PENERAPAN METODE BERCERITA DENGAN MEDIA KONKREAT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA DINI Azizah. Harmala Dewi. Tini Sulistiani. Adi Asmara. Tomi Hidayat. 1,2,3,4,. Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Bengkulu Indonesia Email : . azizahbkp@gmail. harmaladewitk@gmail. sulastianitini@gmail. adiasmara@umb. tomihidayat@umb. ARTICLE HISTORY Received . Mei 2. Revised . Juni 2. Accepted . Juli 2. This is an open access article under the CCAeBYSA license ABSTRAK Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa yang belajar di tingkat prasekolah melalui metode Telling Story dengan menggunakan media konkret, dalam hal ini penulis memilih media AuNanasAy. Penulis meyakini bahwa dengan menggunakan media konkret, kemampuan berbicara siswa akan meningkat. Subjek pengabdian ini adalah anak-anak berusia lima hingga enam tahun yang tergabung dalam satu kelas, yaitu kelas B di TK Negeri Pembina Argamakmur. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai metodologi dalam menganalisis data. ini terdiri dari dua siklus. Pada siklus pertama, penulis menemukan bahwa kemampuan berbicara siswa masih rendah. Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara, di mana siswa tidak dapat menjelaskan secara rinci informasi mengenai AuNanasAy. Mereka hanya memberikan satu kata sebagai respons, sebagaimana dibuktikan oleh transkrip hasil wawancara (Gambar . Setelah data dikumpulkan, penulis memberikan perlakuan berupa pembelajaran melalui Story Telling dengan menggunakan media konkret. Guru membawa buah AuNanasAy ke dalam kelas dan meminta siswa untuk menyentuh serta mencicipi AuNanasAy. Setelah itu, guru menjelaskan informasi detail mengenai AuNanasAy. Selanjutnya, pada siklus kedua, penulis memberikan post-test berupa Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Siswa mulai menggunakan lebih dari tiga kalimat yang terdiri dari lebih dari tiga kata dalam setiap kalimat. Hal ini dibuktikan melalui transkrip hasil wawancara (Gambar . Temuan ini membuktikan bahwa penggunaan Aumedia konkretAy dalam pengabdian ini, yaitu buah AuNanasAy, merupakan teknik yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. ABSTRACK This research aims to increase the studentAos speaking ability who learn at the preschool by using Telling Story with Concrete Media, in this case the author choose AuPineappleAy. The authors believe by using concrete media the studentAos speaking ability will improve. The subject of this research is the children are fifth until to sixth years, they are one class, it is class B. The school named TK Negeri Pembina Argamakmur. The data collect by documentation, interview and observation. The author use descriptive qualitative as the methodology and analyze data. This research consists of two cycles. At first cycle the author get fact that the studentAos speaking ability is lacking, it is prove by the Interview. The student can not explain with detail what are information regarding AuPineappleAy. They just give one word. it is prove by the trancript . esult of interview (Figure . After got the data the author gives the class treatment. It is Story Telling by using Concrete Media. The teacher entering AuPineappleAy in the classroom and ask student to touch and eatAyPineappleAy, after that the teacher explain detail information regarding AuPineappleAy. After that entering Second Cycle in this stage the author gives Posttest, it is interview, the results show that the studentAos speaking ability has improved than before. The students usemore than three sentence consist of more than three words in one sentence. It is proved by transcript . esul of interview . This is as the proven that AuMedia ConcreteAy in this research is Pineapple is the suitable technique to increase the studentAos speaking ability. Keywords: Telling Method. Media Concrete. The studentAos speaking ability. PENDAHULUAN Kemampuan berbahasa merupakan aspek yang sangat penting untuk perkembangan anak, khususnya bagi mereka yang masih kecil. Bahasa berfungsi sebagai alat utama untuk berkomunikasi, berpikir, dan mengekspresikan perasaan. Anak-anak di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang berumur antara 4 hingga 6 tahun, berada pada tahap krusial untuk perkembangan bahasa. Berdasarkan teori, antara usia 0 hingga 8 tahun, perkembangan otak anak berlangsung dengan sangat pesat. Sekitar 50% dari kecerdasan mereka terbentuk pada usia 4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun, dengan puncaknya terjadi antara usia 8 hingga 18 tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menggunakan pendekatan yang tepat agar perkembangan bahasa mereka dapat berjalan secara optimal. Salah satu cara yang efektif untuk merangsang perkembangan bahasa anak adalah melalui metode Seperti yang dinyatakan dalam teori, bercerita adalah cara yang komunikatif dan edukatif untuk menyampaikan pesan, baik secara lisan maupun tulisan, baik dengan alat bantu maupun tanpa. Metode ini membuat anak-anak merasa senang, melibatkan imajinasi mereka, serta mendorong mereka untuk mendengarkan, memahami, dan mengulang cerita. Cerita yang menarik tidak hanya menambah kosakata, tetapi juga membantu kemampuan mendengar dan berbicara mereka. Untuk membuat kegiatan bercerita menjadi lebih bermakna, sangat penting untuk menggunakan media konkret yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan secara langsung oleh anak. Contohnya adalah buah nanas. Buah ini mudah ditemukan dan dikenal luas, sehingga anak akan lebih mudah memahaminya. Dengan memperkenalkan buah nanas dalam konteks bercerita, mereka tidak hanya dapat membayangkan cerita, tetapi juga merasakan bentuk, tekstur, dan rasanya. Pendekatan yang melibatkan banyak indera ini memperkuat pemahaman anak dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses belajar. Dalam pendidikan anak usia dini, keberhasilan pembelajaran juga bergantung pada kepemimpinan pedagogis guru. Menurut teori, kepemimpinan pedagogis lebih berfokus pada peningkatan kurikulum dan metode pengajaran, dibandingkan dengan aspek manajerial semata. Hal ini menunjukkan bahwa guru yang memiliki kepemimpinan pedagogis mampu merancang strategi pembelajaran yang inovatif, memilih media yang tepat, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu, kepemimpinan pedagogis mencerminkan kemampuan guru dalam memfasilitasi, mengarahkan, dan mengevaluasi pembelajaran secara reflektif. Metode bercerita merupakan pendekatan yang menarik dalam proses pembelajaran, di mana pesan atau nilai dapat disampaikan melalui alur cerita yang menawan. Menurut Farantika dan rekan-rekan . , bercerita tidak hanya berfungsi untuk memberikan nilai moral, tetapi juga berperan penting dalam membantu anak-anak mengembangkan keterampilan esensial seperti bahasa, kognisi, dan emosi. Proses ini terjadi melalui interaksi yang nyata dan edukatif dalam narasi. Dengan bercerita, anak-anak dapat melatih kemampuan mendengarkan, mengingat isi cerita, dan mengungkapkan kembali dengan kata-kata mereka sendiri, sehingga ini menjadi metode yang efektif untuk melatih kemampuan berbahasa. Suyanto . juga menyatakan bahwa bercerita berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan dunia nyata dengan imajinasi anak-anak, dan dapat meningkatkan minat mereka dalam belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Melalui metode ini, anak-anak dapat menuangkan ide-ide mereka ke dalam sebuah narasi, menjelaskan mengapa metode ini sangat penting untuk pengembangan bahasa anak-anak. Media konkret mencakup berbagai benda nyata yang dapat digunakan untuk membantu anak belajar melalui pengamatan langsung. Hal ini sangat penting bagi anak-anak usia dini, karena mereka berada pada tahap berpikir konkret. Menurut Woga & Juita . , media konkret adalah alat belajar yang nyata yang melibatkan indera anak untuk memahami lingkungan secara langsung dan membangun pengetahuan. Dengan menggunakan media konkret, anak-anak dapat melihat objek-objek nyata yang berkontribusi terhadap perkembangan bahasa mereka, dan mereka dapat melihat serta menyentuh benda-benda tersebut secara fisik. Daryanto . juga menyatakan bahwa media konkret mampu meningkatkan kemampuan anak dalam menyerap materi karena melibatkan lebih banyak indera. Sebagai contoh, jika kita membawa nanas saat kegiatan bercerita, anak-anak tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga dapat menyentuh dan mencium, sehingga pengalaman belajar mereka menjadi lebih bermakna. Proses yang melibatkan lebih dari satu indera ini akan membantu kemampuan mereka dalam bercerita. Kepemimpinan pedagogi berkaitan dengan bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi cara belajar dengan memperhatikan sudut pandang anak. Clarkin-Phillips . juga menyatakan bahwa kepemimpinan ini merupakan kunci untuk memberikan dampak positif langsung terhadap pembelajaran Oleh karena itu, penting untuk menerapkan kepemimpinan pedagogis yang mampu membantu anak-anak menjadi lebih mahir dalam bercerita, dan para guru juga perlu terus berinovasi untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman. Di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kepemimpinan ini tercermin dalam cara guru memilih strategi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Misalnya, dalam memilih metode bercerita atau menggunakan alat bantu konkret. Guru sebagai pemimpin dalam proses belajar memegang peranan penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, komprehensif, dan melibatkan anak-anak, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif. Integrasi antara metode bercerita dan media konkret tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan bahasa anak, tetapi juga mencerminkan kualitas kepemimpinan pedagogis guru dalam merancang pembelajaran yang inovatif. Seorang guru yang efektif mampu menganalisis kebutuhan peserta didik, memilih pendekatan yang tepat, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendorong seluruh aspek perkembangan anak. II. METODE Pengabdian ini mengadopsi pendekatan pengabdian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini melalui metode bercerita dengan menggunakan media konkret berupa buah nanas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara langsung. Observasi digunakan untuk menilai perkembangan bahasa anak secara langsung selama kegiatan bercerita. Dokumentasi, yang terdiri dari rekaman suara, foto, dan catatan kegiatan, digunakan untuk merekam proses dan hasil pembelajaran, sementara wawancara informal dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan dari guru dan anak terkait keterlibatan serta respons mereka terhadap metode dan media yang digunakan. Proses tindakan dalam pengabdian ini terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Pada tahap perencanaan, guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dan media buah nanas. Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan dengan guru membacakan cerita dan melibatkan anak secara langsung melalui indera penglihatan, sentuhan, dan penciuman terhadap buah nanas, serta menghadirkan buah nanas di dalam kelas. Hasil pengamatan dicatat dan dianalisis, lalu dilakukan refleksi untuk menentukan langkah selanjutnya atau perbaikan pada siklus berikutnya. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan mengamati peningkatan indikator kemampuan berbahasa anak dari siklus I ke siklus II. Keberhasilan tindakan diukur berdasarkan peningkatan jumlah kosakata, kemampuan menceritakan kembali isi cerita, serta partisipasi aktif anak selama proses bercerita. pengabdian ini juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pemimpin pedagogi yang mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif, konkret, dan bermakna bagi anak usia dini. TUJUAN Meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini, khususnya dalam aspek berbicara dan memperkaya kosakata, melalui penerapan metode bercerita yang menyenangkan dan interaktif. Meningkatkan efektivitas proses pembelajaran di lembaga PAUD dengan menghadirkan media konkret yang relevan dan mudah dijangkau anak. MANFAAT Manfaat pengenalan marketplace kepada karyawan di Pabrik Krupuk Keriting Bahagia ini diharapkan sebagai berikut: Mendorong terciptanya pembelajaran berkualitas yang berorientasi pada perkembangan anak secara menyeluruh. Menjadi bagian dari praktik baik . est practic. yang dapat diduplikasi di lembaga PAUD lainnya. SASARAN Subjek pengabdian terdiri dari dua anak . ata lengkap dapat dilihat di Lampiran . , yang dirujuk sebagai Subjek A dan Subjek B. Keduanya berusia 5 tahun dan terdaftar di TK Negeri Pembina Argamakmur. ini dilakukan pada tanggal 26 Juni 2025 di TK Negeri Pembina Argamakmur. Tujuan utama dari pengabdian ini adalah untuk mengembangkan keterampilan berbahasa anak, meliputi menyimak, berbicara, dan memperkaya kosakata melalui pengalaman yang langsung dan menyenangkan. HASIL DAN PEMBAHASAN pengabdian ini dilaksanakan di TK Negeri Pembina di Kota Argamakmur, tepatnya pada kelompok B yang terdiri dari 4 anak berusia 5 tahun. Yang menjadi focus dan tolak ukur dalam pengabdian ini adalah dua orang anak di dalam kelompok tersebut. Yang di sebut sebagai Subject A dan Subject B. pengabdian berlangsung selama satu hari di tanggal 26 bulan Juni 2025 dengan tujuan meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui penerapan metode bercerita menggunakan media konkret berupa buah nanas. Kegiatan dilakukan dalam dua siklus, dengan setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Adapun hasil lengkap nya sebagai berikut: Pada siklus I, guru bertanya kepada kedua subject apayang merea ketahui mengenai buah nanas sembari memberikan informasi secara singkat namun sudah menggambarkan bagaimana kondisi fisik dari buah nanas yang akan di bahas. Ternyata hasilnya sangat tidak memuaskan, dimana kedua subject hanya bisa menyebutkan 2 kata dalam setiap jawaban nya. Adapun jawaban dari kedua subject di Siklus I adalah seperti berikut: Berdasarkan hasil wawancara pada Siklus 1, tampak sekali bahwa para subject pengabdian hanya dapat menyampaikan kata yang sangat minim. Sehingga belum dapat mengambarkan bentuk fisik dari buah nanas. Hal ini di karenakan mereka tidak dapat melihat langsung dan belum melibatkan panca indera untuk menjelaskan bagaimana bentuk fisik secara detail dan infromasi terkait buah nanas. Hal ini berbanding terbalik dengan Siklus Pada Siklus 2, guru memperbaiki strategi pembelajaran dengan lebih banyak melibatkan anak dalam kegiatan bercerita, baik melalui tanya jawab, menghadirkan meduia secara konkreat dalam hal ini Buah Nanas. Serta melibatkan panca indera para siswa dimana anak-anak diajak menyentuh, mencium, dan menggambarkan buah nanas, serta diberi kesempatan untuk berekspresi secara bebas. Adapun hasil dari Siklus 2 adalah sebagai Berdasarkan hasil wawancara langsung pada Siklus 2. Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan dalam aspek kemampuan berbahasa. Dimana kedua Subject dapat menunjukkan perubahan yang sangat baik. Mereka mampu menceritakan kembali isi cerita dengan benar dan mereka menggunakan lebih dari tiga kosakata baru dari Tampak pada Nomor 2 Subject A sudah mengembangkan kemampuan berbahasa yang signifikan, dimana Subject A menjelaskan pengetahuan nya terkait buah nanas dengan menggunakan tiga kalimat panjang yang terdiri dari tiga kata lebih di setiap kalimatnya. Sejalan dengan Subject A, perkembangan berbahasa pada Subject B sangat jelas terlihat, dimana Subject B dengan lancer mejelaskan pengetahuan nya terkait buah nanas dengan menggunakan lebih dari tiga kata pada setiap kalimat nya dan informasinya terprinci. Serta kedua subject menunjukkan penambahan kosa kata seperti kulit nya kasar, ada matanya, rasanya manis, hidup di tanah dan ada DOKUMENTASI PELAKSANAAN KEGIATAN Gambar 1. Kegiatan Pembelajaran Gambar 2. Kegiatan Pembelajaran di luar ruangan Hasil dari kedua siklus pada pengabdian ini menunjukkan bahwa metode bercerita dengan media konkreat sangat mendukung perkembangan bahasa anak usia dini. Anak-anak berada pada tahap berpikir konkret sebagaimana dijelaskan Piaget . pengalaman lang nyata seperti buah nanas membantu mereka memahami isi cerita secara menyeluruh. Peningkatan hasil pada siklus II memperkuat peran guru sebagai pemimpin pedagogi yang reflektif dan inovatif. Sebagaimana dijelaskan oleh Harris & Muijs . yang berpendapat bahwa guru yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang komunikatif dan aktif akan mendorong tumbuhnya keterampilan dasar anak, salah satunya dalam hal berbahasa. Dengan demikian, penerapan metode bercerita berbasis media konkret. IV. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil pengabdian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus pada kedua subjek di TK Negeri Pembina Argamakmur, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bercerita dengan menggunakan media konkret berupa buah nanas berhasil meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini secara signifikan. Terlihat jelas ketika kedua anak mampu menjelaskan cara hidup buah nanas, bagaimana bentuk fisik dari buah nanas dan rasa dari buah nanas. Sangat jelas terlihat dari pengabdian ini menghadirkan media konkreat suasana kelas menjadi lebih hidup, anak terlihat percaya diri, dan interaksi verbal meningkat secara Kesuksesan metode ini juga tidak terlepas dari peran guru sebagai pemimpin pedagogi yang mampu merancang pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga menciptakan interaksi yang mendukung perkembangan bahasa, seperti melalui dialog, eksplorasi benda konkret, dan kegiatan reflektif. Hal ini membuktikan bahwa kombinasi metode bercerita dan media konkret merupakan strategi pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan aplikatif dalam konteks pendidikan anak usia dini. Dengan demikian, penerapan metode bercerita menggunakan media konkret buah nanas tidak hanya berdampak positif terhadap perkembangan kosakata dan kemampuan berbahasa anak, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pendidikan bahasa di TK Negeri Pembina Argamakmur secara holistik. pengabdian ini memperkuat pentingnya pendekatan pembelajaran yang kontekstual, aktif, dan multisensori dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini. Saran Berdasarkan hasil pengabdian yang telah diperoleh, disarankan agar guru di Pendidikan Anak Usia Dini secara konsisten menggunakan metode bercerita dengan memanfaatkan media konkret dalam pembelajaran bahasa anak. Metode ini membantu anak memahami materi secara lebih nyata dan menyenangkan serta memperkaya kosakata mereka melalui pengalaman langsung. Guru juga diharapkan memberikan kesempatan bagi anak untuk terlibat aktif dalam proses bercerita, baik melalui kegiatan tanya jawab, eksplorasi benda konkret, maupun menceritakan kembali cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Pendekatan ini akan meningkatkan keterampilan berbicara anak secara bertahap. Selain itu, guru perlu memberikan dorongan positif seperti pujian dan apresiasi kepada anak saat mereka mencoba berbicara, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi anak untuk lebih berani mengungkapkan ide dan perasaannya. Guru juga dapat melakukan inovasi dengan menggunakan berbagai media konkret yang relevan dengan tema pembelajaran agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang beragam. Untuk pengabdian selanjutnya, disarankan dilakukan dengan jumlah subjek yang lebih banyak serta variasi tema cerita agar hasil pengabdian dapat lebih teruji dan bermanfaat dalam pengembangan metode pembelajaran bahasa di PAUD. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala TK Negeri Pembina Argamakmur yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melaksanakan pengabdian tindakan kelas ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak/Ibu guru TK Negeri Pembina Argamakmur atas bantuan dan kerja samanya selama proses pengabdian berlangsung. Penulis juga berterima kasih kepada orang tua dan anak-anak yang telah menjadi subjek pengabdian atas partisipasi aktif dan antusiasme mereka selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Tidak lupa, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan selama proses pengabdian ini berlangsung, sehingga pengabdian ini dapat berjalan dengan Semoga hasil pengabdian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan metode pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini dan menjadi bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa anak secara optimal. DAFTAR PUSTAKA