346 EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 Dampak Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat pada Destinasi Wisata Edukasi Tuur Maasering Oktavianus Wayan Semuel1. Steven Yones Kawatak2*. Machiko Nugraha Indriyanto3. Madeleine Erina Gloria Merentek4 Fakultas Pariwisata. Universitas Katolik De La Salle Manado E-mail: skawatak@unikadelasalle. 1,2,3,4 Article History: Received: 09 November 2023 Revised: 20 November 2023 Accepted: 22 November 2023 Keywords: Dampak Ekonomi. Pemberdayaan Masyarakat. Wisata Edukasi Abstract: Wisata edukasi memberikan kesempatan unik bagi wisatawan untuk mengalami langsung dan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru. Dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan ekonomi lokal menjadi salah satu prioritas yang harus dikembangkan secara berkesinambungan, termasuk pula di destinasi wisata edukasi Tuur Maasering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak ekonomi dari penerapan pemberdayaan masyarakat lokal di Tuur Maasering Tomohon. Metode penelitian yang dipilih adalah karyawan, mitra kerja, dan grup kebudayaan lokal untuk mengetahui dampak ekonomi bagi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para partisipan penelitian mendapatkan dampak ekonomi yang positif dengan meningkatnya kesempatan kerja serta pendapatan mereka melalui kerjasama yang mereka lakukan dengan pengelola Tuur Maasering. PENDAHULUAN Sumber daya manusia merupakan aspek yang memiliki peran penting bagi pengembangan wisata, termasuk pada wisata edukasi. Wisata edukasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan menciptakan kepuasan wisatawan serta memberi dampak yang baik bagi ekonomi, kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan budaya. Keberadaan sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan kerja dan kesuksesan terhadap pencapaian pekerjaan. Dalam pengembangan wisata edukasi sangat diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu yang berdaya inovatif tinggi dan memiliki kreatifitas. Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pariwisata yaitu dengan pemberdayaan masyarakat agar mampu menjadi penggerak kelangsungan kegiatan pariwisata pada suatu destinasi wisata edukasi dan sebagai pelaku utama yang menciptakan suatu pengalaman bagi wisatawan. Aspek manusia diperlukan dalam industri pariwisata untuk menjadi pendorong bagi kelangsungan aktivitas pariwisata setempat (Setiawan. Kota Tomohon memiliki banyak sekali potensi wisata yang dapat dikembangkan, bukan hanya menjual atau memfokuskan pada keindahan alam, budaya dan tersedianya fasilitas akomodasi seperti cafy dan resto yang unik dan lengkap, namun dapat juga memanfaatkan a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 sumber daya alam yang dimiliki sebagai destinasi wisata edukasi. Wisata Edukasi Tuur Maasering Kumelembuai Tomohon dapat menjadi contoh sebagai destinasi wisata yang memanfaatkan konservasi/lingkungan alam dan pemberdayaan masyarakat lokal, dengan tujuan meningkatkan ekonomi rakyat. Tuur Maasering merupakan cafe dan restoran yang menyediakan makan dan minum dengan welcome drink saguer dan cap tikus . inuman beralkohol lokal khas Minahas. Kawatak, dkk. menyatakan bahwa pemerintah setempat memegang peranan penting dalam pengembangan suatu destinasi wisata di daerah, namun demikian peranan dari masyarakat lokal tidak bisa diabaikan begitu saja. Tuur Maasering melibatkan masyarakat sebagai bagian dari mata rantai ekonomi pariwisata, mendorong masyarakat mengurangi penebangan pohon aren sembarangan, meningkatkan kesadaran dan mengedukasikan wisatawan akan nilai ekonomi dan budaya dari saguer dan cap tikus serta mendorong kreativitas masyarakat lokal untuk dapat mengembangakan potensi-potensi wisata yang ada. Destinasi wisata Tuur Maasering banyak dinikmati oleh berbagai kalangan wisatawan dan memberikan pengalaman suasana makan dan minum yang unik di tengah pepohonan, suhu udara yang dingin dan dekorasi tempat cafy dan restoran yang menarik bagi wisatawan. Namun demikian, peran masyarakat dalam pengembangan wisata edukasi Tuur Maasering masih belum tergambar secara komprehensif terutama dampak ekonomi yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dampak ekonomi pemberdayaan masyarakat yang diimplementasikan pada destinasi wisata edukasi Tuur Maasering. LANDASAN TEORI Pariwisata Fenomena pariwisata telah muncul sejak awal manusia mulai melakukan perjalanan atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, yang ditandai dengan adanya perkembangan sesuai dengan pola hidup sosial budaya yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Perjalanan yang dilakukan manusia menyebabkan munculnya kebutuhan serta dorongan motivasi yang harus dipenuhi dalam hidup manusia, sehingga terjadilah peningkatan peradaban manusia dalam melakukan perjalanan dan terpenuhinya kebutuhan yang semakin kompleks. Tujuan dan motivasi dalam melakukan perjalanan berbeda-beda dari masa ke masa berdasarkan perkembangan dari aspek sosial budaya, ekonomi dan lingkungan masyarakat (Suwena & Widyatmaja, 2. Pariwisata adalah kegiatan dengan tujuan untuk bersenang-senang ataupun mengisi waktu luang dan bersantai, adapun tujuannya untuk studi, melakukan kegiatan keagamaan, kegiatan olahraga, yang dapat memberikan keuntungan baik secara fisik maupun secara psikis bagi para pelaku pariwisata . dengan jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka yang panjang (Isdarmanto, 2. Menurut Ashoer, dkk. secara umum, pariwisata dapat dikatakan sebagai aktivitas yang mengunjungi suatu tempat untuk bersenang-senang, yang didasarkan pada pergerakan manusia di luar lingkungan tempat tinggal. Dengan itu pariwisata dianggap sebagai faktor yang menggerakan manusia yang berada di dalam suatu daerah, kota, negara atau lintas batas Berdasarkan hal itu, aktivitas pariwisata semakin bergerak mendunia dan mendorong faktor-faktor lainnya yang tidak mengenal batasan politik, ideologis, geografis maupun budaya. Pada dasarnya pariwisata adalah suatu aktivitas perjalanan manusia yang dapat dilakukan baik secara individu maupun berkelompok, untuk dapat bersenang-senang dan mendapatkan pengalaman menarik. Aktivitas yang dilakukan terdapat dukungan fasilitas wisata yang tersedia a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 pada suatu destinasi pariwisata yang dikunjungi. Tujuannya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia, sehingga wisatawan dapat langsung merasakan dan melihat keindahan dan keunikan dari daya tarik wisata alam, wisata budaya maupun wisata buatan yang dikunjungi (Ridwan & Aini, 2. Menurut Lobang, dkk. , pada setiap destinasi wisata, terdapat empat konsep yang harus dimiliki dalam pengembangan potensi destinasi wisata menjadi suatu atraksi wisata yaitu: Aksesibilitas (Accessibilit. Aksesibilitas merupakan sesuatu yang menggabungkan antara tata guna lahan secara geografis dengan transportasi sebagai penghubungnya, yang bertujuan memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam melakukan perjalanan serta mengakses suatu tujuan Amenitas (Amenit. Amenitas dapat diartikan sebagai serangkaian fasilitas dalam memenuhi kebutuhan wisatawan seperti akomodasi, penyediaan makanan dan minuman, seperti restoran, cafy, bar, rumah makan dan sejenisnya, tempat hiburan dan perbelanjaan. Atraksi (Attractio. Atraksi wisata adalah sesuatu yang ditawarkan saat wisatawan berkunjung pada suatu destinasi wisata tertentu baik berwujud maupun tidak berwujud. Pelayanan tambahan (Ancillar. Ancillary service adalah ketersediaan sarana dan fasilitas umum bagi wisatawan yang mendukung terlaksananya seluruh kegiatan wisata, seperti rumah sakit. ATM center dan bank. Ancillary service juga dapat berupa dukungan dari berbagai organisasi yang dapat memfasilitasi dan mendorong terjadinya suatu kegiatan kepariwisataan dalam pengembangan serta promosi destinasi wisata. Sama halnya dengan perkembangan suatu destinasi wisata edukasi yang didukung oleh pemerintah daerah, pengelola destinasi serta masyarakat lokal yang bersama-sama membantu pengembangan suatu destinasi wisata edukasi. Wisata Edukasi Wisata edukasi adalah program penggabungan antara dua unsur kegiatan yaitu kegiatan wisata dan pendidikan. Wisata edukasi merupakan kegiatan yang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan memperoleh pengalaman belajar dalam membangun karakter, pikiran ataupun kemampuan mengenai suatu objek wisata serta dapat meningkatkan kecerdasan dan kreativitas wisatawan yang mengunjungi atraksi wisata edukasi (Kresna, 2. Menurut Juwita, dkk. wisata edukasi memberikan suatu pengalaman belajar sekaligus pengetahuan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan sains secara langsung dengan interaktif. Wisata edukasi dapat ditemui di museum, taman bermain, kebun binatang, taman burung, dan tempat-tempat lain yang memiliki nilai edukatif. Konsep wisata edukasi menurut Priyanto, dkk. telah menjadi tren yang dapat memenuhi kebutuhan dan melayani kepentingan wisatawan, dengan metode yang menyenangkan dan menarik. Kegiatan wisata edukasi dapat mempengaruhi serta mampu menggabungkan berbagai jenis kegiatan lainnya dalam melayani berbagai kebutuhan dan kepentingan wisatawan. Seperti, memuaskan rasa ingin tahu mengenai budaya, adat, bahasa daerah lain, merangsang minat terhadap seni, musik, dan cerita rakyat, empati terhadap lingkungan alam, keindahan pemandangan, flora dan fauna, serta memperdalam daya tarik warisan budaya maupun tempattempat bersejarah bagi wisatawan. Tujuan wisatawan ingin menikmati wisata edukasi yakni, agar mendapatkan a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 penggambaran studi yang jelas, perbandingan studi serta wawasan mengenai bidang wisata yang dikunjungi (Kristiutami, 2. Sehingga menurut Prasetyo, dkk. , wisata edukasi merupakan bagian dari aktivitas pariwisata dengan tujuan untuk liburan sekaligus melakukan perjalanan pendidikan sebagai alasan utama maupun alasan kedua oleh wisatawan. Peran dari wisata edukasi adalah untuk memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran konvensional di dalam ruangan kelas dan meningkatkan minat dan motivasi belajar pada anak-anak dan masyarakat umum. Selain itu, wisata edukasi juga dapat membantu dalam pelestarian kebudayaan dan lingkungan, serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (Wisatasekolah. com, 2. Menurut Priyanto . , model wisata edukasi terbagi atas dua bagian yaitu Tutorial Learning dan Place Exploration. Tutorial learning adalah pembelajaran tutorial yang melibatkan pemberian panduan, bantuan, instruksi, dan motivasi kepada siswa dengan tujuan agar mereka dapat belajar dengan efisien dan efektif. Konsep pembelajaran tutorial diterapkan dengan cara menyusun konten informasi yang ingin disampaikan kepada peserta, yang harus memiliki kejelasan dan kemudahan dipahami oleh mereka. Sedangkan place exploration adalah kegiatan bagi wisatawan untuk mengenal dan melihat langsung objek yang menjadi pembahasan dan pembelajaran dari suatu destinasi. Eksplorasi tempat dapat berupa penyediaan fasilitas yang menunjang kegiatan wisata edukasi. Berdasarkan penelitian Purba, dkk. di Tuur Maasering Kumelembuai Tomohon, terdapat keindahan alam yang masih asli dengan memanfaatkan pepohonan aren sebagai konsep tempat destinasi wisata. Minuman tradisional masyarakat Minahasa yaitu saguer dan cap tikus menjadi edukasi kebudayaan yang ditawarkan oleh Tuur Maasering dengan tempat proses penyulingan cap tikus yang berada disekitar destinasi wisata yang dan dilihat langsung oleh para Proses penyulingan cap tikus dilakukan oleh para petani lokal yang telah berpengalaman, sehingga edukasi yang diberikan bagi para wisatawan langsung dari para ahli. Hal ini diperjelas oleh pemilik usaha Tuur Maasering yang menyatakan bahwa Tuur Maasering termasuk dalam wisata edukasi karena konsep wisata yang ditawarkan besifat edukatif dalam mempelajari dan mengenal kebudayaan Minahasa melalui minuman tradisional saguer dan cap tikus serta pengolahannya. Dampak dari wisata edukasi dapat bersifat positif dan negatif. Dampak positif dari wisata edukasi antara lain meningkatkan pengetahuan dan memenuhi keingintahuan wisatawan terhadap budaya dan cara hidup masyarakat yang berada di suatu destinasi wisata, selain itu dengan adanya wisatawan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah tujuan wisata edukasi. Sedangkan dampak negatifnya dapat berupa dampak lingkungan dan kerusakan atau pelecehan terhadap kearifan lokal dan budaya daerah tujuan wisata edukasi (Latif & Amelia, 2. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat pada pengembangan wisata edukasi merupakan suatu proses pembangunan yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam mengembangkan dan mengelola wisata edukasi yang berkelanjutan. Dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan program pengembangan wisata edukasi dalam pemberdayaan masyarakat dapat mempengaruhi pengembangan wisata edukasi. Menurut Indrianti, dkk. , pemberdayaan masyarakat yang difokuskan pada pengembangan wisata edukasi bertujuan untuk memberdayakan warga setempat agar dapat terlibat aktif dalam mengelola wisata edukasi di wilayah mereka. Upaya ini mencakup a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal meningkatkan kualitas produk wisata edukasi, memasarkan produk tersebut, dan mengelola usaha wisata secara berkelanjutan. Beberapa cara pemberdayaan masyarakat pada pengembangan wisata edukasi, menurut Herdiana . , dapat dilakukan antara lain: Memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat setempat mengenai pengembangan dan pengelolaan wisata edukasi yang berkelanjutan. Melibatkan masyarakat setempat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengembangan wisata edukasi di daerah mereka. Mendorong partisipasi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemeliharaan wisata edukasi yang ada di daerah mereka. Mendorong pembentukan kelembagaan wisata edukasi untuk memfasilitasi pengembangan dan pengelolaan wisata edukasi secara berkelanjutan. Menurut Hermawan, dkk. , pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan kepariwisataan memiliki dampak positif baik dalam meningkatkan kreatifitas warga, peningkatan perekonomian masyarakat. Selain itu pemberdayaan masyarakat merupakan cara memandirikan masyarakat untuk dapat menentukan potensi diri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki demi kemajuan pariwisata maupun masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat yang terlaksana dengan baik, membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki pada suatu daerah serta dapat menciptakan pengalaman baru dan tersendiri bagi wisatawan sesuai dengan potensi dan keindahan yang memiliki dan yang ditawarkan oleh suatu objek wisata. Dampak Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat memiliki dampak yang sangat positif bagi aspek ekonomi, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Berikut adalah beberapa dampak pemberdayaan masyarakat pada aspek ekonomi: Meningkatkan pendapatan masyarakat Dengan memberdayakan masyarakat, masyarakat menjadi lebih produktif dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Hal ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai contoh. Kawatak, dkk. menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal saat Tomohon International Flower Festival (TIFF) dapat meningkatkan pendapatan petani dan penjual bunga setempat sebelum, saat, dan sesudah kegiatan dilaksanakan. Meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Dengan pemberdayaan masyarakat, masyarakat akan memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi. Masyarakat akan lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah atau organisasi lainnya. Contohnya dalam penelitian oleh Surahman, dkk. di Desa Wisata Sasak Ende. Budaya Sasak Ende yang unik dan kaya dikelola serta dikembangkan oleh masyarakat setempat secara mandiri dalam rangka pengembangan pariwisata, menyebabkan adanya dampak positif pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Meningkatkan pembangunan ekonomi lokal Pemberdayaan masyarakat juga dapat meningkatkan pembangunan ekonomi lokal. Dengan adanya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan, masyarakat akan menjadi lebih aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi di daerahnya. Hal ini akan meningkatkan produksi dan daya saing produk lokal. Sebagai contoh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Surahman, a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 . di Desa Wisata Sasak Ende, sebelum terjadinya pengembangan pariwisata, produk kesenian masyarakat hanya digunakan untuk keperluan pribadi seperti kain tenun hanya diproduksi untuk keperluan adat dan keseharian. Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan mendorong permintaan produk lokal seperti kerajinan kain dan kerajinan tangan Selain itu, pengembangan pariwisata sangat mempengaruhi faktor peningkatan dan pembangunan fasilitas dalam memenuhi kebutuhan wisatawan, seperti tempat ibadah Musholla, lahan parkir, toilet umum dan khusus wisatawan, jaringan listrik, serta sumber mata air bor yang dibuatkan melalui program pemerintah meningkat setelah adanya pengembangan pariwisata. Pengembangan pariwisata Sasak Ende berkontribusi pada peningkatan fasilitas masyarakat yang tersedia. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Sugiyono . , metode penelitian deskriptif merupakan teknik penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang terperinci mengenai fenomena yang diteliti. Metode ini juga melibatkan pengumpulan data yang sistematis dan analisis dalam menggambarkan serta menjelaskan suatu variabel. Penelitian ini sering dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara dan studi kasus. Lokasi Penelitian Tuur Maasering merupakan destinasi wisata yang berlokasi di Kelurahan Kumelembuai. Kecamatan Tomohon Timur. Kota Tomohon. Sulawesi Utara. Jarak waktu yang ditempuh dari pusat kota Tomohon untuk sampai ke Tuur Maasering adalah 15-20 menit perjalanan menggunakan transportasi motor, mobil maupun bus, dengan jam operasional mulai dari pukul 00 WITA. Tuur Maasering merupakan Cafe dan Restoran yang memiliki keunikan yang merepresentasikan kebudayaan Minahasa dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. Tuur Maasering termasuk dalam wisata edukasi karena menawarkan pengalaman bagi pengunjung mengenai cara pembuatan gula, saguer dan cap tikus yang merupakan minuman tradisional dari Minahasa berupa minuman beralkohol. Untuk masuk ke dalam destinasi wisata, wisatawan harus membayar uang masuk sebesar Rp 15. 000/orang, yang akan ditukarkan dengan minuman tradisional atau welcome drink yang telah disediakan. Welcome drink yang ditawarkan yaitu saguer yang sajikan dalam tempurung . atok kelap. atau one shoot cap tikus. Destinasi wisata edukasi Tuur Maasering memperlihatkan proses penyulingan cap tikus bagi para pengunjung setiap harinya untuk mengedukasi mereka bagaimana penyulingan dari minuman tradisional masyarakat Minahasa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain itu. Tuur Maasering menyajikan dan mengedukasi proses pembuatan gula aren dari turunan pohon aren yang berada di sekitar tempat destinasi wisata. Partisipan Penelitian Partisipan adalah individu maupun kelompok yang menjadi subjek dalam sebuah Peran partisipan dalam penelitian sangat penting untuk memberikan data dan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti untuk dapat menjawab pertanyaan dari penelitian. Dalam menentukan partisipan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Purposive Sampling adalah teknik pemilihan sampel yang dilakukan dengan tujuan tertentu dan a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 pemilihan subjek yang memiliki karakteristik yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Neuman, 2. Partisipan yang menjadi fokus peneliti dalam penelitian ini yaitu individu dan kelompok yang memiliki informasi dan data penting serta jawaban yang sesuai dan akurat dari pertanyaan penelitian terkait pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan wisata edukasi di Tuur Maasering. Kumelembuai Tomohon. Sehingga partisipan yang menjadi sasaran dan keterlibatan dalam penelitian ini, yaitu: Karyawan atau pekerja di Tuur Maasering Tomohon . Kelompok petani pohon aren sebagai mitra kerja . Grup Kebudayaan MaAozani Sanorewok . Metode Pengumpulan Data Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan kepada subjek atau objek penelitian secara langsung dan mendapatkan jawaban dari partisipan. Wawancara dilakukan dapat secara tatap muka, telepon maupun melalui surat. Tujuan adanya wawancara yaitu untuk mendapatkan informasi dan data dari pihak yang terlibat pada pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan wisata edukasi Tuur Maasering Tomohon. Proses wawancara yang dilakukan peneliti yaitu mengajukan pertanyaan dengan penekanan seputar dampak ekonomi. Kegiatan wawancara dilakukan dari tanggal 1 Mei - 9 Juni 2023. Analisis data Analisis data penelitian kualitatif adalah rangkaian proses pengelolaan dan penyusunan data kualitatif yang diperoleh dari berbagai sumber seperti dokumentasi, wawancara, observasi, dan metode pengumpulan data lainnya. Tahapan analisis data dalam penelitian kualitatif terdiri Reduksi data Creswell . menyatakan bahwa reduksi data adalah proses penyusutan, fokus, dan integrasi data dalam penelitian kualitatif untuk mengidentifikasi temuan-temuan kunci dan membuat pola-pola atau kategori yang relevan. Penyajian data Sekaran dan Bougie . menjelaskan bahwa penyajian data adalah proses mengkomunikasikan temuan penelitian dengan menggunakan tabel, grafik, diagram, narasi, atau visualisasi lainnya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hasil Penarikan Kesimpulan Menurut Creswell . , penarikan kesimpulan melibatkan mengintegrasikan hasil analisis data dan menarik kesimpulan berdasarkan pada temuan-temuan yang relevan dengan pertanyaan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam pemberdayaan masyarakat lokal bagi pengembangan wisata edukasi, dampak ekonomi menjadi salah satu hal yang perlu dikaji, sehingga dalam penerapannya dapat dilihat bagaimana peran masyarakat lokal dapat mempengaruhi pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata Tuur Maasering. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 Karyawan Tuur Maasering Karyawan yang bekerja di Tuur Maasering adalah masyarakat lokal yang tinggal di Kelurahan Kumelembuai dengan usia mulai dari 21 tahun hingga 54 tahun. Sebelum adanya usaha bisnis wisata Tuur Maasering, banyak dari mereka bekerja sebagai penjual kue dan makanan tradisional, buruh tani maupun hanya bergantung pada penghasilan orang tua. Pendapatan yang mereka dapatkan sehari-hari terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Tuur Maasering hadir untuk memberikan kesempatan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal dengan pendapatan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka, di mana pendapatan karyawan Tuur Maasering yaitu sekitar Rp. 000 perbulannya. Masyarakat lokal yang dipekerjakan terbagi dari juru masak, waiter dan waitress, petugas pengoperasian dan penyulingan cap tikus, serta pekerja pada bagian pembuatan produk turunan pohon enau/aren yaitu gula cair, gula semut serta gula batu. Karyawan yang bekerja sebagai juru masak memiliki kualitas yang berkompeten dalam menghidangkan makanan dan minuman tradisional seperti midal, nasi bebek bumbu burako dan lain sebagainya. Selain itu ada juga yang bekerja khusus untuk mengambil air nira/saguer dari pohon enau, ada yang bekerja untuk penyulingan cap tikus serta pembuatan gula yang merupakan hasil produk turunan pohon enau/aren. Dulunya mereka adalah buruh tani yang bekerja di tanah atau ladang orang. Adapula karyawan yang dipekerjakan masih berprofesi sebagai mahasiswa, namun pemilik usaha mengizinkan mereka bekerja sebagai mahasiswa magang untuk mendukung kegiatan studi, wawasan dan pengalaman kerja mereka sekaligus membantu tambahan keuangan. Terdapat produk-produk lain dari masyarakat lokal yang dijual di Tuur Maasering seperti kue cucur, panada, dan lain sebagainya. Kesempatan yang diberikan oleh pemilik usaha wisata Tuur Maasering membantu pendapatan para karyawan maupun perekonomian masyarakat lokal yang menjual produk mereka di destinasi wisata ini. Petani (Mitra Kerj. Mitra kerja dari Tuur Maasering yaitu petani-petani lokal yang memiliki perkebunan pohon enau/aren. Dahulu hasil produk pohon enau berupa saguer tidak memiliki harga jual dan hanya diproduksi untuk kebutuhan minuman harian saja yang diberikan cuma-cuma kepada keluarga petani dan tetangga. Sering kali saguer diberikan sebagai sumbangan bagi acara-acara sosial, keagamaan dan lain sebagainya, sehingga petani-petani mulai sedikit menanam dan merawat pohon enau atau yang disebut masyarakat lokal pohon seho. Tuur Maasering membangkitkan motivasi para petani untuk merawat pohon seho dan mulai rajin memproduksi saguer agar memiliki nilai ekonomis bagi para petani. Tuur Maasering membeli saguer dari para petani sebanyak 30-50 galon atau sesuai kebutuhan dan permintaan wisatawan yang datang. Petani mengantar saguer-saguer tersebut setiap pagi dan sore hari dan dibayar oleh pengelola Tuur Maasering setiap minggunya. Diperlukan saguer sebanyak itu karena wisatawan yang berkunjung di destinasi wisata Tuur Maasering berkisar pada angka 300 sampai dengan 4. 000 pengunjung setiap harinya, sehingga saguer yang dikirimkan oleh mitra kerja harus dapat mencukupi permintaan pengunjung/wisatawan. Dari hasil kerja sama dengan strategi pendapatan dari pemasaran yang inovatif . enjual saguer maupun cap tikus dengan konsep penukaran tiket welcome drin. , maka para petani yang menjadi mitra kerja dari Tuur Maasering memperoleh pendapatan berkisar Rp 8. 000 Ae Rp 000 perbulannya. Wisatawan yang membayar tiket masuk Rp15. 000 yang dapat ditukarkan dengan welcome drink saguer atau cap tikus, secara tidak langsung telah membantu a. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 pendapatan para petani. Sebagian pendapatan dari tiket masuk diberikan kepada petani untuk menambah pendapatan mereka. Hal ini dapat mengedukasi dan menyadarkan para petani bahwa pohon seho memiliki nilai berharga yang bukan hanya menjadi sumber pendapatan ekonomi, tapi juga membuka kesempatan lapangan pekerjaan bagi mereka. Grup Sanorewok Kebudayaan Maazani. Kumelembuai Grup Sanorewok merupakan kebudayaan Maazani yang berada di Kumelembuai yang mendapatkan perhatian dari pemilik usaha Tuur Maasering untuk tampil menyanyikan lagu-lagu yang mereka ciptakan. Kesempatan ini menjadikan mereka lebih dikenal oleh banyak wisatawan dan sekaligus memperkenalkan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Ketika ada acara maupun event yang diadakan oleh Tuur Maasering. Grup Sanorewok sering diundang untuk Dari hasil penampilan tersebut, grup ini mendapat biaya tampil dari pemilik Tuur Maasering. Grup ini pun kemudian mendapatkan kesempatan untuk tampil secara rutin di Tuur Maasering pada akhir pekan maupun saat hari libur pada pukul 15. 00 WITA, sesuai dengan kesepakatan antara pemilik bisnis usaha Tuur Maasering dan ketua Grup Sanorewok. Dari setiap hasil penampilan di Tuur Maasering, mereka mendapat perhatian dan tip baik dari wisatawan maupun pemilik usaha Tuur Maasering, yang membantu menambah pendapatan perekonomian mereka, disamping kegiatan dan pekerjaan harian yang mereka lakukan. Adanya partisipasi yang mereka berikan bagi pengembangan destinasi wisata ini mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang berkunjung dan menyaksikan atraksi wisata berupa penampilan budaya lokal sehingga mampu meningkatkan pendapatan bagi Tuur Maasering maupun bagi anggota grup sendiri. KESIMPULAN Pemberdayaan masyarakat lokal menjadi konsep yang handal dalam meningkatkan pengembangan destinasi wisata dimana mereka dapat menjadi mata rantai ekonomi pariwisata. Penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran destinasi wisata Tuur Maasering mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dengan memberdayakan mereka sebagai karyawan di destinasi wisata ini. Selain itu para mitra kerja, yakni para petani aren lokal yang menjadi pemasok untuk produksi saguer dan cap tikus, mampu meningkatkan pendapatan mereka secara langsung maupun tidak langsung karena meningkatnya ketertarikan masyarakat secara lebih luas untuk membeli produk mereka. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Grup Sanorewok yang mempresentasikan kebudayaan Maazani di destinasi wisata ini mampu secara timbal balik meningkatkan minat wisatawan untuk datang berkunjung sehingga tingkat pendapatan grup ini maupun Tuur Maasering dapat meningkat. Pemberdayaan masyarakat lokal untuk pengembangan destinasi wisata Tuur Maasering sudah berjalan dengan baik namun masih ada beberapa hal yang dapat terus ditingkatkan. Kemampuan para karyawan untuk memberikan pelayanan terbaik masih harus terus diperbaiki melalui berbagai pelatihan untuk memberikan kepuasan yang lebih baik pula bagi pengunjung. Kemudian, petani lokal sebagai mitra kerja dapat terus menggiatkan produksi untuk dapat memenuhi kebutuhan destinasi ini sehingga permintaan aren yang masih terus meningkat dapat terus mampu terpenuhi dari produksi lokal. Pengelola Tuur Maasering juga harus mengembangkan kerjasama dengan berbagai grup kebudayaan lokal untuk menarik perhatian pengunjung dengan tampilan budaya yang lebih bervariasi. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 DAFTAR REFERENSI Ashoer. Revida. Mistriani. Murdana. Simarmata . Nasrullah. , . Samosir. Ekonomi Pariwisata . Medan. Sumatra Utara. Indonesia: Yayasan Kita Menulis. Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Singapore: Sage Publications Herdiana. Peran Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Masyarakat. JUMPA, 6. , 63-83. Hermawan. Hidayatullah. Alviana. Hermin. , & Rachmadian. Pemberdayaan Masyarakat melalui Wisata Edukasi dan Dampak yang Didapatkan Masyarakat Desa Pujonkidul. Edusia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Asia, 1. , 1-14. Indrianti. Ariefianto. , & Halimi. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Desa Wisata Organik di Kabupaten Bondowoso. Journal of Nonformal Education and Community Empowerment, 3. , 13-18. Isdarmanto. Dasar-Dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata. Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia: Penerbit Gerbang Media Aksara. Juwita. Novianti. Tahir. , & Awaludin. Pengembangan Model Wisata Edukasi di Museum. Journal of Indonesian Tourism. Hospitality and Recreation, 3. , 817. Kawatak. Indriyanto. , & Jangkobus. GovernmentAos Role in Developing Sustainable Tourism at Sangihe Island Regency. Jurnal Ilmiah Hospitality, 9. , 77-86. Kawatak. Koondoko. , & Montolalu. Dampak Ekonomi Tomohon International Flower Festival terhadap Petani dan Penjual Bunga Lokal. Lensa Ekonomi, 15. , 1-10. Kresna. Pengertian Wisata Edukasi. Retrieved Maret 4, 2023, from Konsultanskripsi. https://konsultasiskripsi. com/2020/03/25/pengertian-wisata-edukasi-skripsi-dan-tesis/ Kristiutami. Pengaruh Keputusan Berkunjung terhadap Kepuasan Wisatawan di Museum Geologi Bandung. Jurnal Pariwisata, 4. , 53-62. Retrieved from Jurnal Pariwisata: https://ejournal. id/ejurnal/index. php/jp/article/view/1761 Latif. , & Amelia. Dampak Pengembangan Daya Tarik Wisata Edukasi dalam Peningkatan Pengunjung Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8. , 461-471. Lobang. Krisnanda. Ulya. , & Puspitasari. Kajian Aksesibilitas. Amenitas. Atraksi dan Pelayanan Tambahan terhadap Minat Kunjungan pada Cafe Sawah Desa Wisata Pujon Kidul. Jurnal Tesla: Perhotelan - Destinasi Wisata - Perjalanan Wisata, 2. , 1-17. Manshur. Minarti. , & Indriana. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Wisata Edukasi dan Rekreasi Kampung Nelayan. MAFAZA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 1-7. Neuman. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches Seventh Edition. Harlow. England: Person. Prasetyo. Manik. , & Riyanti. Pemanfaatan Museum Sebagai Objek Wisata Edukasi. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah, 15. , 1-11. Retrieved from Stipram. Priyanto. Syarifuddin. , & Martina. Perancangan Model Wisata Edukasi di Objek Wisata Kampung Tulip. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 32-38. ISSN : 2828-5298 . EKOMA : Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi Vol. No. Juli-Desember 2023 Purba. Waney. , & Katiandago. Strategi Pengembangan Wisata Tuur MaAoasering di Keluruahan Kumelembuai Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon. Agri-Sosioekonomi, 5. , 91-100. Ridwan. , & Aini. Perencanaan Pengembangan Daerah Tujuan Wisata. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia: Deepublish. Sekaran. , & Bougie. Research Methods For Business: A Skill Building Approach, 7th Edition. New York: John Wiley & Sons. Setiawan. Pengembangan Sumber Daya Manusia di Bidang Pariwisata: Perspektif Potensi Wisata Daerah Berkembang. Jurnal Penelitian Manajemen Terapan, 1. , 23-35. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Surahman. Sudiarta. , & Suwena. Dampak Pengembangan Pariwisata terhadap Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat Lokal Desa Wisata Sasak Ende. Lombok. Analisis Pariwisata, 20. , 39-28. Suwena. , & Widyatmaja. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata. Denpasar. Bali. Indonesia: Pustaka Larasan. Wisatasekolah. Pengertian Wisata Edukasi. Retrieved Maret 16, 2023, from wisatasekolah. com: https://wisatasekolah. com/tag/manfaat-wisata-edukasi/ a. ISSN : 2828-5298 .