Sophia Dharma: Jurnal Filsafat. Agama Hindu, dan Masyarakat e-ISSN: 2829-6958 * https://e-journal. iahn-gdepudja. Volume 8 Nomor 2. Oktober 2025 FILSAFAT SAKRALITAS DALAM TARIAN REJANG DEWA SEBAGAI MEDIA PENYUCIAN RUANG DALAM TRADISI HINDU BALI Ni Nyoman Novitasari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram nyomannovitasari27@gmail. Abstract Keywords: Philosophy of sacredness. Rejang Dewa dance This study examines the philosophy of sacredness in the Rejang Dewa dance as a medium for purifying space in the Balinese Hindu tradition. Rejang Dewa is a sacred dance performed in a series of Dewa Yadnya and is understood as a representation of the descent of divine vibrations into the ritual space. This study uses a qualitative approach with religious ethnography methods through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results show that every element in Rejang DewaAimovement, music, costume, formation, and the sanctity of the dancersAicontains symbolism that reflects the concept of uuddhi or purification in Hindu teachings. This dance functions to harmonize the energy of space so that it is worthy of being a vehicle for the presence of niskala power. In addition, the study found that Rejang Dewa strengthens the values of dharma, traditional solidarity, and Balinese Hindu Thus, this dance not only serves as an expression of sacred aesthetics, but also as a theological medium that maintains cosmic balance in religious Abstrak Kata kunci: Filsafat Sakralitas. Tari Rejang Dewa Penelitian ini mengkaji filsafat sakralitas dalam tarian Rejang Dewa sebagai media penyucian ruang pada tradisi Hindu Bali. Rejang Dewa merupakan tarian sakral yang dipersembahkan dalam rangkaian Dewa Yadnya dan dipahami sebagai representasi turunnya vibrasi kedewataan ke dalam ruang ritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi religi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur dalam Rejang Dewa gerak, musik, busana, formasi, dan kesucian penari mengandung simbolisme yang mencerminkan konsep uuddhi atau pemurnian dalam ajaran Hindu. Tarian ini berfungsi untuk mengharmoniskan energi ruang sehingga layak menjadi wahana hadirnya kekuatan niskala. Selain itu, penelitian menemukan bahwa Rejang Dewa memperkuat nilai-nilai dharma, solidaritas adat, dan kosmologi Hindu Bali. Dengan demikian, tarian ini tidak hanya berperan sebagai ekspresi estetika sakral, tetapi juga sebagai media teologis yang menjaga keseimbangan kosmis dalam upacara keagamaan. Pendahuluan Tradisi Hindu Bali memiliki kekayaan simbolik dan ritual yang sangat kompleks, di mana setiap elemen kehidupan masyarakatnya dibingkai dalam kesakralan. Salah satu praktik budaya yang merepresentasikan dimensi spiritual tersebut adalah tarian Rejang Dewa. Tarian ini bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan wujud komunikasi religius antara manusia dan kekuatan transendental. Perpaduan antara gerak, musik, busana, dan ruang menjadikan Rejang Dewa sebagai ritual yang memegang peran penting dalam penyucian wilayah suci. Rejang Dewa biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya, yakni persembahan kepada para dewa sebagai penghormatan dan permohonan harmonisasi kosmis. Masyarakat Hindu Bali meyakini bahwa sebelum para dewa dan roh suci berstana dalam pura, ruang perlu dibersihkan dan disucikan. Dalam konteks inilah. Rejang Dewa hadir sebagai media penyucian yang mampu menghadirkan vibrasi kesucian melalui geraknya. Kehadiran Rejang Dewa tidak terlepas dari filsafat Hindu mengenai kesucian ruang . yang harus dijaga agar mampu menjadi tempat berstana energi ilahi. Ruang suci, menurut konsepsi tattwa Hindu, adalah ruang yang dilandasi oleh keharmonisan antara bhuana agung . lam semest. dan bhuana alit . ubuh manusi. Tarian sebagai medium penyuci ruang menjadi manifestasi nyata dari proses harmonisasi tersebut (Bandem. I M. , & deBoer, 2004. Sutarya, 2. Filosofi sakralitas dalam Rejang Dewa didasari oleh pemahaman bahwa tubuh penari bukan hanya instrumen gerak, tetapi juga menjadi wadah vibrasi ilahi. Para penari yang biasanya merupakan perempuan muda harus berada dalam keadaan suci, baik lahir maupun Syarat ini menegaskan posisi Rejang Dewa sebagai tarian religius yang melampaui unsur hiburan. Pemilihan perempuan muda atau remaja sebagai penari berkaitan dengan simbol kemurnian. Dalam ajaran Hindu Bali, kemurnian dianggap sebagai kondisi energetik yang mampu menarik dan menyimpan kekuatan dewata. Dengan demikian, gerak Rejang Dewa diharapkan menciptakan atmosfer spiritual yang harmonis sehingga mampu mensterilkan ruang upacara. Secara historis. Rejang Dewa diyakini telah ada sejak masa Bali Bukti-bukti visual seperti relief pada pura-pura tua menunjukkan bahwa ritual tarian ini telah menjadi bagian penting dari struktur upacara Hindu Bali. Dengan perkembangan zaman, bentuk dan variasi Rejang Dewa mungkin mengalami penyesuaian, tetapi makna sakralnya tetap terjaga (Bagus, 2019. Widnyana et al. , 2. Rejang Dewa memiliki struktur koreografi yang sederhana namun sarat makna. Gerak mengalun, melingkar, dan penuh kehati-hatian menggambarkan kesadaran penari sebagai pembawa vibrasi kesucian. Tubuh penari seolah menjadi media aliran energi kosmis yang bergerak menyucikan dan menghidupkan kembali ruang ritual. Busana yang digunakan dalam Rejang Dewa juga mengandung simbolisme spiritual. Warna putih dan kuning biasanya mendominasi, menggambarkan kesucian dan kecerahan. Mahkota bunga atau gelungan menandai penari sebagai representasi keindahan alam yang dipersembahkan kepada para Setiap elemen busana tidak sekadar dekoratif, tetapi merupakan bahasa simbolis menuju kesakralan. Dalam konteks ritual, musik pengiring Rejang Dewa memainkan peran Gamelan yang digunakan biasanya lembut dan meditatif, menciptakan atmosfer yang menenangkan dan memfasilitasi proses penyucian ruang. Musik berfungsi sebagai pengarah vibrasi gerak sekaligus sebagai bentuk komunikasi sonik antara manusia dan alam ilahi. Makna penyucian ruang dalam Rejang Dewa selaras dengan ajaran Tri Hita Karana, terutama dalam aspek hubungan manusia dengan Tuhan . Tarian ini menjadi medium untuk memperbaiki energi ruang sehingga layak menerima kehadiran dewata. Dengan demikian. Rejang Dewa tidak hanya simbolik, tetapi juga performatif secara spiritual. Selain itu, tarian ini juga memiliki keterkaitan dengan konsep rwa bhineda, yaitu keseimbangan antara dua kekuatan yang berlawanan. Penyucian ruang melalui Rejang Dewa menjadi upaya menetralkan unsur-unsur negatif sehingga ruang upacara berada dalam kondisi satwika murni, harmonis, dan penuh cahaya spiritual. Dalam berbagai kajian filsafat Hindu, gerak dianggap sebagai manifestasi dari kekuatan kosmis. Rejang Dewa sebagai tarian ritual menghadirkan gerak yang tidak berorientasi pada penampilan estetis, tetapi pada pemurnian energi. Oleh karena itu, tarian ini lebih dekat dengan aktivitas spiritual daripada seni pertunjukan. Ahli antropologi Bali menyatakan bahwa Rejang Dewa merupakan salah satu bentuk tarian sakral . ali danc. , yang hanya dapat ditampilkan di lingkungan pura dan pada waktu tertentu. Pembatasan ini menunjukkan bahwa tarian tersebut adalah bagian dari bentuk komunikasi spiritual yang sangat terikat pada konteks sakral (Muninjaya, 2. Pelaksanaan Rejang Dewa biasanya dilakukan pada tahap awal upacara, sebelum prosesi inti berlangsung. Hal ini menandakan bahwa penyucian ruang merupakan langkah pertama untuk membuka jalur komunikasi antara manusia dan para dewa. Tanpa ruang yang suci, upacara tidak akan mencapai kesempurnaan spiritual. Dari perspektif filsafat estetika Hindu. Rejang Dewa mencerminkan konsep rasa. Gerakan yang lembut dan ekspresif diarahkan untuk menciptakan rasa bahagia, damai, dan jernih rasa-rasa yang dianggap kompatibel dengan energi ilahi. Dengan demikian, tarian ini memfasilitasi pengalaman spiritual kolektif. Rejang Dewa juga memiliki nilai sosial yang kuat. Penari, masyarakat adat, dan pemuka agama bekerja sama untuk menjaga kemurnian dan kelestarian ritual. Keterlibatan kolektif ini menunjukkan bahwa sakralitas tidak hanya terbentuk dari aspek teologis, tetapi juga dari komitmen sosial masyarakat. Struktur sosial masyarakat Bali yang kuat dalam mempertahankan tradisi turut berperan dalam menjaga keberlanjutan Rejang Dewa. Ritual ini diwariskan secara turun-terurun, sehingga menjadi bagian identitas religius masyarakat. Perpaduan antara warisan budaya dan praktik keagamaan menjadikan Rejang Dewa sebagai simbol kontinuitas spiritual. Fungsinya sebagai media penyucian ruang menjadikan Rejang Dewa berperan penting dalam menciptakan keseimbangan kosmis. Tarian ini bukan semata ritual lahiriah, melainkan aktivitas yang berkaitan dengan pemurnian energi halus yang tidak kasat mata. Dalam pandangan masyarakat Bali, ruang hanya dapat menjadi suci ketika energi negatifnya dinetralkan. Penelitian mengenai Rejang Dewa menunjukkan bahwa tarian ini mengandung filosofi tinggi mengenai kesucian. Dalam ajaran Hindu Bali, kesucian bukan hanya keadaan fisik, tetapi juga merupakan kualitas spiritual yang memengaruhi vibrasi ruang. Rejang Dewa hadir sebagai medium untuk memancarkan vibrasi positif yang mampu membersihkan kekotoran subtil . Kesucian ruang sebagai syarat utama upacara dapat dikaitkan dengan ajaran Weda mengenai pembersihan diri . Dalam konteks ini. Rejang Dewa menjadi salah satu bentuk uuddhi kolektif, di mana penari, ruang, dan energi kosmis saling berinteraksi untuk mencapai keharmonisan spiritual. Dari segi koreografi. Rejang Dewa menampilkan gerak yang repetitif dan melingkar. Pola gerak ini diinterpretasikan sebagai simbol siklus kehidupan dan perjalanan spiritual manusia. Dalam filsafat Hindu, gerak melingkar melambangkan kesempurnaan, kontinuitas, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Gerakan tangan, ayunan tubuh, dan langkah para penari dirancang agar selaras dengan pola energi ruang upacara. Dengan demikian, tarian ini tidak hanya simbolik, tetapi juga bersifat fungsional dalam memengaruhi atmosfer spiritual di sekitarnya. Ruang pura sebagai tempat pementasan Rejang Dewa memiliki struktur simbolik yang mendukung proses Pura dianggap sebagai representasi alam semesta dalam skala kecil. Oleh karena itu, penyucian ruang pura melalui Rejang Dewa sama artinya dengan memperbaiki keseimbangan kosmis secara makrifat. Dalam konsep filsafat Hindu, setiap tindakan ritual merupakan bentuk dialog antara manusia dan Tuhan. Rejang Dewa menjadi ucapan tanpa kata, yaitu doa yang diwujudkan dalam gerak tubuh. Hal ini mempertegas bahwa tubuh manusia adalah instrumen penting dalam spiritualitas Hindu Bali. Perkembangan zaman dan modernisasi membawa tantangan tersendiri bagi pelestarian Rejang Dewa. Meskipun tarian ini masih dilakukan dalam ritual-ritual besar, beberapa perubahan mulai muncul, baik dalam bentuk koreografi maupun jumlah penarinya. Namun demikian, nilai-nilai sakralitasnya tetap dipertahankan oleh masyarakat adat. Kajian filsafat mengenai Rejang Dewa menjadi penting untuk memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai spiritual yang menyertainya. Penelitian semacam ini memberikan perspektif baru dalam melihat bagaimana ritual tradisional masih mempertahankan relevansinya dalam kehidupan modern. Selain itu, pemahaman mendalam terhadap filsafat tarian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian budaya, terutama dalam konteks pendidikan agama, seni, dan antropologi. Dokumentasi akademik membantu menjaga agar makna sakral yang diwariskan secara lisan tidak mengalami penyimpangan. Kajian ini juga membuka ruang bagi interpretasi baru mengenai hubungan antara estetika dan spiritualitas dalam budaya Hindu Bali. Tarian sebagai media penyucian memperlihatkan bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan religius masyarakat. Dengan demikian. Rejang Dewa layak dipandang sebagai ritual yang mengintegrasikan filsafat, estetika, dan teologi dalam satu kesatuan praktik yang harmonis. Ia menunjukkan bahwa kesucian ruang adalah prinsip penting dalam upacara Hindu Bali, dan tarian menjadi salah satu alat untuk mencapainya (Hendra, 2017. Jero, 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam makna filsafat sakralitas dalam tarian Rejang Dewa serta fungsi ritualnya sebagai media penyucian ruang. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran Rejang Dewa dalam keberlanjutan spiritual dan budaya Hindu Bali. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan tujuan memahami makna filsafat sakralitas dalam tarian Rejang Dewa berdasarkan konteks budaya, keagamaan, dan pengalaman empiris masyarakat Hindu Bali. Pendekatan ini dipilih karena Rejang Dewa merupakan fenomena ritual yang kaya akan simbolisme dan pengalaman spiritual, sehingga memerlukan pemahaman mendalam yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau statistik. Jenis penelitian ini bersifat etnografi religi, yang menekankan pada studi mendalam terhadap praktik ritual dalam konteks budaya tertentu. Dengan metode etnografi, peneliti dapat terlibat secara langsung dalam observasi terhadap pelaksanaan upacara, memahami struktur sosial masyarakat adat, serta menafsirkan makna simbolik berdasarkan perspektif internal komunitas Hindu Bali. Lokasi penelitian dipusatkan pada beberapa pura di Bali yang secara konsisten melaksanakan tarian Rejang Dewa dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya, seperti Pura Desa. Pura Puseh, atau Pura Kahyangan Tiga lainnya. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive, yaitu dipilih berdasarkan pertimbangan relevansi, keaktifan tradisi, serta ketersediaan informan yang memahami secara mendalam praktik ritual tersebut. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling, meliputi pemangku . , seniman tari yang menguasai tarian sakral, tokoh adat, peserta upacara, dan masyarakat setempat. Informan yang dipilih adalah mereka yang dianggap memiliki pengetahuan mendalam mengenai makna simbolik dan fungsi sakral Rejang Dewa, sehingga dapat memberikan data yang kaya dan relevan untuk dianalisis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, di mana peneliti hadir secara langsung dan menyaksikan pelaksanaan tarian Rejang Dewa dalam konteks Observasi ini meliputi pengamatan terhadap gerak tari, struktur koreografi, busana, musik pengiring, suasana upacara, serta interaksi sosial antar pelaku ritual. Catatan lapangan dibuat untuk mendokumentasikan seluruh proses secara sistematis. Selain observasi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur untuk memberikan ruang bagi informan menyampaikan pandangannya secara bebas, tetapi tetap dalam batas fokus penelitian. Wawancara ini diarahkan untuk menggali pemahaman mengenai makna teologis, simbol-simbol sakral, dan fungsi penyucian ruang dalam Rejang Dewa (Anggito. Albi dan Setiawan, 2018. Eriyanto, 2. Peneliti juga menggunakan teknik studi dokumentasi untuk melengkapi data lapangan. Dokumen yang dikumpulkan meliputi lontar-lontar yang relevan, naskah-naskah tradisi, catatan sejarah pura, foto, video pementasan, serta referensi ilmiah yang membahas tarian sakral, estetika Hindu Bali, dan filosofi upacara Dewa Yadnya. Studi dokumentasi ini memperkuat dasar teoretis dan historis penelitian. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi penting terkait simbolisme dan makna sakral Rejang Dewa. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif, sedangkan kesimpulan ditarik berdasarkan pola-pola tematik yang muncul dari hasil wawancara dan observasi. Untuk menjamin kualitas dan keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan data yang diperoleh dari berbagai informan, metode pengumpulan, dan dokumen. Triangulasi dilakukan untuk memastikan bahwa interpretasi yang dihasilkan benar-benar mencerminkan realitas ritual dan tidak bias oleh sudut pandang individu tertentu. Seluruh proses penelitian dilakukan dengan tetap mematuhi etika penelitian kualitatif, termasuk menghormati kesakralan upacara, meminta izin dari pemangku adat dan pengurus pura, menjaga kerahasiaan informan, serta tidak melakukan rekonstruksi atau rekayasa terhadap data lapangan. Dengan demikian, metode penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang komprehensif, otentik, dan mendalam mengenai filsafat sakralitas dalam tarian Rejang Dewa sebagai media penyucian ruang dalam tradisi Hindu Bali. Hasil Dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Rejang Dewa memiliki peran sentral dalam rangkaian Dewa Yadnya. Masyarakat memaknai tarian ini sebagai media penyucian ruang sebelum upacara utama berlangsung. Penari dianggap sebagai perantara vibrasi suci dari alam dewata. Setiap gerak memiliki makna spiritual tertentu yang diakui oleh pemuka Hal ini menguatkan kedudukan Rejang Dewa sebagai tarian wali yang sangat sakral. Observasi lapangan menemukan bahwa ruang upacara mengalami perubahan atmosfer setelah Rejang Dewa ditarikan. Perubahan ini terlihat dari meningkatnya ketenangan, kekhidmatan, dan rasa hormat peserta upacara. Pemangku menyatakan bahwa energi ruang menjadi lebih bersifat satwika. Vibrasi gamelan dan gerak lembut penari dianggap membawa aura Keselarasan elemen-elemen tersebut mempertegas fungsi tarian dalam penyucian Wawancara dengan seniman tari menunjukkan bahwa Rejang Dewa tidak ditarikan secara sembarangan. Gerak, langkah, dan arah pandangan penari memiliki susunan filosofis. Setiap pola gerak dirancang agar selaras dengan arah energi alam semesta. Penari tidak diperbolehkan menampilkan ekspresi dramatis karena sifatnya yang sakral. Kesederhanaan gerak justru menguatkan kesakralannya. Dari sudut pandang para pemangku. Rejang Dewa berfungsi sebagai Aujalan pembukaAy sebelum energi suci hadir di pura. Tanpa adanya tarian ini, upacara dianggap kurang sempurna. Rejang Dewa dipandang sebagai penyucian awal sebelum upacara inti berlangsung. Dengan demikian, tarian ini memiliki posisi ritual yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa sakralitas tidak hanya terdapat pada doa, tetapi juga pada gerak tubuh. Busana penari menjadi salah satu elemen penting penyucian ruang. Warna putih dan kuning mencerminkan kesucian dan cahaya spiritual. Bunga yang dikenakan pada kepala menjadi simbol keindahan alam yang dipersembahkan kepada para dewa. Para penari harus menjaga kebersihan lahir dan batin sebelum tampil. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh penari merupakan medium penyuci. Musik pengiring Rejang Dewa memiliki karakter lembut dan Irama pelan membantu penari memasuki kondisi kesadaran yang stabil dan jernih. Selain itu, nada-nada gamelan dipercaya dapat menggetarkan energi halus di ruang suci. Musik tersebut menjadi jembatan antara manusia dan alam dewata. Dengan demikian, musik berfungsi sebagai alat pembantu dalam proses penyucian. Gerak dasar Rejang Dewa selalu dilakukan dengan pola melingkar. Gerak melingkar dipahami sebagai simbol siklus kehidupan dan keharmonisan kosmis. Dalam filsafat Hindu, lingkaran melambangkan keutuhan dan kesempurnaan. Melalui gerak tersebut, penari seolah menegaskan keteraturan alam. Pola ini turut menyucikan ruang dengan memutar vibrasi energi positif. Makna simbolik Rejang Dewa juga berkaitan dengan konsep rwa bhineda. Melalui tarian, unsur negatif di ruang upacara diyakini dinetralkan. Penari berperan sebagai agen pengharmoni energi. Ruang yang tadinya biasa berubah menjadi ruang sakral. Konsep dualitas ini disatukan melalui tindakan ritual (Hobart, 2. Penelitian menemukan bahwa masyarakat memandang penari Rejang Dewa bukan sekadar pelaku seni. Mereka dianggap sebagai Auwadah suciAy yang mampu menerima dan memancarkan energi dewata. Proses penyucian diri dilakukan sebelum menari, sehingga penari memiliki kesiapan spiritual. Hal ini menyatakan bahwa spiritualitas adalah inti dari penampilan tarian. Tubuh penari dipandang sebagai medium transendensi. Beberapa pemuka adat menyatakan bahwa Rejang Dewa adalah bentuk doa non-verbal. Doa ini diungkapkan melalui gerak tubuh, ekspresi sederhana, dan hubungan harmoni dengan alam. Doa tidak selalu berupa kata-kata, tetapi dapat berupa tindakan penuh kesadaran. Dengan demikian. Rejang Dewa merupakan bentuk bhakti. Ritual ini memadukan tubuh, pikiran, dan jiwa. Ruang suci pura menjadi tempat utama pelaksanaan tarian ini. Struktur pura yang berlapis memiliki makna kosmologis. Rejang Dewa biasanya ditarikan pada bagian tengah pura sebagai simbol peralihan energi. Gerak penari mempertegas penyucian pada wilayah ini. Dengan demikian, tarian menjadi jembatan ruang antar dimensi. Konsep bhuana agung dan bhuana alit terlihat dalam praktik Rejang Dewa. Tubuh penari sebagai bhuana alit harus selaras dengan alam semesta sebagai bhuana agung. Kesejajaran ini menciptakan harmoni Ruang upacara menjadi titik pertemuan dua dimensi tersebut. Hal ini memperkuat fungsi tarian sebagai penyuci ruang. Gerakan tangan yang halus memiliki simbol pemanggilan energi suci. Setiap gerakan menunjuk arah tertentu yang memiliki makna filosofis. Penari tidak diperbolehkan melakukan gerakan agresif. Semua dilakukan dengan rasa hormat dan Dengan demikian, gerakan itu menjadi alat pemurnian (Arimbawa & Putra, 2021. Miller, 2019. Putra, 2. Makna penyucian ruang dalam Rejang Dewa sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana. Tarian ini menguatkan hubungan antara manusia dan Tuhan. Selain itu, hubungan manusia dengan alam juga diperkuat melalui simbol bunga dan gerak harmoni. Masyarakat percaya bahwa tarian ini membawa kedamaian. Ruang yang damai menjadi prasyarat energi suci Dalam konteks estetika Hindu, tarian ini mencerminkan konsep rasa. Rasa yang dihadirkan adalah rasa suci, damai, dan jernih. Rasa tersebut memengaruhi kesadaran kolektif peserta upacara. Mereka merasa lebih khusyuk setelah Rejang Dewa ditarikan. Hal ini menunjukkan daya spiritual estetika yang kuat (Rahmat, 2021. Suarnaya, 2. Dokumentasi lapangan menunjukkan bahwa Rejang Dewa memiliki ragam jenis sesuai desa adat masing-masing. Namun, semua memiliki karakter dasar yang sama: lembut, sederhana, dan sakral. Perbedaan bentuk tidak mengubah makna filosofis. Hal ini memperlihatkan fleksibilitas tradisi dalam mempertahankan inti spiritual. Kesakralan tetap menjadi elemen utama. Busana penari Rejang Dewa juga berfungsi sebagai penguat identitas spiritual desa adat. Bunga, kain, dan mahkota menjadi simbol lokalitas. Identitas ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan budaya berjalan bersama. Keindahan worn secara simbolik dipersembahkan kepada para dewa. Dengan demikian, estetika juga menjadi bagian Beberapa informan menyatakan bahwa Rejang Dewa menciptakan Auenergi kolektif Ay Energi ini muncul dari keselarasan antara penari, musik, dan ruang. Energi positif ini kemudian menyebar ke seluruh area upacara. Peserta merasakan suasana yang lebih jernih. Dengan demikian, penyucian ruang terjadi secara kolektif. Penelitian menemukan bahwa Rejang Dewa memiliki efek psikologis pada penonton. Mereka merasa tenang dan terpanggil untuk lebih fokus dalam upacara. Ketenangan ini menciptakan kesiapan batin untuk menerima tahap ritual berikutnya. Efek ini menjadi bagian dari penyucian ruang secara batiniah. Ruang menjadi suci tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara psikologis. Dari perspektif filsafat tubuh. Rejang Dewa menunjukkan bahwa tubuh manusia dapat menjadi alat spiritual. Tubuh bukan sekadar materi, tetapi medium komunikasi dengan alam ilahi. Penari menyadari bahwa tubuhnya sedang menjalankan fungsi Kesadaran ini mempengaruhi kedalaman gerak. Dengan demikian, tubuh menjadi bagian dari filsafat ritual. Tarian ini juga menunjukkan hubungan mendalam antara seni dan spiritualitas. Seni tidak hanya dinikmati, tetapi dijalani sebagai praktik religius. Pelaku seni tari menghayati setiap gerak sebagai persembahan. Dengan demikian, seni menjadi bentuk dharma. Rejang Dewa membuktikan bahwa seni dapat menjadi jalan spiritual. Analisis dokumentasi tradisi menyatakan bahwa Rejang Dewa merupakan tarian kuno yang selalu dipertahankan. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun. Keberlanjutan tarian menunjukkan adanya nilai sakral yang dijaga. Tidak ada upacara yang dilakukan tanpa penyucian awal melalui gerak suci. Ini memperlihatkan pentingnya kontinuitas tradisi sakral. Dalam konteks teologi Hindu. Rejang Dewa dianggap sebagai wujud bhakti. Penari, melalui seluruh tubuhnya, menyatakan bhakti kepada Tuhan. Bhakti ini tidak dalam bentuk doa verbal, tetapi tindakan estetis. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah dapat memiliki banyak bentuk. Tarian menjadi saluran bhakti yang efektif (Putra, 2014. Wiana, 2000. Widiantara, 2. Ruang yang telah disucikan melalui tarian dianggap siap menerima energi suci. Pemangku menyebut kondisi ini sebagai Auruang hidup. Ay Ruang hidup adalah ruang yang telah selaras dengan vibrasi cahaya. Dalam kondisi ini, upacara dapat berlangsung dengan Rejang Dewa menjadi bagian penting dalam proses ini. Konsep kesucian ruang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga kosmologis. Rejang Dewa menjadi representasi pembersihan energi lima unsur . anca maha bhut. Tarian membantu menyelaraskan unsur tanah, air, api, angin, dan ether dalam ruang. Keseimbangan ini merupakan syarat turunnya berkah ilahi. Hal ini memperlihatkan kedalaman filsafat tarian. Hubungan antara gerak tari dan arah mata angin juga ditemukan dalam penelitian. Penari mengarahkan tubuhnya ke titiktitik tertentu sesuai struktur kosmologis pura. Arah memiliki makna guardian spiritual. Gerak mengikuti arah memperkuat fungsi perlindungan ruang. Ini menunjukkan bahwa Rejang Dewa memiliki keterkaitan dengan kosmologi Hindu Bali. Peran komunitas adat dalam menjaga kesucian Rejang Dewa sangat kuat. Komunitas memastikan tidak ada komersialisasi berlebihan pada tarian sakral ini. Dengan demikian, nilai spiritual tetap terjaga. Kesadaran kolektif menjaga agar tradisi tidak terdistorsi. Hal ini mempertahankan integritas sakral tarian. Tantangan modernisasi mulai terasa pada generasi muda penari. Namun, pendidikan adat tetap menekankan makna suci tarian. Para penari dilatih bukan hanya teknik, tetapi juga kesadaran spiritual. Ini menunjukkan pentingnya pendidikan nilai dalam ritual. Tradisi tetap bertahan meski zaman berubah. Penelitian ini menemukan bahwa sakralitas Rejang Dewa bersumber dari integrasi simbol, gerak, musik, ruang, dan kesadaran pelaku. Semua elemennya saling terhubung dan membentuk satu kesatuan spiritual. Tarian ini tidak dapat dipahami hanya dari estetika, tetapi dari filsafat yang melandasinya. Kesatuan elemen tersebut menghasilkan energi penyucian ruang. Ini menjadi dasar pemaknaan teologisnya. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa Rejang Dewa merupakan media penyucian ruang yang sangat efektif dalam tradisi Hindu Bali. Tarian ini mengandung nilai filosofis yang dalam, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan. Melalui gerak sakral, ruang upacara dipersiapkan untuk menerima energi suci. Masyarakat mengakui peran penting tarian dalam struktur ritual. Dengan demikian. Rejang Dewa merupakan bukti integrasi antara filsafat, seni, dan spiritualitas dalam budaya Bali. Kesimpulan Pelaksanaan Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Rejang Dewa merupakan manifestasi kesakralan dalam tradisi Hindu Bali yang berfungsi sebagai media penyucian ruang ritual. Sakralitas tarian ini tidak hanya tampak pada gerakan dan busananya, tetapi juga pada landasan filsafat Hindu yang menghubungkannya dengan konsep kemurnian, keharmonisan kosmis, dan kehadiran energi kedewataan. Rejang Dewa berperan sebagai jembatan antara dunia sekala dan niskala sehingga upacara menjadi layak bagi turunnya vibrasi suci para dewa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa setiap unsur dalam Rejang DewaAigerakan, musik, formasi, dan kesiapan spiritual penari mengandung simbolisme penyucian yang memperhalus, membersihkan, dan mengharmoniskan vibrasi ruang upacara. Proses ini sejalan dengan ajaran uuddhi dalam filsafat Hindu yang menekankan pentingnya pemurnian fisik dan spiritual sebelum memasuki domain sakral. Dengan demikian. Rejang Dewa tidak sekadar menjadi seni pertunjukan, tetapi merupakan tindakan ritual yang memiliki kekuatan teologis untuk mengubah kualitas ruang dan kesadaran masyarakat yang terlibat. Secara keseluruhan, tarian Rejang Dewa menunjukkan keterjalinan antara estetika, spiritualitas, dan kosmologi Hindu Bali. Tarian ini tidak hanya menjaga keberlanjutan tradisi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai dharma dan harmoni sosial dalam komunitas adat. Rejang Dewa menjadi bukti bahwa seni sakral dalam budaya Bali berfungsi sebagai media hubung antara manusia dan kekuatan kosmis. Dengan memahami Rejang Dewa melalui perspektif filsafat sakralitas, penelitian ini memberikan sumbangan penting bagi kajian antropologi ritual, estetika keagamaan, dan filsafat Hindu kontemporer. Daftar Pustaka