Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 9 No. 2 Maret 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 35 - 46 ANALISIS PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN GROWTH TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN STRUKTUR MODAL SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA PERUSAHAAN SEKTOR PERTANIAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2013-2017 Oleh Alim Hakim Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Email: alimdrh@gmail. Articel Info Article History : Received 24 February - 2022 Accepted 24 March - 2022 Available Online 30 March - 2022 Abstract This study aimed to analyze the influence of institutional ownership and growth to firm value with capital structure as an intervening variable in agriculture companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2013-2017, with a research sample 19 companies using path analysis. The results of the study showed that institutional ownership had negative and significant effect on capital structure and firm value, growth has no significant effect on capital structure and firm value, capital structure has no significant effect on firm value, and capital structure can not mediate institutional ownership and growth of firm value. Keywords : Institutional ownership, growth. Capital Structure, firm value, dapat memiliki saham melalui Bursa Efek Indonesia. Harga saham di Bursa Efek Indonesia setiap waktu dapat berkembang dinamis. Permasalahan dari perusahaan-perusahaan sektor pertanian yaitu adanya penurunan pada indeks sahamnya. Perkembangan indeks saham sektor pertanian pada tahun 2017 berada pada level 1. 616 menurun sekitar 13,3% dibandingkan tahun 2016 yang berada pada level 1. sedangkan Indeks saham sektor lainnya dan indeks saham gabungan meningkat, hal ini dapat dilihat pada tahun 2016 berada pada posisi 5. 296 meningkat 20% pada tahun 2017 berada pada level 6. Fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham sektor pertanian tahun 2013-2017 dapat dilihat pada tabel di bawah PENDAHULUAN Pertanian mempunyai peran penting dan strategis dalam kehidupan manusia karena berfungsi sebagai penyedia pangan, serta mendukung perekonomian nasional, terutama penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2016 sektor pertanian berkontribusi 13,45% dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) berada di bawah sektor industri pengolahan sebesar 20,51%. Dalam hal penyerapan tenaga kerja sekitar 31,86 persen merupakan tenaga kerja di sektor pertanian dari 124,54 juta penduduk yang bekerja (BPS, 2. Dengan adanya peran strategis pada sektor pertanian tersebut, maka hal ini tentu sangat memberi peluang bagi investor untuk menaruh modalnya pada pasar investasi atau pasar pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Investor Tabel 1. Indeks Harga Saham Gabungan dan Saham Sektor Pertanian Tahun 2013-2017 Indeks IHSG Pertanian Sumber: Data diolah, 2018 menyatakan struktur modal terhadap nilai berpengaruh negatif signifikan. Perusahaan bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi investor, sehingga nilai suatu perusahaan selain dipengaruhi dari struktur modalnya, juga dapat dipengaruhi oleh faktor kepemilikan saham dan faktor pertumbuhan seperti perubahan asset perusahaan tersebut. Penelitian Yuniyanti . dan Dewata . menyatakan struktur kepemilikan dan kepemilikan insitusional terhadap nilai perusahaan mempunyai pengaruh positif. Sedangkan menurut Warapsari dan Suaryana . terhadap nilai perusahaan berpengaruh negatif. Sedangkan pertumbuhan perusahaan . terhadap nilai perusahaan mempunyai pengaruh positif (Hermuningsih, 2. dan tidak berpengaruh menurut Paminto . dan Novianto . Hasil penelitian Berdasarkan fenomena dan adanya hasil yang berbeda dari beberapa penelitian sebelumnya, penulis mencoba melaksanakan penelitian tentang AuAnalisis Pengaruh Kepemilikan Institusional, dan Growth terhadap Nilai Perusahaan dengan Struktur Modal sebagai Variabel Intervening pada Perusahaan Sektor Pertanian yang terdaftar di BEI tahun 2013-2017Ay. Sedangkan Nilai Kapitalisasi pasar dari perdagangan saham sektor pertanian juga menunjukkan nilai yang paling rendah yaitu 1,45% pada tahun 2017 dan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar saham pada tahun 2016 yang mempunyai nilai 2,38%. Jika dibandingkan nilai kapitalisasi pasar saham sektor pertanian dengan nilai kapitalisasi pasar saham sektor lainnya pada tahun 2013 sampai dengan 2017, maka nilai kapitalisasi pasar sektor pertanian mempunyai nilai terendah jika dibandingkan Persentase nilai kapitalisasi pasar dari perdagangan saham sektor pertanian dan sektor lainnya Tahun 2013-2017 dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Persentase Nilai Kapitalisasi pasar dari perdagangan saham sektor pertanian dan sektor lainnya Tahun 2013-2017 Indeks IHSG Pertanian Pertambangan Industri Dasar dan Kimia Aneka Industri Industri Konsumsi Properti dan Real Estate Infrastruktur Keuangan Perdagangan Sebuah meningkatkan nilai perusahaan dapat faktor-faktor keputusan pendanaan dan keputusan investasi. Suatu perusahaan dengan kondisi hutang dengan struktur modalnya jika dalam kondisi optimal tentunya nilai perusahaannya akan dapat meningkat. Sementara itu, adanya perubahan struktur modal tersebut juga dapat memberikan sinyal kepada investor terkait Berdasarkan Hermuningsih . dan Novianto . melalui penelitiannya bahwa struktur modal terhadap nilai perusahaan pengaruh positif signifikan. Sedangkan menurut Gita . dan Paminto . KAJIAN PUSTAKA DAN PEGEMBANGAN HIPOTESIS Bagi perusahaan mempunyai nilai yang semakin besar akan dapat memberikan keuntungan yang besar pula terhadap perusahaan dan investor (Brigham dan Houston, 2. dalam Novianto . Cara pandang investor melihat suatu perusahaan yang berhasil adalah terkait harga sahamnya. Harga saham yang tinggi menggambarkan adanya nilai perusahaan meningkat dan akhirnya dapat mensejahterakan perusahaan dan pemegang saham (Rahma, 2. Menurut Novianto . Penilaian saham dapat dilihat dari 3 . jenis yaitu nilai pasar, nilai buku, dan nilai intrinsik. Salah satu dalam menentukan nilai perusahaan adalah melalui Price Book Value (PBV) atau perbandingan harga pasar saham per nilai buku per lembar Nilai PBV yang besar dapat menggambarkan keadaan harga saham yang Dengan demikian, hal ini membuat kepercayaan pasar dan pemegang saham terhadap masa depan perusahaan dapat Menurut Riyanto, . dalam Nanda dan Retnani . menyatakan bahwa Struktur modal yaitu kombinasi dari hutang dan modal sendiri. Jika hutang dalam porsi besar, maka perusahaan dapat mempunyai resiko tidak mampu membayar karena pokok hutang dan bunganya melebihi dari manfaat yang diperoleh dari hutang tersebut. Menurut Wiranata dan Nugrahanti . dalam Petta dan Tarigan . dan Dewata et . , kepemilikan saham institusional yaitu kepemilikan saham yang dimiliki oleh institusi keuangan atau non keuangan dan Peranan kepemilikan institusional ini dalam upaya mengurangi permasalahan antara manajemen perusahaan dan investor. Dalam teori keagenan yang dijelaskan Primadhany . menyatakan bahwa untuk menyelaraskan kepentingan antara principal dan agen dari adanya informasi yang berbeda yaitu melalui sistem monitoring yang optimal. Pada umumnya kepemilikan institusional yang tinggi dapat memonitor dan mengawasi pihak manajemen sehingga pengambilan keputusan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Hal ini sebagai upaya agar manajemen dapat untuk mengoptimalkan nilai perusahaan. Namun demikian, menurut Sujoko et. dalam Rahma . , bahwa tindakan pengawasan aktif dapat menjadi pasif dan oportunistik seperti dalam the strategic alignment hypothesis bahwa kepemilikan institusional yang besar dapat cenderung bekerjasama dengan pihak manajemen dan tidak memperhatikan kepentingan investor Sehingga kondisi ini dapat berpengaruh dalam upaya untuk mencapai tujuan meningkatkan nilai perusahaan. Pertumbuhan merupakan keadaan perusahaan yang diharapkan baik dari pihak manajemen maupun pihak eksternal . , hal tersebut ditandai dengan adanya produktifitas dan asset perusahaan yang meningkat yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan (Kusumajaya, 2011 dalam Suryandani, 2. Adanya peningkatan keuntungan yang dapat diberikan kepada perusahaan dan juga investor dengan tingkat pengembalian yang semakin tinggi dari hasil operasional perusahaan. Menurut Susanto . berpendapat bahwa teori pecking order disebutkan perusahaan akan mendahulukan menggunakan dana internalnya, sebelum menggunakan hutang untuk pembiayaan usahanya. Perusahaan yang memiliki aset yang besar diharapkan mampu mempunyai hasil kegiatan operasional yang besar pula. Hal ini menandakan bahwa menjalankan kegiatan usahanya. Menurut Chusnitah dan Retnani . bahwa pertumbuhan perusahaan menggambarkan indikator dan memberikan signal perusahaan memperoleh keuntungan dan investasi. Perusahaan mengalami perkembangan jika memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi Jika memperoleh keuntungan yang maksimal, maka dana internal maupun dana eksternal akan tersedia untuk kebutuhan investasi. Dengan demikian, perusahaan telah mampu mengelola sumberdaya atau asetnya untuk pertumbuhan perusahaan. Model yang digunakan pada penelitian ini Kepemilikan Institusional (X. Struktur Modal (Y) Nilai Perusahaan (Z) Growth (X. Rumusan hipotesis pada penelitian ini yaitu: Kepemilikan Institusional terhadap struktur Kepemilikan Institusional terhadap nilai Growth terhadap struktur modal. Growth terhadap nilai perusahaan. Struktur modal terhadap nilai perusahaan. METODE PENELITIAN Variabel endogen/terikat/ Pengukurannya dilakukan dengan melalui nilai price book value (PBV). Sedangkan variabel independen yaitu kepemilikan institusional dan pertumbuhan . Sementara itu, variabel intervening merupakan variabel antara yaitu menggunakan struktur modal yang diukur melalui perbandingan total hutang dengan total equitasnya. Definisi variabel, parameter dan pengukuran variabel terdapat pada tabel 3. Data terkait faktor-faktor yang akan diteliti sudah tersedia lengkap dan sudah terpublikasi secara umum. Menggunakan kepemilikan institusional (X. Growth (X. Struktur modal (Y). dan Nilai Perusahaan (Z) data sektor Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui studi pustaka yang mengkaji jurnal-jurnal, buku untuk struktur modal dan nilai perusahaan serta menelaah laporan keuangan perusahaan dan harga saham sektor pertanian. Data penelitian ini dilakukan teknik analisis menggunakan analisis Statistik dengan aplikasi SPSS dengan lima tahap yaitu: Analisis Statistik deskriptif. Uji asusmsi klasik. Analisis regresi. Pengujian hipotesis. Analisis Jalur (Path Analysi. Tabel 3. Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel Variabel Definisi Variabel Nilai Perusahaan (Z) (PBV) Nilai suatu yang dapat diukur dari harga saham Struktur Modal (Y) (DER) Kemampuan dengan modal yang dimiliki Kepemilikan Institusional (X. Pertumbuhan Perusahaan (Growt. (X. Parameter Skala Pengukuran Variabel Dependen PBV= Harga Pasar Saham Book Value per Share Rasio Variabel Intervening DER = Total Debt x 100% Total Equity Variabel Independen Persentase Jumlah saham institusional x jumlah saham yang dimiliki Jumlah saham beredar oleh institusi terhadap total saham yang Pertumbuhan diukur dengan perubahan total aset yaitu selisih Growth = total aset yang Total Asset t - Total asset t-1 x perusahaan pada Total asset t-1 periode sekarang dengan periode terhadap total aset periode Rasio Rasio Rasio HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Penelitian ini sampel yang digunakan yaitu perusahaan sektor pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun Berdasarkan purposive sampling dengan data yang diperoleh sebanyak 19 (Sembilan bela. Hasil Statistik deskriptif diperoleh data-data nilai rata-rata, minimum maksimum, dan standar deviasi sebagaimana dapat terdapat pada Tabel berikut. Kepemilikan Institusional (KI) = X1 Growth (G) =X2 Struktur Modal (DER) = Y NIlai Perusahaan (PBV) = Z Valid N . Pada penelitian ini populasi yang digunakan yaitu semua perusahaan sektor pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 Ae 2017. Sedangkan sampel diperoleh menggunakan purposive sampling yaitu menggunakan kriteria yang spesifik yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini menggunakan kriteria sampel sebagai Perusahaan sektor pertanian pada tahun 2013- 2017 telah terdapat laporan tahunan yang telah disampaikan kepada publik secara umum. Descriptive Statistics Minimu Maxim Std. Mean Deviation Sumber: Data Olahan SPSS Uji Normalitas Uji normalitas pada suatu model regresi dilakukan apakah antar variabel memiliki data terdistribusi normal atau tidak (Ghozali, 2. Pada penelitian ini dengan normal probability plot yaitu jika garis yang diperoleh akan mengikuti garis diagonalnya, maka data terdistribusi normal. Sesuai gambar dibawah ini dengan titik-titik menyebar dekat dengan garis diagonalnya, maka uji normalitas telah terpenuhi. Gambar Hasil Uji Normal Probability Plot Pengujian hipotesis dan Analisis Regresi Pengujian menjadi 3 pengujian, yaitu uji koefisien determinasi. Uji simultan (F tes. , dan uji parsial . Nilai konstanta yang diperoleh menunjukan angka 7,167, dengan demikian bila kepemilikan institusional dan growth diperhitungkan nol, maka besar struktur modal (Y) sebesar 7,167. Kepemilikan institusional dengan koefisien yaitu -0,076, berarti bila variabel kepemilikan institusional mengalami kenaikan satu poin, sedangkan variabel growth diasumsikan nol, maka akan menyebabkan penurunan struktur modal (Y) sebesar -0,076. Koefisien growth yaitu -0. 126, berarti jika variabel growth mengalami kenaikan satu poin, sedangkan variabel kepemilikan institusional diasumsikan nol maka struktur modal (Y) akan terjadi penurunan sebesar 0. Tabel Persamaan Regresi Model 2 Model Coefficients Standard Unstandardized Coeffici Coefficients Std. Error Beta Model (Constan. Kepemilikan Institusional (KI) = X1 Growth (G) =X2 Dependent Variable: Struktur Modal (DER) = Y Sig. Collinearity Statistics Toleran VIF Sumber: Data Olahan SPSS Persamaan regresi untuk model 1 berdasarkan tabel diatas adalah: Y = 7. 167 Ae 0. 076*X1 - 0. 126*X2 e Makna hasil regresi diatas yaitu: Collinearity Statistics Std. Tolera B Error Beta Sig. 2 (Constant 15. Kepemili -. 037 -. - . Institusio nal (KI) = X1 Growth 189 -. 081 -. (G) =X2 Struktur -. 149 -. - . Modal (DER) = Dependent Variable: NIlai Perusahaan (PBV) = Z Pada independen adalah kepemilikan institusional, growth dan struktur modal, sedangkan variabel dependen yaitu nilai perusahaan. Model persamaan regresi berganda berdasarkan untuk menguji hipotesis yaitu sebagai berikut: Model 1: Y = 1 X1 2 X2 a1 Model 2: Z = 3 X1 4 X2 5 Y a2 Berdasarkan model tersebut, maka hasil analisis persamaan regresi dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini: Tabel Persamaan Regresi Model 1 Coefficientsa Unstandard Standar Coefficient Coeffic VIF Sumber: Data Olahan SPSS Persamaan regresi untuk model 2 berdasarkan tabel diatas adalah: Z = 15. 945 Ae 0. 180*X1 - 0. 163*X2 Ae 0. Makna hasil regresi diatas yaitu: Konstanta yaitu 15. 945, berarti jika variabel kepemilikan institusional, growth, dan struktur modal diperhitungkan sama dengan nol, maka besar nilai perusahaan yaitu 15. Koefisien kepemilikan institusional yaitu Ae 180, hal ini berarti jika variabel kepemilikan institusional mengalami kenaikan satu poin, sedangkan variabel growth dan struktur modal dianggap tetap maka akan menyebabkan penurunan nilai perusahaan sebesar Ae 0. Koefisien growth yaitu - 0. 163, jika variabel growth mengalami kenaikan satu poin, sedangkan variabel kepemilikan institusional dan struktur modal dianggap tetap maka akan menyebabkan penurunan nilai perusahaan sebesar - 0. Nilai koefisien struktur modal yaitu Ae 0. dengan demikian bila struktur modal mengalami kenaikan satu poin, sedangkan kepemilikan institusional dan growth dianggap tetap maka nilai perusahaan akan mengalami penurunan sebesar Ae 0. ANOVAa Mean Model Sum of Squares Square Sig. 2 Regression Residual Total Dependent Variable: NIlai Perusahaan (PBV) = Z Predictors: (Constan. Struktur Modal (DER) = Y. Growth (G) =X2. Kepemilikan Institusional (KI) = X1 Sumber: Data Olahan SPSS Tabel hasil tersebut menyatakan nilai signifikansi pada kedua model regresi yaitu 0,009 dan 0,000, yang menunjukkan bahwa nilai signifikansi < 0,05. Sehingga model regresi 1 dan 2 dapat disimpulkan layak Berdasarkan Model kepemilikan institusional dan growth mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel struktur modal. Sedangkan pada model regresi 2, variabel KI, growth dan struktur modal mempunyai pengaruh secara simultan terhadap nilai perusahaan. Uji Koefisien Determinasi Hasil uji ini untuk melihat besaran pengaruh variabel kepemilikan institusional, growth dan struktur modal terhadap nilai Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat berikut ini: Tabel Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Model Summaryb Adjusted R Std. Error of the R Square Square Estimate Sumber: Data Olahan SPSS Pada model 1 diperoleh hasil uji koefisien determinasi nilai R2 yaitu 0,098 atau 9,8%. Dengan demikian variabel kepemilikan institusional dan growth memiliki pengaruh sebesar 9,8% terhadap variabel struktur modal, sedangkan selebihnya 90,2% oleh variabel lainnya yang tidak dimodelkan pada penelitian Pada model 2 diperoleh nilai R2 yaitu 0,207 20,7%. Hasil institusional, growth dan struktur modal memiliki pengaruh yaitu 20,7% terhadap selebihnya yaitu sebesar 79,3% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dimodelkan pada penelitian ini. Uji Parsial . -tes. Uji ini untuk menunjukkan pengaruh antara variabel dependen dan independen secara parsial dengan dasar pengambilan keputusannya yaitu nilai signifikansi < 0. Hasil uji parsial disajikan pada Tabel di bawah Tabel Hasil Uji Parsial . -tes. Unstandard Standar Coefficient Coeffic Model Sig. Kesimpulan Std. B Error Beta 1 (Constan. Kepemilika -. 025 -. - . 003 X1 Institusiona l (KI) = X1 Growth (G) -. 131 -. 096 -. 340 X2 tidak =X2 h signifikan Dependent Variable: Struktur Modal (DER) = Y Uji simultan (F-tes. Uji ini untuk melihat signifikansi variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan bila angka probabilitas signifikan < 0,05. Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini: Tabel Hasil Uji Simultan (Uji F) ANOVAa Mean Model Sum of Squares Square Sig. 1 Regression Residual Total Dependent Variable: Struktur Modal (DER) = Y Predictors: (Constan. Growth (G) =X2. Kepemilikan Institusional (KI) = X1 Model 2 (Constan. Unstandard Standar Kesimpulan Coefficient Coeffic Std. B Error Beta Sig. Kepemilika -. Institusiona l (KI) = X1 - . 000 X1 Growth (G) -. 189 -. 081 -. 391 X2 tidak =X2 Struktur 149 -. - . 248 Y tidak Modal (DER) = Y Dependent Variable: NIlai Perusahaan (PBV) = Analisis Jalur (Path Analysi. Analisis jalur . ath analysi. bertujuan mengetahui pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen baik secara langsung maupun tidak Hasil berdasarkan hasil output regresi tersebut selengkapnya terdapat pada tabel dan gambar berikut: Tabel Hasil analisis jalur Est Sumber: Data Olahan SPSS Pada Tabel pengambilan keputusannya adalah sebagai Model Regresi I Variabel KI mempunyai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga kesimpulan dinyatakan Sedangkan besarnya koefisien 093, sehingga hal ini menyatakan variabel KI mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal. Variabel growth mempunyai signifikansi 0,340 > 0,05 sehingga hasil dinyatakan tidak signifikan. Besarnya koefisien sebesar -0,960 menyatakan bahwa growth terhadap struktur modal tidak mempunyai pengaruh signifikan. StrukturM <-odalDER - GrowthG StrukturM <-odalDER - Kepemilika nInstitusion NIlaiPerus <-ahaanPBV - GrowthG NIlaiPerus <-ahaanPBV - Kepemilika nInstitusion NIlaiPerus <-ahaanPBV - StrukturMo dalDER Sumber: Data Olahan SPSS Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat pengaruh antar variabel sebagaimana tabel di bawah ini: Model Regresi II Variabel KI mempunyai signifikansi 0,013 < 0,05 sehingga hasil dinyatakan Besarnya koefisien yaitu -4,853 menyatakan variabel KI terhadap nilai perusahaan berpengaruh negatif signifikan. Variabel growth mempunyai signifikansi 0,391 > 0,05 sehingga hasil dinyatakan tidak signifikan. Besarnya koefisien sebesar -0,863 menyatakan variabel growth terhadap nilai perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan. Variabel struktur modal mempunyai 248 > 0,05 sehingga hasil dinyatakan tidak signifikan. Besarnya nilai koefisien sebesar -1,162 menyatakan signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel Pengaruh Kepemilikan Institusional (X. Langsung Tidak Langsung Langsung Tidak Langsung Growth (X. Struktur Modal (Y) Langsung Struktur Modal (Y) -0,076 Nilai Perusahaan (Z) -0,167 0,013 -0,126 -0,163 0,022 -0,174 Pada tabel tersebut pengaruh tidak langsung kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan melalui struktur modal adalah (-0,076 x -0,. = 0,013. Sedangkan pengaruh langsungnya yaitu -0,167. Dengan demikian perbandingan pengaruh tidak langsung lebih besar dibandingkan pengaruh secara langsungnya atau diperoleh 0,013 > 0,167. Namun demikian, sehubungan variabel struktur modal tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, maka struktur modal tidak dapat memediasi dalam pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai Sementara itu, variabel growth untuk pengaruh tidak langsung terhadap nilai perusahaan melalui struktur modal adalah sebesar (-0,126 x -0,. = 0,022. Perbandingan pengaruh tidak langsung dengan pengaruh langsung diperoleh perbandingan 0,022 > -0,163. Namun demikian, karena struktur modal terhadap nilai perusahaan tidak bepengaruh signifikan, maka struktur modal tidak dapat berfungsi memediasi growth terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka hasil dari model penelitian ini dapat dijelaskan melalui gambar di bawah ini: fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan. namun untuk meminimalkan biaya agensi diupayakan jumlah kepemilikan manajerial yang sejajar dengan pemilik modal, dan Berdasarkan rata-rata kepemilikan institusional pada perusahaan sektor pertanian mencapai 63,77%, hal ini menandakan tingkat kepemilikan institusional sudah cukup besar. Namun demikian, berdasarkan penelitian ini dimana kepemilikan institusional terhadap struktur modal berpengaruh negatif, maka hal ini sesuai dengan teori keagenan bahwa konflik keagenan dapat dikurangi dengan pengawasan dari kepemilikan institusional. Pihak investor akan lebih besar melakukan pengawasan terhadap manajemen terutama terkait dalam pengambilan keputusan Investor penggunaan dana esternal melalui hutang dapat diminimalkan, hal ini agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan dan investor memperoleh return atas dana yang diinvestasikan dapat diperoleh dengan Sedangkan institusional terhadap nilai perusahaan yang menunjukkan berpengaruh negatif, karena institusional semakin besar maka tindakan pengawasan yang semula aktif bisa menjadi pasif dan bisa oportunistik sebagaimana sesuai dengan hasil dalam penelitian Sujoko, et al . Selain itu adanya asimetri informasi atau investor tidak sepenuhnya memiliki informasi yang sama terhadap manajemen, investor menjadi sulit mengendalikan manajemen sehingga persepsi investor terhadap perusahaan menjadi menurun. Hal ini dapat menjadikan perusahaan tersebut tidak menarik lagi bagi pemegang saham, dengan demikian harga saham dan nilai perusahaan menjadi menurun. Selain itu, menurut Fitriani . dan Sugiarto . dalam Warapsari dan Suaryana . menyatakan bahwa jika besar/holding perusahaan keluarga, maka manajemen dan kepemilikan institusional antar perusahaan tersebut masih berkaitan satu dengan lainnya. Hal ini menjadikan kepemilikan saham institusional tidak menjadi Pembahasan Pengaruh Kepemilikan Insitusional terhadap Struktur Modal dan Nilai Perusahaan Dengan memperhatikan koefisien regresi dari variabel kepemilikan institusional terhadap struktur modal adalah berpengaruh institusional terhadap nilai perusahaan adalah berpengaruh negatif signifikan, maka ini menunjukkan bahwa jumlah kepemilikan institusional yang semakin besar dapat menurunkan struktur modal dan nilai Penelitian ini mendukung penelitian Solikin. Widaningsih dan Lestari . Warapsari dan Suaryana . , dan Petta dan Tarigan . Berdasarkan teori keagenan (Agency teor. menyatakan bahwa suatu konflik dapat terjadi dalam perusahaan dengan pemisahan independen . danya afiliasi satu sama kepemilikan institusional tinggi, namun fungsi pengawasan tidak berjalan secara efektif, sehingga hal ini dapat menyebabkan nilai perusahaan dapat menurun. pengurangan dalam pengembalian kepada para investor, maka pihak investor akan memberikan respon negatif sehingga saham perusahaan dapat terjadi penurunan di pasar Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan Teori Trade-off menyatakan adanya penambahan hutang sampai berada pada keadaan titik struktur modal yang optimal dapat membuat nilai perusahaan meningkat. Namun penambahan hutang dan berada melebihi titik optimalnya, maka ini dapat membuat menurunnya nilai Penelitian ini menyimpulkan struktur modal tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini mendukung penelitian Prasetia . Sofyaningsih dan Hardiningsih . Rasyid . dan Gita et al. Berdasarkan data sampel terdapat data maksimum rasio struktur modal mencapai 39,49 dan diatas standar deviasinya menggunakan hutang sebagai aktifitas pendanaan perusahaannya. Keadaan ini dapat perusahaannya dan dapat sesuai dengan Tradeoff Teory yaitu penambahan hutang dengan struktur modal sudah diatas titik optimalnya membuat nilai perusahaan bisa menurun. Adanya perusahaan akan berusaha untuk menutupi dan melunasi hutang-hutang tersebut, sehingga keuntungan yang diperoleh akan digunakan terlebih dahulu untuk membayar hutang dan keuntungan yang diperoleh investor akan Selain itu, pinjaman yang tinggi juga memerlukan biaya lainnya seperti pembayaran bunga dan sebagainya. Hal ini dapat berdampak menurunnya persepsi investor sehingga pada akhirnya nilai perusahaan dapat Sedangkan jika perusahaan memiliki struktur modal yang besar dan stabil, dengan adanya pengambilan keputusan pendanaan dalam hal struktur modal oleh perusahaan, investor kemungkinan tidak akan terpengaruh terhadap keputusan investasinya, dan tidak Pengaruh Growth terhadap Struktur Modal dan Nilai Perusahaan. Hasil penelitian yang menunjukkan growth tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan Pecking Order Teory bahwa perusahaan akan memakai dana internalnya dalam melakukan aktifitas usahanya. Setelah itu, pendanaan eksternal melalui hutang akan menjadi alternatif pendanaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Amelia dan Khaerunnisa . Nico . dan Purwohandoko . Berdasarkan data hasil penelitian perusahaan sektor pertanian tahun 2013-2017 bahwa dengan rata-rata pertumbuhan dari aset perusahaan yaitu 0,71 dan terdapat perusahaan yang memiliki pertumbuhan aset perusahaan yang mencapai -26,20. Kondisi ini menandakan perusahaan mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah bisa mungkin dikarenakan perusahaan menggunakan dana internal terlebih dahulu untuk melakukan perusahaan tidak menggunakan hutang untuk Dengan demikian growth perusahannya tidak berpengaruh signifikan sehingga penelitian ini mendukung Pecking Order Teory. Disamping perusahaan ini dapat pula diperoleh dari pendanaan melalui penanaman modal oleh merupakan sektor strategis nasional yang akan bergerak terus karena terkait untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Pertumbuhan perusahaan yang tinggi dapat menyebabkan nilai perusahaan menjadi Kondisi tersebut karena perusahaan akan memerlukan sumber dana yang besar untuk pembiayaan operasional perusahaan dan kegiatan investasi. Jika pendanaan ini berasal dari dana internal seperti laba yang dihasilkan dipergunakan kembali untuk aktifitas operasional perusahaan, sehingga ada KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan dan uraian dalam pembahasan, maka simpulan penelitian ini adalah: Kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal dan nilai perusahaan, dan struktur modal tidak dapat memediasi kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan. Growth tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan melalui struktur modal. Struktur modal tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. REFERENSI