P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK AL-KARIMAH SISWA/I DI SDN 01 DESA JATIMULYO KECAMATAN BELITANG MADANG RAYA KABUPATEN OKU TIMUR Abdus Satar1, Ahmadi2 1 Mahasiswa STIT MU Gumawang. Jl. Irigasi Desa Tanah Merah Kec. Belitang Madang Raya Kabupaten OKU Timur Prov. Sumatera-Selatan 2 Dosen Tetap STIT MU Gumawang. Jl. Irigasi Desa Tanah Merah Kec. Belitang Madang Raya Kabupaten OKU Timur Prov. Sumatera-Selatan Email : 1abdussatar@stitmugu.ac.id, 2ahmadi@stitmugu.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Akhlak al-Karimah Siswa/i di SDN 01 Jatimulyo Kec. Buay Madang Raya, Kabupaten OKU Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2020–September 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus, dengan menggunakkan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam mendeskripsikan hasil wawancara, penelitian ini menggunakan observasi, dan dokumentasi sebagai penguat terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap Bidang Kurikulum, Guru Pendidikan Agama Islam, Peserta didik, Pemeriksaan atau pengecekan keabsahan datanya menggunakan derajat kepercayaan (credibility), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Sedangkan teknik analisis data melalui empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Guru Pendidikan Agama Islam berupaya aktif dalam Pembentukan akhlak al-karimah Siswa/i di SDN 01 Jatimulyo. Guru berupaya sebagai partisipan: memberikan keteladanan bagi Peserta didik, pembiasaan mengucapkan salam, berpakaian Islami, dan memberikan teguran kepada Peserta didik yang melakukan perilaku kurang baik. Guru berupaya sebagai pemimpin: mengajak Peserta didiknya untuk shalat berjamaah, dan menjaga kebersihan. Guru berupaya sebagai motivator: memotivasi Peserta didiknya untuk berakhlak mulia. Perilaku Peserta didik di SDN 01 Jatimulyo Kec. Buay Madang Raya Kab. OKU Timur dapat dikatakan cukup baik. Kata Kunci: Akhlak Karimah, Upaya Guru Agama Islam Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 303 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 A. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi sekarang ini kebanyakan generasi penerus bangsa yang seharusnya melanjutkan perjuangan Bangsa Indonesia malah mulai terpuruk dan bertolak belakang dengan apa yang diharapkan oleh bangsa. Remaja sering lebih meniru tontonan yang ada di televisi ataupun yang dilakukan para kalangan artis daripada mendengarkan apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Kemajuan globalisasi memang banyak manfaatnya jika digunakan untuk hal yang positif akan tetapi untuk saat ini sebagian besar remaja memanfaatkannya untuk hal-hal yang negatif. Sebagai contoh, sarana internet yang dijadikan sebagai ajang nongkrong dan mencari informasi-informasi negatif, lewat facebook, instagram yang digunakan untuk nge-date dan dijadikan alat untuk menjual dirinya. Nauzubillah. Hal ini mengakibatkan turunnya moralitas dan akhlak al-karimah sebagai umat Islam. Hal ini dikarenakan bnayaknya media-media yang sangat mudah diakses oleh kaum pelajar. Seperti internet, televisi, handphone yang memiliki berbagai macam fasilitas. Selain lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh bagi pola pikir siswa/i. Kemajuan IPTEK yang memberi kemudahan dan kenyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta membawa informasi yang terkadang tidak sesuai dengan budaya bangsa sendiri. Sebagai seorang pendidik dan pengajar, guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam proses keberhasilan1. Tingkah laku atau moral guru pada umumnya merupakan penampilan lain dari kepribadiannya.2 Hal ini menunjukkan betapa berperannya seorang guru bagi dunia pendidikan. Melalui pendidikan agama Islam diterapkan ilmu yang akan menganalisa pemikiran diri seseorang menjadi lebih baik dari perubahan yang buruk kedampak perubahan yang lebih baik. Perubahan tersebut adalah pembentukan jati diri dalam kehidupan anak, melalui bimbingan dan pengarahan yang sifatnya kontinyu agar terbentuk akhlak yang baik dalam setiap perilakunya, baik pendidikan agama dari orang tua dalam dari 2 Jaenullah & Suyitno, Kompetensi Guru PAI, Cet. 2, Palembang: NoerFikri, 2017. h 116 3 Ibid, h 71 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 304 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 lingkungan keluarga maupun dari didikan guru dalam lingkungan sekolah serta dari lingkungan masyarakat dimana ia hidup.3 Hendaklah dalam membentuk akhlak al-karimah siswa didik tersebut diperlukan pendidikan tentang keimanan, keyakinan, keteguhan hati pada Allah SWT agar terciptanya pribadi yang berkualitas yang berlandaskan Alqur’an dan As-sunnah agar terbentuk akhlak al-karimah yang diharapkan. Oleh sebab itu, pendidikan tersebut harus diberikan semenjak mereka masih anak-anak, baik pendidikan umum maupun agama, karena kedua materi tersebut akan mampu membentuk pribadi-pribadi yang beriman dan bertakwa yang berkualitas tinggi sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan sebagai khalifah dimuka bumi.4 Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan akhakul karimah peserta didiknya harus didasari dengan pendidikan agama Islam yang bersumber dalam Al-qur’an (landasan pertama yang kebenarannya tidak diragukan lagi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa), As-sunnah (perkataan, perbuatan dan pengakuan Rasulullah SAW) dan Ijtihat (pemikiran syariah Islam dalam menetapkan hal-hal yang belum ditegaskan dalam AlQur’an dan As-sunnah) karenanya seorang pendidik atau pengajar harus memiliki dedikasi, loyalitas, keikhlasan sehingga tugas dan tanggung jawab yang berat dalam mendidik siswanya dalam dijalankan dengan sepenuh hati tanpa beban agar terbentuklah akhlak al-karimah yang diharapkan semua siswa. Setiap siswa memiliki sifat dan pembawaan masing-masing baik yang ada sejak lahir maupun datang dari pengaruh-pengaruh lingkungan sekitar mereka, oleh sebab itu adanya upaya guru pendidikan agama Islam diharapkan dapat membentuk akhlakul karimah diantara semua siswa yang ada. Upaya guru dalam pembentukan akhlakul karimah ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini sangat tepat jika digunakan untuk 3 M. Alfin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000. h. 12 Muzayim Arifin, 2014, Unduh di https://dessierawatibungo.wordpress.com /2014/12/31/ resume-pengantar-pendidikan/ pada tanggal 13 Mei 2020 4 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 305 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 mendidik atau mengajar akhlak, karena untuk pelajaran akhlak dituntut adanya contoh teladan dari pihak pendidik/guru itu sendiri5. Sebagian besar pembentukan akhlak ada pada orang tua, karena pendidikan di rumah atau di lingkungan keluarga lebih banyak dibanding di sekolah, akan tetapi sekolah dan elemen di dalamnya yaitu guru, kepala sekolah dan karyawan memiliki peranan penting dalam mengusahakan pembentukan dan penanaman akhlak peserta didik dan didukung oleh masyarakat sebagai tanggung jawab bersama pendidikan. Sekolah harus bisa menjadi terdepan dalam mengawal generasi muda agar menjadi generasi yang mampu menjadi pilar kemajuan bangsa. Dari permasalahan yang terjadi saat ini, maka penulis tertarik meneliti di salah satu lembaga pendidikan sekolah dasar yang siswa/i nya sebagian besar dari daerah-daerah kurang strategis yang memungkinkan berpengaruh terhadap peserta didik. Penulis mengamati proses pengajaran di SD tersebut sudah berjalan dengan efektif, akan tetapi moralitas siswa/i nya masih sangatlah kurang serta kebanyakan kendala yang di temui, diantaranya kurangnya jam pelajaran Aqidah akhlak dalam sekolah tersebut, belum lagi masalah disekitar sekolah yang dapat memberikan pengaruh buruk bagi peserta didik di sekolah tersebut, misalnya berani dengan guru, membuat keonaran di sekolah (melanggar peraturan sekolah) dan lebih fatal lagi adanya premanisme terhadap peserta didik yang dianggap lemah. Hal tersebut merupakan akibat dari pengaruh lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang kurang baik untuk itu maka disinilah upaya guru pendidikan agama Islam dalam pembentukan akhlakul karimah harus diterapkan agar terciptanya contoh teladan yang baik dan Islami seperti contoh Rasulullah SAW yang berazaskan Al-qur’an, As-sunnah dan Ijtihad yang diharapkan semua peserta didik dan orangtua juga pihak sekolah. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam 8 Jaenullah & Suyitno, Kompetensi Guru PAI, h 116 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 306 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Pembentukan Akhlak Al-Karimah Siswa/I di SDN 01 Desa Jatimulyo Kecamatan Belitang Madang Raya Kabupaten OKU Timur. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Akhlak Al-Karimah Siswa/I di SDN 01 Desa Jatimulyo Kecamatan Belitang Madang Raya Kabupaten OKU Timur. Jika ditinjau dari tujuan tersebut, maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian lapangan (Field Research)6Pendekatan yang penulis dianggap cocok dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis dan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek dalam penelitian ini adalah Upaya Guru PAI dalam Pembentukan Akhlak Siswa/i di di SDN 01 Desa Jatimulyo. Sedangkan subjek penelitian adalah Kepala Sekolah, Guru PAI, dan Siswa/i di SDN 01 Desa Jatimulyo Kecamatan Belitang Madang Raya Kabupaten OKU Timur. Selanjutnya, teknik pengumpulan data, dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi serta teknik Analisis data yang digunakan adalah model Interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri atas pengumpulan data mentah, display data, reduksi data dan verifikasi/ kesimpulan.7 C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Temuan Penelitian Melalui proses pengamatan, wawancara dan studi dokumen yang peneliti lakukan, maka temuan-temuan penelitian ini merupakan hasil penelitian. 1. Upaya Guru Agama Islam dalam Upaya Akhlak Karimah Peserta didik 6 Moelong, Lexy. J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosydakarya, 2006. h. 3. 7 Zulfa, Umi. Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan II, Yogyakarta: Cahaya Ilmu, 2010. h. 166, Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 307 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Pada dasarnya anak memiliki sifat mudah meniru, tidak saja yang baik, yang kurang baikpun ditiru. Begitu pula dengan Peserta didik di sekolah, Peserta didik biasanya meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya karena guru merupakan teladan bagi Peserta didik-Peserta didiknya. Maka guru Pendidikan Agama Islam memberikan beberapa keteladanan seperti: datang tepat waktu, bertutur kata yang baik, mengucapkan salam, menyapa Peserta didik, tegas, menyayangi Peserta didik, dan menjaga kebersihan. Peneliti mengamati ketika guru agama masuk ke dalam kelas guru mengucapkan salam, menanyakan kabar Peserta didik, dan melakukan kegiatan bersih-bersih terlebih dahulu, karena kelas terlihat banyak sampah, setiap Peserta didik diperintahkan untuk membuang sampah. Hal ini jika dilakukan dan dibiasakan akan melekat di jiwa dan nurani Peserta didik, sehingga melahirkan pengalaman individu yang memunculkan sikap dan kepribadian yang baik. Guru agama Islam juga berupaya memberikan motivasi kepada Peserta didikPeserta didiknya, Dalam menyampaikan materi, Guru pendidikan agama juga Islam menghubungkan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari guru memberikan dorongan misalnya memberikan kisah-kisah yang mendorong semangat untuk bisa mengamalkan akhlakul karimah. Tidak hanya di dalam kelas di luar kelas pun guru menerapkan pembiasaan kepada Peserta didik dengan mengucapkan salam jika bertemu dengan guru, terlihat setiap Peserta didik yang bertemu dengan guru mengucapkan salam dan mencium tangan. Guru juga menyapa jika bertemu dengan Peserta didiknya, mengajak ngobrol, merangkul Peserta didik sebagai teman dan menjadikan diri mereka sebagai orang tua Peserta didik di sekolah. Dalam upaya Peserta didik menjadi individu yang agamis, selain dalam hal perilaku, peneliti juga melihat guru agama Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 308 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 memberikan contoh dalam hal pakaian dengan guru mengunakan pakaian yang rapih juga menutup auratnya 2. Metode yang digunakan guru pendidikan agama Islam dalam upaya pembentukan Akhlak al-Karimah Peserta didik. Guru Pendidikan Agama Islam menggunakan metode di dalam upaya pembentukan akhlak karimah Peserta didik, hal ini dilakukan agar peserta didik (siswa/i) cepat mengerti, paham, dan tanggap dalam menangkap pesan yang hendak disampaikan. Dalam upaya akhlak karimah Peserta didik Guru Pendidikan Agama Islam menggunakan beberapa metode, yaitu: a. Metode Teladan atau Contoh Salah satu metode yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam adalah metode teladan atau contoh. guru Pendidikan Agama Islam merupakan pengawal moral Peserta didik, seperti yang dikatakan Bpk. Untung A.Ma (Guru PAI Sekolah SDN 01 Jatimulyo) bahwa : “hakikatnya semua guru Pendidikan Agama Islam adalah pengawal moral. Sebelum menjadi pengawal moral Peserta didik ya tentu harus diperbaiki dulu yang mengawal, akhlak gurunya, karena akan menjadi contoh yang keliatan”. Selain itu pak beliau juga mengatakan : “Anak yang lahir bagaikan kertas yang masih bersih, itu artinya tergantung bagaimana seorang pendidik membawa Peserta didik tersebut jika mengarahkan kearah hal yang baik, maka Peserta didik akan terarah yang baik begitupun sebaliknya. akan tetapi ketika anak tersebut sudah terjun ke dunia pergaulan kita selaku pendidik (guru) juga butuh upaya orang tua untuk mengawasi anak ketika dia akan terjun di dunia pergaulan agar si anak tidak salah lingkungan pergaulan”. b. Metode Pembiasaan Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 309 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Selain metode ceramah, guru Pendidikan Agama Islam juga menggunakan metode pembiasaan, hal ini dimaksudkan agar Peserta didik dibiasakan terbiasa berperilaku baik, di sekolah maupun di rumah. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Untung bahwa : “dalam upaya akhlakul karimah Peserta didik selain adanya bimbingan dan juga contoh, adanya pembiasaan yang dilakukan di sekolah, di antaranya melaksanakan shalat sunnah Dhuha, shalat fardu berjamaah dalam memperkenalkan akhlak karimah dengan pembiasaan. Mulai dari masuk, pembiasaan kita dengan membaca al-Quran dan berdoa, terus pembiasaan dengan melaksanakan shalat, menyapa Peserta didik dan sebagainya, jadi penerapan sejak dini pembinaanya.”8 Kegiatan pembiasaan diciptakaan di SDN 01 Desa Jatimulyo, seperti bagaimana seorang Peserta didik menghormati sesama, menghormati yang lebih tua termasuk gurunya. c. Metode Teguran Jika ada Peserta didik yang melakukan akhlak yang kurang baik maka akan diberikan teguran, sekecil apapun kesalahannya. Kita sebagai guru agama harus memberikan contoh atau menegur Peserta didik sekecil apapun, saat Peserta didik melakukan kesalahan kita wajib menegurnya. Misalnya menyapa dengan temannya menggunakan bahasa yang kurang tepat kita sebagai guru tolong jangan bosanbosannya untuk menegur, “jangan gitu kurang baik”, begitu setiap hari kita tanamkan. Hal tersebut juga diperkuat oleh Ibu Shalihah selaku Guru yang mengatakan9: 8 9 Wawancara Bpk Untung (Guru PAI) pada tanggal 27 Juli 2020 Wawancara Ibu Shalihah (Guru ) pada tanggal 27 Juli 2020 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 310 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 “Ada semacam kontrol terhadap Peserta didik itu sendiri, misalnya Peserta didik yang tidak melaksanakan shalat adanya teguran dari pihak sekolah, apabila mereka tidak melakukan kewajiban kedisiplinan dari sekolah itu sendiri ada teguran dari sekolah guru yang berwenang”. Saat melakukan pengamatan, terlihat di perpustakaan ada Peserta didik yang bercandanya berlebihan, dengan bermain saling memukul, kemudian guru agama Islam menegurnya. 3. Faktor pendorong dalam Upaya Pembentukan Akhlak alKarimah Siswa/i di SDN 01 Desa Jatimulyo Kec. Buay Madang Raya Kab. OKU Timur . Faktor pendorong dalam upaya akhlak karimah Peserta didik adalah sebagai motivasi agar Peserta didik memiliki dan melakukan perilaku baik. Ada beberapa faktor-faktor pendorong dalam upaya akhlak karimah Peserta didik yaitu : a. Orang Tua Orang tua merupakan faktor pertama dan utama dalam upaya akhlak anak-anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan ayah memegang kendali tauhid bagi anakanaknya. Pengasuhan anak berada di pundak keduanya. Anak akan meniru apa yang orangtuanya lakukan, jika orangtuanya berperilaku baik maka anak tersebut akan menjadi baik, namun sebaliknya jika orangtua berperilaku buruk maka anak akan berperilaku buruk. Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Untung bahwa: “Faktor pendorong dalam upaya akhlak Peserta didik yaitu orang tuanya terlebih dahulu, seorang mama, seorang ayah memberikan contoh. Merekakan melihat setiap hari, contohnya baik anak akan meniru, tapi kalau contohnya banyak yang kurang baik merekapun akan meniru yang kurang baik Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 311 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 dukungan dari orang tuapun sangat diperlukan dalam upaya akhlak Peserta didik, seperti kebiasaan yang orang tua lakukan di rumah, dengan membiasakan memakai hijab”. b. Contoh atau Teladan Faktor selanjutnya adalah contoh atau suri tauladan yang diberikan oleh semua guru yang ada di sekolah, bukan hanya guru agama Islam tetapi semua guru mata pelajaran dengan giat dan aktif menunjukan perilaku yang karimah, dengan begitu Peserta didik berkeinginan melakukan akhlak karimah. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Zainal selaku waka SDN 01 bahwa : “faktor pendorong agar anak memiliki karakter berakhlakul karimah, terutama adanya contoh yang diberikan semua guru di sekolah sehingga mereka ada keinginan untuk melakukan akhlakul karimah. Juga dengan sangat kebetulan adanya masjid yang terletak didepan sekolah merupakan sarana yang bisa dijadikan factor pendorong untuk mengajak seluruh Peserta didik solat berjamaah dan dapat melaksanakan solat dengan tepat waktu”. c. Penghargaan (Reward) Penghargaan (reward) diberikan oleh sekolah atau guru kepada Peserta didik yang melakukan akhlak karimah, dengan cara memberikan sanjungan kepada Peserta didik tersebut, diberikan satu penghargaan karena Peserta didik melakukan akhlak yang baik. 4. Faktor Penghambat guru Pendidikan Agama Islam dalam Upaya Pembentukan Akhlak al-Karimah Peserta didik di SDN 01 Desa Jatimulyo Kec. Buay Madang Raya, Kab. OKU Timur. Suatu kegiatan terkadang tidak berjalan sesuai dengan harapan, pelaksanaan kegiatan tersebut berjalan kurang lancar mengalami hambatan, begitupula dalam upaya pembentukan akhlak al-karimah Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 312 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Peserta didik, ada beberapa faktor penghambat yang dihadapi guru pendidikan agama Islam, antara lain: a. Latar Belakang Keluarga yang berbeda-beda Saat pertama kali Peserta didik masuk menjadi Peserta didik, memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Hal ini menjadi hambatan dalam upaya akhlak Peserta didik. seperti yang dikatakan oleh Bapak Untung bahwa : “anak kita ini semuanya sudah membawa perilaku dari rumah ke sekolah dengan berbagai macam variasi masalahnya, yang orangtuanya harmonis dan orang tuanya broken home tampilannya beda.” b. Internet Saat ini internet sudah menjadi life style atau gaya hidup masyarakat. Internet dapat memudahkan manusia dalam berkomunikasi, mencari informasi, belanja, dan segala bentuk kegiatan. Selain memiliki segudang manfaat, internet juga memiliki dampak yang negatif, jika disalah gunakan oleh Peserta didik. Dengan internet Peserta didik dengan mudah dapat mengakses segala hal, seperti yang dikatakan oleh Bapak Untung bahwa : “zaman sekarang teknologi sudah berkembang sangat pesat, dengan internet mudah mengakses apa aja kecanduan internet, bisa melihat apa saja, belajarnya dikesampingkan oleh anak-anak, karna asik bermain gadget.” Media sosial kini juga sudah menjadi bagian dari hidup Peserta didik, hal tersebut seperti yang Bpk Zainal sampaikan bahwa: “Faktor penghambat sekarang adalah media sosial, anak sekarangkan sukanya sama handphone, bukan setiap waktu, tapi setiap detik. Kita sebagai pendidik, sebagai orang tua, berusaha membendung media sekarang. Kita sebagai orang tua sebagai guru jangan lengah, setiap detik kita perhatikan kita pantau Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 313 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 kalau ada hal-hal yang kurang baik yang tidak sesuai dengan agama”.10 c. Teman Seorang teman yang baik seperti pembawa minyak wangi kastruri dan teman yang buruk seperti peniup api. Jika berteman dengan orang baik akan menjadi baik, sebaliknya jika berteman dengan teman yang buruk akan membawa kehancuran. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Bapak Untung bahwa: “Pergaulan Peserta didik di rumah suka bergaul dengan teman-teman yang memiliki akhlak yang buruk, maka hal itu akan mempercepat Peserta didik tidak memiliki akhlak karimah karna di rumah sudah tidak memiliki akhlakul karimah di sekolahpun bisa jadi perilaku yang di rumah bisa diikuti dan juga bisa mempengaruhi peserta didik yang lainya”. Teman mempunyai pengaruh yang besar, karena segala bentuk perilaku baik ataupun kurang baik yang teman lakukan akan berpengaruh dan melekat dalam diri individu. Beliau juga menambahkan, saat ini Peserta didik suka mengikuti temannya, sekalipun itu perilaku buruk. Jika Peserta didik tidak mengikuti temannya akan merasa ketinggalan zaman. d. Televisi Televisi kini lebih banyak menayangkan acara yang bersifat hiburan dibandingkan acara yang mendidik, sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Zainal : “Faktor pertama dari luar sekolah, di antaranya yaitu di rumah itu sendiri yaitu televisi, dari tontonan yang mereka saksikan selama di rumah adalah tontonan yang banyak sekali tidak menunjukkan akhlak al-karimah kepada orang tua, anak-anak kita menyaksikan sinetron yang ada di televisi, tayangan- tayangan misalnya mereka berani untuk melawan terhadap orang tua juga 10 Wawancara kepada Bpk Zainal (Waka Kurikulum SDN 01 Jatimulyo) 22 Juli 2020 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 314 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 banyaknya film yang bergenre romantis dapat mempengaruhi pola pikir peserta didik menjadi ke hal yang negatif maksud saya seperti pacaran diusia yang masih sangat dini”. Menurut beliau tayangan sinetron adalah satu faktor yang membuat Peserta didik berani melawan orang tuanya juga dapat merusak pergaulan yang mencondong ke pergaulan bebas, sehingga Peserta didik tidak memiliki akhlak yang baik di rumah maupun di sekolah. e. Sumber Daya Manusia (SDM) Dalam membina akhlak karimah dibutuhkan komitmen dari seluruh sumber daya manusia yang ada di sekolah, seperti kepala sekolah, tata usaha, guru dan Peserta didik. guru terkadang kelelahan, dan masalah yang dimilikinya, sehingga kurang memperhatikan bahwa ada anak yang akhlaknya tidak baik. Bapak Zainal selaku bidang kurikulum juga mengatakan: “Komitmen mengedepankan akhlak, bukan hanya antar anak, antar guru, pegawai dengan anak, inikan koridornya harus selalu akhlak yang karimah, ya namanya juga manusia anak-anak tanpa control akhlaknya kurang baik, guru terkadang karna faktor kelelahan, faktor segala macam, mungkin masalah pribadinya, kurang memperhatikan bahwa ada anak yang akhlaknya tidak baik harusnya langsung dilakukan pembinaan akhlak, terkadang ya itu kurang, jadi kalau ditanyakan adakah faktor, faktor sumber daya manusia (SDM) yang perlu ditingkatkan untuk berkomitmen bersama-sama baik guru maupun pegawai maupun anak-anak”. b. Pembahasan Hasil Penelitian Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 315 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Setelah data dipaparkan dan menghasilkan temuan-temuan, maka kegiatan berikutnya adalah mengkaji hakikat dan makna temuan penelitian. Dari pemaparan hasil penelitian terdapat pembahasan yang peneliti anggap penting. Pembahasn-pembahasan itu sebagai berikut : 1. Metode Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Akhlakul Karimah Peserta didik di SDN 01 Desa Jatimulyo sebagai berikut : a. Sebagai pembimbing Guru dapat di ibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (juorner), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini istilah perjalanan tidak hannya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kereatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan komplek11. b. Sebagai pengajar Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa Peserta didiknya kepada tujuan yang ingin dicapai12. c. Sebagai pendidik Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para Peserta didik, dan lingkungannya. Oleh kaena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, mandiri, dan disiplin. Dengan adanya berbagai bentuk upaya yang dilakukan di atas, dimaksudkan untuk memberi dorongan pada pesera didik. Agar dapat menyentuh ranah kongnitif, afektif maupun psikomotorik sehingga tujuan dari peningkatan dapat tercapai. 11 12 E. Mulyasa, Menjadi guru Inspiratif, Yogyakarta :Pustaka Pustaka, 2009, h. 56 Akhyak, Profil Pendidikan Sukses, Surabaya: Elkaf, 2005. h. 76 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 316 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan menunjukan bahwa upaya yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan akhlakul karimah Peserta didik sudah diterapkan. Upaya tersebut dilakukan untuk menambah dorongan kepada Peserta didik untuk sopan maupun bertingkah laku yang baik. Akan tetapi alangkah lebih baiknya apabila seorang guru Pendidikan Agama Islam menguasai karakteristik pisikologi anak didik dan mengetahui latar belakang yang menyebabkan mereka memiliki akhlak yang kurang baik ataupun kurang memiliki tingkah laku yang kurang baik. 2. Upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Akhlak Al-Karimah Peserta didik di SDN 01 Jatimulyo sebagai berikut : Dari temuan penelitian sebelumnya dapat dikemukakan bahwa secara umum upaya yang dilakukan guru dalam pembentukan akhlak al-Karimah Peserta didik melalui pendekatan situasional atau sesuai dengan situasi dan kondisinya, melalui pendekatan individual dan kelompok, hal ini dapat dilihat dari beberapa karakteristik pembelajar yaitu, pendekatan dilakukan secara individual dan kelompok. 3. Faktor pendukung dan penghambat dalam Pembentukan Akhlak al- karimah Siswa/i di SDN 01 Desa Jatimulyo sebagai berikut : a. Faktor internal 1) Aspek Fisikologis Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otak) yang menanda tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sandinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas Peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Kondisi Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 317 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 organ tubuh yang lemah, apalagi Peserta didik disertai dengan pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang kurang berbekas. Kondisi organ-organ khusus Peserta didik, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan Peserta didik dalam menyerap informassi dan pengetahuan khusunya yang disajikan di kelas13. Banyak faktor yang termasuk aspek pisikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran peserta didik. Namun, diantara factor-faktor rohaniah Peserta didik yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut a) Naluri Setiap manusia yang lahir di dunia ini pasti mempunyai naluri mirip seperti hewan, letak perbedaannya naluri manusia disertai oleh akal pikiran sedangkan naluri hewan tidak demikian adanya. Oleh karena itu naluri manusia bisa dapat melakukan tujuan yang ingin dikerjakan, sedangkan akal bertujuan untuk mewujudkan cara untuk mewujudkan tujuannya. b) Sikap Peserta didik Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk bereaksi atau merespon (response tendency) Peserta didik yang positif, terutama kepada anda dan mata pelajaran anda yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar Peserta didik tersebut. 13 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 105. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 318 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Seharusnya sifat negatif Peserta didik terhadap anda dan pelajaran anda, apalagi jika diiringi dengan kebencian kepada anda dan mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar belajar Peserta didik tersebut. b. Faktor Eksternal Faktor ini sering disebut dengan faktor lingkungan, ada yang : Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman kelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang Peserta didik, masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan Peserta didik tersebut. Lingkungan non sosial ialah gedung sekolahan dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga Peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan Peserta didik. Pengaruh dari benda mati, seperti geografi, iklim, cuaca, perabotan rumah, atau hasil kebudayaan, media massa, elektronik, media cetak dan sebagainya. Setiap aktivitas dalam upaya mengembangkan di bidang keilmuan senantiasa dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat. Demikian juga halnya dalam upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan akhlakul karimah Peserta didik di SDN 01 Jatimulyo. Adapun faktor pendukung yang di hadapi tersebut adalah adanya fasilitas yang mendukung, dan adanya program wajib sekolahan yang mendukung peningkatan akhlak al-karimah Peserta didik Adapun faktor penghambatnya adalah kurang adanya kesadaran Peserta didik seperti pergaulan mereka ketika di luar sekolah. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 319 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 Ketika Peserta didik berhubungan dengan teman luar mereka yang mempunyai tingkah laku kurang baik, sehingga mereka melakukan hal yang sama ketika di sekolah, dan juga faktor lingkungan sekitar sekolahan, namun kesemuanya itu tetap mendorong guru Pendidikan Agama Islam untuk tetap berupaya dalam pembentukan akhlak al-karimah Peserta didik. D. PENUTUP Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari hasil di lapangan, yang hasilnya dapat diambil kesimpulan, bahwa Upaya dalam Pembentukan Akhlak Al-Karimah siswa/i di SDN 01 Desa Jatimulyo Kec. Buay Madang Raya, Kab. OKU Timur telah berjalan dengan baik walaupun belum sepenuhnya efektif. Sebagaimana ada sedikit yang perlu di pertimbangkan demi terwujudnya akhlak al-karimah Siswa/i di SDN 01 Jatimulyo, diantaranya: 1. 2. 3. 4. Peneliti berharap seluruh pengelola sekolah ikut melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Begitu juga bukan hanya guru agama, tetapi guru mata pelajaran lain baik laki-laki dan perempuan juga ikut melaksanakan shalat berjamaah di masjid, karena selama ini yang terlihat hanya guru laki-laki. Hal ini dilakukan karena semua guru adalah figure bagi Peserta didik. Guru Pendidikan Agama Islam sebaiknya lebih sering berinteraksi dengan Peserta didik, bukan hanya di dalam kelas, namun di luar kelas dan di luar lingkungan sekolah, dan secara khusus terus-menerus memberikan arahan yang Peserta didik butuhkan dalam mengembangkan kompetensi akhlak al-karimah pada diri Peserta didik. Adanya ruang khusus bagi guru agama Islam dalam memberikan nasehat- nasehat Islami bagi Peserta didik yang melakukan pelanggaran, agar Peserta didik menyadari apa yang telah diperbuat. Peneliti berharap sekolah membuat tulisan tata tertib dan hukuman bagi yang melanggarnya, diletakkan di depan sekolah. Sehingga Peserta didik mengetahui, dan tidak ada lagi Peserta didik yang melakukan pelanggaran. Karena selama ini Peserta didik mengetahui tata tertib hanya dari buku penghubung antara orang tua, Peserta didik, dan sekolah, yang diberikan saat Peserta didik menjadi Peserta didik baru Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 320 P-ISSN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) Volume XIII,No.2, Desember 2020,hlm.303-321 E. DAFTAR PUSTAKA Akhyak, Profil Pendidikan Sukses, Surabaya: Elkaf, 2005. Ayyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2002. E. Mulyasa, Menjadi guru Inspiratif, Yogyakarta :Pustaka Pustaka, 2009. Jaenullah & Suyitno, Kompetensi Guru PAI, Cet. 2, Palembang: NoerFikri, 2017. M. Alfin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Alqur’an), cet. 1, Jakarta: Lentera Hati, 2002. Moelong, Lexy. J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosydakarya, 2006. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, h. 105. Muzayim Arifin, 2014, Unduh di https://dessierawatibungo.wordpress.com /2014/12/31/ resume-pengantar-pendidikan/ pada tanggal 13 Mei 2020 Samuel Socitie, 2016, Unduh di lenterahati95.blogspot.com Umar Tirtaraharja Dan S. L. La sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka cipta 2000. Undang-Undang Dasar RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Cintra Umbara, 2003. User Usman, Profesionalisme Guru, Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Zulfa, Umi. Metode Penelitian Pendidikan, Cetakan II, Yogyakarta: Cahaya Ilmu, 2010. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misbah) V o l u m e X I I I , N o . 2 , D e s e m b e r 2 0 2 0 , h l m . 3 0 3 - 3 2 1 | 321