Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 5 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: 10. 37542/iq. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah Arizka Harisa 1. Ali Imran2. Wildan Alwi3 Institut PTIQ Jakarta Institut PTIQ Jakarta Institut PTIQ Jakarta arizkaharisa@ptiq. aliimran@ptiq. wildanalwi@ptiq. Abstrak: Pendidikan pencak silat Pagar Nusa bertujuan mencetak manusia bertakwa, beribadah dan sempurna agar kokoh dalam menjalankan kehidupan. Di sisi lain perhatian Islam terhadap pendidikan sangatlah besaragar tujuan pendidikan menjadikan manusia paripurna . nsan kami. dapat direalisasikan. Ini berarti bahwa tujuan pendidikan dalam pencak silat Pagar Nusa memiliki hubungan yang kuat dengan tujuan pendidikan Islam, yang tidak terlepas dari tujuan penciptaan manusia,dalam mencetak manusia unggul. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui relevansi pendidikan pencak silat Pagar Nusa dengan tujuan pendidikan Islam. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu mencari ayat-ayat yang mempunyai unsur-unsur tujuan pendidikan Islam yang kemudian ditafsirkan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan pencak silat Pagar Nusa bertujuan untuk mencapai nilai-nilai ketakwaandan periibadatan kepada Allah, serta menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi dengan sempurna. Hal ini relevan dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional. Kemampuan Mengajar. Pengelolaan Kelas Abstract: This research aims to know and analyze about the emotional intelligence of teachers and teacher teaching ability which is associated with the quality of classroom management, allegedly the emotional intelligence of teachers and the ability to teach teachers has a relationship to the quality of classroom management in schools. For this reason, in this study using quantitative analysis to look for relationships between variables, research data was collected using questionnaires with a likert scale to teachers at the State High School (SMAN) in Ciputat South Tangerang. From research, it can be known that emotional intelligence has a relationship with improving the quality of classroom management, as well as the ability to teach teachers who have a relationship with efforts to improve the quality of classroom Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi management in schools. In other words, efforts to improve the quality of class management at school in the implementation of the learning process can be done by the emotional intelligence in the teacher, and there is an increase in teaching ability owned by teachers, a teacher as a leader in the school class needs to have emotional intelligence and high teaching ability so that it will produce a quality learning process created by quality classroom management. Keywords: Emotional Intelligence. Teaching Ability. Classroom Management Pendahuluan Terselenggaranya pendidikan yang bermutu, sangat ditentukan oleh guru-guru yang bermutu pula, yaitu guru yang dapat menyelenggarakan tugas-tugas secara memadai. 1 Faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan di sekolah adalah seorang tenaga pendidik yaitu guru. Hamalik2 mengungkapkan jabatan guru adalah suatu jabatan profesi. Sebagai seorang tenaga pendidik seorang guru dituntut untuk professional dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Pembelajaran merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pembelajaran oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pembelajaran. Seorang guru sebagai tenaga pendidik diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas diri guru dalam mengajar, mampu meningkatkan kinerja mengajar di sekolah, dengan tujuan mencapai kualitas pendidikan yang tinggi, untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru diharuskan untuk mampu dalam mengelola kelas dengan baik, pengelolaan kelas menjadi cikal bakal berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Menurut Mulyasa3 mengatakan pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam Ay Pengelolaan kelas mengarah pada peran guru untuk menata pembelajaran secara klasikal dengan cara mengelola perbedaan-perbedaan kekuatan individual menjadi sebuah aktivitas belajar bersama di dukung fasilitas yang terdapat di dalam kelas. Dalam pengelolaan kelas, seorang guru memiliki peranan menciptakan, memperbaiki, dan memelihara organisasi kelas, dimana dengan pengelolaan kelas tersebut sehingga dapat mengembangkan kemampuan peserta didik, bakat dan motivasi siswa untuk tetap semangat dalam belajar. Pengelolaan kelas menghidupkan dan mengoptimalkan kemampuan dalam penggunaan fasilitas belajar dan 1 Prawiroatmodjo. Denda Surono. Hasil Penelitian Pembinaan Kompetensi Mengajar. Jakarta: Lembaga Penelitian IKIP Jakarta, 1987 hal. Hamalik. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya, 2002 hal. Mulyasa. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009 hal. 74 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah kegiatan pembelajaran di sekolah. Pengelolaan kelas pada prinsipnya pengaturan semua program kerja dikelas dengan pengaturan yang baik oleh guru sehingga efisien, serta memaksimalkan sumber daya yang tersedia sehingga efisien. Dirjen Dikdasmen4 yang menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah untuk Aumewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Ay Pengelolaan kelas sangat dibutuhkan untuk menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas, guru sebagai tenaga pendidik membutuhkan kemampuan dalam mengelola seluruh aktivitas yang menunjang proses pembelajaran di kelas. Salah satu aktivitas yang dibutuhkan guru dalam pengelolaan kelas adalah kualitas diri seorang guru yang tercermin pada kecerdasan emosional guru dalam proses pembelajaran. Di dalam proses pembelajaran membutuhkan kecerdasan emosional dari seorang tenaga pendidik. Seorang guru yang memiliki kecerdasan emosi dapat dikatakan bahwa guru tersebut mampu membedakan nilai moral, menyesuaikan aturan yang dibarengi dengan pemahaman dan perasaan yang memungkinkan menjadi kreatif, serta mampu mengubah aturan dan situasi yang di sesuaikan dengan kebutuhan dalam proses pembelajaran. Emosi merupakan suatu kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, dan keadaan mental yang hebat atau meluap-luap yang cenderung untuk bertindak. Kecerdasan emosional seseorang sangat bergantung pada seberapa besar kemampuan seseorang dalam mengembangkan emosi dan pikirannya dalam mengekspresikan melalui sikap dan tindakan. Peter Salovey dan jack Mayer sebagai pencipta istilah Aukecerdasan emosionalAo, menjelaskannya bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Ay6 Kecerdasan emosional berfungsi membantu dan membimbing fikiran dan rasa ingin tahu, membuat kita berfikir tentang cara menghindari perilaku negative serta membantu dalam mengatasi dalam pencapaian yang kita perlukan. Dirjen Dikdasmen. Pengelolaan Kelas. Seri Peningkatan Mutu 2. Jakarta: Depdagri dan Depdikbud, 1996 hal. Goleman. Daniel. Emotional Intelligence, terj. Hermaya. Jakarta: Gramedia, 2002 hal. Steven J. Stein dan Howard E Book. The EQ Edge: Emotional Intellegence and Your Succsess. Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, terjemahan Trinanda Rainy Januarsari dan Yudhi Murtanto. Bandung : Kaifa, 2002 hal. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. 01 2022 . Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi Patton7 memberikan batasan kecerdasan emosional Aupada dasarnya mencakupi semua sifat kesadaran diri, pengurusan suasana hati . , motivasi diri, pengendalian inpulsif atau desakan diri, dan keterampilan mengendalikan orang lain. Selain kecerdasan emosional, dalam pengelolaan kelas seorang guru membutuhkan kemampuan mengajar, sebagai tenaga pendidik mengajar menjadi inti pokok tugas dan kewajiban guru dalam mendidik siswa. Guru mempunyai pengaruh dominan terhadap kualitas proses belajar mengajar di sekolah. untuk itu perlu adanya peningkatan kemampuan mengajar guru. Menurut Sukmadinata8 Aypembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru menciptakan situasi agar siswa belajarAy. Secara jelas terlihat bahwa guru sangat penting dalam keberlangsungan suatu aktivitas pembelajaran, dengan adanya kemampuan mengajar guru dapat memberikan perubahan pada kualitas proses pembelajaran yang pada akhirnya berdampak pada siswa itu sendiri sebagai seorang peserta didik, seorang guru yang memiliki kemampuan mengajar yang baik akan memberikan dampak yang positif pada siswa selama proses pembelajaran, begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itu, diduga dalam upaya peningkatan kualitas pengelolaan kelas, membutuhkan kualitas diri seorang guru, kualitas tersebut terlihat dari kemampuan guru dalam mengendalikan emosi diri serta kemampuan guru dalam menjalankan perannya sebagai seorang tenaga pengajar. Maka dalam kajian ini peneliti ingin mengkaji dan menganalisis mengenai pengelolaan kelas yang dikaitkan dengan kecerdasan emosiona serta kemampuan mengajar guru di sekolah. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan pendekatan Metode tinjauan kuantitatif paling sesuai digunakan untuk melihat hubungan antara variabelAy. 9 Begitu pula dengan Majid10 mengatakan metode kuantitatif digunakan karena: Aykajian kuantitatif sesuai digunakan untuk mengukur variabel atau faktor-faktor yang berkaitan dengan sesuatu fenomena tanpa mempertanyakan mengapa variabel atau faktor tersebut Patton. Patricia. EQ Landasan untuk Meraih Sukses Pribadi dan Karir. Jakarta: PT Mitra Media, 1998 hal. Sukmadinata. Sy. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 hal. Kerlinger. Azaz-Azaz Penelitian Behavioral. Edisi 3 Cetakan 7. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2000 hal. Mohd. Majid Konting. Kaedah penyelidikan pendidikan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990. 76 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah terbentukAy. Penelitian ini pada dasarnya dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa besar hubungan variabel kecerdasan emosional (X. kemampuan mengajar guru (X. , serta kualitas pengelolaan kelas (Y). Sesuai dengan gambaran mengenai penelitian ini, dapat secara jelas disebutkan hipotesis yang terbentuk. Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dari uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah . terdapat pengaruh signifikan dari hubungan kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas di sekolah, . terdapat pengaruh signifikan dari hubungan kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas di sekolah, . terdapat pengaruh signifikan dari hubungan kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama terhadap kualitas pengelolaan kelas di sekolah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru yang terdapat di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Ciputat Tangerang Selatan. Untuk menentukan sampel digunakan teknik random sampling artinya sampel yang diambil secara acak. Sampel dalam penelitian ini diambil 125 orang dari populasi penelitian. Pengambilan sampel didasarkan pendapat Arikunto, yang mengatakan bahwa sebagai ancar-ancar dapat diambil antara 10-15 atau 20-25 % atau dengan mengukur setidak-tidaknya yaitu kemampuan penelitian dilihat dari waktu, tenaga dan dana. sempit luasnya wilayah pengamatan dan setiap objek, karena menyangkut sedikitnya data. besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti. Penelitian ini dilaksanakan pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Ciputat Tangerang Selatan. Penetapan penelitian ini didasarkan pada pertimbangan kemudahan, keterbatasan dan dana yang tersedia dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan terhadap para guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Ciputat Tangerang Selatan. Dalam penelitian ini, untuk mengumpulkan data-data variabel penelitian penulis menggunakan teknik penyebaran skala. Tujuannya untuk memperoleh dan mempermudah penulis dalam mengumpulkan data pengetahuan guru tentang kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru dalam peningkatan kualitas pengelolaan kelas. Menurut Sugiyono12 teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah memperoleh data. Instrument adalah alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik. Adapun instrument penelitian yang Suharsimin Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2008 hal. Sugiyono. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta, 2012 hal. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. 01 2022 . Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data dilapangan adalah menggunakan skala yang terdiri dari tiga variabel penelitian diantaranya yaitu: kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru . ariabel X), kualitas pengelolaan kelas . ariabel Y). Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan teknik statistika, baik statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Statistika deskriptif yang digunakan adalah ukuran gejala pusat yang meliputi rata-rata, median dan modus, dan ukuran penyebaran atau variabilitas dengan menggunakan standar deviasi dan rentang skor. Statistika inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah analisis regresi, korelasi dan uji T. Sebelum dilakukan analisis inferensial harus dilakukan pengujian persyaratan analisis, antara lain: uji validitas, uji reliabilitas data dan uji distribusi normalitas. Untuk mengetahui keeratan dan arah hubungan antara dua variabel serta digunakan analisis korelasi Menurut Sugiyono interpretasi koefisien korelasi yaitu 0. 00- 0. angat renda. , 399 . , 0. 40-0,599 . , 0. , 0. angat kua. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi pada variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat. Regresi dapat juga diartikan sebagai suatu usaha dalam memprediksi adanya suatu perubahan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hubungan Kecerdasan Emosional Terhadap Kualitas Pengelolaan Kelas Untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas digunakan analisis regresi. Dari hasil perhitungan diperoleh a = 0. dengan nilai konstanta sebesar 81. Dengan memasukkan a dan b ke dalam persamaan regresi Y atas X1 =81. 521X1. Untuk mengetahui apakah model persamaan garis regresi signifikan atau tidak, dapat dilakukan dengan menggunakan analisis varians . ji F) dengan kriteria penilaian Fhitung > Ftabel . Dari hasil perhitungan diketahui nilai Fhitung sebesar 74. 429 dengan nilai 000, diketahui Fhitung > Ftabel . 429> 3,. pada = 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien arah regresi Y atas X1 sangat signifikan atau sangat berarti pada taraf signifikansi a = 0. Dengan demikian persamaan = 81. 521X1 dapat digunakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan lebih lanjut mengenai hubungan antara kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas. Nilai koefisien korelasi kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas dapat dilihat pada tabel 1. Riduwan. Metode Penelitian untuk Tesis. Bandung: Alfabeta, 2007 hal 2 78 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah Tabel 1 Koefisien Korelasi Kecerdasan Emosional Terhadap Kualitas Pengelolaan Kelas Standardized Unstandardized Coefficients Model (Constan. Coefficients Std. Error Kecerdasan Emosional Beta Sig. Dependent Variabel: Kualitas Pengelolaan Kelas Untuk mengetahui apakah persamaan garis regresi linier atau tidak dapat menggunakan uji linieritas regresi. Kriteria penilaian adalah Fhitung < Ftabel. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung 1. sedangkan nilai Ftabel pada a = 0. 05 sebesar 4. 02, hal ini menunjukkan bahwa nilai Fhitung < Ftabel. Dengan demikian model persamaan regresi tersebut linier. Selanjutnya dilakukan uji korelasi antara X1 dan Y. Dari hasil analisa korelasi sederhana diperoleh koefisien korelasi ry1 = 0. 614 dan koefisien determinasi r2y1 = 0. artinya variasi kualitas pengelolaan kelas di sekolah dapat dijelaskan dari variansi kecerdasan emosional guru sebesar 37. Hasil perhitungan korelasi dan determinasi dapat dilihat pada Tabel 2 Nilai Korelasi dan Determinasi Variabel Std. Error of the Model R Square Adjusted R Square Estimate Predictors: (Constan. Kecerdasan Emosional Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas dan teruji signifikan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin baik kecerdasan emosional yang dimiliki guru maka akan meningkatkan kualitas pengelolaan kelas di sekolah pula. Hubungan Antara Kemampuan Mengajar Guru Terhadap Kualitas Pengelolaan Kelas. Untuk mengetahui hubungan antara kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas siswa digunakan analisis regresi dan korelasi. Dari hasil perhitungan diperoleh a = 0. 456, dengan nilai konstanta sebesar 85. Dengan memasukkan a ke dalam persamaan regresi Y atas X2 =85. 456X2. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. 01 2022 . Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi Untuk mengetahui apakah model persamaan garis regresi signifikan atau tidak, dapat dilakukan dengan menggunakan analisis varians . ji F) dengan kriteria penilaian Fhitung > Ftabel . Dari hasil perhitungan diketahui nilai Fhitung sebesar 45,189, dengan nilai 000, diketahui Fhitung > Ftabel . ,189> 3,. pada = 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien arah regresi Y atas X2 sangat signifikan atau sangat berarti pada taraf signifikansi a = 0. Dengan demikian persamaan = 85. 456X2 dapat digunakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan lebih lanjut mengenai hubungan antara kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas. Nilai koefisien korelasi kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas dapat dilihat pada table 3. Tabel 3 Koefisien Korelasi Kemampuan Mengajar Guru Terhadap Kualitas Pengelolaan Kelas Unstandardized Coefficients Model Std. Error (Constan. Kemampuan Mengajar Guru Dependent Variable: Kualitas Pengelolaan Kelas Standardized Coefficients Beta Sig. Untuk mengetahui apakah persamaan garis regresi linier atau tidak dapat menggunakan uji linieritas regresi. Kriteria penilaian adalah Fhitung < Ftabel. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung 1. sedangkan nilai Ftabel pada a = 0. 05 sebesar 4. 02, hal ini menunjukkan bahwa nilai Fhitung < Ftabel. Dengan demikian model persamaan regresi tersebut linier. Selanjutnya dilakukan uji korelasi antara X2 dan Y. Dari hasil analisa korelasi sederhana diperoleh koefisien korelasi ry2 = 0. 518 dan koefisien determinasi r2y2 = 0. artinya variasi kualitas pengelolaan kelas di sekolah dapat dijelaskan dari variansi kemampuan mengajar guru sebesar 26. Hasil perhitungan korelasi dan determinasi dapat dilihat pada Tabel 4 Nilai Korelasi dan Determinasi Variabel Model R Square Adjusted R Std. Error of the Square Estimate Predictors: (Constan. Kemampuan Mengajar Guru 80 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas dan teruji signifikan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin baik kemampuan mengajar guru yang ada di sekolah maka akan meningkatkan kualitas pengelolaan kelas di sekolah pula. Hubungan Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Secara Bersamasama Terhadap Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah. Untuk mencari hubungan kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama terhadap kualitas pengelolaan kelas di sekolah, maka dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi dan regresi jamak. Perhitungan regresi jamak data variabel kualitas pengelolaan kelas menghasilkan arah regresi a1 sebesar, 0. 410 untuk variabel X1 . ecerdasan emosiona. , a2 sebesar 0. 173 untuk variabel X2 . emampuan mengajar gur. , serta konstanta a sebesar 72. Bentuk antar variabel bebas dengan variabel terikat tersebut dapat digambarkan oleh persamaan regresi = 72. 410X1 0. 173X2. Sebelum digunakan untuk keperluan prediksi, persamaan regresi ini harus dilakukan uji keberartian Untuk mengetahui derajat keberartian persamaan regresi jamak, dilakukan uji F dan hasilnya disajikan pada tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5 Analisis Varians Regresi Linear Jamak = 72. 410X1 0. 173X2. Unstandardized Coefficients Model (Constan. Kecerdasan Emosional Std. Error Standardized Coefficients Beta Kemampuan Mengajar Guru Predictors: (Constan. , kecerdasan emosional, kemampuan mengajar guru Dependent Variable: Kualitas pengelolaan kelas. Sig. Berdasarkan analisis varians regresi jamak pada tabel 5 di atas diketahui harga Fhitung > Ftabel . 427>3,. pada = 0,05, maka dapat disimpulkan regresi jamak 410X1 0. 173X2, sangat signifikan. Kekuatan korelasi jamak antara variabel X1. X2 dengan variabel Y diperoleh koefisien korelasi R = 0,631. Temuan ini membuktikan bahwa terdapat hubungan positif kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama terhadap kualitas pengelolaan kelas di sekolah, teruji kebenarannya. Koefisien determinasi antara variabel (X1. dengan variabel terikat (Y) adalah sebesar R2 = . 2 = 0,399 ini menunjukkan bahwa 39. 9% variasi yang terjadi pada variabel kualitas pengelolaan kelas dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. 01 2022 . Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi kecerdasan emosional, dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama melalui persamaan regresi = 72. 410X1 0. 173X2. Variansi sisanya sebesar 0,601 atau 60. dijelaskan oleh variabel lainnya. Hasil perhitungan korelasi dan determinasi dapat dilihat pada Tabel 6 Nilai Korelasi dan Determinasi Variabel Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Kemampuan Mengajar Guru. Kecerdasan Emosional Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, ternyata ketiga hipotesis penelitian yang diajukan secara signifikan dapat diterima. Uraian masing-masing penerimaan hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut : Pertama, hipotesis pertama menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional guru terhadap kualitas pengelolaan kelas. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0. 614 dan signifikansi koefisien regresi F sebesar 429 yang signifikan pada taraf nyata a = 0. Pola hubungan antara kedua variabel dinyatakan oleh persamaan regresi = 81. 521X1. Persamaan ini memberikan informasi setiap perubahan satu unit kecerdasan emosional guru akan mengakibatkan terjadinya perubahan kualitas pengelolaan kelas sebesar 0. 521 pada konstanta 74. Hasil analisis korelasi sederhana antara kecerdasan emosional terhadap kualitas pengelolaan kelas diperoleh nilai sebesar 0. 614, nilai ini memberi arti bahwa hubungan antara kecerdasan emosional guru terhadap kualitas pengelolaan kelas positif. Artinya semakin tinggi kualitas kecerdasan emosional seorang guru maka makin tinggi pula tingkat kualitas pengelolaan kelas yang ditampilkan di sekolah. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional guru akan semakin rendah kualitas pengelolaan kelas yang diperlihatkan. Serta nilai determinasi ry1 sebesar 0. 377, secara statistik nilai ini memberikan pengertian bahwa sebanyak 7% variasi perubahan kualitas pengelolaan kelas ditentukan oleh kecerdasan emosional guru dengan pola hubungan fungsionalnya seperti yang ditunjukkan oleh persamaan regresi tersebut di atas. Kedua, hipotesis kedua menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas. Hal ini ditunjukkan oleh 82 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah koefisien korelasi sebesar 0. 518 dan signifikansi koefisien regresi F sebesar 45. 189 yang signifikan pada taraf nyata a = 0. Pola hubungan antara variabel dinyatakan oleh persamaan regresi = 85. 456X2. Persamaan ini memberikan informasi bahwa setiap perubahan satu unit nilai pada kemampuan mengajar guru akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada nilai kualitas pengelolaan kelas sebesar 0. 456 pada konstanta 85. Hasil analisis korelasi sederhana antara proses pembelajaran dengan pembinaan akhlak siswa diperoleh nilai korelasi ry2 sebesar 0. Nilai ini memberikan arti bahwa hubungan antara kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas positif. Artinya semakin tinggi kemampuan mengajar seorang guru maka makin tinggi pula tingkat kualitas pengelolaan kelas yang ditampilkan di sekolah. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah kemampuan mengajar guru akan semakin rendah kualitas pengelolaan kelas yang diperlihatkan. Serta nilai determinasi ry2 sebesar 0. 269, secara statistik nilai ini memberikan pengertian bahwa sebanyak 9% variasi perubahan kualitas pengelolaan kelas ditentukan oleh kemampuan mengajar guru dengan pola hubungan fungsionalnya seperti yang ditunjukkan oleh persamaan regresi tersebut di atas. Ketiga, hipotesis ketiga menyimpulkan terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama terhadap kualitas pengelolaan kelas. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0. 631 dan signifikansi koefisien regresi F sebesar 40. 427 yang signifikan pada taraf nyata a = 0. Pola hubungan antara ketiga variabel dinyatakan oleh persamaan regresi = 72. 410X1 0. 173X2. Persamaan ini memberikan informasi bahwa setiap perubahan satu unit nilai skor kecerdasan emosional guru dan kemampuan mengajar guru akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada kualitas pengelolaan kelas sebesar 0. 410 dan 0. 173 pada konstanta 72. Hasil analisis korelasi ganda antara kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru diperoleh nilai koefisien korelasi ganda ry12. Nilai ini menunjukkan bahwa hubungan antara kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru secara bersama-sama dengan kualitas pengelolaan kelas positif. Dengan demikian berarti makin baik kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru akan makin baik pula hubungannya dengan kualitas pengelolaan kelas di sekolah. Sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru maka akan makin rendah pula kualitas pengelolaan kelas yang Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dipaparkan bahwa kualitas pengelolaan kelas di sekolah dapat ditingkatkan melalui adanya kecerdasan emosional dalam diri guru, serta adanya IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. 01 2022 . Arizka Harisa. Ali Imran. Wildan Alwi kemampuan mengajar yang tinggi, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Dari hasil temuan yang diperoleh dalam tahap penelitian kuantitatif ini dapat diketahui bahwa sebanyak 37. 7% peningkatan kualitas pengelolaan kelas merupakan hasil dari adanya kecerdasan emosional yang baik dalam diri seorang guru, sebanyak 26. 9% peningkatan kualitas pengelolaan kelas merupakan hasil dari adanya kemampuan mengajar guru di sekolah, sebanyak 39. 9% peningkatan kualitas pengelolaan kelas merupakan hasil dari adanya kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar guru. sehingga diperkirakan bahwa sebesar 60. 1% kualitas pengelolaan kelas disumbangkan oleh variabel-variabel lain yang memiliki hubungan dengan peningkatan pengelolaan kelas baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kesimpulan Dari berbagai uraian dan analisis yang telah dikemukakan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa dari kedua variabel independen penelitian diketahui bahwa konstribusi yang diberikan oleh kecerdasan emosioanal guru dan kemampuan mengajar guru terhadap kualitas pengelolaan kelas, ternyata bahwa kecerdasan emosional guru mempunyai kostribusi lebih besar dibandingkan dengan konstribusi yang diberikan oleh kemampuan mengajar guru. Pengelolaan kelas membutuhkan peran optimal guru yang berfungsi sebagai profesional guna meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Fungsi guru sebagaimana dijelaskan tersebut diterakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bab II pasal 4. Berdasarkan penjelasan tersebut dipahami bahwa guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan . ransfer of knowledg. , tetapi juga harus mampu meningkatkan kualitas Sebab, tujuan pembelajaran hanya akan tercapai bila guru benar-benar menciptakan kelas yang memberi kemungkinan kepada peserta didik untuk belajar dengan nyaman, aman dan menyenangkan. Pengelolaan kelas dalam konteks profesi guru, merupakan upaya peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan terus menerus, sejalan dengan perkembangan peserta didik dan sarana prasarana yang dimiliki oleh sekolah. Pengelolaan kelas sebagai usaha sadar dalam mengatur berbagai kegiatan pembelajaran secara sistematis, yang mengarah pada penyiapan sarana dan prasarana, ruang belajar, serta situasi atau kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu pembelajaran sehingga mencapai tujuan pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah kemampuan guru dalam pengelolaan secara operasional dan efisien 84 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 5 No. Kecerdasan Emosional dan Kemampuan Mengajar Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Kelas di Sekolah tehadap komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Mmenurut Hamalik, kualitas dapat dilihat dari dua sisi, yaitu segi normatif dan segi deskriptif, dalam arti normatif, kualitas ditentukan berdasarkan pertimbangan . intrinsik dan ekstrinsik. Dapat dikatakan bahwa 80% keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan Menurut Casey dan Cob semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, maka semakin besar kemungkinan untuk sukses sebagai pekerja, orang tua, pengurus, anak bagi orang tua kita, meskipun bagi pasangan hidup kita atau calon untuk suatu kedudukkan jabatan. Menurut Thurow yang kutip oleh Sularso, di abad ke-21 perolehan keahlian itu memerlukan perubahan dalam sistem pembelajaran karena alasan: . keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat, . Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru, maka banyak dari keahlian harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan pekerjaan, dan . kebutuhan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. Saran Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu mengukur variabel lain . alam penelitian ini kecerdasan emosional dan kemampuan mengajar gur. yang mempengaruhi kualitas pengelolaan kelas di sekolah. Sehingga bisa menambah khazanah pengetahuan bagi pembaca khusus nya pendidik dalam meningkatkan kualitas pengelolaan kelas di sekolah. Daftar Pustaka