J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Komparasi Pemodelan dan Identifikasi Sistem pada Dinamika Temperatur Gas Buang Ruang Bakar pada Circulated Fluidized Bed Boiler Muhammad N. Anis*). Awang N. Wardana & Ester Wijayanti Jurusan Teknik Fisika. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada *)muhammad. a@mail. Abstrak Seringkali fokus pembangkitan listrik di PLTU adalah pada kondisi uap (T & P), jumlah produksi uap . dan beban daya . %) namun efisiensi pembakaran jarang diperhatikan sehingga menyebabkan kerusakan mesin. Indikator efisiensi pembakaran batu bara adalah dinamika temperatur gas buang ruang bakar. Untuk mendapatkan sistem instrumentasi-kendali yang handal dan efisien dibutuhkan pemahaman mendalam terhadap sistem. Langkah untuk meningkatkan pemahaman dapat dengan cara membentuk dan memahami model matematis sistem. Penelitian ini bertujuan mendapatkan model matematis dari fenomena dinamika temperatur gas buang ruang bakar. Pemodelan dilakukan dengan membandingkan metode matematis dan identifikasi sistem. Pemodelan matematis dilakukan dengan menggunakan neraca massa dan neraca energi, sedangkan identifikasi sistem dilakukan dengan menggunakan struktur model multiple-input-single-output ARMAX sebagai pendekatan sistem linier. Setelah model didapatkan, model divalidasi dengan data lapangan pada kondisi operasi. Hasil validasi model berupa prediksi dinamika temperatur gas buang ruang bakar dari masing-masing metode dibandingkan kualitasnya . it & MSE). Dengan menganalisis hasil didapatkan bahwa model hasil pemodelan matematis menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,4218% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1632 oC dan model hasil identifikasi sistem menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,8596% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1529 oC. Kata Kunci: ketel, circulated fluidized bed, ruang bakar, gas buang, pemodelan, identifikasi sistem Pendahuluan Untuk menjaga dan meningkatkan perekonomian serta perindustrian nasional dalam hal energi terutama energi listrik dalam menghadapi pasar bebas ASEAN diperlukan plant pembangkit listrik yang dapat bekerja optimal dan efisien, khususnya adalah pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batu bara. Permasalahannya adalah seringkali fokus pembangkitan listrik pada thermal power plant adalah pada kondisi uap (T & P), jumlah produksi uap . dan beban daya misalnya untuk beban 100% namun efisiensi pembakaran tidak diperhatikan sehingga menyebabkan kerusakan pada mesin itu sendiri. Salah satu indikator dari efisiensi pembakaran batu bara adalah dinamika temperatur gas buang ruang bakar. Untuk mendapatkan sistem instrumentasi dan kendali yang tepat dan handal, serta efisien dalam mengendalikan temperatur gas buang dibutuhkan pemahaman lebih mendalam terhadap sistem. Langkah untuk meningkatkan pemahaman terhadap sistem tersebut dapat dengan cara membentuk dan memahami model matematis dari sistem, sehingga penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu model matematis dari suatu fenomena pembakaran batu bara dan pemanasan uap di dalam ruang bakar ketel uap tipe circulated fluidized bed. Makalah ini merupakan lanjutan dari penelitian mengenai pemodelan matematis dan identifikasi sistem dinamika temperatur gas buang ruang bakar pada CFB boiler . Sebuah penelitian oleh Kari myohanen pada akhir tahun 2011 yang memodelkan reaksi J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 pembakaran dan sulfurisasi di dalam CFB boiler skala besar secara matematis . dapat memformulasikan fenomena pembakaran secara tepat dan detail. Penelitian lainya dilakukan oleh Qinhui. Zhongyang. Xuantian. Mengxiang. Mingjiang dan Kefa cen pada tahun 1999 . Dalam penelitian ini penulis membandingkan dengan metode lain yakni metode empiris . dentifikasi siste. Identifikasi sistem telah banyak dipaparkan pada berbagai penelitian, salah satunya adalah identifikasi sistem tekanan uap dari fire-tube boiler oleh Rodriguez. Rivas. Motiano dan Gonzales . Dari penelitian-penelitian tersebut penulis dapat membandingkan dan mempelajari lebih lanjut metode-metode yang digunakan dalam membuat model matematis untuk dapat diterapkan ke dalam sistem ruang bakar di CFB boiler PLTU Tarahan. Metode dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari berbagai penelitian dan pengkombinasian antara dua metode yaitu pemodelan matematis dan pemodelan empiris. Diskusi Ketel atau boiler adalah salah satu peralatan utama suatu pembangkit listrik tenaga uap yang berfungsi untuk mengubah air menjadi uap yang memanfaatkan energi panas yang diperoleh dari hasil pembakaran bahan bakar seperti batu bara, high speed diesel (HSD), gas. MFO, dll. Tipe ketel dalam penelitian ini adalah circulated fluidized bed boiler generasi pertama dengan kapasitas pembangkitan 2x100 MW. 1 Pemodelan Matematis Untuk mempermudah analisis maka sistem furnace ditinjau dalam empat control volume seperti pada Gambar 1, yakni: Lower furnace . ower & middle furnac. Upper furnace . pper furnace, waterwall tube, evaporator and superheate. Cyclone system . yclone inlet duct, cylinder, cone, sealpot and outlet duc. Loop seal . Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Gas Buang & Fly ash Acfg Afash3 Awout Asteamout h2 perpindahan panas ke water wall super heater Air & Uap keluar Awin Asteamin Air & Uap masuk Affg2 Afash2 Asreci2 heat loss ke lingkungan Afash1 Asup HSD Asreci3 Asdwn Affg1 heat loss ke lingkungan Ahsd Abedmatout Asreci4 Afaout Udara Sek. Asa Batu Bara Ac Sorbent Asorb heat loss ke lingkungan Udara Primer Apa Inert Bed Material Abedmat Udara Fluidisasi Afain Bottom Ash Abash Gambar 1 Ruang bakar dibagi menjadi empat bagian Untuk mempermudah pembuatan model, analisis dilakukan dengan membagi menjadi dua fenomena yaitu fenomena pembakaran batu bara dan fenomena pemanasan air dan uap. 1 Ruang Bakar Bagian A (Lower Furnac. Fenomena yang terjadi di bagian bawah ruang bakar seperti pada Gambar 2 adalah sebagai berikut: Reaksi pembakaran bahan bakar . ncomplete fuel combustio. Reaksi pembakaran padatan yang tersirkulasi . ncomplete & complete coal Reaksi sulfurisasi. Inert bed material sebagai katalis . ower the energy of activatio. Transfer panas ke water wall dan heat loss ke lingkungan. Keluar: Asup. Afash1. Affg1. Asdwn Losses Qout heatloss ke Masuk: Batu Bara,HSD. Udara,Limestone Ac. Ahsd. Asa. Apahot. Apacold. Asorb Masuk: Partikel Padat Tersirkulasi & Gas Abedmatout Asreci4 Afaout Udara Primer Apa Bottom Ash Abash Gambar 2 volume atur ruang bakar bagian A Dengan menggunakan persamaan neraca energi . olume atu. maka persamaan neraca energi untuk volume atur bagian bawah ruang bakar dapat dituliskan seperti persamaan . Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ()( ISSN : 2085-2517 2 Ruang Bakar Bagian B (Upper Furnac. Fenomena yang terjadi di ruang bakar bagian atas seperti pada Gambar 3 adalah sebagai Reaksi pembakaran bahan bakar . ncomplete coal combustio. Reaksi sulfurisasi. Inert bed material sebagai katalis . ower the energy of activatio. Transfer panas ke water wall, evaporator, super heater dan heat loss ke lingkungan. Awout Asteamout Keluar Losses Affg2. Afash2. Asreci2 Qout Awin Asteamin Heat Exchanger Udara Asa heatloss ke Batu Bara Belum Terbakar Asup. Afash1. Affg1. Asdwn Gambar 3 Volume atur ruang bakar bagian B J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Dengan menggunakan persamaan neraca energi . olume atu. maka persamaan untuk volume atur bagian atas ruang bakar dapat dituliskan seperti pada persamaan . 3 Ruang Bakar Bagian C (Cyclone Syste. Fenomena yang terjadi di ruang bakar bagian pemisahan seperti pada Gambar 4 adalah sebagai berikut: Fenomena pemisahan material berdasarkan berat jenis. Fenomena kehilangan panas . eat loss to surroundin. Keluar: Gas Buang & Flyash Acfg . A fash3 Masuk: Gas Buang. Flyash, & Partikel Padat Tersirkulasi Affg2. Afash2. Asreci2 heatloss ke Qout Keluar: Partikel Padat Tersirkulasi Asreci3 Gambar 4 Volume atur ruang bakar bagian C Dengan menggunakan persamaan neraca energi . olume atu. maka persamaan untuk volume atur bagian pemisahan dapat dituliskan seperti pada persamaan . Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 4 Ruang Bakar Bagian D (Sealpot/ Loop Sea. Fenomena yang terjadi di ruang bakar bagian penginjeksi material balik seperti pada Gambar 5 adalah sebagai berikut: Pencampuran padatan . adatan tersirkulasi & bed materia. dan gas . luidized air & compressor ai. Ieheat transfer. Fenomena kehilangan panas . eat loss to surroundin. Masuk: Partikel Padat Tersirkulasi Asreci3 Keluar: Udara Fluidisasi Bed Material Partikel Padat Tersirkulasi Asreci4. Afaout. Abedmatout heatloss ke Qout Masuk: Bed Material Abedmat Masuk: Udara Fluidisasi Afain Gambar 5 Volume atur ruang bakar bagian D Dengan menggunakan persamaan neraca energi . olume atu. maka persamaan untuk volume atur penginjeksi material balik dapat dituliskan seperti pada persamaan . Keempat persamaan di atas dapat saling mensubtitusi sehingga persamaan neraca energi fenomena pembakaran batu bara adalah seperti persamaan . Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 ()( 5 Pembuatan Model Fenomena Pemanasan Air dan Uap (Kehilangan Panas Akibat Perpindahan Pana. Fenomena pemanasan uap yang terjadi dianggap sebagai fenomena kehilangan panas akibat terjadinya perpindahan panas dari gas buang hasil pembakaran batu bara ke air dan uap yang terdapat dalam water wall tube, evaporator dan super heater panel seperti digambarkan oleh Gambar 6. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 Uap Keluar Ke Backpass Ashout Uap Masuk Dari Steam Drum Ashin Drum Aevaout Keluar Dari Water Wall Tube Ke Steam Drum Awwtout Superheater Evaporator . Dari Steam Drum Aevain ISSN : 2085-2517 Gas buang ruang bakar, fly ash & unburnt solid Affg2. Afash2. Asreci2 . Dari Steam Drum Downcomer Ke Water Wall Tube Awwtin Udara Primer Apaple Gambar 6 Aliran fluida di dalam ruang bakar Perpindahan panas difokuskan lebih detail menjadi 3 volume atur yakni water wall tube, evaporator dan super heater panel. Persamaan transfer panas dituliskan seperti persamaan . 6 Pembuatan Model Keseluruhan Hasil pemodelan berdasarkan 2 fenomena di atas dapat digabungkan. Dengan asumsi reaksi pembakaran di ruang bakar bagian A & B dianggap terjadi satu kali, terjadi pembakaran lebih dahulu dan bahan bakar dianggap langsung terbakar sehingga perpindahan kalor . eat transfe. terjadi setelah pembakaran. Selain itu perubahan energi internal di bagian C & D sangat kecil dan bisa diabaikan karena kehilangan panas . eat los. dianggap sangat kecil dan terakumulasi pada kehilangan panas total, sehingga untuk ruang bakar bagian C temperatur gas buang masuk sama dengan temperatur gas buang Setelah dilakukan linierisasi maka didapatkan persamaan keseluruhan ruang bakar seperti dituliskan pada persamaan . Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 di mana: Data Input-Output proses di ruang bakar ini ditunjukkan dalam Tabel 1. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Tabel 4 Data input- output ruang bakar Input-output Nilai Satuan LHV 4503,448 kCal/kg Cpfuel 0,33 kCal/kgoC Tfuel Udara primer ke plenum Cppaple 0,2610 kCal/kgoC Tpaple Udara Cpsa 0,2608 kCal/kgoC Tsa Cpwwt 1,5733 kCal/kgoC Twwtin Twwtout Cpeva 1,5733 kCal/kgoC Tevain Tevaout Cpsh 0,4882 kCal/kgoC Tshin 357,6206 Tshout 426,3538 1055,600 Cpcomb 0,3143 kCal/kgoC 119,9644 Cpcfg 0,3143 kCal/kgoC 0,7517 Cpfash 0,25 kCal/kgoC 0,3806 Cpbash 0,25 kCal/kgoC Batu bara Air dinding Air panel Uap panel super heater Pembakaran Parameter Untuk mendapatkan fungsi alih dari dinamika temperatur gas buang, maka perlu dituliskan dalam domain Laplace dan dengan memasukkan nilai-nilai dari setiap parameter pada persamaan . yang ada dalam Tabel 1 maka didapatkan persamaan yang menyatakan dinamika temperatur gas buang ruang bakar secara keseluruhan. Namun dikarenakan pada kondisi nyata di lapangan ada beberapa data yang tidak diukur sehingga untuk melakukan validasi diharuskan mengeliminasi beberapa variabel masukan, hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa variabel tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sistem yakni dapat terlihat pada parameter fungsi alih masing-masing variabel dan data desain yang menyatakan laju aliran massa variabel tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan variabel lainya. Variabel yang dapat diabaikan adalah laju aliran J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 massa sorbent ( ), laju aliran massa bed material ( ), laju aliran massa hot primary air ( ), laju aliran massa cold primary air ( ), laju aliran massa fluidized ), laju aliran massa blower air ( ), laju aliran massa compressor air ( Dikarenakan laju aliran massa air dan uap yang melintasi water wall tube, evaporator panel dan super heater panel memiliki besar yang sama . esuai data operas. maka parameter fungsi alih dari ketiga heat loss tersebut dapat dijumlahkan, sehingga didapatkan persamaan fungsi alih dari dinamika temperatur gas buang ruang bakar seperti pada Persamaan . ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) Dengan menggunakan perumusan untuk mengubah domain s ke domain z, maka didapatkan fungsi alih dinamika temperatur gas buang seperti pada persamaan . 7 Validasi Model Matematis (Fenomena Fisi. Estimasi dan validasi model dalam penelitian ini menggunakan data lapangan yaitu data operasi laju aliran batu bara, udara dan air-uap serta temperatur gas buang ruang bakar. Validasi model matematis akan membandingkan hasil prediksi model dengan data lapangan yang keduanya menyatakan temperatur flue gas. Setelah divalidasi, didapatkan model yang sudah teruji validitasnya dengan nilai mean square error (MSE) dan nilai kesesuaian kurva . dengan perumusan seperti pada persamaan . di mana merupakan data nyata dan C adalah data hasil prediksi model. An Oc( C( )) An CAn ( )An . Validasi pertama kali dilakukan terhadap model dari pemodelan matematis pada persamaan . Validasi pertama kali menggunakan data operasi 1 menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 79,6143% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1763 sebagaimana kurva temperatur hasil prediksi . urva mera. dan kurva temperatur dari data . urva bir. ditampilkan dalam Gambar 7, sedangkan validasi kedua menggunakan data operasi 2 menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,4218% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1632 sebagaimana kurva temperatur hasil prediksi . urva mera. dan kurva temperatur dari data . urva bir. pada Gambar 8. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Gambar 7 Grafik perbandingan hasil prediksi model dengan data nyata . ata operasi . Gambar 8 Grafik perbandingan hasil prediksi model dengan data nyata . ata operasi . 2 Identifikasi Sistem Tujuan identifikasi sistem ini adalah untuk mendapatkan parameter model yang telah divalidasi guna menjadi pembanding model hasil pemodelan matematis ataupun untuk menambah argumentasi dalam memahami model matematis dari dinamika temperature gas buang ruang bakar. Estimasi parameter fungsi alih sistem menggunkan metode recursive least square (RLS) dengan fungsi multiple-input-single-output ARMAX . a,nb1,nb2,nb3,nb4,nc,n. Orde untuk estimasi parameter ini menggunakan orde 1. Estimasi dalam identifikasi sistem ini menggunakan data estimasi . ata operasi . menghasilkan parameter-parameter dalam struktur model ARMAX, sehingga model matematis hasil identifikasi sistem merupakan rekonstruksi dari parameter-parameter yang telah diestimasi yang dituliskan seperti pada persamaan . ( )] ( )] ( )] ( )] ( )] Selanjutnya model tersebut divalidasi-awal dengan menggunakan data operasi 1 yang menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 81,1508% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1507, tampilan grafik antara kurva temperatur hasil prediksi model . urva mera. dengan data nyata . urva bir. digambarkan pada Gambar 9. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Gambar 9 Grafik perbandingan hasil prediksi model identifikasi sistem dengan data nyata . ata operasi . Setelah itu, model tersebut divalidasi dengan menggunakan data operasi 2 yang menghasilkan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,8596% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1528, tampilan grafik antara kurva temperatur hasil prediksi model . urva mera. dengan data nyata . urva bir. digambarkan pada Gambar 10. Gambar 10 Grafik perbandingan hasil prediksi model identifikasi sistem dengan data nyata . ata operasi . 3 Pembahasan Dari hasil pengolahan data dan validasi yang telah dilakukan apabila dibandingkan dan dirangkum akan tertulis seperti pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan perbandingan antara parameter fungsi alih hasil pemodelan matematis dengan hasil identifikasi sistem terdapat Begitu juga dengan hasil dari validasi model yang menunjukkan nilai kesesuaian kurva tidak dapat mencapai lebih dari 90% dan nilai galat kuadrat rerata tidak bisa lebih kecil dari 1x10-2. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya fenomena yang tidak termodelkan baik dalam pemodelan matematis ataupun dalam identifikasi sistem. Selain itu, kuantitas dan kualitas dari data yang digunakan juga berpengaruh pada estimasi parameter dalam identifikasi sistem ataupun validasi. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Tabel 5 Rangkuman nilai galat kuadrat rerata dan nilai kesesuaian kurva Pemodelan Matematis Identifikasi Sistem Linier -0,988. -0,964. ,217. ,1564. ,01. ,0140. ,01. ,0114. [-0,03. [-0,0457. 0,087. Kriteria Validasi dengan Data 1 MSE. C) 0,1763650 0,1507799 fit(%) 79,614251 81,150828 Validasi dengan Data 2 MSE. C) 0,1632470 0,1528889 fit(%) 86,421826 86,859658 Perbedaan tersebut terlihat cukup signifikan pada fungsi alih perubahan temperatur gas buang terhadap laju aliran batu bara, hal ini dikarenakan dalam identifikasi sistem penentuan parameter hanya berdasarkan estimasi dari data sedangkan dalam pemodelan matematis dimodelkan adanya entalpi masuk dan reaksi pembakaran batu bara . embangkitan kalo. sehingga adanya perbedaan tersebut dapat dikarenakan dalam identifikasi sistem hanya mengestimasi parameter untuk entalpi masukan batu bara dan tidak untuk pembangkitan kalornya. Hal ini membuktikan bahwa dalam identifikasi sistem tidak dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam proses pembakaran batu Dalam identifikasi sistem, tidak dimungkinkan untuk membangun sebuah model yang akurat hanya dari sekumpulan data yang terbatas . Model apapun yang diestimasi dari data yang terkontaminasi dengan error tidak akan pernah bisa akurat. Tidak dimungkinkan juga untuk menghasilkan model yang presisi dari data yang terbatas. Sebuah rekaman data merupakan salah satu dari sekian banyak kemungkinan rekaman data untuk fenomena proses yang sama . Walaupun fenomena proses tersebut diulang . engan membuat seluruh faktor variabel kendali pada nilai yang teta. akan terdapat unsur ketidak pastian yang akan menghasilkan perbedaan pembacaan di mana hal ini dapat disebabkan salah satunya adalah berasal dari gangguan-gangguan secara acak . dalam pengukuran. Sehingga kualitas dari model hasil rekonstruksi parameter yang diestimasi tersebut sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan. Tujuan umum dari identifikasi sistem adalah bukan untuk membentuk suatu model yang benar, tetapi lebih kepada pembentukan model yang dapat berfungsi dengan baik dan berguna, sehingga pembentukan model disesuaikan dengan tujuan diperlukannya model di mana dalam penelitian ini hanya digunakan sebagai pembanding dan untuk menambah argumentasi dalam memahami fenomena proses. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Nilai rerata temperatur gas buang yang didapat dari data operasi dan prediksi dijelaskan dalam Tabel 3 yang menunjukkan bahwa hasil prediksi temperatur oleh model matematis sudah dapat memberikan nilai temperatur yang hampir sama dengan data lapangan. Tabel 6 Nilai rerata temperatur gas buang . C) Prediksi Data Operasi Pemod. Matematis Iden. Sist. Linier 882,253 882,2437 882,2447 881,696 881,6813 881,6823 Dalam penelitian ini, pembuatan model matematis bertujuan untuk memahami sistem dinamika temperatur gas buang ruang bakar secara mendalam sehingga diperlukan model matematis yang bisa merepresentasikan fenomena tersebut. Oleh karena itu, model matematis yang dipilih adalah model hasil penurunan matematis dan identifikasi sistem linier dengan pertimbangan bahwa model matematis hasil dari pemodelan matematis dan identifikasi sistem linier menghasilkan nilai galat kuadrat rerata dan nilai kesesuaian kurva yang sudah cukup baik dan dianggap dapat mewakili dinamika temperatur gas buang ruang bakar. Model matematis yang didapatkan menjelaskan bahwa dinamika temperatur gas buang ruang bakar pada kondisi operasi tunak sesuai dengan batasan ataupun asumsi yang telah ditentukan dipengaruhi oleh masukan utama . aktor utam. berupa laju aliran massa batu bara dan laju aliran massa udara, laju aliran air dan uap yang dipanaskan merupakan gangguan terhadap sistem. Kesimpulan Penelitian mengenai pemodelan dinamika temperatur gas buang ruang bakar ini menghasilkan model matematis dinamika temperatur gas buang ruang bakar tipe CFB boiler dengan pemodelan matematis yang telah berhasil dibuat dan divalidasi dengan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,4218% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1632 oC. Selain itu model matematis dinamika temperatur gas buang ruang bakar tipe CFB boiler dengan identifikasi sistem yang telah berhasil dibuat dan divalidasi dengan nilai kesesuaian kurva sebesar 86,8596% dan nilai galat kuadrat rerata sebesar 0,1529 oC. Nomenklatur Lambang Kuantitas luas Permukaan kalor spesifik laju perubahan energi heat loss in control volume (A. C and D) laju perubahan entalpi laju aliran massa J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. laju perpindahan panas laju kerja coal fraction efficiency of combustion Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Daftar Pustaka