(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. HUBUNGAN PAPARAN MEDIA SOSIAL DAN KONSUMSI FAST FOOD TERHADAP STATUS GIZI PADA REMAJA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI KOTA YOGYAKARTA THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL MEDIA EXPOSURE AND FAST FOOD CONSUMPTION AND NUTRITIONAL STATUS OF ADOLESCENTS AT MAN YOGYAKARTA CITY Info Artikel Diterima:7 Agustus 2025 Direvisi:3 Desember 2025 Disetujui:30 Desember 2025 Evy Yuly Astuti1. Rosmauli Jerimia Fitriani2 Program Studi Sarjana Gizi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas PGRI Yogyakarta. Jawa Tengah. Indoensia (E-mail penulis korespondensi: rosmaulijf@upy. ABSTRAK Latar Belakang: Masa remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial, serta peningkatan kebutuhan zat gizi akibat percepatan Pada masa ini, remaja rentan mengalami masalah gizi yang dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan energi, rendah serat, kurang buah dan sayur, serta kebiasaan melewatkan sarapan. Salah satu pola konsumsi yang banyak ditemukan pada remaja saat ini adalah konsumsi fast food. Konsumsi fast food secara berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dan penumpukan lemak tubuh. Selain itu, media sosial juga berperan dalam membentuk perilaku makan remaja melalui paparan iklan makanan dan tren makanan populer yang mendorong peningkatan konsumsi fast food Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional atau potong lintang. Sebanyak 228 responden dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner paparan media sosial. Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk konsumsi fast food, serta timbangan digital dan stadiometer untuk mengukur status gizi. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan media sosial dan status gizi . =0,. Selain itu, konsumsi fast food juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi, . = 1,. Kesimpulan: Penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat paparan media sosial serta frekuensi konsumsi fast food tidak memberikan dampak yang berarti terhadap status gizi. Kata kunci : media sosial, konsumsi fast food, status gizi ABSTRACT Background: Adolescence is a transitional phase from childhood to adulthood, marked by physical, psychological, and social changes, as well as increased nutritional needs due to accelerated growth. During this period, adolescents are vulnerable to nutritional problems influenced by unhealthy lifestyles and eating patterns, such as consuming foods high in fat, sugar, and energy, low in fiber, lacking in fruits and vegetables, and skipping breakfast. One consumption pattern commonly found among adolescents today is fast food consumption. Excessive fast food consumption can lead to energy imbalance and body fat accumulation. Furthermore, social media also plays a role in shaping adolescent eating behavior through exposure to food advertisements and popular food trends that encourage increased fast food consumption. Methods: This study used a cross-sectional design. A total of 228 respondents were selected using a total sampling technique. The instruments used included a social media exposure questionnaire, a Food Frequency Questionnaire (FFQ) for fast food consumption, and a digital scale and stadiometer (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. to measure nutritional status. Data analysis was performed using the chi-square test to determine relationships between variables. Results: The results showed no significant relationship between social media exposure and nutritional status . =0. Furthermore, fast food consumption was also not significantly associated with nutritional status . =1. Conclusion: This study indicates that the level of social media exposure and the frequency of fast food consumption do not have a significant impact on nutritional status. Keywords : social media, fast food consumption, nutritional status PENDAHULUAN Masa remaja . merupakan masa transisi penting dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial. 1 Pada masa ini, remaja juga rentan mengalami berbagai masalah gizi yang dapat berdampak pada kesehatan. Kerentanan meningkatnya kebutuhan zat gizi seiring percepatan pertumbuhan fisik, yang disertai perubahan gaya hidup serta pola makan sehingga dapat memengaruhi status gizi. Masalah malnutrisi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang belum sepenuhnya terselesaikan di banyak negara. 2 Malnutrisi . atau gizi salah merupakan suatu kondisi kekurangan atau kelebihan zat gizi. Menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 prevalensi status gizi menurut indeks masa tubuh menurut umur (IMT/U pada remaja usia 16-18 tahun di Provinsi DI Yogyakarta mencapai 13,7% remaja mengalami overweight dan 5,6% mengalami obesitas. Provinsi D. Yogyakarta memiliki prevalensi masalah gizi pada remaja lebih tinggi jika dibandingkan dengan data nasional yaitu berkisar 12,8-25% gizi kurang dan 19,1-25,6% gizi lebih. 5 Prevalensi obesitas pada remaja dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup serta pola makan. Asupan makanan yang berlebihan, sehingga energi yang masuk melebihi kebutuhan tubuh, ditambah konsumsi fast food secara berlebihan, dapat memicu terjadinya penumpukan lemak. Status gizi lebih pada remaja bersifat multifaktorial, artinya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kejadian overweight dan obesitas antara lain jenis kelamin, pekerjaan dan pendidikan ibu, status gizi ibu, kebiasaan olahraga, serta pola makan sehari-hari. 8 Selain itu, perilaku, sikap, dan kepercayaan individu terhadap makanan turut mempengaruhi pilihan makanan yang Menurut Kementerian Kesehatan, kebiasaan makan yang tinggi lemak, tinggi gula, tinggi energi, rendah serat, kurang konsumsi buah dan sayur, serta sering mengonsumsi makanan atau minuman ringan dan melewatkan sarapan, dapat meningkatkan risiko kelebihan gizi. Konsumsi makanan secara berlebihan, terutama fast food, dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi yang berujung pada penumpukan lemak dalam Selain kebiasaan makan, penggunaan media sosial juga dikaitkan dengan status gizi 10 Saat ini, media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja, karena digunakan sebagai sumber informasi, sarana komunikasi, hiburan, serta tempat untuk melihat vidio atau gambar yang berkaitan dengan makanan. 11 Media sosial merupakan platform digital yang secara luas dimanfaatkan untuk pemasaran makanan dan minuman. 12 Paparan iklan makanan di media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumsi remaja, termasuk dalam hal pembelian dan konsumsi fast food. Maraknya iklan menarik dan tren makanan populer di media sosial menyebabkan fast food dengan cepat dikenal dan diminati oleh Remaja mengkonsumsi fast food dan junk food dibandingkan makanan bergizi seimbang karena dianggap lebih praktis, murah, dan memiliki rasa yang lebih disukai. 15 Selain itu, pengaruh teman sebaya juga turut berperan dalam kebiasaan konsumsi fast food pada Remaja cenderung menyesuaikan perilaku makan mereka dengan kelompok sosial di sekitarnya. Ketika teman-teman sebaya sering mengkonsumsi fast food, individu akan lebih cenderung mengikuti pola tersebut sebagai bentuk adaptasi sosial dan (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. keinginan untuk diterima dalam lingkungan METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian berada di MAN 2 Yogyakarta dan dilaksanakan pada tanggal 21 dan 26 Februari 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja kelas X dan XI, dengan jumlah sampel sebanyak 228 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria Pengumpulan menggunakan data primer. Variabel paparan media sosial diukur menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Apriliani & Fitriani. Variabel konsumsi fast food diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan status gizi dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan bantuan aplikasi DietEducate. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chisquare. Hasil uji dinyatakan signifikan apabila nilai p-value < . , yang berarti HCA ditolak dan HCa diterima, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna. Sebaliknya, jika pvalue > . , maka HCa ditolak dan HCA diterima, yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna. HASIL Tabel 1. Data Karakteristik Variabel Karakteristik Umur - 15 tahun - 16 tahun - 17 tahun - 18 tahun Total Jenis Kelamin - Perempuan - Laki-laki Total Jenis konten yang - Vidio mukbang atau ASMR - Review makanan Jumlah Presentase (%) Variabel Jumlah atau restoran Tutorial memasak Makanan atau viral - Rekomendasi tempat makanan Total Presentase (%) Durasi menggunakan media sosial - 1-2 jam - 3-4 jam - > 5 jam Total Mengikuti akun sosial media yang berisi kesehatan dan gizi - Sudah - Belum Total Mendapatkan edukasi - Sudah - Belum Total Tempat - Di area sekolah - Melalui layanan . - Saat nongkrong bersama teman - Di perbelanjaan atau Total Rutin sarapan sebelum - Sering - Kadang- kadang - Jarang Total Membawa bekal saat - Ya - Tidak Total Penghasilan orang tua - Rp. 000-Rp. - Rp. 000Rp. - > Rp. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Variabel Jumlah Total Uang - Rp. 000-Rp - Rp. 000Rp. - Rp. 000Rp. - >Rp. Total Uang saku habis untuk - Ya - Tidak Total Aturan tentang jenis jajanan yang boleh atau tidak boleh dibeli oleh orang tua - Ya - Tidak Total Presentase (%) Malnut Normal Berdasarkan Tabel 1. Sebanyak 176 responden . ,2%) memiliki status gizi normal, sementara 52 responden . ,8%) tergolong mengalami malnutrisi. Gambar 2. Distribusi Paparan Media Sosial Responden Terpeng Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui mayoritas responden berusia 16 tahun . ,6%) dan berjenis kelamin perempuan . %). Sebagian besar mengakses media sosial selama 3Ae4 jam per hari . ,8%) dengan minat utama pada konten tutorial memasak . %). Meskipun . ,9%) belum mengikuti akun edukasi gizi, sebanyak . ,8%) pernah menerima informasi gizi dari sumber lain. Dalam hal konsumsi fast food, responden paling sering mengonsumsinya saat berkumpul dengan teman . ,4%). Sebagian besar juga memiliki kebiasaan sarapan . ,7%) dan membawa bekal ke sekolah . ,1%). Sebagian besar orang tua responden berpenghasilan di atas Rp 3. ,6%). Responden umumnya mendapat uang saku Rp 10. 000AeRp 000 per hari . ,4%), namun mayoritas . ,5%) tidak menghabiskannya untuk jajan. Selain itu, . ,9%) memiliki aturan dari orang tua terkait jajanan yang boleh dikonsumsi. Gambar 1. Distribusi Status Gizi Responden Tidak Terpeng Berdasarkan Gambar 2, sebanyak 188 responden . ,5%) merasa terpengaruh oleh media sosial, sedangkan 40 responden . ,5%) tidak terpengaruh. Sementara itu, berdasarkan Tabel 1, menunjukkan bahwa mayoritas responden . ,9%) belum mengikuti akun media sosial yang menyajikan konten edukasi Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki pengaruh yang besar, konten yang dikonsumsi cenderung bersifat hiburan dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana edukasi gizi. Dalam penggunaan media sosial, remaja merupakan kelompok yang tergolong tinggi khususnya dalam hal berkomunikasi dengan teman, mencari hiburan dan informasi. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menimbulkan efek yang berbeda di setiap individu. Gambar 3. Distribusi media sosial yang sering digunakan (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. 91,2% 100,0% 80,0% 60,0% 40,0% 20,0% 0,0% Jarang Sering Total 89,9% 63,2% p-Value = 1000 *uji chi-square 8,3% 14,9% Diagram memperlihatkan jenis media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden. Instagram menempati posisi teratas dengan persentase 91,2%, disusul TikTok sebesar 89,9% dan YouTube sebesar 63,2%. Ketiga platform tersebut menjadi yang paling dominan digunakan serta berpotensi memberikan paparan konten yang berkaitan dengan fast Gambar 4. Frekuensi Konsumsi Fast Food Responden Sering Jarang Berdasarkan Gambar 3, mayoritas responden mengonsumsi fast food secara jarang, yaitu sebanyak 217 siswa . ,2%), sementara hanya 11 siswa . ,8%) yang mengonsumsinya secara sering. Sementara itu, berdasarkan karakteristik pada Tabel 1 mengkonsumsi fast food saat nongkrong bersama teman-teman, yaitu sebanyak 124 siswa . ,4%). Tabel 2. Data Bivariat Variabel Paparan Media Sosial Terpengar Tidak Total Konsumsi Fast Food Status Gizi Normal Malnutrisi Total p-Value = 0. Hasil analisis menggunakan uji chi square menunjukkan bahwa pada variabel paparan media sosial diperoleh p-value sebesar 0,436, yang nilainya lebih besar daripada . Dengan demikian. H0 diterima dan Ha ditolak, yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara paparan media sosial dengan status gizi. Sementara itu, pada variabel konsumsi fast food, menghasilkan p-value sebesar 1,000, yang juga lebih besar daripada . , sehingga H0 kembali diterima dan Ha ditolak, menandakan bahwa konsumsi fast food tidak memiliki hubungan signifikan dengan status gizi. PEMBAHASAN Hasil analisis bivariat tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan media sosial dan status gizi. Dalam penelitian ini, sebanyak . ,8%) responden diketahui telah menerima edukasi mengenai gizi. Namun, edukasi yang dimaksud tidak dijelaskan secara spesifik terkait materi yang dibahas dan sejauh mana pemahaman yang Meskipun demikian penelitian (Aulia, 2. menyatakan bahwa pengetahuan tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi fast food. Individu yang memiliki pemahaman gizi yang baik cenderung mampu menerapkannya dalam perilaku dan sikap positif terkait konsumsi makanan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizinya. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara penggunaan media sosial dan status gizi. Penelitian (Dwitami et al. , 2. menemukan bahwa meskipun intensitas penggunaan media sosial tinggi, hal tersebut tidak selalu cenderung mengakses konten positif seperti edukasi dan gaya hidup sehat. 19 Penelitian (Amalia et al. , 2. juga menyatakan bahwa pengaruh media sosial terhadap status gizi bersifat tidak langsung dan dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola makan di rumah dan aktivitas fisik. Berbagai faktor lain juga berperan dalam mempengaruhi pola konsumsi dan (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. status gizi responden, salah satunya adalah tingkat pendapatan keluarga. Dalam penelitian ini, sebanyak 88 responden . ,6%) berasal dari keluarga dengan pendapatan orang tua lebih dari Rp3. 000 per bulan. Pendapatan keluarga berhubungan erat dengan gizi dan kesehatan, dimana peningkatan pendapatan akan memperbaiki status gizi dan kesehatan anggota keluarga. Uang saku merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumsi fast food pada remaja. 13 Dalam penelitian ini, mayoritas responden memiliki uang saku harian sebesar Rp10. 000AeRp20. yaitu sebanyak 108 orang . ,4%). Meskipun jumlah tersebut tergolong mencukupi untuk membeli makanan fast food, sebanyak 195 responden . ,5%) tidak menghabiskan seluruh uang sakunya. Hal ini secara tidak langsung dapat menjadi salah satu faktor yang menurunkan frekuensi pembelian fast food. Namun, penelitian ini tidak menggali secara mendalam mengenai alokasi penggunaan uang saku oleh responden. Ada kemungkinan sebagian responden menggunakan uang saku untuk keperluan lain, seperti transportasi, kebutuhan sekolah, atau tabungan. Oleh karena itu, meskipun secara nominal uang dialokasikan untuk konsumsi makanan, termasuk fast food. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya uang saku, tetapi juga oleh prioritas penggunaan dan masing-masing Sebanyak 132 responden . ,9%) menyatakan bahwa adanya larangan atau pengawasan dari orang tua, terutama yang berkaitan dengan jenis jajanan yang diperbolehkan maupun yang dilarang. Pembatasan yang diterapkan oleh orang tua turut memengaruhi pilihan jajanan yang dikonsumsi siswa. Dengan adanya aturan tersebut, siswa cenderung tidak membeli makanan yang dilarang ketika berada di Kondisi ini memberikan dampak positif, karena perilaku jajan siswa didukung oleh peran orang tua dalam memberikan arahan serta pengetahuan mengenai jenis jajanan yang layak dan sehat untuk Hasil dari analisis bivariat tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dan status gizi. Mayoritas responden, yaitu sebanyak 169 siswa . ,1%), membawa bekal saat pergi ke sekolah. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran yang cukup baik terhadap pentingnya menjaga pola makan yang sehat dan teratur di kalangan remaja. Bekal dari rumah juga berperan dalam menekan konsumsi fast food di kalangan pelajar, karena ketika kebutuhan makan telah dipenuhi sebelumnya, siswa menjadi lebih jarang membeli makanan fast food saat berada di lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini sejalan dengan menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi fast food dan status gizi remaja. Penelitian (Fitriyanti et al. , 2. menyatakan bahwa meskipun mahasiswa sering mengkonsumsi fast food, kejadian obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi tersebut, melainkan juga oleh faktor lain seperti pola makan secara menyeluruh, aktivitas fisik, genetik, dan lingkungan. Sementara itu, (Suaib et al. , 2. menyatakan bahwa siswa yang sering mengkonsumsi fast food sebagian besar tetap memiliki status gizi normal, yang kemungkinan dipengaruhi oleh kebiasaan membawa bekal, aktivitas fisik yang rutin, serta kebutuhan gizi yang bervariasi antar individu. Temuan ini menguatkan bahwa konsumsi fast food bukan satu-satunya faktor penentu status gizi remaja. Faktor lain yang dapat mempengaruhi status gizi yaitu sebanyak 102 atau . responden yang mayoritas rutin melakukan sarapan sebelum memulai aktivitas harian. Sarapan bukan sekadar makan di pagi hari, tetapi memiliki manfaat penting bagi tubuh, yaitu mencukupi kebutuhan energi untuk menjalani aktivitas hingga siang hari. Ketika kecenderungan untuk mengkonsumsi camilan atau makanan tinggi kalori, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar lemak tubuh dan menyebabkan kenaikan berat KESIMPULAN DAN SARAN Hasil analisis menggunakan uji chi square menunjukkan bahwa pada variabel paparan media sosial diperoleh p-value sebesar 0,436, yang nilainya lebih besar daripada . Dengan demikian. H0 diterima dan Ha ditolak, yang berarti tidak terdapat hubungan (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. signifikan antara paparan media sosial dengan status gizi. Sementara itu, pada variabel konsumsi fast food, menghasilkan p-value sebesar 1,000, yang juga lebih besar daripada . , sehingga H0 kembali diterima dan Ha ditolak, menandakan bahwa konsumsi fast food tidak memiliki hubungan signifikan dengan status gizi. Meskipun sebagian besar responden terpengaruh oleh paparan media sosial, hal ini tidak serta merta meningkatkan konsumsi fast food. Beberapa faktor protektif berperan dalam membentuk perilaku makan yang lebih sehat, antara lain edukasi gizi yang telah diterima responden, adanya aturan dari orang tua terkait makanan yang boleh dibeli, kebiasaan rutin sarapan, serta membawa bekal dari rumah. Faktor-faktor tersebut membatasi peluang responden untuk mengonsumsi fast food meskipun mereka terpapar promosi dan konten makanan melalui media sosial. DAFTAR PUSTAKA