Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Efek Ingesti Seduhan Daun Sungkai (Peronema canescen. terhadap Perubahan Glukosa Darah dan Kerusakan Ginjal Tikus Diabetes Mellitus Def Primal*. Risya Ahriyasna Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Perintis Indonesia. Sumatera Barat. Indonesia Article Information : Received. 11 Oct 2022. Accepted 27 Dec 2022. Published online 31 Dec 2022 *Corresponding author : def. anatomy@gmail. ABSTRAK Gangguan aktivitas kualitatif atau kuantittatif jaringan ginjal pada diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme dan homeostasis glukosa yang ditandai dengan hiperglikemia yang terjadi secara kronis karena menurun dan atau berkurangnya sensitifitas reseptor insulin dalam tubuh. Sungkai (Paronema canescens Jac. terdapat kandungan antioksidan seperti flavonoid, folifenol, alkaloid tanin, dan saponin. Flavonoid dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan kemampuannya sebagai zat anti oksidan. Penelitian ini menguji efektivitas seduhan daun sungkai terhadap profil glukosa darah dengan indikasi terjadinya perubahan kadar glukosa darah, dan terjadinya proses kerusakan jaringan organ ginjal pada tikus wistar diinduksi diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan desain true experiment dengan randomized pre-post-test with control group design. Hasil penelitian data selisih kadar gula darah tikus sebelum dan sesudah intervensi memperlihatkan terjadinya penurunan kadar gula darah pada kelompok K . 00A37. P-1 . 17A24. P-2 99. 17A14,. , sedangkan pada kelompok K- (-. 83A2. terjadi penurunan. Hasil uji paired t-test memperlihatkan nilai P value pada masing-masing kelompok adalah K- (P= . K (. P-1 (P= . P-2 (P= . , sehingga terdapat pengaruh pemberian rebusan daun sungkai terhadap kadar gula darah pada tikus wistar yang diinduksi diabetes melitus. Penelitian ini juga menunjukan adanya perbedaan kerusakan jaringan organ ginjal tikus disetiap kelompok perlakuan pada persentase yang berbeda. Hasil analisis komposisi kandungan antioksidan dan flavonoid yang cukup tinggi pada daun Sungkai diyakini menjadi indikasi terjadinya perbaikan jaringan ginjal yang semakin membaik pada dosis sungkai yang lebih tinggi. Kata kunci: Daun sungkai, glukosa darah, necrosis dan regenerasi, organ ginjal ABSTRACT Qualitative or quantitative impairment of kidney tissue activity in diabetes mellitus is a disorder of glucose metabolism and homeostasis characterized by chronic hyperglycemia due to decreased and/or reduced insulin receptor sensitivity in the body. Sungkai (Paronema canescens Jac. contains antioxidants such as flavonoids, folifenols, tannin alkaloids, and Flavonoids can lower blood glucose levels with their ability as antioxidants. This A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 study tested the effectiveness of Sungkai leaf steeping on blood glucose profiles with indications of changes in blood glucose levels, and the occurrence of kidney tissue damage in Wistar rats induced diabetes mellitus. This study used a true experiment design with a randomized pre-post-test with a control group design. The results of the research on differences in blood sugar levels in rats before and after the intervention showed a decrease in blood sugar levels in the K group . 00 A 37. P-1 . 17 A 24. P-2 99. , while in the K-group -. 83 A 2. The results of the paired t-test showed that the P values in each group were K- (P= . K (. P-1 (P= . P-2 (P= . so that there is an effect of giving Sungkai leaf decoction on blood sugar levels in Wistar rats induced diabetes mellitus. This study also showed that there were differences in rat kidney tissue damage in each treatment group at different percentages. The results of the analysis of the composition of the antioxidant and flavonoid content which are quite high in Sungkai leaves are believed to be an indication of kidney tissue repair which is getting better at higher doses of Sungkai. Keywords: Sungkai leaves, blood glucose, necrosis and regeneration, kidney organs PENDAHULUAN Diabetes Melitus (DM) diawali dengan gangguan homeostasis glukosa vaskuler yang ditandai dengan hiperglikemia kronis. Kondisi ini tercetus karena kegagalan sel- pankreas dalam menghasilkan senyawa protein regulasi . yang cukup atau Diabetes menyebabkan kematian prematur diseluruh dunia, tetapi juga kebutaan, penyakit jantung, dan gagal ginjal. American Diabetic Association (ADA) dan International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang usia 2079 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 dengan angka prevalensi 9,3%. Berdasarkan IDF memperkirakan prevalensi diabetes ditahun 2019 dan tahun berikutnya akan mencapai nilai 9% keatas dengan laki-laki memiliki persentase lebih besar 0. 65% (ADA, 2018. IDF, Terdapat penanggulangan yang bersifat kuratif untuk DM yaitu farmakologi dan non-farmakologi. Studi farmakologi DM memberikan efek samping terhadap beberapa organ tubuh . antung, ginjal, hepar, dan lainny. (Garcia G. et al. Efek patofisiologis DM kronis dapat meningkatkan risiko kematian, terutama pankreas, ginjal, dan hepar. Selain itu, terapi antidiabetik DM yang dapat berlangsung lama memberikan risiko kerusakan dan kegagalan organ tersebut diatas. DM juga memiliki risiko penyerta menimbulkan gangguan non-medis termasuk sosioekonomi dan psikologis (Garcia G. et al. Brown. Et al, 2. Hiperglikemi yang menjadi tanda pada DM menyebabkan peningkatan radikal bebas dalam tubuh terutama Reactive Oxygen Species (ROS). ROS merupakan hasil metabolisme selular dari mitokondria. Pembentukan ROS yang melebihi kapasitas antioksidan dapat menyebabkan kerusakan makromolekul seperti lemak, protein dan DNA. ROS juga dapat menyebabkan kerusakan sel pancreas. Untuk mengurangi kerusakan akibat radikal bebas atau ROS diperlukan antioksidan eksogen yang diperoleh dari luar melalui makanan yang dikonsumsi, dalam hal ini peneliti ingin membuktikan apakah kawa daun yang pada studi literature memiliki kemampuan sebagai antioksidan antidiabetes dan antiinflamasi dapat memperbaiki kadar glukosa darah melalui mekanisme regenerasi sel pankreas. (Yani, 2. Sebagai keanekaragaman sumber daya tanaman Indonesia juga berpotensi dalam terciptanya berbagai bahan racikan non-farmakologis. Sungkai merupakan tanaman yang sejatinya tumbuhan liar, tetapi memiliki nilai ekonomis Jumlah tumbuhan berkhasiat obat di Indonesia diperkirakan sekitar 1. 260 jenis Salah satunya tanaman sungkai adalah salah satu obat herbal yang terdapat di Indonesia. Dari beberapa referensi penelitian, secara empiris daun sungkai A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 dimanfaatkan oleh masyarakat sebagian masyarakat untuk sakit gigi dan penurun Selain itu juga dimanfaatkan untuk mengobati malaria, pilek, demam, obat cacingan . , dijadikan mandian bagi wanita selepas bersalin dan sebagai obat kumur. Hal ini dikarenakan daun Sungkai mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, dan tanin (Ahmad, 2015. Lukman, 2. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dalam daun sungkai dari beberapa hasil penelitian mengungkapkan flavonoid mempunyai aktivitas biologis sebagai antivirus, antibakteri, antikanker, hepatoprotektor (Lukman, 2. Flavonoid merupakan substrat untuk mengkonjugasi dan menghidrolisis enzim di usus halus, hati dan kolon dan semuanya terkonjugasi ke melalui ekskresi urin. Banyak faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas flavonoid pada makanan, seperti berat molekul yang glikosilasinya, dan konversi metabolik (Thilakarathna, 2. Flavonoid dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan kemampuannya sebagai zat anti oksidan. Flavonoid alami banyak berperan dalam pencegahan diabetes serta komplikasinya dan bersifat protektif terhadap kerusakan sel-, dan Antioksidan bekerja menekan apoptosis sel tanpa mengubah proliferasi dari sel tersebut (Dwi, 2021. Yani, 2. Antioksidan sehingga mengurangi resistensi insulin dengan menurunkan Reactive Oxygen Spesies (ROS). Pencegahan ROS oleh flavonoid dengan menghambat kerja enzim xantin oksidase dan nicotinamide Adinine Dinucleotide Phosphate (NADPH) oksidase, serta mengklat logam (Fe2 dan Cu2 ) menghasilkan radikal bebas (Yani, 2013. Oktaria, 2. Beberapa bahan yang memiliki kandungan antioksidan tinggi sebaiknya dikonsumsi pada penderita penyakit-penyakit degeneratif, terutama diabetes salah satunya. Daun Sungkai (Paronema canescen. , tanaman tumbuhan liar dan bernilai membudidayakan sebagai tanaman obat. Didalam daun sungkai terdapat kandungan antioksidan seperti flavonoid . andungan terbesa. , folifenol, alkaloid tanin, dan Flavonoid dapat menurunkan kemampuannya sebagai zat anti oksidan dan anti radikal bebas banyak berperan komplikasinya, bersifat protektif pada kerusakan sel- dan nefron. Antioksidan menekan apoptosis sel- dan kerusakan pada sel epithelial penyusun nefron ginjal tanpa mengubah proliferasinya (Arifin. Sebagai metabolit sekunder dari polifenol, flavanoid juga memberikan efek bioaktif termasuk anti-virus, anti-inflamasi, kardioprotektif, antidiabetes, anti kanker, anti penuaan, dan antioksidan. Flavonoid sebagai senyawa metabolit sekunder memiliki aktivitas senyawa antioksidan dengan mendonorkan elektron terbentuknya radikal bebas. Aktivitas antioksidan daun sungkai memiliki kadar flavonoid total sebesar 1,057A0,002 mg EK/g dan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 44,933 ppm, antioksidan sangat aktif (Ahmad, 2. Senyawa yang terkandung pada Daun Sungkai yang memiliki kandungan sangat besar pada flavonoid inilah yang sangat diharapkan dalam membantu perbaikan kondisi diabetes dan perbaikan jaringan yang terkena seperti pankreas, hepar, dan Hal ini meningkatkan proses perbaikan jaringan pada beberapa sampel percobaan yang digunakan (Lukman, 2015. Thilakarathna, 2. Beberapa menunjukan adanya perbaikan jaringan setelah pemberian Peronema canescens pada beberapa jaringan yang telah mengalami injur, degenerasi, bahkan Antiinflamasi dan analgesik yang terkandung pada mereduksi edema jaringan yang sebelumnya diinduksi formalin dan memodulasi penurunan nyeri (Yani, 2013. Husna, 2. Begitu juga kandungan antioksidan menunjukan adanya perbaikan pada jaringan hepar dan ginjal melalui peningkatan nilai rerata ALT dan AST pada jaringan hepar, dan peningkatan level urea mengekskresikan urea lebih cepat (Husna. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Prawitasari, 2. Selain itu, enzim -glucosidase dianggap sebagai target molekul dalam terapi diabetes. Reaksi terbentuknya reaktivitas sel imunologi terutama sel fagosit . yang juga sangat dibutuhkan dalam membantu regenerasi dan proteksi jaringan (Wulansari. Dillasamola, 2. Berdasarkan fungsi komponen bioaktif yang terkandung dalam Daun Sungkai, maka penelti tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk melihat efek pemberian seduhan Daun Sungkai terhadap profil glukosa darah dan proses regenerasi jaringan nefron ginjal pada tikus wistar yang diinduksi diabetes melitus. Penelitian ini dirasa perlu untuk dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan risiko dan mengurangi tingkat keparahan penderita diabetes melitus, serta mengurangi risiko komplikasi lanjut baik karena keparahan diabetes maupun efek konsumsi obat METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian true randomized pre-post-test with control group Penelitian kepada subjek penelitian dilakukan pada April Ae Agustus 2022 di Laboratorium Integrasi Fakultas Ilmu Kesehatan Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia. Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah tikus putih jantan galur Wistar (Rattus norvegicu. yang berusia 2-3 bulan dengan berat badan 150250 gr, kondisi tikus sehat dan belum pernah digunakan dalam penelitian lain. Jumlah hewan coba perkelompok yang dijadikan sampel penelitian ditentukan dengan rumus Federer . (Ahriyasna. Berdasarkan dibutuhkan adalah sebanyak minimal 6 ekor hewan coba pada masing-masing kelompok. Dengan penambahan perkiraan drop out sebesar 10%, maka besar sampel minimal yang diperlukan untuk tiap kelompok adalah 7 hewan coba. Jadi jumlah seluruh hewan coba yang dibutuhkan sebanyak 28 ekor. Dimana pada setiap 28 ekor sampel yang memenuhi kriteria inklusi yang sudah ditetapkan akan diberi nomor, yang kemudian dibagi menjadi 4 kelompok. Kriteria sampel Tikus putih jantan galur Wistar (Rattus norvegicu. , umur 2-3 bulan dengan berat badan 150-250 gr, sehat, dan belum pernah dipakai pada penelitian lain/ sebelumnya. Selanjutnya, tikus dengan KGD >200 mg/dl . etelah diberi Aloksa. Tikus akan dikeluarkan dari penelitian jika yang mengalami cedera atau cacat selama penelitian, atau mati dalam periode Alur Penelitian Penelitian dilakukan setelah lulus kelaikan etik dalam melibatkan hewan coba sebagai subjek penelitian oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Universitas Perintis Indonesia 2/KEPK. F2/ETIK/2022. Diawali dengan aklimatisasi tikus selama 7 hari dilanjutkan dengan injeksi aloksan selama 7 hari berdasarkan Gambar 1. Aklimatisasi hewan coba Tikus ditempatkan dalam kandang plastik dengan tutup terbuat dari kawat ram dan dialasi sekam, diberi makan Pelet 1015 g/hari dan air minum secara ad libitium. Lingkungan kandang dipertahankan agar tidak lembab, suhu kandang dijaga sekitar 25-27AC, dan ada pertukaran gelap dan terang setiap 12 jam. Masing-masing kelompok tikus diletakkan dalam kandang tersendiri dan dijaga sehingga tidak saling berinteraksi, dan kesehatan tikus dipantau setiap hari (Alhadrami, 2. Aloksan dan induksi pada hewan coba Aloksan sebagai derivat pirimidin sederhana akan merusak sel beta pankreas sehingga menurunkan produksi insulin. Injeksi aloksan dosis 125 mg/kg BB melalui Kondisi diabetes pada tikus akan terlihat mulai 72 jam induksi aloksan. Injeksi dilakukan hanya sekali agar tikus diabetes melitus tipe 2. Pengukuran glukosa darah tikus dilakukan pada hari ke-7 pasca induksi Aloksan. Pengukuran kadar gula darah sewaktu Ou200mg/dl maka tikus dikatakan diabetes melitus tipe 2. Untuk mengetahui kadar gula darah setelah A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 spektofotometer dengan cara pengambilan darah tikus melalui sinus orbital . ata tiku. kemudian disentrifugasi untuk mendapatkan serum tikus. Tikus galur wistar berat badan 150250gr dibagi menjadi 4 kelompok. Tikus kelompok pertama sebagai kontrol (-) hanya diberikan pakan biasa. Tikus kelompok kedua sebagai kontrol ( ) diinjeksi Aloxsan. Tikus kelompok ketiga (P-. diinjeksi aloksan dan diberi perlakuan seduhan daun sungkai sebanyak 4gr/200 mL/ hari selama 14 hari, dan Tikus kelompok ke empat (P-. diinjeksi aloksan dan diberi perlakuan seduhan daun sungkai sebanyak 8gr/200 mL/ hari selama 14 hari. Pemberian seduhan daun sungkai dilakukan secara oral . menggunakan sonde selama 14 Untuk keseragaman maka pemberian daun sungkai dilakukan setiap hari jam 00Ae13. 00 WIB siang. Setelah 14 hari tikus diberikan seduhan daun sungkai kemudian kadar gula darah tikus dicheck menggunakan photometer. Pengolahan dan pemeriksaan daun Sungkai Daun sungkai diambil dari Kp. Gobah Talang Kayu Jao Nagari Sungai Sirah Kec. Silaut Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat, dan diambil langsung dari batangnya sebanyak 2,5 Kg. Untuk pembuatan rebusan daun sungkai, daun yang sudah dicuci . lembar dau. dikeringkan pada suhu ruang 25-270C selama 3-5 hari yang tidak langsung terpapar sinar matahari. Daun kering diblender, dan simplisia daun ditimbang masing-masing 4gr dan 8gr untuk samasama direbus dengan 200 mL air selama 4 menit untuk kemudian disaring. Berdasarkan (Yani & Ari, 2. bahwa kebiasaan masyarakat suku Lembak untuk penggunaan daun muda P. sebagai obat penurun panas adalah segenggam tangan orang dewasa. Jika diasumsikan berat basah segenggam daun canescens adalah 30 g, berat tubuh ratarata orang dewasa adalah 50 kg dan berat mencit yang akan digunakan berumur A 8 minggu rata-rata 30 g. Hal inidijadikan dasar konversi dosis ekstrak daun muda sungkai P. Canescens terhadap mencit dewasa. Dosis seduhan sungkai (Peronema canescen. yang akan digunakaan dalam penelitian ini adalah 0,5625 . osis menci. 7,0 . aktor konversi dari mencit ke tiku. , yaitu. Dosis 1, 4 gr/200 ml/ hari, dan Dosis 2, 8 gr/200 ml/hari. Pemeriksaan dilakukan dalam beberapa pengujian, sebagai berikut: - Pengujian menggunakan metode AOAC 2012. - Uji Aktifitas Antioksidan, dilakukan pengamatan dengan meggunankan Aktivitas antioksidan (%IC) = (Absorbansi blanko-Absorbansi sampel/ Absorbansi blank. - Uji Total Flavonoid, menggunakan metoda AlCl3 calorimetry dengan perhitungan absorbansi menggunakan UV-VIS gelombang 428nm. Kurva kalibrasi menggunakan standar quercetin dalam metanol . ,005 mg/m. dengan variasi konsentrasi 0g/ml, 5g/ml, 10g/ml, 20g/ml, 40g/ml, dan 60g/ml. Prosedur pemeriksaan gula darah Sentrifugasi darah selama 15 menit dengan kecepatan 4000 rpm sebanyak 10AAl sampel dan standar. Baca absorbansi pada panjang gelombang 500nm. Pembuatan preparat histopatologi ginjal Tikus dimatikan dengan dislokasi medula spinalis. Pankreas dicuci NaCl, lalu fiksasi . dengan 10%NBF. Jaringan didehidrasi dengan alkohol bertingkat . dan diclearing dengan xylol . rendam farafin cair 60AC . lalu dipotong 5 m. Rendam pada waterbath . AC) untuk diaffiksing ke kaca objek. Defarafinasi preparat . ilol I, xilol II, dan xilol . dan dicelupkan alkohol bertingkat . %, 90%, 80%, dan 70%). Warnai preparat dengan haematoksilin 10 menit dan eosin 5 menit, dan celupkan alkohol bertingkat . dan kedalam xylol I. II, dan diamati pankreas yang terjadi. Prosedur ringkas proses penelitian disajikan dalam gambar 1. Analisis Data Data yang terkumpul merupakan data A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 pemeriksaan kadar gula darah, hasilnya merupakan perbandingan dari kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik. Analisa yang pertama yaitu analisa bivariat yaitu untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel Uji normalitas dilakukan dengan uji Saphiro-wilk, jika data terdistribusi normal maka akan mengetahui kadar gula darah sebelum dan sesudah perlakuan dengan uji paired t-test. Jika data tidak terdistribusi normal, maka akan dilakukan analisa data dengan uji non parametrik wilcoxon. Perbedaan antara keempat intervensi dianalisis melalui uji statistik parametrik ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Pose Hoc LSD dan Duncan untuk data yang terdistribusi normal. Namun apabila data tidak terdistribusi normal maka akan digunakan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis yang silanjutkan dengan uji Mann-Whitney (Ahriyasna, 2. Gambar 1. Alur dan proses penelitian. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian menggunakan tikus putih jantan galur Wistar (Rattus norvegicu. berumur 2-3 bulan dengan berat 150-250 gr mengalami drop out terjadi pada minggu kedua penelitian, tikus yang mati adalah tikus kontrol positif nomor tujuh dan minggu ketiga tikus yang mati adalah tikus perlakuan dosis 8gr/200 mL/ hari. Karakteristik daun sungkai Hasil yang didapat berupa ekstrak kental berwarna hijau tua. Ekstrak kental yang didapat kemudian ditimbang dan dihitung rendemen nya. Hasil rendemen ekstrak etanol daun P. canescens dengan bobot tetap 72,88 gr adalah 7,28 %, yang berarti bahwa presentase banyaknya zat Berat badan tikus sebelum dan setelah di intervensi daun Sungkai Kriteria inklusi untuk berat badan tikus yang dijadikan sampel dalam penelitian Uji paired sampel t-test dan uji wilcoxon test dari tabel 1. memperlihatkan perbedaan berat badan yang signifikan kelompok sebelum dan sesudah intervensi rebusan daun sungkai pada kelompok K(P=. K (. P-1 (. , sedangkan pada kelompok P-2 (. tidak terdapat Jika nilai pO. 005 maka terdapat perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi, jika nilai pOu. 005 maka tidak terdapat perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi. Data selisih berat badan tikus sebelum dan terjadinya peningkatan berat badan pada K. 17A1. P-1 00A9. P-2. 83A33. sedangkan pada kelompok K (-9. 50A3. dikarenakan kelompok K tidak diberikan intervensi . , kencing berkepanjangan ditandai dengan sekan yang selalu basah, tidak berselera untuk makan. Selain itu yang didapat dari proses ekstraksi yaitu 7,28% atau terdapat 7,28gr zat yang didapat dari 1000gr simplisia. Hasil ini lebih tinggi daripada hasil yang didapatkan dalam penelitian daun sungkai asal Kalimantan Timur yang dilakukan oleh Ahmad dan Ibrahim . , dimana rendemen ekstrak nya adalah 3,38%. Tahap selanjutnya yaitu melakukan fraksinasi. Fraksi kental nbutanol yang didapat yaitu sebesar 6,2 g sehingga rendemen dari fraksi yaitu 24,8 %, yang berarti terdapat 24,8 bagian zat dari total 100 bagian. Hasil ini juga lebih tinggi sebelumnya yang dilakukan terhadap daun sungkai asal Kalimantan Timur dengan total 3,64% (Fadlilaturrahmah et al. , 2. adalah 150-250 g, untuk memenuhi kriteria tersebut maka dilakukan penimbangan berat badan pada awal penelitian. Penimbangan berat badan tikus dilakukan dilakukan sebelum dan setelah intervensi. perbedaan yang terjadi pada penelitian ini disebabkan oleh perbedaan laju respon metabolik tubuh tikus. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang bermakna pada berat badan tikus sebelum dan sesudah diintervensi daun sungkai, maka perlu dilakukan uji statistika menggunakan uji post hoc yang dapat dilihat dari table 2. Berdasarkan tabel 2. Pada uji pos hoc terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok K terhadap (P-1 dan P-. karena nilai p O 0. Pada kelompok K- terhadap (K . P-1 dan P-. , dan P-1 terhadap P-2 tidak terdapat perbedaan karena nilai pOu0. Perbedaan ini terjadi karena pada kelompok K- tidak diinjeksi 116 lloxan sehingga tidak DM dan tidak terjadi penurunan berat badan. Sedangkan pada kelompok P1 dan P2 yang telah diinjeksi Tabel 1. Nilai berat badan tikus sebelum dan sesudah diintervensi rebusan daun sungkai . eronema canescens jac. selama 14 hari. BB . Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi K205. 33A7. 50A 7. 17 A 1. P= Uji Paired Samples Test 83A3. 33A4. 50A3. P-1 67A14. 67A20. 00 A 9. P-2 00A41. 83 A 33. P*= Uji Wilxocon Test A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Tabel 2. Uji Pos Hoc LSD Perubahan Berat Badan Sebelum dan Sesudah Rebusan Daun Sungkai Selama 14 hari Kelompok Perlakuan i BB (KG) KK P-1 P-2 17A1. 50A3. 00A9. 83A33. Nilai P P-1 Intervensi P-2 *Nilai PO0. 05 = Bermakna dan telah DM tidak terjadi penurunan berat badan dikarenakan pada kelompok ini diberikan intervensi daun sungkai, sehingga dapat menahan laju metabolic melalui antioksidan yang terdapat pada daun sungkai serta anti DM. Uji paired sampel t-test dan wilcoxon test dari tabel 2. memperlihatkan perbedaan berat badan yang signifikan kelompok sebelum dan sesudah intervensi rebusan daun sungkai pada kelompok K(P=. K (. P-1 (. P-2 (. Jika nilai pO. 005 maka terdapat perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi, jika nilai pOu. 005 maka tidak terdapat perbedaan berat badan sebelum dan sesudah intervensi. Data selisih berat badan tikus sebelum dan sesudah intervensi memperlihatkan terjadinya peningkatan K. 17A1. P-1 . 00A9. P2. 83A33. kelompok K (-9. 50A3. terjadinya penurunan berat badan dikarenakan tidak diberikan intervensi . , menyebabkan terjadi kerusakan pada setiap sel reseptor insulin ditubuh tikus, sehingga tidak ada simpanan makanan dalam tubuh yang diakibatkan oleh stress oksidatif. Selain itu stress oksidatif juga dapat disebabkan oleh asam lemak yang tedapat di sel adiposit. Dimana jika asam lemak tidak berupa menyebabkan rusaknya pembuluh darah dan terjadilah stress oksidatif. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Dillasamola et al, 2. yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan berat badan pada saat glukosa darah meningkat, hal ini dikarenakan insulin yang diketahui sebagai reseptor penyerapan glukosa melalui membran khusus dari insulin yang bersifat sensitive yang menghasilkan peningkatan glukosa darah akibat serapan glukosa tertunda, sehingga terjadi kenaikan berat badan pada tikus. Hal ini juga didukung dengan penelitian Eluehike (Eluehike & Onoagbe, 2. menyebutkan pada hasil penelitianya, terjadi peningkatan signifikan berat badan pada hewan yang diberi ekstrak yang mengandung antioksidan . dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini diakibatkan karena tikus mengalami kehilangan lemak dari jaringan adiposa dan katabolisme asam amino dalam jaringan Terdegredasinya protein struktural menyebabkan tikus merasa cepat lapar dan asupan makanan meningkat. Berat badan tikus pada kelompok perlakuan mengalami kenaikan berat badan dikarenakan ada proses perbaikan dengan diberikan rebusan daun sungkai. Rebusan daun sungkai yang diberikan sehingga ada waktu pemulihan/ perbaikan kadar gula darahpada tikus wistar karena flavonoid yang terkandung dalam daun sungkai mampu memutilasi perbaikan jaringan sel beta pankreas yang rusak akibat diinduksi aloksan dan dapat menurunkan kadar gula darah dengan merangsang sel beta pankreas untuk memproduksi insulin dan memperbaiki ganggaun fungsi sel beta (Ghorbani. Berdasarkan uji pos hoc diatas terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok K terhadap (P-1 dan P-. karena nilai p O Pada kelompok K- terhadap (K . P-1 dan P-. , dan P-1 terhadap P-2 tidak terdapat perbedaan karena nilai pOu0. Perbedaan ini terjadi karena pada kelompok K- tidak diinjeksi aloxan sehingga tidak DM dan tidak terjadi penurunan berat badan. Sedangkan pada kelompok P1 dan P2 yang telah diinjeksi aloxan dan telah DM tidak terjadi penurunan berat badan dikarenakan pada kelompok ini diberikan intervensi daun A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 sungkai, sehingga dapat menahan laju terdapat pada daun sungkai serta anti DM. Keberhasilan pengelolaan DM yang disertai dengan hipoinsulinemia ditandai dengan peningkatan kadar gula darah tikus meskipun secara statistik menyatakan terdapat perbadaan yang signifikan pada kelompok K- terhadap (P-1 dan P-. Perbedaan berat badan antar kelompok yang mungkin terjadi karena perbedaan awal berat badan tikus sebelum diintervensi Keadaan penambahan berat badan dapat disebabkan oleh asupan nutrisi berlebihan secara terus menerus, sehingga terjadi simpanan lemak yang berlebihan. Simpanan asam lemak dalam bentuk senyawa kimia berupa triasilgliserol yang terdapat di dalam sel-sel adiposit dapat melindungi tubuh dari efek toksik asam lemak. Asam lemak dalam bentuk bebas dapat bersirkulasi dalam pembuluh darah ke seluruh tubuh dan menimbulkan stres oksidatif yang kita kenal dengan lipotoksisitas. Begitu pula dengan hal nya penurunan berat badan tikus yang terjadi pada kelompok perlakuan K yang mungkin terjadi karena tikus mengalami stress oksidatif yang diakibatkan oleh DM namun tidak diberikan intervensi untuk menanggulangi DM tesebut. Perbedaan berat badan tikus juga mungkin terjadi karena perbedaan berat badan tikus sebelum di intervensi pada setiap kelompok. Menurut Winarsi Dkk pada tahun 2013 penurunan berat badan pada kelompok tikus K dan p-1 terjadi karena kerusakan fungsi pankreas dimana Fungsi pankreas adalah memproduksi insulin untuk memproses glukosa sebagai sumber energi. Penderita diabetes, pankreasnya gagal akibatnya terjadi resistensi insulin. Karena tubuh memerlukan energi maka sebagai alternatifnya adalah memecah lemak untuk menjadi energi. Bila energi tidak mencukupi, maka protein otot dipecah, sehingga lamalama berat badan menurun. Dengan demikian jelas, bahwa tikus diabetes disertai pankreasnya rusak. Kadar gula darah tikus sebelum dan setelah pemberian intervensi daun Sungkai Kriteria inklusi untuk kadar gula darah tikus yang dijadikan sampel adalah >200mg/dL, untuk memenuhi kriteria inklusi tersebut hewan coba diinduksi aloxan sebanyak 100 mg/kg BB tikus. Cek kadar gula darah dilakukan sebelum dan sesudah Untuk mengetahui kadar gula darah tikus dilakukan check gula darah . nzimatis/seru. Berdasarkan tabel 3. hasil perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi rebusan daun sungkai menggunakan uji paired samples t Data selisih kadar gula darah tikus memperlihatkan terjadinya penurunan kadar K . 00A37. P-1 . 17A24. P-2 17A14,. Berdasarkan tabel diatas memperlihatkan nilai P value pada masingmasing kelompok adalah K (. P-1 (P= P-2 (P= . Jika nilai p O . 005 maka terdapat perbedaan yang signifikan berarti ada pengaruh pemberian rebusan daun sungkai terhadap kadar gula darah pada tikus wistar yang diinduksi diabetes melitus, jika nilai pOu. 005 maka tidak terdapat perbedaan artinya tidak terdapat pengaruh pemberian daun sungkai terhadap kadar gula darah. Pada kelompok K- tidak terdapat perbedaan dikarenakan kelompok ini tidak diinjeksi aloksan dan tidak diberi intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa daun sungkai memiliki efek antidiabetes atau berperan Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan Tabel 3. Nilai kadar gula darah tikus sebelum dan sesudah intervensi rebusan daun sungkai selama 14 hari Glucose . g/dL) Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi K87. 00A4. 83 A3. 83A 2. 50A91. 50A65. 00 A 37. P-1 50A15. 33A 12. 17A24. P-2 50A10. 33A6. 17A14. P= uji paired samples test A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Tabel 4. Uji Pos Hoc LSD Perubahan Kadar Gula Darah Sebelum dan Intervensi Rebusan Daun Sungkai Selama 14 hari Kelompok Perlakuan KK P-1 P-2 i KGD . g/d. 83A2. 00A37. 17A24. 17A14. Nilai P P-1 Sesudah P-2 *Nilai PO0. 05 = Bermakna yang bermakna pada kadar gula darah tikus sebelum dan sesudah diintervensi kawa daun, maka perlu dilakukan uji statistika menggunakan uji post hoch yang dapat dilihat dari table 4. Pada uji pos hoc tabel 4. perbedaan yang bermakna diantara masingmasing kelompok karena nilai p O 0. Pada kelompok P-1 terhadap P-2 tidak terdapat perbedaan karena nilai pOu0. keberhasilan pengelolaan DM yang disertai dengan hipoinsulinemia ditandai dengan peningkatan kadar gula darah tikus meskipun secara statistik menyatakan terdapat perbadaan yang signifikan pada kelompok K- terhadap (K . P-1, dan P-. K terhadap (P-1 dan P-. namun tidak dapat pebedaan pada kelompok P-1 terhadap P-2. Berdasarkan analisis pada tabel 4. memperlihatkan hasil perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi rebusan daun sungkai menggunakan uji paired samples t test. Data selisih kadar gula darah tikus sebelum dan sesudah intervensi memperlihatkan terjadinya penurunan kadar K . 00A37. P-1 . 17A24. P-2 17A14,. , sedangkan pada kelompok K(-. 83A2. Berdasarkan tabel diatas memperlihatkan nilai P value pada masing-masing kelompok adalah K- (P= . K (. P-1 (P= P-2 (P= . Jika nilai p O . 005 maka terdapat perbedaan yang signifikan berarti ada pengaruh pemberian rebusan daun sungkai terhadap kadar gula darah pada tikus wistar yang diinduksi diabetes melitus, jika nilai pOu. 005 maka tidak terdapat perbedaan artinya tidak terdapat pengaruh pemberian daun sungkai terhadap kadar gula darah. Pada kelompok K- tidak terdapat perbedaan dikarenakan kelompok ini tidak diinjeksi aloksan dan tidak diberi intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa daun sungkai memiliki efek antidiabetes atau berperan sebagai antihiperglikemik. Pindan et al menyebutkan bahwa daun sungkai positif mengandung flavonoid, alkaloid, steroid, triterpenoid, fenolik dan sponin (Pindan et al, 2. Madya Latief dkk, juga menyebutkan hasil uji fitokimia pada ekstrak etanol daun P. Cannescens Jack positif mengandung senyawa golongan flavonoid, alkaloid, fenolik, steroid, sponin dan tanin hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (Ahmad et al. , 2017. Latief et al. Flavonoid diketahui memiliki aktifitas antioksidan yang berkaitan dengan aktifitas Flavonoid diketahui memiliki aktifitas antioksidan yang diyakini mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang spesies oksigen sehingga mampu menghambat terjadinya penyakit degeneratif seperti DM. Terkait diabetes, flavonoid diduga berperan secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan mampu meregenerasi selsel pankreas yang rusak sehingga defisiensi insulin dapat diatasi. Flavonoid yang terkandung di dalam tumbuhan diduga juga dapat memperbaiki sensitifitas reseptor Sehingga memberikan efek yang menguntungkan pada keadaan DM (Eluehike et al. ,2. Flavonoid dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan kemampuannya sebagai zat Flavonoid bersifat protektif terhadap kerusakan sel sebagai penghasil sensitivitas reseptor insulin pada sel dan bahkan meningkatkan sensitivitas insulin. Antioksidan dapat menekan apoptosis sel tanpa mengubah proliferasi sel pankreas. Antioksidan dapat mengikat radikal bebas yang telah dibuktikan dalam beberapa penelitian, sehingga dapat mengurangi resistensi insulin (Szkudelski et al, 2. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Hasil uji proksimat, antioksidan, dan flavonoid daun Sungkai Tabel 5. Persentase komposisi fitokimia daun Sungkai Pengujian Kandungan air Kandungan Protein Antioksidan Flavonoid 9 mg QE/g Sebaran data pada tabel 5 menunjukan adanya kandungan nilai antioksidan dan flavonoid yang sangat tinggi. Kondisi ini memberikan indikasi positif terhadap kemampuan protektif sel dan jaringan dari kerusakan jaringan fungsional pada kondisi Flavonoid merupakan senyawa yang memberikan efek anti-hipertensif, antidiabetik, dan ati-inflamasi. Beberapa fungsi flavonoid bersamaan dengan antioksidan memiliki kemampuan dalam aktivitas renoprotektif, yaitu proteksi jaringan ginjal pada kondisi glomerulonephritis, diabetic nefropati, insufisiensi ginjal terinduksi baham kimia berbahaya (Vargas et al, 2. Antioksidan tinggi yang terkandung juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam terjadinya stess oksidatif. Kandungan air dan kandungan protein yang terdapat pada daun Sungkai juga menunjukan nilai yang cukup tinggi. Kandungan protein ini akan mempercepat proses perbaikan jaringan yang mengalami kerusakan karena kondisi diabetes, baik pada kerusakan pada pankreas, maupun pada organ ginjal. Profil kerusakan pada histopatologi ginjal tikus diabetes dengan daun Sungkai Pemeriksaan ini menggunakan Teknik penghitungan luas persentase kerusakan jaringan pada histopatologi ginjal tikus setiap kelompoknya. Pada tabel 6 menunjukan adanya penurunan persentase kerusakan organ ginjal berdasarkan gambaran histopatologi organ dengan indikasi kerusakan pada nefron ginjal. Perbaikan yang cukup signifikan ditunjukan pada kelompok perlakuan dosis kedua dengan penurunan luas kerusakan yang cukup signifikan. Sedangkan perbaikan pada kerusakan jaringan di organ ginjal sudah menunjukan improvisasi pada kelompok intervensi Sungkai. Gambaran histopatologis kerusakan jaringan dapat diperbandingkan pada gambar 2. Tabel 6. Persentase kerusakan jaringan nefron pada ginjal tikus kelompok penelitian daun Sungkai Kelompok Pengujian KK Kerusakan jaringan (%) Hasil penelitian ini menunjukan adanya kerusakan jaringan pada organ tertentu yang memiliki fungsi yang cukup signifikan, pankreas, ginjal, dan hepar. Beberapa teori juga mengindikasikan adanya beberapa masalah utama pada organ ginjal penderita diabetes seperti terjadinya renal ischemia, terbentuknya reperfusi karena injuri jaringan nefron, dan mekanisme regenerasi yang cukup lambat. Kondisi diabetes akan menyebabkan kerusakan berat pada tubulus ginjal, injuri jaringan nefrotik, dan disfungsi nefron ginjal. Kondisi ini juga diperburuk dengan terjadinya stess oksidatif, respon inflamasi, dan kejadian apoptosis jaringan di ginjal (Gong et al, 2019. Primal D et al, 2019. Vargas et al, 2. Berdasarkan histopatologi, kelompok control negative menunjukan glomerulus yang normal. Sedangkan pada kelompok control positif (B), sudah terbentuk adanya fatty change, glomerulus dan tubulus, terbentuknya jaringan inflamasi yang ditandai dengan adanya sel radang/ sel leukosit inflamatorik. Akumulasi sel leukosit yang cukup banyak juga menandakan luasnya kerusalan pada organ ginjal terjadi. Pada kelompok perlakuan daun Sungkai dosis rendah (C), akumulasi sel leukosit menandakan adanya respon perbaikan jaringan yang terjadi secara merata, namun kerusakan pada glomerulus masih terjadi dan telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan pada kelompok intervensi daun Sungkai dosis kedua. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Gambar 2. Gambaran persentase kerusakan jaringan jaringan ginjal tikus pada Kontrol negatif. Kontrol positif. Perlakuan 1 . osis renda. , dan D. Perlakuan 2 . osis tingg. Pada penelitian Wang et al . , kerusakan ginjal pada kondisi diabetes menunjukan adanya akumulasi asam urat yang bermanifestasi pada gangguan metabolisme asam urat tersebut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya nefropati karena asam urat. Kondisi ini juga mengakibatkan terjadinya renal fibrosis yang menunjukan adanya respon inflamasi pada ginjal. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbaikan fungsi organ ginjal hewan coba yang diinduksi dengan bahan tanaman yang mengandung flavonoid tinggi. Pada saat yang bersamaan, flavonoid tinggi yang terkandung tersebut juga menghambat terjadinya stess oksidatif ginjal. Flavonoid secara langsung menekan factor inflamasi interleukin-6 (IL-. , tumor necrosis factor (TNF-), (IL-. cyclooxygenase-2 (COX-. dan profibrotic Selain itu, kandungan flavonoid ini secara signifikan menghambat produksi asam urat dan mempercepat proses eksresinya karena adanya peningkatan ATP-binding cassette transporter G2 dan organic cation/ carnitine transporter 2. Flavonoid yang yang mencegah terjadinya kerusakan renal juga memperbaiki kondisi hipertensi arterial yang pada akhirnya secara langsung akan menurunkan tekanan darah tinggi dan aktivitas langsung pada Flavonoids memperbaiki kerusakan nefron ginjal, memberikan efek yang positif pada kerja kemoterapi, antikanker, meberikan efek vasculoprotective, dan efek renoprotektif (Danilova et al, 2017. Vargas et al, 2018. Wang et al, 2. Penelitian ini menunjukan adanya fenomena dengan semakin menurunnya persentase kerusakan jaringan nefron pada ginjal di dua kelompok perlakuan, baik pada bagian medulla maupun adrenal ginjal, berdasarkan tabel 6. Perbaikan jaringan di ginjal juga menunjukan nilai korelasi positive dengan perbaikan pada pankreas yang sudah diteliti dari beberapa penelitian Pada kelompok pemberian A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 9 . 2022 : 110-124 Sungkai menunjukan efek yang signifikan dimana morfologi sel pada jaringan ginjal pada kelompok kontrol negatif . anpa perlakuan Kandungan antioksidan dan flavonoid yang cukup tinggi pada daun Sungkai diyakini menjadi indikasi terjadinya perbaikan jaringan pada ginjal karena memiliki fungsi regenerasi sel yang mengalami inflamasi dan injury, seperti sel yang mengalami akumulasi membran. Penelitian Ramadhan . memberikan pandangan yang sama bahwa adanya perbaikan efek destruktif jaringan pankreas dan nefrotik tikus diabetes melalui peningkatan C-peptida pada kelompok hewan coba yang diintervensi dengan antiokasidan dan anti-atherogenic cukup KESIMPULAN Rata-rata kadar gula darah tikus wistar sebelum diintervensi dengan rebusan daun sungkai dosis 1 dan dosis 2 dengan rata-rata kadar gula darah tikus wistar sesudah diintervensi menunjukan penurunan yang Terdapat perbedaan rata-rata kadar gula darah sebelum dan sesudah diintervensi dengan rebusan daun sungkai, dan terdapat perbedaan rata-rata kadar gula darah sebelum dan sesudah diintervensi dengan rebusan daun sungkai dibandingkan dengan kelompok K (K dengan P-. , (K dengan P-. dan tidak terdapat perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah diintervensi antara kelompok P-1 dengan P2. Kandungan flavonoid dan antioksidan yang cukup signifikan pada daun sungkai membantu perbaikan pada kerusakan jaringan nefrotik pada ginjal tikus dengan persentase kerusakan yang berbeda disetiap kelompok uji. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih yang sebesarnya kepada DRPM Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Republik Indonesia yang telah mendanai secara terselesaikan dengan baik. Selanjutnya kepada UPT Laboratorium Fakultas Farmasi dan Fakultas Ilmu Kesehatan, beserta Manajemen Universitas Perintis Indonesia terhadap dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. REFERENSI