http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Artikel Penelitian Association of Physical Activity and Dietary Patterns With Blood Glucose Levels Among The Elderly: A Cross-Sectional Study in Kampung Megamendung I Wayan Gede Saraswata1. AA Ayu Emi Primayanthi1. Amalia Dewi Ariyanti1. Malisadinia Arsyi2 Abstrak Pendahuluan : Sebanyak 48% lansia tercatat mengalami minimal satu episode hiperglikemia. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular dan stroke. Pengendalian glukosa darah memegang peran penting dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kemampuan hidup mandiri pada usia lanjut. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dan pola makan terhadap kadar gula darah pada Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 32 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner PASE yang diadaptasi dari Washburn, serta kuesioner FFQ yang diadaptasi dari Willet. Uji validitas menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. O 0,05. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Alpha Cronbach kuesioner FFQ Ou 0,801 dan PASE sebesar 0,813. Hasil dan Pembahasan : Mayoritas responden melakukan aktivitas dalam kategori baik sekitar 26 . ,3%), mayoritas berpola makan baik 25 . ,1%), memiliki kada gula darah normal 22 . ,8%). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan pola makan terhadap kadar gula darah dengan nilai p-value sebesar 0,015. Kesimpulan : Semakin baik pola makan dan aktivitas fisik, maka semakin stabil kadar gula darah pada Kata kunci: Aktivitas. Gula Darah. Pola Makan. Abstract Background: Hyperglycemia affects approximately 48% of older adults, significantly increasing the risk of cardiovascular disease and stroke. Maintaining optimal blood glucose levels is essential for preserving health and independence in later life. Objective: This study aimed to examine the association between physical activity and dietary patterns with blood glucose levels among elderly individuals. Methods: A quantitative study with a correlational design and cross-sectional approach was conducted involving 32 elderly respondents. The instruments used included the Physical Activity Scale for the Elderly (PASE), adapted from Washburn, and the Food Frequency Questionnaire (FFQ), adapted from Willet. Validity testing showed a significance level of O 0. 05 (Sig. 2-taile. , while reliability testing yielded CronbachAos Alpha values of Ou 0. 801 for the FFQ and 0. 813 for the PASE. Results: A majority of participants reported good levels of physical activity . 3%) and healthy dietary patterns . 1%), with 68. 8% having normal blood glucose Statistical analysis revealed a significant association between physical activity and dietary patterns with blood glucose levels . -value = 0. Conclusion: Improved physical activity and dietary habits are positively associated with more stable blood glucose levels in the elderly. These findings highlight the importance of lifestyle interventions in managing blood glucose and preventing related complications among older adults. Keywords: Physical Activity. Blood Glucose. Dietary Patterns Submitted: 16 Juli 2025 Accepted: 31 Desember 2025 Affiliasi penulis : 1Program Studi Sarjana Keperawatan Dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana. Jalan P. Sudirman. Denpasar. Bali 80232. Indonesia. 2Akademi Keperawatan Al-Ikhlas,Jl. Hankam. RT. 03/RW. Jogjogan. Kec. Cisarua. Kabupaten Bogor. Jawa Barat 16750 Korespondensi : I Wayan Gede Saraswasta, saraswasta@unud. id Telp: diabetes secara substansial meningkatkan kardiovaskular dan stroke pada populasi Kombinasi antara proses penuaan dan diabetes memberikan efek sinergis yang meningkatkan risiko tersebut. Selain itu, keberadaan obesitas dan resistensi insulin turut memperburuk prognosis kesehatan secara keseluruhan . PENDAHULUAN Sebanyak 48% lansia tercatat Kondisi hiperglikemia dan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Menurut International Diabetes Federation . , terdapat sekitar 11,1% di dunia yang mengalami hiperglikemia. Prevalensi hiperglikemia pada lansia di Indonesia meningkat dari 2,0% meningkat menjadi sebesar 2,2% pada tahun 2023 . Pada tahun 2021. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat sebanyak 837 penderita diabetes, di mana 17. orang atau sekitar 37,1% belum memperoleh pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah . Hal tersebut tentunya menjadi perhatian besar, terutama pada kelompok lanjut usia yang rentan mengalami peningkatan kadar gula darah . Kadar gula darah sewaktu adalah pengecekan gula tanpa berpuasa dan dilakukan kapan saja . Menurut WHO nilai gula darah sewaktu normal O200 mg/dL, dan puasa O126 mg/dl . Dampak kurangnya aktivitas fisik dapat mengurangi efektivitas insulin, sedangkan aktivitas yang rutin berfungsi meningkatkan Lansia mempunyai pola makan yang baik akan mempunya kadar glukosa darah yang relative lebih stabil. Sebaliknya, pola makan tidak baik menyebabkan fluktuasi gula darah ekstrem, seperti hipoglikemia atau hiperglikemia . Oleh karena itu, pencegahan komplikasi jangka Panjang. Jumlah lansia berusia 65Ae99 tahun yang mengalami diabetes diproyeksikan meningkat menjadi 195,2 juta pada tahun 2030 dan 276,2 juta pada tahun 2045 . Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lansia adalah seseorang yang telah berumur lebih dari 60 tahun . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan usia lanjut ke dalam lima kelompok, yakni usia paruh baya . Ae 54 tahu. , usia lanjut . Ae65 tahu. , lansia muda . Ae74 tahu. , lansia tua . Ae90 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman tahu. , dan lansia sangat tua yang berusia lebih dari 90 tahun . Seiring individu, populasi lansia di seluruh dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan perkiraan dari World Health Organization (WHO), jumlah orang berusia di atas 60 tahun secara global diprediksi meningkat dari 1,1 juta pada tahun 2023 menjadi sekitar 1,4 juta pada tahun 2030 . Di Indonesia estimasi populasi lansia akan mencapai antara 74 hingga 80 juta jiwa, setara dengan sekitar 25% dari total penduduk pada tahun 2050 . Berdasarkan data Kabupaten Bogor tahun 2023, tercatat sekitar 9. 709 lansia yang tinggal di Kecamatan Cisarua. Kabupaten Bogor . Dengan bertambahnya jumlah penduduk lansia, perhatian utama tertuju pada aspek kesehatan, terutama pola makan dan tingkat aktivitas fisik. Menurut penelitian dari Lorita Doru et al. , . antara pola makan dan kadar gula darah . Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Ischak et al. , . terhadap 84 responden menunjukkan ada kaitan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah . Menurut penelitian Astutisari et , . , dengan 109 responden menunjukkan pola makan memiliki kaitan dengan kadar gula darah . Data awal yang diperoleh di Kampung Megamendung RT 03 RW 04 menunjukkan bahwa dari 10 lansia yang diperiksa, 50% memiliki kadar gula darah sewaktu (GDS) di atas 200 mg/dL. Sebanyak 40% di antaranya mengeluhkan sering buang air kecil pada malam hari, dan 60% telah terdiagnosis menderita Dari segi aktivitas fisik, hanya separuh lansia yang rutin beraktivitas setiap hari, sementara sisanya cenderung Pola makan juga menunjukkan kecenderungan yang kurang sehat, di mana 60% lansia terbiasa mengonsumsi Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 teh manis dan gula berlebih, sedangkan 40% lainnya sudah mulai menerapkan pola makan yang lebih teratur. Temuan ini mencerminkan adanya kecenderungan gaya hidup yang tidak sehat di kalangan lansia, terutama dalam hal pola makan dan tingkat aktivitas fisik. Meskipun menunjukkan adanya hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah, kenyataannya masih banyak lansia yang menjalani gaya hidup berisiko tinggi terhadap hiperglikemia. Kurangnya aktivitas fisik serta konsumsi makanan tinggi gula merupakan dua faktor utama yang turut meningkatkan kadar gula Oleh karena itu, penerapan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang memadai menjadi aspek penting yang dapat dikendalikan untuk meningkatkan sensitivitas insulin dan menjaga kestabilan kadar gula darah pada kelompok usia Kondisi ini semakin relevan mengingat pentingnya penerapan gaya hidup sehat khususnya di kalangan lansia. Hasil memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran gaya hidup dalam meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus mengurangi beban kesehatan Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan mengidentifikasi Hubungan Aktivitas Fisik dan Pola Makan terhadap Kadar Gula Darah pada Lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04. gangguan kognitif berat atau kondisi sakit akut dikeluarkan dari penelitian. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner Physical Activity Scale for the Elderly (PASE), sedangkan pola makan diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Kadar gula darah diukur melalui pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) menggunakan glukometer BeneCheck BX-M010. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS. Uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi normal, sehingga menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p<0,05 . Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dengan surat izin penelitian nomor: 3328-25/C. 08/2025 dan seluruh responden menandatangani informed consent sebelum pengumpulan data. HASIL Univariat Usia Berdasarkan Tabel 4. 1, mayoritas responden berada pada kelompok usia 60Ae 70 tahun . ,9%), yang menunjukkan bahwa partisipan penelitian didominasi oleh lansia awal. Proporsi responden menurun seiring bertambahnya usia, dengan 21,9% berada pada kelompok usia 75Ae90 tahun dan hanya 6,3% berusia di atas 90 tahun. Pola ini mengindikasikan bahwa semakin lanjut usia, jumlah lansia yang dapat berpartisipasi dalam penelitian cenderung berkurang, yang kemungkinan dipengaruhi oleh penurunan kondisi kesehatan, keterbatasan fisik, serta meningkatnya risiko morbiditas. Temuan ini mencerminkan karakteristik populasi lansia yang relatif masih aktif dan mampu mengikuti proses pengumpulan data. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04, dengan teknik pengambilan sampel total sampling sebanyak 32 responden. Kriteria inklusi meliputi lansia berusia Ou60 tahun, mampu berkomunikasi, dan bersedia menjadi responden. Lansia dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Responden Usia (%) >90 tahun . sia sangat tua/ very ol. 60-74 tahun . ansia/ elderl. 75-90 tahun . sia tua/ ol. Total Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Jenis Kelamin Tabel 4. 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan . ,8%), sedangkan laki-laki sebanyak 31,3%, menunjukkan bahwa lansia perempuan lebih dominan dalam populasi penelitian. Tabel 4. 4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aktivitas Fisik Aktivitas Fisik Aktivitas baik Aktivitas buruk Total Total (%) Pola Makan Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total (%) Tingkat Pendidikan Tabel 4. 3 memperlihatkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat SMP ,0%), sedangkan sisanya berpendidikan SD . ,9%). SMA . ,6%), dan tidak sekolah . ,5%), yang menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki latar belakang pendidikan menengah. Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SMP SMA Tidak Sekolah Total (%) Aktivitas Fisik Tabel 4. 4 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik . ,3%), sementara sebagian kecil tergolong kurang aktif . ,8%), menunjukkan bahwa sebagian besar lansia telah menjalani aktivitas fisik yang memadai. Tabel 4. 5 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memiliki pola makan yang baik . ,1%), sedangkan 21,9% lainnya menunjukkan pola makan kurang baik, yang mengindikasikan dominasi kebiasaan makan sehat pada Tabel 4. 5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pola Makan Pola Makan Baik Kurang Total (%) Kadar Gula Darah Tabel 4. 6 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kadar gula darah dalam kategori normal . ,8%), sementara sebagian lainnya mengalami hipoglikemia . ,4%) dan hiperglikemia . ,9%), menunjukkan masih adanya lansia dengan gangguan pengendalian kadar gula darah. Tabel 4. 6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kadar Gula darah Kadar Gula Darah Normal (<200 mg/d. Rendah (<70 mg/d. Tinggi (>200 mg/d. Total (%) Analisis Bivariat Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kadar Gula Darah Pada Lansia Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 7 mengenai hubungan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah pada lansia, uji Spearman Rho dengan tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman signifikansi = 0,05 . %) menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,015 (<0,. Dengan demikian, hipotesis alternatif (H. diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah pada lansia di Kampung Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 Megamendung RT 03 RW 04 dengan jumlah responden sebanyak 32 orang. Tabel 4. 7 Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Kadar Gula Darah Pada Lansia Kadar Gula Darah Total Aktivitas Fisik Baik Buruk Total Pvalue Normal <200 mg/dl Rendah <70 mg/dl 62,5% 6,3% 68,8% 9,4% ,0% 9,4% Hubungan Pola Makan Terhadap Kadar Gula Darah Pada Lansia Hasil analisis pada Tabel 4. menunjukkan adanya hubungan antara pola makan dan kadar gula darah pada Berdasarkan uji Spearman Rho dengan tingkat signifikansi = 0,05. Tinggi >200 mg/dl 9,4% 12,5% 21,9% 81,3% 18,8% 100,0% 0,015 diperoleh nilai signifikan sebesar 0,015 (<0,. Oleh karena itu, hipotesis alternatif (H. diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan kadar gula darah pada lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04 dengan jumlah responden sebanyak 32 Tabel 4. 8 Hubungan Pola Makan Terhadap Kadar Gula Darah Pada Lansia Pola Makan Baik Kurang Total Normal <200 mg/dl Kadar Gula Darah Rendah <70 mg/dl 62,5% 6,3% 68,8% 3,1% 6,3% 9,4% PEMBAHASAN Karakteristik responden mayoritas dalam usia 60-74 tahun mendukung penelitian sebelumnya oleh Nurhidayati et , . , yang menyebutkan dari 84 responden sebanyak 72 responden . ,7%) dalam rentang usia 60-74 tahun . Hal ini memperkuat bahwa kelompok usia tersebut merupakan kategori dominan dalam populasi lansia yang aktif mengikuti Lansia merupakan kelompok umur pada tahapan akhir dari fase kehidupannya . Lansia akan mengalami akumulasi berbagai perubahan kompleks, terutama pada aspek fisik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan fungsional mereka . Menurut peneliti, hal ini termasuk dalam langkah preventif, yakni melalui deteksi dini terhadap kondisi fisik Deteksi dini memiliki peran penting dalam mencegah timbulnya masalah kesehatan yang lebih serius serta dapat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Tinggi >200 mg/dl 12,5% 9,4% 21,9% Total 78,1% 21,9% 100,0% 0,015 intervensi atau tindakan perawatan Hasil penelitian di Kampung Megamendung RT 03 RW 04 terhadap 32 lansia menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 60Ae 74 tahun, yakni sebanyak 23 orang . ,9%), yang dikategorikan sebagai lansia Sebanyak 7 responden . ,9%) berada dalam kelompok usia 75Ae90 tahun, dan hanya 2 responden . ,3%) yang berusia di atas 90 tahun. Berdasarkan temuan ini, peneliti menyimpulkan bahwa jumlah lansia cenderung menurun pada kelompok usia di atas 74 tahun, yang memburuknya kondisi kesehatan serta meningkatnya risiko kematian seiring bertambahnya usia. Mayoritas penelitian ini adalah perempuan . ,8%). Hal ini sejalan dengan data BPS . perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki, diduga karena harapan hidup Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 perempuan lebih Panjang . Peneliti memperkirakan tingginya jumlah lansia perempuan di Kampung Megamendung mendukung dan adanya dukungan sosial serta keluarga. Penelitian ini sejalan dengan temuan Bahriah et al. , yang menunjukkan bahwa sekitar 59,0% perempuan mengalami kadar gula darah yang tidak normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penurunan hormon menopause . Ketidakseimbangan hormon tersebut berpengaruh terhadap sensitivitas sel terhadap insulin, sehingga dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah . Oleh karena itu, perubahan hormonal yang terjadi pada lansia perempuan menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam upaya deteksi dini kadar gula darah. Menurut peneliti, temuan ini sesuai dengan tren menunjukkan bahwa perempuan memiliki angka harapan hidup lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Selain itu, di wilayah Kampung Megamendung RT 03 RW 04, hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor biologis, kebiasaan hidup yang lebih sehat, serta peran sosial perempuan yang lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya, sehingga mereka cenderung hidup lebih lama dan mendominasi kelompok lansia. Hasil bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan terakhir SMP, yaitu sebanyak 16 orang . ,0%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Mikyal Azizah dan Susihar . , yang juga menemukan bahwa mayoritas lansia berpendidikan SMP dengan persentase sebesar 40,0% . Tingkat pendidikan berperan penting pendidikan yang dimiliki, maka semakin mudah individu dalam memahami dan mengolah informasi, termasuk dalam menyikapi kondisi kesehatannya . Peneliti menduga bahwa mayoritas lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04 berpendidikan terakhir SMP disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung pada masa lalu, keterbatasan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman akses terhadap pendidikan, serta norma sosial saat itu yang belum menempatkan pendidikan tinggi sebagai prioritas. Lansia dengan latar belakang pendidikan SMP umumnya memiliki pemahaman dasar yang cukup untuk menerima instruksi dari membutuhkan pendekatan komunikasi yang sederhana dan mudah dipahami agar pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan efektif. Berdasarkan aktivitas fisik terbanyak yaitu aktivitas . 3%). Penelitian ini sejalan dengan Yusrini et al. , dengan kriteria aktivitas baik terbanyak demgan presentase . ,8%) dengan . Aktivitas fisik merupakan faktor penting yang dapat memengaruh kualitas hidup lansia, baik dari aspek fisik, psikologis, maupun sosial. Tingginya proporsi lansia yang tetap aktif secara fisik mencerminkan kesadaran atau kebiasaan yang relatif baik dalam menjaga kebugaran memperlambat penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan . Menurut peneliti, lansia di Kampung Megamendung aktivitas fisik yang sangat baik, dengan proporsi tertinggi di antara seluruh Temuan ini mencerminkan adanya kebiasaan hidup aktif yang telah terbentuk di lingkungan tersebut, baik melalui rutinitas harian maupun partisipasi dalam kegiatan sosial dan komunitas. Lansia di wilayah ini dinilai memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik, sehingga dapat menjadi teladan bagi komunitas lansia di daerah lain. Hasil bahwa sebagian besar responden memiliki pola makan yang baik, yaitu sebanyak 25 . ,1%). Temuan mengindikasikan bahwa mayoritas lansia dalam penelitian ini telah menerapkan kebiasaan makan yang mendukung kondisi kesehatan mereka. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ramli et al. , yang juga menemukan bahwa sebagian besar lansia memiliki pola makan baik, yakni sebanyak 29 responden . ,9%) . Pola makan yang baik dan seimbang merupakan salah satu aspek penting Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 dalam menjaga kesehatan lansia dan mencegah berbagai penyakit degeneratif yang umum terjadi pada usia lanjut . Pola makan seimbang adalah pengaturan konsumsi makanan harian yang mencakup berbagai zat giziAiseperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan airAidalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh . Banyaknya lansia yang memiliki pola kesadaran diri atau dukungan dari lingkungan sekitar, terutama keluarga, dalam menjaga kecukupan gizi harian. Hal ini sangat penting mengingat lansia cenderung mengalami penurunan nafsu mengakses makanan bergizi. Penerapan pola makan seimbang secara konsisten dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kestabilan kadar gula darah, dan menunjang kualitas hidup lansia secara menyeluruh. Peneliti menilai bahwa sebagian besar lansia di lokasi penelitian, khususnya Kampung Megamendung, menerapkan pola makan yang baik. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran yang cukup tinggi terhadap pentingnya menjaga asupan gizi seimbang untuk mendukung kesehatan di usia lanjut. Selain itu, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar turut berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi lansia. wilayah ini, keluarga berperan aktif dalam memilih makanan yang dikonsumsi lansia, sehingga turut memastikan asupan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi mereka. Hasil bahwa sebagian besar responden memiliki kadar gula darah sewaktu dalam kategori normal, yaitu sebanyak 22 orang . ,8%). Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Making et al. yang melaporkan bahwa sebagian besar responden, yakni 71 orang . ,5%), juga memiliki kadar gula darah normal. Kadar gula darah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan dan aktivitas fisik . Meskipun mayoritas responden dalam penelitian ini menunjukkan pola makan dan aktivitas fisik yang baik, masih ditemukan 21,9% responden dengan kadar gula darah tinggi dan 9,4% dengan kadar gula darah rendah. Hal ini mengindikasikan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman bahwa masih terdapat sebagian lansia yang memiliki pola makan kurang baik dan aktivitas fisik yang rendah, yang berpotensi memengaruhi kestabilan kadar gula darah. Pola makan yang tidak seimbang dapat berdampak pada fluktuasi kadar gula Konsumsi makanan yang tidak sehat, terutama yang tinggi karbohidrat, berisiko menyebabkan peningkatan kadar gula darah secara signifikan . Aktivitas fisik yang teratur, seperti berjalan kaki, atau melakukan pekerjaan sehari-hari, dapat membantu mengatur kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin . Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan dan dukungan dari tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk membantu individu dalam mengelola gaya hidup sehat secara konsisten. Mayoritas lansia di Kampung Megamendung memiliki kadar gula darah normal, mencerminkan kesadaran akan pola makan dan aktivitas fisik. Namun, sebagian mengalami gejala hiperglikemia seperti sering buang air kecil, dan lainnya menunjukkan tanda hipoglikemia seperti Oleh karena itu, skrining rutin dan pemahaman gejala terkait kadar gula darah penting untuk penanganan yang Hasil hubungan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah pada lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04 menunjukkan hasil yang signifikan, dengan total 32 responden dan nilai p-value sebesar 0,015. Karena p < 0,05, maka HCA ditolak dan HCa diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan kadar gula darah. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Khulwatunnisa et . , yang juga menunjukkan hasil signifikan dengan p-value sebesar 0,001, sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas fisik berpengaruh terhadap kadar glukosa darah . Secara patofisiologis, kurangnya aktivitas fisik dapat mengganggu proses metabolisme energi dalam tubuh. Insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas, berperan penting dalam pengaturan kadar glukosa darah. Ketika terjadi resistensi insulin, metabolisme glukosa menjadi tidak optimal, yang berakibat pada peningkatan kadar gula darah . Oleh karena itu. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 2, 31 Desember 2025 pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7537 lansia disarankan untuk rutin melakukan aktivitas fisik guna membantu mencegah lonjakan kadar glukosa darah dan menjaga Peneliti mengamati bahwa lansia dengan kadar gula darah normal di Kampung Megamendung umumnya rutin melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan di sekitar rumah atau mengikuti kegiatan Sebaliknya, lansia dengan kadar gula darah tinggi maupun rendah cenderung kurang aktif dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebiasaan beraktivitas fisik secara teratur berkontribusi penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah pada lansia di wilayah tersebut. Penelitian mengenai hubungan antara pola makan dan kadar gula darah pada lansia di Kampung Megamendung RT 03 RW 04, yang melibatkan 32 responden, menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai p-value sebesar 0,015. Dengan demikian, hipotesis alternatif (H. diterima, yang berarti terdapat hubungan antara pola makan dan kadar gula darah pada lansia. Temuan ini konsisten dengan penelitian Noviriana et . , yang melaporkan bahwa variabel pola makan memiliki p-value sebesar 0,000 . <0,. , menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dan kadar glukosa darah. Kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat sederhana, dan peningkatan kadar glukosa darah secara Temuan ini sejalan dengan penelitian Solpani et al. , yang menunjukkan bahwa pola makan tidak seimbang berkontribusi terhadap naiknya kadar gula darah . Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi mengenai pola makan sehat, khususnya kepada lansia yang rentan mengalami gangguan metabolik seperti hiperglikemia. Lansia dengan kadar gula darah normal di Kampung Megamendung cenderung mengonsumsi makanan sehat dan rendah gula. Sebaliknya, lansia dengan kadar gula darah tinggi sering mengonsumsi makanan manis meskipun memiliki riwayat diabetes, sedangkan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman lansia dengan gula darah rendah mengalami penurunan nafsu makan. Temuan ini menekankan pentingnya pola makan sehat dalam menjaga kestabilan gula darah pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional sehingga hanya mampu menggambarkan hubungan atau asosiasi antarvariabel pada satu waktu pengukuran. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebabAeakibat antara aktivitas fisik, pola makan, dan kadar gula darah pada lansia. SIMPULAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi layanan kesehatan, puskesmas, untuk memperkuat program promotif dan preventif melalui edukasi rutin mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pengaturan pola makan pada lansia. Selain itu, keterlibatan keluarga perlu ditingkatkan dalam mendampingi lansia menerapkan gaya hidup sehat guna membantu menjaga kestabilan kadar gula darah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah sampel yang lebih besar dan menggunakan desain longitudinal atau eksperimental agar dapat mengevaluasi hubungan sebabAeakibat secara lebih kuat. Penelitian mempertimbangkan variabel perancu, seperti indeks massa tubuh, penggunaan obat antidiabetes, riwayat penyakit kronis, dan tingkat kepatuhan diet, untuk DAFTAR PUSTAKA