Gorontalo Development Review https://jurnal. id/index. php/gdrev Vol 8. No 2. Oktober Tahun 2025 P-ISSN : 2614-5170. E-ISSN : 2615-1375 Nationally Accredited Journal. Decree No. 225/E/KPT/2022 TAMBAK IKAN BANDENG SEBAGAI BASIS EKONOMI LOKAL DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Milkfish Ponds As a Local Economis Base in Improving Community Welfare Lisa Puspitasari1. Safitri Nurhidayati2. Irma Syam3 1,3Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Muhammadiyah Berau 2Program Studi Bisnis Digital. Universitas Muhammadiyah Berau Email1: lisapuspita. kre@gmail. Article info Article history: Received. 16-09-2025 Revised. 30-09-2025 Accepted. 31-10-2025 Abstract. Coastal areas have the potential to develop the regional economy through the fisheries sector. The fisheries sector can be developed through milkfish farming. Milkfish farming plays a role in creating employment opportunities. Milkfish farming is not only a main source of livelihood but also a driving force for the local economy. This study aims to identify and describe the role of milkfish pond potential in improving the welfare of coastal communities in terms of strengthening the local economic base. Community welfare is shaped by improvements in the economy, education, health, and other social aspects. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through interviews, field observations, and documentation conducted in Kasai Village. Derawan Islands, with a total of three milkfish pond farmers and one village official as informants. The results show that milkfish pond farming can contribute to improving the standard of living of local communities, especially in coastal areas. Through this business, daily needs can be met, education costs can be covered, and health can be improved. Milkfish farming also absorbs local However, there are challenges in managing milkfish farming businesses, namely limited knowledge of human resources in terms of increasing production, limited marketing, and selling prices. Through these efforts, daily needs can be met, education costs can be covered, and health can be improved. Milkfish ponds also absorb local labor. However, there are challenges in managing milkfish ponds, namely limited knowledge among human resources in terms of increasing production, limited marketing, uncertain selling prices, and the lack of diversification of processed food products from milkfish. As a basis for the local economy to support the village economy, milkfish ponds require full support from the local government in Keywords: Coastal Area. Milkfish Farming. Local Economy. terms of capital and training in production capacity improvement and marketing strategies so that milkfish pond businesses can contribute in the long term to the economic resilience of the village. Abstrak. Daerah pesisir memiliki potensi dalam mengembangkan ekonomi daerah melalui sektor perikanan. Sektor perikanan dapat dilakukan melalui tambak ikan bandeng. Usaha tambak ikan bandeng memiliki peran dalam menciptkalan lapangan Usaha tambak ikan bandeng tidak hanya menjadi mata pencaharian utama melainkan sebagai roda penggerak ekonomi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran potensi tambak ikan bandeng terhadap kesejahteraan masyarakat di daerah pesisir dalam hal meningkatkan basis ekonomi lokal. Kesejahteraan masyarakat terbentuk melalui peningkatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan serta aspek sosial lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Perolehan data melalui wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi yang dilakukan di kampung Kasai Kepulauan Derawan dengan jumlah informan sebanyak 3 . orang petani tambak ikan bandeng dan 1 . aparatur kampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal khususnya di wilayah pesisir. Melalui usaha tersebut dapat memenuhi kebutuhan setiap hari, pembiayaan pendidikan, dan memperbaiki Kesehatan. Tambak ikan bandeng juga menyerap tenga kerja lokal. Akan tetapi terdapat tantangan dalam pengelolaan usaha tambak ikan bandeng yaitu pengetahuan yang terbatas oleh sumber daya manusia dalam hal peningkatan hasil produksi, pemasaran yang terbatas, harga jual yang tidak menentu serta tidak adanya diversifikasi produk olahan pangan dari ikan bandeng tersebut. Sebagai basis ekonomi lokal untuk mendukung ekonomi desa, tambak ikan bandeng membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam hal permodalan dan pelatihan dalam kapasistas peningkatan hasil produksi dan strategi pemasaran agar usaha tambak ikan tambeng memberikan kontribusi dalam jangka panjang untuk ketahanan ekonomi desa. Coresponden author: Email: lisapuspita. kre@gmail. Pendahuluan Sektor perikanan budidaya merupakan salah satu penopang penting perekonomian nasional karena berkontribusi pada ketahanan pangan, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penciptaan lapangan kerja, khususnya di wilayah pesisir dan perairan payau. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa subsektor ini terus mengalami pertumbuhan positif seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi protein hewani dari hasil Keunggulan perikanan budidaya dibandingkan perikanan tangkap adalah sifatnya yang lebih terkendali, karena produksi dapat diatur melalui manajemen yang baik tanpa terlalu bergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang terbatas. Indonesia sebagai negara maritim memiliki komiditas perikanan yang cukup banyak salah satunya komoditas ikan bandeng. Pengembangan potensi perikanan bisa dilakukan dengan aktivitas penangkaran atau pembudidayaan perikanan. Diperbandingkan dengan usaha penangkapan ikan, kegiatan budidaya berperan lebih nyata dalam hal penyediaan produk perikanan dengan lebih terencana dan berkelanjutan (Yudha et al. , 2. Ikan ini dengan nama latin (Chanoschano. yang dapat bertahan hidup di air payau dan banyak dibudidayakan di Asia Tenggara terutama diwilayah pesisir (Bahri et al. , 2. Bandeng merupakan ikan yang banyak populasinya diwilayah pesisir Indonesia (Asriany et al. , 2. Di antara komoditas unggulan, ikan bandeng (Chanoschano. menempati posisi strategis. Ikan ini dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, terutama di daerah perairan payau, karena mudah dibudidayakan, memiliki nilai gizi tinggi berupa protein dan omega3, serta rendah kolesterol. Protein ikan bandeng sangatlah besar kurang dari 20% menjadi sumber energhi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia setiap Selain itu, bandeng memiliki daya adaptasi tinggi terhadap variasi lingkungan tambak, harga yang relatif stabil, serta permintaan pasar yang terus meningkat, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor. Faktor-faktor tersebut menjadikan bandeng pilihan utama bagi petambak, baik tradisional maupun modern, serta memberikan peluang ekonomi yang menjanjikan. Ikan bandeng mengandung protein yang diperlukan untuk pembentukan sel otak dalam peningkatan itelegensia, mengkonsumsi ikan bandeng selain memberikan kesehatan juga mampu meningkatkan kemampuan otak untuk mencapai prestasi belajar optimal (Zulaihah & Widajanti, 2. Sistem budidaya bandeng pada umumnya terbagi menjadi tiga, yaitu tradisional, semi-intensif, dan intensif. Sistem tradisional menggunakan teknik sederhana dan mengandalkan pakan alami dengan hasil panen rendah. Sistem semiintensif mulai mengombinasikan pakan tambahan dan manajemen air yang lebih Sedangkan sistem intensif menggunakan teknologi modern seperti aerator, kontrol kualitas air, serta pakan terukur sehingga mampu menghasilkan panen yang jauh lebih tinggi. Bahkan, praktik budidaya sering dipadukan dengan komoditas lain seperti udang windu atau rumput laut dalam pola polikultur guna memaksimalkan lahan dan menambah pendapatan petambak. Dari sisi pasar, konsumsi ikan bandeng terus meningkat dalam satu dekade Hal ini dipengaruhi pertumbuhan jumlah penduduk, pergeseran pola konsumsi masyarakat, dan promosi konsumsi ikan oleh pemerintah. Bandeng juga memiliki nilai tambah karena tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, melainkan juga sebagai bahan baku berbagai produk olahan seperti bandeng presto, abon bandeng, dan bahkan menjadi umpan hidup bagi industri perikanan tuna. Dengan demikian, rantai nilai bandeng menjangkau sektor hulu hingga hilir, sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Tambak ikan bandeng bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat setempat tetapi juga berperan penting dalam kontribusi ekonomi dan ketahanan pangan wilayah tersebut (Utojo & Mustafa, 2. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat sejumlah kendala mendasar. Tantangan yang dihadapi petambak ikan bandeng adalah perubahan iklim, bencana banjir rob, dan praktik budidaya nasional yang membatasi produktivitas dan variabilitas harga ikan di pasar (Prayoto et al. , 2. Produksi di beberapa wilayah masih belum optimal karena keterbatasan infrastruktur distribusi, kualitas benih yang tidak konsisten, akses teknologi yang rendah, serta masalah permodalan. Banyak petambak masih mengandalkan cara konvensional yang rentan terhadap penyakit, gangguan lingkungan, dan perubahan iklim, sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas dan daya saing. Akibatnya, tingkat kesejahteraan petambak yang bergantung penuh pada hasil panen menjadi kurang stabil. Fenomena ini tampak jelas di Kampung Kasai. Kecamatan Pulau Derawan. Kabupaten Berau. Kalimantan Timur. Wilayah pesisir ini memiliki potensi besar dalam budidaya air payau, dan sekitar 50% penduduknya bekerja sebagai petani tambak bandeng. Namun, dalam praktiknya, masyarakat masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari kualitas benih yang rendah, distribusi bibit yang kerap terganggu karena oksigen dan suhu air, hingga cuaca ekstrem yang menghambat pengiriman. Selain itu, minimnya dukungan teknologi dan pendampingan kelembagaan membuat petambak tetap bergantung pada metode tradisional, sehingga hasil produksi tidak konsisten, biaya tinggi, dan keuntungan tidak maksimal. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, termasuk konsumsi, pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Padahal, menurut penelitian Wahyudi . , usaha pembesaran bandeng memiliki efisiensi tinggi dengan rasio 1,5 dan terbukti mampu bertahan menghadapi dinamika pasar jika dikelola secara modern berbasis teknologi dan manajemen. Artinya, bandeng tidak hanya penting sebagai sumber ketahanan pangan lokal, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak kesejahteraan ekonomi masyarakat secara Berdasarkan hal tersebut, diperlukan kajian mendalam mengenai potensi budidaya bandeng dalam mendukung kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kampung Kasai yang memiliki karakteristik sosial-ekonomi dan geografis khas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman empiris maupun teoritis tentang bagaimana aktivitas budidaya berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Tetapi usaha tambak ikan bandeng mengalami tantangan dalam proses keberlanjutannya termasuk perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan ketidakstabilan ekonomi (Sholikhah et , 2. Hasil penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal dalam budidaya tambak bandeng secara berkelanjutan. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk menemukan jawaban atas suatu fenomena secara sistematis melalui prosedur ilmiah. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, di mana peneliti secara langsung melakukan observasi, wawancara, serta dokumentasi terhadap para petani tambak ikan bandeng di Desa Kasai. Kecamatan Pulau Derawan. Mengingat jumlah populasi yang sangat kecil, yaitu hanya tiga orang petani tambak, penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh sehingga seluruh populasi dijadikan sebagai responden. Teknik ini dipilih karena memungkinkan diperolehnya data yang lebih lengkap, mendalam, serta meningkatkan validitas internal penelitian, mengingat setiap subjek memiliki kesempatan untuk memberikan pandangan yang komprehensif mengenai potensi tambak bandeng dan kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu data sekunder dan data lapangan. Data sekunder diperoleh dari berbagai dokumen, laporan, arsip, maupun publikasi resmi yang berfungsi sebagai landasan teoritis dan memberikan konteks awal bagi penelitian (Sugiyono, 2. Sementara itu, data lapangan dikumpulkan melalui kegiatan penelitian langsung di lokasi, seperti pengamatan dan interaksi dengan para petani tambak (Flick, 2. Pemanfaatan kedua jenis data ini dimaksudkan agar penelitian tidak hanya bertumpu pada informasi terdokumentasi, tetapi juga dapat menampilkan gambaran nyata tentang kondisi usaha tambak ikan bandeng. Dengan cara ini, hasil penelitian diharapkan lebih komprehensif, valid, serta mampu memberikan pemahaman mendalam mengenai kontribusi usaha tambak terhadap kesejahteraan masyarakat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung aktivitas para petambak di lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kondisi nyata usaha. Wawancara dilaksanakan secara terbuka dengan para petambak untuk menggali pengalaman, kendala, serta harapan mereka terkait usaha budidaya bandeng (Hardani et al. Sementara itu, teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data pelengkap dari berbagai arsip, laporan, maupun foto yang relevan dengan objek penelitian (Sugiyono, 2. Kombinasi ketiga teknik ini dipandang penting agar data yang diperoleh lebih saling melengkapi, akurat, dan mendalam, sehingga hasil penelitian menjadi lebih kredibel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif Miles et al . yang terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan cara merangkum dan menyeleksi informasi penting dari hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi, sehingga data yang kompleks dapat disederhanakan tanpa kehilangan makna Selanjutnya, data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk uraian naratif yang sistematis agar lebih mudah dipahami dan dianalisis (Rijali, 2. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang berlangsung secara terusmenerus sejak awal hingga akhir proses penelitian. Kesimpulan diperoleh dengan cara mencari pola, keteraturan, dan hubungan sebab-akibat yang muncul dari data, sehingga mampu memberikan pemahaman yang utuh terhadap fenomena yang Dengan metode dan pendekatan yang digunakan, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan temuan yang komprehensif dan valid, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam memahami bagaimana potensi tambak ikan bandeng dapat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Kasai. Pedoman wawancara yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini: Tabel 1 : Pedoman wawancara No. Aspek yang Digali Pertanyaan Wawancara Profil Responden Potensi Usaha Ikan Bandeng Sistem dan Proses -Sejak kapan Bapak/Ibu menjadi petambak ikan - Berapa luas tambak yang dikelola? - Apakah ini usaha sendiri atau Bagaimana prospek usaha tambak ikan bandeng di kampung dengan kondisi wilayah saat ini? - Bagaimana sistem budidaya yang Indikator Informasi yang Diharapkan Lama usaha, skala usaha. Keterangan usaha ini n dibanding pekerjaan lain? Hasil dengan usaha yang lain Pola produksi. Gambaran Data identitas dan latar Produksi Tambak Sumber Modal dan Investasi Pendapatan Kontribusi Ekonomi Kendala Tantangan Harapan Prospek Ke Depan . radisional/semi intensif/intensi. ? - Tahapan produksi dari penebaran benih hingga panen? - Sumber benih dan pakan berasal dari -Sumber modal berasal dari mana . endiri, pinjaman, bantua. ? - Apakah ada kemudahan atau kendala dalam memperoleh modal? - Berapa rata-rata biaya produksi per -Berapa hasil panen rata-rata per siklus? - Bagaimana pendapatan sebelum dan sesudah memiliki - Apakah tambak menjadi sumber penghasilan utama -Apa kendala utama yang dihadapi . uaca, modal, hama, - Bagaimana cara Bapak/Ibu - Apakah ada bantuan dalam menghadapi kendala tersebut? -Apa harapan Bapak/Ibu untuk pengembangan usaha - Bagaimana pandangan tentang potensi tambak ikan bandeng di masa - Apa rencana untuk meningkatkan hasil dan kesejahteraan input produksi Struktur Faktor ekonomi usaha Tingkat rumah tangga Mengukur Hambatan teknis dan Identifikasi Persepsi dan Arah ekonomi lokal Hasil Dan Pembahasan Potensi Usaha Tambak Ikan Bandeng Di Kasai Usaha tambak ikan bandeng di Desa Kasai. Kecamatan Pulau Derawan memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan karena kondisi geografisnya yang strategis, kualitas air laut yang baik, dan salinitas yang relatif stabil dan dapat menjadi roda penggerak ekonomi lokal serta terciptanya lapangan Petambak menggunakan sistem budidaya tradisional hingga semiintensif dengan produksi sekitar 9Ae15 ton per musim. Berikut adalah hasil wawancara terkait Aubagaimana potensi usaha tambak ikan bandeng di Kasai?Ay: AuPotensinya sangat baik, karena lokasi tambak dekat dengan laut jadi kualitas air bagus. Tambak saya sekitar 30 hektar, saya pakai sistem semi-intensif. Air tambak bisa terkontrol, salinitasnya stabil. Saya tebar benih sekitar 80. 000 ekor per musim, pakai pakan campuran . lami dan pakan pabrika. Produksi bisa 15 ton per panen, dan saya bisa panen dua kali setahun. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Syawa. AuKalau saya lihat, tambak bandeng di sini punya potensi besar. Sistem saya masih tradisional, tapi sudah mulai pakai pakan tambahan. Kualitas air tergantung musim, kadang terlalu asin pas kemarau. Dalam satu musim, saya 000 benih, panen bisa dapat sekitar 13 ton. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak H. Raml. AuPotensinya cukup menjanjikan, terutama kalau dikelola dengan benar. Saya gunakan sistem semi-intensif. Benih yang saya tebar sekitar 35. 000 ekor, dan biasanya panen 9 ton per musim. Air di tambak cukup baik, tapi saya tetap rutin cek pH dan oksigen. Pakan saya kombinasi alami dan buatan. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Shand. Dari sisi sosial-ekonomi, usaha tambak bandeng tetap memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Usaha ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Pengelolaan tambak yang berbasis keluarga juga memperkuat nilai-nilai sosial, seperti gotong royong dan kebersamaan, yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir. Namun demikian, dari sisi pemasaran, hasil panen tambak masih didominasi oleh sistem distribusi melalui pengepul, sehingga posisi tawar petambak relatif lemah. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya penguatan kelembagaan petambak agar dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas dan menguntungkan. Pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa usaha tambak ikan bandeng di Desa Kasai memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung perekonomian masyarakat pesisir. Potensi tersebut didukung oleh kondisi geografis yang strategis, kualitas air yang baik, serta salinitas yang stabil sehingga sangat mendukung keberlangsungan budidaya. Sistem budidaya yang diterapkan masih bervariasi, mulai dari sistem tradisional hingga semi-intensif, dengan produktivitas yang dapat mencapai 9Ae15 ton per musim. Kombinasi penggunaan pakan alami dan buatan membantu petambak dalam menekan biaya operasional, menjaga efisiensi, sekaligus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan tambak. Hal ini menjadi bukti bahwa pengelolaan tambak tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan keseimbangan ekosistem Kendala yang dihadapi AuKendala utamanya biaya operasional, terutama pakan yang makin mahal. Modal saya terbatas, belum ada akses pinjaman dari bank. Harga jual juga naik turun, kadang kalah saing dengan ikan laut lain. Saya belum tergabung dalam kelompok petambak, jadi belum dapat bantuan atau pelatihan teknologi dari dinas. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Syawa. AuMasalah utamanya adalah keterbatasan modal dan harga benih serta pakan yang tinggi. Saya belum pernah dapat bantuan dari pemerintah. Harga jual sering tidak stabil, dan saya kesulitan bersaing dengan produk dari luar. Saya juga belum tergabung dalam kelompok petambak, jadi informasi teknologi budidaya masih kurang. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak H. Raml. AuModal masih jadi hambatan, apalagi kalau musim hujan, risiko gagal panen Saya pernah ajukan pinjaman, tapi belum disetujui. Harga bandeng kadang kalah saing dengan ikan laut lain. Saya sudah masuk kelompok budidaya, tapi pelatihan masih jarang diadakan. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Shand. Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga pelaku usaha tambak ikan bandeng di Desa Kasai. Kecamatan Pulau Derawan, dapat disimpulkan bahwa meskipun usaha tambak bandeng memiliki potensi besar untuk dikembangkan, masih terdapat sejumlah kendala krusial yang menghambat keberlanjutan dan peningkatan produktivitas usaha ini. Kendala-kendala tersebut bersifat struktural dan teknis, serta sangat berpengaruh terhadap efisiensi usaha dan kesejahteraan Salah satu kendala utama yang disampaikan oleh ketiga narasumber adalah keterbatasan modal usaha, khususnya untuk pembelian pakan dan benih yang harganya terus meningkat. Meskipun memiliki potensi yang menjanjikan, para petambak masih menghadapi berbagai kendala serius. Beberapa kendala utama yang dihadapi antara lain keterbatasan modal usaha, fluktuasi harga jual bandeng, serta lemahnya akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan kelembagaan. Kendala tersebut membuat pengembangan usaha tambak tidak dapat dilakukan secara optimal, meskipun peluang usaha sangat terbuka lebar. Keterbatasan modal sering kali membuat petambak kesulitan dalam meningkatkan kapasitas produksi, sementara harga jual yang tidak stabil mengurangi kepastian keuntungan. Selain itu, lemahnya dukungan kelembagaan dan akses informasi teknologi modern juga membuat produktivitas belum sepenuhnya maksimal. Efisiensi biaya dicapai melalui kombinasi pakan alami dan buatan. Namun, petambak menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, fluktuasi harga jual bandeng, serta kurangnya akses terhadap pelatihan dan bantuan pemerintah. Minimnya keterlibatan dalam kelompok budidaya juga membuat akses informasi dan teknologi terbatas. Dari segi pengelolaan, usaha tambak dijalankan secara mandiri dengan melibatkan anggota keluarga dalam kegiatan rutin seperti pemberian pakan, pengecekan kualitas air, dan pembersihan tambak. Pemasaran hasil panen dilakukan melalui pengepul, koperasi desa, atau pasar lokal, yang meskipun sederhana, tetap mampu mendukung kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak. Dengan demikian, tambak bandeng tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Agar lebih berkelanjutan, usaha ini memerlukan dukungan berupa akses modal, pelatihan teknis, serta penguatan kelembagaan dan sistem pemasaran. Sistem Pengelolaan Budidaya AuSaya kelola sendiri bersama dua pekerja. Kami rutin cek kualitas air, kasih pakan dua kali sehari, dan bersihkan tambak. Untuk pemasaran, biasanya dijual ke pengepul lokal. Keuntungan cukup buat kebutuhan rumah tangga. Harapan saya ke depan bisa ikut pelatihan supaya lebih efisien lagi budidayanya. Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Syawa. AuSaya dan istri kelola sendiri, kadang dibantu anak. Semua dilakukan manual, dari pembersihan sampai panen. Untuk pemasaran, saya biasa jual ke pengepul, kadang langsung ke pasar lokal. Hasilnya cukup untuk makan dan biaya anak Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak H. Raml. AuSaya dibantu satu orang tenaga kerja. Pakan diberikan pagi dan sore, dan air tambak dicek seminggu sekali. Saya jual hasil panen ke koperasi desa, kadang juga ke pasar lokal. Alhamdulillah, dari usaha ini saya bisa bantu ekonomi Ay (Kutipan wawancara dengan Bapak Shand. Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga narasumber, yaitu Bapak Syawwal. Ramli, dan Bapak Sandy, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan tambak ikan bandeng di Desa Kasai dilakukan secara mandiri dengan melibatkan anggota keluarga atau tenaga kerja terbatas, dan telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga masing-masing. Meskipun dijalankan dalam skala kecil hingga menengah, usaha tambak ini menunjukkan dampak ekonomi yang positif bagi kehidupan rumah tangga para pelaku usaha. Validitas hasil penelitian ini diperkuat melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Temuan penelitian menunjukkan konsistensi dalam hal produktivitas, biaya, serta sistem pemasaran yang dijalankan oleh petambak di Desa Kasai. Secara teoretis, hasil penelitian ini sejalan dengan teori pembangunan ekonomi, konsep blue growth, serta prinsip budidaya berkelanjutan. Semua pendekatan tersebut menekankan pentingnya kualitas air, dukungan modal, dan penguatan kelembagaan untuk meningkatkan daya saing usaha tambak bandeng. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi berharga bagi pengembangan usaha perikanan budidaya di wilayah pesisir, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Kesimpulan dan Saran Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Kasai memiliki potensi besar dalam pengembangan tambak bandeng berkat kondisi geografis yang mendukung, kualitas air laut yang baik, dan salinitas yang stabil. Budidaya tradisional maupun semiintensif mampu menghasilkan produksi menjanjikan, namun masih terkendala keterbatasan modal, fluktuasi harga, akses pembiayaan formal yang minim, serta kelembagaan petambak yang lemah. Akibatnya, pemanfaatan teknologi modern rendah dan daya saing terbatas. Meski demikian, usaha tambak bandeng berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan rumah tangga, pendidikan, kesehatan, serta lapangan kerja. Pemasaran masih bergantung pada pengepul sehingga posisi tawar petambak relatif lemah. Untuk mengoptimalkan potensi tambak bandeng di Desa Kasai, diperlukan dukungan dari pemerintah daerah dalam hal akses permodalan yang lebih mudah, penguatan kelembagaan petambak, pengetahuan startegi pemasaran, peningkatan kapasitas hasil produksi, diversifikasi usaha olahan pangan serta penerapan teknologi budidaya yang efisien dan ramah lingkungan. Pelatihan intensif terkait manajemen pakan dan kualitas air perlu ditingkatkan, disertai diversifikasi strategi pemasaran melalui koperasi, pasar modern, atau penjualan langsung agar petambak tidak bergantung pada pengepul sehingga usaha tambak ikan bandeng ini memiliki manfaat secara berkelanjutan. Daftar Pustaka