Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Pergeseran Konsepsi Kuburan Pada Masyarakat Hindu Bali: Antara Tantra. Calon Arang, dan Wacana Populer Komang Indra Wirawan Universitas Hindu Indonesia. Denpasar. Indonesia wirawan@unhi. Abstract The charnel ground . eIma/setr. is one of the locations regarded as sacred by the Balinese Hindu community, serving as a center for various religious rituals, ranging from Pitra Yadnya to less common rites such as NgeIreh. This sacredness is illustrated in the Calon Arang performance, where the charnel ground is featured as one of the key spaces, in addition to being a significant element in the Calon Arang text. On the other hand, various media, from films to information found on the internet, often depict charnel grounds in a negative context. Observing these two contrasting portrayals, this research is aimed at investigating the differences in perception regarding the meaning of charnel grounds from the two aforementioned perspectives, focusing on the discourses surrounding charnel grounds in Calon Arang . oth in the text and in performance context. and comparing them with narratives disseminated through popular media, while analyzing these through the lens of Balinese Hindu theology rooted in Tantric The research method employed is a semiotic approach with a descriptive qualitative framework. The findings reveal that contemporary Balinese Hindus tend to hold a negative image of charnel grounds, which is inconsistent with the theological teachings of Hinduism. This shift in perception is largely influenced by widespread information from various popular media, such as social media and the internet, which often portray charnel grounds negatively. As a result, there is a dissonance between the values taught in the oAstra and the general public's views. Understanding this shift becomes crucial in preserving the theological values of Hinduism amid the flow of digital Hence, this study highlights the urgency of awareness regarding this perceptual change and the need for concrete actions to uphold the integrity of religion and culture in Bali. Keywords: Charnel Ground. Calon Arang. Balinese Hinduism. Balinese Paradigm Abstrak Kuburan . eIma/setr. merupakan salah satu lokasi yang dianggap sakral oleh umat Hindu Bali, menjadi pusat berbagai ritual keagamaan, mulai dari Pitra Yadnya sampai ritual lain yang tidak begitu lumrah seperti NgeIreh. Kesakralan ini ditunjukkan oleh Pertunjukan Calon Arang yang menjadikan kuburan sebagai salah satu ruang penting dalam pementasannya, selain juga menjadi salah satu bagian signifikan dalam teks Calon Arang. Di sisi lain, berbagai media, mulai dari tayangan film sampai berbagai informasi di internet sering kali menggambarkan kuburan dalam konteks negatif. Melihat dua ketimpangan tersebut maka penelitian ini disusun dengan tujuan untuk menyelidiki perbedaan persepsi terhadap makna kuburan dari dua sudut pandang yang telah dikemukakan, dengan berfokus pada wacana-wacana terkait kuburan dalam Calon Arang . aik dalam teks maupun konteks pertunjuka. dan perbandingannya dengan narasi yang tersebar dalam media populer, serta analisisnya melalui lensa teologi Hindu Bali yang berakar dalam ajaran tantra. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan semiotika dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat Hindu di Bali saat ini cenderung memiliki citra negatif terhadap kuburan, yang mana pencitraan ini tidak sejalan dengan ajaran teologi Hindu. Pergeseran persepsi ini, sebagian besar dipengaruhi oleh informasi yang tersebar luas dari berbagai media populer seperti media sosial dan internet, yang cenderung menampilkan kuburan secara Akibatnya, terjadi ketidakselarasan antara nilai-nilai yang diajarkan dalam oAstra dengan pandangan umum yang tersebar. Pemahaman atas pergeseran ini menjadi penting dalam menjaga nilai-nilai teologi Hindu di tengah arus informasi yang beredar secara Dengan demikian, penelitian ini menyoroti urgensi kesadaran akan perubahan persepsi ini dan kebutuhan akan tindakan nyata dalam mempertahankan integritas agama dan budaya di Bali. Kata Kunci: Kuburan. Calon Arang. Hindu Bali. Paradigma Bali Pendahuluan Kehidupan beragama dengan berbagai ritual dan upacara menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Hampir setiap hari aktifitas keagamaan digelar, baik di ranah personal maupun dalam lingkup kehidupan bermasyarakat di Desa Adat yang tersebar di seluruh Bali. Tidak berlebihan kemudian jika Bali yang dijuluki Pulau Seribu Pura, dan pantas pula disebut dengan Pulau Seribu Ritual serta Pulau Seribu Hari Raya. Masyarakat Bali adalah masyarakat yang sangat seremonial (Pitana, 2. Semaraknya kehidupan sosio-religius di Bali merupakan salah satu daya pikat Pulau Bali yang memberinya keunikan dan daya tarik di kalangan wisatawan. Terlepas dari nuansa tradisional yang menjadi ciri khas Bali, tetap saja Bali tidak kebal dari arus perubahan yang dibawa oleh jaman. Dalam pergerakan jaman, saat ini kita sedang berada dalam pelukan Jaman Informasi. Di satu sisi, masyarakat Bali tetap setia menjalankan tradisi dan agama yang menjadi warisan Leluhur Nusantara. Bukan hanya masyarakat Bali di pedesaan, di kotakota besar pun aktifitas tradisional ini tetap melekat kuat. Namun di sisi lain, masyarakat Bali pada umumnya tetap merupakan konsumen setia produk modern bernama internet. Di era digital ini, informasi bukan lagi menjadi satu hal yang langka, namun telah benarbenar ada dalam genggaman. Informasi mengenai berbagai hal bisa diakses kapan saja dan di mana saja hanya dengan membuka layar Telepon Seluler . mart-phon. Perkembangan teknologi informasi ini lah yang kemudian menjadi salah satu faktor terjadinya berbagai perubahan sosial budaya di Bali (Suwardani, 2. Meski pun tanpa meniatkan untuk mencari informasi khusus, tetap saja kita disuguhi dengan berbagai informasi dari berbagai sumber. berbagai postingan sosial media, vidio-vidio di Youtube, artikel dari berbagai blog dan lain sebagainya. Berkaitan dengan karakter religius masyarakat Bali yang demikian kuat, maka bukan kebetulan jika informasi yang diakses pun adalah informasi terkait nilai-nilai keagamaan dan hal-hal bersifat mistis. Namun tidak semua informasi yang tersaji adalah informasi valid, dan sayangnya lagi, tidak semua konsumen informasi memiliki filter yang kuat terhadap informasi yang diserapnya. Akibatnya, informasi yang tersaji ini kemudian akan membentuk pola-pola baru dalam memandang sesuatu membentuk gugus makna dan nilai yang baru. Satu hal yang kemudian menarik dikaji adalah mengenai apakah pandanganpandangan baru yang dibentuk oleh arus informasi digital ini sesuai dengan pakem-pakem keagamaan yang diwariskan leluhur atau tidak. Hal lain yang juga perlu ditelaah adalah kesesuaian antara penyelenggaraan ritual keagamaan dengan pemaknaan dan penghayatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam aktifitas religius tersebut. Selain itu, berkaitan dengan jaman informasi digital ini, perlu juga dikaji aspek-aspek apa saja https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang berubah dalam kehidupan beragama masyarakat Bali, serta pemaknaan terhadap agama yang dianutnya tersebut. Bukan hanya dalam hal melihat agama dan cara beragama, maraknya persebaran informasi melalui media digital juga mempengaruhi bagaimana aspek-aspek religius secara fundamental dipandang. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat memandang kuburan . Dalam tradisi keagamaan Hindu Bali yang berkembang dari ajaran tantra, kuburan memiliki peran penting dan signifikan (Yudiantara, 2. Tantra berkembang dari tradisi PAuupata, dan tradisi PAuupata menekankan praktik-praktik spiritual yang berlokasi di kuburan (Padoux, 2. Karenanya, dalam tradisi ini, kuburan adalah sebuah tempat suci yang disakralkan. Namun, pemahaman ini mungkin juga berubah mengikuti arus persebaran informasi melalui media sosial. Salah satu sisi kehidupan sosio-religius yang sangat kental dengan kehidupan masyarakat Bali adalah seni pertunjukan Calon Arang. Kesenian ini demikian populer digelar di berbagai tempat dan menjadi tontonan orang dari berbagai kalangan. Bukan hanya menyaksikan dari panggung yang biasanya digelar di Pura, namun pertunjukan yang ada di media internet pun sangat lahap dikonsumsi masyarakat Bali. Alasannya, sebagai mana telah ditunjukkan peneliti di berbagai kesempatan Wirawan . Wirawan . adalah karena nuansa mistis yang dihadirkan Seni Pertunjukan Calon Arang. Nuansa mistis ini merupakan kegemaran masyarakat Bali pada umumnya, dan bahkan menjadi karakter yang mendasari kebanyakan masyarakat Indonesia. Sisi mistis Calon Arang sangat erat kaitannya dengan kuburan, lyyak dan ilmu hitam. Sisi ini bukan hanya dihadirkan dalam kesenian tradisional seperti Calon Arang, namun telah dikemas dalam berbagai media populer. Berbagai halaman Facebook dan channel Youtube didedikasikan untuk eksplorasi tempat angker. Salah satu tempat favoritnya tentu ada kuburan. Berbagai atraksi pun dilakukan di kuburan, mulai dari menghitung makluk gaib apa saja yang ada, mengundang sampai kerasukan oleh berbagai mahluk gaib tersebut. Mengingat cita rasa masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi oleh mistis, maka tidak mengherankan jika informasi semacam ini menjadi sangat populer. Namun, menjadi sebuah pertanyaan apakah refleksi pemahaman yang ditayangkan dalam informasi tersebut sesuai dengan ajaran agama dan uAstra peninggalan leluhur Bali atau tidak. Setidaknya secara spesifik, dalam memandang citra kuburan, hal apa saja yang menjadi perbedaan mendasar antara informasi yang disajikan dalam budaya populer tersebut dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks dan pertunjukan Calon Arang. Mengingat Calon Arang dan Kuburan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan religius masyarakat Bali, dan aspek tersebut juga telah menjadi bagian dari proses produksi-konsumsi informasi digital, maka kajian terkait komparasi keduanya penting dilakukan. Hasil kajian ini diharapkan bisa menjadi filter terhadap arus informasi modern dengan pakem-pakem keagamaan. Kuburan . merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di Bali, baik secara sosial maupun secara ritual. Namun demikian, penelitian mengenai peran, fungsi dan makna kuburan di Bali masih sangat Keterbatasan penelitian ini membuat citra kuburan menjadi semakin asing bagi masyarakat Bali. Beberapa penelitian sebelumnya yang membahas mengenai kuburan misalkan Yuli Anggriani . yang berfokus membahas mengenai tradisi panyambleh kucit butuan dalam upacara macaru sasih kalima. Selain itu penelitian Arniati et al. , . yang berfokus membahas nilai moral ritual penanaman ari-ari di Setra Desa Kedisan. Kedua penelitian tersebut membahas aspek ritual di setra. Sedangkan dalam beberapa penelitian lain Ariswandani . Witari . dominan membahas aspek konflik sosial terkait setra. Sebagaimana bisa disimak, penelitian yang ada belum menggambarkan peranan kuburan . secara https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH umum dalam konteks keyakinan religius masyarakat Bali. Terlebih, bagaimana keyakinan tersebut mengalami pergeseran seiring perkembangan jaman. Berdasarkan landasan tersebut makan penelitian ini disusun untuk melakukan kajian terhadap perbandingan bagaimana kuburan dicitrakan dalam teks-teks keagamaan Hindu dan bagaimana perbebdaanya dengan wacana populer yang beredar, serta pengaruh wacana populer pada pandangan masyarakat Hindu terhadap bagaimana kuburan dicitrakan. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ilmiah ini adalah Deskriptif Kualitatif, yang memungkinkan untuk mengumpulkan dan menyajikan data secara terperinci dan mendalam (Liliweri, 2. Pendekatan ini dipilih untuk mengkaji pergeseran persepsi terhadap makna kuburan di masyarakat Hindu Bali, dengan fokus pada analisis wacana dalam teks Calon Arang dan narasi populer yang tersebar dalam Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menyelidiki perbedaan persepsi terhadap makna kuburan dari sudut pandang tradisional . eks Calon Arang dan pertunjukanny. dan sudut pandang populer . edia populer dan interne. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotika, yang memungkinkan untuk mengkaji makna denotatif dan konotatif kuburan dalam dua konteks tersebut. Semiotika dipilih karena mampu membedah makna simbolik yang terkandung dalam teks dan budaya populer. Data dikumpulkan melalui dua sumber utama, yaitu wawancara untuk mendapatkan perspektif langsung dari informan terkait pemahaman mereka tentang makna kuburan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konteks ritual, serta dokumentasi dari media internet berupa berbagai wacana terkait kuburan yang berkembang, baik dalam bentuk teks maupun media audio visual. Sementara itu, literatur berupa hasil studi dan kajian sebelumnya oleh peneliti lain juga menjadi sumber data penting. Informan dipilih berdasarkan keahlian dan pengalaman mereka terkait budaya dan ritual Hindu Bali, serta penerimaan mereka terhadap media dan konten digital yang membahas kuburan. Instrumen penelitian terdiri dari panduan wawancara dan alat analisis semiotika yang digunakan untuk menguraikan makna kuburan dalam dua konteks yang berbeda. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam dan dokumentasi sistematis dari media internet serta literatur yang relevan dengan topik penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan mempertimbangkan makna kuburan dalam perspektif budaya populer dan dalam tradisi Calon Arang, serta perbandingan keduanya melalui kerangka Teologi Hindu . Analisis ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran persepsi yang terjadi dan implikasinya terhadap nilai-nilai teologi Hindu di masyarakat Bali. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan semiotika ini, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana persepsi terhadap kuburan berubah dalam konteks budaya populer dan tradisional, serta urgensi untuk mempertahankan integritas nilai-nilai agama dan budaya Hindu di Bali. Hasil dan Pembahasan Citra Kuburan dalam Budaya Populer Tidak sulit menemukan informasi terkait kuburan di era modern ini. Salah satu sumber informasi yang bisa dipakai adalah mesin pencarian internet. Saat diketikkan kata kunci kuburan angker di Mesin Pencari Google, maka dalam hitungan 0,35 detik sudah dimunculkan sebanyak 316000 informasi terkait. Demikian pula dengan vidio yang ada di Youtube terkait kuburan angker sangat banyak. Berbagai tayangan yang ada dalam vidio-vidio ini demikian menarik untuk disimak. Terutama vidio-vidio yang dibuat dalam topik uji nyali, penelusuran gaib dan seterusnya. Bukan hanya dari luar Bali, namun dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH elemen masyarakat Bali sendiri banyak yang memproduksi vidio serupa. Dalam budaya populer, kuburan dicitrakan sebagai tempat yang angker untuk kebanyakan orang. Hal ini karena para produsen informasi yang gemar melakukan aktifitas mistis di kuburan. Aktifitas yang sering disebut uji nyali tersebut meliputi pertunjukan satu atau lebih orang yang disebut indigo . emiliki kemampuan metafisi. dan bisa melihat mahluk halus yang ada di kuburan tersebut. Mereka akan secara detail mendeskripsikan bagaimana ciri, bentuk dan karakteristik mahluk halus yang dilihat. Kadang mereka juga kerasukan mahluk-mahluk halus tersebut, entah secara sengaja atau tidak. Saat kerasukan, perangai mereka pun seakan berubah mengikuti mahluk yang merasukinya itu. Fenomena kerasukan ini sendiri adalah satu fenomena menarik untuk dikaji sebagai salah satu spirit Pulau Bali (Wirawan, 2. Dari penelusuran penulis terhadap informasi yang tersebar di media digital, baik dalam mesin pencarian Google maupun Youtube, bisa disimak bahwa kuburan cenderung digambarakan sebagai tempat yang angker. Kadang deskripsi tentang roh-roh gentayangan, yang tetap ada di kuburan tersebut karena tidak mendapat tempat dengan berbagai alasan juga turut membumbui. Alasan tersebut biasanya berkaitan dengan orang yang meninggal karena salah pati dan ulah pati. Mahluk halus penghuni kuburan yang paling sering digambarkan . erutama di luar Bal. adalah Pocong, yaitu jasad terbungkus kain kafan yang melompat ke sana ke mari. Mahluk halus populer lain misalkan Kuntilanak. Gendruwo, dan lain Tentu, deskripsi ini jarang ada di Bali, kecuali mendadak ada saat dilihat oleh orang luar Bali yang melakukan uji nyali di kuburan daerah Bali. Informasi yang berasal dari berbagai blog dan vlog ini kemudian ramai-ramai dibagikan melalui media sosial. Berbagai komentar, dari berbagi pengalaman sampai hujatan pun memenuhinya. Namun terlepas dari komentar apa pun itu, informasi jenis ini dikonsumsi sampai jutaan penonton/ pembaca di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu konten internet paling Citra Kuburan dalam Calon Arang Kuburan adalah salah satu arena sentral dalam tradisi Pencalonarangan, baik dalam teks maupun dalam konteks seni pertunjukan. Dalam kedua sumber tersebut, kuburan digambarkan sebagai tempat yang sakral, bukan tempat angker dalam pengertian hanya menjadi rumah Bhuta-kala dan mahluk-mahluk menyeramkan. Secara filosofis, kuburan merupakan panggung rwabhineda, dua sisi yang nampak berbeda namun sejatinya satu. Selain itu juga, kuburan menjadi tempat terjadinya berbagai transformasi. Kuburan bagi masyarakat Bali juga memiliki asosiasi langsung dengan liturgi, yaitu tempat melakukan berbagai ritual keagamaan. Kuburan dalam Kepustakaan Calon Arang Dalam Lontar Calon Arang, diceritakan bahwa baik Mpu Bharadah . ang cenderung dianggap mewakili tokoh kebaika. maupun Calon Arang . ang cenderung dianggap mewakili tokoh kejahata. sama-sama memusatkan aktifitas religiusnya di Mpu Bharadah disebut berasrama di kuburan di Lemah Tulis. Asrama Mpu Baradah dikenal pula dengan istilah seImAsana. Ada pun asrama Mpu Bharadah ini dibangun demi anaknya. Wedawati yang selalu rajin berada di tengah kuburan meratapi kematian ibunya. Karena alasan tersebut lah kemudian Mpu Bharadah memindahkan asramanya ke Kuburan. Adegan tersebut dideskripsikan dalam paragraf berikut: Umwajar pwa Sri Baradah, eng weIka sisya. Tan dwa makon umusungyng patanya wesma, makapanguba niryng SeImasana ngka. Dadya mangkana praya Sang Murdu, . gawyanun asrama ikang Suma tunwan. Mangrata-rata pwa lumah, bumi sudanun, madugakun patani, patamwan, pakulumkuluman, makadi bukur, dwara tinundatundanireng sisi. Plaga suru-suru jinajar sapanta-panta pute- https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH putetan. Hanasoka, andul, surabi, tayjung, kamuning, campaka gondok, warsiki, asana, jeIring, lyan bujaga puspa sinwan. Tan lingun ikang sarwa sukar, cabol atuwa, gambir, malati puspa, caparnuja, kuranta, tari naka, cina, tulung, wunga wari dadu peItak jingga bang, wunga tali, padma, lungid sabrang. Tan kantun ikang bayeIm raja, suluh, kanduyuhan gimbal jinajaknira, mwang taluki hemakamini, saruni peItak jeIne, mayana reng-reng, nila. Hana junar, lungid sabrang, andong cinara-cara, mwang taheIn kaycana, puring, tuyjung, ara padu GeInup ikang sarwa sukar mwang sarwa sari, pandan janma sampun apaguh, tingkah ing asrama antyanta la . ngun ika, konang-unang, lwir wisnwa bawanyngindarat. Terjemahannya: Mpu Baradah memerintahkan kepada murid-muridnya. Segera menyuruh mengusung balai dan rumah untuk tempat peristirahatannya di kuburan itu. Demikianlah keinginan Sang Pendeta. Di kuburan tempat pembakaran itu akan dibuat asrama. Mereka meratakan dan menyucikan tanah kuburan, mendirikan balai, ruang tamu, ruang tidur, utamanya rumah kecil, pintu bertingkat di pinggir. Pagar tanaman suru-suru dijajar padma, dan pete-petean. Ada angsoka (Tonesia asoka Rox. , andul (Eleo carpus speciou. , surabi (Michelia campak. , tanjung, kamuning (Murrav. , campaka gondok, warsiki, angsana (Terminalia tomentos. , jering (Pithecolibiu. Ada lagi nagasari berdaun muda. Tidak akan disebutkan segala jenis bunga, cabol atuwa, gambir, bunga melati (Jasminum grandifloru. , caparnuja, kuranta (Barbari. , pohon teri naka (Bauhinia tumentos. , cina (Artocarpus integrifoli. , teleng (Clitorea ternate. , bunga wari dadu (Pin. , putih, jingga, merah, bunga tali, teratai merah, dan lungid sabrang. Termasuk bayem raja (Amarantus oleraccu. , bayem suluh, tumbuhan berakar (Ikut Lutun. (Acalupha deusiflor. , tumbuhan berserabut, disertai bunga rara emas (Rara Melay. Bunga seruni putih, seruni kuning, mayana loreng, mayana nila (Coleus cutellanoide. Ada yang kuning, lungid sabrang, andong (Calodracon jaquini. ditata, juga pohon kancana . ayu ma. , puring, tunjung, pohon ara di pojok. Lengkap segala macam bunga dan berjenis-jenis kembang. Pandan janma telah berdiri kokoh, menuruti cara kehidupan di asrama, sangat indahnya, mengesankan bagaikan alam Dewa Wisnu turun ke dunia (Suastika. Mpu Baradah adalah seorang Brahmana utama. Karena keutamaanya beliau disebut juga sebagai seorang Yoguwara, artinya rajanya para yogi (Suastika, 1997. Pigeaud, 1. Sebutan ini mencirikan pencapaian beliau yang sudah sangat matang dalam yoga. Karena asramanya di tengah kuburan, maka seluruh ritual keagamaan . juga praktik-praktik yoga dari Mpu Baradah dilakukan di kuburan. Selain Mpu Baradah. Calon Arang yang dikenal pula sebagai Rangdyng Dirah juga memusatkan segala aktifitas religiusnya di kuburan. Disebutkan dalam teksnya bahwa setiap kali Calon Arang hendak melakukan puja, maka dia bersama murid-muridnya akan datang ke kuburan untuk memuja Hyang Bhagawati. Pemujaan dilakukan dengan persembahan juga dengan cara menari-nari. Ry uwusira gumangsal ikang sastra, umara ta siryng seIma ngka, anuda ta sirynugraha Widi, ring Paduka Batari Bagawati, ingiring den i sisyanira kabeh. Kunang pratekan ing aran ing, sisya nika: si WeIksirsa, si Mahisawadana, si Lundya, si Lundu, si Lundi, si Guyang, si Larung, si Gandi. Ika ta kang umiring maryng Sang Randyng Girah, samyngigul pwa SeImasa. Tan dwa umijil Paduka Bata. i Durga kalawan wadwanira k. tah, sami milwa umigul. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Setelah beliau mengambil pustaka, pergilah ia ke kuburan. Ia mohon anugerah Tuhan ke hadapan Paduka Batari Bagawati, diikuti oleh muridnya semua. Adapun nama masing-masing muridnya itu Si Weksirsa. Mahisawadana. Si Lendya. Si Lende. Si Lendi. Si Guyang. Si Larung, dan Si Gandi. Itulah yang mengiringkan Sang Randa di Girah. Mereka . menari di kuburan itu. Segera muncul beliau Paduka Batari Durga bersama pengikutnya banyak, semua turut menari . (Suastika, 1. Mwajar ta Calwan Arang maseng ing sisyanyytah, majak paryng suma ngka, lagi pwa ya manggangsal ikang lipyakara. Ry uwus gumangsal ikang lupihan, saksana wihang ta ya, ingiring pwa ya dening sisyannya kabeh. Datang ta yyng tambing ing sema, unggwan ri hub ning kupuh, winilut ing karamyan. Rwan ika marunub rumambya tukyng kasyapa. Iswar nika daran ya maradin, lwir kasapwan rahinyng kulum. Irika ta Randyng Girah malinggih, pinaruk de sisyanira kabeh. Terjemahannya: Calon Arang berkata memberitahukan kepada muridnya, mengajak pergi ke Dia mengambil lagi buku suci itu. Setelah mengambil buku suci itu, dia segera pergi diikuti oleh muridnya semua. Dia datang di pinggiran kuburan, tempat di bawah naungan pohon kepuh, dikelilingi keindahan. Daunnya lebat menjulur sampai ke bumi. Di bawahnya jalan yang datar . , seperti disapu pada siang dan malam. Di sana lah janda Girah duduk, dikerumuni oleh semua muridnya (Suastika, 1. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa baik tokoh antagonis maupun protagonis dalam cerita Calon Arang sama-sama melakukan pemujaan di kuburan . ahyangan anang sumasan. Dalam Tradisi Calon Arang, biasanya Calon Arang dianggap sebagai tokoh jahat sedangkan Mpu Bharadah sebagai tokoh yang mewakili Namun terlepas dari karakteristik tersebut, keduanya adalah sama-sama yogi yang mumpuni, dan sama-sama melakukan aktifitas yoganya di kuburan. Dalam teks Calon Arang kuburan juga disebutkan sebagai tempat yang ditata dengan indah dan Baik SeImAsana asrama Mpu Bharadah maupun Calon Arang keduanya ditata dengan keindahan. Jadi, bukan kuburan sebagai tempat angker yang nampak menyeramkan, terbengkalai dan sejenisnya. Meski demikian, di kuburan memang disebutkan sebagai tempat yang dipenuhi oleh Bhutakala pengikut dari Hyang Bhagavati (Durg. Namun para BhtakAla tersebut bukan hantu pengganggu yang bergentayangan sembarangan, mereka adalah pengiring Hyang Durga, dan karenanya hadir dan bahkan ikut terlibat dalam proses pemujaan Durga yang dilakukan. Meski demikian, ada pula deskripsi mengenai keangkeran kuburan disebutkan dalam teks Calon Arang. Namun sisi menyeramkan kuburan ini bukan karena hantu gentayangan yang ada di kuburan, melainkan karena pengaruh wabah yang menjalar akibat sihir Calon Arang. Deskripsi menyeramkan tersebut disebutkan sebagai Warnany Sang Yogyswara, kesah ta sira sakyng rika, angidula angulwan laku Sang Jatiwara, mahawan pwa siryng setra watas tugal-tugal, dukutnya kakajar mwang pakis waduri, kayunya. Srugala abahung mamangsya kunapa anang sukut Wayasanya munyyngalik-alik anang tahun. Datang pwa sira ngka Sang Yogyswara Baradah. Rupumunung tang swanybahung, mwang gagak muni, tumwun ring Sang Mahasanta datang. Sakweha nikang kahawan de Sang Jiwatma prapa yan lagyytuha kewala, sida mahurip tikang paratrytah, satinghalira Sang Munyswara ngkana madya ning suma. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Disebutlah Sang Pendeta, beliau pergi dari tempat itu, ke arah barat daya, beliau melewati tepi kuburan perbatasan tegalan, rumputnya rimbun, dan pakis, waduri, dan pepohonan. Serigala meraung memakan bangkai di antara rerumputan pakis. Burung gagak berbunyi keras berkepanjangan di pohon. Sang Pendeta Baradah datang ke tempat itu. Anjing diam tidak menggonggong lagi, juga bunyi burung gagak berhenti, melihat Sang Pendeta datang. Segala tempat yang dilewati oleh Sang Jiwatma, yang sedang sakit menjadi segar kembali seperti semula, yang mati kembali hidup, setelah dilihat Sang Pendeta di tengah kuburan (Suastika, 1. Kuburan dalam Seni Pertunjukan Calon Arang Selain dalam tradisi tekstual, kesakralan kuburan dalam kaitannya dengan liturgi pun ada dalam seni pertunjukan Calon Arang. Adegan yang dilakukan di kuburan bukan lagi sebatas adegan yang ditujukan sebagai tontonan, namun benar-benar merupakan ritual sakral. Terutama saat pementasan Calon Arang disertai dengan ritual Caru Kucit Butuhan. Tidak jarang juga PeIcalang desa akan mengamankan lokasi agar penonton tidak masuk areal tengah Kuburan tempat ritual digelar. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut: setelah pemeran watangan (Bangky-bangkya. selesai diproses di panggung . yiramang layon, dan lain-lai. maka kemudian dia akan diarak ke kuburan desa Kemudian. Rangda yang telah usai menari di panggung pun akan ikut ke Aparat desa seperti peImangku dan lain-lain sudah menggelar dan menghaturkan Di ujung ritual kemudian baru lah Rangda kemudian mengibas-ngibaskan keIreIbnya, watangan diperciki tirta dan dia akan sadar kembali. Ritual ini tidak lain bertujuan untuk meruat segala mrana . abah, penyaki. Selain itu. Dikurbankannya Kucit Butuan sebagai kurban suci adalah menandakan bahwa pementasan sudah memasuki klimaks dan berakhir dengan keseimbangan sekala-niskala (Wirawan, 2. Jadi sama seperti Mpu Bharadah yang meruat Calon Arang. Weksirsa dan Mahisawedana di tengah kuburan, demikian pula adegan ritualistik ini memiliki fungsi yang sama. Hanya saja, dalam konteks seni pertunjukan, fungsi pengruatan ini dilakukan oleh Rangda sesembahan desa Bahkan, sebagaimana disebutkan dalam kutipan sebelumnya. Mpu Bharadah disebutkan memiliki kemampuan meruat yang demikian besar sehingga tempat yang dilaluinya langsung berubah menjadi lebih baik. Calon Arang. Kuburan, dan Tantra Hindu-Buddha Korelasi dan peran penting kuburan dalam tradisi Calon Arang, teks maupun konteks tentu tidak lepas dari pandangan mengenai kuburan yang ada dalam tantra. Sebagaimana ditunjukkan Yudiantara . , tantra adalah fondasi peradaban nusantara kuno, dari Sriwijaya sampai Bali. Karena itu, peran signifikan kuburan dalam Calon Arang tentu bukanlah kebetulan. Dalam aliran tantra, kuburan merupakan tempat yang sangat tepat untuk melakukan upacara tantris. Kuburan adalah pintu gerbang untuk mencapai moksa, karena dengan lenyapnya tubuh jasmani, jiwa akan bebas bersatu dengan oiwa serta uaktinya (Wirawan, 2. Dalam tantra, jalan spiritual yang menjadikan kuburan sebagai pusat aktifitas spiritualnya disebut dengan omAsanAgama (Yudiantara, 2. Baik dalam Hindu Tantra maupun dalam Buddha Tantra, keduanya sama-sama memiliki aliran yang menganut omAsanAgama. Menurut Kitab NAgarakutAgama Mpu Bharadah adalah seorang penganut tantra Buddha yang telah tinggi pencapaian yoganya . odsa mahAyanabrata pgat/ ring tantra yogiuwar. (Yudiantara. Sementara itu. Calon Arang sebagai pemuja Durga bisa dikatakan sebagai pengikut tantra Hindu dari golongan BhairavAgama . liran tantra yang berorientasi pada oakt. Cikal bakal aktifitas spiritual yang berpusat pada kuburan adalah pada sekte PAuupata, salah satu sekte tertua yang ada. Dari sekte ini lah berkembang tradisi omAsanAgama, baik dalam Hinduisme maupun Buddhisme. Salah satu ciri khas sekte ini juga adalah KApAlika, artinya mereka yang membawa tengkorak. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Goris . , baik sekte PAuupata maupun Bhairava sama-sama pernah berkembang di Bali, karenanya tradisi Calon Arang yang mekar di Bali pun sangat dipengaruhi oleh nuansa dari sekte-sekte ini. Kuburan sebagai pusat spiritual dan ritual adalah hal yang lumrah dalam kepustakaan Bali lainnya, dan tradisi ini sudah ada setidaknya dari jaman Majapahit. Dalam Kakawin Sutasoma, diceritakan dalam perjalanannya menempuh jalan Boddhisatwa Santoso . Sutasoma berhenti di tengah kuburan dan melakukan pemujaan pada Dewi Bherawi. Setelah melakukan puja, dia pun bermeditasi. Di tengah kedalaman meditasi tersebutlah kemudian Sang Dewi muncul dan memberikan anugerah pada Sutasoma. Anugerah tersebut tidak lain merupakan sebuah mantra yang berisi esensi semua kekuatan supernatural. Kakawin Sutasoma adalah kakawin yang berasal dari jaman Majapahit, buah karya Mpu Tantular. Terlepas dari bentuknya sebagai karya sastra, namun di dalamnya merupakan refleksi dari kondisi-kondisi sosio-cultural pada jaman karya itu ditulis. Dengan kata lain, pemujaan di kuburan pada jaman Majapahit merupakan satu hal yang lumrah. Meski pun tentu saja, deskripsi kuburan ala Mpu Tantular tidak begitu mencirikan keindahan . isalkan dengan mayat yang bergelimpangan sampai dimakan anjing. IX. Namun, satu hal yang menarik digarisbawahi adalah, saat sedang bermeditasi. Sutasoma digambarkan sedang duduk di atas mayat (XII. Karena adegan ini pula maka Soewito Santoso . menyimpulkan bahwa Sutasoma adalah seorang penganut Bhairawa . mauAnagaman. Namun, diskusi mengenai Tantra Bhairawa memiliki beberapa perspektif dan telah menjadi istilah yang menggambarkan banyak arus ajaran, baik dari arus Siwaistik maupun MahAyAna (Santoso, 1975. Yudiantara, 2. Sutasoma, seperti juga Mpu Bharadah oleh Soewito Santoso . disebut sebagai penganut Bhuddhis Bhairawa, sedangkan Calon Arang, sebagaimana Mpu MahApalyat . alam Tantu Pagelara. dan PusuAsa . alam Kakawin Sutasom. digolongkan ke dalam oaiwa Bhairawa. Berkaitan dengan Tantra Bhairawa, beberapa dekade sebelum Kakawin Sutasoma ditulis, pada jaman Raja Krtanagara . di Kerajaan Singasari pun pemujaan di kuburan nampak sebagai hal yang biasa. KutanAgara dalam kitab NAgarakutAgama disanjung sebagai seorang penganut tantra yang taat, namun dalam Kitab Pararaton dideskripsikan sebagai seorang pemabuk dan rakus (Blom, 1. Terlepas dari hal itu. KutanAgara adalah seorang penganut KAlacakra Tantra yang taat (Blom, 1939. Soelistyanto, 1. Ritual dalam GaNacakra biasanya dilakukan di kuburan. Terkait peran dan fungsi kuburan sebagai pusat aktifitas religius juga tersebar dalam berbagai teks lain. Misalkan dalam Budha Kecapi, disebutkan bahwa Sang Budha Kecapi mendapatkan anugerah Bhatari Durga di kuburan. Selain itu, disebutkan bahwa Sri Aji Jaya Kesunu memohon anugerah Bhatari Durga di kuburan dalam hal bagaimana menangani wabah yang sedang menyebar (Wirawan, 2. Baik dalam Tantra Buddha White . , maupun Tantra Hindu, kuburan dianggap sebagai tempat yang ideal untuk meditasi (Feuerstein, 1. Melakukan ritual di kuburan bagi para praktisinya merupakan sebuah aktifitas simbolik. Sebagaimana dikatakan oleh Mircea Eliaide . , kuburan menyimbolkan alam batin . sychomental lif. , yang dihidupi oleh ke-aku-an, mayat menyimbolkan berbagai aktifitas inderawi dan Mayat ini lah yang kemudian perlu dibakar. Selain itu, meditasi di tengah kuburan juga memberi manfaat lain seperti membakar pengalaman egoistik, melampaui ketakutan, bahkan bisa memanggil dan menguasai daya-daya demonik. Kesimpulan Artikel ini menegaskan perbedaan yang mencolok dalam persepsi terhadap kuburan antara tradisi Bali dan pandangan populer saat ini. Kuburan dalam tradisi Bali tidak hanya dianggap sebagai tempat untuk mengubur jenazah atau sebagai rumah hantu, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tetapi memiliki nilai sakral yang mendalam. Sebagai tempat untuk ritual Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya, serta dianggap sebagai stana Bhatari Durga dalam kerangka tantra, kuburan memiliki peran sentral dalam peradaban spiritual Bali. Di sisi lain, pandangan populer sering mengasosiasikan kuburan dengan citra negatif dan menyeramkan, tanpa memahami kedalaman maknanya dalam konteks budaya dan agama Hindu Bali. Pemahaman yang mendalam tentang makna dan fungsi kuburan ini menjadi krusial untuk menjaga keutuhan nilai-nilai spiritual dan budaya Bali di era digital yang cenderung dipenuhi oleh informasi yang seringkali menyederhanakan atau bahkan memutarbalikkan konsep-konsep tersebut. Pertunjukan seperti Calon Arang memiliki potensi besar sebagai medium edukasi untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional, asalkan dipentaskan dengan memperhatikan prinsip-prinsip oAstra yang mengatur tata cara dan makna spiritual kuburan. Dengan demikian, penting bagi masyarakat Bali untuk terus mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang kuburan, sehingga dapat menghormati dan mempertahankan warisan budaya dan spiritual yang berharga ini dalam menghadapi tantangan zaman modern. Daftar Pustaka