Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU BULLYING TERHADAP REMAJA DI MTs NEGERI Riko Sandra Putra 1. Maryanti 2 Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang 1,2 rikosandrap@gmail. maryantibaharuddin@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Kekerasan bullying di dunia pendidikan menjadi masalah yang sering muncul. kekerasan fisik, ejekan, olokan verbal, dan gangguan sosial. Dampak bullying mengancam semua pihak terlibat, yaitu depresi, marah, rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa dan kemampuan analisa siswa. Dukungan keluarga membantu remaja membagi beban memperkuat pola positif, memberi pengarahan agar remaja dapat membuat keputusan yang logis. Tujuan: Mengidentifikasikan Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Bullying terhadap Remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian semua siswa kelas Vi. Sampel penelitian berjumlah 84 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Analisis menggunakan distribusi frekuensi variabel independen . ukungan keluarg. dan karakteristik . sia, jenis kelamin, pendidika. , variabel dependen . erilaku bullyin. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Analisis data menggunakan uji chisquare. Penelitian telah dilakukan di MTSN 1 Palembang tanggal 14 Januari - 12 Febuari 2025. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku bullying pada remaja di MTs Negeri 1 Palembang dengan nilai p-value = 0,000 (< 0,. Saran: Keluarga agar dapat memberikan perhatian, komunikasi yang baik, serta dukungan emosional dan moral membantu remaja mengembangkan empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial yang positif serta protektif yang kuat mendorong remaja memahami dampak negatif bullying dan membentuk perilaku yang lebih positif dalam interaksi sosial. Kata Kunci: Dukungan Keluarga. Perilaku Bullying. Remaja ABSTRACT Background: Bullying violence in the education sector is a recurring problem, manifesting as physical violence, verbal abuse, teasing, and social disruption. The effects of bullying threaten all parties involved, including depression, anger, low attendance rates, poor academic performance, and impaired analytical skills among students. Family support helps adolescents share the burden, reinforce positive patterns, and provide guidance so that adolescents can make logical decisions. Objective: To identify the relationship between family support and bullying behavior toward adolescents. Method: This study used a quantitative method with a cross-sectional approach. The study population consisted of all eighthgrade students. The sample size was 84 respondents selected using simple random sampling. Analysis was conducted using frequency distribution of independent variables . amily suppor. and characteristics . ge, gender, educatio. , and dependent variables . ullying behavio. The instrument used was a questionnaire. Data analysis was performed using the chi-square test. The study was conducted at MTSN 1 Palembang from January 14 to February 12, 2025. Results: There is a significant relationship between family support and bullying behavior among adolescents at MTs Negeri 1 Palembang with a p-value of 0. 000 (< 0. Suggestions: Families should provide attention, good communication, and emotional and moral support to help adolescents develop empathy, self-control, and positive social skills, as well as strong protective mechanisms that encourage adolescents to understand the negative impacts of bullying and foster more positive behavior in social interactions. Keywords: Family Support. Bullying Behavior. Adolescents | 176 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENDAHULUAN (Sari et al. , 2. Remaja adalah fase transisi dari masa Prevelensi di Amerika Serikat, sekitar kanak-kanak menuju dewasa, biasanya 30% siswa sekolah menengah atas terlibat antara usia 12 hingga 18 tahun. dalam bullying, dengan 13% sebagai Indonesia, 41 hingga 50 persen remaja pelaku, 11% sebagai korban, dan 6% berusia 13 hingga 15 tahun di SMP pernah sebagai pelaku sekaligus korban. Secara mengalami bullying, menjadikan Indonesia global, keterlibatan dalam bullying berkisar peringkat kedua tertinggi dalam kasus antara 9% hingga 54%, dengan 3% hingga kekerasan terhadap anak di sekolah setelah 20% berperan sebagai pelaku dan 5% Jepang (Suryana et al. , 2. Dalam tahap hingga 20% sebagai korban. Korban perkembangan ini, remaja menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi psikis emosional, depresi, penurunan harga diri, yang labil, karena mereka sedang mencari dan isolasi sosial (Afriani & Afrinaldi, jati diri dan cenderung ingin tahu serta mencoba hal baru dari lingkungan sekitar. Prevalensi di Indonesia menunjukkan seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya adanya peningkatan jumlah siswa yang (Tambunan et al. , 2. melakukan bullying. Sementara itu, sekitar Kekerasan dalam dunia pendidikan, 40% siswa berusia 13-15 tahun melaporkan termasuk bullying, telah menjadi masalah pernah mengalami kekerasan dari teman yang sering muncul. Tindakan bullying sebaya, dan 50% anak-anak mengalami dapat berupa kekerasan fisik, ejekan, bullying (Fitriani et al. , 2. Palembang berada di peringkat 10 besar kota dengan Yuningsih, kasus bullying di Indonesia. Data dari KPAI Fenomena kekerasan antar siswa di sekolah. Sumsel mencatat sekitar 200 kasus bullying terutama bullying, kini mendapat perhatian terhadap anak pada tahun 2023, dengan 44 Kasus ini menunjukkan penurunan kasus yang terjadi di Sumatera Selatan nilai-nilai kemanusiaan di kalangan remaja. (KPAI, 2. (Febriansyah Selama Terdapat mengurangi ketergantungan pada keluarga mempengaruhi terjadinya bullying yaitu, dan mencari dukungan dari teman sebaya. keluarga, sekolah, dan teman sebaya Jika teman sebaya terlibat dalam bullying, (Utami, 2. Keluarga berperan penting dalam membentuk perilaku anak di luar mendapatkan penerimaan dalam kelompok lingkungan rumah. Banyak pelaku bullying | 177 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 berasal dari latar belakang keluarga yang . asehat kurang memberikan bimbingan mengenai perilaku positif (Ikzaaz et al. , 2. , dan penilaian . enghargaan atas Mereka sering melakukan bullying untuk prestas. (Nur & Budiman, 2. Orangtua memenuhi kebutuhan yang tidak dipenuhi perlu memperhatikan aktivitas anak dan oleh keluarga, seperti uang atau barang menerapkan disiplin yang efektif dalam yang diinginkan (Nur & Budiman, 2. aktifitas harian. emenuhan Dampak bullying dapat mengancam Komunikasi terbuka antara orangtua setiap pihak yang terlibat, diantaranya dan remaja penting untuk menyeimbangkan dampak bagi korban yaitu depresi, marah, kebebasan dan mendukung perkembangan rendahnya tingkat kehadiran, rendahnya prestasi akademik siswa dan kemampuan membantu remaja membagi beban dan analisa siswa (Mirza, 2. Dampak bagi memperkuat pola positif, serta memberikan pelaku yaitu memiliki rasa percaya diri pengarahan agar remaja dapat membuat yang tinggi, bersifat agresif dengan perilaku keputusan yang logis (Sukarno, 2. Hal yang pro terhadap kekerasan, muda marah, ini selaras dengan penelitian sebelumnya dan toleransi yang rendah terhadap frustasi. oleh Nugraha et al. mengungkapkan Sedangkan dampak bagi siswa lain yang bahwa remaja yang mendapatkan dukungan menyaksikan bullying dapat berasumsi emosional dari keluarga cenderung lebih Dukungan diterimah secara sosial, sehingga siswa lingkungan sosial dan memiliki perilaku ingin bergabung menjadi penindas karna takut menjadi sasaran berikutnya (Lusiana & Siful Arifin, 2. Menurut Ayuni Despa . bahwa perhatian dan kasih sayang yang diberikan Perhatian, kepercayaan, dan tanggung oleh keluarga dapat mengurangi risiko jawab orangtua sangat penting bagi remaja. remaja terlibat dalam tindakan bullying. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari baik sebagai pelaku maupun korban. Serta menurut Permatasari et al. remaja yang merasakan dukungan yang kuat dari (Irfan keluarganya cenderung memiliki perilaku Syahputra, 2. Dukungan keluarga sosial yang lebih positif dan lebih sedikit terdiri dari empat aspek yaitu, emosional terlibat dalam konflik dengan teman sebaya. asih sayang dan perhatia. , informasi Berdasarkan | 178 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 dilakukan oleh Widiarta & Putu Sukma Penelitian Megaputri . didapatkan hasil bahwa cyberbullyingg, sementara penelitian yang akan dilakukan lebih menitikberatkan pada . ,4%) mendapatkan dukungan keluarga yang bullying fisik, verbal, dan psikologis. cukup, namun perilaku bullying pada remaja masih tergolong tinggi, dengan 50,4% responden menunjukkan perilaku METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Penelitian ini berfokus pada cross-sectional. Penelitian korelasional dilakukan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau menyoroti perilaku sebagai pelaku bullying. lebih tanpa melakukan perubahan atau Berdasarkan manipulasi pada data yang sudah ada. dilakukan oleh R. Nur & Budiman Pendekatan cross-sectional menekankan . didapatkan hasil bahwa sebagian pada pengukuran atau observasi variabel besar responden . ,1%) mendapatkan independen dan dependen yang dilakukan dukungan keluarga yang tinggi, namun hanya sekali pada waktu yang sama. hampir setengah dari responden . ,7%) Penelitian ini telah dilaksanakan di MTs menunjukkan perilaku bullying dengan Negeri 1 Palembang tanggal 14 Januari tingkat tinggi. Penelitian ini berfokus pada sampai 12 Febuari 2025. hubungan dukungan keluarga terhadap dari seluruh siswa MTs Negeri 1 Palembang tahun ajaran 2024/2025, dengan jumlah 314 siswa kelas Vi. Sampel merupakan Populasi dalam penelitian ini terdiri sebagian dari populasi yang akan mewakili Sedangkan berdasarkan penelitian Sampel memenuhi kriteria yang yang dilakukan oleh Sugandini et al. populasi target yang akan diteliti secara signifikan antara dukungan keluarga dan langsung, meliputi subjek yang memenuhi Siswa Teknik mendapatkan dukungan keluarga yang pengambilan sampel yang digunakan pada lebih baik cenderung memiliki perilaku penelitian ini menggunakan simple random sampling sebanyak 84 siswa. | 179 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Instrumen penelitian merupakan alat mengetahui distribusi frekuensi variabel yang digunakan untuk mengumpulkan data. ukungan Kuesioner memiliki peran penting sebagai . sia, alat pengumpul data untuk mendapatkan pendidika. terhadap variabel dependen informasi yang sesuai dengan tujuan . erilaku bullyin. pada remaja di MTs Kuesioner merupakan daftar Negeri 1 Palembang. pertanyaan yang telah tersusun dengan baik dan matang, di mana responden hanya perlu HASIL PENELITIAN memberikan jawaban. Analisa Univariat Analisis Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Siswa/i Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Usia 13 Tahun 14 Tahun 15 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan 84 siswa. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki berusia 13 tahun, yaitu sebanyak 43 siswa . ,2%), diikuti oleh siswa berusia 14 tahun sebanyak 45 siswa . ,6%) laki-laki dan 39 sebanyak 26 siswa . ,0%), dan usia 15 siswa . ,4%) perempuan, dari total 84 tahun sebanyak 15 siswa . ,9%) dari total No. Tabel 2. Gambaran Dukungan Keluarga Remaja Dukungan Keluarga Frekuensi . Persentase (%) Dukungan Keluarga Rendah Dukungan Keluarga Sedang Dukungan Keluarga Tinggi Jumlah Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar yang tinggi, yaitu sebanyak 60 siswa responden mendapatkan dukungan keluarga . ,4%). Sebanyak 18 siswa . ,4%) | 180 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 mendapatkan dukungan keluarga dalam Data ini menunjukkan bahwa mayoritas kategori sedang, sedangkan 6 siswa . ,1%) siswa memiliki tingkat dukungan keluarga menerima dukungan keluarga yang rendah. yang baik. No. Tabel 3. Gambaran Perilaku Bullying Remaja Perilaku Bullying Frekuensi . Tidak Melakukan Bullying Perilaku Bullying Ringan Perilaku Bullying Sedang Perilaku Bullying Berat Jumlah Berdasarkan tabel 3 menunjukkan Persentase (%) dalam perilaku bullying berat. Data ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas melakukan bullying, yaitu sebanyak 33 siswa tidak terlibat dalam bullying, masih siswa . ,3%). Sebanyak 35 siswa . ,7%) terdapat siswa yang melakukan bullying terlibat dalam perilaku bullying ringan, 14 dengan berbagai tingkat keparahan, yaitu siswa . ,7%) melakukan bullying dalam ringan, sedang, dan berat. kategori sedang, dan 2 siswa . ,4%) terlibat Analisa Bivariat Tabel 4. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Bullying Terhadap Remaja Perilaku Bullying Dukungan No Keluarga Tidak Melakukan Bullying Ringan Sedang 1 Rendah 2 Sedang 3 Tinggi Total Total Berat Value 0,000 Berdasarkan tabel 4 hubungan yang sebanyak 30 siswa . ,7%), sementara 30 signifikan antara dukungan keluarga dan siswa . ,7%) masih menunjukkan perilaku perilaku bullying pada remaja di MTs bullying ringan, namun tidak ada yang Negeri 1 Palembang dengan nilai p-value = melakukan bullying sedang atau berat. 0,000. Siswa dengan dukungan keluarga Siswa dengan dukungan keluarga sedang tinggi cenderung tidak melakukan bullying | 181 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 bullying, terutama dalam kategori sedang bullying dibandingkan orang dewasa karena . siswa atau 13,1%), sementara hanya 2 beberapa alasan. Pertama, remaja sedang mencari identitas diri dan ingin diterima . ,4%) oleh kelompok teman-temannya, sehingga Siswa dengan dukungan keluarga mereka kadang menggunakan bullying untuk menunjukkan kekuatan. Kedua, bullying, dengan 3 siswa . ,6%) melakukan bullying sedang dan 1 siswa . ,2%) terlibat bullying agar diterima dalam kelompok. Hasil Selain itu, remaja juga sering kali belum cukup matang secara emosional, sehingga kemungkinan siswa terlibat dalam perilaku lebih cenderung mengekspresikan agresi mereka lewat bullying. Terakhir, media PEMBAHASAN bullying, karena remaja bisa lebih mudah Karakteristik Remaja melakukan agresi secara online (Ahmad. Mayoritas siswa di MTs Negeri 1 Palembang Bullying sering terjadi di kalangan sebanyak 43 siswa . ,2%) dari total 84 remaja sebagai bentuk kenakalan. Beberapa Berdasarkan jenis kelamin, jumlah faktor penyebabnya antara lain keinginan siswa laki-laki lebih banyak dibandingkan remaja untuk diterima dalam kelompok siswa perempuan, yaitu sebanyak 45 siswa teman sebaya, yang mendorong mereka . ,6%) laki-laki. Karakteristik melakukan bullying untuk menunjukkan Selain itu, remaja yang belum responden berada dalam tahap awal remaja, matang dalam mengelola emosi lebih yang merupakan periode perkembangan emosional dan sosial yang signifikan. Pada frustrasi dengan cara yang agresif. Tekanan usia ini, remaja mulai membentuk identitas kelompok sebaya juga berperan besar, di diri serta interaksi sosial dengan teman mana remaja merasa terpaksa mengikuti sebaya, yang dapat berpengaruh terhadap perilaku bullying agar diterima. Kurangnya perilaku mereka, termasuk dalam hal pengawasan di lingkungan sekolah juga Remaja lebih sering melakukan (Febriansyah & Yuningsih, 2. | 182 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Salah satu penyebab utama perilaku laki-laki. Kombinasi faktor sosial, budaya, bullying adalah tekanan dari kelompok dan psikologis ini membuat perilaku sebaya, di mana remaja sering merasa bullying lebih umum terjadi pada laki-laki tertekan untuk mengikuti perilaku negatif dibandingkan perempuan (Riskinanti & seperti bullying agar diterima dalam Lindawati, 2. Selain itu, rendahnya kesadaran Remaja laki-laki lebih cenderung tentang dampak negatif dari bullying melakukan bullying fisik, sementara remaja perempuan lebih sering terlibat dalam Faktor bullying verbal dan sosial. Faktor-faktor lingkungan keluarga dan sekolah juga turut seperti norma sosial, stereotip gender, dan berperan, karena kurangnya perhatian atau berkontribusi pada perbedaan ini (Aini, kemungkinan terjadinya bullying. Selain itu, remaja yang tidak dapat mengelola Asumsi peneliti bahwa remaja laki- emosi atau konflik secara baik juga lebih laki lebih sering terlibat dalam bullying rentan terlibat dalam perilaku bullying daripada perempuan. Hal ini karena laki- (Sulastri et al. , 2. laki lebih dipengaruhi oleh norma yang Perilaku bullying lebih banyak mendorong mereka untuk menunjukkan dilakukan oleh laki-laki dibandingkan kekuatan fisik, sehingga mereka lebih perempuan karena beberapa faktor utama. Secara sosial, laki-laki didorong untuk Sementara itu, perempuan lebih menunjukkan kekuatan dan dominasi, sering menggunakan cara yang lebih halus atau tidak langsung. Selain itu, urutan Selain itu, laki-laki cenderung kecenderungan bullying, di mana posisi mengekspresikan agresi mereka secara dalam keluarga dapat mempengaruhi cara langsung, sedangkan perempuan lebih mereka berinteraksi dan terlibat dalam sering menggunakan cara tidak langsung perilaku bullying. seperti gosip atau pengucilan. Faktor lain Dukungan Keluarga Remaja yang berpengaruh adalah kebutuhan untuk Dukungan keluarga pada remaja di menunjukkan kekuasaan di antara teman MTs Negeri 1 Palembang menunjukkan sebaya serta lingkungan pergaulan yang bahwa keluarga yang tinggi, yaitu sebanyak lebih toleran terhadap perilaku agresif pada 60 siswa . ,4%). Sebanyak 18 siswa | 183 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 . ,4%) mendapatkan dukungan keluarga Remaja dengan dukungan keluarga dalam kategori sedang, sedangkan 6 siswa yang baik cenderung memiliki risiko lebih . ,1%) menerima dukungan keluarga yang rendah untuk terlibat dalam bullying. Dukungan keluarga yang tinggi berperan dalam memberikan rasa aman dan kecenderungan mereka menjadi pelaku atau sehingga mereka lebih mampu menghadapi korban bullying (R. Nur & Budiman, tekanan sosial dan memiliki kontrol diri Remaja yang mendapat perhatian, yang baik. Sebaliknya, siswa dengan bimbingan, dan pengawasan dari keluarga dukungan keluarga rendah lebih berisiko cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami masalah emosional yang dapat untuk terlibat dalam bullying. Sebaliknya, berkontribusi pada perilaku menyimpang, termasuk bullying. Dukungan menjadi pelaku atau korban bullying akibat penting dalam membentuk perilaku remaja, kurangnya kontrol dan nilai-nilai positif termasuk dalam mencegah mereka terlibat dalam kehidupan sehari-hari (Purbowati et dalam tindakan bullying. Keluarga yang , 2. memberikan perhatian, komunikasi yang Sejalan dengan penelitian oleh baik, serta dukungan emosional dan moral Salawali et al. dukungan keluarga dapat membantu remaja mengembangkan yang tinggi berperan dalam menurunkan empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial risiko perilaku bullying pada remaja Sekolah Menengah Pertama. Remaja yang dukungan keluarga, seperti pola asuh yang mendapatkan perhatian, bimbingan, serta Sebaliknya, ketidakhadiran figur orang tua, dapat cenderung memiliki empati yang lebih meningkatkan risiko remaja menjadi pelaku tinggi dan tidak mudah terlibat dalam Dukungan keluarga yang kuat perilaku agresif. Sebaliknya, rendahnya mendorong remaja untuk lebih memahami keterlibatan orang tua dan kurangnya dampak negatif bullying dan membentuk pengawasan, meningkatkan risiko remaja perilaku yang lebih positif dalam interaksi melakukan bullying. sosial mereka (Widiarta & Putu, 2. Penelitian Febriansyah Yuningsih . dukungan keluarga yang | 184 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 tinggi, seperti perhatian dan bimbingan perilaku positif pada anak. Ketika remaja orang tua, menurunkan risiko remaja mendapatkan perhatian, kasih sayang. Sebaliknya, komunikasi yang baik, serta bimbingan moral dari keluarganya, mereka cenderung memiliki empati yang lebih tinggi dan tidak mudah terlibat dalam tindakan agresif Penelitian oleh Rozzaqyah et al. seperti bullying. Sebaliknya, kurangnya . dukungan keluarga yang kuat, dukungan keluarga, seperti pola asuh yang kehidupan anak, komunikasi yang baik, dan pemberian nilai moral, dapat menekan meningkatkan risiko anak menjadi pelaku risiko perilaku bullying pada remaja. Dengan demikian, dukungan Sebaliknya, rendahnya dukungan keluarga keluarga yang kuat berperan sebagai faktor meningkatkan kemungkinan anak terlibat protektif yang dapat mengurangi perilaku dalam tindakan bullying karena kurangnya bullying dan membentuk lingkungan sosial pengawasan dan perhatian. yang lebih sehat bagi remaja. Dukungan Sedangkan penelitian oleh Lestari keluarga berperan penting dalam strategi . didapatkan hasil bahwa rendahnya dukungan keluarga berkontribusi terhadap Semakin tinggi dukungan keluarga, seperti perilaku bullying di sekolah. Kurangnya perhatian, komunikasi, dan bimbingan, perhatian, komunikasi yang buruk, serta semakin rendah risiko remaja terlibat dalam minimnya bimbingan dari orang tua dapat perilaku bullying. Sebaliknya, rendahnya membuat remaja lebih rentan melakukan dukungan keluarga meningkatkan risiko tindakan agresif terhadap teman sebaya. remaja menjadi pelaku atau korban bullying Sebaliknya, dukungan keluarga yang baik karena kurangnya kontrol emosi dan berperan dalam membentuk sikap empati strategi coping yang efektif. Dukungan dan kontrol diri, sehingga dapat mencegah keluarga yang tinggi, seperti perhatian, perilaku bullying. bimbingan, dan komunikasi yang baik. Asumsi peneliti bahwa dukungan dapat menurunkan risiko remaja terlibat membentuk empati dan kontrol diri yang diberikan oleh orang tua atau anggota dukungan keluarga, seperti kurangnya Sebaliknya, | 185 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 keterlibatan orang tua dan minimnya verbal, maupun sosial. Remaja yang pengawasan, meningkatkan risiko remaja melakukan bullying biasanya menunjukkan melakukan bullying karena kurangnya nilai perilaku seperti mengejek, mengintimidasi, moral dan kontrol emosi. menyebarkan rumor, mengucilkan, atau Perilaku Bullying Remaja bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap Remaja di MTs Negeri 1 Palembang teman sebaya. Faktor penyebab perilaku ini mayoritas siswa tidak melakukan bullying dapat berasal dari lingkungan keluarga yang . ,3%). Siswa yang terlibat dalam bullying kurang harmonis, pola asuh yang otoriter terdiri atas kategori ringan . ,7%), sedang atau permisif, pengaruh teman sebaya, serta . ,7%), dan berat . ,4%). Meskipun faktor sosial dan media yang mendorong sebagian besar siswa tidak terlibat dalam Kurangnya dukungan keluarga bullying, persentase siswa yang melakukan meningkatkan risiko remaja menjadi pelaku bullying ringan dan sedang masih cukup bullying (Noya et al. , 2. Perilaku bullying pada remaja dapat Perilaku merupakan tindakan agresif yang terjadi Bullying ringan meliputi secara berulang dan dapat berupa fisik, ejekan, julukan kasar, dan candaan yang verbal, maupun sosial. Faktor utama yang sebagai bagian dari interaksi sosial tetapi meliputi pola asuh keluarga, tekanan dari tetap berdampak negatif pada korban. kelompok sebaya, serta penggunaan media Bullying sosial yang tidak terkontrol. Remaja yang pengucilan sosial, penyebaran rumor, dan mengalami kurangnya pengawasan dan ancaman verbal, yang dapat menyebabkan dukungan emosional dari keluarga lebih rentan menjadi pelaku maupun korban Sementara itu, bullying berat melibatkan Selain itu, lingkungan sekolah kekerasan fisik, pemerasan, serta pelecehan ini (Wardani et al. , 2. mental dan emosional korban. Semua bullying juga dapat memperkuat perilaku Perilaku bentuk bullying ini berpotensi mengganggu mencakup tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti remaja, meningkatkan risiko gangguan atau mendominasi korban, baik secara fisik, emosional, dan menurunkan rasa percaya | 186 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 diri mereka (Batubara et al. , 2. Perilaku dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Dampak psikologis yang dialami, seperti sering terjadi dalam berbagai bentuk, kecemasan dan stres, dapat mempengaruhi seperti kekerasan verbal, fisik, dan sosial emosional mereka. Faktor Adapun penelitian oleh Wardani et pergaulan, pola asuh di rumah, serta . perilaku bullying pada remaja kurangnya pengawasan dari guru dan orang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk Siswa yang menjadi pelaku umumnya dukungan keluarga. Keluarga berperan memiliki kecenderungan dominasi dan dalam membentuk sikap remaja, baik dalam kurangnya empati, sedangkan korban sering kecenderungan bullying. Dukungan yang kecemasan, depresi, dan penurunan prestasi baik, seperti komunikasi terbuka, perhatian akademik (Rifandi, 2. orang tua, dan pengawasan pergaulan, . Berdasarkan penelitian oleh Visty membantu remaja mengembangkan empati Bullying Sebaliknya, tindakan agresif berulang yang bertujuan kurangnya dukungan, pola asuh otoriter, menyakiti korban secara fisik, verbal, atau meningkatkan risiko bullying. Oleh karena lingkungan, pola asuh keluarga, dan itu, peran aktif keluarga penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan Faktor Dampaknya menyebabkan kecemasan, stres, hingga mendukung perkembangan remaja. depresi yang mengganggu hubungan sosial Sedangkan penelitian oleh Ilham et dan perkembangan mental. Pencegahan . perilaku bullying pada remaja diakibatkan oleh berbagai faktor, salah karakter, peran keluarga, dan kebijakan satunya adalah kurangnya perhatian dan sekolah untuk menciptakan lingkungan pengawasan dari orang tua. Ketika orang yang aman. tua tidak terlibat secara aktif dalam Penelitian oleh Tiwa . remaja kehidupan anak, remaja dapat mencari yang menjadi korban bullying cenderung pengakuan di lingkungan sosialnya dengan cara yang negatif, seperti melakukan sosial, seperti menarik diri dari pergaulan, bullying atau menjadi korban karena menurunnya rasa percaya diri, dan kesulitan | 187 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 keluarga yang kuat berperan penting dalam Asumsi peneliti bahwa perilaku bullying dapat diatasi dengan keterlibatan membangun hubungan sosial yang sehat, aktif keluarga dalam kehidupan remaja. serta mencegah perilaku bullying. Komunikasi yang baik, perhatian, serta Penelitian Rahmadina pengawasan yang cukup dari orang tua Tumanggor . menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan kecenderungan bullying dan menciptakan keluarga dan psychological well-being pada lingkungan yang lebih aman bagi remaja. remaja korban bullying. Remaja yang Hubungan Dukungan Keluarga dengan mendapatkan dukungan keluarga yang baik Perilaku Bullying terhadap Remaja. Hasil analisis menunjukkan adanya psikologis yang lebih tinggi, sehingga mereka lebih mampu menghadapi tekanan keluarga dan perilaku bullying dengan nilai sosial dan mengurangi dampak negatif dari p-value = 0,000. Siswa dengan dukungan Hasil penelitian menunjukkan keluarga tinggi mayoritas menunjukkan adanya korelasi signifikan dengan nilai p- dukungan yang baik, dengan 71,4% atau 60 value < 0,05. Sedangkan penelitian oleh siswa mendapatkan dukungan keluarga Fitriani et al. terdapat hubungan Sebagian besar siswa ini tidak antara lingkungan keluarga dan kejadian terlibat dalam perilaku bullying atau hanya bullying pada siswa. Hasil penelitian terlibat dalam bullying ringan. Sementara menemukan bahwa 19 siswa memiliki itu, siswa dengan dukungan keluarga tingkat bullying rendah, sedangkan 22 sedang . ,4%) cenderung lebih sering siswa mengalami tingkat bullying tinggi, terlibat dalam bullying ringan. Siswa dengan dukungan keluarga rendah . ,1%) keluarga yang kurang dapat meningkatkan sebagian besar terlibat dalam bullying risiko perilaku bullying. Penelitian ini dengan tingkat intensitas lebih tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa p-value 0,05, menegaskan hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku bullying. semakin tinggi kecenderungan remaja Begitupula untuk melakukan bullying. Sebaliknya. Sugandini et al. dimana didapatkan semakin tinggi dukungan keluarga, semakin mendapatkan dukungan keluarga yang Dukungan | 188 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 lebih baik cenderung memiliki perilaku Asumsi peneliti perilaku bullying Dengan pada remaja memiliki hubungan dengan Hasil observasional, penelitian ini menemukan hubungan signifikan dengan p-value < 0,05, kecenderungan remaja untuk melakukan keluarga memainkan peran penting dalam mengurangi tindakan bullying di kalangan dukungan keluarga yang kuat cenderung Kemudian penelitian oleh Widiarta tidak terlibat dalam bullying atau hanya terlibat dalam tingkat ringan. Dukungan mayoritas remaja dengan tingkat dukungan keluarga yang baik, termasuk perhatian, komunikasi terbuka, dan pengawasan yang Putu ,4%) Sebaliknya, bullying, dengan 50,4% dari mereka remaja mengelola emosi, membangun memiliki perilaku bullying yang tinggi. hubungan sosial yang sehat, serta mencegah Meskipun demikian, penelitian ini tetap perilaku bullying di lingkungan sekolah. menunjukkan kecenderungan melakukan dukungan keluarga dan perilaku bullying KESIMPULAN dengan p-value < 0,05, yang menunjukkan Gambaran mayoritas siswa di MTs bahwa semakin tinggi dukungan keluarga. Negeri 1 Palembang berusia 13 tahun, semakin rendah kecenderungan remaja yaitu sebanyak 43 siswa . ,2%). untuk melakukan bullying. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah Penelitian oleh R. Nur & laki-laki Budiman . siswa dengan dukungan dibandingkan siswa perempuan, yaitu keluarga tinggi sebanyak 59,1%, siswa sebanyak 45 siswa . ,6%) laki-laki. dengan dukungan keluarga rendah 3,3%. Perilaku bullying remaja di MTs Analisis data menunjukkan hubungan yang Negeri 1 Palembang didominasi oleh signifikan antara tingkat dukungan keluarga dan perilaku bullying dengan p-value < . ,3%). Siswa yang terlibat dalam 0,05, menegaskan bahwa remaja dengan bullying terdiri atas kategori ringan . ,7%), sedang . ,7%), dan berat cenderung memiliki perilaku bullying yang . ,4%). lebih rendah. | 189 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Dukungan keluarga terhadap remaja di Puskesmas dan tenaga kesehatan MTs Negeri 1 Palembang mayoritas diharapkan dapat mengadakan program berada pada kategori tinggi, dengan penyuluhan terkait pentingnya dukungan 71,4% siswa mendapatkan dukungan keluarga yang tinggi. Sebanyak 21,4% Selain itu, perlu adanya layanan siswa memiliki dukungan keluarga konseling yang mudah diakses bagi remaja, 7,1% dukungan emosional dan edukasi mengenai Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan perilaku Bagi Instansi Pendidikan bullying pada remaja di MTs Negeri 1 Sekolah Palembang dengan nilai p-value = meningkatkan peran bimbingan konseling 0,000. pendampingan bagi siswa terkait bullying SARAN serta manfaat dukungan keluarga. Selain Bagi Remaja itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan Remaja dianjurkan untuk lebih terbuka yang memperkuat hubungan antara siswa, dalam berkomunikasi dengan keluarga dan guru, dan orang tua untuk menciptakan mencari bantuan dari guru atau tenaga konseling jika mengalami masalah sosial mendukung perkembangan remaja secara atau tekanan psikologis. emosional dan sosial. Bagi Pelayanan Kesehatan DAFTAR PUSTAKA