penghasil bunyi, musik tradisi dan instrumento-nya merupakan entitas budaya yang memuat nilai-nilai peradaban, spiritualitas, estetika, dan berfungsi sebagai media pewarisan budaya bagi komunitas pemiliknya (Dopo, 2. Angklung adalah instrumen musik tradisional yang terbuat dari bambu, dimainkan dengan cara digetarkan atau digoyang, di mana nada yang dihasilkan mencerminkan susunan harmonis dari tabung bambu dengan jumlah nada antara dua hingga empat per instrumen (Hudaepah & Murwaningrum, 2. Seiring perjalanan sejarahnya, angklung bertransformasi dari ekspresi spiritual menjadi kesenian pertunjukan yang lebih sekuler, seperti pada bentuk modern Angklung Padaeng atau Angklung Toel. Namun demikian, nilai-nilai kolektivitas dan simbolisme sosial tetap hidup dan dipertahankan. (Musthofa & Gunawijaya, 2. menegaskan bahwa di Saung Angklung NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 Udjo, angklung diposisikan sebagai Aoinvention of traditionAoAisebuah wujud kreativitas kolektif yang mencerminkan kearifan lokal Sunda, dengan fasilitas edukatif dan pertunjukan yang secara simbolik menghubungkan spiritualitas dan modernitas budaya. Kehadiran angklung dalam panggung global dan pengakuan UNESCO pada 2010 semakin menguatkan legitimasi filosofis instrumen ini sebagai simbol kesinambungan budaya di era kontemporer. Dapat disimpulkan bahwa pelestarian alat musik tradisional, khususnya angklung, menghadapi tantangan serius di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan preferensi budaya generasi muda. Rendahnya ketertarikan generasi Z terhadap seni tradisional menunjukkan urgensi akan pendekatan-pendekatan kreatif dan edukatif yang mampu menjembatani nilai-nilai kultural dengan medium komunikasi yang relevan secara zaman. Dalam konteks ini, karya video feature hadir sebagai salah satu strategi yang efektif untuk mendiseminasikan nilai budaya secara emosional dan visual. Peran Director of Photography (DOP) menjadi sangat penting dalam menghadirkan representasi visual yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat makna, melalui teknik sinematografi yang selaras dengan karakter budaya yang diangkat. Dengan demikian, produksi karya video feature bertema budaya bukan sekadar bentuk ekspresi artistik, melainkan juga menjadi instrumen strategis dalam proses edukasi, pelestarian, dan revitalisasi identitas budaya bangsa. KAJIAN TEORI Video Video dapat dipahami sebagai rangkaian gambar diam yang disusun dan ditayangkan secara berurutan dalam kecepatan tertentu, sehingga menciptakan ilusi gerak. Secara etimologis, istilah "video" berasal dari bahasa Latin yang berarti Ausaya melihatAy. Dalam konteks teknologi, video merupakan bentuk representasi sinyal memvisualisasikan gambar bergerak dalam satuan bingkai . tertentu, menjadikannya sebagai media komunikasi visual yang dinamis dan multidimensional (Valentino & Hardiansyah, 2. Feature Dalam jurnalisme, "feature" merupakan bentuk tulisan non-fiksi yang menggambarkan fakta secara mendalam dengan pendekatan naratif dan human interest. Berbeda dengan berita langsung . traight new. , feature lebih menekankan pada gaya penceritaan, emosi, serta latar belakang suatu peristiwa atau tokoh untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada pembaca. Feature bersifat timeless, artinya tidak harus ditulis sesegera mungkin setelah Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" kejadian terjadi, karena fokusnya bukan hanya pada unsur 5W 1H, melainkan pada makna dan konteks yang lebih luas. Seperti dijelaskan dalam tesis Rahmat Rio Yuherdi . Auberita yang ditampilkan oleh media cenderung lebih berfokus pada keuntungan seberapa besar berita tersebut dapat menarik perhatian khalayak,Ay termasuk dalam bentuk feature yang memiliki potensi menarik emosi dan simpati pembaca lebih mendalam (Yuherdi, 2. Video Feature Video feature merupakan salah satu bentuk karya jurnalistik yang dikemas dalam format audio-visual dan bertujuan menyampaikan informasi secara mendalam melalui pendekatan visual dan naratif yang menarik. Konten jenis ini tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga mengeksplorasi tema tertentu melalui wawancara dan narasi interpretatif. Mauludiah dan Nicholaus . menyebut video feature sebagai bentuk karya video feature berita yang menyajikan topik tertentu dengan memadukan unsur wawancara dan komentar naratif. Berdasarkan pemahaman tersebut, video feature dapat diposisikan sebagai media yang menggabungkan elemen visual dan audio secara harmonis, untuk menyampaikan berita ringan atau isu sosial dalam format yang lebih mudah dipahami oleh khalayak luas. Director Of Photography (DOP) Director of Photography (DoP), atau dalam istilah lain dikenal sebagai sinematografer, merupakan sosok penting dalam produksi karya audiovisual, khususnya dalam menentukan kualitas dan gaya visual suatu karya. Tanggung jawab utama DoP mencakup pengambilan keputusan teknis dan artistik yang berkaitan dengan pemilihan kamera, komposisi gambar, pencahayaan, pergerakan kamera, serta framing, guna menyampaikan emosi, suasana, dan narasi secara efektif kepada penonton. Peran ini tidak sekadar bersifat teknis, melainkan juga kreatif, karena DoP harus mampu menerjemahkan visi sutradara menjadi bahasa visual yang kohesif dan estetis. Dalam produksi video feature yang menampilkan pertunjukan seni seperti kabaret, peran DoP menjadi semakin kompleks karena dituntut menangkap ekspresi dinamis para aktor serta mengelola kondisi pencahayaan panggung yang terus berubah. Oleh karena itu, seorang DoP harus memiliki kepekaan terhadap unsur estetika visual sekaligus ketanggapan terhadap kendala teknis di lapangan. Seperti dijelaskan oleh (Sailan, 2. DoP bertanggung jawab tidak hanya pada tahap pengambilan gambar, tetapi juga dalam pascaproduksi, seperti pemilihan footage, color grading, serta memastikan kesinambungan gaya visual hingga tahap akhir distribusi karya (Sailan, 2. Sinematografi NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 Sinematografi merupakan elemen penting dalam produksi film yang mencerminkan bagaimana visual dalam suatu narasi diatur, dikomposisikan, dan ditransmisikan kepada Secara etimologis, istilah ini berasal dari kata Latin "kinema" yang berarti gambar bergerak, dan dalam praktiknya, sinematografi adalah seni dan teknik menangkap serta menyusun gambar menjadi rangkaian visual yang mampu menyampaikan makna cerita secara Unsur-unsur utama dalam sinematografi meliputi komposisi, tata cahaya, gerak kamera, sudut pandang, serta kontinuitas visual antar adegan. Penerapan teknik sinematografi yang tepat akan menciptakan suasana yang mendalam dan mendukung penghayatan emosional terhadap alur cerita. Sebagaimana dikemukakan oleh (Panjaitan & Hasanah, 2. teknik sinematografi tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga unsur estetika visual seperti framing, rule of thirds, dan pencahayaan yang digunakan untuk menyampaikan kritik sosial dan pesan moral dalam film, sebagaimana diterapkan dalam film Parasite (Panjaitan & Hasanah, 2. Teknik Pengambilan Gambar Teknik pengambilan gambar merupakan aspek fundamental dalam praktik sinematografi yang mencakup metode teknis dan estetis untuk menyusun visualisasi adegan secara efektif. Dalam produksi audio-visual seperti film, videoklip, atau program televisi, pengambilan gambar tidak hanya bertujuan merekam objek, tetapi juga menyampaikan emosi, gagasan, serta narasi yang ingin dihadirkan kepada penonton. Teknik ini melibatkan beberapa unsur penting, di antaranya ukuran gambar . ype sho. , pergerakan kamera . amera movemen. , sudut pengambilan gambar . ngle sho. , dan pergerakan objek dalam frame . bject movemen. Setiap teknik tersebut memiliki fungsi dan motivasi visual tertentu, seperti memberikan kesan dramatis, menonjolkan ekspresi karakter, atau menampilkan latar suasana. Sebagai contoh, penggunaan close up dapat memperkuat ekspresi emosional subjek, sedangkan long shot membantu menggambarkan lingkungan atau konteks naratif. Pergerakan kamera pun turut menunjang dinamika visual, misalnya dolly dan track untuk mengikuti subjek secara halus. Seperti diungkapkan oleh (Semedhi, 2. , teknik sinematografi bertujuan untuk menghasilkan gambar yang mampu "berbicara" kepada penonton, yaitu menyampaikan makna dan pesan melalui kombinasi visual yang terencana dan terstruktur dengan baik (Semedhi, 2. Angklung Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" bahan dasar bambu. Instrumen ini menghasilkan bunyi melalui proses digoyangkan, di mana getaran yang muncul berasal dari tabung-tabung bambu yang saling berbenturan. Setiap angklung tersusun dari dua hingga empat tabung bambu yang disusun dalam satu bingkai, menghasilkan kombinasi nada berbeda berdasarkan ukurannya, baik ukuran kecil maupun Komposisi bunyi tersebut bergantung pada jumlah tabung dalam setiap unit angklung, yang biasanya terdiri dari dua sampai empat nada utama (Kusumawardani & Aulia, 2. Generasi-Z Dan Tantangan Budaya Tradisional Menurut (Dewi, priyanti. Lantari, & Kumala Dewi, 2. meskipun generasi Z berhadapan dengan derasnya arus globalisasi, mereka juga memiliki potensi besar dalam melestarikan budaya tradisional apabila dibekali dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik mereka. Pemanfaatan teknologi digital secara kreatif dapat menjadi medium efektif untuk menyebarluaskan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas. Generasi Z dinilai mampu menjalankan peran sebagai penghubung antara tradisi dan era modern melalui konten visual seperti video, media sosial, dan platform berbagi informasi yang dekat dengan keseharian mereka. Dalam konteks ini, produksi karya video feature yang menyoroti nilai-nilai filosofis dalam angklung dapat menjadi strategi komunikasi budaya yang relevan sekaligus edukatif bagi generasi muda. METODE Ide Penciptaan Fenomena pergeseran selera budaya di kalangan generasi muda menjadi sorotan awal bagi penulis dalam menentukan arah penciptaan karya ini. Dalam kehidupan sosial saat ini, budaya populer global mendominasi preferensi media dan hiburan, meninggalkan tradisi lokal dalam posisi yang semakin terpinggirkan. Penulis melihat kenyataan ini tidak hanya sebagai perubahan tren, tetapi juga sebagai gejala krisis identitas budaya yang perlu segera direspons, khususnya dalam konteks pelestarian seni tradisional. Salah satu bentuk kekayaan budaya yang terancam adalah angklungAialat musik bambu khas Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Meskipun memiliki legitimasi internasional, angklung justru kehilangan relevansi di mata generasi Z. Penulis menyadari bahwa banyak anak muda hanya mengenal angklung sebatas bunyi dan bentuknya saja, tanpa memahami makna filosofis dan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam harmoni permainannya. Kekhawatiran inilah yang menjadi landasan utama NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 dalam penciptaan video feature berjudul Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni yang Tradisional. Bersama tim produksi, penulis merumuskan pendekatan kreatif yang menempatkan suara angklung sebagai simbol filosofi hidup, bukan sekadar alat musik. Pilihan ini dianggap belum banyak dieksplorasi dalam video feature bertema angklung, sehingga memiliki peluang kuat untuk membangun kedekatan emosional dengan penonton. Gagasan ini diperkuat melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan pelaku budaya Sunda, yang membuka cakrawala penulis mengenai makna spiritual, kebersamaan, dan keseimbangan yang tercermin dari praktik kolektif memainkan angklung. Penulis menemukan bahwa suara angklung memuat pesan filosofis yang relevan dengan dinamika sosial masa kiniAitentang harmoni antarindividu, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya keterhubungan antara manusia. Maka dari itu, kemasan visual yang modern dan naratif yang reflektif dipilih agar pesan tersebut dapat dijangkau dan dirasakan oleh audiens digital. Penulis meyakini bahwa video feature ini bukan hanya berfungsi sebagai dokumentasi budaya, melainkan juga sebagai media penyadaran yang mampu menghidupkan kembali semangat terhadap warisan leluhur. Dari sisi produksi, penulis menerapkan pendekatan sinematik kontemporer yang menggabungkan footage, arsip foto, animasi grafis, dan narasi suara. Semua elemen dirangkai untuk membentuk alur visual yang tidak hanya informatif, tetapi juga menggugah emosi. Harapannya, karya ini dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan nilai-nilai tradisi, sekaligus berkontribusi nyata dalam pelestarian seni angklung di era digital. Media Peralatan Dan Teknik Peroduksi Proses penciptaan karya video feature AuMelodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu pra- produksi, produksi, dan pasca-produksi. Setiap tahapan ini dirancang secara sistematis dan terstruktur, dengan mengedepankan tanggung jawab penulis sebagai Director of Photography (DoP), yang memiliki peran sentral dalam menentukan arah visual dari keseluruhan karya. Sebagai DoP, penulis tidak hanya bertugas dalam aspek teknis pengambilan gambar, tetapi juga terlibat secara aktif dalam merumuskan pendekatan visual yang mampu menyampaikan nilai-nilai budaya secara estetis, simbolis, dan komunikatif. Seluruh tahapan kerja dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana elemen visualAiseperti pencahayaan, komposisi, pergerakan kamera, hingga pilihan jenis shotAidapat memperkuat makna dari suara angklung sebagai fokus utama dalam karya ini. Dengan demikian, proses penciptaan ini tidak hanya menekankan pada Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" kualitas teknis, melainkan juga pada relevansi visual yang mampu menjembatani nilai budaya tradisional kepada audiens masa kini, khususnya generasi muda. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Dan Sintesis Karya Tahap Penerapan Teknik Sinematografi Tahap penerapan teknik sinematografi yang dilakukan oleh penulis sebagai DOP bertujuan untuk memvisualisasikan video feature AuMelodi Bambu : Menghidupkan Kembali Simfoni TradisionalAy adalah sebagai berikut: Type Shot Dalam ranah produksi visual, khususnya sinematografi, pemanfaatan beragam tipe pengambilan gambar menjadi instrumen penting dalam menyusun narasi yang efektif secara Setiap jenis shot memiliki peran strategis untuk menyoroti aspek tertentu dari cerita, baik dari sisi karakter, emosi, maupun latar. Sebagaimana dijelaskan oleh (Semedhi, 2. pembedaan tipe shot memfasilitasi penyampaian informasi penting kepada penonton dengan penekanan visual yang tepat. Oleh karena itu, perencanaan dalam pemilihan shot tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan interpretasi makna dalam storytelling visual. Tabel 1 Type Shot long shot Hutan Bambu Type Shot Scene Long Shot Gambar Long Shot adalah teknik framing dalam sinematografi yang menyajikan subjek secara menyeluruh dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Fokus utama dari shot ini bukan pada detail ekspresi individu, melainkan pada ruang visual yang menggambarkan latar atau situasi yang relevan dengan cerita. Menurut (Semedhi, 2. , long shot memungkinkan penonton untuk memahami konteks dan skala lokasi secara menyeluruh, serta menciptakan jarak emosional tertentu antara subjek dan penonton. Teknik ini kerap digunakan dalam pembukaan adegan atau untuk mempertegas nuansa tempat yang menjadi latar peristiwa. Pada gambar 1 di Tabel 1 NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 penulis mengambil gambar tersebut menggunakan jenis Long Shot merupakan yang bertujuan untuk menggambarkan ambience hutan bambu sesuai dengan narasi yang telah ditentukan dan menyesuaikan dengan storyboard yang sudah direncanakan sebelumnya pada tahap proses praproduksi. Pada pengambilan gambar 1 penulis menggunakan lensa dengan jenis 18-200mm f/3. 5, dimana ukuran lensa tersebut dapat berpengaruh pada wide dan landscape. Penulis tidak menggunakan alat pendukung seperti gimbal atau tripod dengan itu pengambilan gambar ini hanya menggunakan satu kamera dan kamera dipegang oleh penulis, hal ini biasa disebut dengan istilah hand held. Tabel 2 Type Shot Medium Shot Type Shot Scene Medium Shot Gambar Medium Shot Dalam praktik sinematografi. Medium Shot digunakan untuk menampilkan subjek secara parsial dari atas kepala hingga bagian pinggang. Teknik ini berguna untuk menangkap ekspresi wajah secara cukup dekat sekaligus memperlihatkan gerakan tangan atau bahasa tubuh lainnya, yang sering kali menjadi penunjang komunikasi visual. Menurut (Semedhi, 2. Medium Shot menjadi titik tengah yang memisahkan antara shot close-up yang menekankan ekspresi wajah, dan long shot yang lebih menonjolkan latar atau ruang sekitar. Dengan demikian. Medium Shot memberikan keseimbangan antara fokus pada karakter dan konteks visual sekitarnya, serta sangat efektif digunakan dalam adegan percakapan atau interaksi sosial. Penulis menerapkan jenis medium shot pada pengambilan gambar karena ingin menyampaikan dan memvisualisasikan kepada penonton untuk lebih terfokus pada satu objek dan subjek saja, sehingga ekspresi akan terlihat jelas seperti pergerakan tangan. Penulis juga ingin memperlihatkan dan menunjukan siapa yang sedang melakukan proses menjelaskan mengenai Penulis mengambil gambar dengan menggunakan lensa 24mm f/1. 8 hal tersebut berpengaruh pada segi fokus yang tajam sehingga penonton dapat mudah untuk memahami dan tidak terdistraksi oleh hal lain yang terdapat pada frame. Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Tabel 3 Type Shot Close Up Type Shot Scene Close Up Gambar Close Up Dalam sinematografi, penggunaan teknik close up digunakan untuk menampilkan objek secara rinci dari atas jarak dekat. Fokus utama dari shot ini adalah menangkap detail dari objek, sehingga mampu menciptakan keterlibatan penjelasan yang kuat antara objek yang sedang dijelaskan dengan penonton. (Semedhi, 2. menjelaskan bahwa close up tidak hanya mengungkap detail sebuah objek benda, tetapi juga memperlihatkan gerakan halus seperti rambut pada seseorang, yang memperkaya dimensi visual. Oleh karena itu, teknik ini sangat efektif dalam adegan-adegan yang membutuhkan penekanan detail terhadap suatu objek. Pada gambar 3 di tabel close up merupakan contoh pengambilan gambar yang menerapkan teknik type shot jenis close up. Penulis menerapkan pengambilan gambar dengan jenis close up pada gambar agar bisa dengan jelas memvisualisasikan gambar bambu yang basah karena bekas air Tabel 4. Type Shot Extreme Close Up Type Shot Scene Gambar NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 Extreme Close Extreme Close Up Teknik pengambilan gambar Extreme Close Up digunakan penulis untuk menampilkan detail objek secara ekstrem guna membangun kesan visual yang kuat serta menciptakan kedekatan emosional terhadap aktivitas yang direkam. Dalam konteks produksi Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, penulis menerapkan teknik ini pada adegan proses pemotongan bambu oleh pengrajin. Kamera difokuskan secara ketat pada gerakan tangan dan gergaji saat menyayat bambu, sehingga detail tekstur, serpihan kayu, dan tekanan gerakan tangan dapat terlihat jelas di dalam bingkai. Penggunaan Extreme Close Up pada adegan ini bertujuan untuk menekankan aspek kerja manual yang presisi, sekaligus memberikan pengalaman visual yang intim kepada penonton terhadap proses awal pembuatan angklung. Teknik ini juga berfungsi sebagai simbol dari nilai ketekunan dan keterampilan yang menjadi bagian penting dari warisan budaya yang ingin disampaikan. Penulis secara teknis menjaga kestabilan gambar dengan tripod serta menyesuaikan pencahayaan untuk memperjelas fokus pada bidang kerja, tanpa mengganggu suasana natural dari proses produksi bambu tersebut. Extreme Close Up terdapat pada scene: Tabel 5 Type Shot Medium Close Up Type Shot Scene Gambar Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Medium Close Medium Close Up Dalam proses produksi video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, penulis menerapkan teknik pengambilan gambar medium close up sebagai upaya menampilkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh bagian atas secara proporsional. Salah satu contoh penerapannya terdapat pada adegan saat seorang pengrajin sedang mengoperasikan bor duduk untuk melubangi bambu. Framing dalam medium close up ini dirancang untuk menampilkan bagian tubuh dari atas kepala hingga dada, sehingga memungkinkan audiens menangkap detail aktivitas tangan pengrajin, mimik wajah, serta konsentrasi yang terpancar selama proses pembuatan angklung berlangsung. Teknik ini digunakan untuk membangun kedekatan emosional antara penonton dan subjek, serta memberikan gambaran konkret tentang keterampilan tangan yang terlibat dalam setiap tahapan produksi angklung. Dalam praktik sinematografi, medium close up termasuk dalam jenis framing yang menyeimbangkan antara fokus ekspresi dan konteks gerakan tubuh bagian atas. Menurut (Semedhi, 2. AuMedium Close Up menampilkan bagian dari atas rambut hingga dada dari Dengan demikian shot tidak hanya fokus pada ekspresi objek tapi juga dapat melihat pergerakan wajah dan bahu dari objekAy . Kutipan tersebut memperkuat bahwa penggunaan medium close up bukan hanya sebatas menghadirkan wajah secara detail, melainkan juga memberikan ruang visual untuk gestur penting lainnya yang mendukung narasi secara visual. Medium Close Up terdapat pada scene: Camera Angle (Angle Sho. Dalam sinematografi, teknik camera angle memiliki peran penting dalam menentukan sudut pandang visual terhadap subjek, yang secara langsung memengaruhi persepsi emosional penonton terhadap narasi dan karakter yang ditampilkan. Pemilihan sudut pengambilan gambar ini tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga bersifat ideologis dan simbolis. Penulis NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 sebagai DoP bertanggung jawab dalam menentukan jenis angle yang sesuai dengan nilai budaya, ekspresi subjek, serta intensitas pesan yang ingin disampaikan dalam film video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional. Dalam karya ini, penulis mengadopsi beberapa jenis sudut pengambilan gambar, seperti eye level, low angle, hingga tilt up/down, yang dipilih secara kontekstual sesuai dengan kebutuhan adegan dan karakter narasumber. Menurut (Semedhi, 2. , "Camera angle digunakan untuk memberikan kesan dan emosi tertentu terhadap subjek. Dengan perubahan sudut pandang, penonton dapat merasa lebih dekat, terintimidasi, atau netral terhadap objek yang ditampilkan" . Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemilihan angle bukanlah keputusan teknis semata, melainkan sarana visual untuk memperkuat pesan dan membangun hubungan antara subjek dengan audiens. Tabel 6 Angle Shot Eye Level Angle Shot Scene Eye Level Gambar Eye Level Jenis sudut pengambilan gambar eye level merupakan angle yang paling umum digunakan dalam film video feature, di mana kamera ditempatkan sejajar dengan pandangan mata subjek. Teknik ini menghasilkan kesan netral dan seimbang, seolah-olah penonton berada pada posisi yang sama dengan subjek dalam ruang visual. Dalam produksi ini, penulis menggunakan eye level secara konsisten pada sesi wawancara, terutama saat merekam narasumber utama seperti budayawan dari Padepokan Parukuyan. Yon Suparman. Penggunaan angle ini bertujuan untuk membangun relasi horizontal antara subjek dan penonton, agar narasi yang disampaikan terasa jujur, setara, dan personal. Penempatan kamera sejajar dengan mata memungkinkan audiens menangkap ekspresi wajah secara utuh dan merasakan kehadiran subjek tanpa adanya kesan dominasi atau subordinasi. Menurut (Semedhi, 2. "Eye level adalah sudut pengambilan gambar yang dilakukan setinggi mata objek yang direkam. Angle ini memberikan kesan netral dan paling sering digunakan untuk wawancara atau dialog antara karakter dengan penonton" . Penulis Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" mempertimbangkan hal ini saat merancang set pencahayaan dan blocking, agar hasil visual tetap fokus pada ekspresi narasumber serta menghindari gangguan visual lain dalam bingkai. Tabel 7 Angle Shot Low Angle Angle Shot Scene Low Angle Gambar Low Angle Penggunaan teknik low angle dalam produksi Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional diterapkan oleh penulis untuk menciptakan kesan dramatis dan memberikan persepsi visual bahwa subjek dalam bingkai memiliki peran penting, kuat, atau Salah satu adegan yang memanfaatkan angle ini adalah saat menampilkan pemandu pertunjukan angklung yang sedang berdiri menghadap puluhan penonton di Saung Angklung Udjo. Kamera ditempatkan lebih rendah dari posisi subjek dan diarahkan ke atas sehingga sudut pandang visual yang tercipta membuat pemandu tampil lebih menonjol dan memiliki karisma otoritatif dalam mengarahkan penonton. Dari sudut ini, penulis ingin menyampaikan bahwa pemandu pertunjukan tidak hanya menjadi pengarah teknis, tetapi juga representasi dari semangat pelestarian budaya yang mampu menggugah antusiasme audiens lintas usia. Selain itu, dengan memanfaatkan low angle, suasana ruang pertunjukan yang luas dan penuh dengan partisipasi publik juga dapat terbingkai dengan proporsi yang kuat. Menurut (Semedhi, 2. AuLow angle shot digunakan dengan menempatkan kamera di bawah objek, mengarah ke atas, untuk menimbulkan kesan objek tampak lebih besar, kuat, dan mengagumkanAy . Berdasarkan acuan tersebut, penulis memilih untuk memanfaatkan teknik ini dalam adegan yang menampilkan aktivitas kolektif dan kepemimpinan visual dalam konteks budaya, sehingga emosi kolektif dan energi dari pertunjukan angklung dapat tersampaikan secara kuat kepada penonton. Pergerakan Kamera (Camera Movemen. Pergerakan kamera merupakan teknik penting dalam sinematografi yang digunakan NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 untuk menciptakan dinamika visual, memperkuat pesan naratif, serta membangun ritme emosi dalam adegan. Sebagai DoP, penulis menerapkan berbagai bentuk pergerakan kamera untuk memperkaya pengalaman menonton dan menciptakan suasana yang imersif dalam produksi video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional. Teknik ini tidak hanya berfungsi mengikuti subjek, tetapi juga menyampaikan makna dan atmosfer melalui cara kamera bergerak di ruang. Menurut (Semedhi, 2. "Pergerakan kamera merupakan unsur penting yang digunakan untuk memperkenalkan situasi, mengikuti aksi subjek, hingga menciptakan efek dramatis melalui transisi visual yang terarah" . Oleh karena itu, penulis menggunakan kombinasi antara pergerakan statis dan dinamisAi seperti zoom, panning, tilt, track, dan dollyAi dengan mempertimbangkan kebutuhan dramatik dan kesinambungan adegan. Tabel 8 Camera Movement Zoom Camera Movement Zoom Scene Gambar Zoom Penulis menggunakan teknik zoom in dan zoom out untuk memberikan tekanan visual terhadap subjek tertentu tanpa mengubah posisi kamera secara fisik. Salah satu penerapannya terlihat saat proses dokumentasi kerajinan bambu. penulis melakukan zoom in pada alat kerja untuk memberikan penekanan terhadap detail gerakan tangan dan tekstur bambu. Sebaliknya, zoom out digunakan untuk memperluas cakupan visual ketika subjek mulai menjauh dari fokus Dalam jurnalnya, (Semedhi, 2. menjelaskan bahwa "Zoom dilakukan dengan mengubah panjang fokus lensa dari sudut lebar ke sempit atau sebaliknya, guna menciptakan efek mendekati atau menjauh secara halus tanpa memindahkan kamera" . Teknik ini sangat berguna ketika ruang gerak terbatas, namun tetap ingin menjaga kontinuitas visual dalam narasi. Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Tabel 9 Camera Movement Panning Camera Scene Gambar Movement Panning Panning Teknik panning digunakan penulis untuk mengikuti pergerakan horizontal subjek maupun memperkenalkan ruang lokasi secara menyeluruh. Contohnya saat kamera mengikuti pandangan penonton dalam pertunjukan angklung di Saung Udjo kamera digerakkan secara horizontal untuk menunjukkan keterlibatan audiens secara kolektif. Gerakan ini tidak hanya menampilkan ruang, tetapi juga menyampaikan semangat kebersamaan melalui framing yang (Semedhi, 2. menyebutkan bahwa AuPanning dilakukan dengan menggeser kamera secara horizontal pada sumbu tetap, untuk mengikuti arah gerak atau memperkenalkan ruang dalam satu frameAy . Penulis memanfaatkan teknik ini secara halus untuk menjaga kenyamanan visual dan ritme pergerakan subjek. Tabel 10 Camera Movement Tilt Camera Scene Gambar Movement Tilt Tilt Dalam adegan yang memperlihatkan bambu menjulang tinggi di tengah hutan, penulis menerapkan teknik tilt up untuk menunjukkan vertikalitas objek dan simbolisasi hubungan NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 antara manusia dengan alam. Teknik ini juga digunakan saat menunjukkan perubahan ekspresi narasumber dari bawah ke atas dalam transisi wawancara. (Semedhi, 2. menjelaskan bahwa AuTilt adalah gerakan vertikal kamera ke atas atau ke bawah tanpa memindahkan posisi kamera, digunakan untuk memperkuat dimensi vertikal dalam ruang visualAy . Penggunaan tilt menjadi cara penulis mengekspresikan simbolsimbol ketinggian, keagungan, atau pencarian makna yang ada dalam filosofi bambu. Tabel 11 Camera Movement Track Camera Scene Gambar Movement Track Track Track digunakan untuk mengikuti pergerakan horizontal subjek yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Penulis menerapkan teknik ini ketika pengrajin berjalan membawa bambu dari tempat pemotongan menuju area perakitan. Kamera digerakkan searah langkah pengrajin untuk menjaga kontinuitas visual dan menempatkan penonton dalam posisi observatif yang AuTrack dilakukan dengan memindahkan kamera mengikuti pergerakan objek secara Teknik ini berguna untuk mempertahankan fokus dan membangun kedekatan terhadap aksi subjek,Ay jelas (Semedhi, 2. Penulis menggunakan metode ini untuk menampilkan proses kerja sebagai sebuah rangkaian aksi yang mengalir, bukan sekadar potongan gambar statis. Tabel 12 Camera Movement Dolly Camera Movement Scene Gambar Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Dolly Dolly Penulis juga menerapkan teknik dolly in saat mendekati ekspresi narasumber ketika membahas nilai filosofis suara angklung. Gerakan kamera yang secara fisik maju ke arah subjek ini digunakan untuk menciptakan kesan kedekatan emosional dan intensitas narasi. Sementara itu, dolly out digunakan untuk mengakhiri wawancara, menciptakan ruang refleksi bagi Dalam hal ini, (Semedhi, 2. menuliskan bahwa AuDolly adalah pergerakan kamera secara fisik ke depan atau ke belakang untuk mendekati atau menjauhi subjek dengan efek mendalam yang lebih natural dibanding zoomAy. Penulis memilih dolly sebagai cara untuk memberi ruang visual pada perubahan emosi dan dinamika naratif secara perlahan dan lembut Pergerakan Objek (Object Movemen. Pergerakan objek dalam bingkai visual merupakan aspek penting dalam sinematografi yang berperan dalam membangun dinamika visual dan memperkuat alur narasi. Berbeda dengan pergerakan kamera, teknik ini fokus pada bagaimana subjek bergerak di dalam frame, baik secara horizontal, vertikal, mendekati kamera, menjauh, ataupun keluar dan masuk dari Penulis sebagai DoP mengamati dan merancang komposisi visual yang responsif terhadap gerakan subjek, sehingga setiap pergerakan yang terekam tidak hanya estetis tetapi juga mendukung konteks cerita dan makna budaya yang disampaikan. Menurut (Semedhi, 2. "Pergerakan objek dalam bingkai gambar memberikan efek visual yang kuat serta membantu transisi naratif antar adegan. Melalui teknik ini, penonton dapat mengikuti arah fokus dan memahami ruang gerak subjek dalam konteks tertentu" . Berdasarkan kutipan tersebut, penulis mengintegrasikan teknik pergerakan objek dalam berbagai adegan, terutama ketika menggambarkan aktivitas pengrajin dan suasana pertunjukan Tabel 13 Object Movement Gerak Lateral Object Scene Gambar Movement NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 Gerak Lateral Gerak Lateral Gerak lateral merujuk pada pergerakan objek secara horizontal dalam bingkai, baik dari kiri ke kanan maupun sebaliknya. Penulis menerapkan teknik ini saat merekam momen seorang pengrajin berjalan melintasi area kerja membawa bambu dari satu titik ke titik lain. Gerakan ini ditampilkan dalam komposisi semi- statis dengan latar belakang yang tetap, namun objek tetap berada dalam bingkai selama bergerak. Penggunaan teknik ini bertujuan untuk memperlihatkan keberlanjutan aktivitas dan arah alur kerja secara natural, sekaligus menciptakan efek ruang yang nyata. Penulis memilih framing lateral ini karena memberikan kesan keseimbangan dan kontinuitas, terutama dalam memperlihatkan transisi antar aktivitas dalam proses produksi angklung. Sejalan dengan itu, (Semedhi, 2. menjelaskan bahwa "Gerakan lateral digunakan untuk menampilkan gerak horizontal objek dari satu sisi ke sisi lainnya, memberikan informasi arah dan mempertahankan objek tetap dalam bingkai" . Penulis menggunakan teknik ini untuk menjaga konsistensi visual sekaligus menggambarkan realisme dalam lingkungan kerja Tabel 14 Object Movement Follow Shot Object Movement Scene Gambar Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Follow Shot Follow Shot Follow shot adalah teknik di mana kamera secara aktif mengikuti gerakan objek, baik secara horizontal maupun vertikal. Penulis menggunakan teknik ini pada adegan saat narasumber berjalan memasuki area pertunjukan atau saat penonton berpindah tempat menuju panggung Saung Angklung Udjo. Kamera bergerak mengikuti subjek, menjaga subjek tetap berada di pusat frame, sehingga penonton dapat merasakan pengalaman seolah-olah ikut menyertai subjek dalam ruang nyata. Alasan penulis memilih teknik ini adalah untuk menciptakan rasa kehadiran dan kedekatan dengan subjek, memperkuat imersi penonton terhadap dunia dalam film, serta menyampaikan bahwa subjek memiliki peran aktif dalam lingkungan budaya yang sedang Menurut (Semedhi, 2. "Follow shot adalah teknik pengambilan gambar di mana kamera mengikuti pergerakan objek secara konstan, agar objek tetap berada dalam pusat perhatian visual sepanjang adegan berlangsung" . Teknik ini menjadi efektif dalam membangun narasi yang lebih partisipatif dan dinamis, serta sangat cocok digunakan dalam video feature bertema budaya yang menampilkan interaksi langsung antara subjek dan ruang sekitar. Rooming Rooming atau pengaturan ruang dalam bingkai visual merupakan salah satu elemen penting dalam komposisi sinematografi. Rooming berfungsi untuk menciptakan keseimbangan antara objek utama dan ruang kosong yang mengelilinginya, baik di atas kepala . ead roo. , di bawah kaki . oot roo. , di depan arah pandangan . ose roo. , maupun di sekitar arah gerak objek . estination roo. Penempatan ruang ini sangat berpengaruh terhadap kenyamanan visual, keseimbangan proporsi, serta kejelasan arah naratif dari pergerakan atau posisi subjek. Sebagai DoP, penulis mempertimbangkan pengaturan ruang secara seksama pada setiap adegan dalam video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 Tujuannya adalah agar setiap elemen visual memiliki struktur yang proporsional serta tidak mengganggu fokus audiens terhadap subjek utama. Penyesuaian komposisi ini juga penting untuk menjaga harmoni antara ekspresi, gerakan, dan latar visual yang ditampilkan. Menurut (Semedhi, 2. , "Rooming atau pengaturan ruang dalam bingkai gambar menciptakan keseimbangan komposisi serta memberikan ruang gerak atau ruang pandang bagi subjek, agar tidak terkesan terpotong atau sempit dalam visualisasi adegan" . Penulis menerapkan prinsip tersebut dalam berbagai adegan video feature, terutama saat wawancara, pergerakan subjek, dan framing tubuh penuh. Tabel 15 Rooming Head Room Rooming Scene Head Room Gambar Head Room Head room adalah ruang kosong yang ditempatkan di atas kepala subjek dalam sebuah Penulis menerapkan head room secara proporsional dalam adegan wawancara dengan narasumber, khususnya ketika subjek duduk dalam posisi diam. Pemberian head room yang seimbang bertujuan agar visual tidak terasa AupenuhAy di bagian atas frame dan tetap memberi kesan lapang serta formalitas dalam penyampaian pesan naratif. Alasan penulis memilih teknik ini adalah karena head room yang terlalu sempit dapat menimbulkan kesan terpotong, sedangkan ruang yang terlalu besar bisa membuat perhatian penonton teralihkan dari wajah subjek. Oleh karena itu, penulis menyesuaikan tinggi frame kamera dengan posisi duduk narasumber agar ruang kepala tetap harmonis. Sejalan dengan hal itu, (Semedhi, 2. menyatakan bahwa "Head room adalah ruang kosong yang berada di atas kepala subjek, penting untuk menjaga keseimbangan proporsi vertikal dan menghindari kesan visual yang terpotong pada bagian atas" . Tabel 16 Rooming Foot Room Rooming Scene Gambar Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Foot Room Foot Room Foot room adalah ruang kosong yang diletakkan di bawah kaki subjek, terutama dalam pengambilan gambar tubuh penuh. Penulis menggunakan foot room dalam beberapa adegan yang memperlihatkan aktivitas kerajinan angklung secara keseluruhan, seperti saat pengrajin berdiri memotong bambu atau membawa bahan mentah dari satu titik ke titik lainnya. Penggunaan foot room membantu menjaga proporsi tubuh dalam bingkai agar terlihat utuh dan tidak terpotong di bagian bawah. Penulis menyadari bahwa dalam Feature, terutama yang menampilkan aktivitas fisik, proporsi tubuh penuh sangat penting untuk menyampaikan gerakan dan ekspresi kerja secara utuh. (Semedhi, 2. menjelaskan bahwa "Foot room merupakan ruang kosong di bagian bawah frame, penting dalam framing tubuh penuh agar kaki tidak terpotong dan keseimbangan vertikal tetap terjaga". Teknik ini juga mendukung penekanan terhadap aksi subjek dalam ruang kerja yang kontekstual. Tabel 17 Rooming Destination Room Object Scene Gambar Movement Destination Room Destination Room Destination room adalah ruang kosong yang diletakkan di depan arah gerakan subjek dalam bingkai. Penulis menerapkan teknik ini dalam adegan saat penonton berjalan menuju area pertunjukan di Saung Angklung Udjo. Ruang kosong ditempatkan di arah gerakan mereka untuk memberikan kesan pergerakan yang logis dan memberi ruang AutujuanAy visual yang akan NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 314-338 dicapai oleh subjek. Teknik ini digunakan karena tanpa adanya destination room, gerakan objek akan terasa terbatas dan dapat mengganggu alur visual. Dengan menempatkan ruang yang cukup di depan arah gerak, penulis memberikan ruang gerak secara visual, sekaligus memperkuat narasi partisipatif dalam pertunjukan budaya tersebut. Dalam hal ini, (Semedhi, 2. menuliskan bahwa "Destination room memberikan ruang di arah gerakan objek, berguna untuk memberi kesan kelancaran gerak dan tidak membuat visual terasa sempit atau terhambat" . Penerapan destination room ini terbukti meningkatkan kenyamanan naratif dan mendukung kejelasan aksi dalam ruang. KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan proses produksi dan analisis karya video feature Melodi Bambu: Menghidupkan Kembali Simfoni Tradisional, diperoleh lima poin kesimpulan utama sebagai C Penerapan Teknik Camera Angle Penggunaan camera angle secara tepat mampu membangun persepsi visual terhadap subjek budaya, seperti pengrajin dan pemain angklung, serta menekankan relasi antara manusia dan nilai-nilai tradisional dalam ruang visual. Penggunaan Ukuran Shot (Shot Siz. Variasi ukuran shot, mulai dari wide shot, medium shot, hingga close-up, dimanfaatkan untuk mengarahkan fokus penonton pada elemen penting dan memperkuat dimensi emosional dari setiap adegan yang menonjolkan filosofi suara angklung. Penerapan Teknik Camera Movement Teknik pergerakan kamera, seperti dolly, pan, dan rack focus, berfungsi menambah dinamika visual dan mendukung transisi narasi budaya secara halus, sehingga penonton terlibat secara emosional dalam alur cerita. Pergerakan Objek dalam Frame sebagai Strategi Naratif Pergerakan objek, baik manusia maupun alat musik angklung dalam frame, diolah sebagai simbol visual yang menyampaikan nilai harmoni, kesinambungan budaya, dan kolaborasi antar generasi secara implisit namun kuat. Peran Teknik Rooming dalam Menciptakan Ruang Visual Penerapan Teknik Pengambilan Gambar oleh Director of Photography pada Produksi Video Feature "Melodi Bambu" Teknik rooming diterapkan untuk memberikan kedalaman ruang dan atmosfer yang immersif, memperkuat nuansa video feature serta memperjelas konteks ruang budaya yang menjadi latar utama dalam narasi. Saran Sebagai tindak lanjut dari temuan dan pembelajaran yang diperoleh selama proses penciptaan karya ini, penulis menyusun saran-saran berikut yang ditujukan untuk berbagai pihak yang terlibat dalam produksi media, pelestarian budaya, serta dunia akademik: Penelitian dan eksplorasi visual terhadap filosofi budaya sebaiknya terus ditingkatkan agar pendekatan sinematografi yang digunakan semakin kontekstual dan bermakna. Perlu adanya pengembangan dalam penggunaan alat bantu sinematografi seperti lighting tambahan atau stabilizer profesional agar kualitas visual lebih maksimal. Dalam produksi selanjutnya, disarankan untuk melibatkan proses color grading yang lebih mendalam guna memperkuat tone emosional dari setiap adegan. Komunikasi yang solid antara DoP, penulis naskah, dan sutradara sangat penting untuk menjaga keselarasan antara konsep visual dan pesan naratif yang ingin disampaikan. Jika karya ini akan dikembangkan dalam versi durasi yang lebih panjang secara lebih luas, maka aspek visual seperti shot budaya, suasana alam, dan pergerakan tradisi kolektif angklung perlu diperdalam untuk memperkuat kekuatan representatif terhadap warisan budaya Sunda. DAFTAR PUSTAKA