HUBUNGAN KESEPIAN DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA REMAJA DI SMP CAHAYA SURABAYA Aristina HalawaA*. Hendro Djoko TjahjonoA. Dewi MulyaningrumA 1,2 ,3 Program Studi S1 Keperawatan STIKes William Booth. Jl. Cimanuk No. 20 Surabaya *Corresponding Author : Aristina Halawa Email : aristinahalawa123@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami kesepian akibat perubahan sosial dan psikologis yang mereka alami. Kesepian yang berkepanjangan dapat mendorong remaja untuk mencari pelarian melalui internet, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kecanduan internet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesepian dengan kecanduan internet pada remaja di SMP Cahaya Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan metode crosectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 151 siswa kelas Vi di SMP Cahaya Surabaya yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner UCLA Loneliness Scale Version i3 untuk mengukur tingkat kesepian dan Internet Addiction Test i(IAT) untuk mengukur tingkat kecanduan internet. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil: Pada penelitian ini responden yang menunjukkan kesepian rendah sebanyak i68,2% sedang yang mengalami kecanduan internet ringan sebanyak i60,9%. Dengan p-value i0,003. Semakin tinggi tingkat kesepian yang dialami remaja, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kecanduan internet. Kesimpulan: Kesepian memiliki hubungan positif dengan kecanduan internet pada remaja. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dari pihak sekolah, keluarga, dan tenaga pendidik untuk mengurangi kesepian dan mengontrol penggunaan internet pada remaja agar tidak berlebihan. Kata kunci: Kesepian, kecanduan internet, remaja ABSTRACT Introduction: Adolescents are a vulnerable group prone to experiencing loneliness due to social and psychological changes. Prolonged loneliness may lead them to seek solace in the internet, increasing the risk of internet addiction. This study aims to analyze the relationship between loneliness and internet addiction among adolescents at SMP Cahaya Surabaya. Methods: This study employed a quantitative approach with a descriptive correlational design and a crosectional method. The sample consisted of i151 eighth-grade students at SMP Cahaya Surabaya, selected through simple random sampling. Data were collected using the UCLA Loneliness Scale Version i3 to measure loneliness levels and the Internet Addiction Test i(IAT) to assess internet addiction levels. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. Results: This study found that i68. 2% of respondents exhibited a low level of loneliness, while i60. experienced mild internet addiction, with a p-value of i0. The findings indicate a significant correlation between loneliness and internet addiction among adolescents at SMP Cahaya Surabaya i. -value i< i0. The results suggest that the higher the level of loneliness experienced by adolescents, the greater their likelihood of developing internet addiction. Conclusion: Loneliness has a positive correlation with internet addiction among adolescents. Therefore, interventions from schools, families, and educators are necessary to reduce loneliness and regulate adolescentsAo internet use to prevent excessive consumption. Keywords: Loneliness, internet addiction, adolescents PENDAHULUAN World Health Organization i(WHO) tahun i2018 menjelaskan, remaja adalah penduduk dalam rentang usia i10 hingga i19 tahun. Sementara itu. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor i25 tahun i2014 menggambarkan remaja adalah penduduk dalam rentang usia i10-18 tahun i(Ayu Putri Ariani et al. , i2. Usia remaja kerap kali dianggap sebagai usia yang rentan dan labil karena pada masa ini remaja banyak mengalami perubahan besar baik dari segi fisik maupun psikologi Penelitian sebelumnya mencatat bahwa beberapa remaja mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang berarti, sementara yang lain mungkin kehilangan hubungan yang sudah terbentuk karena perpisahan atau konflik i(Cahyanti i& Neviyarni. Individu yang tidak memiliki hubungan sosial yang bermakna berisiko mengalami kesepian, suatu pengalaman yang tidak menyenangkan yang dapat dialami oleh siapa saja i(Fatwana, i2. Remaja mengalami berbagai permasalahan saat melengkapi fungsi perkembangan hidupnya, terdapat beberapa dari remaja pernah merasa kurang mampu menjalani relasi sosialnya bahkan cenderung menjauh dari lingkungan sosial i(Febriani, i2. Kesepian telah dikaitkan dengan peningkatan penggunaan internet. Remaja yang kesepian mungkin tertarik online karena meningkatnya potensi persahabatan, pola interaksi yang berubah secara online dan sebagai cara untuk memodulasi suasana hati negative yang terkait dengan kesepian. Individu yang mengalami kesepian mungkin lebih banyak menggunakan waktunya pada media sosial sebagai upaya untuk mengatasi perasaan kesepian, oleh sebab itu kesepian memiliki kaitan dengan mengkatnya penggunaan internet yang menjadi berlebihan i(Latief i& Retnowati, i2. Penelitian yang dilakukan oleh Krisnadi i. menemukan bahwa terdapat pengaruh positif antara tingkat kesepian dan kecanduan internet. Hasil ini konsisten dengan penelitian Kim et al. yang menunjukkan bahwa faktor psikososial seperti kesepian dapat mendorong penggunaan internet secara berlebihan i(Krisnadi i& Adhandayani. Terdapat sekitar i85 juta anak-anak di Indonesia, dengan jumlah remaja i. sia i10-19 tahu. mencapai angka i46,8 juta jiwa dan masih terus bertambah. Badan Pusat Satistik i. menyebutkan terdapat i5. 216 remaja usia i1019 tahun di Jawa Timur. Sebuah studi pada tahun i2020 yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan bahwa sekitar i10% remaja di Indonesia mengalami kesepian secara signifikan. Survei yang dilakukan oleh APJII i. mengenai jumlah pengguna internet berdasarkan kelompok usia, ditemukan bahwa sebanyak i16,68% berusia i13-18 tahun, i49,52% berusia i1934 tahun, i29,54% berusia i35-54 tahun dan i4,24% berusia di atas i54 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa pengguna internet di Indonesia didominasi oleh mereka yang berusia produktif, yaitu berkisar antara i18-40 tahun i(Krisnadi i& Adhandayani. Menurut Kominfo i. , bahwa Surabaya, kota dengan jumlah pengguna Smartphone terbesar kedua setelah Jakarta, memiliki i956 ribu orang dan sebanyak i113. remaja menggunakan Smartphone. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh perempuan pada tahun i2018 menemukan bahwa i60% remaja kecanduan Smartphone di Surabaya i(Hatmanti et , i2. Berdasarkan studi pendahuluan di siswa kelas Vi di SMP Cahaya i i7 dari i10 siswa merasa kesepian dan ke i7 siswa yang merasa kesepian ini juga mengalami kecanduan internet. Kesepian merupakan persepsi individu akan adanya rasa terisolasi secara sosial i(Hawkley i& Cacioppo, i2. Hawkley i& Cacioppo i. mengemukakan bahwa kesepian adalah kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi secara kuantitas terutama pada kebutuhan orang lain secara Selama masa remaja, individu mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan, yang dapat membuat periode transisi ini menjadi menantang i(Sagita i& Hermawan, i2. Perubahan-perubahan ini menyebabkan remaja lebih rentan mengalami kesepian dibandingkan dengan remaja pada tahap perkembangan lainnya i(Agriyanti i& Rahmasari, i2. Pada remaja kelas i8, remaja cenderung menggunakan strategi tertentu lebih sering daripada yang lainnya. Pada tahap ini, yaitu masa remaja pertengahan, mereka mulai mengatasi rasa kesepian dengan cara menghindari masalah dan lebih memusatkan perhatian pada emosinya. Remaja kelas i8 telah mulai mengenali lingkungan sekitar mereka dengan lebih baik serta mengalami perkembangan kognitif dan emosional yang lebih matang. Remaja yang sedang mengalami masa transisi akan lebih mudah mengalami kesepian, ketika remaja kesepian dan tidak terfasilitasi untuk berinteraksi secara sosial maka remaja akan mengalihkan kebutuhan interaksi sosialnya kepada media internet i(Garvin, i2. Penggunaan internet pada remaja dapat i memberikan dampak positif dan negative, hal ini terjadi karena remaja cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan efek yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet i(Dharmawan, i2. Dampak positif yang ditimbulkan oleh internet antara lain memudahkan surat menyurat, mengirim pesan, chatting, mengambil atau mengirim informasi dan sarana hiburan i(Fauziawati, i2. Namun pada umumnya remaja tidak mampu memfilter hal-hal baik atau buruk dari internet tersebut, sehingga remaja rentan terkena dampak negaitif dari penggunaannya. Diantara dampak negative dari penggunaan internet adalah kedisiplinan belajar menurun, muncul stress dan kecemasan, serta kehilangan konsep diri i(Ayu Putri Ariani et al. , i2. Penelitian yang dilakukan oleh Jannah i. , ada beberapa remaja yang menghabiskan waktu untuk mengakses internet, tidak focus saat mengikuti pelajaran, suka menunda-nunda pelajaran, kurang berinteraksi dengan sesama, bersikap autis terhadap lingkungan, serta rela meninggalkan kewajiban demi mengakses Seseorang yang kecanduan internet akan kecakapannya dalam berhubungan dengan orang lain sehingga membuat hubungan social dan interaksi mereka dengan keluarga, teman dan orang sekitarnya menjadi kurang baik serta mengalami prestasi akademis yang menurun. Remaja yang kecanduan internet dapat mengalami gangguan panic dan stress i(Ayu Putri Ariani et al. , i2. Penggunaan internet yang berlebihan tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi merusak kesehatan mental individu i(Fatmawati, i2. Hal ini akan mengganggu tugas perkembangan remaja menjadi tidak sesuai dengan tahap-tahap perkembangan yang Kemungkinan besar remaja akan mengalami ketidakpercayaan diri dan lain Ketidakpercayaan diri ini akan membuat keyakinan dalam jiwa remaja bahwa tantangan hidup apapun yang dihadapi akan terasa sulit jika tidak berbuat sesuatu i(Sari. Ayu i2. METODE PENELITIAN Desain penelitian menggunakan penelitian kuantiatif dengan yang digunakan correlation. Dengan pendekatan cross sectional. Dengan jumlah populasi sebanyak i242 siswa kelas Vi SMP Cahaya Surabaya dengan teknik sampling simple random sampling dengan jumlah sampel i151 responden, sumber data primer dengan i kuesioner dengan alat uji spearman. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner UCLA Loneliness Scale Version i3 untuk mengukur tingkat kesepian dan Internet Addiction Test i(IAT) untuk mengukur tingkat kecanduan internet. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk menentukan hubungan antara kedua variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Umum Data umum didapatkan dari hasil penyebaran kuesioner yang di isi oleh reponden mengenai data demografi responden antara lain yaitu jenis kelamin, usia responden, serumah dengan, durasi bermain internet, jumlah saudara, anak keberapa. Tabel i1 Karakteristik Remaja kelas Vi di SMP Cahaya Surabaya, i21-22 Oktober Jenis Usia Laki-laki Perempuan Total 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 13,9% 82,1% Serumah Dengan Durasi Jumlah Anak Ke 15 Tahun 16 Tahun Total Keluarga 97,4% Saudara Dan lainlain Total 1-4 jam 2,6% 50,3% 4-8 jam >8jam Total i 27,8% 21,9% 85,4% Total Total 11,9% 2,6% 94,7% 1,3% Instrumen Kesepian Kategori Tidak Kesepian Kesepian Rendah Kesepian Sedang Kesepian Berat Total 10,6% 68,2% 19,9% 1,3% Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa tingkat kesepian di antara responden menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Mayoritas responden, yaitu sebanyak i103 orang i. ,2%), berada dalam kategori kesepian rendah. Tabel i3 Distribusi frekuensi kecanduan internet pada siswa kelas Vi di SMP Cahaya, i21-22 Oktober i2024 No Instrumen Kategori Kecanduan Normal Internet Kecanduan Ringan Kecanduan Sedang Total Berdasarkan tabel diatas tentang karakteristik data demografi responden remaja kelas Vi di SMP Cahaya diketahui bahwa responden pada penelitian ini yaitu didominasi oleh laki-laki sejumlah i83 orang i. %) dan distribusi usia responden pada rentang usia i13-16 tahun, sebanyak i14 tahun i. ,1%). Ditinjau dari durasi responden dalam bermain internet mayoritas i1-4 jam i. ,3%) serta sebanyak i147 responden i. ,4%) serumah dengan keluarga. Berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata responden memiliki jumlah saudara dalam rentang antara satu hingga empat orang i. ,4%). Selain itu, mayoritas responden menempati posisi sebagai anak pertama hingga anak keempat i. ,7%) dalam keluarganya. 7,3% 60,9% 31,8% 151 100% Berdasarkan data yang ditampilkan dalam tabel, terlihat bahwa tingkat kecanduan internet di antara responden bervariasi. Hasil tertinggi menunjukkan bahwa sebanyak i92 responden i. ,9%) berada pada kategori kecanduan ringan. Temuan ini menggambarkan bahwa mayoritas siswa mengalami tingkat kecanduan ringan. Hubungan Kesepian dengan Kecanduan Internet Data umum didapatkan dari hasil penyebaran kuesioner yang di isi oleh reponden mengenai data demografi responden antara lain yaitu jenis kelamin, usia responden, serumah dengan, durasi bermain internet, jumlah saudara, anak keberapa. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa remaja yang mengalami kesepian lebih rentan mengalami kecanduan internet sebagai bentuk pelarian dari perasaan negatif yang Faktor lain yang dapat mempengaruhi kecanduan internet pada remaja adalah kurangnya kontrol diri dan dukungan sosial dari keluarga. Data Khusus Penyajian data yang ditampilkan data khusus meliputi kesepian dan kecanduan internet dijelaskan berikut ini i: Tabel i2 Distribusi frekuensi Kesepian pada Remaja kelas Vi di SMP Cahaya Surabaya, i21-22 Oktober i2024 Tabel i4 Distribusi frekuensi Hubungan Kesepian dengan Kecanduan Internet pada Remaja Kelas Vi di SMP Cahaya Surabaya, i21-22 Oktober i2024 Varia Indep Dependen Kesep Kecanduan Internet Kecand Kecand Norm Ringan Sedang n % n % n % Tidak Kesep Kesep Rend Kesep Sedan Kesep Berat Total Berdasarkan tabel i2, mayoritas responden i. ,2%) termasuk dalam kategori kesepian rendah. Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu milik Sari i& Hidayati i. dimana tingkat kesepian pada siswa kelas IX SMP Negeri i2 Semarang sebagian besar rendah i. %), hal tersebut dikarenakan faktor lingkungan secara internal dan eksternal. remaja dengan konsep diri negatif cenderung merasa tidak disenangi orang Ia merasa tidak diperhatikan, sehingga tidak dapat menciptakan kehangatan dan keakraban. Perasaan rendah diri akan menyebabkan remaja merasa malu dan kesepian, sebab individu selalu membandingkan diri dengan orang lain i(Hurlock, pada tabel i1 didapatkan bahwa i147 responden tinggal bersama keluarga. Sejalan dengan penelitian oleh Kerns et al. , dukungan keluarga yang baik dapat mengurangi perasaan kesepian pada remaja, karena keluarga berfungsi sebagai sumber keamanan emosional dan Selain itu. Rafaelli i& Crockett i. menjelaskan bahwa remaja yang memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua atau anggota keluarga lainnya cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah, karena mereka merasa didukung dalam mengatasi tantangan sosial dan emosional yang mereka hadapi. Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah saudara dalam keluarga bervariasi, mulai dari anak pertama hingga memiliki empat saudara. Memiliki lebih banyak saudara berpotensi meningkatkan interaksi sosial dan dukungan keluarga, yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat kesepian. Namun, kualitas hubungan antar saudara dan dinamika keluarga juga menjadi faktor penting dalam menentukan dampak i Selain jumlah saudara, urutan kelahiran juga dapat memengaruhi tingkat kesepian Dengan demikian, tidak hanya jumlah saudara, tetapi juga posisi dalam keluarga dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengalami dan mengatasi kesepian i(Sibs, i2. Hasil dari penelitian ini didapatkan laki-laki berjumlah i83 dan perempuan berjumlah i68. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan dengan Feniati Rahayu Aisyah i. yang menjelaskan mengenai variabel jenis kelamin, penelitian ini Total P value i: i0,003 i r i: i0,238 Berdasarkan tabel i4 dapat diketahui bahwa dari i16 responden tidak mengalami kesepian i. ,6%), sedang i103 responden mengalami kesepian rendah i. , i2%), kemudian i30 responden mengalami kesepian sedang i. ,9%), dan yang i i terakhir i2 responden mengalami kesepian berat i. ,3%). Hasil uji statistik rank spearman dengan bantuan program SPSS diperoleh nilai signifikansi sebesar i0,003. Karena nilai signifikansi i. -taile. lebih kecil dari i0,05, sehingga H1 diterima artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kesepian dan kecanduan internet pada remaja kelas Vi di SMP Cahaya Surabaya. Selanjutnya, menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara kedua variabel adalah i0,238. PEMBAHASAN Kesepian pada Remaja mengungkapkan bahwa perempuan i55,4% memiliki kesepian lebih tinggi dibandingkan lakilaki i44,6%. Beberapa studi menemukan bahwa laki-laki cenderung mengalami tingkat kesepian yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh baik dapat berdampak pada kesehatan mental remaja, termasuk meningkatnya risiko stres dan depresi norma sosial yang mendorong laki-laki untuk menekan perasaan mereka, sehingga menghambat mereka dalam mencari dukungan emosional i(Wulandari i& Nurcahyo, i2. Kesepian yang dialami remaja, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan menghambat perkembangan mereka, serta menimbulkan perasaan terisolasi secara sosial i(Febriani, i2. menurut opini peneliti meskipun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesepian dalam kategori rendah, hal ini tetap perlu mendapatkan perhatian serius. Kesepian yang terabaikan, meskipun tidak berada pada tingkat yang tinggi, dapat berpotensi mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan sosial individu dalam jangka Diperlukan juga upaya efektif untuk mereduksi kesepian pada siswa. Kita harus memahami, mencoba untuk terlibat dalam kegiatan yang melibatkan interaksi sosial, seperti olahraga bersama, koneksi sosial tidak selalu berarti memiliki banyak teman iAi kualitas hubungan jauh lebih Memulai percakapan dengan seseorang yang dipercaya atau bergabung dalam komunitas yang memiliki minat serupa bisa menjadi awal yang baik. Guru BK memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan melalui layanan bimbingan konseling yang optimal. Selain membangun hubungan baik dengan siswa, konselor juga perlu menjaga komunikasi dengan stakeholder seperti orang tua, wali, dan lingkungan sekolah untuk mendukung pengembangan diri siswa secara oleh berbagai faktor, di antaranya aspek individu, keluarga, lingkungan sosial, serta karakteristik internet itu sendiri. Dari aspek individu, kondisi psikologis menjadi salah satu faktor yang berperan Sejalan dengan penelitian Fatwana Nurul i. terdapat i156 siswa i. ,2%) yang mengalami kecanduan internet sedang. Internet menjadi salah satu alternative dalam mengurangi Tingkat stres, kesepian, kecemasan, atau depresi dapat mendorong remaja untuk menggunakan internet sebagai bentuk pelarian Pada tabel i1 ditemukan bahwa responden mayoritas bermain internet selama i1-4 jam. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. , seseorang dapat dianggap mengalami kecanduan internet apabila penggunaan internetnya melampaui tiga puluh menit per hari atau dilakukan lebih dari tiga kali dalam sehari. Penelitian ini juga mengungkap adanya perbedaan usia dalam penggunaan internet. Jika ditinjau dari kelompok usia remaja, sebagian besar pengguna berusia i14 Faktor utama yang mempengaruhi hal ini adalah kemajuan teknologi yang pesat pada saat remaja di bawah i16 tahun lahir, sehingga mereka lebih dini mengenal internet. Berdasarkan pendapat Thomas i. alam Rahmaniar. Prihandini, i& Janitra, i2. , remaja masa kini tergolong dalam generasi milenial, di mana mereka tumbuh di era digital yang menjadikan teknologi dan internet sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada tingkat kecanduan ringan, dampak yang paling sering muncul adalah mood modification atau perubahan suasana hati, serta relapse atau kecenderungan untuk kambuh. Individu yang mengalami mood modification cenderung menggunakan internet sebagai bentuk pelarian dari masalah yang dihadapi, dengan perasaan puas setiap kali mengakses internet. Sementara itu, remaja yang mengalami relapse sering kali kesulitan mengurangi durasi penggunaan internet, karena mereka berusaha memenuhi efek mood modification yang sebelumnya Menurut opini peneliti tingginya prevalensi kecanduan internet ringan dan sedang di kalangan remaja mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak Kecanduan Internet pada Remaja Berdasarkan Tabel i3, sebagian besar responden mengalami kecanduan internet ringan sebanyak i92 Kecanduan internet pada remaja dipengaruhi untuk pendekatan edukatif yang lebih efektif dalam menangani isu ini. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi yang tidak hanya berfokus pada pembatasan waktu penggunaan internet, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak psikologis dari kecanduan internet. Pendekatan ini harus melibatkan kolaborasi antara orang tua, pendidik, dan lembaga terkait untuk menciptakan strategi yang terstruktur dan berkelanjutan dalam membangun kebiasaan digital yang sehat pada remaja. itu, kesepian berhubungan dengan peningkatan penggunaan internet yang berlebihan i(Kusuma Rini i& Huriah, i2. Dengan temuan ini, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya hubungan antara kesepian dan kecanduan internet dapat diterima. Menurut opini peneliti memberikan gambaran bahwa meskipun hubungan antara kesepian dan kecanduan internet memang ada, pengaruhnya tidak terlalu kuat. Oleh karena itu, meskipun kesepian berkontribusi pada kecanduan internet, faktor lain juga kemungkinan turut memengaruhi tingkat kecanduan internet pada Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggali faktor-faktor lain yang mungkin turut berperan dalam hubungan ini. Hubungan Kesepian dan Kecanduan Internet pada Remaja Remaja yang merasa kesepian cenderung lebih sering menggunakan internet sebagai sarana untuk mengisi kekosongan emosional dan sosial yang mereka rasakan Internet menawarkan kemudahan untuk berinteraksi secara virtual dan mengakses berbagai hiburan, yang bagi sebagian remaja dapat menjadi pengganti interaksi sosial di dunia nyata. Semakin tinggi tingkat kesepian yang dialami, semakin besar frekuensi penggunaan internet, sehingga meningkatkan risiko kecanduan internet pada kelompok usia ini. Hal ini juga didukung dengan jurnal yang menjelaskan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung lebih sering mencari pelarian melalui internet untuk mengisi kekosongan emosional mereka i(Zelfina i& Nurmina, i2. Penggunaan internet yang berlebihan sebagai pelarian dari kesepian justru dapat memperburuk perasaan terisolasi, karena interaksi online sering kali bersifat dangkal dan tidak memenuhi kebutuhan sosial yang mendalam i i(Cahyanti i& Neviyarni, i2. Penelitian yang dilakukan iSembiring i. mengungkapkan bahwa kesepian merupakan perasaan kekurangan akibat hubungan sosial yang tidak memenuhi Selain itu, kesepian juga dipandang sebagai bentuk pengasingan sosial yang memiliki peran penting dalam perkembangan psikologis remaja. Dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa individu yang mengalami kesepian cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di internet untuk mengatasi perasaan kesepian mereka. Oleh karena KESIMPULAN Remaja siswa di SMP Cahaya Surabaya mayoritas berada pada tingkat kesepian Remaja siswa di SMP Cahaya Surabaya mayoritas berada pada kecanduan internet kategori ringan. Ada hubungan signifikan antara kesepian dan kecanduan internet. Hal ini mengindikasikan bahwa individu yang mengalami kesepian cenderung lebih rentan untuk terlibat dalam penggunaan internet secara berlebihan, yang dapat berkembang menjadi kecanduan. SARAN Bagi Sekolah: Bagi tempat penelitian Untuk pihak sekolah diharapkan dapat kegiatan baik ekstrakulikuler maupun intrakulikuler baik secara kognitif maupun secara fisik agar bisa menimimalkan terjadinya kesepian dan kecanduan internet pada remaja. Bagi STIKES Diharapkan dapat mencegah dan menangani dampak negative kesepian dan kecanduan internet pada remaja baik melalui pendidikan, penelitian maupun aksi sosial. Bagi peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengambil judul hubungan antara kecanduan media sosial dengan kesehatan mental remaja. Selain itu juga dapat memperluas populasi dan memperbanyak sampel agar generalisasi penelitian menjadi lebih luas. Psychology, i3. , i47Ae55. https://jca. id/index. php/jpsy/artic le/view/187 Kusuma Rini. , i& Huriah. Prevalensi dan Dampak Kecanduan Gadget Pada Remaja: Literature Review. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, i5. , i185Ae https://doi. org/10. 30651/jkm. Nauri. dan A. Metodologi Penelitian Kesehatan. Pusat Pendidikan SDM Kesehatan, i307. Rachmawati, i. HUBUNGAN KECANDUAN INTERNET TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA. Sembiring. Hubungan Antara Kesepian Dan Kecenderungan Narsisistik Pada Pengguna Jejaring Sosial Media Instagram. Jurnal Psikologi, i16. , i147. https://doi. org/10. 14710/jp. Zelfina. , i& Nurmina. Hubungan Antara Loneliness Dengan Internet Addiction Pada Remaja Pengguna Media Sosial. CAUSALITA : Journal Of Psychology, i1. , i109Ae115. https://doi. org/10. 62260/causalita. DAFTAR PUSTAKA