Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 564-575 Jurnal Terapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Integrasi metode ABC dan EOQ dalam sistem informasi manajemen berbasis web untuk optimasi persediaan obat apotek Integration of ABC and EOQ methods in a web-based management information system for optimizing pharmacy drug inventory Aslan*. Dwi Handayani *Magister Teknik Industri/Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri. Universitas Islam Indonesia. Jln. Kaliurang KM 14. Ngemplak. Sleman. I Yogyakarta. Indonesia Email: aslanpratama28@gmail. com, dwihandayani@gmail. INFORMASI ARTIKEL Histori Artikel Artikel dikirim 13/03/2026 Artikel diperbaiki 09/04/2026 Artikel diterima 21/04/2026 ABSTRAK Pengendalian persediaan obat merupakan bagian yang krusial dalam operasional apotek karena berpengaruh langsung terhadap ketersediaan layanan dan efisiensi biaya. Namun demikian, praktik pengelolaan persediaan pada banyak apotek masih bersifat konvensional, yaitu mengandalkan intuisi tanpa dukungan metode kuantitatif yang terstruktur, sehingga berpotensi menimbulkan kelebihan maupun kekurangan stok. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan metode Analisis ABC. Economic Order Quantity (EOQ). Safety Stock, dan Reorder Point (ROP) ke dalam sistem informasi manajemen berbasis web guna menghasilkan pengendalian persediaan yang lebih optimal dan berbasis data. Data yang dianalisis berupa data historis persediaan obat selama periode Juli-Desember 2025 yang mencakup 25 jenis item obat. Tahapan penelitian meliputi klasifikasi persediaan menggunakan Analisis ABC berdasarkan nilai penggunaan, perhitungan jumlah pemesanan optimal menggunakan metode EOQ, penentuan persediaan pengaman . afety stoc. berdasarkan tingkat layanan . ervice leve. 98%, serta penetapan titik pemesanan kembali (ROP). Seluruh metode tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam sistem informasi manajemen berbasis web untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 item obat termasuk dalam kategori A yang menyerap sekitar 72% dari total nilai persediaan, sehingga memerlukan pengendalian yang lebih intensif. Penerapan metode EOQ menghasilkan variasi jumlah pemesanan optimal pada setiap item obat yang dipengaruhi oleh tingkat permintaan dan biaya penyimpanan. Integrasi keempat metode tersebut dalam sistem informasi manajemen tidak hanya meningkatkan akurasi perencanaan persediaan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada subjektivitas dalam pengambilan keputusan. Kata Kunci: Analisis ABC. EOQ. Safety Stock. Reorder Point. Sistem Informasi Manajemen. Persediaan Obat Abstract Drug inventory control is a crucial aspect of pharmacy operations because it directly impacts service availability and cost efficiency. However, inventory management practices in many pharmacies are still conventional, relying on intuition without the support of structured quantitative methods, potentially leading to overstocking or understocking. This study aims to JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. address this gap by integrating ABC Analysis. Economic Order Quantity (EOQ). Safety Stock, and Reorder Point (ROP) methods into a web-based management information system to achieve more optimal and data-driven inventory control. The analyzed data consisted of historical drug inventory data from July to December 2025, covering 25 types of drugs. The research stages included inventory classification using ABC Analysis based on usage value, calculating the optimal order quantity using the EOQ method, determining safety stock based on a 98% service level, and determining the reorder point (ROP). All methods were then integrated into a web-based management information system to support the decision-making process. The results showed that 15 drug items fell into category A, which absorbed approximately 72% of the total inventory value, thus requiring more intensive control. The application of the EOQ method results in variations in optimal order quantities for each drug item, influenced by demand levels and storage costs. Integrating these four methods into a management information system not only improves inventory planning accuracy but also reduces reliance on subjectivity in decision-making. Keywords: Management Information System. Pharmacy. ABC Analysis. Economic Order Quantity. Drug Inventory Pendahuluan Pengelolaan persediaan obat merupakan salah satu aspek krusial dalam operasional apotek karena berpengaruh langsung terhadap kualitas pelayanan, efisiensi biaya, dan tingkat kepuasan pelanggan . Ketidaktepatan dalam pengendalian persediaan dapat menimbulkan dua kondisi ekstrem, yaitu kelebihan persediaan . yang meningkatkan biaya penyimpanan serta risiko kedaluwarsa, dan kekurangan persediaan . yang berpotensi menghambat pelayanan kesehatan kepada masyarakat . Oleh karena itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan yang tidak hanya akurat, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan dinamika permintaan obat secara berkelanjutan . Namun, pada praktiknya, pengelolaan persediaan obat di banyak fasilitas kesehatan masih menghadapi berbagai kendala seperti ketidaktepatan peramalan, kelebihan stok, serta kurangnya pemanfaatan sistem berbasis teknologi, yang menunjukkan bahwa proses pengadaan masih dilakukan secara konvensional dan belum berbasis pendekatan kuantitatif yang sistematis . Pola pengambilan keputusan seperti ini cenderung menghasilkan ketidakkonsistenan dalam pemesanan, terutama pada kondisi permintaan yang fluktuatif . Dampaknya, alokasi modal kerja menjadi tidak optimal dan risiko operasional meningkat, baik dalam bentuk kelebihan stok maupun kekosongan obat . Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode Analisis ABC (Always Better Contro. dan Economic Order Quantity (EOQ) merupakan pendekatan yang efektif dalam pengendalian persediaan . Analisis ABC digunakan untuk mengelompokkan item berdasarkan nilai pemakaian sehingga fokus pengendalian dapat diarahkan pada item dengan kontribusi nilai terbesar . Sementara itu, metode EOQ digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan optimal dengan mempertimbangkan keseimbangan antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan . Kombinasi kedua metode tersebut telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan, termasuk dalam sektor kefarmasian . Meskipun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih menempatkan metode ABC dan EOQ sebagai alat analisis yang bersifat parsial dan belum terintegrasi secara langsung ke dalam sistem informasi operasional . Kondisi ini menyebabkan hasil perhitungan tidak dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, penelitian sebelumnya juga cenderung belum mengombinasikan metode tersebut dengan pendekatan safety stock dan reorder point (ROP) dalam satu sistem yang terpadu . Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian . esearch ga. dalam hal integrasi metode pengendalian 566 Aslan. Dwi Handayani Integrasi Metode ABC dan EOQ Dalam Sistem Imforasi Manajemen Berbasis Web Untuk Optimasi Persediaan Apotek persediaan berbasis kuantitatif ke dalam sistem informasi manajemen yang aplikatif dan Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan suatu pendekatan baru berupa integrasi metode Analisis ABC. EOQ, safety stock, dan ROP ke dalam sistem informasi manajemen berbasis web untuk pengendalian persediaan obat. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada aspek perhitungan, tetapi juga pada implementasi sistem yang mampu mendukung pengambilan keputusan secara real-time dan berbasis data. Dengan menggunakan data persediaan obat periode JuliAeDesember 2025 pada Apotek Antira Farma Kota Baubau, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah berupa model integrasi metode pengendalian persediaan yang lebih komprehensif, serta kontribusi praktis dalam meningkatkan efisiensi operasional dan keandalan sistem pengelolaan persediaan obat. Metode Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian ini adalah sistem pengendalian persediaan obat pada Apotek Antira Farma yang berlokasi di Kota Baubau. Penelitian difokuskan pada optimalisasi pengelolaan persediaan obat melalui penerapan metode analisis ABC dan Economic Order Quantity (EOQ). Safety Stock dan Reorder Point (ROP) yang diintegrasikan ke dalam sistem informasi manajemen berbasis web pada Apotek Antira Farma . Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh langsung dari aktivitas operasional apotek. Data meliputi jenis obat, jumlah pemakaian obat, harga satuan obat dan stok persediaan obat. Data periode pengamatan yang dilakukan adalah data penjualan selama enam bulan terakhir yaitu Juli hingga Desember 2025, dengan total 25 jenis obat yang Pemilihan periode tersebut dilakukan untuk merepresentasikan pola permintaan aktual dan memberikan dasar perhitungan kebutuhan tahunan. Analisis ABC digunakan untuk mengelompokan obat berdasarkan nilai pemakaian . sage valu. , yang dihitung dari hasil perkalian antara jumlah pemakaian obat dan harga satuan . Alur penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Alur penelitian Proses pengolahan data dilakukan dengan mengikuti tahapan-tahapan proses dengan ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Analisis ABC persamaan yang digunakan. Nilai Pemakaian = Jumlah Pemakaian x Harga Satuan . Seluruh item obat di urutkan berdasarkan nilai pemakaian dari yang tertinggi hingga terendah, kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu kelas A. B, dan C. Klasifikasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok obat prioritas yang memerlukan pengendalian persediaan lebih ketat . Economic Order Quantity (EOQ) dapat dihitung dengan rumus. Keterangan: D = Pemintaan tahunan S = Biaya pemesanan H = Biaya penyimpanan Setelah diperoleh kelompok obat prioritas berdasarkan analisis ABC, dilakukan perhitungan EOQ untuk mentukan jumlah pemesanan yang optimal. Perhitungan EOQ mempertimbangkan permintaan tahunan, biaya pemesanan, dan biaya penyimpanan obat . Safety Stock dapat dihitung dengan rumus. Safety Stock = Z x d x L Keterangan: Z = Service Level d = Jumlah Pemakaian rata-rata L = Lead time Perhitungan safety stock bertujuan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan dan keterlambatan pengiriman obat dari distributor. Reorder Point (ROP) dapat dihitung dengan rumus. ROP = . x L) SS Perhitungan reorder point (ROP) digunakan untuk menentukan waktu pemesanan obat kembali agar persediaan dapat memenuhi kebutuhan persediaan selama masa tunggu . Hasil perhitungan Analisis ABC. Economic Order Quantity. Reorder Point dan Safety Stock kemudian di integrasikan ke dalam sistem informasi manajemen persediaan berbasis web. Sistem yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL, dengan tujuan untuk mendukung proses pencatatan transaksi, pemantauan stok, serta penyajian informasi analisis pengambilan keputusan secara terstruktur dan berkelanjutan. Tampilan desain utama sistem informasi manajemen persediaan berbasis web yang telah di integrasikan dengan metode tersebut: Halaman Login Halaman login merupakan antarmuka awal yang berfungsi sebagai halaman utama untuk mengakses sistem secara menyeluruh. Komponen utama yang terdapat pada halaman login meliputi input username dan Password guna untuk menjaga keamanan pengguna. Tampilan halaman login pada Gambar 2. Gambar 2. Halaman Login 568 Aslan. Dwi Handayani Integrasi Metode ABC dan EOQ Dalam Sistem Imforasi Manajemen Berbasis Web Untuk Optimasi Persediaan Apotek Halaman Dashbord Halaman dashboard merupakan halaman yang memberikan informasi umum mengenai data dan aktivitas sistem dalam bentuk visualisasi diantaranya grafik penjualan harian, mingguan dan bulanan. Tampilan halaman dashboard dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Halaman dashbord Halaman analisis ABC Halaman analisis ABC merupakan sistem yang digunakan untuk mengkalsifikasikan item persediaan berdasarkan tingkat kepentinganya terhadap nilai konsumsi. Pada halaman ini sistem akan mengelola data berupa jumlah pemakaian dan harga obat per unit untuk menghitung nilai konsumsi item dan diurutkan berdasarkan nilai tersebut untuk diklasifikasikan dalam kategori A. B, dan C. tampilan halaman analisis ABC dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Halaman Analisis ABC Halaman perhitungan EOQ Perhitungan EOQ pada sistem ini merupakan sistem yang akan menampilkan informasi terkait pemintaan tahunan, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan per unit per tahun. Sistem akan menghitung secara otomatis jumlah pemesanan optimal yang dapat dipesan untuk persediaan apotek. Tampilan halaman perhitungan EOQ dapat dilihat pada Gambar 5. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Gambar 5. Halaman perhitungan EOQ Halaman perhitungan safety stock dan rorder point Perhitungan Safety Stock, untuk menentukan jumlah persediaan pengaman yang harus disediakan guna mengantisipasi ketidakpastian dalam permintaan maupun waktu tunggu . ead tim. , dan Reorder Point untuk menentukan titik pemesanan kembali dengan mengintegrasikan data permintaan rata-rata, lead time, serta safety stock untuk menghitung nilai ROP secara sistematis. Tampilan safety stock dan reorder point (ROP) pada Gambar 6. Gambar 6. Perhitungan safety stock dan reorder point Hasil dan Pembahasan Data penjualan periode Juli hingga Desember 2025 dapat disajikan pada Tabel 1 untuk memberikan gambaran mengenai nilai pemakaian . sage valu. yang akan dianalisis menggunakan metode ABC. Tabel 1. Data Penjualan Obat Juli-Desember 2025 No. Nama Obat Paracetamol Amoxillin Ambroxol Ampicillin Mefenamic Simvastatin Salbutamol Amlodipine Pitracort 10 Guafenisin Juli Agustus September Oktober November Desember Total Harga Obat 150 Rp. 121 Rp. 130 Rp. 109 Rp. 112 Rp. 114 Rp. 112 Rp. 126 Rp. 107 Rp. 114 Rp. 570 Aslan. Dwi Handayani Integrasi Metode ABC dan EOQ Dalam Sistem Imforasi Manajemen Berbasis Web Untuk Optimasi Persediaan Apotek No. Nama Obat 11 Grathazon 12 Allopurinol 13 Antalginpim 14 Alpara 15 Grantusif 16 Ibuprofen 17 Ranitidine 18 Neuralgin 19 Metformin 20 Antasida 21 Demacolin 22 Catopril 23 Pronicy 24 Omeprazole 25 Neo Napacin Juli Agustus September Oktober November Desember Total Harga Obat 106 Rp. 109 Rp. 113 Rp. 124 Rp. 119 Rp. 121 Rp. 111 Rp. 125 Rp. 116 Rp. 114 Rp. 122 Rp. 115 Rp. 114 Rp. 118 Rp. 116 Rp. Berdasarkan data penjualan obat Juli hingga Desember 2025 terdapat variasi perbedaan harga dan tren penjualan pada Apotek Antira Farma, ini akan menajadi acuan utama yang digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan setiap item persediaan. Melalui perhitungan nilai pemakaian, seluruh item persediaan akan diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah. Item dengan nilai pemakaian terbesar memberikan kontribusi paling signifikan terhadap total nilai persediaan dan dikategorikan sebagai kelompok prioritas. Sebaliknya, item dengan nilai pemakaian rendah memiliki dampak yang relatif kecil sehingga dapat dikelola dengan tingkat pengawasan yang lebih longgar. Hasil perhitungan nilai pemakaian, rangking dan klasifikasi ABC dapat di lihat pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai Pemakaian dan Komulatif No. Nama Obat Neuralgin Alpara Demacolin Antalgin Amoxillin Ampicilin Ibuprofen Pronicy Ranitidine Paracetamol Grantusif Catopril Guafenisin Pritacort Ambroxol Amlodipine Mefenamic Omeprazole Metformin Neo Napacin Simvastatin Antasida Salbutamol Allopurinaol Grathazon Usage Value 1,625,000. 1,488,000. 976,000. 904,000. 847,000. 763,000. 726,000. 684,000. 666,000. 600,000. 595,000. 575,000. 570,000. 535,000. 520,000. 504,000. 484,000. 472,000. 464,000. 464,000. 456,000. 456,000. 448,000. 436,000. 318,000. %Individu %Komulatif Kategori Berdasarkan hasil analisis klasifikasi persediaan menggunakan metode ABC, diperoleh bahwa kategori A terdiri 15 jenis obat secara komulatif menyumbang 72,83% dari total niali ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Obat dengan kontribusi nilai pemakaian terbesar adalah obat Neuralgin sebesar Rp. ,80%) diikuti oleh obat Alpara sebesar Rp. ,98%) dan obat Demacolin sebesar Rp. ,98%). Selanjutnya kategori B mencakup 6 jenis obat dengan kontribusi komulatif sebesar 17,16%, yang mencerminkan tingkat kepentingan menengah dalam pengelolaan persediaan. Sementara itu kategori C terdiri dari 4 jenis obat dengan kontiribusi komulatif sebesar 10,01% yang menunjukan pengaruh relatif kecil terhadap total nilai pemakaian. Setelah mengelompokan obat prioritas berdasarkan analisis ABC, maka selanjutnya dilakukan perhitungan EOQ untuk menentukan jumlah pemesanan yang optimal. Perlu diketahui, berdasarkan data yang di dapat dari Apotek bahwa biaya penyimpanan apotek adalah 28% dari harga obat per unit. Perhitungan EOQ dari seluruh obat untuk kategori A dapat dilihat pada Tabel 3: Tabel 3. Perhitungan EOQ Nama Obat Neuralgin Alpara Demacolin Antalgin Amoxillin Ampicilin Ibuprofen Pronicy Ranitidine Paracetamol Grantusif Catopril Guafenisin Pritacort Ambroxol D (Tahuna. Harga Biaya Penyimpanan EOQ Berdasarkan hasil perhitungan EOQ di atas menunjukan bahwa jumlah pemesanan optimal tiap obat bervariasi sesuai tingkat permintannya. Obat dengan nilai EOQ tertinggi adalah Paracetamol sebesar 73 Unit dengan frekuensi pemesanan 4 kali perperiode, yang mengindikasikan tingkat permintaan tinggi dengan biaya penyimpanan yang relatif rendah. Sebaliknya, obat Neuralgin dan Alpara memiliki nilai EOQ masing-masing sebesar 37 dan 38 Unit dengan frekuensi pemesanan 7 kali perperiode. Selanjutnya adalah menentukan safety stock yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan stock out selama waktu tunggu. Untuk menghitung safety stock diperlukan data rata-rata penjualan obat dan data lead time masing-masing obat. Selain itu perlu mempertimbangkan target pencapaian kerja . ervice leve. Pada Apotek Antira Farma service level sebesar 98%, sehingga menghasilkan nilai Z = 2,05. Service level 98% maksudnya adalah probabilitas semua permintaan dapat dipenuhi adalah 98% dan masih ada 2% probabilitas tidak terpenuhi. Perhitungan safety stock dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perhitungan safety stock Nama Obat Neuralgin Alpara Demacolin Antalgin Amoxillin Ampicilin Ibuprofen Pronicy Ranitidine D (Tahuna. d/365 0,684 Safety Stock 572 Aslan. Dwi Handayani Integrasi Metode ABC dan EOQ Dalam Sistem Imforasi Manajemen Berbasis Web Untuk Optimasi Persediaan Apotek Nama Obat D (Tahuna. Paracetamol Grantusif Catopril Guafenisin Pritacort Ambroxol d/365 Safety Stock Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai safety stock yang bervariasi untuk setiap jenis obat. Hasil perhitungan menunjukan bahwa obat dengan tingkat permintaan harian lebih tinggi memiliki nilai safety stock lebih besar, seperti obat Paracetamol memiliki permintaan tertinggi sebesar 300 Unit dengan rata-rata permintaan 0,821 Unit yang ditetapkan safety stock sebanyak 5 unit. Sebaliknya obat dengan permintaan harian yang lebih rendah seperti obat Antalgin. Pitracort dan Ambroxol memiliki nilai safety stock lebih kecil, yaitu 3 unit. Perhitungan reorder point (ROP) diguakan untuk menentukan waktu pemesanan kembali obat di distributor. Waktu pemesanan kembali ditentukan agar persediaan dapat menutupi kebutuhan persediaan selama masa tunggu. Perhitungan (ROP) secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Perhitungan reorder point (ROP) Nama Obat D (Tahuna. Neuralgin Alpara Demacolin Antalgin Amoxillin Ampicilin Ibuprofen Pronicy Ranitidine Paracetamol Grantusif Catopril Guafenisin Pritacort Ambroxol d/365 0,684 Safety Stock ROP Dari hasil perhitungan nilai ROP dari masing-masing obat memiliki perbedaan nilai yang dipengaruhi oleh variasi pemintaan harian dan besarnya safety stock tiap item, seperti obat Paracetamol memiliki permintaan harian tertinggi sebesar 0,821 Unit dan safety stock sebesar 5 unit sehingga menghasilkan nilai ROP sebesar 7 Unit. Nilai ini menunjukan bahwa pemesanan kembali harus dilakukan ketika persediaan obat Paracetamol mencapai 7 Unit agar ketersediaan obat tetap terjaga hingga pesanan baru diterima. Hasil keseluruhan perhitungan analisis terhadap 25 jenis obat selama periode Juli hingga Desember 2025, didapatkan kategori A sebesar 72,83%, sedangkan kategori B dan C masingmasing berkontribusi sebesar 17,8% dan 10%. Perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) menunjukkan adanya variasi jumlah pemesanan optimal antar item obat. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan tingkat permintaan, harga satuan, dan biaya penyimpanan. Obat dengan harga satuan tinggi cenderung memiliki nilai EOQ yang lebih kecil, meskipun tingkat permintaan relatif besar. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya penyimpanan yang harus ditanggung jika jumlah persediaan terlalu besar. Sebaliknya, obat dengan harga satuan rendah memiliki nilai EOQ yang lebih besar karena biaya penyimpanan relatif lebih rendah dan risiko kerugian akibat kelebihan stok lebih kecil. Penerapan safety stock dan reorder point (ROP) dalam penelitian ini berperan penting dalam mengantisipasi ketidakpastian permintaan dan keterlambatan distribusi. Nilai safety stock yang berada pada kisaran 3Ae5 Unit serta nilai ROP ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. sebesar 5Ae7 Unit menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan batas pengendalian persediaan yang terukur dan adaptif terhadap kondisi operasional. Lebih lanjut. Hasil perhitungan Analisis ABC, (EOQ) Economic Order Quantity. Reorder Point dan Safety Stock kemudian di integrasikan ke dalam sistem informasi manajemen persediaan berbasis web. Sistem Informasi yang dikembangkan mampu mengelola persediaan secara otomatis, menghasilkan klasifikasi ABC, mampu menghitung EOQ, safety sock dan reorder point serta menampilkan rekomendasi pemesanan untuk pengambilan keputusan secara terstruktur dan berkelanjutan. Berbeda dengan pendekatan manual, sistem yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi sebagai decision support system yang mampu mengolah data secara real-time. Dari sisi antarmuka pengguna (UI), sistem dirancang untuk menyederhanakan kompleksitas perhitungan matematis ke dalam tampilan yang informatif dan mudah dipahami. Dashboard sistem menampilkan status persediaan, grafik penjualan dan klasifikasi kategori ABC, serta rekomendasi pemesanan secara visual, sehingga meningkatkan kecepatan dan akurasi pengambilan keputusan. Dengan demikian. UI tidak hanya berfungsi sebagai tampilan, tetapi sebagai media yang menjembatani analisis kuantitatif dengan kebutuhan praktis pengguna. Secara keseluruhan, integrasi metode pengendalian persediaan ke dalam sistem informasi berbasis web terbukti mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan pada intuisi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih objektif dan berbasis data. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data penjualan obat periode JuliAeDesember 2025, klasifikasi ABC menunjukkan bahwa kategori A mendominasi sebesar 72,83% dari total nilai pemakaian, meskipun hanya terdiri dari sebagian item . Hal ini sesuai dengan prinsip Pareto, dimana sebagian kecil item memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai persediaan . Oleh karena itu, pengendalian persediaan perlu difokuskan pada item kategori A sebagai prioritas utama. Namun demikian, jumlah item kategori A yang relatif banyak menunjukkan perlunya evaluasi terhadap batas klasifikasi agar pengawasan lebih optimal. Selain itu, hasil perhitungan EOQ menunjukkan variasi jumlah pemesanan optimal yang dipengaruhi oleh tingkat permintaan dan biaya penyimpanan. Meskipun metode EOQ memberikan solusi matematis yang efisien, asumsi permintaan konstan menjadi keterbatasan, mengingat data aktual menunjukkan fluktuasi penjualan . Nilai safety stock yang berada pada kisaran 3Ae5 Unit menunjukkan tingkat pengamanan yang masih terbatas, terutama untuk item dengan permintaan tinggi. Oleh karena itu, perhitungan safety stock sebaiknya mempertimbangkan variabilitas permintaan dan lead time agar lebih akurat . Sementara itu, nilai reorder point (ROP) yang relatif rendah . Ae7 uni. mengindikasikan sistem pemesanan yang efisien, namun berpotensi meningkatkan risiko stockout apabila terjadi keterlambatan pasokan . Integrasi metode ABC. EOQ, safety stock, dan ROP ke dalam sistem informasi berbasis web terbukti mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara real-time. Meskipun demikian, sistem masih perlu dikembangkan dengan fitur forecasting dan notifikasi otomatis agar lebih adaptif terhadap dinamika permintaan. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi metode Analisis ABC. Economic Order Quantity (EOQ), safety stock, dan reorder point (ROP) ke dalam sistem informasi manajemen berbasis web mampu meningkatkan efektivitas pengendalian persediaan obat secara signifikan. Temuan utama mengindikasikan bahwa nilai persediaan terkonsentrasi pada kategori A, sehingga memerlukan prioritas pengendalian yang lebih ketat, serta bahwa penerapan EOQ menghasilkan kebijakan pemesanan yang lebih optimal dan efisien sesuai karakteristik masing-masing item. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model integrasi metode 574 Aslan. Dwi Handayani Integrasi Metode ABC dan EOQ Dalam Sistem Imforasi Manajemen Berbasis Web Untuk Optimasi Persediaan Apotek pengendalian persediaan ke dalam sistem berbasis web yang berfungsi sebagai decision support Integrasi ini tidak hanya meningkatkan akurasi dan konsistensi perhitungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pendekatan berbasis intuisi dalam pengambilan keputusan. Secara praktis, sistem yang dikembangkan memberikan implikasi positif terhadap efisiensi operasional dan pengelolaan modal kerja secara finansial, serta meningkatkan keandalan dalam menjaga ketersediaan obat. Untuk pengembangan selanjutnya, penelitian ini dapat diperluas dengan mempertimbangkan pola permintaan yang dinamis, integrasi metode peramalan, serta penerapan pada skala apotek yang lebih luas guna meningkatkan generalisasi hasil. Ucapan Terimakasih Saya sebagai penulis pada penelitian ini mengucapakan rasa syukur dan ucapan terimaksih kepada pihak Apotek Antira Farma yang telah bersedia untuk memberikan kesempatan bagi saya untuk melakukan penelitian ini. Kerjasama dan wawasan berharga mereka sangat penting bagi saya dalam memahami praktik dalam operasional apotek. Referensi