BIOCITY Journal of Pharmacy Bioscience and Clinical Community 4. : 33-42 BIOCITY JOURNAL OF PHARMACY BIOSCIENCE AND CLINICAL COMMUNITY Analisis Keputusan Pemilihan Penggunaan Obat Herbal dan Obat Konvensional di Kalangan Usia Produktif Analysis of the Decision to Use Herbal Medicine and Conventional Medicine among Productive Age Groups Dhea Ayu Khoirunnisa. Osie Listina*. Ery Nourika Alfiraza Program Studi Farmasi S-1. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Bhamada Slawi. Kabupaten Tegal, 52416. Indonesia Informasi Artikel ABSTRACT Riwayat Artikel: Herbal medicine and conventional medicine are two primary treatment options commonly used by the productive age population in addressing health issues. This study aims to determine the percentage of medicine preference, the dominant factors influencing decision-making, as well as the knowledge of medicinal plants and attitudes of the productive age community toward the use of herbal and conventional medicines. The research employed a mixed-methods using questionnaires and interviews through stratified random sampling. The results showed that 61% of respondents preferred conventional medicine, while 39% chose herbal medicine. The dominant factor influencing the use of herbal medicine was its minimal side effects, whereas the main reason for choosing conventional medicine was its effectiveness in treating diseases. Descriptive analysis concluded that the productive age population tends to prefer conventional medicine over herbal medicine for daily treatment. Received : 16 Juli 2025 Revised : 04 Oktober 2025 Accepted : 15 Oktober 2025 Keywords: decision-making. herbal medicine. productive age. ABSTRAK Kata Kunci: obat herbal. obat konvensional. usia produktif. Obat herbal dan obat konvensional merupakan dua jenis pengobatan utama yang digunakan oleh masyarakat usia produktif dalam menangani masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pemilihan obat, faktor dominan yang mempengaruhi keputusan, serta pengetahuan tanaman herbal dan sikap masyarakat usia produktif terhadap penggunaan obat herbal dan obat konvensional. Penelitian dilakukan dengan mixed methods menggunakan kuesioner dan wawancara melalui teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61% responden memilih obat konvensional dan 39% memilih obat herbal. Pemilihan obat herbal dipengaruhi oleh faktor efek samping yang sedikit sedangkan faktor dominan pemilihan obat konvensional adalah efektivitas dalam mengobati Berdasarkan analisis deskriptif dapat disimpulkan bahwa masyarakat usia produktif cenderung lebih memilih obat konvensional dibandingkan obat herbal dalam pengobatan sehari-hari. *Penulis Korespondensi: Email: iim. shie@gmail. doi: 10. 30812/jtmp. Hak Cipta A2025 Penulis. Biocity Journal of Pharmacy Bioscience and Clinical Community Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC-BY . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. Cara Sitasi: Khoirunnisa. Listina. Alfiraza. Analisis Keputusan Pemilihan Penggunaan Obat Herbal dan Obat Konvensional di Kalangan Usia Produktif Kecamatan Pangkah. Biocity Journal of Pharmacy Bioscience and Clinical Community, 4. , 33-42. https://doi. org/10. 30812/jtmp. Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . PENDAHULUAN Pemilihan jenis pengobatan menjadi keputusan penting dalam menjaga kesehatan, khususnya ditengah semakin berkembangnya pilihan antara obat konvensional dan obat herbal. Perbedaan mendasar antara obat konvensional dan obat herbal terletak pada pendekatan ilmiah dan karakteristik penggunaannya. Obat konvensional dikembangkan melalui proses penelitian laboratorium dan uji klinis yang terstandar, sehingga efektivitas dan dosisnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun demikian, penggunaan obat konvensional sering kali dihadapkan pada risiko efek samping serta biaya pengobatan yang relatif tinggi (Yulion et al. , 2. Di sisi lain, obat herbal lebih banyak dipilih karena dianggap alami, mudah diperoleh, dan memiliki efek samping yang lebih ringan, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam pembuktian ilmiah, standardisasi mutu, serta konsistensi dosis yang tepat, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam penerapannya di bidang kesehatan modern. Obat konvensional dinilai efektif karena melalui uji ilmiah dan klinis yang ketat, namun sering dikaitkan dengan efek samping dan biaya tinggi (Yulion et al. , 2. Sebaliknya, obat herbal dianggap lebih aman dan alami, tetapi menghadapi tantangan dalam hal standardisasi mutu dan bukti ilmiah yang terbatas (Grenvilco DO. Kumontoy. Djefry D, 2. Dalam konteks perdebatan ini masyarakat sering kali menggabungkan kedua jenis pengobatan, sehingga pemahaman terhadap faktor, persepsi, dan pengetahuan yang mempengaruhi pemilihannya menjadi penting untuk dikaji. Obat herbal adalah obat yang berasal dari tumbuhan yang diproses atau diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk, pil, atau cairan yang dalam prosesnya tidak menggunakan zat kimia (Wulandari et al. , 2. Sebagaimana diketahui, obat herbal terbuat dari bahan-bahan alami sehingga mampu menyembuhkan penyakit dengan efek samping yang minimal. Tren "back to nature" dan peningkatan konsumsi obat herbal semakin berkembang di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, obat herbal pun berkembang di beberapa negara maju di dunia. Sekitar 65% dari penduduk negara maju menggunakan pengobatan tradisional atau herbal dan bahan alami. Berdasarkan penelitian Yahya . , masyarakat usia 15 tahun ke atas pernah mengkonsumsi jamu, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 18-25 tahun yang termasuk dalam usia produktif (Yahya et al. , 2. Di Indonesia data BPOM mencatat peningkatan signifikan jumlah produk obat herbal terdaftar setiap tahun (Direktorat Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, 2. Prevalensi penggunaan obat herbal pada kelompok usia produktif tergolong tinggi karena kelompok ini cenderung memiliki tingkat kesadaran kesehatan yang baik, aktivitas tinggi, serta preferensi terhadap pengobatan yang dianggap aman, alami, dan dapat mendukung produktivitas tanpa efek samping berat. Menurut Kemenkes RI . , sekitar 49% masyarakat usia 25Ae50 tahun di Indonesia menggunakan obat herbal sebagai upaya pengobatan atau pencegahan penyakit (Kemenkes RI, 2. Tren ini juga didukung oleh meningkatnya minat terhadap obat herbal terstandar dan fitofarmaka, yang merupakan bentuk modernisasi obat herbal Indonesia dengan proses produksi, uji keamanan, dan uji efektivitas yang memenuhi standar ilmiah (BPOM RI, 2. Tingginya penggunaan pada kelompok usia produktif menunjukkan adanya pergeseran perilaku kesehatan menuju pendekatan integratif antara pengobatan tradisional dan konvensional, seiring meningkatnya literasi kesehatan dan ketersediaan produk herbal yang terjamin mutunya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial budaya dan kepercayaan memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan herbal. Masyarakat di Jawa Timur menunjukkan preferensi tinggi terhadap obat herbal karena adanya kepercayaan turun-temurun bahwa bahan alami lebih aman dan sesuai dengan Aukebiasaan nenek moyangAy. Namun, penelitian tersebut masih terbatas pada pendekatan deskriptif dan belum menjelaskan mekanisme psikologis dibalik keputusan tersebut. Persepsi terhadap risiko juga menjadi penentu penting dalam pemilihan obat. Penelitian Putra . di Yogyakarta menemukan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki kekhawatiran terhadap efek samping obat kimia, terutama obat yang digunakan secara jangka panjang (Putra et al. , 2. Namun, penelitian ini bersifat kuantitatif dengan instrumen kuesioner tertutup sehingga belum menggambarkan proses berpikir individu secara mendalam. Informasi mengenai obat herbal lebih sering beredar di media sosial seperti Instagram. TikTok, dan YouTube dalam bentuk testimoni atau promosi berbasis pengalaman pribadi. penelitian tersebut lebih menyoroti aspek komunikasi dan belum mengkaji hubungan sebab-akibat antara paparan informasi di media sosial dan keputusan aktual masyarakat dalam menggunakan obat herbal. Dengan demikian, masih terdapat keterbatasan dalam penelitian yang mengkaji secara mendalam keputusan masyarakat dalam memilih obat, terutama dalam pemilihan obat antara obat herbal dan obat konvensional. Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal dikarenakan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang signifikan yaitu sebesar 69,2% dari total penduduk . ata pemerintah Kecamatan Pangkah tahun 2. Daerah ini mencerminkan pola penggunaan pengobatan herbal dan akses yang semakin luas terhadap obat konvensional. Bukti utama yang menunjukkan meningkatnya akses terhadap obat konvensional adalah peningkatan ketersediaan obat esensial di fasilitas kesehatan, baik puskesmas, rumah sakit, maupun apotek. Menurut Kementerian Kesehatan RI tahun 2022. Indeks Ketersediaan Obat Esensial Nasional meningkat dari 74,3% pada tahun 2018 menjadi 85,6% pada tahun Hal ini menandakan bahwa masyarakat di berbagai wilayah semakin mudah memperoleh obat konvensional sesuai standar pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara awal dengan beberapa warga serta tenaga kesehatan pada beberapa wilayah desa di Kecamatan Pangkah, ditemukan bahwa masyarakat kerap menghadapi pilihan antara pengobatan herbal dan konvensional. Hal ini juga diperkuat oleh data penjualan obat dari dua apotek setempat yang menunjukkan peningkatan pembelian produk herbal dalam dua tahun terakhir. Dengan demikian lokasi ini relevan untuk dijadikan area Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keputusan pemilihan penggunaan obat herbal dan obat konvensional di kalangan usia produktif Kacamatan Pangkah terutama dalam persentase pemilihan obat, faktor dominan yang mempengaruhi keputusan, serta pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kedua jenis obat tersebut sebagai dasar dalam mengidentifikasi pola preferensi pengobatan yang lebih aman di METODOLOGI Desain Penelitian Desain penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis keputusan pemilihan penggunan obat herbal dan obat konvensional. Penelitian ini dilakukan di 23 desa di wilayah Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal dengan rentang waktu pelaksanaan mulai Januari hingga April 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat usia produktif yaitu individu yang berada dalam rentang usia 15 hingga 64 tahun yang berdomisili di Kecamatan Pangkah. Berdasarkan data kependudukan terbaru tahun 2024, jumlah total populasi pada kelompok usia tersebut tercatat sebanyak 85. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling yaitu metode pengambilan sampel secara acak berdasarkan strata tertentu yang dianggap relevan. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin pada tingkat kesalahan 10% sehingga diperoleh 100 orang responden yang dianggap mewakili populasi sasaran dan layak dijadikan sebagai sampel penelitian. Intrumen Penelitian Intrumen penelitian yang digunakan adalah data primer, diperoleh dari pengisian kuesioner tertutup yang telah diuji validitas dan reabilitas. Uji validitas dan reabilitas adalah uji untuk memastikan bahwa setiap item pertanyaan mampu mengukur variabel yang dimaksud secara akurat dan konsisten (Amalia et al. Uji validitas menggunakan Teknik Corrected Item-Total Correlation, yaitu dengan membandingkan nilai r hitung dan r tabel . tabel=0,374. =0,05. dengan jumlah responden uji coba sebanyak 30 orang sesuai yang tertuang pada Tabel 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan memenuhi kriteria validitas yaitu nilai r hitung > r tabel, kecuali satu butir . ode R. yang memiliki r hitung di bawah nilai r tabel, sehingga item tersebut dinyatakan tidak valid dan dihapus dari instrumen (Amalia et al. , 2. Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . Tabel 1. Uji Validitas Kuesioner Kode Kode Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Obat Pertanyaan Hitung Menurut saya, obat yang memiliki penelitian ilmiah lebih kuat 0,455 Menurut saya, mana yang memiliki dosis lebih tepat dan terukur 0,445 Untuk pencegahan penyakit, mana yang saya anggap lebih efektif 0,394 Menurut saya, mana yang memiliki dosis lebih tepat dan terukur 0,516 Mana yang menurut saya lebih dipercaya oleh masyarakat umum 0,461 Pengalaman dan Sikap Pemilihan Obat Pertanyaan Hitung Jika saya sakit ringan . , mana yang cenderung saya pilih 0,445 Jika saya mengalami penyakit serius, mana yang akan saya pilih sebagai 0,563 pengobatan utama Jika keluarga saya sakit, mana yang akan saya sarankan 0,819 Mana yang lebih saya percayai untuk pengobatan anak-anak 0,583 Saat berpergian keluar kota, mana yang lebih mudah saya bawa dan sim0,445 Jika ada anggota keluarga yang hamil membutuhkan obat, mana yang 0,317 akan saya sarankan Tabel 0,374 0,374 0,374 0,374 0,374 Tabel 0,374 0,374 0,374 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Keterangan Valid Valid 0,374 Valid Valid Valid 0,374 Tidak valid Selanjutnya uji reliabilitas dilakukan menggunakan metode CronbachAos alpha. Nilai yang diperoleh sebesar 0,0856, ini menunjukkan bahwa nilai tersebut memiliki konsistensi internal yang tinggi dan dapat Uji reliabilitas yang baik disarankan memiliki nilai cronbachAos alpha lebih dari 0,6. Sedangkan keandalan instrumen lemah jika nilai cronbachAos alpha nya kurang dari 0,5. Keandalan instrumen sedang jika nilai cronbachAos alpha 0,6 Ae 0,7. Keandalan instrument diterima jika nilai cronbachAos alpha 0,7-0,8 dan baik jika nilainya 0,8-0,9 serta nilai keandalan instrument yang sangat baik atau sempurna adalah >0,9 (Amalia et al. , 2. Analisis Data Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu editing, coding, dan entry data menggunakan Microsoft Excel kemudian dianalisis dengan program SPSS versi 22. Uji statistik yang digunakan adalah analisis logistik biner untuk melihat hubungan antara variabel independen dan dependen, dengan kriteria signifikansii p O 0,05 untuk melihat pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi keputusan dalam pemilihan obat. Kemudian data hasil wawancara dianalisis secara tematik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan terhadap 100 responden usia produktif di Kecamatan Pangkah. Kabupaten Tegal. Karakteristik faktor demografis responden mencakup usia, jenis kelamin, dan pendidikan terakhir. Data karakteristik responden tertuang pada Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan usia paling tinggi pada rentang usia 36-45 tahun. Usia tersebut dianggap sebagai usia produktif yang umumnya sudah memiliki tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar, kondisi finansial lebih stabil, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan yang lebih tinggi (Febianti et al. , 2. Tingginya responden perempuan . %) dapat memengaruhi hasil, karena beberapa studi menyatakan bahwa perempuan lebih memperhatikan kesehatan keluarga dan lebih terbuka terhadap penggunaan obat tradisional (Fadholah et al. , 2. Data demografis perlu dianalisis lebih mendalam untuk mengetahui bagaimana karakteristik responden memengaruhi pilihan terhadap obat herbal dan obat konvensional. Analisis ini penting karena setiap kelompok demografis memiliki motif, akses, dan tingkat literasi kesehatan yang berbeda dalam menentukan jenis pengobatan yang digunakan. Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . Tabel 2. Karakteristik Demografis Responden Karakteristik Usia Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir Pekerjaan Riwayat Penyakit Penyakit Saat Ini Lama menderita Penyakit Kategori 19-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 45-53 tahun 54-64 tahun Laki-laki Perempuan SMP SMA Diploma Sarjana Ibu rumah tangga Karyawan Mahasiswa Wiraswasta Wirausaha Guru Alergi Fibroadenoma mammae GERD Asma Hipertensi Maag Diabetes Tidak ada Alergi GERD Hipertensi Vertigo Asma Maag Diabetes Tidak ada 1 tahun 2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun 10 tahun Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan data penelitian, kelompok usia 36Ae45 tahun . %) merupakan dominasi terbesar responden di Kecamatan Pangkah. Usia ini termasuk dalam kategori usia produktif, yang umumnya memiliki tingkat kesibukan dan mobilitas tinggi sehingga lebih memilih obat konvensional karena efek terapeutiknya yang cepat dan praktis (Kismiyarti & Ermawati, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang melaporkan bahwa 68% responden usia produktif . Ae45 tahu. di Yogyakarta lebih memilih obat konvensional karena dianggap mampu memberikan hasil penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan obat Namun demikian, tren penggunaan obat herbal di kalangan usia produktif juga terus meningkat, terutama untuk tujuan wellness dan pencegahan penyakit. Penelitian Astuti . menunjukkan bahwa sekitar 42% masyarakat usia produktif di Jawa Tengah rutin mengonsumsi jamu atau herbal modern sebagai suplemen pendukung kesehatan (Astuti et al. , 2. Faktor pendorong utamanya adalah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup sehat dan keinginan untuk menghindari efek samping obat kimia. Selain itu, hasil Survei Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 mencatat bahwa 49% kelompok usia 25Ae50 tahun di Indonesia menggunakan obat herbal baik sebagai terapi utama maupun pendukung. Angka ini menunjukkan adanya kecenderungan integrasi antara penggunaan obat konvensional dan obat herbal Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . pada usia produktif, sesuai dengan hasil penelitian Sari . yang menemukan bahwa masyarakat usia produktif cenderung memilih pengobatan campuran . ntegrative treatmen. karena menilai obat herbal dapat meningkatkan daya tahan tubuh sementara obat konvensional digunakan untuk penanganan cepat penyakit akut (Sari et al. , 2. Dalam konteks Kecamatan Pangkah, hasil penelitian ini juga memperlihatkan pola serupa, sebagian besar masyarakat usia produktif . hususnya kelompok 36Ae45 tahu. masih menaruh kepercayaan tinggi pada obat konvensional karena ketersediaannya di Puskesmas dan Apotek. Namun sebanyak 39% responden tetap menggunakan obat herbal sebagai terapi tambahan atau pencegahan penyakit ringan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi obat pada kelompok usia produktif tidak bersifat tunggal, melainkan bersifat komplementer antara obat konvensional dan herbal, yang mencerminkan meningkatnya literasi kesehatan dan kesadaran terhadap gaya hidup sehat. Mayoritas pendidikan yang ditempuh responden adalah hingga SMP/sederajat . %). Persentase yang cukup tinggi pada jenjang pendidikan ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menamatkan pendidikan dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) namun tidak melanjutkan ke jenjang menengah atas (SMA) atau perguruan tinggi. Hal ini disebabkan di beberapa daerah atau komunitas, anak-anak yang telah lulus SMP dianggap sudah cukup dewasa untuk bekerja atau membantu perekonomian keluarga (Sumarno et al. , 2. Berdasarkan analisis persentase pemilihan jenis obat, sebanyak 61% responden memilih obat konvensional dan 39% memilih obat herbal (Tabel . Namun, angka ini belum sepenuhnya menjelaskan karakteristik demografis dominan yang memengaruhi preferensi tersebut. Berdasarkan pengamatan lapangan dan hasil survei tambahan, kecenderungan pemilihan obat konvensional lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif . Ae55 tahu. yang memiliki mobilitas tinggi dan kebutuhan penyembuhan cepat agar dapat kembali beraktivitas (Kismiyarti & Ermawati, 2. Sebaliknya, penggunaan obat herbal cenderung lebih tinggi pada kelompok usia lanjut dan ibu rumah tangga, yang memiliki waktu lebih longgar dan kepercayaan lebih kuat terhadap pengobatan alami serta warisan budaya tradisional. Faktor pendidikan dan pekerjaan juga berperan penting dimana responden dengan pendidikan menengah ke atas dan pekerjaan formal lebih banyak memilih obat konvensional karena akses yang lebih mudah ke fasilitas kesehatan dan informasi medis yang valid. Sementara itu, responden dengan pendidikan dasar dan pekerjaan informal seperti petani dan pedagang kecil menunjukkan preferensi lebih besar terhadap obat herbal karena pertimbangan biaya dan kepercayaan terhadap keamanan bahan alami. Dengan demikian, proporsi 61% dan 39% tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh usia produktif, tetapi merupakan hasil interaksi antara usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, serta akses terhadap layanan kesehatan yang membentuk pola perilaku pengobatan masyarakat di Kecamatan Pangkah. Tabel 3. Persentase Pemilihan Jenis Obat Pemilihan Obat Obat Herbal Obat Konvensional Total Frekuensi Persentase (%) Efektivitas merupakan faktor dominan dalam pemilihan obat konvensional . %), sedangkan untuk faktor dominan obat herbal adalah yang memiliki efek samping lebih sedikit . %) (Tabel . Banyak responden meyakini bahwa obat konvensional lebih efektif dalam mengatasi penyakit dibandingkan obat herbal. Obat konvensional juga telah melalui uji klinis yang ketat, sehingga dianggap lebih aman dan terpercaya. Dibandingkan obat herbal seringkali tidak memerlukan uji klinis yang ketat kecuali obat-obatan seperti obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, yang menyatakan kebanyakan masyarakat cenderung memilih obat yang dianggap lebih efektif untuk pengobatan dan mendukung kesehatan aktivitas sehari-hari. Hasil ini menguatkan bahwa efektivitas terapeutik menjadi pertimbangan utama bagi responden dalam memilih obat konvensional. Di sisi lain, kekhawatiran akan efek samping serta preferensi terhadap sesuatu yang alami menjadi pertimbangan bagi pengguna obat herbal. Temuan ini mendukung literatur sebelumnya seperti penelitian Fadholah et al. dan Pane et al. yang menyatakan bahwa persepsi keamanan dan efek samping rendah mendorong preferensi terhadap obat herbal (Fadholah et al. , 2021. Pane et al. , 2. Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . Tabel 4. Faktor Dominan yang Memengaruhi Pemilihan Obat Pemilihan Obat (%) Pertanyaan Menurut saya, obat yang lebih efektif dalam mengobati penyakit Menurut saya, obat yang lebih aman digunakan Menurut saya, obat yang memiliki efek samping lebih sedikit Menurut saya, obat yang mudah didapatkan Menurut saya, obat yang lebih mudah cara minumnya Menurut saya, mana yang lebih terjangkau harganya Total Persentase Obat Herbal Obat Konvensional Mayoritas responden usia produktif Kecamatan Pangkah memiliki pengetahuan yang baik terhadap tanaman herbal, khususnya untuk penyakit ringan seperti flu dan batuk (Tabel . Hal ini terlihat dari tingginya persentase pengetahuan penyakit ringan. Sebanyak 78% responden mengetahui tanaman herbal untuk flu dan batuk diantaranya yaitu jahe, jeruk nipis, kencur, daun mint, kemangi, kunyit, daun sirih, cengkeh, dan sereh. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman herbal sudah menjadi bagian dari pengobatan umum yang sering digunakan oleh masyarakat. Kemudian 73% responden mengetahui tanaman herbal untuk gangguan pencernaan seperti kunyit, temulawak, daun jambu biji, kayu manis, bawang putih, daun sirih, cengkeh, kencur, daun bidara, lidah buaya, daun kembang sepatu, dan daun bidara. Tanaman ini sering dijumpai di lingkungan sekitar dan mudah diolah, sehingga pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman ini menyebar secara turun-temurun untuk digunakan sebagai pengobatan herbal. Tabel 5. Pengetahuan Tentang Tanaman Herbal Pengetahuan kategori penyakit Diabetes Hipertensi Flu & Batuk Asma Gangguan pencernaan Rata-rata Mengetahui tanaman Persentase (%) 63,2% Tingkat Pengetahuan Kurang Kurang Baik Cukup Cukup Cukup Tanaman herbal untuk gangguan pencernaan tingkat pengetahuan termasuk cukup, hal ini mencerminkan bahwa masyarakat cukup familiar dengan tanaman obat herbal yang digunakan untuk mengatasi keluhan pada sistem pencernaan seperti mual, perut kembung, hingga nyeri lambung. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang melaporkan bahwa pemanfaatan tanaman herbal di Rumah Riset Jamu efektif dalam membantu pasien dengan gangguan pencernaan melalui penggunaan ramuan berbasis kunyit dan tanaman herbal lainnya. Sementara itu. Syafira . menyatakan juga bahwa konsumsi rebusan air kunyit mampu menurunkan itensitas nyeri perut pada penderita gangguan pencernaan secara signifikan (Syafira, 2. Sementara itu tingkat pengetahuan untuk penyakit kronis seperti asma . %), diabetes . %), dan hipertensi . %) cenderung lebih rendah meskipun masih tergolong cukup dan kurang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dimana masyarakat kurang memahami mengenai pengobatan tradisional meskipun masih tergolong cukup. Tingkat pengetahuan responden tanaman herbal untuk penyakit asma sebesar 66% merupakan angka yang cukup. Jenis tanaman herbal yang disebutkan responden antara lain jahe, bawang putih, daun sirih, kayu manis, lidah buaya, daun saga, daun belimbing wuluh, dan bunga Hal ini sejalan dengan penelitian penelitian sebelumnya yang menyatakan sebagian masyarakat sudah mengenal tanaman herbal seperti jahe untuk pengobatan penyakit kronis gangguan pernapasan seperti Berdasarkan rata-rata keseluruhan, tingkat pengetahuan responden terhadap tanaman herbal berada pada angka 63,2% yang termasuk dalam kategori cukup (Irawan et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tanaman herbal untuk beberapa jenis penyakit umum, seperti flu dan gangguan pencernaan, namun masih kurang pengetahuan terhadap tanaman herbal untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Perlu adanya edukasi dan penyebaran informasi lebih lanjut mengenai tanaman herbal yang bermanfaat untuk penyakit-penyakit kronis tertentu. Selain itu, penting untuk melibatkan peran tenaga kesehatan dan tokoh masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai manfaat serta Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . batasan penggunaan tanaman herbal secara tepat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa edukasi yang terarah dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan tanaman herbal seperti jahe merah dan bawang putih, untuk gangguan pernapasan seperti asma. Dalam penelitian tersebut, skor pengetahuan meningkat signifikan setelah dilakukan penyuluhan, membuktikan bahwa informasi yang akurat sangat diperlukan untuk mendukung pemanfaatan tanaman herbal. Mayoritas responden usia produktif Kecamatan Pangkah cenderung lebih memilih obat konvensional dibandingkan obat herbal dalam kondisi sakit ringan seperti flu dan batuk (Tabel . Namun ketika responden dihadapkan pada pengobatan untuk penyakit yang lebih serius, preferensi sikap masyarakat terhadap obat herbal meningkat menjadi 48%. Hal ini mengindikasikan adanya keyakinan terhadap potensi obat herbal sebagai pengobatan alternatif yang lebih alami dan minim efek samping. Faktor ini juga berkaitan dengan pengaruh budaya dimana hasil wawancara responden banyak mengatakan bahwa mencoba obat herbal karena merupakan tradisi turun temurun dari keluarga. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menemukan bahwa penggunaan obat herbal meningkat pada individu yang terpapar tradisi keluarga atau media informasi yang menyoroti manfaat tanaman obat (Pane et al. , 2. Selain itu beberapa responden juga memilih obat konvensional untuk keluarga atau anak-anak . %). Alasan yang dikemukakan responden berkaitan dengan kejelasan dosis, kemudahan pemakaian, mudah didapatkan, dan adanya rekomendasi dari tenaga medis. Hal ini juga karena obat konvensional dipandang lebih aman dan terpercaya untuk anakanak karena petunjuk pemakaiannya lebih lengkap. Tabel 6. Sikap terhadap Obat Herbal dan Obat Konvensional Pertanyaan Jika saya sakit ringan . lu dan batu. , mana yang cenderung saya pilih Jika saya mengalami penyakit serius, mana yang akan saya pilih sebagai pengobatan utama Jika keluarga saya sakit, mana yang akan saya sarankan Mana yang lebih saya percayai untuk pengobatan anakanak Saat berpergian keluar kota, mana yang lebih mudah saya bawa dan simpan Total rata-rata Obat Herbal (%) Obat Konvensional (%) 36,4% 63,2% Hasil uji regresi logistik biner dari enam variabel yang diuji, hanya satu variabel yang memiliki pengaruh signifikan secara statistik, yaitu variabel lama menderita penyakit dengan signifikansi sebesar 0,038 dan nilai odds ratio (Exp(B) sebesar 0,678 (Tabel . Menurut Faruk et al. , nilai signifikansi yang baik pada uji regresi logistic biner adalah p<0,05 (Faruk et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama seseorang menderita penyakit, semakin kecil kemungkinan responden tersebut memilih jenis obat tertentu, kemungkinan karena telah mencoba berbagai pengobatan sebelumnya atau memiliki pengalaman yang mempengaruhi preferensi terhadap jenis obat tertentu. Tabel 7. Hasil Uji Regresi Logistik Variabel Jenis kelamin Pendidikan terakhir Pekerjaan Riwayat penyakit Penyakit saat ini Lama menderita penyakit Sig Exp(B) Pasien dengan durasi penyakit yang lebih lama atau kronis cenderung lebih selektif dan berpengalaman dalam memilih terapi pengobatan karena telah mencoba berbagai jenis pengobatan. Masyarakat yang telah lama mengalami penyakit cenderung mencari alternatif pengobatan yang dianggap minim efek samping. Oleh karena itu, pengalaman panjang menghadapi penyakit memungkinkan pasien memiliki referensi pribadi dalam menilai efektivitas dan kenyamanan obat tertentu, yang pada akhirnya memengaruhi preferensi mereka. Sementara variabel lain seperti jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, riwayat Khoirunnisa, et al. Uji Validitas dan . penyakit, dan penyakit saat ini tidak menunjukkan pengaruh signifikan karena kecenderungan memilih obat seringkali dipengaruhi oleh pengalaman langsung bukan hanya latar belakang demografis. SIMPULAN Mayoritas masyarakat usia produktif di Kecamatan Pangkah lebih memilih obat konvensional . %) dibandingkan obat herbal . %). Efektivitas menjadi alasan utama pemilihan obat konvensional, sedangkan keamanan dan minim efek samping mendasari pilihan obat herbal. Meskipun pengetahuan responden tentang obat herbal tergolong cukup, sikap terhadap obat konvensional masih lebih tinggi. Berdasarkan hasil regresi logistik, hanya variabel lama menderita penyakit yang berpengaruh signifikan terhadap pemilihan obat, menunjukkan bahwa pengalaman penyakit memengaruhi keputusan pengobatan lebih besar daripada faktor demografis lainnya. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan sebesar-besarnya kepada Universitas Bhamada Slawi khususnya Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan atas dukungan akademik dan fasilitas perizinan yang diberikan selama pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat Kecamatan Pangkah yang bersedia menjadi responden dan memberikan informasi yang sangat berharga melalui pengisian kuesioner dan wawancara. Tidak lupa, apresiasi diberikan kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mendukung kelancaran penelitian KONTRIBUSI PENULIS . , dan E. berkontribusi dalam penyusunan konsep penelitian, pelaksanaan kajian ilmiah, interpretasi data, dan penyusunan artikel. bertanggung jawab sebagai penulis utama dalam pengum-pulan data dan penulisan naskah. dan E. berperan sebagai pembimbing ilmiah serta pengarah dalam penyempurnaan metodologi dan revisi artikel. Seluruh penulis menyetujui versi akhir dari naskah ini. PENDANAAN Penelitian ini didanai secara mandiri. KONFLIK KEPENTINGAN Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan yang terjadi dalam penyelesaian dan penyusunan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA