UNITY: Journal of Community Service Vol. 2 No. January 2026, pp. E-ISSN 3089-2937 Optimalisasi Kelompok Tani Garam untuk Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Sumber Daya Lokal di Pantai Selatan NTB Fajar Nugraha . Lestari Yuliana . Ridwan Hakim . 1Universitas Hamzanwadi. Indonesia *fajar. nugraha809@gmail. ARTICLE INFO Article history a. Received November 14, 2025 Revised November 20, 2025 Accepted January 8, 2026 Published January 23, 2026 Keywords salt farmers community empowerment local resources coastal economy farmer groups Kata Kunci petani garam pemberdayaan masyarakat sumber daya lokal ekonomi pesisir kelompok petani ABSTRACT This community service program aimed to optimize salt farmer groups to strengthen local resource based economic empowerment in the southern coastal area of West Nusa Tenggara. The program focused on improving institutional capacity, production practices, and product diversification among small scale salt The intervention was implemented through participatory training, technical assistance, and group based mentoring. Data were collected using observation, structured interviews, and documentation of production and income records before and after the program. The results showed measurable improvements in group management, production efficiency, and product value. Salt production quality increased through better handling and processing practices. Farmers began producing diversified salt products with higher market value. Group based management improved access to local markets and strengthened collective bargaining power. Economic outcomes showed an increase in average household income and more stable production cycles. These findings indicate that optimizing farmer groups through locally appropriate approaches can enhance economic resilience in coastal communities. The program provides a replicable model for community based economic empowerment that relies on local resources and collective action. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan kelompok petani garam guna memperkuat pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal di wilayah pesisir selatan Nusa Tenggara Barat. Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas kelembagaan, praktik produksi, dan diversifikasi produk pada petani garam skala kecil. Intervensi dilaksanakan melalui pelatihan partisipatif, pendampingan teknis, dan pembinaan berbasis kelompok. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terstruktur, serta dokumentasi catatan produksi dan pendapatan sebelum dan sesudah program. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang terukur pada manajemen kelompok, efisiensi produksi, dan nilai Kualitas produksi garam meningkat melalui penerapan praktik penanganan dan pengolahan yang lebih baik. Petani mulai menghasilkan produk garam yang terdiversifikasi dengan nilai pasar yang lebih Pengelolaan berbasis kelompok meningkatkan akses ke pasar lokal dan memperkuat daya tawar Dampak ekonomi terlihat dari peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga serta siklus produksi yang lebih stabil. Temuan ini menunjukkan bahwa optimalisasi kelompok petani melalui pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal dapat meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. Program ini memberikan model yang dapat direplikasi untuk pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang bertumpu pada sumber daya lokal dan aksi kolektif. License by CC-BY-SA Copyright A 2025. The Author. How to cite: Nugraha. Yuliana. , & Hakim. Optimalisasi kelompok tani garam untuk pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal di Pantai Selatan NTB. UNITY: Journal of Community Service, 2. , 39Ae44. https://doi. org/10. 70716/unity. PENDAHULUAN Wilayah pesisir selatan Nusa Tenggara Barat memiliki potensi sumber daya garam yang besar dan relatif belum dioptimalkan secara berkelanjutan. Garam rakyat menjadi salah satu komoditas utama yang menopang mata pencaharian masyarakat pesisir, terutama melalui sistem usaha tambak garam skala kecil. Namun, kontribusi usaha garam terhadap peningkatan kesejahteraan petani masih terbatas. Struktur usaha yang bersifat subsisten, ketergantungan pada faktor cuaca, rendahnya nilai tambah produk, serta lemahnya kelembagaan kelompok menjadi persoalan utama yang terus berulang (Saulah & Songko, 2012. MunAoim, 2. Data berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian besar petani garam rakyat masih beroperasi dengan teknologi sederhana dan manajemen usaha yang minim. Kondisi ini menyebabkan produktivitas rendah dan kualitas garam tidak seragam, sehingga daya saing di pasar lokal maupun regional menjadi lemah (Amanda & Buchori, 2015. Erlina & UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2026, pp. Kurniawan, 2. Di sisi lain, tekanan pasar akibat masuknya garam industri dan ketergantungan pada tengkulak mempersempit ruang tawar petani garam rakyat. Situasi ini menempatkan petani dalam posisi rentan secara ekonomi dan sosial. Upaya pemerintah melalui Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat atau PUGAR telah memberikan dampak awal dalam meningkatkan akses sarana produksi dan pendampingan teknis. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efektivitas program tersebut sangat bergantung pada kekuatan kelompok dan kapasitas kelembagaan lokal (MunAoim, 2016. Ihsannudin et al. , 2. Tanpa penguatan kelompok tani garam, intervensi bersifat fisik dan bantuan modal cenderung tidak berkelanjutan. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis kelompok menjadi kunci dalam pembangunan ekonomi pesisir. Kelompok tani garam berperan sebagai wahana pembelajaran kolektif, penguatan posisi tawar, serta pengelolaan sumber daya bersama. Ridwan . menegaskan bahwa penguatan ekonomi berbasis kelompok mampu meningkatkan efisiensi usaha dan solidaritas sosial masyarakat. Dalam konteks petani garam, kelompok berfungsi sebagai penghubung antara petani dengan pasar, lembaga keuangan, serta program pendampingan. Namun, banyak kelompok tani garam di wilayah pesisir NTB masih bersifat administratif dan belum berfungsi optimal sebagai entitas ekonomi produktif. Berbagai studi pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa optimalisasi kelompok tani dapat meningkatkan nilai ekonomi garam melalui diversifikasi produk, perbaikan proses produksi, dan penguatan manajemen usaha. Aminuddin et al. menunjukkan bahwa pengembangan kelompok petani garam mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengelolaan garam beryodium. Rayyani et al. juga menemukan bahwa perbaikan proses produksi secara kolektif meningkatkan daya saing usaha garam rakyat. Temuan ini menguatkan argumen bahwa kelompok tani bukan hanya alat koordinasi, tetapi juga instrumen strategis pemberdayaan ekonomi. Selain aspek kelembagaan, pemanfaatan sumber daya lokal secara inovatif menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberlanjutan usaha garam. Pantai selatan NTB memiliki karakteristik lingkungan yang mendukung pengembangan produk turunan garam, termasuk garam konsumsi sehat, garam fortifikasi, dan produk berbasis campuran bahan lokal seperti rumput laut. Aini et al. membuktikan bahwa pemanfaatan rumput laut non ekonomis sebagai bahan baku garam sehat mampu meningkatkan diversitas produk dan pendapatan masyarakat desa. Mutmainnah et al. juga menunjukkan potensi diversifikasi garam menjadi produk kosmetik sebagai sumber pendapatan alternatif bagi kelompok PUGAR. Pendekatan pemberdayaan berbasis sumber daya lokal menekankan pada pemanfaatan potensi setempat, pengetahuan lokal, dan partisipasi aktif masyarakat. Ayu et al. menegaskan bahwa model pemberdayaan ekonomi yang berakar pada sumber daya lokal lebih adaptif dan berkelanjutan. Marpaung et al. dan Rantissi . menambahkan bahwa literasi ekonomi menjadi prasyarat penting agar masyarakat mampu mengelola sumber daya secara produktif dan bertanggung jawab. Dalam konteks kelompok tani garam, literasi ekonomi berperan dalam pengambilan keputusan produksi, pengelolaan keuangan kelompok, dan strategi pemasaran. Wilayah pesisir selatan NTB juga menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan akses pasar dan lemahnya integrasi dengan kelembagaan ekonomi desa. Studi Singandaru et al. menunjukkan bahwa penguatan Badan Usaha Milik Desa dapat mendorong optimalisasi ekonomi lokal apabila terhubung dengan kelompok usaha Oleh karena itu, sinergi antara kelompok tani garam dan kelembagaan desa menjadi penting untuk memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan skala usaha. Sejumlah praktik baik pengabdian masyarakat di wilayah pesisir Indonesia memperlihatkan bahwa pendampingan intensif, pelatihan teknis, dan penguatan organisasi mampu meningkatkan kapasitas kelompok petani Baihaqi et al. menekankan pentingnya peningkatan kapasitas anggota kelompok melalui pelatihan Mandasari et al. juga menunjukkan bahwa pemberdayaan kelompok usaha garam dapat mendorong tumbuhnya kewirausahaan desa secara kolektif. Namun, sebagian besar intervensi masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistematis dengan konteks lokal NTB bagian selatan. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan program pengabdian masyarakat yang terfokus pada optimalisasi kelompok tani garam melalui pendekatan komprehensif. Pendekatan ini perlu mengintegrasikan penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi produk, dan literasi ekonomi berbasis sumber daya lokal. Khorofi et al. dan Nompo et al. menunjukkan bahwa optimalisasi tambak dan budidaya garam dapat meningkatkan perekonomian desa apabila didukung oleh manajemen kelompok yang efektif dan pendampingan yang Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan program pengabdian masyarakat berupa optimalisasi kelompok tani garam untuk pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal di pantai selatan Nusa Tenggara Barat. Fokus utama artikel ini terletak pada proses pemberdayaan, perubahan kapasitas kelompok, serta dampak ekonomi yang dihasilkan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan model pemberdayaan kelompok tani garam yang relevan, terukur, dan mudah direplikasi di wilayah pesisir lainnya. Nugraha et al. (Optimalisasi kelompok tani garam untuk pemberdayaanA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2026, pp. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan desain pemberdayaan berbasis kelompok. Pendekatan ini dipilih karena menempatkan kelompok tani garam sebagai subjek utama kegiatan dan mendorong keterlibatan aktif dalam seluruh tahapan program. Model ini relevan untuk konteks masyarakat pesisir yang memiliki ketergantungan tinggi pada sumber daya lokal dan kerja kolektif (Ridwan, 2012. Ayu et al. , 2. Lokasi dan Subjek Kegiatan Lokasi kegiatan ditetapkan di kawasan pantai selatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Desa Ketapang Raya. Kecamatan Keruak. Kabupaten Lombok Timur. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu sentra produksi garam rakyat dengan karakteristik tambak tradisional dan dominasi petani skala kecil. Desa ini juga memiliki kelompok tani garam aktif yang tergabung dalam skema PUGAR, namun belum optimal dalam aspek manajemen usaha dan diversifikasi produk (Suryati & Hatimah, 2018. Nompo et al. , 2. Subjek kegiatan terdiri atas satu kelompok tani garam yang beranggotakan 25 petani aktif. Anggota kelompok merupakan petani garam rakyat yang menggantungkan pendapatan utama dari usaha tambak garam. Kriteria pemilihan kelompok meliputi status aktif kelompok, ketersediaan lahan tambak, dan kesediaan anggota untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengabdian. Tahapan Pelaksanaan Program Program pengabdian dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu pemetaan awal, penguatan kapasitas kelompok, pendampingan teknis produksi dan diversifikasi, serta evaluasi hasil kegiatan. Tahap pemetaan awal dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting kelompok tani garam. Kegiatan ini meliputi pengumpulan data terkait struktur organisasi kelompok, pola produksi garam, jenis produk yang dihasilkan, sistem pemasaran, dan tingkat pendapatan anggota. Pemetaan dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara terstruktur dengan pengurus dan anggota kelompok. Tahap ini penting untuk memastikan intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan riil kelompok (MunAoim, 2016. Ihsannudin et al. , 2. Tahap kedua adalah penguatan kapasitas kelembagaan kelompok. Kegiatan difokuskan pada pelatihan manajemen kelompok, pembagian peran organisasi, pencatatan keuangan sederhana, dan penguatan literasi ekonomi. Materi disampaikan melalui diskusi kelompok terfokus dan simulasi praktis. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengelola usaha secara kolektif dan berkelanjutan (Marpaung et al. , 2024. Rantissi. Tahap ketiga berupa pendampingan teknis produksi dan diversifikasi produk garam. Pendampingan mencakup perbaikan proses produksi, pengendalian kualitas, serta pengembangan produk berbasis sumber daya lokal. Kegiatan ini meliputi praktik langsung di tambak dan rumah produksi kelompok. Pendampingan diarahkan pada peningkatan nilai tambah garam melalui pengolahan lanjutan, sesuai dengan potensi lokal wilayah pesisir Lombok Timur (Aini et al. , 2025. Mutmainnah et al. , 2. Tahap terakhir adalah evaluasi hasil kegiatan. Evaluasi dilakukan untuk menilai perubahan kapasitas kelompok, kualitas produksi, dan dampak ekonomi setelah program berjalan. Evaluasi ini menjadi dasar analisis keberhasilan program dan perumusan rekomendasi pengembangan lanjutan. Teknik Pengumpulan Data Data kegiatan dikumpulkan menggunakan tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara terstruktur, dan Observasi dilakukan untuk mencatat kondisi tambak, proses produksi, dan dinamika kerja kelompok sebelum dan sesudah intervensi. Wawancara terstruktur digunakan untuk menggali informasi terkait persepsi anggota kelompok, perubahan kapasitas, serta dampak ekonomi yang dirasakan. Dokumentasi mencakup catatan produksi, data pendapatan kelompok, dan arsip kegiatan. Seluruh data dikumpulkan secara periodik pada awal, pertengahan, dan akhir program. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memantau perubahan secara bertahap dan menghindari bias penilaian sesaat (Rayyani et al. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif. Data kualitatif dianalisis dengan mengelompokkan temuan berdasarkan tema pemberdayaan, kelembagaan, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Data kuantitatif berupa volume produksi dan pendapatan dianalisis dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah program. Analisis ini bertujuan untuk menilai efektivitas program secara empiris dan terukur (Amanda & Buchori, 2. Hasil analisis kemudian diinterpretasikan dengan mengacu pada konsep pemberdayaan ekonomi berbasis kelompok dan sumber daya lokal. Pendekatan ini digunakan untuk memastikan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperkuat kapasitas sosial dan ekonomi kelompok tani garam. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan program ditetapkan secara jelas dan terukur. Indikator tersebut meliputi peningkatan fungsi kelembagaan kelompok, perbaikan kualitas dan diversifikasi produk garam, peningkatan efisiensi produksi, serta Nugraha et al. (Optimalisasi kelompok tani garam untuk pemberdayaanA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2026, pp. peningkatan pendapatan anggota kelompok. Indikator ini disusun berdasarkan temuan penelitian sebelumnya terkait pemberdayaan petani garam dan ekonomi pesisir (Aminuddin et al. , 2021. Baihaqi et al. , 2. Metode penelitian ini dirancang agar mudah direplikasi pada konteks wilayah pesisir lain dengan karakteristik Pendekatan partisipatif dan berbasis sumber daya lokal diharapkan mampu menghasilkan dampak pemberdayaan yang berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pengabdian masyarakat pada kelompok tani garam di Desa Ketapang Raya menunjukkan perubahan yang nyata pada aspek kelembagaan, proses produksi, dan kinerja ekonomi kelompok. Hasil ini diperoleh dari perbandingan data awal dan akhir program yang bersumber dari catatan kelompok, dokumentasi kegiatan, serta hasil wawancara terstruktur dengan seluruh anggota. Kondisi Awal Kelompok Tani Garam Pada tahap awal, kelompok tani garam masih berfungsi terbatas sebagai wadah administrasi. Struktur organisasi belum berjalan efektif. Pencatatan produksi dan keuangan tidak dilakukan secara rutin. Proses produksi garam masih mengandalkan metode tradisional tanpa standar kualitas yang jelas. Garam dijual dalam bentuk curah dengan harga mengikuti tengkulak lokal. Kondisi ini sejalan dengan temuan MunAoim . dan Saulah dan Songko . yang menyebutkan bahwa usaha garam rakyat umumnya bersifat subsisten dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan Data kelompok menunjukkan bahwa sebagian besar anggota hanya berproduksi pada musim kemarau pendek. Produktivitas tambak tidak stabil akibat rendahnya efisiensi pengelolaan lahan dan minimnya pengendalian mutu. Situasi ini menyebabkan pendapatan petani berfluktuasi dan sulit diprediksi. Kelemahan kelembagaan juga membatasi akses kelompok terhadap pasar dan program pendukung. Penguatan Kelembagaan dan Literasi Ekonomi Setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan, terjadi peningkatan fungsi kelembagaan kelompok. Kelompok mulai menerapkan pembagian tugas yang jelas antara pengurus dan anggota. Pencatatan produksi dan keuangan dilakukan secara sederhana namun konsisten. Seluruh transaksi penjualan dicatat oleh bendahara kelompok dan dibahas dalam pertemuan rutin bulanan. Perubahan ini memperkuat akuntabilitas internal dan meningkatkan kepercayaan antaranggota. Kondisi tersebut mendukung temuan Ridwan . yang menyatakan bahwa penguatan ekonomi berbasis kelompok membutuhkan tata kelola organisasi yang transparan. Literasi ekonomi yang diberikan juga meningkatkan kemampuan anggota dalam menghitung biaya produksi dan margin usaha. Marpaung et al. dan Rantissi . menegaskan bahwa literasi ekonomi menjadi fondasi penting dalam pengelolaan sumber daya lokal secara produktif. Perbaikan Proses Produksi Garam Pendampingan teknis berdampak langsung pada proses produksi. Kelompok mulai menerapkan tahapan produksi yang lebih teratur, termasuk perbaikan saluran air, pengaturan waktu panen, dan pemilahan hasil produksi. Praktik ini meningkatkan konsistensi kualitas garam yang dihasilkan. Hasil observasi menunjukkan penurunan tingkat kontaminasi kotoran dan peningkatan warna serta tekstur garam. Perbaikan proses produksi secara kolektif juga meningkatkan efisiensi kerja. Anggota kelompok mulai melakukan kerja bersama pada tahap tertentu, terutama saat panen dan pengeringan. Temuan ini selaras dengan hasil Rayyani et . dan Baihaqi et al. yang menekankan pentingnya perbaikan proses produksi untuk meningkatkan daya saing garam rakyat. Diversifikasi Produk Berbasis Sumber Daya Lokal Salah satu capaian utama program adalah diversifikasi produk garam. Kelompok tidak lagi menjual seluruh hasil dalam bentuk garam curah. Sebagian produksi diolah menjadi garam konsumsi dengan kemasan sederhana dan garam olahan berbasis bahan lokal. Diversifikasi ini memanfaatkan potensi sumber daya pesisir yang tersedia di sekitar lokasi Langkah ini meningkatkan nilai tambah produk dan membuka akses pasar baru di tingkat desa dan kecamatan. Hasil ini memperkuat temuan Aini et al. dan Mutmainnah et al. yang menunjukkan bahwa diversifikasi produk garam mampu meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Pendekatan berbasis sumber daya lokal juga membuat proses produksi lebih adaptif dan berkelanjutan. Dampak Ekonomi Kelompok Berdasarkan catatan keuangan kelompok, terjadi peningkatan pendapatan rata rata anggota setelah program berjalan satu musim produksi. Kenaikan pendapatan terutama berasal dari peningkatan kualitas produk dan perubahan sistem pemasaran dari individu ke kolektif. Penjualan secara kelompok memberikan posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan penjualan perorangan. Selain itu, diversifikasi produk menciptakan sumber pendapatan tambahan di luar musim panen utama. Kondisi ini mendukung temuan Aminuddin et al. dan Khorofi et al. yang menyatakan bahwa penguatan kelompok Nugraha et al. (Optimalisasi kelompok tani garam untuk pemberdayaanA) UNITY: Journal of Community Service Vol. No. January 2026, pp. dan optimalisasi usaha garam berdampak positif terhadap perekonomian desa. Stabilitas pendapatan yang lebih baik juga mengurangi kerentanan ekonomi rumah tangga petani. Integrasi dengan Kelembagaan Lokal Program ini mendorong kelompok tani garam untuk mulai menjalin komunikasi dengan kelembagaan desa. Kelompok menjadi lebih siap untuk berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa sebagai mitra pemasaran. Hal ini relevan dengan temuan Singandaru et al. yang menekankan pentingnya sinergi antara kelompok usaha masyarakat dan kelembagaan desa dalam mengoptimalkan ekonomi lokal. Secara keseluruhan, hasil program menunjukkan bahwa optimalisasi kelompok tani garam melalui penguatan kelembagaan, perbaikan produksi, dan pemanfaatan sumber daya lokal mampu meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat pesisir. Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan, tetapi juga memperkuat kemandirian dan keberlanjutan usaha garam rakyat. KESIMPULAN DAN SARAN Program pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa optimalisasi kelompok tani garam mampu menjadi instrumen efektif dalam pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal di wilayah pesisir selatan Nusa Tenggara Barat. Pendekatan partisipatif yang menempatkan kelompok sebagai subjek utama terbukti mendorong perubahan nyata pada aspek kelembagaan, produksi, dan kinerja ekonomi. Penguatan kelembagaan kelompok menjadi fondasi utama keberhasilan program. Kelompok tani garam yang sebelumnya bersifat administratif berkembang menjadi entitas ekonomi kolektif yang lebih terorganisasi. Penerapan pembagian peran, pencatatan produksi, dan pengelolaan keuangan sederhana meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan antaranggota. Kondisi ini memperkuat kapasitas kelompok dalam mengelola usaha secara mandiri dan Perbaikan proses produksi memberikan dampak langsung terhadap kualitas dan efisiensi usaha garam. Penerapan praktik produksi yang lebih teratur dan terstandar menurunkan tingkat kehilangan hasil dan meningkatkan konsistensi mutu garam. Kerja kolektif pada tahapan produksi tertentu juga meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan memperkuat solidaritas kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas teknis perlu berjalan seiring dengan penguatan organisasi. Diversifikasi produk berbasis sumber daya lokal menjadi strategi penting dalam meningkatkan nilai tambah dan stabilitas pendapatan. Pengolahan garam menjadi produk konsumsi dan olahan berbasis potensi lokal membuka akses pasar baru dan mengurangi ketergantungan pada penjualan garam curah. Diversifikasi ini juga memperpanjang siklus ekonomi kelompok di luar musim panen utama, sehingga risiko fluktuasi pendapatan dapat ditekan. Dari sisi ekonomi, program ini mendorong peningkatan pendapatan rata rata anggota kelompok dan memperkuat posisi tawar petani di pasar lokal. Penjualan secara kolektif meningkatkan daya negosiasi dan efisiensi Selain itu, kesiapan kelompok untuk berintegrasi dengan kelembagaan desa membuka peluang pengembangan usaha pada skala yang lebih luas. Secara keseluruhan, optimalisasi kelompok tani garam melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas produksi, dan pemanfaatan sumber daya lokal terbukti relevan dan aplikatif untuk konteks masyarakat pesisir. Model pengabdian ini bersifat kontekstual, terukur, dan mudah direplikasi pada wilayah pesisir lain dengan karakteristik Program ini memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kelompok dan potensi lokal. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada kelompok tani garam di Desa Ketapang Raya. Kecamatan Keruak. Kabupaten Lombok Timur atas partisipasi aktif dan keterbukaan selama pelaksanaan program pengabdian masyarakat. Apresiasi juga disampaikan kepada pemerintah desa dan seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Dukungan dan kolaborasi yang terbangun menjadi faktor penting dalam pencapaian tujuan program dan keberlanjutan kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. DAFTAR PUSTAKA