Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Analisis Lokasi Embung Berdasarkan Kriteria SPI Berbasis Sistem Informasi Geografis Anggi Puspita Dewi1. Sri Sangkawati2. Sutarto Edhisono3 Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro1,2 email: puspitaanggidewi@gmail. com1, srisangkawati@gmail. DOI: http://dx. org/10. 31869/rtj. Abstrak: Kekeringan yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah pada tahun 2015 mengganggu perannya sebagai penyangga pangan nasional. Pembangunan embung sebagai penanganan kekeringan jangka panjang pada pelaksanaannya terkendala masalah lahan, sehingga pelaksanaan konstruksi lebih diutamakan tanah negara. Perlu dianalisis apakah pembangunan embung di Wilayah Sungai Serang Lusi Juana telah sesuai dengan lokasi Analisis indeks kekeringan dilakukan dengan metode SPI pada 15 pos curah hujan dengan periode tahun 2002-2018. Pemetaan sebaran kekeringan dan lokasi rawan kekeringan dilakukan dengan teknologi Sistem Informasi Geografis menggunakan pendekatan interpolasi Penilaian kesesuaian embung baik eksisting maupun rencana embung terhadap lokasi rawan kekeringan dan kebutuhan air menunjukkan bahwa dari 26 total embung terdapat satu lokasi embung yang masuk dalam prioritas-1, tiga lokasi embung masuk prioritas-2, empat belas embung masuk prioritas-3, lima lokasi embung masuk prioritas-4 dan tiga lokasi embung masuk prioritas-5. Program pembangunan embung perlu penyesuaian urutan penanganan, dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap lokasi rawan kekeringan dan kebutuhan air sebagai tambahan kriteria. Kata Kunci : indeks kekeringan. Sistem Informasi Geografis. Standardized Precipitation Index. Serang Lusi Juana PENDAHULUAN Masalah masalah rutin yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia namun dengan waktu awal kekeringan yang tidak tetap. Maka dari itu perlu dilakukan analisis indeks kekeringan untuk mengetahui tingkat dan dijadikan sebagai peringatan awal akan adanya kekeringan yang lebih jauh agar dampak dari kekeringan dapat dikurangi. Kekeringan diawali dengan berkurangnya jumlah curah hujan dibawah normal pada satu musim, kejadian ini adalah kekeringan meteorologis yang merupakan tanda awal dari terjadinya kekeringan (Hadi Muliawan. Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak sirkulasi musiman yang terjadi tiap Selain hal tersebut, fungsi alih lahan yang terjadi di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) juga menjadi faktor lain terjadinya kekeringan. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah, akan langsung ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 melimpas menjadi aliran permukaandan mengalir ke sungai karena pori-pori tanah telah tertutup oleh bangunan yang ada Hal inilah yang mengakibatkan sering terjadinya kekurangan air pada musim (Ryan Ardiputro, 2. Sebagai upaya jangka panjang untuk mengatasi kekeringan yang tiap tahun terjadi tanpa waktu awal yang tetap. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengakselerasi pembangunan embung untuk menampung air hujan sebagai cadangan air dan dapat digunakan untuk mangantisipasi kekeringan melalui AoProgram Pembangunan 1000 EmbungAo yang melibatkan komponen Pemerintah Pusat. Provinsi. Kabupaten/kota maupun swasta. Program ini masih akan berlanjut, dan tentunya menelan biaya yang tidak sedikit, sehingga perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kesesuaian antara lokasi pembangunan embung dan lokasi rawan kekeringan yang dimaksud. Penelitian ini adalah melakukan analisis kekeringan wilayah dari aspek meteorologis dan kebutuhan air terkait dengan lokasi-lokasi embung yang termasuk Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL dalam program akselerasi pembangunan Kekeringan umum oleh UN-ISDR . sebagai kekurangan curah hujan dalam suatu periode waktu, biasanya berupa sebuah musim atau lebih, yang menyebabkan kekurangan air untuk berbagai kegiatan, kelompok, atau sektor lingkungan. Kekeringan meteorologi adalah kekurangan hujan dari yang normal atau yang diharapkan selama periode waktu Menurut Wilhite . indikator berhubungan dengan variabel klimatologi evapotranspirasi, antara lain: Palmer Drought Severity Index (PDSI) yang dikembangkan oleh Palmer pada tahun 1965. Desil yang dikembangkan oleh Gibbs and Maher pada tahun 1967, dan Standardized Precipitation Index (SPI) yang dikembangkan oleh McKee pada tahun Curah hujan/presipitasi merupakan indikator yang banyak digunakan dan Hal ini dikarenakan langsung mempengaruhi indikator hidrologi, dan dapat mencerminkan dampak kekeringan pada periode waktu dan sektor yang berbeda (Harjanti dkk. , 2. SPI sebagai metode yang dikembangkan oleh T. McKee. Doesken dan J. Kleist. Colorado State University tahun 1993, didasarkan pada probabilitas curah hujan untuk skala waktu Probabilitas curah hujan yang diamati ditransformasikan menjadi indeks. Indeks ini telah digunakan di lebih dari 70 negara, juga oleh berbagai lembaga meteorologi dan hidrologi nasional di seluruh dunia sebagai bagian dari upaya pemantauan dan peringatan dini kekeringan (WMO, 2. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian adalah Wilayah Kerja Balai PSDA Serang Lusi Juana yang merupakan bagian dari Wilayah Sungai Serang Lusi Juana dan Wilayah Sungai Wisogelis di Provinsi Jawa Tengah, yang meliputi wilayah administrasi Kabupaten Pati. Kabupaten Rembang. Kabupaten Kudus. Kabupaten Grobogan. Kabupaten Jepara dan Kabupaten Blora. Lokasi embung yang telah dibangun dan rencana embung yang akan dibangun tertuang dalam Gambar 1. Data Penelitian Data yang digunakan dalam peneltian ini adalah: . data curah hujan bulanan dalam periode 17 tahun . dari 15 stasiun terpilih yang terletak di DAS Serang Lusi Juana, . lokasi tangki air bersih yang diserahkan oleh BPBD, . lokasi pompa irigasi yang dipinjamkan oleh Balai PSDA Serang Lusi Juana dan lokasi program Dinas PUSDATARU Provinsi Jawa Tengah, dan . informasi kerjadian kekeringan dari kantor pemerintah, desa dan surat kabar. Data embung tertuang dalam Tabel 1. Gambar 1 Lokasi Embung di DAS Serang Lusi Juana ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Tabel 1 Data Embung - Embung di Wilayah Kerja Balai PSDA Serang Lusi Juana Kapasitas Tampung Nama Embung Tahun Konstruksi . 1 Embung Sridadi 2 Embung Gemeces 3 Embung Dengkek 4 Embung Ketileng 5 Embung Ronggomulyo . 6 Embung Sidokerto 7 Embung Sugiharjo 8 Embung Tamansari 9 Embung Mini Tegalrejo 10 Embung Warugunung 11 Embung Ronggomulyo . 12 Embung Sembatur Agung 13 Embung Jeruk Gulung 14 Embung Dukuh Mulyo 15 Embung Mini Bancak 16 Embung Gebang Rencana 17 Embung Sekarsari Rencana 18 Embung Maguwan Rencana 19 Embung Sitirejo Rencana 20 Embung Karangpasar Rencana 21 Embung Asemrundung Rencana 22 Embung Metaraman Rencana 23 Embung Panjunan Rencana 24 Embung Tlogorejo Rencana 25 Embung Kemendung Rencana Embung Dowan Rencana Tahapan Penelitian Pengisian Data Curah Hujan Kosong Analisis Indeks Kekeringan. Data curah hujan beberapa ada yang Analisis indeks kekeringan dilakukan tidak lengkap. Pengisian data curah hujan dengan metode SPI dengan titik acuan 15 yang kosong dilakukan dengan reciprocal stasiun curah hujan di Wilayah Kerja Balai method menggunakan data curah hujan di PSDA Serang Lusi Juana yang mempunyai stasiun sekitar dan mempertimbangkan ketersediaan data hujan bulanan tahun 2002faktor jarak antar stasiun diperoleh dengan Nilai indeks dihitung untuk periode analisis spasial pada titik koordinat lokasi bulanan menggunakan persamaan 1 sampai stasiun hujan menggunakan aplikasi ArcMap. Untuk 0 < (H. < 0,5 Pengujian Konsistensi Data Hujan Setelah dilakukan perbaikan data, maka dilakukan pemeriksaan konsistensi dan pengujian nilai rataAerata sampel. Metode yang digunakan adalah kurva massa ganda . ouble mass curv. , yang merupakan plotting curah hujan tahunan pada masingAe masing stasiun terhadap curah hujan tahunan rataAerata dari stasiunAestasiun di sekitar stasiun yang diuji. ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Z= SPI = Oe tOe Oo( t = ln H ( . co c1 t c2 t 2 1 d1 t d2 t 2 d3 t3 Untuk 0,5 < (H. < 1,0 co c1 t c2 t 2 Z= SPI = tOe 1 d1 t d2 t 2 d3 t 3 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Oo (( t= ln 1Oe H ( . ) c0 = 2,515517 c1 = 0,802853 c2 = 0,010328 . d1 = 1,432788 d2 = 0,189269 d3 = 0,001308 Kondisi kekeringan sesuai nilai SPI diklasifikasikan seperti yang ditunjukkan Tabel Tabel 2. Klasifikasi Nilai SPI Nilai Klasifikasi >2,00 Ekstrim Basah 1,50 Ae 1,99 Sangat Basah 1,00 Ae 1,49 Basah 0,50 Ae 0,99 Agak Basah -0,49 Ae 0,49 Normal -0,50 Ae -0,99 Agak kering -1,00 Ae -1,49 Kering -1,50 Ae -1,99 Sangat Kering < -2,00 Ekstrim Kering berapa kali dalam periode tersebut suatu Analisis tahun Kering /Basah Untuk mengidentifikasi tahun-tahun lokasi . esa/kecamata. mengalami kondisi kering, basah, maupun normal maka kering hingga sangat kering. Dalam ArcGis dilakukan analisis tren terhadap plotting terdapat tools yang dapat digunakan untuk nilai SPI bulanan di seluruh stasiun hujan membantu perhitungan tersebut yaitu terpilih, yang akan digunakan untuk memetakan sebaran kekeringan. Penilaian Kesesuaian Lokasi Embung Interpolasi Spasial dan Klasifikasi terhadap Tingkat Rawan Kekeringan dan Tingkat Kekeringan Kebutuhan Air Pemetan seharusnya dilakukan setiap Dari hasil pemetaan lokasi rawan bulan dan tiap tahun mengingat perubahan kekeringan, selanjutnya dilakukan plotting iklim juga terjadi setiap tahun Untuk titik-titik lokasi pembangunan embung, baik mendapatkan pemetaan sebaran kekeringan yang telah dilaksanakan maupun yang masih dilakukan interpolasi spasial antara nilai SPI bulanan yang sudah digabungkan dalam bentuk shapefile dan sudah dibuat dalam kekeringan pada masing-masing lokasi periode tahunan dengan titik Ae titik lokasi Kemudian dilakukan penilaian stasiun hujan yang digunakan untuk tiap-tiap berdasarkan indikator tingkat kerawanan Data hasil interpolasi selanjutnya di kekeringan terhadap lokasi embung dengan reclassify sesuai WMO. klasifikasi seperti Tabel 3. Dari hasil penilaian kesesuaian lokasi embung Pemetaan Lokasi Rawan Kekeringan Dalam penelitian ini selanjutnya dilakukan penilaian lokasi pemetaan lokasi-lokasi yang mempunyai embung terhadap kebutuhan air tahunan kondisi rawan kekeringan pada tingkat pada masing-masing desa lokasi embung. desa/kecamatan yang mengalami kondisi Kebutuhan air tahunan masing-masing nilai SPI kurang dari -1 dalam klasifikasi embung ini akan dinilai dengan keseuaian kering hingga sangat kering. Adapun lokasi embung. Penilaian berdasarkan analisis dilakukan pada periode tahun 2002indikator tingkat kebutuhan air terhadap 2018 yang mengalami nilai SPI bulanan lokasi embung, dengan kriteria seperti pada kurang dari -1, dengan cara menghitung Tabel 4. ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Tabel 3 Kriteria kesesuaian lokasi embung terhadap tingkat kerawanan kekeringan. Kelas Tingkat Kerawanan Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Kesesuaian Lokasi Embung Sangat Sesuai Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai Tabel 4 Kriteria kesesuaian lokasi embung terhadap kebutuhan air tahunan Jumlah kebutuhan air Tingkat Kelas Kesesuaian Lokasi Embung tahunan . Kerawanan 000 Ae 2. Tinggi Sangat Sesuai 000 Ae 1. Sedang Sesuai 000 Ae 999. Rendah Kurang Sesuai 0 Ae 499. Sangat rendah Tidak Sesuai HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Kekeringan Meteorologi Berdasarkan hasil perhitungan indeks kekeringan SPI, didapat tren nilai SPI bulanan di seluruh stasiun hujan terpilih, identifikasi dilakukan dengan memploting SPI rata-rata. Identifikasi tahun-tahun kering, basah, maupun normal. Dari perhitungan SPI selama rentang waktu tahun 2002 sampai tahun 2018, puncak kekeringan terjadi pada tahun 2002 dan 2003. Hasil ini kurang sesuai dengan kondisi riil kekeringan yang terjasi secara menyeluruh di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015. Kekeringan tahun 2002 memiliki kisaran nilai SPI minimum: -2,73 sampai -1,67 . kstrim kering sampai sangat kerin. dan nilai SPI rata-rata antara -2. sampai 0,08 . kstrim kering sampai norma. Kekeringan tahun 2003 memiliki kisaran nilai SPI minimum: -3,56 sampai -1,20 . kstrim kering sampai kerin. dan nilai SPI rata-rata antara -2. 52 sampai 0,26 . kstrim kering sampai norma. Dari persamaan tersebut juga dapat diketahui bahwa puncak kekeringan terjadi pada tahun 2002. Untuk kondisi tahun normal dapat dilihat pada persamaan garis kedua, yaitu pada persamaan polinomial yang mendekati garis persamaan linier, antara lain tahun 2005, 2013, dan 2016. Adapun untuk tahun-tahun basah, dari persamaan polinomial pertama untuk nilai SPI maksimum tampak bahwa puncak tahun basah terjadi pada tahun 2010 dengan kisaran SPI rata-rata tahun 2010 ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 04 sampai 2. ormal hingga ekstrim basa. dan tahun 2017 dengan kisaran SPI rata-rata -2. 52 sampai 1. kstrim kering hingga basa. Pemetaan Lokasi Rawan Kekeringan Analisis dilakukan pada periode tahun 20022018 yang mengalami nilai SPI bulanan kurang dari -1, dengan cara menghitung berapa kali dalam periode tersebut suatu lokasi . esa/kecamata. mengalami kondisi kering hingga sangat kering. Dalam ArcGis terdapat tools yang dapat digunakan untuk membantu perhitungan tersebut yaitu Dari hasil intersect antara data spasial . desa terhadap sebaran kekeringan bulanan tahun dari periode tahun 2002 sampai 2018 didapatkan lokasi . yang mengalami bulan kering sebanyak 2 sampai 16 kali, bahkan mengalami bulan sangat kering 1 hingga 5 kali dalam periode Untuk menyederhanakan pemetaan lokasi rawan kekeringan ini dilakukan pengelompokan lagi dalam 4 kelas, yaitu kelas 1 . untuk lokasi yang mengalami kondisi kering sebanyak 66-69 kali atau mengalami kondisi sangat kering 2 kali atau lebih, kelas 2 . untuk lokasi yang mengalami bulan kering sebanyak 6365 kali atau mengalami sangat kering 1 kali, kelas 3 . untuk lokasi yang mengalami bulan kering 60-62 kali, dan kelas 4 . angat renda. untuk lokasi yang mengalami kondisi kering 57-59 kali. Lokasi rawan kekeringan di Serang Lusi Juana seperti pada peta di Gambar 2 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Keterangan: Tingkat Kerawanan Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 2. Peta Lokasi Rawan Kekeringan di Serang Lusi Juana penilaian berdasarkan indikator tingkat Penilaian Kesesuaian Lokasi Embung kerawanan kekeringan terhadap lokasi terhadap Tingkat Rawan Kekeringan embung, dengan kriteria seperti pada Tabel dan Kebutuhan Air Dari hasil pemetaan lokasi rawan kekeringan, selanjutnya dilakukan plotting Ploting lokasi embung yang sudah dibangun titik-titik lokasi pembangunan embung, baik dengan lokasi kekeringan terdapat dalam yang telah dilaksanakan maupun yang masih Gambar 3 dan Ploting lokasi embung rencana dengan lokasi kekeringan terdapat diperoleh kelas tingkat Gambar kerawanan kekeringan pada masing-masing Pemukiman lokasi embung. Kemudian dilakukan sawah irigasi Keterangan: Tingkat Kerawanan Embung Eksisting Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 3. Plotting Lokasi embung yang telah dibangun . pada Lokasi Rawan Kekeringan di Serang Lusi Juana ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Keterangan: Tingkat Kerawanan Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Gambar 4 Plotting Lokasi Rencana embung pada Lokasi Rawan Kekeringan di Serang Lusi Juana Secara kesesuaian embung baik eksisting maupun rencana embung menunjukkan bahwa dari total 26 embung eksisting maupun rencana embung terdapat 0 . %) lokasi embung yang sangat sesuai, 17 . ,38%) lokasi embung yang sesuai dan 9 . ,62%) embung kurang meteorologis yang terjadi. Dapat pula pembangunan embung di Wilayah Kerja Balai PSDA Serang Lusi Juana terhadap sebaran kekeringan meteorologis yang ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 terjadi adalah sebesar 65,38% yang merupakan jumlah embung dengan nilai kesesuaian AosesuaiAo, sedangkan 34,62% kurang sesuai. Dari hasil penilaian kesesuaian lokasi embung terhadap tingkat rawan kekeringan, selanjutnya dilakukan penilaian lokasi embung terhadap kebutuhan air tahunan pada masing-masing lokasi Rekap hasil penilaian kesesuaian lokasi embung terhadap tingkat rawan kekeringan dan kebutuhan air, selanjutnya dapat dirangking seperti pada Tabel 5. Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Tabel 5 Rangking prioritas lokasi embung terhadap tingkat rawan kekeringan dan tingkat kebutuhan air Kelas Lokasi Kelas Lokasi Rangkin Embung Jumlah Embung Nilai Nama Embung Prioritas Tingkat Klasifikas Kebutuhan Lokasi Rawan Air Embung Kekeringan Embung Mini Tegalrejo Embung Sidokerto Embung Asemrundung Embung Metaraman Embung Tlogorejo Embung Ketileng Embung Dengkek Embung Dukuh Mulyo Embung Sugiharjo Embung Sembatur Agung Embung Sridadi Embung Tamansari Embung Gebang Embung Sekarsari Embung Maguwan Embung Panjunan Embung Mini Bancak Embung Jeruk Gulung Embung Gemeces Embung Warugunung Embung Sitirejo Embung Karangpasar Embung Dowan Embung Ronggomulyo Embung Ronggomulyo Embung Kemendung Prioritas 1 Prioritas 2 Prioritas 3 Prioritas 4 Prioritas 5 Jumlah Dalam Tabel 5 menunjukkan bahwa Sedangkan prioritas ketiga terdapat 11 Embung Mini Tegalrejo termasuk rangking embung antara lain Embung Ketileng, pertama prioritas lokasi embung. Untuk Embung Dengkek. Embung Dukuh Mulyo, prioritas kedua ada 4 embung yaitu Embung Embung Sugiharjo. Embung Sembatur Sidokerto. Embung Asemrundung. Embung Agung. Embung Sridadi. Embung Metaraman dan Embung Tlogorejo. Tamansari. Embung Gebang. Embung ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 5 No. 2 Juni 2022 Rang Teknik Journal http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Sekarsari dan Embung Panjunan. Embung pembangunan embung di Provinsi Jawa Mini Bancak. Embung Jeruk Gulung. Tengah meliputi usulan dari masyarakat. Embung Gemeces. Embung Warugunung. Embung Sitirejo. Embung Karangpasar dan tanah/kesiapan lahan dan kondisi topografi. Embung Dowan masuk dalam 7 embung Berdasarkan hasil penilaian kesesuaian dengan prioritas keempat. Sedangkan 3 lokasi embung terhadap lokasi rawan embung lainnya masuk dalam prioritas kekeringan meteorologis dan kebutuhan air kelima yaitu Embung Ronggomulyo . , dapat diketahui bahwa beberapa embung Embung Ronggomulyo . dan Embung yang telah siap konstruksi pada Tabel 6 Kemendung. ternyata berada pada tingkat Aosangat sesuaiAo hingga Aokurang sesuaiAo dengan lokasi rawan Penyesuaian Prioritas kekeringan meteorologis yang terjadi dan Pembangunan Embung Kriteria pemilihan/penentuan lokasi embung kebutuhan air tahunan. yang akan dibangun dalam program Tabel 6 Prioritas Pembangunan Embung Lokasi Nama Embung Prioritas Desa Kecamatan Kabupaten 1 Embung Asemrundung Asemrudung Geyer Grobogan 2 Embung Tlogorejo Tlogorejo Tegowanu Grobogan 3 Embung Metaraman Metaraman Margorejo Pati 4 Embung Panjunan Panjunan Pati Pati 5 Embung Gebang Gebang Gabus Grobogan 6 Embung Sekarsari Sekarsari Sumber Rembang 7 Embung Maguwan Maguwan Kaliori Rembang 8 Embung Karangpasar Karangpasar Tegowanu Grobogan 9 Embung Sitirejo Sitirejo Tunjungan Blora 10 Embung Dowan Dowan Gunem Rembang 11 Embung Kemendung Kumendung Rembang Rembang tujuh . %) lokasi embung prioritas 4 dan tiga . %) lokasi embung prioritas 5. PENUTUP Pola kekeringan meteorologis di Program pembangunan embung Wilayah Kerja Balai PSDA Serang Lusi yang telah direncanakan masih perlu Juana dalam periode tahun 2002-2018 disesuaikan lagi dengan mempertimbangkan mengalami perubahan dari tahun ke tahun keberadaan lokasi rawan kekeringan dan dengan pola berulang, dimana puncak kebutuhan air tahunan sebagai tambahan kekeringan terjadi pada tahun 2002 dan kriteria dalam menentukan lokasi embung. Kekeringan tahun 2002 memiliki Sehingga perlu dilakukan penyesuaian kisaran nilai SPI minimum: -2,73 sampai urutan prioritas penanganan, di mana 1,67 . kstrim kering sampai sangat kerin. embung dalam kategori Aosangat sesuaiAo dan nilai SPI rata-rata antara -2. 52 sampai merupakan prioritas pertama, diikuti 0,08 . kstrim kering sampai norma. embung dalam kategori AosesuaiAo dan Kekeringan tahun 2003 memiliki kisaran selanjutnya yang masuk dalam kategori nilai SPI minimum: -3,56 sampai -1,20 Aokurang sesuaiAo Dengan demikian untuk . kstrim kering sampai kerin. dan nilai SPI aplikasi selanjutnya peta lokasi rawan rata-rata antara -2. 52 sampai 0,26 . kstrim kekeringan meteorologis ini juga dapat kering sampai norma. dijadikan sebagai tambahan kriteria dalam Secara menyusun program pembangunan embung kesesuaian embung terhadap lokasi rawan yang lebih tepat sasaran, terkait masalah kekeringan dan kebutuhan air menunjukkan bahwa dari 26 total embung terdapat : satu . %) lokasi embung yang masuk dalam DAFTAR PUSTAKA