Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Imam Muhammad Bin Husain Al-Jurri: Etika Guru Dalam Mendidik Peserta Didik Saripuddin Napitupulu1. Wedra Aprison2 1,2 Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Indonesia Corresponding Author: saripuddinnapitupulu@gmail. ABSTRACT Key Word Dalam penelitian ini, perspektif Imam Muhammad bin Husain Al-Jurri digunakan sebagai dasar untuk menilai bagaimana guru harus mendidik siswa mereka. Al-Jurri menekankan bahwa proses pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik tetapi juga pada pengembangan moral dan karakter siswa. Pendidikan dianggap sebagai cara untuk menyebarkan nilai-nilai agama, terutama Islam, yang membantu menumbuhkan kesadaran sosial dan spiritual. Penelitian ini menyelidiki nilai-nilai etika yang relevan dalam pengajaran melalui analisis karya Al-Jurri. Ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa guru harus mengikuti prinsip-prinsip etika berikut: niat yang ikhlas, perlakuan yang adil terhadap siswa, dan penggunaan metode pengajaran yang lembut dan penuh penghormatan. Studi ini juga menemukan bahwa peran guru sebagai teladan moral sangat penting untuk membentuk sikap dan tindakan siswa. Penerapan prinsip moral dalam pendidikan menjadi sangat penting mengingat tantangan moral yang dihadapi generasi muda saat ini. Diharapkan penelitian ini akan memberikan kontribusi baru untuk penelitian tentang etika pendidikan Islam serta petunjuk praktis bagi pendidik tentang bagaimana memasukkan nilai-nilai etika ke dalam proses pembelajaran mereka, dengan harapan dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berbudi pekerti luhur. Etika Guru. Pendidikan Islam. Imam Al-Jurri. Kepribadian. Keinginan Tulus. How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr ARTICLE INFO Article history: Received 10 November 2024 Revised 21 December 2024 Accepted 01 January 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Ada banyak perspektif yang berbeda tentang pendidikan. Untuk mencapai potensi seseorang, pendidikan adalah proses. Selain itu, pendidikan dianggap sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai agama, terutama Islam, kepada masyarakat (Marita Sari, 2. Pendidikan tidak hanya mencakup apa yang diajarkan di sekolah. itu juga penting untuk membangun karakter dan moral. Hal ini penting untuk menghasilkan orang yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan spiritual yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan agama Islam sangat penting untuk membangun pemahaman dan pengamalan ajaran agama di kalangan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 siswa, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku di masyarakat (Zainuddin & Siti Nurhidayatul Hasanah, 2. Etika adalah cabang ilmu filsafat yang mempelajari prinsip-prinsip moral yang menentukan perilaku yang baik dan buruk, serta benar dan salah (Nata, 2. Etika membantu orang dan masyarakat dalam membuat keputusan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui. Dalam perspektif yang lebih luas, etika juga mencakup mengevaluasi dan merenungkan kebiasaan yang ada dalam suatu sistem sosial atau budaya (Pratama et al. , 2. Oleh karena itu, etika berfungsi sebagai dasar untuk pemahaman tentang tanggung jawab moral dan bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan (Haryanti, 2. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa sehingga mereka menjadi orang yang baik dan berintegritas (Akbar, 2015. Hidayat, 2021. Zaim, 2. Penelitian menunjukkan bahwa guru yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan keberhasilan akademik, dan mereka juga mencerminkan nilai moral yang harus ditanamkan dalam diri siswa. Oleh karena itu, guru harus memiliki moral dan sifat yang baik, menghormati martabat setiap siswa, dan menciptakan suasana belajar yang inklusif dan mendukung di mana setiap siswa merasa dihargai. Ini akan menciptakan interaksi konstruktif dalam proses belajar mengajar. (Viranny & Wardhono, 2. Dalam hal etika pendidikan. Imam Al-Jurri menekankan betapa pentingnya akhlak dan moralitas dalam proses belajar mengajar. Karena sikap dan tindakan pendidik akan sangat mempengaruhi perkembangan karakter siswa, dia berpendapat bahwa pendidik harus menjadi teladan dalam perilaku baik. Al-Jurri juga menekankan bahwa pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Menurutnya, pendidikan yang berhasil harus menghasilkan orang yang tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga memiliki budi pekerti yang Selain itu, ia menekankan pentingnya mengajar dengan niat yang baik, yang berarti pendidik harus termotivasi untuk mengajar demi kebaikan dan kebahagiaan peserta didik serta untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas dalam masyarakat (Baransano, 2. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk individu dan masyarakat. Dalam konteks Islam, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moral (Andy Riski Pratama, 2. Dalam hal ini, etika guru menjadi sangat penting, karena guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan moral bagi siswa. Imam Muhammad bin Husain AlJurri, seorang tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam, menekankan bahwa pendidikan harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan metode yang penuh Ia berpendapat bahwa pendidikan tidak semata-mata tentang Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 pengetahuan, tetapi juga tentang membangun akhlak dan karakter siswa. Di tengah tantangan pendidikan modern, seperti krisis moral di kalangan generasi muda, pemikiran Al-Jurri tentang etika dalam pendidikan menjadi sangat relevan. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai etika guru dalam mendidik siswa, serta kontribusi baru dalam kajian etika pendidikan Islam yang dapat diterapkan dalam praktik pendidikan saat ini. Perbedaan dengan Penelitian Lain. Fokus pada Al-Jurri: Banyak penelitian sebelumnya mungkin lebih menekankan pada tokoh-tokoh lain dalam sejarah pendidikan Islam, seperti al-Ghazali atau Ibnu Sina. Penelitian ini berfokus secara khusus pada al-Jurri, yang kurang mendapatkan perhatian dalam kajian pendidikan. Sementara beberapa penelitian mungkin lebih berorientasi pada aspek akademis atau metodologis dalam pendidikan, penelitian ini menekankan pada dimensi etika. Ini memberikan sudut pandang yang lebih holistik dalam memahami pendidikan sebagai proses yang tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan pengembangan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengaitkan pemikiran Al-Jurri dengan tantangan pendidikan masa kini, seperti krisis moral dan etika di kalangan generasi muda. Hal ini menjadikannya lebih aplikatif dalam konteks pendidikan modern dibandingkan dengan penelitian yang hanya membahas aspek historis atau teoritis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam kajian etika pendidikan Islam, serta memberikan panduan bagi pendidik dalam menerapkan nilainilai etika dalam proses belajar mengajar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif adalah pendekatan penelitian yang fokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena sosial melalui pengumpulan data yang bersifat naratif dan deskriptif. Metode ini akan digunakan untuk mendalami pemikiran Al-Jurri secara mendalam. Melalui analisis teks-teks karya Al-Jurri, peneliti dapat mengidentifikasi dan menggali nilai-nilai etika yang terdapat di dalam kitabnya (Somantri, 2. Jenis penelitian dan analisis data yang biasanya dilakukan adalah studi kasus dengan mendalam tentang satu atau beberapa kasus di dunia nyata. (Dwiyanto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Seorang Imam ahlus sunnah yang hidup pada abad keempat Hijriyah adalah AlAjurri. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al-Baghdadi Al-Ajurri, dan kunyahnya adalah Abu Bakr. Ia berasal dari desa Darbal Ajur, yang terletak di bagian barat Baghdad. Ia pindah ke Mekkah dan menjadi orang yang belajar dari banyak ulama di Irak. Ia tinggal di Mekkah selama 30 tahun hingga wafatnya pada Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 tahun 320 H. beberapa ulama mengatakan dia bermazhab Syafi'i, sementara yang lain mengatakan dia bermazhab Hambali . bnu handoyo, 2. Beliau tumbuh di Baghdad dan belajar dari para ulama di sana, tetapi keinginan besarnya untuk belajar tentang agama membuatnya pindah ke Mekah pada tahun 299 H, saat dia masih sembilan belas tahun. Di sana, dia mendengar hadis dari AlMufadhdhal bin Muhammad Al-Jundi dan yang lainnya, dan kemudian mengajar hadis di Baghdad dalam berbagai forum dan kesempatan. Namun, pada tahun 330 H, mereka kembali ke Mekah dan memutuskan untuk tinggal di sana. Beliau bertemu dengan banyak ulama terkemuka pada masanya di kota di mana Nabi dilahirkan. Selama tiga puluh tahun, dia tinggal di kota suci itu. Menurut Al-Ajurri sendiri, penyebaran berbagai bid'ah di Baghdad mendorongnya untuk pindah ke Mekah (Fatwapedia. Banyak Ulama yang berpandangan baik mengenai kepribadian dan mengenai keilmuan imam al-Jurri diantarnya: Ibnu Jauzi dalam kitab ash-Shafwah ia mengatakan bahwa beliau adalah orang yang taat beragama dan banyak menulis banyak karya, alKhatib mengatakan beliau orang yang stiqah, shaduq . angat juju. taat beragama dan banyak karya. Dzahabi dalam Siyar AAolam an-NubalaAo beliau seorang imam, muhaddits, panutan, syaikh di al-Haram, shaduq. Aoabid, shahibus, sunnah, dan ahli ittibaAo. Pandangan Imam al-Jurru terhadap etika guru dalam mengajar, beliau memberikan beberapa etika atau adab yang mesti diamalkan seorang guru dalam Pertama, dengan niat yang ikhlas. Menurut Imam Al-Jurri, niat yang ikhlas berarti seseorang melakukan sesuatu hanya karena mengharapkan ridha Allah dan menghindari tujuan duniawi seperti pujian atau sanjungan. Dia percaya bahwa inti dari amal yang diterima oleh Allah adalah keikhlasan. Imam Al-Jurri juga menekankan bahwa ikhlas adalah upaya menjaga hati agar tidak terpengaruh oleh niat yang bercampur dengan riya' . atau sum'ah . ngin didengar baikny. Dalam situasi seperti ini, niat yang benar-benar ikhlas merupakan dasar utama untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan. Amal yang terlihat baik dapat menjadi sia-sia tanpa Menurut Imam Al-Jurri, niat yang ikhlas pada dasarnya adalah niat yang murni dan benar-benar mengharapkan keridhaan Allah tanpa menggabungkannya dengan kepentingan duniawi. Kedua, menghadap ke arah kiblat. Dalam pengajarannya. Imam Al-Jurri menyatakan bahwa menghadap ke arah kiblat memiliki makna spiritual dan simbolis yang mendalam. Selama proses mengajar, menghadap ke kiblat tidak hanya berarti posisi fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa pengetahuan yang diberikan adalah amanah dari Allah dan harus diberikan dengan niat tulus untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Menurut Imam Al-Jurri, dalam proses mendidik, seorang guru harus Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 bertindak dengan tulus dan tulus, senantiasa mengarahkan dirinya kepada Allah. Dengan menghadap ke kiblat, guru menunjukkan sikap penghormatan terhadap ilmu sebagai sesuatu yang berasal dari Allah dan menyadari bahwa tujuan akhir dari ilmu adalah untuk mendapatkan ridha-Nya. Menurut Imam Al-Jurri, menghadap kiblat saat mengajar tidak hanya berarti arah fisik, tetapi juga mencerminkan orientasi spiritual dan keikhlasan seorang pendidik. Sebagaimana sabda Rasulullah: A aE E aeI aEO OA Aa eCO aE O ON E OeC e E OaA a aACA a eA aUAAEacO NEEa aE eaO ON aO aEac aIA ca AE EIOA e A aIA a AacaA Majelis yang paling utama adalah yang menghadap kiblat. (HR. At-Thabran. Ketiga, tidak membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin hendaknya dia menunaikan hak kepada setiap orang yang berhak, dan bersikap pertengahan jika dia benar-benar menginginkan ridha Allah dalam pengajaran, maka tidak diperkenankan bersikap lembut hanya kepada orang kaya, dan bersikap kasar kepada orang miskin. Jika seorang pendidik melakukan hal tersebuat, maka sungguh dia telah berbuat zhalim dan perbuatannya. Maka hendaklah seorang guru berlaku adil kepada keduanya . rang kaya dan miski. Kemudian hendaknya menghindari sikap tawadhuAo hanya kepada orang kaya, tetapi takabur kepada orang fakir. Akan tetapi, seyogianya menjadi rendah hati atau lebih akrab kepada orang fakir. Muhammad al -Husain al-Jurri berkata: ada satu riwayat menjelaskan bahwa Allah mendidik Nabi-Nya Muhammad SAW dengan perintah-Nya untuk berdekata-dekat dengan orang fakir dan tidak memalingkan pandangan dari mereka. Keempat, lebih prioritas fasih, maksudnya Istilah "prioritas fasih" dalam konteks ajarannya tidak merujuk langsung pada frasa spesifik yang dikenal, tetapi dapat dihubungkan dengan konsep-prinsip yang sering disinggung oleh para ulama dalam menetapkan skala prioritas dalam memahami dan mengajarkan ilmu agama. Prioritas fasih dapat digambarkan sebagai berikut jika dikaitkan dengan arti umum kata fasih, yang berarti "jelas" atau "fasih dalam menyampaikan sesuatu": Pentingnya Pemahaman yang Jelas, artinya Imam al-Jurri mungkin menekankan bahwa hal-hal yang jelas dan penting harus diprioritaskan dalam memahami Akidah yang benar, kewajiban agama, dan akhlak mulia adalah fondasi utama yang harus diprioritaskan sebelum membahas masalah cabang atau perbedaan pendapat. Keutamaan dalam Komunikasi: Agar ilmu yang disampaikan benar-benar dipahami dan diamalkan, seorang Muslim harus menyampaikan dengan cara yang fasih, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar. Urutan Prioritas Ilmu: Ulama seperti Imam al-Jurri sering mengatakan bahwa ilmu yang wajib harus diprioritaskan daripada ilmu yang sunnah, atau hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan akidah dan ibadah daripada mempelajari masalah teknis. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 Kelima menyimak hanya satu orang, artinya hendaknya seorang guru mendengarkan dengan baik kepada murid yang menyetorkan bacaan tersebut. Hendaknya seorang guru tidak menyibukkan diri dengan percakapan atau aktivitas Para ulama salaf, seperti Imam al-Jurri, selalu menekankan bahwa adab adalah pintu masuk untuk mendapatkan cahaya. Salah satu cara untuk menghormati ilmu dan guru adalah dengan mendengarkan seseorang dengan penuh perhatian. Ini juga membantu memastikan bahwa Anda memahami apa yang Anda katakan. Dalam Islam, menyimak dengan baik adalah bagian dari adab menuntut ilmu. Menyimak satu orang pada suatu waktu bukan berarti menutup diri dari pendapat lain, tetapi cara untuk memastikan ilmu dipahami dengan jelas sebelum diperluas. Ini adalah langkah awal menuju penguasaan ilmu yang benar dan aplikasi yang sesuai dengan syariat. Keenam, tidak kasar dan tidak menghardik, jika seorang guru mendapati muridnya melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka jangan dia menghardiknya dengan keras. Hendaknya seorang guru menegur dengan lemah lembut. Jangan memperlakukannya dengan kasar dan harus bersikap sabar. Imam al-Jurri khawatir jika seorang murid dikasari, dia akan kabur dan tidak mau lagi untuk belajar. Telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda: ajarilah jangan berbuat kasar. Sesungguhnya seorang muallim lebih baik dari seorang yang bengis. Rasulullah juga bersabda: sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk menyulitkan, (HR. al-Bukhar. Rasulullah juga bersabda: "Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya, (HR. Muslim, no. Guru Sebagai Teladan Kelembutan: Idealnya, seorang guru atau mu'allim harus menjadi orang yang lemah lembut dan sabar saat membimbing. Menjauhi Kekasaran: Kekerasan atau sikap bengis dalam mengajar dapat menjauhkan orang dari pelajaran. Mengutamakan Adab: Adab seorang pendidik sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik. Ketujuh, tidak meminta dipenuhi kebutuhan oleh muridnya. Imam al-Jurri, mengatakan bahwa apabilah seorang guru dalam mengajar mengharapkan ridha Allah, maka hendaknya seorang guru tidak meminta dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya oleh orang yang belajar kepadanya. Hendaknya dia tidak menjadikan para murid sebagai Jangan pula seorang guru membebani murid agar memenuhi Apabilah seorang guru memiliki hajat atau kebutuhan, maka hal tersebut bisa dibebankan kepada orang yang tidak belajar padanya . bnu handoyo. Relevansi pendidikan saat ini dengan pendapat Imam Al-Ajurri Dapat dilihat dari berbagai prinsip mendasar yang diajarkan oleh beliau, khususnya dalam konteks adab dan keikhlasan dalam pendidikan. Meskipun pandangan Imam al-jurri berasal dari tradisi Islam klasik, nilai-nilai yang terkandung Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 dalam pemikirannya sangat relevan dengan tantangan dan kebutuhan pendidikan Berikut adalah beberapa relevansinya: Pandangan Imam al-Ajurri tentang Pendidikan Berbasis Adab dan Akhlak: Beliau menekankan betapa pentingnya adab dalam belajar dan mengajar. Murid harus menghormati pendidik mereka, sementara pendidik harus menjadi teladan moral dan sabar. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah tentang pembentukan karakter selain mentransfer pengetahuan. Relevansi Saat Ini: Sistem pendidikan kontemporer seringkali berpusat pada pengetahuan kognitif . daripada pembentukan karakter. Prinsip Imam al-Ajurri menekankan betapa pentingnya pendidikan karakter untuk menghasilkan individu yang bermoral. Gagasan ini sejalan dengan program-program seperti Pendidikan Karakter Nasional Indonesia dan pendekatan holistik dalam pendidikan modern (Hollins, 2. Pandangan Imam al-Ajurri: Mengajar adalah ibadah. Guru harus mengajar dengan tulus, bukan untuk mendapatkan uang atau popularitas. Guru tidak boleh mengambil keuntungan dari siswanya untuk kepentingan pribadi. Relevansi Saat Ini: Komersialisasi pendidikan sering mengurangi kualitas pembelajaran di era modern. Kadang-kadang, lembaga pendidikan lebih fokus pada bisnis daripada pendidikan. Prinsip-prinsip yang dipegang oleh Imam al-Ajurri mengingatkan betapa pentingnya mengembalikan pendidikan ke tujuan murni untuk mencerdaskan negara dan mendidik generasi yang beradab. Menurut Imam al-Ajurri, peran guru sebagai contoh: Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing moral. Karena guru akan dicontoh oleh muridnya, guru harus bermoral. Relevansi Saat Ini: Kekurangan contoh pendidik adalah salah satu masalah dalam pendidikan kontemporer. Guru yang tidak memiliki moral cenderung sulit dihormati oleh siswanya. Pandangan ini sangat relevan dengan program pelatihan guru yang berfokus pada peningkatan kompetensi dan Dalam "Moral Principles in Education", yang ditulis olehohn Dewey pada tahun 1909, dia menekankan bahwa guru tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajar tetapi juga berfungsi sebagai contoh moral bagi siswa mereka. Untuk membangun rasa hormat dan hubungan baik antara guru dan siswa, keteladanan sangat penting. (Gao & Wang, 2. Imam al-Ajurri menekankan bahwa pengajaran harus dilakukan dengan kasih sayang dan tidak memberatkan murid. Guru harus memahami kapasitas dan kondisi Relevansi Saat Ini: Kurikulum kontemporer seringkali terlalu ketat dan menuntut siswa untuk memenuhi berbagai tujuan akademik yang ketat. Akibatnya, ruang untuk kreativitas dan eksplorasi semakin terbatas. Prinsip ini mengingatkan bahwa pendidikan tidak seharusnya berfokus pada angka atau nilai, tetapi seharusnya menyesuaikan dengan kebutuhan unik siswa dan mendukung perkembangan mereka secara bertahap. Menurut Imam al-Ajurri, ilmu adalah anugerah dari Allah yang harus Guru harus dengan amanah mengajarkan pengetahuan, dan siswa harus mempelajarinya dengan hormat. Relevansi Saat Ini: Dengan banyaknya sumber Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 1 March 2025 Page 150-158 informasi yang tersedia di era digital, masalah terbesar adalah mengabaikan peran otoritas ilmu dan ilmuwan. Sehingga siswa tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menghargainya, pendidikan kontemporer harus menumbuhkan kembali rasa hormat terhadap pengetahuan dan pengajaran. (Frost & Postman, 1. Pandangan Imam al-Ajurri tentang Keberkahan Ilmu: Ilmu yang tidak disertai dengan adab atau digunakan dengan cara yang salah tidak akan membawa kebaikan. Relevansi Saat Ini: Dalam era kontemporer, indikator material seperti pekerjaan dan penghasilan sering digunakan untuk mengukur kesuksesan pendidikan. Prinsip Imam al-Ajurri mengingatkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga mencapai keberkahan hidup dan keuntungan bagi masyarakat. Pandangan Imam al-Ajurri tentang Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Pendidikan harus mencakup aspek duniawi dan ukhrawi, mendidik siswa untuk sukses di dunia dan menjadi hamba Allah yang taat. Relevansi Saat Ini: Spiritualitas sering diabaikan dalam pendidikan kontemporer. Agar siswa tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga moral dan spiritual, program pendidikan berbasis nilai atau agama sangat penting. KESIMPULAN Berdasarkan pemikiran Imam Al-Jurri, penelitian ini menekankan pentingnya etika guru dalam mendidik siswa. Al-Jurri menekankan bahwa pendidikan tidak hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan moralitas siswa. Seorang guru dapat menjadi teladan yang baik bagi muridnya dengan niat yang tulus, sikap adil, dan metode pengajaran yang penuh penghormatan. Beberapa prinsip etika yang ditekankan termasuk menghadap kiblat, tidak membedakan orang kaya dan miskin, dan bersikap ramah saat mengajar. Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan orang yang tidak hanya cerdas tetapi juga budi pekerti yang baik dengan menerapkan etika ini. Untuk menghadapi tantangan krisis moral di kalangan generasi muda saat ini, penting bagi mereka untuk menyadari tanggung jawab moral mereka dalam pendidikan. Penelitian ini, meningkatkan penelitian tentang etika pendidikan Islam, serta memberikan panduan bagi pendidik dalam menerapkan nilai-nilai etika dalam proses belajar mengajar. DAFTAR PUSTAKA