Copyright : ISSNMardi : 2807-9280 @ 2024 Hartono https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK GAMBARAN FUNGSI INTELEKTUAL LANJUT USIA DI KOTA PEKALONGAN Zaenal Amirudin1. Indar Widowati2. Sumarni3. Supriyo4. Norma Nofianto5 1,2,3, Program Studi Keperawatan Pekalongan Poltekkes Kemenkes Semarang. Indonesia *e-mail korespondensi : zaenalamirudin@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Bertambahnya umur harapan hidup, berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan pada lanjut usia. Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu masalah kesehatan seiring berjalannya usia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitiif yang tinggal di komunitas. Metode : Desain deskriptif analitik digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 60 peserta di ambil dengan cara purposive sampling, setelah menyetujui kesediaan sebagai responden. Instrumen Kuesioner Status Mental Portabel Pendek (SPMSQ) dari Pfeiffer . , digunakan untuk mengumpulkan data lanjut usia Hasil: Hasil penenlitian meliputi: . Karakteristik: jenis kelamin responden: perempuan, sebanyak 391 orang . %), laki-laki 21 orang . %). usia responden: 60-69 tahun sebanyak 45 orang . %), 70-79 tahun sebanyak 12 orang . %). Ou 80 tahun sebanyak 3 orang . %). pendidikan responden: SD 9 orang . %). SMP 17 orang . ,33%). SMA 29 orang . ,33%). PT 5 orang . ,33%). Sebagian besar responden mengalami kerusakan intelektual ringan, sebanyak 45 orang . %). Simpulan : Penurunan fungsi kognitif pada lansia yang tinggal di komunitas beragam dari ringan sampai berat. Perawat komunitas diharapkan dapat memberikan intervensi berupa deteksi dini fungsi kognitif pada lansia. Kata Kunci : Lanjut usia, fungsi kognitif Zaenal Amirudin JLK Team . Indar Widowati . Sumarni . Supriyo . Norma Nofianto Copyright : ISSN : 2807-9280 @ 2024 Mardi Hartono https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK DESCRIPTION OF INTELLECTUAL FUNCTION OF OLDER AGE IN PEKALONGAN CITY Zaenal Amirudin1. Indar Widowati2. Sumarni3. Supriyo4. Norma Nofianto5 1,2,3, Pekalongan Nursing Study Program Polytechnic Health Ministry of Semarang. Indonesia *Corresponding author: zaenalamirudin@gmail. ABSTRACT Background: Increasing life expectancy has an impact on increasing health problems in the Cognitive decline is one of the health problems that occurs with age. Describe : This study aims to determine the description of cognitive function in the community. Method: Descriptive analytical design was used in this study. A total of 60 participants were taken by purposive sampling, after agreeing to be respondents. The Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) instrument from Pfeiffer . was used to collect elderly data. Results: The results of the study include: . Characteristics: gender of respondents: female, 391 people . %), male 21 people . %). age of respondents: 60-69 years old 45 people . %), 70-79 years old 12 people . %). Ou 80 years old 3 people . %). Respondents' education: 9 people . %) of elementary school, 17 people . 33%), 29 people . 33%), 5 people . 33%). Most respondents experienced mild intellectual impairment, as many as 45 people . %). Conclusion: Cognitive function decline in the elderly living in the community varies from mild to Community nurses are expected to provide interventions in the form of early detection of cognitive function in the elderly. Keywords: Elderly, cognitive function Zaenal Amirudin JLK Team . Indar Widowati . Sumarni . Supriyo . Norma Nofianto Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing PENDAHULUAN Jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan pada tahun 2050 akan mencapai 1,5 miliar jiwa (WHO, 2. Di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 12,50 juta jiwa (BPS. Peningkatan jumlah lanjut usia . akan berdampak meningkatnya kebutuhan Kesehatan termasukgangguan fungsi kognitif. Operasional fungsi kognitif pada dasarnya melalui orientasi temporal, memori, numerasi, dan kefasihan verbal (Fernyndez I, 2. Penurunan kognitif pada lansia berdampak pada kesejahteraan, seperti keuangan dan sosial (Giovanna Troisi, 2. , kemiskinan keluarga, sehingga menjadi priorits kesehatan global (Kochanek PM, 2. Meskipun demikian, banyak lanjut usia yang tidak terdeteksi gangguan kognitif. Studi menyebutkan alasan tidak terdeteksinya gangguan kognitf, yakni factor pasien dan dokter (Bradford A et al, 2. Faktor terkait pasien diantarannya stigma dan kesalahan persepsi tentang kognisi dan demensia, kesehatan yang menjadi prioritas, dan literasi Kesehatan (Kulshreshtha A et al, 2. Pusat Kesehatan Masyarat . yang merupakan fasilitas pelayanan primer menjadi sangat urgen untuk mendeteksi dini fungsi Mattke S el al . , menjelaskan sangat pentingnya perawatan primer dalam mendeteksi, perawatan yang adil, meskipun masih sangat terbatasnya sumber daya, waktu dan pelatihan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini gangguan fungsi kognitif pada lanjut usia di Pos Pelayanan Terpadu (Poyand. yang Fokus integrasi layanan primer untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan peningkatan dan penguatan promosi kesehatan, pencegahan bagi siklud kehidupan, dan memperkuat pemantauan (Kemenkes RI, 2. METODE Desain deskriptif analitik digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 60 peserta di ambil dengan cara purposive sampling, setelah menyetujui kesediaan sebagai responden. Instrumen Kuesioner Status Mental Portabel Pendek (SPMSQ) dari Pfeiffer . , digunakan untuk mengumpulkan data lanjut usia. Instrumen ini terdiri atas 10 item pertanyaan, yakni mengevaluasi prevalensi gangguan organik pada lansia, termasuk tes orientasi, memori, mengingat, responden diminta untuk menyebutkan tanggal dan hari dalam seminggu, tempat, telepon, alamat, tanggal lahir, presiden saat ini dan sebelumnya, nama gadis ibu, serta pertanyaan tentang pengurangan serial sebanyak tiga dimulai dari 20. Data demografi di analisis dengan persentase, data untuk mengetahui iingkat intelektual di analisis menggunakan analitik desktif Chi square, yang dikategorikan menajadi: jawaban salah 0 Ae 2 = Fungsi intelektual utuh, . Jawaban salah 3 Ae 4 = kerusakan intelektual ringan, . jawaban salah 5 Ae 7 = kerusakan intelektual sedang, . jawaban salah 8 Ae 10 = kerusakan intelektual berat HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel Jenis Usia Pendidikan Frekuen Persentase (%) Laki-laki Perempuan Jumlah Ou 80 Jumlah Sekolah Dasar Sekolah Mengah Pertama Sekolah Menengah Atas Perguruan Tinggi Jumlah 28,33 48,33 8,33 Tabel 1. Tampak jenis kelamin responden: perempuan, sebanyak 391 orang . %), laki-laki 21 orang . %). usia responden: 60-69 tahun sebanyak 45 orang . %), 70-79 tahun sebanyak 12 orang . %). Ou 80 tahun sebanyak 3 orang . %). pendidikan responden: SD 9 orang . %). SMP 17 orang . ,33%). SMA 29 orang . ,33%). PT 5 orang . ,33%). Tacel 2. Tingkat Intelektual Responden Tabel 2. Tampak sebagian besar responden mengalami kerusakan intelektual ringan, sebanyak 45 orang . %), kerusakan intelektual sedang, 11 orang . ,33%), fungsi inteektual utuh, 3 orang . %), dan kerusakan intelektual berat, 1 orang . ,67%). Fungsi Intelektual Skore Frekuensi Persentase (%) Fungsi intelektual Kerusakan intelektual Ringan Kerusakan intelektual Sedang Kerusakan intelektual Berat Jumlah Zaenal Amirudin1. Indar Widowati2. Sumarni3. Supriyo4. Norma Nofianto5 18,33 1,67 Page 3 Of 5 Copyright : @ 2024 Mardi Hartono The Journal of Cross Nursing PEMBAHASAN Karakteristik Responden Studi melaporkan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap perkembangan demensia pada kerusakan intelektual (Tse MM et al, 2. Studi lain menyebutkan tingkat kognitif pada perempuan lebih rendah dibanding laki-laki (Pan et al, 2. Perubahan terpenting pada fungsi kognisi sejalan dengan bertambahnya usia yakni terjadinya penurunan kinerja tugas kognitif, yang dibutuhkan oleh individu terkait pemrosesan informasi yang cepat dalam rangka membuat Keputusan, memori kerja dan fungsi eksekutif (Murman DL, 2. Lebih lanjut. Han F et al, . , menjelaskan bahwa penuaan sebagai factor risiko penurunan domain kognitif, baik memori, eksekusi, perhatian dan membaca. Struktur otak memburuk bersamaan dengan bertambahnya usia (Liu-Ambrose et al. Studi membuktikan bahwa tingkat pendidikan yang legih tinggi, diperkirakan akan lebih baik kinerja kognitif (H. Hernandez Saucedo er al, 2. Hasil penilaian kognitif pada lanjut usia, membukrikan bahwa lanjut usia dengan tingkat pendidikan lebih tiggi memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan dengan lanjut usia dengan tingkat pendidikan lebih rendah (M. Kosmidis, 2. Tingkat Intelektual Responden Sebagian besar responden mengalami kerusakan intelektual ringan, sebanyak 45 orang . %). Hasil ini membuktikan belum adanya intervensi deteksi didi gangguan kognitif pada lansia di Posyandu terintegrasi. Keadaan ini menjadi lebih penting karena populasi lanjut usia lebih berisiko mengalami gangguan kognitif ( Maccora et al, 2. Kurangnya diagnosis gangguan kognitif dan demensia, menjadi maslah yang signifikas, terutama di negara-negara (H. Hernandez Saucedo er al, 2. Saran Lansia di Kota Pekalongan Sebagian besar mengalami kerusakan intelektual ringan. %). Meskipun Posyandu terintegrasi sudah berjalan rutin, namun hasil ini membuktikan pentingnya populasi lanjut usia di masyarakat untuk memeriksakan fungsi kognitif secara rutin, namun diperlukan intervensi deteksi dini fungsi kognitif. Deteksi ini dilakukan sebelum kerusakan substansial pada fungsi kognitif terjadi, seperti Keterlambatan dalam menerima perawatan yang tepat dan mengidentifikasi adanya defisit kognitif dan fungsional yang signifikan dapat mengakibatkan diagnosis demensia pada stadium lanjut. DAFTAR PUSTAKA